part 6
#istripelit by Febriani Kharisma
Aku yang tertidur bersama bapak di depan televisi serta-merta dibangunkan Ibu ketika pagi. Ia menarik selimut yang masih bergelung di tubuh lalu kembali kutarik. "Nanti saja, Bu. Ini hari minggu. Masih ngantuk!" ucapku sesekali menguap.
"Ibu hitung sampai tiga, kalau kau belum bangun juga, kau dan bapakmu kusiram air." spontan aku dan bapak bergegas bangkit dari kasur tipis nyaris bersamaan.
Sesekali menguap, bapak bilang, "kuhantam juga kau kalau masih ngantuk begini malah dipaksa bangun.
"Kau ini yah benar-benar membuat darahku mendidih padahal masih jam segini!" nada ibu meninggi. Dibalas ayah, "Nah, kau sudah tahu sekarang jam berapa bukan, kenapa malah membangunkan orang yang sedang tidur? Tambahnya.
"Sudah. Sudah! Memangnya ada apa, Bu?" tanyaku berusaha menghentikan perdebatan. Ibu yang tadi menopang pinggang, menghempaskan tubuh ke kursi lalu meraih sebuah tahu isi sisa semalam.
"Di dalam bak kosong. Ibu mau mandi. Ahh, kadang jengkel juga kalau hari minggu air tidak mengalir. Kalian bangun sana minta air di sumur sebelah. Sekalian kau bertemu Minah, Man." kukucek mata perlahan agar penglihatan kembali fokus, lalu melepas selimut yang masih menempel di kaki.
"Siap, Bu!"
"Ayo, Pak!"
"Kau saja sendiri!" sahut bapak yang kembali merebahkan tubuhnya. Membuat ibu semakin murka.
"Awas kau yah, nanti tidak ada yang boleh sarapan kalau tidak bekerja!" bapak meraih remot di sampingnya dan secara cepat melemparkan ke arah ibu. Pelipis yang jadi sasarannya.
"Enak saja. Aku yang kerja setiap hari sebagai PNS masih dibilang tidak kerja Kau apa? Pengangguran juga sombong. Satu kali lagi kau paksa begitu, bukan remot lagi yang kulempar. Mau?" seketika ibu bungkam.
Pemandangan itu nyaris tiap hari kutemukan jika berada di dalam rumah. Tak ada kedamaian seperti keluarga kebanyakan. Sedang dari Lina, aku belajar banyak hal termasuk saling menghargai. Tapi, didikan dari orang tuaku serasa mendarahdaging menjadi sebab aku terbiasa hidup seperti ini kemudian menerapkan pada keluarga kecilku. Sesekali aku berperilaku baik, lalu keseringan seenaknya.
Terkadang malam ini kusuguhkan terang bulan kesukaannya, lalu kusesali, karena merasa diperbudak. Begitu seterusnya.
Lina, istriku malang. Kunikahi bukan karena paras, dia jelek. Tapi, ia pandai memasak dan lemah lembut. Namun, akhir-akhir sebelum perpisahan kami, ia seketika menjadi garang. Dan begitulah, ia selalu berdalih bahwa keluargaku penyebabnya. Hanya saja, seburuk-buruknya keluarga, merekalah orang pertama yang berjasa dihidupku. Yang berakibat, istri yang kunikahi tak lain kuanggap orang lain semata dan sejauh ini aku selalu berupaya agar tidak ada penyesalan setelah ia meninggalkan rumah.
"Aku cuci muka dulu, Bu!" ucapku berlalu. Seolah menganggap pertengkaran mereka tadi hal biasa.
Setelah membilas wajah dengan sisa air yang menggenang di baskom. Kuambil dua ember bekas cat ukuran besar lalu menjinjingnya keluar rumah. Di teras, kusempatkan bercermin di kaca jendela sekadar memastikan tidak ada liur ataupun belek yang menempel di wajah. Kususuri lorong sekian meter lalu sampai di rumah Minah.
Rumah gubuk kini berganti dengan bangunan besar. Dengan mobil baru terparkir di garasi. Sumur yang dimaksud ibuku masih difungsikan di sampingnya. Minah betul-betul berhasil mengangkat derajat orang tuanya.
"Permisi!" sapaku mengamati sekitar yang hening.
"Bu Maemunah, aku mau ambil air!" tambahku. Bu maemunah ibu dari si Minah. Penjual nasi kuning di kantin sekolah tempatku belajar dulu. Dan bapak, staf tata usaha di sana.
Tak lama berselang, yang keluar seorang perempuan dengan lipstik merah menyala juga emas menyilaukan mata. Wajahnya putih sekali, tapi leher dan tangan agak kecoklatan. Kontras kelihatan. Dia Minah, mantan pacar yang kalau anak jaman sekarang pasti dia dikata 'Bucin, budak cinta', yah, karena apapun yang kusuruh, pasti dia kerjakan. Di daerahku, anak seorang PNS selalu dianggap pangeran. Jadi wajar saja Maman menaklukkan Minah.
"Maman!" sapanya sumringah. "Sini masuk dulu!" ucapnya.
"Mau ambil air, Nah!" kataku meletakkan ember si sisi sumur. Ia mendekati dan menatapku penuh harapan. Kugoyang-goyangkan tali agar timba sumur bisa menampung air penuh lalu menariknya dan kutuang hingga tak terasa penuh dua ember.
Keringatku mengucur deras, juga jantung yang berdegup kencang. Si Minah, masihkah ia mencintaiku seperti dulu.
"Mas, kau keringatan. Ayo masuk dulu, biar kubuatkan milo dingin untukmu!" katanya menarik tanganku yang masih perih setelah menimba.
"Kapan datang?" tanyaku.
"Baru beberapa hari. Kau mau duduk di sini atau di dalam?"
"Di sini saja!" iya, di teras rumah. Ketika Minah berlalu, kuintip ke dalam melalui celah jendela, dan wah luar biasa sekali. Lantainya marmer dengan plafon dan lampu megah. Deretan foto yang samar dari kejauhan memenuhi dinding. Tak lama, Minah membawa segelas minuman dingin di atas nampan lalu menyuguhka di atas meja.
"Kau sudah sukses sekarang!" ucapku memandangnya yang tunduk malu-malu. Dari segi fisik, Lina masih sedap di pandang. Perangai sederhana. Wajahnya memang tidak seputih Minah, tapi berseri-seri. Mungkin karena sering berwudhu.
"Biasa saja, Mas!" katanya.
"Tidak terasa setelah sepuluh tahun lulus SMA, kita baru ketemu lagi. Kau cantik sekarang!" rayuku.
"Iya, Mas. Setelah lulus SMA, sempat beberapa kali pindah tempat jadi pengasuh bayi. Tapi, seorang teman mengajakku ke Malaysia untuk jadi TKW, dan gajinya jauh lebih banyak."
"Lalu rencananya kapan balik lagi?" tanyaku setelah menyeruput Milo buatannya. Enak sekali.
"Sepertinya tidak lagi, Mas. Sekarang pengurusannya tidak semudah dulu. Juga lebih ketat. Lagipula ibuku sudah kubuatkan rumah dan kubelikan mobil. Sisa uang hasil bekerja disana, mau kupakai sebagai modal usaha." sepertinya aku punya kesempatan untuk mendekatinya lagi
"Tapi logatmu tidak berubah yah? Padahal kau lumayan lama disana." tanyaku heran. Biasanya orang yang ke negeri jiran sana, bahasanya terkasang sedikit berubah ketika pulang.
"Disesuaikan, Mas kalau orang di kampung, suka bergosip kalau pakai bahasa Melayu. Katanya sombong. Lagian aku juga masih sering nonton TV chanel indonesia, juga teman yang bekerja di rumah majikanku sama-sama orang sini jadi bahasa indonesiaku masih oke." katanya.
"Istrimu mana, Mas? Katanya kau sudah menikah?" hampir saja aku tersendak.
"Dia pergi. Katanya capek hidup bersamaku. Padahal setiap hari aku selalu berusaha jadi suami yang baik." jelas wajah prihatin nampak darinya.
"Maaf, maaf. Bukan maksudku menyinggungmu. Tunggu sebentar yah, Mas!" kupikir ada apa. Ternyata Minah masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil 3 bungkus Milo. Masing masing satu kilogram.
"Kenapa repot-repot?" tanyaku.
"Tidak kok. Bagi ke ibu dan mbak marni yah. Sampaikan salamku. Maaf kalau cuma segini. Bagasi dibatasi. Jadi, bawa seadanya saja.".
Wow, menantu seperti ini yang ibu mau. Siap Minah, cepat atau lambat kau harus kumiliki.
------------
(Menurutku) ISTRIKU PELIT
Part 7
#istripelit
Dua ember besar penuh air seharusnya membuat tanganku sakit saat kuangkat pulang dengan jarak yang tidak bisa dibilang dekat. Tapi, entah mengapa aku begitu enteng membawanya sampai ke rumah. Tangan kananku berperan ganda membawa sekantong milo. Ingin segera sampai ke rumah untuk mengabari Ibu tentang berita baik ini.
"Ibu. Ibu!" teriakku terburu-buru. Isi ember sedikit membasahi lantai.
"Kenapa sih teriak-teriak?" tanyanya seraya memegang handuk persiapan mandi.
"Anu bu!" nafas terengah-engah membuat ucapanku terlalu lama menggantung. " anu apa?" katanya sedikit emosi.
"Coba lihat apa ini?" kujulurkan kantong hitam kepadanya.
"Wah, milo. Kesukaan ibu. Dari si Minah?" sahutnya. Kubalas mengangguk seraya senyum-senyum sendiri. Seperti tak berbeban padahal istriku baru hitungan hari meninggalkan rumah. Ahh, biarlah. Tidak penting juga dipikirkan.
Kursi di teras tempatku bersandar dengan penuh kepuasan menatap ke depan. Ibu menyusul duduk.
"Gimana si Minah? Kira-kira dia masih suka sama kamu gak?" dengan nada angkuh dan sombong, kubilang, "O, jelas. Si Maman anak ibu yang tampan ini pesonanya tidak diragukan lagi. Kecil!" jemari kujentikkan.
"Wah, bagus dong. Ibu doakan kalian berjodoh."
"Marni sini!" keluar mbakku Marni menguap-uap.
"Mmmm. Kenapa, Bu?" tanyanya.
"Kiriman dari si Minah kita bagi tiga!" isi kantongan ia keluarkan dengan antusias. Tadi marah-marah mau mandi, sekarang seperti lupa kalau airnya sudah ada.
"Oo sini! Bagaimana tampangnya? Apa masih seperti dulu?" mbak Marni dulu sering sekali mengejek Minah. Katanya giginya maju.
Jelas kujawab, "giginya sudah lumayan rapi, Mbak. Sepertinya kulihat-lihat ada satu yang dicabut lalu dipasangi behel. Karenya warna kuning. Lipstiknya merah menyala. Andai dia pakai beginian hijau, pasti seperti lampu lalu lintas" kataku terbahak. Sambil menunjuk kelopak mata karena tidak tahu apa istilah di alat make up untuk pewarnanya.
