Kamis, 20 Februari 2020

(Menurutku) ISTRIKU PELIT 16 - 20

(Menurutku) ISTRIKU PELIT
Part 16 by Febriani Kharisma
#istripelit

"Mas, rumah ini lumayan besar, tapi disini, di sebelah sana, itu juga sudah rusak dan tidak bagus," kata Minah seraya menunjuk semua bagian yang rusak. Aku hanya memandanginya dengan perasaan kesal.

"Tapi masih bisakan dihargai seratus dua puluh juta?" tanyaku memastikan. Tangan menggeser-geser tudung saji penuh kenangan bersama Lina. Setumpuk kenangan kembali menyeruak saat kudapati barang-barang masih tersimpan rapi di dalam rumah.
"Sepertinya tidak, Mas. Coba lihat ke atas, banyak yang koyak. Lubang-lubang kecik. Air pasti masuk kalau hujan deras," katanya sok berlogat.

"Koyak apaan? Koyak pisang?" tanyaku.
"Hahaha, mas ada-ada saja. Maksudku sudah banyak yang sobek. Di Malaysia sobek itu artinya koyak, sayangku." pengganti plafon yang kupasang memang hanya dengan tenda biasa yang pinggirannya ditahan dengan bambu. Belum cukup uang untuk memakai bahan mahal seperti di rumah Minah.

"Jangan pakai istilah begitu, dek. Mas kurang paham. Jadi maunya dihargai berapa?" tanyaku lagi.
"Sembilan puluh juta, Mas. Kalau lebih dari itu, aku bisa rugi banyak," jawabnya.

"Terus sisanya kudapat dari mana? Jangan egois begitu dong Minah. Bantu suami dan mertuamu."
"Mas, andai rumah ini mau kuhargai yang sebenar-benarnya, paling mahal delapan puluh juta. Tapi, karena ingin berbaik hati mkanya kutambah jadi segitu. Lagian dulu Lina tinggal disini secara gratis. Kenapa aku harus repot-repot membayar kalau bukan untuk membantumu? Coba juga tanya ke ibu, pasti dia punya barang berharga. Saye rasa tidak mungkin emas atau barang-barang mahal lain tidak ada di rumahnya." jawab Minah menghardik.

"Tidak enak kalau harus merepotkan ibu lagi. Dia sudah cukup terluka dengan kejadian ini," kataku menatap matanya memelas.
"Terus kau tega dengan istri yang baru saja kau nikahi, Mas?"
Seketika aku tersentak ketika Minah menarik kursi secara kencang lalu menghempas tubuhnya dan ikut duduk bersamaku.

"Jawab!" ucapnya lagi. Matanya menatapku tajam.
"Bukan begitu, Dek sayang. Tapi kau tahu kan bagaimana terpukulnya ibu atas kasus yang menimpa ayah." kupegang tangannya untuk meluluhkan Minah. Seraya dalam hati berkata, "kembali saja ke negeri Jiran sana!" pusing juga punya istri begini.

"Kan ada mbak Marni juga, Mas. Kenapa semua dibebabkan ke kita?" tanya Minah melemah.
"Baiklah, dek kalau itu maumu. Jadi kapan uangnya bisa diambil?" aku berdiri di sebelahnya, menyapu lembut puncuk kepala Minah.
"Secepatnya, Mas! Sudah aku melihat semua ruangan mana lagi yang mesti di renovasi"
"Renovasi? Memangnya kita mau tinggal disini?" aku tidak sanggup menerima kenyataan kalau impianku tinggal dan menguasai rumah mewah Minah pupus. Aku lebih berhak daripada Bu Maemunah.
"Iya, Mas. Aku mau rumah tangga kita tidak ada campur tangan dari pihak manapun. Lebih baik kita berpisah dengan keluarga. Lagipula rumah mereka dekat, jadi bisa dikunjungi tiap hari."
Ah, Minah bodoh. Rumahnya yang full AC di setiap ruangan, juga plafon keren sehingga terasa sejuk. Masa iya harus tinggal di sini.

setelah itu Minah berkeliling lagi ke semua ruangan. Dan meninggalkanku sendiri di dapur. Kudengar suara teriakan dari arah ruang tamu. Segera aku berlari ke arah sumber suara.
"Apa itu, apa itu? Ada apa?" kataku panik.
"Astaga, dek. Kenapa kau teriak-teriak trus semua foto berhamburan?" Minah merobek sisa kenangan dengan Lina. Pernikahan kami yang hanya diabadikan dengan tiga lembar foto. Itupun teman yang hadir memotret kami hanya menggunakan handphone lalu Lina meminta filenya untuk dicetak lima R. Makanya hasilnya buram. Eh, si Minah malah merusak itu.
"Bawa ke tempat sampah, saye tidak mau peninggalan mantan istrimu masih ada disini," katanya.
"Tidak usah begitu, dek. Kenang-kenangan." bibirku mengucapkan hal yang tak kuduga. Mungkinkah memang rasaku ke Lina masih terpatri di relung hati.

