Kamis, 20 Februari 2020

(Menurutku) ISTRIKU PELIT 11 - 15

(Menurutku) ISTRIKU PELIT
Part 11 by Febriarni Kharisma
#istripelit

Kupikir hidup akan berat dijalani sendiri. Tapi, aku mulai sedikit meragu kalau berdua kelak justru akan membuat hidupku lebih rumit. Jarak rumah Minah dan ibuku yang tidak begitu jauh, kusengaja sampai agak lama. Bukan apanya, kalau ibu dan mbak Marni bertanya, mesti jawab apalagi. Aku malu untuk mengakui kalau calon istriku ada tanda-tanda pelitnya. Sebagai bukti, potongan kain akan di kembalikan.

"Man, lama bener!" ucap ibu yang seolah siap menerkamku bersama mbak Marni di teras rumah.
"Iya, Bu. Tadi duduk dulu di ruang tamunya. Disana berisik jadi susah ngobrol buru-buru." kataku berjalan masuk. Tapi, di palang kaki mbak Marni yang berdiri di dekat pintu.

"Duduk dulu. Mbak mau tanya sesuatu." ucapnya seraya memicingkan mata ke arahku, berada tepat di sampingnya dengan mematung.
"Apa, mbak? Sudah kukembalikan kain yang kalian perintahkan tadi." balasku.
"Jangan masuk!" serunya lagi.
Tak berpikir panjang, segera kuindahkan perintahnya.
"Minah bilang apa?" tanyanya.
"Anu, Mbak!"
"Kalau ngomong yang jelas, Man!" sahut ibu.
"Katanya kain itu sama persis dengan yang diberikan ke kerabat-kerabat Minah, dia pikir sudah bagus. Tapi kalau memang kalian berdua tidak mau, dia rencananya ingin mengembalikan ke penjual di sentral. Besok pagi katanya dia mau ke sentral di toko kain itu." wajahnya mereka terlihat bahagia. Entah apa dipikirannya.

"Minah mau mengganti dengan yang lebih bagus? Wah. Asik. Kupikir dia sengaja membelikan itu karena harganya murah. Ternyata dia kira bagus. Ini persoalan selera. Wah, hampir saja aku pikir dia pelit." dan, jleb. Kata-kata mbak Marni membuatku gemetar. Kenapa dia malah beranggapan begitu. Lalu apa lagi yang mesti kukatakan setelahnya.
"Kalau begitu, masuk dulu sana makan terus ke rumah Minah. Antar dia hari ini juga. Ibu buru-buru mau ke tukang jahit. Takut tidak selesai bajunya. Hah, pestamu dengan Minah sebentar lagi." mataku sama sekali tak berkedip menatap mereka bergantian. Harapannya terlalu besar untuk Minah yang sepertinya memang lebih perhitungan dari Lina.
"Sekarang, Bu? Ini sudah mau magrib. Lagian aku juga capek dari tadi bolak balik" kataku menawar-nawar.

"Baru juga jam lima. Buruan makan dulu terus ke rumah Minah!"
"Nanti makan di rumah Minah saja, Bu." kataku.
"Tidak boleh! Katanya kalau makan di rumah calon sendiri, kau bisa tunduk di bawah kakinya. Gak boleh" potong mbak Marni.
"Bukannya itu mitos?" tambahku.
"Man, hitungan ketiga kau belum masuk, awas yah. Sa..."
"Iya bu. Iya bu!" kupercepat langkah menuju dapur. Setidaknya aku masih punya waktu untuk berpikir.
"Halo, dek sayang!" sapaku dibalik telepon ketika sedang duduk di meja makan.
"Iya, kenapa, Mas? Perasaan baru berapa menit yang lalu kau pulang.
"Kita ke toko kain di sentral hari ini juga!"
"Loh, kenapa buru-buru sekali" katanya.
"Nanti kujelaskan. Kau siap-siap sekarang, setelah makan, kujemput di rumahmu yah!" segera kututup telepon tanpa permisi.

***

Setiba di sentral, sebagian penjual mulai menutup tokonya. Yah maklum, sekitar dua puluh menit perjalanan menuju kesini. Lama. Minah dengan sepatu hak tingginya berjalan di tengah jalan becek. Pasar sentral di sini, walaupun banyak kios-kios berderetan, tapi disekitarnya, pedagang masih ada yang hanya memakai tenda. Jadi, kalau sudah turun hujan, kondisinya akan kotor bercampur air dan sisa sampah. Sudah kularang memakai sepatu tinggi begitu, tapi dia tetap mau dan merasa percaya diri.

Karena terburu-buru, ia terpeleset di depan pintu toko tempatnya ingin menukar kain.
"Sudah kubilang jangan pakai itu." kataku seperti ingin mengumpat, "rasakan kau!"
"Tidak apa-apa, Mas. Eh, untung tokonya tutup. Tapi, sebelum masuk coba ulangi dulu alasanmu memaksaku kesini sekarang. Kenapa?" tanyanya. Mungkin agar bisa menyembunyikan malunya karena beberapa orang pecah suara tawanya ketika melihat Minah jatuh sehingga bagian bokongnya kotor terkena lumpur.
"Mbak, Marni kira kau akan membelikannya yang baru!" kataku. Dijawab, "O, itu!"
"Cari apa, Bu, pak?" kata gadis berkerudung merah dengan senyum ramah khas penjual.
"Mau kembalikan kain yang kubeli tadi pagi."
"Kalau soal itu, saya tidak berani kalau bukan perintah dari bos langsung." ucapnya pelan.
Bos mu mana?" tanya Minah sopan.
"Tunggu saya panggilkan sebentar."
Tak lama berselang, ibu-ibu bertubuh ramping, kulit putih dan riasan seadanya keluar dari balik tirai.
"Ada apa yah, Bu?" tanyanya.