"Hahahah. Kau ini!" mbak Marni dan ibu tertawa terpingkal-pingkal lalu kuhebingkan dengan berkata, "tapi emasnya. Ya ampun, Bu, Mbak. Tangannya penuh cincin, kalungnya mungkin lebih sepuluh gram bukan cuma satu pula. Terus antingnya panjang dan juga berat kelihatan. Kalau dia jadi istriku, sudah kulucuti satu persatu." kataku puas.
"Makanya kau harus berusaha untuk mendekatinya. Ibu sudah tidak sabar meminjam perhiasannya." mata ibuku berbinar-binar.
"Kenapa mau dipinjam, Bu? Itu perkara mudah. Biar jadi urusanku nanti. Pasti kalau kusuruh memberikan sebagain miliknya ke Ibu, si Minah bakal manut-manut saja." kuangkat sedikit kepala serta kaki belujur ke atas meja.
"Yang benar? Huh. Ibu sudah membayangkan di sini, di sebelah sini, ini juga semua penuh emas. Orang-orang akan takjub melihat ibumu, Man!" ditunjuknya satu-satu bagian tubuhnya. Membayangkan semua terisi emas.
"Terus aku gimana?" celetuk mbak Marni. Seolah ingin turut larut dalam impian.
"Terserah mbak mau bagaimana. Yang jelas hidup kalian nanti biar aku yang tanggung." ucapku.
"Awas yah nanti kalau kau sukses terus lupa sama kami, kukutuk kau seperti di lagenda jaman dulu!"
"Tenang saja, Bu. O, yah. Boleh sementara waktu aku tinggal disini? Tempat kerjaku lebih dekat terus di rumah lama sewakan saja, Bu?" kataku.
"Kau benar juga. Waktu itu memang ibu maunya jadikan kontrakan saja. Tapi, kau menangis-nangis." balas ibuku.
"Karena si Lina yang maksa, Bu katanya takut serumah dengan mertuanya."
Seharusnya tak kukatakan itu. Tapi, si Lina bukan lagi jadi urusanku.
"Apa? Kurang ajar istrimu itu!" gumamnya.
"Calon mantan istri, Bu!" mereka kembali cengengesan.
***
"Minah! Minah!" seperti ABG yang memanggil berniat 'ngapelin' cinta monyetnya. Begitu caraku memanggil dari arah teras rumah Minah. Celana jeans dengan blus yang kumasukkan juga tak lupa okat pinggang warna hitam. Aku bersiap mengajaknya keluar makan malam di warung bakso di kota.
"Sebentar!" sapa orang dibalik pintu. "Mas, Maman!" disambut bahagia olehnya.
"Minah, mas mau ajak kamu makan bakso. Mau yah?" tanyaku. Jaraknya sekitar dua kilometer. Sengaja tak kusiapkan jaket supaya dia mau memakai mobilnya.
"Kenapa gak bilang dari tadi, Mas. Aku kan bisa mandi lalu bersiap-siap. Mas gak papa nunggu sebentar?" katanya.
"Untukmu, apa sih yang tidak!"
"Kalau begitu, masuk dulu sini, Mas. Di luar dingin." kali ini tawarannya untuk mengajakku masuk, kuturuti.
Selang sepuluh menit ,Minah keluar. Rambut bondingnya dibiarkan terurai, tidak lupa lipstik yang kini berwarna pink lembut, serta bedak tebal yang terlihat tidak rata. Bajunya jangkis biru donker dan legging bunga-bunga membuat mataku sedikit terganggu. Tapi, tidak apa-apa.
"Sudah, Mas!" ia menenteng tas yang kurasa penuh uang.
"Kamu cantik sekali! Sudah minta izin sama ibumu?" dia mengangguk.
"Ayo!" kupakai helmku dan menjulurkannya helm juga.
"Kita naik mobilku saja, Mas. Ini mendung. Sepertinya sebentar lagi hujan."
Dan, yes. Harapanku terkabul.
"Ahh, aku gak enak. Masa mas yang mengajak terus pakai mobilmu dek!" Alibi. Padahal dalam hatiku senang sekali.
"Santai saja, Mas. Eh, kenapa panggil adek? Kita kan seangkatan." tuturnya.
"Biar lebih romantis. Mas tiap liat kamu bawaannya mau kujadikan makmumku. Dari jaman kita sekolah. Tapi, namanya jodoh." kulihat ia tampak malu-malu.
Setelahnya aku naik ke kursi kemudi dan Minah di sampingku. Diperjalanan tangan kirikh sedikit nakal memegang tangannya. Ia tidak menampik, malah seperti menikmati.
Tibalah kami di warung bakso mas cungkring. Hanya di ruko biasa dengan gerobak tua di dalamnya. Sempit sekali, tapi salah satu yang terkenal di sini karena rasa yang sangat enak dengan harga murah, yah cuma ini.
"Maaf, Dek. Mas bisanya cuma bawa kamu kesini." kataku setelah mematikan mesin mobil.
"Gak papa, Mas!" segera kuturun terburu-buru untuk membukakan pintu mobil untuk Minah.
"Boleh mas gandeng tanganmu?" tanyaku lagi. Ia mengangguk pelan.
Kami jalan berdua dengan romantisnya.
"mau pesan apa?" tanya seorang pelayan.
Kulihat harganya terlebih dulu, dan setelah dapat yang paling murah, kubilang, "bakso biasa satu tidak pakai mie" "kamu mau apa dek?" kataku.
"Bakso telur ada gak?" pelayan menatap aneh ke Minah dan bilang, "ada, mbak!"
"Oke, pesan itu saja. Sama es teh manis juga"
"Minum apa, Mas? Tanyanya kembali.
"Tidak usah. Air putih saja!"
Setelah selesai makan nyaris tak bersisa sampai kuah tetes terakhir, betapa bahagianya lagi ketika kukeluarkan dompet lalu Minah mendorongnya. Dia berkata, "biar aku saja yang bayar, Mas!"
"Mbak!" teriaknya pada pelayan tadi.
"Bungkus empat lagi yah. Bakso komplit" Gila benar si Minah. Duitnya banyak.
"Banyak sekali?"kataku.
"Bungkus untuk orang di rumahmu, Mas. Juga untuk ibuku!"
Bakso komplit di banderol dua puluh ribu sedangkan bakso biasa cuma sepuluh ribu. Ahh, tahu begitu tadi aku pilih yang paling mahal juga.
-----
Part 7
#istripelit
Dua ember besar penuh air seharusnya membuat tanganku sakit saat kuangkat pulang dengan jarak yang tidak bisa dibilang dekat. Tapi, entah mengapa aku begitu enteng membawanya sampai ke rumah. Tangan kananku berperan ganda membawa sekantong milo. Ingin segera sampai ke rumah untuk mengabari Ibu tentang berita baik ini.
"Ibu. Ibu!" teriakku terburu-buru. Isi ember sedikit membasahi lantai.
"Kenapa sih teriak-teriak?" tanyanya seraya memegang handuk persiapan mandi.
"Anu bu!" nafas terengah-engah membuat ucapanku terlalu lama menggantung. " anu apa?" katanya sedikit emosi.
"Coba lihat apa ini?" kujulurkan kantong hitam kepadanya.
"Wah, milo. Kesukaan ibu. Dari si Minah?" sahutnya. Kubalas mengangguk seraya senyum-senyum sendiri. Seperti tak berbeban padahal istriku baru hitungan hari meninggalkan rumah. Ahh, biarlah. Tidak penting juga dipikirkan.
Kursi di teras tempatku bersandar dengan penuh kepuasan menatap ke depan. Ibu menyusul duduk.
"Gimana si Minah? Kira-kira dia masih suka sama kamu gak?" dengan nada angkuh dan sombong, kubilang, "O, jelas. Si Maman anak ibu yang tampan ini pesonanya tidak diragukan lagi. Kecil!" jemari kujentikkan.
"Wah, bagus dong. Ibu doakan kalian berjodoh."
"Marni sini!" keluar mbakku Marni menguap-uap.
"Mmmm. Kenapa, Bu?" tanyanya.
"Kiriman dari si Minah kita bagi tiga!" isi kantongan ia keluarkan dengan antusias. Tadi marah-marah mau mandi, sekarang seperti lupa kalau airnya sudah ada.
"Oo sini! Bagaimana tampangnya? Apa masih seperti dulu?" mbak Marni dulu sering sekali mengejek Minah. Katanya giginya maju.
Jelas kujawab, "giginya sudah lumayan rapi, Mbak. Sepertinya kulihat-lihat ada satu yang dicabut lalu dipasangi behel. Karenya warna kuning. Lipstiknya merah menyala. Andai dia pakai beginian hijau, pasti seperti lampu lalu lintas" kataku terbahak. Sambil menunjuk kelopak mata karena tidak tahu apa istilah di alat make up untuk pewarnanya.
"Hahahah. Kau ini!" mbak Marni dan ibu tertawa terpingkal-pingkal lalu kuhebingkan dengan berkata, "tapi emasnya. Ya ampun, Bu, Mbak. Tangannya penuh cincin, kalungnya mungkin lebih sepuluh gram bukan cuma satu pula. Terus antingnya panjang dan juga berat kelihatan. Kalau dia jadi istriku, sudah kulucuti satu persatu." kataku puas.
"Makanya kau harus berusaha untuk mendekatinya. Ibu sudah tidak sabar meminjam perhiasannya." mata ibuku berbinar-binar.
"Kenapa mau dipinjam, Bu? Itu perkara mudah. Biar jadi urusanku nanti. Pasti kalau kusuruh memberikan sebagain miliknya ke Ibu, si Minah bakal manut-manut saja." kuangkat sedikit kepala serta kaki belujur ke atas meja.
"Yang benar? Huh. Ibu sudah membayangkan di sini, di sebelah sini, ini juga semua penuh emas. Orang-orang akan takjub melihat ibumu, Man!" ditunjuknya satu-satu bagian tubuhnya. Membayangkan semua terisi emas.
"Terus aku gimana?" celetuk mbak Marni. Seolah ingin turut larut dalam impian.
"Terserah mbak mau bagaimana. Yang jelas hidup kalian nanti biar aku yang tanggung." ucapku.
"Awas yah nanti kalau kau sukses terus lupa sama kami, kukutuk kau seperti di lagenda jaman dulu!"
"Tenang saja, Bu. O, yah. Boleh sementara waktu aku tinggal disini? Tempat kerjaku lebih dekat terus di rumah lama sewakan saja, Bu?" kataku.
"Kau benar juga. Waktu itu memang ibu maunya jadikan kontrakan saja. Tapi, kau menangis-nangis." balas ibuku.
"Karena si Lina yang maksa, Bu katanya takut serumah dengan mertuanya."
Seharusnya tak kukatakan itu. Tapi, si Lina bukan lagi jadi urusanku.