"Mas, Lina itu mantan istrimu. Sekarang hanya ada aku dihidupmu. Tolong hargai. Apa kau mau foto bersama bekas lelakiku dulu juga kuperlihatkan padamu?" hahaha, ingin sekali kujawab, "emang gue pikirin". Taknada sedikitpun rasa cemburu andai kata Minah ingin bersama siapapun.
"Iya, iya, sini ku buang," sahutku sembari memungut tiga lembar foto. Sisa selembar yang utuh. Aku berpura-pura membawanya ke tong sampah, tapi malah kumasukkan ke dalam kantong celana. Lalu masuk kembali menemui Minah.

"Sudah, sayang. Ayo kita pulang," tubuhnya tampak lunglai, sepertinya Minah benar-benar cemburu. Jelas, dari dulu dia mendambakan lelaki tampan ini. Maman Surahman.
"Jangan ngambek-ngambek dong cintaku. Nanti cantikmu hilang," Tak ada pilihan lain. Aku mesti berbohong.
Jika boleh jujur, aku lebih suka Minah yang dulu. Walaupun dekil, setidaknya lebih baik daripada belang-belang begini. Cantik itu relatif. Hitam ataupun putih sama saja bagiku. Yang jadi masalah kalau dua-duanya ada dalam satu raga.
Pujianku berhasil, perlahan senyum sumringah nampak lagi di parasnya.

Lalu ia menggandeng tanganku naik ke mobil lalu kami kembali pulang ke rumah Minah.
Di perjalanan, tak sengaja aku melihat Lina dan Indra sedang asik berduaan di teras gudang. Ia nampak tak canggung berbicara dengan lawan jenisnya.
Kutekan klakson mobil kencang-kencang dan Indra lalu melambaikan tangan untuk menyuruhku singgah. Padahal niatku hanya untuk memamerkan mobil pada Lina. Juga karena rasa cemburu dengan kedekatan mereka.
"Sayang, ayo mampir sebentar. Gak enak kalau dipanggil begitu," ucapku mengajak Minah turun dari mobil.
"Iya, boleh. Tapi awas kalau kau main mata dengan mantan istrimu," Bibirnya dimonyong-monyongkan. Seperti donal bebek.
"Siap, Sayangku," Kataku.
Kuparkirkan mobil sejenak lalu berjalan ke arah mereka. Minah lagi-lagi menggandeng tanganku mesra.
"Wah, kalian sepertinya akrab sekali. Cocok. Serasi," sahut Minah. Dan aku sedang berusaha tetap santai.
"Hahaha. Ada-ada saja. Darimana?" tanya Indra.

"Dari lihat rumah lama. Rencananya kami mau tinggal disana. Minah mau renovasi dan membuang barang yang sudah tidak penting. Eh yang dibilang istriku benar. Kalian tampak akrab dan serasi." Indra yang mengajakku bicara, tapi pandangan terarah pada Lina. Ia menarik nafas dalam-dalam. Kuharap ia cemburu.
"Kami sedang berdiskusi. Dia ada ide untuk beras-beras yang tampak hitam ingin kami jadikan tepung lalu dipasarkan ke toko-toko, tapi tidak tahu nanti jadi atau tidak." ucapnya.
"Eh, Man kau sudah ada uang belum? Kalau iya, bolehlah uang yang kau pinjam tempo hari dikembalikan. Aku butuh, Man!" mati aku. Mata Minah tertuju padaku, juga Lina.
"Oo, Jadi dulu kau pinjam uang disini?" sindir Lina.
"Uang apa?" Minah ikut-ikutan.