"Ci Zarah!" sapa pengunjung yang melintasi toko kain. Dibalas lambaian tangan dan senyum ramah olehnya.
"Begini, tadi pagi saya beli kain dua roll. Untuk dua jenis yang sudah digunting sesuai ukuran sama cewek yang tadi. Tapi, ada empat pasang yang mau saya kembalikan." kata Minah detail seraya duduk di kursi plastik hijau di samping si empunya toko.
"Tapi disini, barang yang sudah dibeli, tidak bisa dikembalikan lagi kecuali siap uangnya diganti hanya seperdua saja." jawab Ci Zarah santai.
"Masa setengah harga saja? Di Malaysia bisa kembali utuh. Masa di sini tidak bisa" kata Minah membandingan kedua negara.
"Jangan disamakan dong, Bu. Ini di indonesia bukan Malaysia. Peraturan di toko kami tidak bisa diubah. Lagipula barang yang sudah digunting begini, susah laku kembali. Yah, apalagi kalau jenis kainnya jaman dulu. Orang-orang akan berpikir dua kali untuk itu. Dan, agar kami tidak terlalu rugi, hanya seperdua dari harga saja yang bisa dikembalikan."
Minah tampak kesal, "Ya sudah, daripada saya juga rugi. Sudah kuhitung di rumah. Total keseluruhan tiga ratus lima belas ribu yah. Jadi kalau dibagi dua, sisanya seratus lima puluh tujuh ribu lima ratus.
"Tunggu kami hitung ulang!"
"Kinar!" panggilnya pada gadis berkerudung merah tadi.
"Iya, Ci!"

"Coba lihat dicatatan penjualan tadi pagi. Trus hitung ulang dan kembalikan uangnya seperdua." dengan gesit ia segera melaksanakan perintah. Ukuran masing-masing kain masih tertera di atas plastik jadi semakin memudahkannya untuk menghitung total keseluruhan.
"Sudah, Ci. Ini sisa seratus lima puluh tujuh ribu lima ratus!" aku spontan menggeleng-geleng. Hitung-hitungan Minah sama persis.
"Gak ada uang lima ratus!" katanya saat menyusun selembar demi selempar uang kembalian Minah.
"Kalau begitu, kembalikan seratus lima puluh delapan ribu. Biar kukembalikan lima ratus." ucapnya seraya mengeluarkan uang kepingan lima ratus rupiah dibalik dompet ungu blink-blinknya.
Setelah selesai, giliranku membeli kain. Untung sudah gajian, dan tidak ada lagi Lina dan Alif yang harus kunafkahi. Sisa kusisihkan dua ratus ribu agar uang Indra yang kupinjam tempo hari bisa utuh kembali.

"Saya juga mau beli kain seragam untuk empat orang. Dua untuk laki-laki dan dua perempuan. Yang agak bagus tapi jangan terlalu mahal yah."
Pelayan toko menunjukkan beberapa jenis kebaya dan batik yang kekinian katanya. Kubilang, "ini saja! Ukuran ,sama persis dengan yang tadi!"
Menunggu sekitar dua puluh menit, kain tadi sudah di plastik masing-masing.
"Totalnya delapan ratus, Pak!" kutelan ludah berkali-kali. Sembari melirik Minah, berharap ia bersedia membantuku membayarnya ataukah minimal uang kembalian tadi bisa dia ikhlaskan untukku, tapi itu hanya mimpi. Ia tampak santai menatap kain yang tergantung bersusun-susun tanpa melirikku sama sekali di meja kasir. Sial!
"Dek apa sebaiknya uang tadi untuk menambah pembayaran kain ini?" bisikku di sampingnya. Dia bilang, "maaf, Mas. Tapi uang ini terlanjur sudah kuhitung untuk tambahan membeli bumbu rempah daging nanti. Maaf yah, Mas. Kita sebenarnya tidak boleh boros untuk resepsi ini. Nanti setelah menikah, siapa yang repot. Pasti kita juga, Mas!" tangannya menenangkan pundakku.

-----

(Menurutku) ISTRIKU PELIT
Part 12
#istripelit

Tak berasa waktu pernikahan semakin dekat. Dengan perasaan berdebar, suasana hatiku rusak seketika. Aku terbayang Lina mantan istriku. Seharusnya saat ini hanya kebahagiaan yang terlintas, tapi kenapa bayangan saat indah bersama Lina kembali menyeruak. Pernikahan macam apa ini. Minah tentu tak lebih baik dari Lina.

"Kau kenapa, Man?" Mas Ardy yang sudah terlihat rapi dengan pakaian batiknya bersiap mengantarku ke rumah Minah untuk akad.
"Jangan bilang siapa-siapa, Mas. Sebenarnya aku masih tidak terlalu yakin kalau harus menikah lagi secepat ini." kataku seraya melihat sekitar. Takut ada yang mendengar. Termasuk ibu dan kakakku.
"Loh, bukannya kau sendiri yang minta dilamarkan?" sambungnya heran. Ia memasang jam tangan miliknya seraya sesekali memandangku

"Mbak Marni dan ibu sepakat kalau aku menikahi Minah, tapi semakin kesini, aku ragu ,Mas." curhatku. Padahal jas hitam dengan dalaman kemeja putih dan songkok hitam sudah rapi dan siap kelihatan. Kami sepakat tidak memakai baju adat katanya Minah ingin memakai seloyor katanya. Entah bagaimana tampilannya. Baru kubayangkan saja, sudah mual duluan.
"Mungkin si Minah ini memang jodohmu kali. Ikhlas saja. Semoga langgeng sampai maut memisahkan."
"Aku malas mengaminkan. Kalau bisa Minah jangan jadi jodoh terakhirku. Aku juga tidak berharap bisa langgeng dengannya." tawa mas Ardy pecah. Bukannya prihatin, ia malah tertawa terpingkal-pingkal di depanku.
"Hahaha kau ini ada-ada saja. Mau menikah tapi setengah hati. Buang-buang uang saja. Mending sekarang kau latihan saja untuk ijab kabul jam sebelas nanti. Sudah ahh, Mas mau ke rumah dulu ambil pomade. Lupa." iparku yang satu ini memang selalu tampil keren. Walaupun tidak tampan, tapi penampilan selalu nomor satu.