"Apa? Kurang ajar istrimu itu!" gumamnya.
"Calon mantan istri, Bu!" mereka kembali cengengesan.
***
"Minah! Minah!" seperti ABG yang memanggil berniat 'ngapelin' cinta monyetnya. Begitu caraku memanggil dari arah teras rumah Minah. Celana jeans dengan blus yang kumasukkan juga tak lupa okat pinggang warna hitam. Aku bersiap mengajaknya keluar makan malam di warung bakso di kota.
"Sebentar!" sapa orang dibalik pintu. "Mas, Maman!" disambut bahagia olehnya.
"Minah, mas mau ajak kamu makan bakso. Mau yah?" tanyaku. Jaraknya sekitar dua kilometer. Sengaja tak kusiapkan jaket supaya dia mau memakai mobilnya.
"Kenapa gak bilang dari tadi, Mas. Aku kan bisa mandi lalu bersiap-siap. Mas gak papa nunggu sebentar?" katanya.
"Untukmu, apa sih yang tidak!"
"Kalau begitu, masuk dulu sini, Mas. Di luar dingin." kali ini tawarannya untuk mengajakku masuk, kuturuti.
Selang sepuluh menit ,Minah keluar. Rambut bondingnya dibiarkan terurai, tidak lupa lipstik yang kini berwarna pink lembut, serta bedak tebal yang terlihat tidak rata. Bajunya jangkis biru donker dan legging bunga-bunga membuat mataku sedikit terganggu. Tapi, tidak apa-apa.
"Sudah, Mas!" ia menenteng tas yang kurasa penuh uang.
"Kamu cantik sekali! Sudah minta izin sama ibumu?" dia mengangguk.
"Ayo!" kupakai helmku dan menjulurkannya helm juga.
"Kita naik mobilku saja, Mas. Ini mendung. Sepertinya sebentar lagi hujan."
Dan, yes. Harapanku terkabul.
"Ahh, aku gak enak. Masa mas yang mengajak terus pakai mobilmu dek!" Alibi. Padahal dalam hatiku senang sekali.
"Santai saja, Mas. Eh, kenapa panggil adek? Kita kan seangkatan." tuturnya.
"Biar lebih romantis. Mas tiap liat kamu bawaannya mau kujadikan makmumku. Dari jaman kita sekolah. Tapi, namanya jodoh." kulihat ia tampak malu-malu.
Setelahnya aku naik ke kursi kemudi dan Minah di sampingku. Diperjalanan tangan kirikh sedikit nakal memegang tangannya. Ia tidak menampik, malah seperti menikmati.
Tibalah kami di warung bakso mas cungkring. Hanya di ruko biasa dengan gerobak tua di dalamnya. Sempit sekali, tapi salah satu yang terkenal di sini karena rasa yang sangat enak dengan harga murah, yah cuma ini.
"Maaf, Dek. Mas bisanya cuma bawa kamu kesini." kataku setelah mematikan mesin mobil.
"Gak papa, Mas!" segera kuturun terburu-buru untuk membukakan pintu mobil untuk Minah.
"Boleh mas gandeng tanganmu?" tanyaku lagi. Ia mengangguk pelan.
Kami jalan berdua dengan romantisnya.
"mau pesan apa?" tanya seorang pelayan.
Kulihat harganya terlebih dulu, dan setelah dapat yang paling murah, kubilang, "bakso biasa satu tidak pakai mie" "kamu mau apa dek?" kataku.
"Bakso telur ada gak?" pelayan menatap aneh ke Minah dan bilang, "ada, mbak!"
"Oke, pesan itu saja. Sama es teh manis juga"
"Minum apa, Mas? Tanyanya kembali.
"Tidak usah. Air putih saja!"
Setelah selesai makan nyaris tak bersisa sampai kuah tetes terakhir, betapa bahagianya lagi ketika kukeluarkan dompet lalu Minah mendorongnya. Dia berkata, "biar aku saja yang bayar, Mas!"
"Mbak!" teriaknya pada pelayan tadi.
"Bungkus empat lagi yah. Bakso komplit" Gila benar si Minah. Duitnya banyak.
"Banyak sekali?"kataku.
"Bungkus untuk orang di rumahmu, Mas. Juga untuk ibuku!"
Bakso komplit di banderol dua puluh ribu sedangkan bakso biasa cuma sepuluh ribu. Ahh, tahu begitu tadi aku pilih yang paling mahal juga.
-----
(Menurutku) ISTRIKU PELIT.
Part 8
#istripelit
"Bu, aku berangkat kerja dulu yah!"
"Kue ini bawa ke rumah Minah. Sampaikan salam terima kasih Ibu ke dia." sebuah kotak bening lumayan besar berisi pastel dan potongan kue bolu disodorkan.
"Tumben. Bikin sendiri, Bu?" tanyaku.
"Gak. Mana bisa ibu bikin begituan. Mending beli lebih hemat." katanya sambil mengunyah.
"Bu, tapi kok semalam setelah mengantar Minah pulang, aku malah kepikiran si Lina sama anakku. Mereka sekarang dimana yah. Bagaimana kabarnya. Aku jadi khawatir." ucapku tak terkendali.
"Tidak usah dipikir. Jangan jadi laki-laki yang suka menjilat ludah sendiri. Sekali pisah, pisah saja. Lagipula Salahnya juga kenapa mau pergi? Andai dia memikirkan anaknya, pasti akan memilih tinggal sama kamu. Coba lihat ibumu ini, punya suami seenaknya. Tapi, demi kalian berdua ibu rela tinggal berpuluh tahun dengannya. Lagipula tidak masalah kalau kami sering bertengkar, toh gaji bapakmu tetap kunikmati. Selama dia tidak main perempuan, ibu pasti akan bertahan." benar juga yang dikatakan ibuku. Apa-apa memang mesti kutanyakan dulu. Aku tidak mau salah langkah lagi.
"Iya juga yah, Bu. Kenapa aku repot-repot memikirkannya. Toh dia yang pergi." sedang dalam hatiku mulai sedikit kasihan. Kucoba untuk menepis sebisaku. Itu keputusan baik. Itu keputusan baik. Biarkan Lina pergi.
"Nah, begitu baru anak ibu. Eh, sudah mau jam delapan. Buruan ke toko nanti Koko Tjee marah loh kalau kau terlambat. Jangan lupa kasih ke Minah." kujabat tangannya lalu mengendarai motor yang sudah terparkir di depan rumah.
***
"Minah!" panggilku namun Ibunya yang keluar.
"Ada apa, Nak? Masuk dulu sini!" sahutnya setelah membuka pintu.
"Gak usah, tante. Cuma mau kasih ini ke Minah sekalian untuk menyampaikan salam terima kasih dari Ibuku." kataku seraya memberikan kue tadi.
"Wah, kenapa repot-repot, Nak. Tapi, sayang Minahnya tidak di rumah. Dia lagi ke kios pasar kelurahan." balasnya.
"Kalau boleh tahu, untuk apa yah?" tanyaku penasaran.
"Katanya ada kios kosong di sana yang mau dijual. Rencananya Minah mau beli untuk membuka toko grosir." Ibunya menjelaskan dengan begitu semangat. Tapi, aku lebih dari itu.
"Kalau begitu aku permisi kerja dulu, Tante." juga kujabat tangannya seperti ibuku tadi lalu berangkat. Lokasi swalayan tidak jauh dari kios yang dimaksud.
Kulaju motorku kecepatan sedang. Jarak tempat kerja hanya lima kilometer dari kampungku. Dekat sekali. Kebetulan kios yang didatangi Minah lebih duluan dijangkau dari toko koko. Mataku tertuju padanya yang sedang berdiri di depan seraya melihat dan mengecek keadaan kios.
Sejenak kuparkirkan motor di belakang mobilnya. "Minah! Kenapa gak bilang-bilang kalau mau kesini?" ucapku. Ia berbalik dan melemparkan senyum.
"Kan kau mau kerja, Mas? Siapa yang memberitahumu?" tanyanya. "Aku lihat kamu dari jauh. Tadi mampir di rumahmu membawa kue dari ibuku. Tidak tahunya kau ada disini" kataku.
"Kue? Ibumu baik sekali." sambutnya lalu mendekatiku.
"Tidak seberapa dibanding kebaikanmu beberapa hari ini. Eh, kau mau beli kios ini?" tambahku. Dia kembali menghadap ke bangunan itu dan memperhatikan secara saksama. "Iya, Mas. Rencananya mau buka toko grosir disini. Bolehkan nanti bantu aku mengurusnya. Apalagi soal berdagang, pengalamanku sama sekali tidak ada."
Kupegang pundaknya dan berucap, "Kau tenang saja, kalau perlu aku keluar dari tempat kerjaku asal bisa membantumu. Kalau begitu, Mas berangkat dulu yah!"
"Hati-hati!" katanya.
"Siap! Lagian di depan sana juga mas sudah sampai. Sebentar lagi." kataku sambil menstater matic hijau hitamku.
***
Sepulang kerja, aku berniat datang ke rumah kembali untuk mengambil beberapa pakaian. Namun di perjalanan, mimpikah ini atau ada hewan kecil yang mengenai korneaku? Kukucek berkali-kali sekadar memastikan orang yang kulihat di gudang beras milik temanku Indra adalah Lina, orang yang belum sepenuhnya resmi kuceraikan. Karena penasaran, aku berhenti.
"Lina!" sahutku. Ia berpaling dengan raut sendu.
"Lina!" ucapku kembali. Namun yang keluar justru Indra ketika ia berlari masuk ke gudang.
"Ngapain istriku di sini?" tanyaku sedikit emosi.
"Dia kupekerjakan disini bersama dua janda yang lain!" ucapnya berusaha menenangkan.
"Sejak kapan?" tambahku.
"Waktu kau meminjam uang hari apa? Nah, sorenya dia kesini bersama anakmu. Katanya dia butuh pekerjaan. Yah, kebetulan aku butuh pekerja perempuan untuk menapih beras. Dan katanya dia jago. Ya sudah. Kuiyakan saja." katanya tenang.
"Terus dia tinggal dimana?" tanyaku.
"Loh, kenapa tanya sama aku? Kau kan suaminya."
"Dia tidak cerita apa-apa?" Indra menggeleng kepala. Membuatku dihantui pertanyaan. Dia tinggal dimana? Jadi selama beberapa hari Lina tidak pergi jauh rupanya. Lagipula mau kemana juga. Orang tuanya semua sudah meninggal. Saudaranya juga tidak ada. Pokoknya Lina hanya sebatang kara yang kupungut di jalan kala itu.
"Boleh panggilkan sebentar?" kuparkir motor sejenak ketika Indra bilang, "kau ke teras saja dulu. Tunggu kupanggilkan."
Tak lama berselang, Lina yang menunduk tak berani menatap datang menghampiriku.
"Ku kira kau sudah pergi jauh. Rupanya masih disini." sebenarnya ada rindu yang menyelinap, tapi apa jadinya dengan harga diriku kalau kutampakkan padanya.