"Astaga maaf. Kupikir Lina tahu." gumam Indra.
"Dulu mbak Marni punya utang ke kami tapi mas Maman gak mau tagih. Eh malah pinjam disini rupanya." timpal Lina.
"Nanti malam aku kesini bawa uangnya. Aku permisi dulu," kataku menarik paksa tangan Minah kembali ke mobil.
Sepanjang jalan dia berkata, "Kita harus tagih mbak Marni!"
"Ihh, apa hubungannya sama kamu? Uang itu ada sebelum kita menikah," sahutku.
"Kau suamiku. Aku berhak atas itu sayang. Kalau kau tidak mau biar aku saja yang tagih," kuelus dada berkali-kali. Aku harus tetap berusaha menahan emosi. Cepat atau lambat akan kutinggalkan Minah tentu bukan dengan tangan kosong.

-------



(Menururku) ISTRIKU PELIT
Part 17
#istripelit

Di dalam kamar Minah masih belum berhenti membahas masalah hutang mbak Marni. Ia tampak duduk di depan bupet seraya menuang cairan ke atas kapas. Aku tidak tahu apa itu mungkin dan bisa jadi wajah Minah putih karena itu. Di tepuk-tepuk wajahnya berkali-kali. Sambil terus mengoceh.
"Mas, besok kalau kita bawa uang ke rumah ibumu, sekalian ajak mbak Marni. Aku mau bicara empat mata dengannya," kata Minah masih sibuk memoles pipi.
"Untuk apa?" tanyaku

"Bahas utang toh. Lumayan dipakai tambahan membayar tukang yang mau perbaiki bagian yang rusak di rumahmu," ucapnya lagi.
"Kau serius soal itu?" kutarik selimut karena terlalu menggigil. AC kamar Minah dingin sekali.
"Iyalah. Masa bercanda. Itu uang dua juta tidak sedikit. Masa mesti diikhlaskan. Lagipula kenapa juga waktu itu kamu sibuk meminjamkan uang ke mbak Marni. Jelas-jelas penghasilan suaminya lebih banyak daripada kamu. Belum lagi ada anak yang harus kau biayai dulu. Mereka belum bukan? Seharusnya mbak Marni yang membantu. Bukannya menyusahkan adiknya. Andai aku jadi Lina, tidak kubiarkan hidupku kekurangan gara-gara saudara sendiri," katanya lagi.

"Ahh, ngomong apa sih kamu. Sudah, mas mau tidur." ucapku bergelung selimut bunga-bunga.
"Tunggu, mas. Jangan bobo duluan." tampang kayak Minah kurang cocok menggunakan kata 'bobo'. Kalau yang imut-imut bolehlah.
"Tapi pijit yah?" sahutku menawar.
"Siap cintaku. Setelah ini!" Minah sebenarnya bisa digolongkan jadi istri yang baik. Dia rajin kalau kusuruh, tapi kalau soal uang ya Tuhan perhitungan sekali. Sekarang krim warna krem yang diusapkan ke wajah. Minah tampak mencolek sedikit dengan telunjuknya. Lalu menaruh sedikit di bagian kening, pipi, dagu, lalu diratakan dengan cepat.
"Dek itu apa?" gumamku. Hanya mata dan rambut yang tidak tertutup selimut.
"Krim pemutih sayang. Biar tidak hitam dan kusam." perutku tergelitik. Tawaku pecah.
"Hahahhahahahaha!"
"Kau kenapa, mas?" Minah menatapku lewat cermin.
"Tidak. Tidak kenapa-kenapa. Kamu cantik!"