***

"Saya terima nikah dan kawinnya Lin." dengan lantang dan cepat kuikrarkan akad di depan penghulu, namun ternyata bayangan membuyarkan hafalan yang sudah berhari-hari kucoba. Ahh sial! Minah tidak berhenti mencubit dan mendorong-dorong lenganku.
"Maaf, Dek!" ucapku
"Kita ulangi sekali lagi!" untung yang menikahkan tidak ikut-ikutan tertawa seperti tamu yang lain. Bisa-bisa aku semakin sulit menyebut nama Minah binti Sarkimin.

"Saya terima nikah dan kawinnya Minah binti sarkimin dengan mahar satu stel emas dan sebidang tanah dibayar tunai karena Allah!"
Setelah ditanyai sah tidaknya, semua orang bersama-sama menyorakkan. "Sah!" dan "alhamdulillah!" dan yang membuatku malu lagi, Minah tak peduli dengan tamu yang hadir ia langsung menyosor dengan segera menghadapkan tubuhnya ke arahku lalu sedikit membungkuk. "Kenapa?" tanyaku. "Cium kening, Mas!" kali ini, bapak kepala KUA pun ikut tertawa.

"Sabar Minah!" teriak salah seorang di belakangku. Entah itu siapa. Dengan malu-malu Minah menutup bibirnya.
"Maaf. Biasanya kulihat setelah akad langsung cium kening." katanya.
Ada lagi yang bilang, "iya, tapi tunggu diarahkan. Jangan main nyosor begitu."
"Hahahahhaaha" suara tawa memenuhi ruang tamu Minah yang sudah di dekor sedemikian rupa.
Setelah melewati beberapa proses. Tibalah kami pada adegan pemotretan di kamar pengantin. Minah yang memakai seloyor pink muda amat kontras warna dengan kulitnya yang hitam. Apalagi dia sengaja memakai yang lengan pendek. Tak ada sedikitpun kekaguman yang melintas. Biasanya pengantin wanita akan selalu memukau, namun berbeda dengan istri baruku ini.

"Mas sini!" panggilnya ketika aku sibuk memperhatikannya berpose di atas ranjang. Ia memeluk kedua lutut dengan ekspresi datar. Di media sosial memang sering kudapati orang berfoto tanpa ekspresi, tapi rata-rata orangnya memang cantik. Kalau Minah, malah seperti orang kelaparan. Hahahaha. Geli sendiri lihatnya.
Si potografer mengarahkanku untuk mengajak Minah turun di lantai.
"Genggam tangan istrimu, Man! Dua-duanya coba berdiri berdekatan terus mengahadap depan saja." kebetulan tukang fotonya juga anak kampung sini jadi bisa lebih akrab. Dengan kaku kuturuti arahannya. Minah
"Senyum sedikit. Satu. Dua..." lampu kamera menyilaukan mata. Berasa jadi artis sehari.

"Coba sekarang saling berhadapan." mendengar itu, Minah spontan membalikkan tubuhnya ke arahku lagi lalu tanpa aba-aba tangannya di gantung di tengkuk leherku. Kurasa berat sekali. Ternyata kakinya sebelah diangkat lalu dengan mulut dibuka lebar seperti ekspresi model tahun sembilan puluhan. Senyum tiga jari orang bilang.
"Gak usah angkat kakinya!"
"Senyumnya yang biasa saja biar lebih anggun!"
Satu persatu crew nampak menahan tawanya. Minah Minah. Norak kok keterlaluan.
Saat masih sibuk berpose ria ,seseorang mengetuk pintu kamar. Yah, sengaja dikunci karena anak-anak tahulah kalau ada sesuatu yang baru mereka lihat. Pasti semua berkerumun di satu tempat dan akan sangat mengganggu.
"Siapa?" teriak Minah.

"Di pelaminan sudah banyak tamu. Ayo keluar dulu. Nanti saja dilanjut lagi." itu bu Maemunah mertuaku. Di depan rumah Minah sudah berdiri tenda biru dengan besi penyanggah.
Minah memintaku untuk menggandeng tangannya keluar. Semua mata tertuju pada kami. Bak ratu, ia melambai-lambaikan tangan ke arah sepupu-sepupunya yang menggoda, "suit. Suit.. Ciee cantiknya." jika mereka belum pernah berbohong, mungkin baru sekarang. Hahaha. Masa begini dibilang cantik.
Setelah sampai di pelaminan, ia meminta lagi agar dibantu menaiki tiga anak tangga. Kemudian para tamu bergantian naik untuk memberi restu serta memasukkan amplop ke dalam tempat yang sudah disediakan.

Ada yang duduk mengobrol, juga langsung mengambil makanan di prasmanan. Secara mendadak, perhatian orang-orang tertuju pada suara perdebatan di samping meja. Itu mbak Marni. Kenapa lagi?
"Masa kue saja harus dihitung. Saya cuma mau bawakan buat suami yang duduk disana. Jadi sekalian kuambil dua." kedengarannya kurang lebih seperti itu.
"Iya, Mbak. Tapi saya hanya menjalankan amanah. Setiap tamu hanya boleh mengambil satu kue saja." jawab pelayan yang notabenenya juga sepupu Minah.
"Saya tahu. Ini cuma buat suami saya yang duduk disana. Pelit banget sih. Ini ambil semua saja. Mosok yah kue bolu sepotong kecil begini mesti diatur-atur." ia melemparkan sebungkus kue ke wajah Nita. Astaga.
Posisiku tidak memungkinkan untuk mencegah mbak Marni. Kulihat ia dari kejauhan dan berlalu menarik suaminya keluar.
"Memangnya tidak boleh yah?" tanyaku berbisik pada Minah.
"Iya, Mas. Semua sudah kuhitung. Jadi, orang-orang yang datang hanya diperbolehkan mengambil satu. Takutnya banyak yang mengambil lebih terus dibuang percuma." tidak ada yang lebih mencengangkan daripada ini.