Ia hanya bergeming. "Jawab!" kataku.
"Apalagi yang mesti dibicarakan, Mas? Aku cuma mau minta pisah sama kamu. Biarkan aku bebas! Soal alif, tidak usah kau pikirkan. Selama Allah masih memberiku tenaga, aku tidak khawatir tentang rezeki yang bisa kuperoleh. Terserah walaupun harus bekerja apa saja." ucapnya.
"Yah, tapi kalau memang mau pergi seperti katamu tempo hari, kenapa mesti masih di kampung ini? Atau kau sengaja biar semua orang kasihan padamu dan menganggapku laki-laki tidak bertanggung jawab? Tapi, kau mau kemana juga yah selain disini. Kan kau tidak punya keluarga. Kalau mu cerai, oke. Kuceraikan kau. Masalah pengadilan agama, biar saja aku yang urus. Pasti kau tidak punya uang untuk membuka meja bukan? Eh satu lagi. Alif ambil saja. Aku tidak mau repot mengurus anak itu. Tenang, tidak bakal kutuntut soal hak asuh anak. Sekalian kuberitahu juga kalau sebentar lagi aku akan menikah lagi dengan gadis kaya raya. Kalau sempat, datang yah!" kataku seolah tak peduli lagi perasaan Lina. Cinta tinggallah cinta. Ibu sering bilang harga diri seorang lelaki tak ada matinya.
Pantang bagiku mengemis kembali walaupun jujur kukatakan bahwa aku masih menyayanginya.
"Baguslah kalau kau mau menikah lagi. Tapi lihat saja, tidak akan ada perempuan yang tahan kalau sikapmu dan keluargamu masih seperti itu." ia kini mulai berani menatapku.
"Kita lihat saja nanti. Lagipula dia baik. Tidak pelit ke orang tua dan kakakku. Eh, tapi ngomong-ngomong kau tinggal dimana?" tambahku.
"Bukan urusanmu!" jawabnya ketus.
"Jangan GR dulu. Nanti kalau surat dari pengadilan mau dikirim ke alamat mana dong? Atau disini saja? Hahah!" ucapku kemudian meninggalkannya di teras.
-----
Part 8
#istripelit
"Bu, aku berangkat kerja dulu yah!"
"Kue ini bawa ke rumah Minah. Sampaikan salam terima kasih Ibu ke dia." sebuah kotak bening lumayan besar berisi pastel dan potongan kue bolu disodorkan.
"Tumben. Bikin sendiri, Bu?" tanyaku.
"Gak. Mana bisa ibu bikin begituan. Mending beli lebih hemat." katanya sambil mengunyah.
"Bu, tapi kok semalam setelah mengantar Minah pulang, aku malah kepikiran si Lina sama anakku. Mereka sekarang dimana yah. Bagaimana kabarnya. Aku jadi khawatir." ucapku tak terkendali.
"Tidak usah dipikir. Jangan jadi laki-laki yang suka menjilat ludah sendiri. Sekali pisah, pisah saja. Lagipula Salahnya juga kenapa mau pergi? Andai dia memikirkan anaknya, pasti akan memilih tinggal sama kamu. Coba lihat ibumu ini, punya suami seenaknya. Tapi, demi kalian berdua ibu rela tinggal berpuluh tahun dengannya. Lagipula tidak masalah kalau kami sering bertengkar, toh gaji bapakmu tetap kunikmati. Selama dia tidak main perempuan, ibu pasti akan bertahan." benar juga yang dikatakan ibuku. Apa-apa memang mesti kutanyakan dulu. Aku tidak mau salah langkah lagi.
"Iya juga yah, Bu. Kenapa aku repot-repot memikirkannya. Toh dia yang pergi." sedang dalam hatiku mulai sedikit kasihan. Kucoba untuk menepis sebisaku. Itu keputusan baik. Itu keputusan baik. Biarkan Lina pergi.
"Nah, begitu baru anak ibu. Eh, sudah mau jam delapan. Buruan ke toko nanti Koko Tjee marah loh kalau kau terlambat. Jangan lupa kasih ke Minah." kujabat tangannya lalu mengendarai motor yang sudah terparkir di depan rumah.
***
"Minah!" panggilku namun Ibunya yang keluar.
"Ada apa, Nak? Masuk dulu sini!" sahutnya setelah membuka pintu.
"Gak usah, tante. Cuma mau kasih ini ke Minah sekalian untuk menyampaikan salam terima kasih dari Ibuku." kataku seraya memberikan kue tadi.
"Wah, kenapa repot-repot, Nak. Tapi, sayang Minahnya tidak di rumah. Dia lagi ke kios pasar kelurahan." balasnya.
"Kalau boleh tahu, untuk apa yah?" tanyaku penasaran.
"Katanya ada kios kosong di sana yang mau dijual. Rencananya Minah mau beli untuk membuka toko grosir." Ibunya menjelaskan dengan begitu semangat. Tapi, aku lebih dari itu.
"Kalau begitu aku permisi kerja dulu, Tante." juga kujabat tangannya seperti ibuku tadi lalu berangkat. Lokasi swalayan tidak jauh dari kios yang dimaksud.
Kulaju motorku kecepatan sedang. Jarak tempat kerja hanya lima kilometer dari kampungku. Dekat sekali. Kebetulan kios yang didatangi Minah lebih duluan dijangkau dari toko koko. Mataku tertuju padanya yang sedang berdiri di depan seraya melihat dan mengecek keadaan kios.
Sejenak kuparkirkan motor di belakang mobilnya. "Minah! Kenapa gak bilang-bilang kalau mau kesini?" ucapku. Ia berbalik dan melemparkan senyum.
"Kan kau mau kerja, Mas? Siapa yang memberitahumu?" tanyanya. "Aku lihat kamu dari jauh. Tadi mampir di rumahmu membawa kue dari ibuku. Tidak tahunya kau ada disini" kataku.
"Kue? Ibumu baik sekali." sambutnya lalu mendekatiku.
"Tidak seberapa dibanding kebaikanmu beberapa hari ini. Eh, kau mau beli kios ini?" tambahku. Dia kembali menghadap ke bangunan itu dan memperhatikan secara saksama. "Iya, Mas. Rencananya mau buka toko grosir disini. Bolehkan nanti bantu aku mengurusnya. Apalagi soal berdagang, pengalamanku sama sekali tidak ada."
Kupegang pundaknya dan berucap, "Kau tenang saja, kalau perlu aku keluar dari tempat kerjaku asal bisa membantumu. Kalau begitu, Mas berangkat dulu yah!"
"Hati-hati!" katanya.
"Siap! Lagian di depan sana juga mas sudah sampai. Sebentar lagi." kataku sambil menstater matic hijau hitamku.
***
Sepulang kerja, aku berniat datang ke rumah kembali untuk mengambil beberapa pakaian. Namun di perjalanan, mimpikah ini atau ada hewan kecil yang mengenai korneaku? Kukucek berkali-kali sekadar memastikan orang yang kulihat di gudang beras milik temanku Indra adalah Lina, orang yang belum sepenuhnya resmi kuceraikan. Karena penasaran, aku berhenti.
"Lina!" sahutku. Ia berpaling dengan raut sendu.
"Lina!" ucapku kembali. Namun yang keluar justru Indra ketika ia berlari masuk ke gudang.
"Ngapain istriku di sini?" tanyaku sedikit emosi.
"Dia kupekerjakan disini bersama dua janda yang lain!" ucapnya berusaha menenangkan.
"Sejak kapan?" tambahku.
"Waktu kau meminjam uang hari apa? Nah, sorenya dia kesini bersama anakmu. Katanya dia butuh pekerjaan. Yah, kebetulan aku butuh pekerja perempuan untuk menapih beras. Dan katanya dia jago. Ya sudah. Kuiyakan saja." katanya tenang.
"Terus dia tinggal dimana?" tanyaku.
"Loh, kenapa tanya sama aku? Kau kan suaminya."
"Dia tidak cerita apa-apa?" Indra menggeleng kepala. Membuatku dihantui pertanyaan. Dia tinggal dimana? Jadi selama beberapa hari Lina tidak pergi jauh rupanya. Lagipula mau kemana juga. Orang tuanya semua sudah meninggal. Saudaranya juga tidak ada. Pokoknya Lina hanya sebatang kara yang kupungut di jalan kala itu.
"Boleh panggilkan sebentar?" kuparkir motor sejenak ketika Indra bilang, "kau ke teras saja dulu. Tunggu kupanggilkan."
Tak lama berselang, Lina yang menunduk tak berani menatap datang menghampiriku.
"Ku kira kau sudah pergi jauh. Rupanya masih disini." sebenarnya ada rindu yang menyelinap, tapi apa jadinya dengan harga diriku kalau kutampakkan padanya.
Ia hanya bergeming. "Jawab!" kataku.
"Apalagi yang mesti dibicarakan, Mas? Aku cuma mau minta pisah sama kamu. Biarkan aku bebas! Soal alif, tidak usah kau pikirkan. Selama Allah masih memberiku tenaga, aku tidak khawatir tentang rezeki yang bisa kuperoleh. Terserah walaupun harus bekerja apa saja." ucapnya.
"Yah, tapi kalau memang mau pergi seperti katamu tempo hari, kenapa mesti masih di kampung ini? Atau kau sengaja biar semua orang kasihan padamu dan menganggapku laki-laki tidak bertanggung jawab? Tapi, kau mau kemana juga yah selain disini. Kan kau tidak punya keluarga. Kalau mu cerai, oke. Kuceraikan kau. Masalah pengadilan agama, biar saja aku yang urus. Pasti kau tidak punya uang untuk membuka meja bukan? Eh satu lagi. Alif ambil saja. Aku tidak mau repot mengurus anak itu. Tenang, tidak bakal kutuntut soal hak asuh anak. Sekalian kuberitahu juga kalau sebentar lagi aku akan menikah lagi dengan gadis kaya raya. Kalau sempat, datang yah!" kataku seolah tak peduli lagi perasaan Lina. Cinta tinggallah cinta. Ibu sering bilang harga diri seorang lelaki tak ada matinya.
Pantang bagiku mengemis kembali walaupun jujur kukatakan bahwa aku masih menyayanginya.
"Baguslah kalau kau mau menikah lagi. Tapi lihat saja, tidak akan ada perempuan yang tahan kalau sikapmu dan keluargamu masih seperti itu." ia kini mulai berani menatapku.
"Kita lihat saja nanti. Lagipula dia baik. Tidak pelit ke orang tua dan kakakku. Eh, tapi ngomong-ngomong kau tinggal dimana?" tambahku.
"Bukan urusanmu!" jawabnya ketus.
"Jangan GR dulu. Nanti kalau surat dari pengadilan mau dikirim ke alamat mana dong? Atau disini saja? Hahah!" ucapku kemudian meninggalkannya di teras.
-----
(Menurutku) ISTRIKU PELIT.