"Pantas kau sangat putih dek sayang. Ternyata itu rahasianya." dia mengangguk. Membungkuk sedikit agar wajahnya ia bisa lihat jelas di cermin dan memperhatikan sisi mana yang belum terkena krim.
"Tapi kenapa lehermu tidak?" kataku spontan.
"Ini harganya seratus ribu tapi isinya cuma sedikit. Jadi kupakai di wajah saja. Petunjuknya memang tertulis gunakan dibagian leher juga, tapi terlalu boros, Mas sayang."
"O begitu yah, dek. Ya sudah. Terserah. Enak yah jadi orang cantik putih separuh saja tetap bagus kelihatan. Bangga aku dek nikah sama kamu,"
"Ehh buruan sini pijit kaki mas,!" kataku malas berdebat. Perawatan kok nanggung.
Minah begitu bahagia ketika kupuji. Belum sempat menutup kembali tempat krimnya, ia sudah meluncur ke atas ranjang untuk melayani suami.
"Mas, kakimu dingin sekali," ucap Minah ketika menyentuhku.
"Iya, kurangi suhu AC, dek. Mas gak tahan," ucapku lagi. Saat istriku mengangkat selimut, hawa ruangan serasa menembus tulang.
"Dikurangi, Mas?" tanyanya.
"Iya, dek!"
"Serius, Mas?" timpal Minah lagi.
"Kalau suami suruh, jangan bertanya terus, kerjakan!" tanpa membalas, Minah meraih remot yang menempel di dinding, entah tombol mana yang ditekan. Tapi kurasa malah semakin dingin.
"Kenapa tambah dingin? Mau kerjain suamimu yah?", kujulurkan selimut hingga mengenai kaki lagi. Lalu Minah malah tertawa terpingkal-pingkal.
"Awas kau kualat loh kalau mengejek suami,"
"Bukan begitu mas Sayang."
"Aduhh, hahahah"
"Hahaha"
"Tidak....." ia sulit menyambung perkataannya karena masih sibuk tertawa..
Ia mengatur nafas. Aku hanya melihatnya dengan rasa emosi. Sialan si Minah.
"Aku tidak mengerjaimu, Mas. Kau sendiri yang minta supaya suhunya dikurangi. Kau mengerti kan kalau semakin rendah suhu maka semakin dingin? Atau jangan-jangan tidak tahu mas? Hahaha. Norak juga yah." mendengar kata-kata Minah, serasa wajahku dipenuhi kotoran. Malu sekali. Aku kemudian bangkit dari ranjang lalu keluar kamar dan membanting pintu.

"Mas, mau kemana?"
"Mas!"
"Mas!" Teriak Minah. Tapi tidak kugubris. Bu maemunah yang kulintasi di ruang keluarga bertanya, "kenapa Nak?" aku juga tidak perduli. Tetap saja aku berjalan keluar. Minah mengikutiku.
"Maaf, mas. Aku hanya bercanda,"
"Jangan marah!" ia terus berusaha menyamakan langkah. Kubuka pintu pagar dan pergi ke rumah ibuku.
Karena Minah hanya memakai lingerie lagi, tidak mungkin ia juga ikut kesana.
"Mas kau mau kemana?" teriaknya tak karuan.

***

"Kau kenapa Man?" tanya ibuku ketika masuk ke rumah tanpa salam.
"Minah bu, kurang ajar." lalu menyusul duduk di sampingnya.
"Masa aku dibercandai. Katanya kampungan tidak tau pakai AC," ucapkh mengadu.
"Sial Minah itu," jawab ibu yang juga emosi.
"Iya bu. Belum lagi rumah yang hanya mau dihargai sembilan puluh juta," kataku menambah amarah ibu.
"Apa? Gila kali itu istrimu man."
"Kalau begitu kamu usahakan cari pembeli lain dulu. Jangan langsung Minah yang beli." ucapnya.
"Tapi tidak mungkin bisa terjual secepat itu, Bu. Dan memang kondisi rumah disana sudah banyak yang lapuk."

"Kau bela perempuan sinting itu, Mas?" secara mendadak mbak Marni keluar dari arah kamar ibu.
"Mbak ada disini rupanya."
"Tidak usah banyak tanya. Jawab dulu. Kau bela istrimu?" katanya melotot.
"Bukan begitu mbak. Aku hanya bingung. Minah memang ingin membeli rumah itu dengan harga murah tapi kalau kubatalkan, siapa lagi yang mau beli?"
"Ahh, cari dulu yang lain. Sekarang gampang. Tinggal posting di facebook dagang, selesai." sambungnya. "Dasar istrimu saja yang pelit. Jangankan uang kue sepotong kecil saja mesti dibatasi. Astaga man. Semua istrimu memang gak ada yang beres."
"Maafkan aku, mbak," sahutku pelan. Tidak lama, suara Minah dari arah luar terdengar. Ahh mau apa lagi dia. Ada mbak Marni pula.
"Mas!" teriaknya. Menyusuri isi rumah tanpa permisi.
"Kau ini keterlaluan yah jadi istri. Ingat dulu kau itu miskin. Jelek!" umpat ibu.
"Ada apa, Bu?" jawab Minah sopan.