Keadaan kembali membaik. Selepas mbak Marni dan suaminya keluar, sepasang lelaki dan wanita datang. Dia Lina dan Indra. Dengan kebaya pesta salem dengan rok batik coklat kehitaman. Ia tampak begitu anggun. Lina berjalan percaya diri seolah hatinya sedang baik-baik saja. Senyumnya merekah setiap disapa orang yang hadir. Indra tampak sesekali mengajaknya bicara dan akhirnya ia sampai di depanku.
Tangan Lina dijulurkan kepadaku. Dada seketika sesak namun kuupayakan agar raut bahagia yang kuperlihatkan.
"Selamat, Mas. Semoga kau bahagia." ucapnya menatap mataku. Disusul Indra yang berkata, "Ternyata cinta monyet zaman sekolah berlangsung dipernikahan. Selamat yah kalian!"
"Selamat, Mbak. Semoga kalian segera diberi momongan." doa dilantunkan ketika gilirannya menjabat tangan Minah.
"Terima kasih" kataku pada Lina yang tersenyum. Sedangkan Minah tampak menahan cemburunya. Sedikit banyak ia tahu tentang mantan istriku.
Tidak ada yang perlu kusesali. Semua berjalan karena takdir dan kesalahanku.

---------


(Menurutku) ISTRIKU PELIT
Part 13
#istripelit
Pengantin baru

Hari pertama, aku menginap di rumah Minah. Tak ada yang istimewa setelah pesta berakhir. Di kamar pengantin, juga dilengkapi dengan toilet. Nah, istriku keluar dari balik pintu itu dengan mengenakan lingerie yang lagi-lagi baby pink. Maksudku, seharusnya jika ingin tampil lebih baik, jangan selalu warna yang terlalu soft begitu. Tidak cocok sama sekali. Terang tidak masalah, tapi kalau warna lembut, ahh sulit kudeskripsikan. Rambutnya diurai. Ia mendekatiku yang duduk mengecek telepon genggam di sudut ranjang. Dan yang jadi masalah, ini masih sore hari. Keluarga masih memenuhi rumah.
"Mas!" ucapnya. Kujawab berdeham saja. "Hmmm," kataku.
"Mas!" ia mulai merapatkan lengan ke tubuhku lalu berbaring di atas paha.
"Mas!" sekali lagi kubalas "Hmm." dengan cepat tangannya meraihku meminta agar rambutnya kuusap-usap.
"Alhamdulillah sekarang kita sudah sah. Tidak ada lagi yang menjadi penghalang antara aku dan kamu, Mas. Kita bersatu selamanya hingga maut memisahkan." tatapannya manja sekali. Dan meraba-raba dibagian telinga. Bukannya tergoda, aku justru mengantuk. Tidak kubayangkan bagaimana kehidupanku kelak jika terus bersama Minah Jika saat ini aku di interview di kantoran, lalu ditanyai apa targetku lima tahun ke depan. Mungkin spontan akan kujawab semoga Minah tidak lagi ada di sampingku.

Bukan masalah fisik yang kucerca. Tapi, aku tidak sudi jika menikah dengan perempuan perhitungan. Bukannya membagi harta ke saudaraku, justru menjadi orang yang dibenci. Bahkan dihari pertama pernikahan.
"Apa sekarang kita ke rumah ibu, dek?" ucapku.
"Untuk apa, Mas? Bukannya hari ini dan nanti malam seharusnya jadi malam yang sangat panjang untuk kita lewati berdua. Kenapa mau kesana? Lagipula rata rata pengantin akan berdiam sejenak di rumah mempelai wanita pada hari pertama." sengaja nadanya dibuat mendayu-dayu.
"Di sana ada mbak Marni. Aku kepikiran terus dengan kejadian tadi siang di pelaminan. Kalau di dalam masih ada kue, kita bawa saja ke sana," kataku membujuk.
"Di lemari masih banyak sisa kue bolu yang belum dipotong. Nanti ambil satu untuk dibawa ke rumah ibu dan mbak Marni nanti mereka saja yang bagi dua."
"Kau ini dek. Jangan perhitungan begitu dong. Masa kue bolu yang diameternya tak seberapa itu harus dipotong dua lagi." sanggahku.

Tangannya mempraktekkan bentuk dan ukuran kue bolu yang bulat. Katanya, "Mas, ini besar sekali. Kalau dibagi dua, bisa di makan berkali-kali. Apalagi di setiap rumah hanya dihuni dua orang. Memang sih di dalam masih banyak, tapi kau tahu kan kalau keluargaku juga jumlahnya berapa orang. Masa iya semua tidak kebagian."
"Oo begitu yah, dek. Baiklah. Terserah kamu. Tapi kalau memang dek Minahku ini sayang ke suaminya, bolehlah masing-masing dari ibu dan mbak Marni dapat kue bolu yang utuh. Mau kan, dek?"
"Kalau itu memang maumu, boleh, mas. Tapi sebelum kesana kita," ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Lalu tertawa kecil saat kutanya lagi, "kita apa dek?"
"Hehee, Mas, aku malu." dan, aku mengerti maksudnya. Tidak perlu kujelaskan. Intinya, lampu tidur di sisiku dan terjadilah.

***

"Ayah" teriakan diikuti tangis ibu dari dalam rumah terdengar saat aku masih ingin memarkirkan motor. Kemudian Minah mempercepat langkahnya masuk menerobos pintu yang terbuka lebar.
Setibanya, kulihat ibuku duduk dilantai sesenggukan.
"Kenapa, Bu?" tanyaku panik.
"Ayahmu ditahan polisi, Man." katanya.
"Astaga, Bu. Kenapa bisa?" tambahku lagi.