Part 9
#istripelit
Lina dan Maman dengan kehidupan masing-masing setelah resmi bercerai.
"Dek, Minah. Kalau abang boleh tanya, kira-kira butuh mahar berapa untuk mempersuntingmu?" tanyaku kikuk di teras rumahnya.
"Kenapa tanya begitu, Mas?" Dengan piyama pororo hijau di teras rumahnya, ia menatapku malu-malu.
"Kan kita saling kenal sejak lama. Lagipula Lina juga sudah kuceraikan. Mas berniat menikahi dek Minah itupun kalau setuju." Aku yang terbiasa diurusi Lina merasa berat ketika hidup menduda. Butuh wanita pengganti agar rasa menyesal tak menghinggapi.
"Tapi, tentu tidak semua mas ketahui tentangku. Aku janda Mas!" Teh hangat yang kuteguk untuk menghilangkan canggung, seketika tumpah di lantai.
"Kau serius? Kenapa aku tidak tahu?" tanyaku penuh selidik.
"Kan kamu gak pernah bertanya. Tapi ,memang ini kurahasiakan dari siapapun. Di Malaysia aku sempat dinikahi teman sesama TKI di sana. Ia bekerja sebagai supir. Itupun karena dipaksa majikanku akibat selalu kedapatan menggodaku.!
"Terus sekarang dia dimana?" tambahku.
"Masih ada di sana, Mas. Dia menalakku. Katanya karena tidak bisa LDRan saat aku memutuskan untuk pulang kampung. Kami hanya nikah sirih jadi tidak repot soal surat menyuratnya." jawab Minah santai. Buset kupikir Minah perawan 'ting-ting' tidak tahunya sudah menikah juga rupanya. Tapi biarlah, daripada menduda.
"Masa iddahmu sudah selesai belum?" tanyaku lagi.
"Sudah, Mas. Kan sudah beberapa bulan saya kembali ke Indonesia. Tapi, kalau kau mengurungkan niat juga tidak apa-apa. Santai saja." katanya. Ahh, masa karena statusnya aku batal beristrikan perempuan kaya raya.
"Namanya cinta, dek. Jangankan janda, kau nenek-nenek saja mas bisa terima. Apalagi dari gayamu tidak kelihatan kalau dek Minah seorang yang pernah bersuami." rayuku membuat matanya berbinar.
"Terima kasih, Mas. Aku juga cinta sama kamu dari dulu. Dari zaman kita masih berseragam putih abu-abu." gumamnya.
"Jadi bagaimana soal maharnya?" jangan sampai si Minah memberatkanku. Bisa rugi dua kali aku ini.
"Soal itu biar orang tua kita saja yang bahas, Mas. Kalau memang kau berniat serius, aku terima dan tunggu kedatangan keluargamu melamarku secara resmi."
"Baik, dek Minah. Besok atau lusa, aku akan meminta kedua orang tuaku untuk datang ke sini. Sampaikan juga ke ibumu kalau Maman Surahman laki-laki tampan dan edisi terbatas di kampung ini akan menikahi Minah binti Sarkimin yang cantik jelita." ucapku diiringi gelak tawa dari bibirnya.
***
Makan malam keluarga telah selesai. Kusampaikan berita baik ini pada ibu dan Ayah.
"Bu, Ayah. Tolong lamarkan Minah untukku!" sahutku lantang.
"Kau mau menikah lagi?" Ayah yang ingin minum seketika tersedak setelahnya.
"Minah sudah setuju? Alhamdulillah. Eh, Dulu kau bilang belum siap cari pengganti. Sekarang malah ngebet mau menikah" tanya Ibu.
"Kau mau menikah dengan si Minah anak bu Maemunah? Yang benar saja. Bukannya dulu ibumu benci sekali. Kenapa sekarang malah seperti mendukung?." Ayahku memang tahu persis bagaimana songongnya ibu ketika bersandang di sekolah bapak lalu mendatangi kantin karena tidak mau Minah mendekatiku.
"Itukan dulu, Yah. Sekarang kehidupan Minah dan keluarga jauh lebih baik ketimbang dulu. Bisa dibilang bu Maemunah sudah pantas jadi besan kita. Daripada si Lina. Tidak jelas! Untung dia rajin bersih-bersih. Kalau tidak, bisa rugi kita punya menantu dia." kasian juga si Lina, sudah tidak bersamaku tapi masih jadi bulan-bulanan. Tapi, tidak mungkin kubela di depan mereka. Walaupun orang tuaku tidak pernah saling menghargai, tapi kami anak-anaknya begitu takut dan patuh pada keduanya.
"Maharnya sudah kau bahas duluan?" kata ayahku .
"Belum, Ayah. Nanti saja katanya kalau sudah melamarnya langsung. Lagipula Minah janda, pasti maharnya tidak akan memberatkan." ucapanku membuat mata mereka terbelalak tak percaya.
"Apa? Sejak kapan dia menikah? Tidak pernah tuh ada kabar tentang si Minah. Mungkin kau salah informasi." sambung ibu.
"Tidak, Bu. Mana mungkin. Jelas-jelas Minah sendiri yang bilang kalau dia dulu pernah menikah dengam sesama TKI disana." kuambil tusuk gigi agar tak begitu kaku ketika menjelaskan.
"Ahh, tidak jadi masalah kalau begitu. Asal dia sudah resmi berpisah. Yang utama sekarang bagaimana bisa dapat menantu kaya raya dan mandiri seperti Minah." eskpresi ibu kembali antusias. Seolah harta benda milik bakal menantunya adalah hal yang lebih penting dari sekadar status.
"Jadi ibu tetap setuju?" tambahku memastikan.
"Iyalah. Besok siang kita kesana. Sepulang ayahmu kerja kita langsung sambangi rumah Minah. Ayo jemput mbakmu Marni sekalian malam ini juga kau ke kota kelurahan beli kue untuk dibawa besok."
"Apa tidak terlalu mepet kalau besok, Bu?" tanya ayahku.
"Tidak dong. Lebih cepat lebih baik. Ayo siap-siap!"
***
"Jadi begini, Bu. Maksud kedatangan kami sekeluarga ke sini ingin melamar Minah untuk anakku Maman" sahut ayah yang mengenakan kemeja batik serta celana kain hitam.
"Alhamdulillah kalau kedatangan ibu bapak kemari untuk niat baik ini. Semalam juga Minah sudah sampaikan bahwa Maman katanya mengajaknya menikah"
"Iya, Bu. Makanya kamu buru-buru datang kesini takut ada yang mendahului kami." kata ibu semangat.
"Status anak kita yang sama-sama sudah menikah, mungkin sebaiknya tidak usah dibuat pesta besar-besaran yah, Bu Maemunah. Apalagi pasti butuh dana besar untuk itu." tambahnya.
"Kalau masalah begitu, saya juga sepakat, Bu. Tapi, kalau mahar, tetap yah anggap Minah masih gadis. Jadi kalau bisa selain seperangkat alat shalat, juga ada sebidang tanah dan satu stel emas." Seperti disambar geledek, ucapan orang tuanya membuatku terperanjat. Sebanyak itu permintaanya. Ibu dan ayahku saling memandang.
"Apa tidak terlalu banyak, Bu?" sahut Ayah pelan.
"Kemarin dulu ada yang melamar Minah juga dengan iming-iming sebuah rumah, sawah, emas, dan mobil. Tapi dia tidak mau karena terlanjur jatuh hati ke Maman katanya, Bu. Lagipula setelah menikah, kan mereka akan tinggal bersama jadi tidak masalah kalau calon menantunya diberi sedikit harta."
"Kalau begitu, saya sepakat!" ucapku yakin. Kulihat mata ibu melotot, hanya saja tidak kuhiraukan. Tidak apa-apa berkorban sedikit untuk harta melimpah ruah.
Terlihat Ayah menimbang-nimbang dan berkata, "kalau begitu semua sudah sepakat? Ibu bagaimana?" tanya ayah ke Ibuku.
"Kalau Maman setuju dan Ayah juga, ibu ikut saja." jawabnya lirih. Kutahu ia keberatan tapi dilain sisi kilau emas Minah yang sedari tadi hanya diam mematung membuatnya kehabisan pilihan.
"Jadi kapan akadnya dilangsungkan?" potong mbak Marni.
"Kalau bisa dua minggu ke depan saja? Bagaimana perceraianmu dengan Lina? Sudah selesai belum?" lagi-lagi Lina disebut. Bahkan -oleh- calon mertuaku.
"Sudah, Tante. Sebelum mengutarakan niatku, semua pengurusan sudah beres lebih dulu." saat bertemu Lina waktu itu, sepertinya memang tidak ada yang bisa diharapkan lagi. Makanya tidak berpikir panjang kuurus perceraian di pengadilan.
***
"Man, kau ini sadar tidak? Tadi permintaan ibunya Minah banyak sekali." celoteh ibu ketika membuka pintu rumah. Bajunya belum diganti serta tas yang tak bersalah dilemparkan ke sofa bludru di ruang tamu.
"Sini dulu ibu sayang!" kurangkul pundaknya lalu mengajaknya duduk sejenak. Ayah dan mbak Marni menyusul.
"Apaan sih kamu ini!" katanya seraya melepaskan rangkulanku.
"Jangan marah, Bu. Tapi, bukannya itu jumlahnya sedikit jika dibandingkan dengan kekayaan Minah? Wajar saja kalau ia minta segitu. Setidaknya untuk membeli semua hartanya, yah dengan tanah yang hanya sepetak itu. Juga emas satu stel, kalau dilihat dari yang dikenakannya tiap hari, tidak seberapa bukan? Belum lagi yang di lemarinya. Pasti banyak. Jadi bukan sesuatu yang mustahil dan keterlaluan kalau Bu Maemunah minta segitu."
Kujelaskan agar ibu bisa mengerti.
"Tapi tanah kau maksud yang mana?" katanya.
"Di samping rumah yang kutempati bersama Lina, disitu ada tanah kosong kan, Bu? Tolong ikhlaskan." kulihat ia mulai melempem. Seperti kerupuk yang disirami air.
"Ya sudah, terserah kalian saja. Ibu mau istirahat dulu." kemudian ibu berjalan masuk ke kamarnya.
"Man, Mina kok begitu tampilannya?" tanya ayah heran.
"Kenapa yah?" sahut mbak Marni.
"Aneh saja gayanya. Tumben TKW norak begitu. Biasanya cantik-cantik."
Mbak marni tak bisa menahan tawanya. "Huss. Itu calon menantu ayah. Istrinya si Maman. Hahaha. Tiap menikah kagak pernah beres!" kugaruk kepala yang tidak begitu gatal.
-----
Part 9
#istripelit
Lina dan Maman dengan kehidupan masing-masing setelah resmi bercerai.
"Dek, Minah. Kalau abang boleh tanya, kira-kira butuh mahar berapa untuk mempersuntingmu?" tanyaku kikuk di teras rumahnya.