"Sampai sekarang juga jelek, Bu!" timpal mbak Marni.
"Pelit pula."
Minah tampak heran dengan sikap mereka yang kembali seperti dulu.
"Loh, ada apa ini?" tanyanya.
"Kau pelit. Pantas saja kaya raya sekarang. Tapi ingat, harta itu kalau bukan kita yang meninggalkan, dia yang tinggalkan kita." tumben mbak marni sedikit bijak. Tapi memang begitu kenyataanya. Kita kah yang meninggal dan menyisakan harta di dunia atau seluruh kekayaan yang pergi saat kita bangkrut.
"Soal rumah?" ucap Minah.
"Aku kesini cuma mau mengajak mas Maman pulang. Tapi kalau memang harus dibahas sekarang. Baiklah. Mumpung ada mbak Marni juga," gumamnya.
"Aku dari mengecek kondisi di sana. Kalau harga normalnha itu paling tinggi delapan puluh juta, bu. Nah, aku juga sudah menambahnya sepuluh juta lagi. Demi siapa kalau bukan mertuaku. Tapi kalau seratus dua puluh juta, aku tidak bisa bu." menjelaskannya lumayan santun. Ibu dan mbak Marni masih melotot.

"Sisa tiga puluh juta lagi, Minah. Kenapa kamu tidak mau bantu kami?" tanya ibu.
"Bukannya tidak mau, tapi ibu pasti punya barang-barang yang bisa dijual bukan? Emas ataukah apa saja bu yang bisa menghasilkan uang. Rencananya juga aku dan mas maman akan tinggal disana. Dan kami butuh uang juga untuk memperbaiki kerusakan."
"Dan mumpung mbak Marni ada disini, sekalikan aku juga mau tagih. Katanya Lina kalau mas Maman dulu meminjamkan uang dua juta ke mbak bukan?" seperti singa yang siap menerkam mangsanya. Mbak marni tidak bisa menahan emosi. Dilemparnya remot televisi yang mudah diraihnya lalu mengarahkan ke Minah. Tak ada balasan dari Istriku. Ia dengan santainya merasakan sakit dibagian pelipis.
"Tidak apa-apa mbak. Asal uang yang dipinjam dulu segera dikembalikan,"
"Permisi," ucapnya kemudian menarik tanganku untuk pulang. Dan saking kagetnya aku sampai lupa melepaskan diri dari genggaman Minah

------------------

(Menurutku) ISTRIKU PELIT
Part 18
#istripelit

Saat duduk di dalam mobil seperti anak SD yang dipaksa ke sekolah oleh orang tuanya, kurang lebih dengan ekspresiku ketika diajak Minah pulang.
Tapi yang membingungkan, arah mobilnya justru menuju rumah terdahulu.
"Mau kemana kamu? Inikan bukan jalan pulang," ucapku sebal.
"Ke rumah Indra. Untung aku ingat," ia asik mengemudi seolah tadi tidak terjadi apa-apa. Minah, minah.
"Untuk?" tanyaku lagi.
"Bayar utang, Mas. Tadi sore kau janji bukan ke Indra? Trus pas malam malah sibuk membungkus badan." Dahiku mengernyit mendengar ucapan Minah.
"Kau itu kenapa sih Minah. Semuanya kau urusi. Lagipula apa hubungannya denganmu kalau aku lupa mengembalikan uang itu?"

"Kamu suamiku. Sudah sepatutnya aku mengingatkanmu untuk khilaf yang bisa saja sering kau lakukan."
"Mas, lelaki itu omongannya harus bisa dipegang. Kalau janji yah janji. Apalagi masalah uang. Kau ingat kan tadi sore bilang apa ke Indra?" katanya lagi.
"Iya iya. Aku salah. Tapi aku gak bawa uangnya," orang waras mengalah.
"Pinjam uangku dulu. Kau punya kan? Jadi nanti sisa ganti ke aku." mataku membelalak. Dan sedikit maju ke dashboar mobil agar bisa menatap jelas Minah.
"Kau ini keterlaluan sekali jadi istri. Masa sama suami sendiri mesti hitung-hitungan. Kau niat membantuku mengembalikan uang Indra bukan? Terus kenapa mesti kupinjam lagi? Itu sama halnya gali lubang tutup lubang Minah binti sarkimin."

"Kau ini bagaimana sih, Mas. Bukannya kau sendiri yang janji ke Indra? Artinya kau sudah punya uang untuk membayarnya. Yang harusnya kau syukuri sekarang aku mengingatkanmu untuk janji yang kau ucapkan tadi. Juga meminjamkan uang sementara karena aku tidak berani mengambil uang milikmu tanpa meminta lebih dulu. Terus salahku dimana?" walaupun panjang, nadanya tetap datar. Ia tidak ngotot diajak bicara.
"Salahmu karena membantu tapi malah berharap dikembalikan." kualihkan pandangan ke luar jendela. Kami sudah sampai di depan rumah Indra tapi belum masuk karena berdebat.
"Kan yang kuminta uang sendiri, Mas? Lagipula itu juga akan kugunakan untuk keperluan sehari-hari. Kau juga belum pernah memberiku uang walau sepeser."