"Dia terbukti korupsi dana BOS di sekolahnya, Man!" tangisnya semakin kencang.
Memang selama lima tahun belakangan, Ayahku dipercayakan oleh kepala sekolah agar menjadi bendahara untuk bantuan operasional sekolah. Karena keduanya memang sangat akrab, dan menurut yang kudengar, ayah sering membuat laporan anggaran palsu. Setiap akhir semester, dana harus habis. Tapi, alih-alih digunakan untuk sarana dan prasarana sekolah, ataukah sekadar menggaji tenaga honorernya, mereka membuat LPJ hantu. Iya, hantu kalau yang ditulis tidak sesuai dengan yang keluar. Teman-teman yang mengajar di sana tidak ada yang betah karena gaji mereka selalu terlambat diberi. Sekalinya dibayar, tidak full.

"Jadi ia ditahan dengan pak Makmur?" kembali kutanyakan nasib kepala sekolahnya.
"Iya, Man" suaranya semakin pecah.
"Tapi kenapa cepat sekali, Bu. Harusnya kan diperiksa dulu."
"Sudah lama diusut. Tapi ayahmu baru bilang. Dan sialnya, selain di penjara, ia juga harus ganti rugi. Kita mau dapat uang dari mana, Man?" memdengar itu, aku menatap Minah. Seakan semua beban ingin kubagi bersamanya. Ia pura-pura tidak mengerti.
"Nanti kita sama-sama pikirkan." ucapku memeluk ibu.
"Minah tolong ambilkan air untuk ibu di," belum selesai kujelaskan tempat dispenser, ia seudah berlari. Setidaknya dia tidak hanya tinggal mematung di sebelah. Dengan gesit, Minah langsung masuk. Lalu kembali keluar, "air minumnya di mana, Mas?"
"Makanya kalau orang bicara dengar dulu, dek. Jangan langsung pergi. Kau terus saja lalu belok kiri. Di sebelah kanan kulkas, disitu ada galon." kalau dia masih tidak mengerti, berarti tolol Minah diatas rata-rata. Bodohnya natural, istilah anak zaman sekarang.

Ternyata tidak juga, Minah berhasil membawa segelas air lalu diberinya pada mertua barunya itu. "Minum dulu, Bu!" sahutnya pelan.
"Tabungan ibu cuma yang kubelikan emas untuk maharmu saja. Tanah juga sisa. Rumah yang kau tempati berdua Lina dulu tidak mungkin bisa terjual cepat." kata ibu menjelaskan.
"Berapa uang yang harus disiapkan, Bu?" ucapku kembali.
"Seratus dua puluh juta." aku tersentak mendengarnya.
"Memang Ayah korupsi segitu banyak? Terus uangmya diapakan?"
"Kau pikir rumah yang kau tempati dulu di dapat dari mana? Terus gaya hidup dan jalan-jalan ibu. Semuanya dari dana BOS, Man."
"Astaga, Bu!" jawabku tak habis pikir. Kutuntun ibu untuk naik ke sofa dan berkata, "tunggu di sini sebentar, Bu!"
Kulambaikan tangan ke arah Minah, mengajaknya ke teras rumah
"Dek, kau punya uang segitu? Bisa bantu Ayah? Setidaknya hukumannya bisa sedikit berkurang" kataku lagi.

"Ada sih, tapi itu banyak sekali, Mas. Kita baru menikah, masa harus kukeluarkan uang segitu untuk mertuaku." sambungnya.
"Aku tahu, sayang. Hanya saja dimana lagi aku harus dapat uang kalau bukan kamu yang bantu. Kutahu mbak Marni pasti tidak punya uang segitu."
Kataku lagi. Berusaha meyakinkannya.
"Atau begini saja ,Mas. Rumah yang kau tempati dulu kan berdekatan dengan tanah maharku. Biar sekalian kubeli saja. Nanti kalau ada rezeki bisa kubanguni rumah yang besar untuk anak-anak kita." timpalnya.
"Kalau kau kunikahi lalu perhitungan begitu, untuk apa aku jadi suamimu?" tidak sengaja, kalimat itu kulontarkan. Minah melotot lalu bilang, "Jadi kau menikah denganku hanya untuk uang?"
Kutepis dengan ucapan, "bukan begitu, maaf kalau tersinggung. Aku saat ini betul-betul butuh bantuanmu, dek sayang. Kau mau yah?"
"Syaratnya itu tadi, Mas. Rumah itu biar kubeli saja. Lagian bukankah itu sudah sangat membantu? Seharusnya itu jadi warisan dari orang tuamu nanti, malah kubeli. Apa ruginya?" sahut Minah.
"Ya sudahlah, nanti kuberitahu ibu!"
Minah kupikir bisa jadi obat pusing ternyata justru menambah penyakit saja.

-----


(Menurutku) ISTRIKU PELIT.
Part 14
#istripelit

"Ibu, Minah menawarkan untuk membeli rumah itu dengan harga yang sama-sama dibutuhkan ayah untuk ganti rugi. Yah, walaupun tidak bisa membebaskan, tapi setidaknya masa tahannya tidak terlalu lama," kataku.
"Benar, Bu. Daripada rumah itu jatuh ke tangan orang lain. Mending aku saja yang beli." Minah ikut-ikutan menenangkan Ibuku.
"Ibu tidak mau!" bentaknya. Lalu masuk ke kamar dan membanting pintu. Kenapa perempuan suka sekali mengambek begitu?
"Kubilang juga apa. Kamu ini perhitungan sekali yah Minah. Tega kau dengan orang tuaku."