"Kenapa tanya begitu, Mas?" Dengan piyama pororo hijau di teras rumahnya, ia menatapku malu-malu.
"Kan kita saling kenal sejak lama. Lagipula Lina juga sudah kuceraikan. Mas berniat menikahi dek Minah itupun kalau setuju." Aku yang terbiasa diurusi Lina merasa berat ketika hidup menduda. Butuh wanita pengganti agar rasa menyesal tak menghinggapi.
"Tapi, tentu tidak semua mas ketahui tentangku. Aku janda Mas!" Teh hangat yang kuteguk untuk menghilangkan canggung, seketika tumpah di lantai.
"Kau serius? Kenapa aku tidak tahu?" tanyaku penuh selidik.
"Kan kamu gak pernah bertanya. Tapi ,memang ini kurahasiakan dari siapapun. Di Malaysia aku sempat dinikahi teman sesama TKI di sana. Ia bekerja sebagai supir. Itupun karena dipaksa majikanku akibat selalu kedapatan menggodaku.!
"Terus sekarang dia dimana?" tambahku.
"Masih ada di sana, Mas. Dia menalakku. Katanya karena tidak bisa LDRan saat aku memutuskan untuk pulang kampung. Kami hanya nikah sirih jadi tidak repot soal surat menyuratnya." jawab Minah santai. Buset kupikir Minah perawan 'ting-ting' tidak tahunya sudah menikah juga rupanya. Tapi biarlah, daripada menduda.
"Masa iddahmu sudah selesai belum?" tanyaku lagi.
"Sudah, Mas. Kan sudah beberapa bulan saya kembali ke Indonesia. Tapi, kalau kau mengurungkan niat juga tidak apa-apa. Santai saja." katanya. Ahh, masa karena statusnya aku batal beristrikan perempuan kaya raya.
"Namanya cinta, dek. Jangankan janda, kau nenek-nenek saja mas bisa terima. Apalagi dari gayamu tidak kelihatan kalau dek Minah seorang yang pernah bersuami." rayuku membuat matanya berbinar.
"Terima kasih, Mas. Aku juga cinta sama kamu dari dulu. Dari zaman kita masih berseragam putih abu-abu." gumamnya.
"Jadi bagaimana soal maharnya?" jangan sampai si Minah memberatkanku. Bisa rugi dua kali aku ini.
"Soal itu biar orang tua kita saja yang bahas, Mas. Kalau memang kau berniat serius, aku terima dan tunggu kedatangan keluargamu melamarku secara resmi."
"Baik, dek Minah. Besok atau lusa, aku akan meminta kedua orang tuaku untuk datang ke sini. Sampaikan juga ke ibumu kalau Maman Surahman laki-laki tampan dan edisi terbatas di kampung ini akan menikahi Minah binti Sarkimin yang cantik jelita." ucapku diiringi gelak tawa dari bibirnya.
***
Makan malam keluarga telah selesai. Kusampaikan berita baik ini pada ibu dan Ayah.
"Bu, Ayah. Tolong lamarkan Minah untukku!" sahutku lantang.
"Kau mau menikah lagi?" Ayah yang ingin minum seketika tersedak setelahnya.
"Minah sudah setuju? Alhamdulillah. Eh, Dulu kau bilang belum siap cari pengganti. Sekarang malah ngebet mau menikah" tanya Ibu.
"Kau mau menikah dengan si Minah anak bu Maemunah? Yang benar saja. Bukannya dulu ibumu benci sekali. Kenapa sekarang malah seperti mendukung?." Ayahku memang tahu persis bagaimana songongnya ibu ketika bersandang di sekolah bapak lalu mendatangi kantin karena tidak mau Minah mendekatiku.
"Itukan dulu, Yah. Sekarang kehidupan Minah dan keluarga jauh lebih baik ketimbang dulu. Bisa dibilang bu Maemunah sudah pantas jadi besan kita. Daripada si Lina. Tidak jelas! Untung dia rajin bersih-bersih. Kalau tidak, bisa rugi kita punya menantu dia." kasian juga si Lina, sudah tidak bersamaku tapi masih jadi bulan-bulanan. Tapi, tidak mungkin kubela di depan mereka. Walaupun orang tuaku tidak pernah saling menghargai, tapi kami anak-anaknya begitu takut dan patuh pada keduanya.
"Maharnya sudah kau bahas duluan?" kata ayahku .
"Belum, Ayah. Nanti saja katanya kalau sudah melamarnya langsung. Lagipula Minah janda, pasti maharnya tidak akan memberatkan." ucapanku membuat mata mereka terbelalak tak percaya.
"Apa? Sejak kapan dia menikah? Tidak pernah tuh ada kabar tentang si Minah. Mungkin kau salah informasi." sambung ibu.
"Tidak, Bu. Mana mungkin. Jelas-jelas Minah sendiri yang bilang kalau dia dulu pernah menikah dengam sesama TKI disana." kuambil tusuk gigi agar tak begitu kaku ketika menjelaskan.
"Ahh, tidak jadi masalah kalau begitu. Asal dia sudah resmi berpisah. Yang utama sekarang bagaimana bisa dapat menantu kaya raya dan mandiri seperti Minah." eskpresi ibu kembali antusias. Seolah harta benda milik bakal menantunya adalah hal yang lebih penting dari sekadar status.
"Jadi ibu tetap setuju?" tambahku memastikan.
"Iyalah. Besok siang kita kesana. Sepulang ayahmu kerja kita langsung sambangi rumah Minah. Ayo jemput mbakmu Marni sekalian malam ini juga kau ke kota kelurahan beli kue untuk dibawa besok."
"Apa tidak terlalu mepet kalau besok, Bu?" tanya ayahku.
"Tidak dong. Lebih cepat lebih baik. Ayo siap-siap!"
***
"Jadi begini, Bu. Maksud kedatangan kami sekeluarga ke sini ingin melamar Minah untuk anakku Maman" sahut ayah yang mengenakan kemeja batik serta celana kain hitam.
"Alhamdulillah kalau kedatangan ibu bapak kemari untuk niat baik ini. Semalam juga Minah sudah sampaikan bahwa Maman katanya mengajaknya menikah"
"Iya, Bu. Makanya kamu buru-buru datang kesini takut ada yang mendahului kami." kata ibu semangat.
"Status anak kita yang sama-sama sudah menikah, mungkin sebaiknya tidak usah dibuat pesta besar-besaran yah, Bu Maemunah. Apalagi pasti butuh dana besar untuk itu." tambahnya.
"Kalau masalah begitu, saya juga sepakat, Bu. Tapi, kalau mahar, tetap yah anggap Minah masih gadis. Jadi kalau bisa selain seperangkat alat shalat, juga ada sebidang tanah dan satu stel emas." Seperti disambar geledek, ucapan orang tuanya membuatku terperanjat. Sebanyak itu permintaanya. Ibu dan ayahku saling memandang.
"Apa tidak terlalu banyak, Bu?" sahut Ayah pelan.
"Kemarin dulu ada yang melamar Minah juga dengan iming-iming sebuah rumah, sawah, emas, dan mobil. Tapi dia tidak mau karena terlanjur jatuh hati ke Maman katanya, Bu. Lagipula setelah menikah, kan mereka akan tinggal bersama jadi tidak masalah kalau calon menantunya diberi sedikit harta."
"Kalau begitu, saya sepakat!" ucapku yakin. Kulihat mata ibu melotot, hanya saja tidak kuhiraukan. Tidak apa-apa berkorban sedikit untuk harta melimpah ruah.
Terlihat Ayah menimbang-nimbang dan berkata, "kalau begitu semua sudah sepakat? Ibu bagaimana?" tanya ayah ke Ibuku.
"Kalau Maman setuju dan Ayah juga, ibu ikut saja." jawabnya lirih. Kutahu ia keberatan tapi dilain sisi kilau emas Minah yang sedari tadi hanya diam mematung membuatnya kehabisan pilihan.
"Jadi kapan akadnya dilangsungkan?" potong mbak Marni.
"Kalau bisa dua minggu ke depan saja? Bagaimana perceraianmu dengan Lina? Sudah selesai belum?" lagi-lagi Lina disebut. Bahkan -oleh- calon mertuaku.
"Sudah, Tante. Sebelum mengutarakan niatku, semua pengurusan sudah beres lebih dulu." saat bertemu Lina waktu itu, sepertinya memang tidak ada yang bisa diharapkan lagi. Makanya tidak berpikir panjang kuurus perceraian di pengadilan.
***
"Man, kau ini sadar tidak? Tadi permintaan ibunya Minah banyak sekali." celoteh ibu ketika membuka pintu rumah. Bajunya belum diganti serta tas yang tak bersalah dilemparkan ke sofa bludru di ruang tamu.
"Sini dulu ibu sayang!" kurangkul pundaknya lalu mengajaknya duduk sejenak. Ayah dan mbak Marni menyusul.
"Apaan sih kamu ini!" katanya seraya melepaskan rangkulanku.
"Jangan marah, Bu. Tapi, bukannya itu jumlahnya sedikit jika dibandingkan dengan kekayaan Minah? Wajar saja kalau ia minta segitu. Setidaknya untuk membeli semua hartanya, yah dengan tanah yang hanya sepetak itu. Juga emas satu stel, kalau dilihat dari yang dikenakannya tiap hari, tidak seberapa bukan? Belum lagi yang di lemarinya. Pasti banyak. Jadi bukan sesuatu yang mustahil dan keterlaluan kalau Bu Maemunah minta segitu."
Kujelaskan agar ibu bisa mengerti.
"Tapi tanah kau maksud yang mana?" katanya.
"Di samping rumah yang kutempati bersama Lina, disitu ada tanah kosong kan, Bu? Tolong ikhlaskan." kulihat ia mulai melempem. Seperti kerupuk yang disirami air.
"Ya sudah, terserah kalian saja. Ibu mau istirahat dulu." kemudian ibu berjalan masuk ke kamarnya.
"Man, Mina kok begitu tampilannya?" tanya ayah heran.
"Kenapa yah?" sahut mbak Marni.
"Aneh saja gayanya. Tumben TKW norak begitu. Biasanya cantik-cantik."
Mbak marni tak bisa menahan tawanya. "Huss. Itu calon menantu ayah. Istrinya si Maman. Hahaha. Tiap menikah kagak pernah beres!" kugaruk kepala yang tidak begitu gatal.
-----
(Menurutku) ISTRIKU PELIT
Part 10
#istripelit
"Indra, Lina mana?" tanyaku ketika sengaja mampir ke rumah temanku.
"Di dalam. Kenapa? Kudengar kau mau menikah lagi? Wah, aku sekali saja belum. Kau sudah mau dua kali." jawabnya seraya tertawa kecil.
"Iya, begitulah jodoh. Kita tidak tahu akan berlabuh pada siapa. Bisa tolong panggilkan Lina sebentar?"
"Tidak lama lagi dia pasti keluar. Biasanya jam segini sudah waktunya ia pulang." katanya.