"Kau juga yang salah. Sudah tahu kekurangan uang, pakai meminjamkan uang ke mbak Marni pula. Andai waktu itu aku jadi Lina, tidak akan kubiarkan uang melayang begitu saja. Kecuali ada hitam diatas putih."
Katanya.
"hahaha sok bahas perjanjian di atas kertas. Kulitmu tuh yang hitam diatas putih!"
"Apa kau bilang mas?"
"Gak ada,"
Syukurlah secara mendadak dari arah belakang, mobil Indra masuk ke halaman rumah dan membunyikan klakson sehingga aku bisa bebas sementara dari jetat si Minah.
Kami menghentikan perselisihan, Indra turun dari mobil lalu menatap ke arah kami. Aku dan Minah menyusul.
"Ada apa kalian berdua kesini?" tanyanya tersenyum.
"Mau kembalikan ini." jawab Minah menyodorkan amplop coklat berisi uang dua juta.
"Astaga iya yah. Aku sampai lupa." sahut Indra menggiring kami ke teras rumahnya.
"Ayo masuk dulu." katanya.

"Tidak usah. Kami buru-buru. Eh Terima kasih yah bantuanmu tempo hari," ucapku. Sedang Minah asik bermain facebook di handphonenya.
Cerita sedikit, pernah kuintip profilnya, dia sering mengupdate status,
[4Lh4mduliLlah AcKhirnya @ku dan M@man B3rsatu DaLaM ruM@h tangg@]
Perutku tergelitik itu cara anak-anak mengetik sekitar sepuluh tahun yang lalu. Sempat hitz model tulisan begitu. Aku bingung Sebenarnya Minah datang dari Malaysia atau justru berdiam diri di lorong waktu zaman dulu. Terus sepuluh tahun kemudian dia hadir kembali makanya jatuhnya norak. Ahh, Lupakan Minah, kita kembali ke Indra.

"Iya sama-sama. Maaf yah kalau harus kutagih. Ada keperluan mendadak yang tidak bisa ditunda." kelihatanya ia tidak enak setelah meminta uangnya dikembalikan.
"Santai saja. Dari mana? Tumben keluar malam?" ia menggaruk-garuk kepalanya.
"Dari mengantar Lina ke swalayan. Setelah kau pulang tadi sore, dia kulihat kebingungan. Jadi kusuruh jujur, ternyata cuma masalah popok. Ia tidak tahu harus ke sana naik apa. Sedangkan diapers anakmu sisa satu. Ahh Man kita ke teras dulu deh. Ada yang mau kubicarakan," tanganku kukepal. Emosi juga ternyata kalau Lina jalan dengan orang lain. Tapi karena penasaran dan lumayan pegal terus-menerus berdiri, kuiyakan saja. Minah yang tampak sibuk dengan telepon genggamnya tidak sadar kalau aku dan Indra mulai berjalan ke teras.
"Apa bicara saja?" tanyaku.

"Sejujurnya aku kasihan lihat Lina tampak kerja keras untuk menghidupi anaknya sendirian. Kau tahu kan kebutuhan bayi juga untuk ia gunakan sehari-hari hanya dari gajinya sebagai penampih beras. Seharusnya kau sebagai suami, eh maaf, maksudku mantan suami Lina, tetap berkewajiban menafkahi anakmu. Karena sampai kau matipun di dalam tubuh alif mengalir darahmu."
"Maaf yah, Ndra. Tapi sepertinya pembahasanmu ini mengganggu sedikit privasiku. ," kataku sedikit ketus. Bukan apa-apa. Aku cemburu dengan perhatian temanku ke Lina.
"Mas."
"Mas," teriak Minah seraya melihat sekeliling dan mencariku bahkan sampai memasukkan tangan di kantong celananya. Apa salahku sehingga memiliki istri sekonyol itu. Ya kali aku muat masuk di sakunya
"Mas," dan lagi.
Kuteriaki, "Woy!" ia tersentak dan mencari sumber suara. Lalu tersenyum lebar sekali.
"Astaga kau disana rupanya. Kenapa tidak bilang-bilang?" ucapnya seraya melangkah menujuku.
Lalu berhenti ketika kuteriaki, "Iya. Tunggu disitu saja!" balasku lalu melanjutkan pembicaraan dengan Indra.