"Kau yang tega, Mas. Seharusnya sudah tugasmu menafkahi. Bukan malah membebaniku dengan tugas membayar apa yang jadi kesalahan ayahmu. Dan kalau mau lebih baik, mending tidak usah lunasi ganti ruginya. Biar ayah lebih tahu kesalahannya seperti apa. Lagipula kenapa mau hidup foya-foya kalau itu bukan pakai uang sendiri mas. Aku saja yang setengah mati pontang panting di negara orang, mana mau beli sesuatu kalau tidak penting." seketika aku naik pitam. Tanganku kukepal ingin rasanya mengantam bibirnya agar kembali tonggos seperti dulu. Tapi, bisa-bisa tanganku terluka karena behelnya.
"Minah, kalau tidak mau membantu, setidaknya jangan menghina. Aku tahu hartamu banyak. Jangan sombong begitu. Kami ini keluargamu," ucapku.

"Aku minta maaf, Mas. Aku ingin membantumu, hanya saja kalau soal uang, kemampuanku terbatas. Semua rekening memang atas nama ibuku. Jadi, aku hanya memintanya ketika ada yang ingin kubeli. Kalau aku bilang akan mengambil uang seratus dua puluh juta untuk orang tuamu, apa kata ibuku nanti?" jawabnya.
"Kau tinggal bilang kalau uang itu kau yang cari. Selesai."
"Tidak semudah itu, mas. Dulu niatku cari uang memang untuk membantu keuangan ibuku. Agar tidak ada satupun orang yang berani lagi mengejek-ejek karena miskin. Dan sekarang kau lihat kan. Dunia itu berputar. Sekarang aku membuka toko grosir dengan modal sendiri, yah agar bisa memulai dari nol kembali. Semua uang hasil TKW kuserahkan untuk ibuku. Emas, rumah, mobil. Tidak satupun yang akan kuambil. Jadi tugasmu sekarang jika ingin menjadi suami yang baik, yah menafkahi istri dengan layak." seperti mimpi, ucapan Minah membuatku kehabisan tenaga. Kumaklumi wajahnya yang tak cantik ,tapi kalau sekarang dia tidak berhak untuk hartanya sendiri. Lalu gunaku menikahinya untuk apa?

"Tidak boleh begitu dong. Kau yang bekerja keras, kenapa semua mesti ibumu yang ambil?"
"Memang aku yang bekerja keras, tapi tidak ada yang salah kalau semuanya kuberikan untuk ibuku. Yang jadi pertanyaan, kenapa kau pusing? Sedangkan permintaanmu untuk membayar ganti rugi ayahmu kau ucapkan secara gamblang. Seolah-olah aku ini wajib membantu." katanya. Kami berdiri saling berhadapan.
"Bukan begitu Minah. Aku hanya tidak tahu mau minta tolong ke siapa lagi."
Nadaku melemah, tidak enak kalau di dengar tetangga.
Ia lalu memelukku dan berkata, "tapi maaf, Mas. Aku benar-benar tidak bisa membantumu."
Tanganku terlalu berat untuk membalas pelukannya. Juga hidung yang terpaksa menaham bau parfum yang amat menyengat.
"Kalau begitu, kuantar kau pulang dulu ke rumahmu yah. Biar aku sendiri yang membujuk ibu agar mau menerima tawaran ini." kataku mendorong Minah perlahan agar melepas pelukan. Dia mengangguk.

***

Setelah mengantar Minah pulang dan ke rumah mbak marni untuk menjemputnya, aku kembali ke rumah ibu untuk menenangkannya.
"Ibu, buka pintunya, ini aku Marni, Bu. Kami membawakan makanan kedukaan ibu." soto ayam di kantongan yang kugenggam, kubeli di warung samping rumah.
Tidak lama, ibuku keluar dengan mata sembab dan begitu loyo.
"Ibu yang sabar yah. Kita pasti punya jalan keluar untuk membantu ayah." kata mbak Marni merangkul ibu.

"Man, harusnya kau itu minta ke Minah. Rugi dong mahar yang banyak kemarin kalau ujungnya tidak bisa juga membantu kita." mbak Marni tampak begitu kesal.
"Sudah kucoba, Mbak. Tapi, dia bilang mau asal rumah di dekat rumahmu dia yang beli saja." ucapku hati-hati.
Dia bilang, "Itu namanya bukan membantu, Man. Secara tidak langsung dia mau menguasai harta kita."
"Katanya lagi kalau sebenarnya rumah itu warisan dari ibu. Tapi karena dia mau membantu, alhasil biar Minah saja yang menebus katanya." balasku lagi.
"Mending jual ke orang lain saja, Man. Sekarang kau ke rumahmu foto lalu kirim ke market place atau ke grup dagang apa saja deh. Terserah. Kita tunggu sampai seminggu. Kalau memang tidak ada, yang mau bagaimana lagi. Biar Minah saja yang beli."
Mungkin mbak Marni merasa juga kalau menjual rumah tidak semudah itu.
"Mbak, kau tahu kan ukuran rumah itu tidak luas. Mentok laku seratus juta. Sedangakan uang yang dibutuhkan itu seratus dua puluh. Minah ada benarnya juga. Lagian dia kan tidak tahu bagaimana kondisi di dalam rumah itu."
"Kau benar juga, Man." wajah ibu yang tadi mendung seketika cerah. "Biar tahu rasa Minah. Kita mau dilawan"

***

Malam semakin petang. Aku terburu-buru ke rumah Minah berharap ia tidak berubah pikiran.
"Minah sayang!" sapaku ketika melihatnya bersantai di atas ranjang. Celana biru donker pendek juga baju dalam tali dikenakan. Ia tengkurap bermain handphone.
Dengan semangat ia kemudian duduk dan menjawabku, "kau sudah pulang ,Mas. Bagaimana dengan ibu?" tanyanya.
"Dia sepakat, dek sayangku. Katanya terima kasih sudah mau membantu. Tadi dia masih pusing, makanya marah-marah."