"Si Lina itu orangnya gak cerewet yah. Seandainya tidak didesak pekerja yang lain, mana kita tahu kalau kalian ternyata sudah pisah rumah lumayan lama. Eh, tahu-tahu kau sudah melamar perempuan lain. Sama si Minah pula." tambah Indra yang begitu serius membahas tentangku.
"Pastilah dia malu. Apalagi di kampung ini jarang sekali orang berstatus janda atau cerai hidup. Kenapa? Kau naksir si Lina? Ambil saja. Mana tahu utangku bisa lunas setelah itu. Hahahah!" tampak ekpresi Indra berubah. Wajahnya sedikit ditekuk juga mata dipicingkan. Gawat. Aku salah bicara!
Segera kuralat, "bercanda, Ndra. Jangan tegang begitu dong." ia lalu memlingkan pandangan ketika bunyi sendal dan bebatuan di halaman rumahnya terdengar.
"Itu Lina!"
"Lina! Sini dulu!" teriaknya. Jelas mantan istirku kelihatan risih, tapi seolah tidak ada pilihan lain, ia menghampiri kami di teras rumah orange milik Indra.
Dia seakan tidak peduli bahwa aku, Maman mantan suaminya juga duduk di tempat yang sama, "ada apa, Pak? Masih ada yang perlu kukerjakan?" tanya Lina. Dibalas, "bukan begitu. Tapi, ini si Maman katanya mau ngomong sesuatu ke kamu" Indra bergeser dari tempat duduknya lalu mengizinkan Lina untuk duduk kemudian pamit masuk ke rumahnya.
Dengan kain batik yang dijadikan gendongan untuk alif, ia segera menyapu puncuk kepala anak kami dengan pelan saat bayi itu menangis ketika Lina semakin dekat.
"Ada apa lagi?" tanyanya ketus.
"Mau lihat keadaan Alif saja. Sekalian mengundangmu ke acara pernikahanku dengan Minah nanti. Kau bisa datang kan?" tanyaku menciba meraih Alif untuk kugendong tapi tangisnya semakin menjadi. Membuat tanganku urung mengambilnya.
"O, cuma itu. Kalau tidak sibuk, mungkin aku bisa datang." katanya ya g membuatku tergelitik.
"Sibuk? Baru jadi menampih beras saja sudah sok paling penting saja. Ini bukan kedinasan atau perusahaan-perusahaan yang butuh cuti dulu baru hadir. Kau cuma dibayar harian. Kalau tidak masuk sehari, yah tidak dibayar. Tapi, jangan risau biarkan nanti bayaranmu dari sini kuganti." ucapku seraya menaikkan kaki di atas meja.
"Percuma bicara sama orang sinting kayak kamu. Aku mau pulang dulu. Bisa bahaya kalau alif lama-lama liat penampakan begini." balasnya lalu mempercepat langkah menjauhiku.
"Harusnya kau bersyukur kalau diundang. Huu!" teriakku.
***
Saat hari pernikahan semakin dekat, kurasa Minah semakin baik.
"Mas, ini ada kue bolu dengan kue kering di dalamnya. Juga kain seragam untuk kau sekeluarga. Yah, walaupun kalian tidak resepsi, setidaknya diacaraku, aku ingin kita semua tampak elegan ketika berpakaian. Apalagi kalau seragam begini." kata-kata Minah seperti orang yang mengerti betul soal fashion padahal tampilannya saja mengganggu penglihatan. Seperti sekarang. Di sore hari ia mengirimiku pesan agar mampir sejenak di rumahnya.
"Wah, apa tidak merepotkanmu. Apalagi aku dan keluarga tidak membawakan uang belanja untukmu, dek!" kataku.
"Tidak masalah, Mas. Emas dan tanah sudah cukup. Apa ibumu tidak keberatan? Kulihat waktu itu ekspresinya seperti orang tidak sepakat, Mas?" tanya Minah. Kujawab, "kalau tidak setuju, mana mungkin pernikahan kita dilanjutkan. Asal kau janji dek, nanti setelah menikah tolong perlakukan orang tua dan kakakku sebaik mungkin. Karena bagiku, mereka lebih dari segalanya"
"Lalu bagaimana denganku nanti, Mas? Apa akan selalu dinomorduakan?" aku tersentak mendengarnya. "Kenapa kau bilang begitu?" tanyaku.
"Banyak kejadian seperti itu, Mas. Karena terlalu sayang keluarga ,istri anak sampai dterlantarkan. Aku tidak mau suamiku kelak seperti itu. Aku tidak akan melarangmu berbakti, tapi tentu kau harus bisa membedakan mana yang perlu dan tidak" belum apa-apa dia sudah komplen begitu. Kursi yang kusandari kujadikan pelampiasan dengan jemari sibuk mencubit-cubit setiap sisi.
"Mas usahakan untuk selalu berlaku adil."
"Kalau begitu, sampai jumpa minggu depan, Mas. Pas hari H. Semua keperluan di KUA juga sudah beres. Kita jangan ketemu dulu. Takutnya kau khilaf. Hehehe!" setelah itu aku berpamitan pulang dan lalu menjemput mbak Marni untuk kubawa ke rumah ibu.
***
"Mbak, ayo ke rumah ibu sekarang!" kataku di atas motor meneriaki mbak Marni yang sibuk ngemil di teras rumahnya.
"Mau apa? Kan belum waktunya bikin kue untuk seserahan nanti?" tanyanya penuh selidik.
"Tadi ada titipan dari Minah, katanya untukmu dan mas Ardi juga!" tambahku yang kemudian memarkirkan motor karena penasaran dengan apa yang dimakan kakakku.
"Titipan apa?"
"Kain katanya" kuambil segenggam kacang telur di toples milik mbak Marni. Lalu dia berkata, "O, baguslah kalau begitu. Memang harusnya kita seragaman diacaramu nanti. Ku kunci rumah dulu yah!" mbak Marni bangkit dari kursi dan tanpa persiapan apa-apa ditutupnya rapat-rapat pintu rumahnya.
***
"Bu, ini ada kain seragam dari Minah. Coba lihat dulu!" mbak Marni yang penasaran sedari tadi dengan isi kantongan berubah masam wajahnya.
"Kenapa, Mbak?" tanyaku.
Ia membanting setumpuk kain sembari mengomel, "Ya ampun, Minah. Ihh, seleranya kok gini amat yah, Bu. Coba lihat kain batik untuk roknya. Warna warni begini. Jadul sekali. Kain untuk bajunya juga kok tipis sekali?"
"Mungkin lagi ngetren, Mbak kain tipis." sahutku coba meraba kain yang terhambur di lantai.
"Memang sempat jadi tren kain tipis, tapi bukan yang jenis begini, Man. Kalau ini cuma untuk lapisan baju. Bukan luaran. Mungkin semeter harganya tidak sampai lima belas ribu. Andai kain kebaya, yah setidaknya bisa disiasati dengan model. Banyak kok kain murah tapi kalau sudah berbentuk baju jadi bagus. Tapi, kalau yang begini, apapun modelnya akan jelek kelihatan. Karena memang ini cuma lapisan baju, Man."
"Astaga kau betul Marni. Yang tipis, organza dengan kain Tile memang hits yah. Tapi bukan yang begini. Ihh, masa kita harus pakai kain dalaman untuk acaramu." sambung ibu yang tak kalah jengkelnya.
"Kalau begitu kain roknya saja yang dipakai, Mbak. Mungkin untuk jadi atasan ayah dan Mas Ardi" ucapku memberi solusi. Tapi, ibu dan mbak Marni malah menyerangku dengan tatapan sadisnya.
"Kau gila apa? Mereka berdua itu laki-laki. Apa kata orang nanti kalau bajunya kayak pelangi." cerca mbak Marni. Ia menunjuk-nunjuk garis demi garis yang berbeda warnanya. "Ini ungu, biru, nila, hijau, pink, orange! Gila benerr si Minah. Norak kok segitunya. Kembalikan saja sana. Katakan kalau kami tidak suka!"
Dengan terbata kubilang, "Tapi, tidak enak, mbak. Apa katanya kalau ditolak?"
"Belum menikah saja kau sudah tidak enak begitu. Mau jadi budak?" balasnya.
Ibu bergumam, "mending pakai baju dilemari saja. Daripada baru tapi kampungan begitu."
Nyaliku menciut, kumasukkan kembali kain-kain tadi ke dalam kantongan lalu berniat mengembalikan secepatnya. Karena sebentar lagi magrib.
"Jadi kukembalikan ini?" tanyaku memastikan. Alisnya masih bengkok. Tanpa menunggu jawaban, aku segera keluar rumah dan menenteng kantongan tadi. Minah, minah. Belum menikah saja kau sudah buat mereka emosi begitu.
***
Dengan berat hati, kudatangi rumah Minah lagi. Suasananya mulai ramai. Beberapa kerabatnya di kampung berkumpul dikediaman Minah.
"Minah!" panggilku.
"Ada apa, Mas? Kan sudah kubilang kita nanti saja ketemunya kalau sudah mau akad." katanya kemudian duduk di sofa ruang tamu.
"Loh, kenapa dikembalikan?" matanya tertuju pada kantongan kain yang kubawa lagi
"Jadi tidak enak mau bilang apa." kataku lalu menyuduknya duduk. Keponakan Minah berlarian keluar masuk membuatku menunggu sekian detik agar bisa bicara lebih jelas.
"Kenapa? Mereka tidak suka?" tanyanya santai.
"Bukan begitu dek. Tapi, katanya terlalu tipis. Tidak cocok untuk luaran."
"Padahal semua sepupu dan kerabat dapat kain yang sama. Tidak ada yang keberatan tuh, Mas. Tapi kalau memang tidak mau, yah gak papa. Nanti kukembalikan ke penjualnya." ucapnya.
"Memang bisa? Kan ini sudah digunting kainnya." tanyaku heran.
"Entahlah, Mas. Tapi kain baju itu kubeli per roll sih, jadi penjualnya menggunting sesuai jumlah meter perorang. Kalau ibumu dan mbak marni kan tubuhnya ramping jadi kain dua meter baju dan dua meter rok sudah lebih dari cukup. Mubazzir dong kalau yang punya toko tidak mau ambil kembali. Bisa rugi aku, Mas!"
Ia terlihat sedikit kecewa. Karena memang jarang ada penjual yang mau barangnya dikembalikan begitu. Apalagi sudah dipotong sesuai ukuran yang diminta.
"Jadi gimana, dek?"
"Biarlah kucoba dulu kembalikan, siapa tau uangku bisa kembali. Lumayan tiga ratus ribu untuk tiga orang. Ibu, mba marni dan ayahmu " katanya.
-----
bersambung
Part 10
#istripelit
"Indra, Lina mana?" tanyaku ketika sengaja mampir ke rumah temanku.
"Di dalam. Kenapa? Kudengar kau mau menikah lagi? Wah, aku sekali saja belum. Kau sudah mau dua kali." jawabnya seraya tertawa kecil.