"Syukurlah, Mas. Tapi sebelum rumahnya kubayar, harus kupastikan dulu kondisi rumahmu. Jangan sampai terlalu mahal harga seratus dua puluh."
Astaga, sial lagi sial lagi. Si norak Minah ternyata pintar juga kalau masalah uang.
"Tidak usah dek. Ini darurat, tidak ada waktu lagi untuk mengecek kondisinya. Apa kau meragukanku?" tanyaku mengalihkan.
"Buka masalah ragu tidaknya, Mas. Hanya memastikan kalau uang segitu pantas kukeluarkan untuk sebuah rumah. Jaraknya juga dekat. Paling sepuluh menit sudah selesai."
Malam pengantin pertama yang mengecewakan. Segera kuhempas tubuhku ke ranjang lalu membelakangi Minah. Berkali-kali ia memelukku dengan erat dan memberi kode lagi. Malas rasanya meladeni. Aku pura-pura mendengkur. Dan tidak lama setelahnya, kurasa tak ada gerakan lagi dari Minah. Aku berbalik, dan melihat ia sudah tertidur pulas dengan iler dan nada ngorok dari bibirnya yang mangap seperti ikan. Ingin rasanya mengambil sambel lalu kumasukkan dalam mulut minah.

***

Di pagi hari, meja sudah disediakan makanan untuk sarapan. Yang tersisa di rumahnya hanya aku, istri dan mertuaku bu Maemunah. Nasi goreng jadi menu yang dibuatnya. Hanya ada tiga piring yang masing-masing ada isinya.
"Mas masih lapar, dek!" ucapku ketika nasi di piring sisa satu sendok makan. Sedang perut masih keroncongan.
"Maaf, Mas. Nasinya hanya segitu. Sengaja kubuat pas untuk bertiga. Tidak lebih. Karena takut mubazzir."
"Ambil punyaku saja, Mas!" kata Minah menjulurkan nasinya yang masih ada setengah piring.
Dalam hatiku berkata, "jijik ,ah!"
"Tidak usah, dek. Terima kasih!"

Pantang bagi Maman surahman tampan memakan nasi sisa orang lain. Walaupun ia sudah sah menjadi istri. Kuambil air minum lalu menghabiskan tiga gelas sekaligus untuk menghilangkan lapar. Ahh, aku rindu Lina.
"Kita berangkat sama-sama yah? Kau mau pamitan untuk berhenti kerja bukan? Sekalian aku juga mau ke toko grosir. Katanya hari ini beberapa sales mau datang ke sana untuk membawa barang. Insya Allah secepatnya toko sudah dibuka. Pulang dari situ, kita ke rumah lamamu untuk mengecek keadaan disana. Kalau sudah pas, tinggal ke bank ambil uang."
"Iya, dek. Kita naik mobil?" tanyaku.
"Naik motor saja, Mas. Kalau mobil boros bensin."
Aku merasa ditipu mentah-mentah. Jadi kebaikannya sebelum kulamar untuk apa? Atau hanya ingin menari perhatianku? Sial!

------

(Menurutku) ISTRIKU PELIT.
Part 15
#istripelit

Setelah selesai makan, aku lebih dulu keluar rumah untuk ke parkiran.
"Dek, kau makan dulu, Mas mau panasi mesin motor!"
Ia mengangguk lalu bilang, "hehehe, memangnya itu lauk semalam mas yang mau dipanasi?"
Spontan kujawab, "bercandamu garing, dek. Ibarat kerupuk, sudah terkena angin berjam-jam. Melempem."
Bukannya kaget, ia malah tertawa, "hahaha, Mas sayang lucu juga."
.
Dengan perasaan kesal, kususuri lantai demi lantai hingga tiba di samping motor. Kunyalakan segera dan seketika muncul ide brilian. Bagaimana kalau kuhindari berboncengan dengan Minah. Ahaaaa. Kubuka penutup pentil motor lalu kukempeskan ban motorku sendiri. Tapi kupastikan sekeliling tidak ada orang agar aksi kerenku ini tidak ketahuan. Tidak apa kalau setelah ini mampir ke bengkel dulu. Asal istri baruku tidak ikut nemplok seperti cicak di belakang Maman Surahman lelaki tampan seantero kelurahan. Sejagad maya.

"Ahh, sial!" umpatku seraya memukul keras-keras sadel motor. Itu kulakukan berulang kali hingga Minah lari keluar untuk melihatku.
"Kenapa, Mas? Ada apa? Kau kenapa?" tanyanya panik.
"Ban motorku, dek. Kenapa bisa kempes begini sih. Padahal baru saja kita ingin jalan berdua. Berboncengan denganmu." sebagai bentuk totalitas, kupukul jidat tanda kekesalan. Sedang dalam hati berkata, "kalau kau bisa mengerjaiku kenapa aku tidak?"
Minah tampak kecewa, ia lalu menyarankan agar kami naik mobil saja.
"Tidak apa-apa, Mas. Kan masih ada mobil. Kita naik itu saja."
"Katanya boros sayang kalau pakai itu?" tanyaku.

"Bukan boros namanya, Mas. Malah jadinya aku istri pelit kalau membiarkan kau jalan kaki sedangkan ada mobil terparkir disini. Kecuali kalau motormu normal, yah sebaiknya kita pakai itu kan biar hemat."
Minah sok bijak, padahal memang aslinya pelit. Eh, tapi kalau naik mobil, artinya aku berdua lagi dong. Biarlah.
"Aku ambil tas dulu, Mas. Tunggu sebentar yah. Sekalian pamit ke ibu."
Tak lama berselang, Minah keluar dengan tas yang sama. Iya, tempat uang ungu blink-blink.

***

Setibanya di toko grosir miliknya, Minah kuturunkan lalu naik mobil sendiri ke swalayan bosku. Dengan rasa percaya diri, semua kaca sengaja terbuka lebar agar orang-orang bisa melihatku. Lalu turun dan berjalan dengan kepala terangkat. Dada sedikit kubusungkan. Tak lupa gantungan kunci mobil bundar kulekatkan di telunjuk dan kuputar-putar.
"Eh, Man. Wah, keren sekali kau!" puji teman kerjaku. Partner yang sedari awal kami masuk bekerja disini.
"Ahh, biasa aja, Mat. Ehh, bos mana?" tanyaku.
"Di atas mungkin. Ada apa?" balasnya penasaran.

"Aku mau berhenti bekerja. Bosan! Lagian sebentar lagi tokoku di sana sudah mau buka. Lebih enak jadi bos!" bisikku ke sampingnya.
"Wah, kau hebat, Man. Benar-benar beruntung kau. Tidak lama bercerai langsung kawin lagi dengan orang kaya pula." aku hanya cengengesan. Belum tahu dia bagaimana Minah.
Di meja kasir ada permen karet, kuambil satu lalu membayarnya dengan uang lima puluh ribu.
"Kembaliannya ambil saja!" kataku. Untuk meyakinkan rahmat bahwa aku sekarang memang sudah sukses.
"Gilaaaaa kau, Man. Gokiiillllllll!" teriaknya.
"Ya sudah, aku ke lantai dua dulu. Ketemu bosmu!" kutinggalkan Rahmat yang masih takjub dengan perubahanku lalu mencari mantan bosku.
"Permisi, Ko!" ucapku menaiki anak tangga. Itu ruang pribadinya.
"Oe, Man. Ada apa?" tanyanya.
"Aku mau berhenti kerja, Ko."
"Jadi kau serius? Kirain waktu itu cuma bercanda." jawabnya seraya menghitung-hitung. Entahlah uang mana lagi yang ia jumlahkan. Sebentar lagi aku juga tinggal jadi pengawas toko. Tidak lagi repot jadi pekerja.
"Iya, Ko. Toko grosirku sebentar lagi dibuka. Takut kewalahan kalau aku juga masih kerja disini."
"Yang dibeli istrimu bukan?"
"Iya, Ko!" ternyata dia sudah tahu kalau bukan aku yang punya.
"Sekadar saran, Man. Kalau jadi suami, kita mesti punya penghasilan sendiri yah walaupun sedikit," katanya.
Ada benarnya juga sih. Tapi aku terlanjur sudah mengumumkan kalau ingin berhenti bekerja. Nasi sudah jadi bubur. Mau bagaimana lagi.
"Iya, Ko. Terima kasih!" ucapku lalu menjabat tangannya. Dan kami saling bersalam perpisahan.
Banyak yang bilang aku sombong, tapi rata-rata orang sekelilingku yang lebih tua tetap merasa dihargai.

***

"Gimana sayang? Apa kata bosmu?" tanya Minah ketika aku baru saja turun dari mobil.
"Gak ada, dek. Mas hanya salaman terus balik sini lagi."
"Tapi kok lama?" tanyanya lagi.
"Tadi mampir dulu ngobrol sama teman kerjaku. Belum ada sales yang bawa barang?" ucapku. Melihat-lihat toko yang sebentar lagi akan jadi milikku juga.
"Itu disana. Sisa angkat barang turun ke sini." sahutnya menunjuk mobil box pengangkut barang.
Saat semuanya ingin diturunkan, Minah memintaku untuk mengawasi. Dan mencocokkan catatan dengan barang yang masuk.
"Mas, aku ke toilet dulu yah!" kujawab mengangguk. Dengan lagak sok berkuasa, kuarahkan caranya mengangkat barang.
"Awas, pelan-pelan!"
"Tarus di sana!"
"Sebelah sana!"
"Awas!"

Terilihat ia kurang nyaman, tapi tidak masalah buatku. Setelah selesai, salesnya memintaku untuk menandatangani nota pembelian. Baru ingin meraih pulpen yang dijulurkan, Minah tiba-tiba datang dan berkata, "biar aku saja, Mas. Lagian ini atas namaku. Owner toko Maemunah. Biar ku cek ulang dulu," katanya memperhatikan tumpukan barang.
Tangan yang tadinya sudah kuangkat, kukepal lalu turunkan kembali.
Perasaanku jadi tidak enak. Sepanjang hari menemani Minah menunggu sales yang bergantian datang, tak pernah lagi kubantu. Aku hanya duduk di sebelah tumpukan barang memperhatikannya yang sok sibuk dan sok berkuasa.
"Mas, sudah sore. Ayo kita pulang!" tak ada kata yang terucap dari bibirku. Aku hanya mengambil kunci mobil di kantong lalu bergegas pulang.
"Kita jadi kan ke rumahmu, Mas?"
"Mas, aku lapar,"
"Kenapa diam saja, Mas?
"Atau aku ada salah?" tanyanya. Aku masih bergeming. Hingga tangan Minah meraba bagian pundakku, "Mas, kau kenapa?"
"Aku tersinggung karena kamu. Memang toko itu punyamu, tapi tidak seharusnya kau perlakukan aku seperti tadi." jawabku menatap lurus ke depan.
Ia memandangku, "yang mana, Mas?"

Astaga Minah, dia tidak merasa bahwa perbuatannya tadi sungguh menghinaku sebagai kepala keluarga.
"Kau tidak sadar tadi mereka tertawa kecil saat kau merampas nota yang sudah kupegang. Juga pulpen yang baru saja ingin kuambil?"
"Maaf, Mas. Aku tidak merampas, hanya mengambil saja karena seharusnya memang aku yang tanda tangan. Kalau dibelakang nanti ada selisih barang, kan aku yang bertanggung jawab. Jangan kamu, Mas"
"Tau deh. Kau minta maaf terus tapi semakin kesini, aku selalu merasa tidak dihargai." kutancap gasnya secara mendadak sehingga Minah hilang keseimbangan. Rasain kamu!
"Aduh, pelan-pelan, Mas!" teriaknya memegang apa saja yang bisa diraih di dalam mobil. Lalu semakin menjadi ketika injak rem tiba-tiba anjing melintas. Kepalanya terbentur. Hahaha. Aku sedikit kaget, tapi kulihat keningnya tidak terluka. Jadi, kulanjutkan kembali perjalananku.

-----

bersambung