"Iya, begitulah jodoh. Kita tidak tahu akan berlabuh pada siapa. Bisa tolong panggilkan Lina sebentar?"
"Tidak lama lagi dia pasti keluar. Biasanya jam segini sudah waktunya ia pulang." katanya.
"Si Lina itu orangnya gak cerewet yah. Seandainya tidak didesak pekerja yang lain, mana kita tahu kalau kalian ternyata sudah pisah rumah lumayan lama. Eh, tahu-tahu kau sudah melamar perempuan lain. Sama si Minah pula." tambah Indra yang begitu serius membahas tentangku.
"Pastilah dia malu. Apalagi di kampung ini jarang sekali orang berstatus janda atau cerai hidup. Kenapa? Kau naksir si Lina? Ambil saja. Mana tahu utangku bisa lunas setelah itu. Hahahah!" tampak ekpresi Indra berubah. Wajahnya sedikit ditekuk juga mata dipicingkan. Gawat. Aku salah bicara!
Segera kuralat, "bercanda, Ndra. Jangan tegang begitu dong." ia lalu memlingkan pandangan ketika bunyi sendal dan bebatuan di halaman rumahnya terdengar.
"Itu Lina!"
"Lina! Sini dulu!" teriaknya. Jelas mantan istirku kelihatan risih, tapi seolah tidak ada pilihan lain, ia menghampiri kami di teras rumah orange milik Indra.
Dia seakan tidak peduli bahwa aku, Maman mantan suaminya juga duduk di tempat yang sama, "ada apa, Pak? Masih ada yang perlu kukerjakan?" tanya Lina. Dibalas, "bukan begitu. Tapi, ini si Maman katanya mau ngomong sesuatu ke kamu" Indra bergeser dari tempat duduknya lalu mengizinkan Lina untuk duduk kemudian pamit masuk ke rumahnya.
Dengan kain batik yang dijadikan gendongan untuk alif, ia segera menyapu puncuk kepala anak kami dengan pelan saat bayi itu menangis ketika Lina semakin dekat.
"Ada apa lagi?" tanyanya ketus.
"Mau lihat keadaan Alif saja. Sekalian mengundangmu ke acara pernikahanku dengan Minah nanti. Kau bisa datang kan?" tanyaku menciba meraih Alif untuk kugendong tapi tangisnya semakin menjadi. Membuat tanganku urung mengambilnya.
"O, cuma itu. Kalau tidak sibuk, mungkin aku bisa datang." katanya ya g membuatku tergelitik.
"Sibuk? Baru jadi menampih beras saja sudah sok paling penting saja. Ini bukan kedinasan atau perusahaan-perusahaan yang butuh cuti dulu baru hadir. Kau cuma dibayar harian. Kalau tidak masuk sehari, yah tidak dibayar. Tapi, jangan risau biarkan nanti bayaranmu dari sini kuganti." ucapku seraya menaikkan kaki di atas meja.
"Percuma bicara sama orang sinting kayak kamu. Aku mau pulang dulu. Bisa bahaya kalau alif lama-lama liat penampakan begini." balasnya lalu mempercepat langkah menjauhiku.
"Harusnya kau bersyukur kalau diundang. Huu!" teriakku.
***
Saat hari pernikahan semakin dekat, kurasa Minah semakin baik.
"Mas, ini ada kue bolu dengan kue kering di dalamnya. Juga kain seragam untuk kau sekeluarga. Yah, walaupun kalian tidak resepsi, setidaknya diacaraku, aku ingin kita semua tampak elegan ketika berpakaian. Apalagi kalau seragam begini." kata-kata Minah seperti orang yang mengerti betul soal fashion padahal tampilannya saja mengganggu penglihatan. Seperti sekarang. Di sore hari ia mengirimiku pesan agar mampir sejenak di rumahnya.
"Wah, apa tidak merepotkanmu. Apalagi aku dan keluarga tidak membawakan uang belanja untukmu, dek!" kataku.
"Tidak masalah, Mas. Emas dan tanah sudah cukup. Apa ibumu tidak keberatan? Kulihat waktu itu ekspresinya seperti orang tidak sepakat, Mas?" tanya Minah. Kujawab, "kalau tidak setuju, mana mungkin pernikahan kita dilanjutkan. Asal kau janji dek, nanti setelah menikah tolong perlakukan orang tua dan kakakku sebaik mungkin. Karena bagiku, mereka lebih dari segalanya"
"Lalu bagaimana denganku nanti, Mas? Apa akan selalu dinomorduakan?" aku tersentak mendengarnya. "Kenapa kau bilang begitu?" tanyaku.
"Banyak kejadian seperti itu, Mas. Karena terlalu sayang keluarga ,istri anak sampai dterlantarkan. Aku tidak mau suamiku kelak seperti itu. Aku tidak akan melarangmu berbakti, tapi tentu kau harus bisa membedakan mana yang perlu dan tidak" belum apa-apa dia sudah komplen begitu. Kursi yang kusandari kujadikan pelampiasan dengan jemari sibuk mencubit-cubit setiap sisi.
"Mas usahakan untuk selalu berlaku adil."
"Kalau begitu, sampai jumpa minggu depan, Mas. Pas hari H. Semua keperluan di KUA juga sudah beres. Kita jangan ketemu dulu. Takutnya kau khilaf. Hehehe!" setelah itu aku berpamitan pulang dan lalu menjemput mbak Marni untuk kubawa ke rumah ibu.
***
"Mbak, ayo ke rumah ibu sekarang!" kataku di atas motor meneriaki mbak Marni yang sibuk ngemil di teras rumahnya.
"Mau apa? Kan belum waktunya bikin kue untuk seserahan nanti?" tanyanya penuh selidik.
"Tadi ada titipan dari Minah, katanya untukmu dan mas Ardi juga!" tambahku yang kemudian memarkirkan motor karena penasaran dengan apa yang dimakan kakakku.
"Titipan apa?"
"Kain katanya" kuambil segenggam kacang telur di toples milik mbak Marni. Lalu dia berkata, "O, baguslah kalau begitu. Memang harusnya kita seragaman diacaramu nanti. Ku kunci rumah dulu yah!" mbak Marni bangkit dari kursi dan tanpa persiapan apa-apa ditutupnya rapat-rapat pintu rumahnya.
***
"Bu, ini ada kain seragam dari Minah. Coba lihat dulu!" mbak Marni yang penasaran sedari tadi dengan isi kantongan berubah masam wajahnya.
"Kenapa, Mbak?" tanyaku.
Ia membanting setumpuk kain sembari mengomel, "Ya ampun, Minah. Ihh, seleranya kok gini amat yah, Bu. Coba lihat kain batik untuk roknya. Warna warni begini. Jadul sekali. Kain untuk bajunya juga kok tipis sekali?"
"Mungkin lagi ngetren, Mbak kain tipis." sahutku coba meraba kain yang terhambur di lantai.
"Memang sempat jadi tren kain tipis, tapi bukan yang jenis begini, Man. Kalau ini cuma untuk lapisan baju. Bukan luaran. Mungkin semeter harganya tidak sampai lima belas ribu. Andai kain kebaya, yah setidaknya bisa disiasati dengan model. Banyak kok kain murah tapi kalau sudah berbentuk baju jadi bagus. Tapi, kalau yang begini, apapun modelnya akan jelek kelihatan. Karena memang ini cuma lapisan baju, Man."
"Astaga kau betul Marni. Yang tipis, organza dengan kain Tile memang hits yah. Tapi bukan yang begini. Ihh, masa kita harus pakai kain dalaman untuk acaramu." sambung ibu yang tak kalah jengkelnya.
"Kalau begitu kain roknya saja yang dipakai, Mbak. Mungkin untuk jadi atasan ayah dan Mas Ardi" ucapku memberi solusi. Tapi, ibu dan mbak Marni malah menyerangku dengan tatapan sadisnya.
"Kau gila apa? Mereka berdua itu laki-laki. Apa kata orang nanti kalau bajunya kayak pelangi." cerca mbak Marni. Ia menunjuk-nunjuk garis demi garis yang berbeda warnanya. "Ini ungu, biru, nila, hijau, pink, orange! Gila benerr si Minah. Norak kok segitunya. Kembalikan saja sana. Katakan kalau kami tidak suka!"
Dengan terbata kubilang, "Tapi, tidak enak, mbak. Apa katanya kalau ditolak?"
"Belum menikah saja kau sudah tidak enak begitu. Mau jadi budak?" balasnya.
Ibu bergumam, "mending pakai baju dilemari saja. Daripada baru tapi kampungan begitu."
Nyaliku menciut, kumasukkan kembali kain-kain tadi ke dalam kantongan lalu berniat mengembalikan secepatnya. Karena sebentar lagi magrib.
"Jadi kukembalikan ini?" tanyaku memastikan. Alisnya masih bengkok. Tanpa menunggu jawaban, aku segera keluar rumah dan menenteng kantongan tadi. Minah, minah. Belum menikah saja kau sudah buat mereka emosi begitu.
***
Dengan berat hati, kudatangi rumah Minah lagi. Suasananya mulai ramai. Beberapa kerabatnya di kampung berkumpul dikediaman Minah.
"Minah!" panggilku.
"Ada apa, Mas? Kan sudah kubilang kita nanti saja ketemunya kalau sudah mau akad." katanya kemudian duduk di sofa ruang tamu.
"Loh, kenapa dikembalikan?" matanya tertuju pada kantongan kain yang kubawa lagi
"Jadi tidak enak mau bilang apa." kataku lalu menyuduknya duduk. Keponakan Minah berlarian keluar masuk membuatku menunggu sekian detik agar bisa bicara lebih jelas.
"Kenapa? Mereka tidak suka?" tanyanya santai.
"Bukan begitu dek. Tapi, katanya terlalu tipis. Tidak cocok untuk luaran."
"Padahal semua sepupu dan kerabat dapat kain yang sama. Tidak ada yang keberatan tuh, Mas. Tapi kalau memang tidak mau, yah gak papa. Nanti kukembalikan ke penjualnya." ucapnya.
"Memang bisa? Kan ini sudah digunting kainnya." tanyaku heran.
"Entahlah, Mas. Tapi kain baju itu kubeli per roll sih, jadi penjualnya menggunting sesuai jumlah meter perorang. Kalau ibumu dan mbak marni kan tubuhnya ramping jadi kain dua meter baju dan dua meter rok sudah lebih dari cukup. Mubazzir dong kalau yang punya toko tidak mau ambil kembali. Bisa rugi aku, Mas!"
Ia terlihat sedikit kecewa. Karena memang jarang ada penjual yang mau barangnya dikembalikan begitu. Apalagi sudah dipotong sesuai ukuran yang diminta.
"Jadi gimana, dek?"
"Biarlah kucoba dulu kembalikan, siapa tau uangku bisa kembali. Lumayan tiga ratus ribu untuk tiga orang. Ibu, mba marni dan ayahmu " katanya.
-----
bersambung