"Masih ada yang perlu dibahas? Kalau tidak ada, aku permisi dulu yah!" kataku.
"Jangan dulu. Masih ada yang mesti kutanyakan." ucapnya lagi.
"Apa? Kau suka sama dia Ndra? Kau mau membantuku bertanggung jawab menggantikan posisiku? Tidak apa-apa. Aku rela. " karena bingung hendak berkata apa. Kuucapkan hak yang tidak sepantasnya. Palingan kalau benar mereka menikah, orang yang paling sakit hati yah aku
"Aku hanya mengingatkanmu. Kau yang menikahi Lina anak yatim piatu lalu disia-siakan begitu saja. Dosa, Mas. Juga anakmu alif. Kau tidak takut nanti kalau sudah besar jadi membencimu? Kau tidak kasihan?" gumamnya lagi mencoba memberiku pengertian.
"Terus maumu sekarang apa?" kataku menatap Indra tajam. Nampak ia risih karenaku.

"Nafkahi mereka, " nadanya pelan. Sesekali memperbaiki kerah bajunya karena keki dan mungkin malu ikut-ikutan membahas yang bukan tugasnya.
"Ogah!"
"Nikahi saja Lina terus kamu yang nafkahi. Tapi jangan menyesal yah. Lina itu pemalas dan suka marah-marah. Dia juga punya kebiasaan buruk saat tidur."
"Huss. Tidak baik bicara begitu. Kalau kau tidak suka lagi, jangan bicara kejelekan mantan istrimu. Lagipula belum tentu yang kau katakan benar adanya. Kasihan Lina, Man. Kadang sering menyendiri dan tampak murung."
Sebenarnya kasihan, tapi gengsi mengakuim dia sendiri yang meninggalkan rumah. "Sudah aku pulang dulu," ucapku berlalu.
Tak menghiraukan panggilan Indra, "Man!"
"MAAAAN!"
Lalu giliranku menarik Minah pulang.
"Ayo pulang!"
"Tunggu mas. Nanggung," tangannya sibuk mengetik.
"Mau update status lagi?" tanyaku. Ia mengangguk sambil mulut komat kamit membaca tulisan sendiri.
Kuintip sekilas, dia memposting [@lhAmDulill@ah sud@h sel3s@i men3m@ni su@miku t3rcint@]
Spontan kujitak kepalanya.
"ADUH! sakit, Mas," ucapnya.

------


(Menurutku) ISTRIKU PELIT.
Part 19
#istripelit

Segala upaya sudah kulakukan bersama mbak Marni, mulai dari pasang iklan di facebook, marketplace, koran, dan masih banyak lagi. Setelah cek kondisi rumah, mentok delapan puluh juta. Yah, seperti yang Minah bilang. Jago juga dia. Lalu kami mengetes minat pasar ketika rumah itu diganti foto tempat tinggal Ibu dan Ayah. Harganya lebih mahal, tapi lagi-lagi tidak sampai seratus dua puluh juta.
"Gimana, Man?" tanyaku ibuku di penghujung senja. Aku yang penat seharian membantu Minah di toko mesti dihadapkan lagi dengan penjualan rumah.

"Sudah, Bu. Tapi harganya cuma delapan puluh juta. Tidak ada yang lebih. Aku juga sudah mencoba memasarkan rumah ini, tapi juga tidak ada yang mau kalau seratus dua puluh juta hanya seratus juta mentok, Bu. Lagian daerah ini juga rawan banjir jadi orang-orang tidak mau membayar terlalu mahal." jawabku lesu.
Aku kasihan dengan ayah, kalau kami tidak bisa membayar ganti rugi, ia akan semakin lama mendekam dibalik jeruji.
"Lalu bagaimana, Man? Kita tidak punya aset lain lagi. Satu-satunya tanah yang tersisa, raib diambil si Minah sontoloyo. Sialnya nasib kita anak-anak," ibu dengan suara tangisnya membuat kami terenyuh.
"Mbak Marni apa ada solusi?" tanyaku. Ia menggeleng.
"Mbak ada tabungan? Barang dua sampai tiga puluh juta?" timpalku.
"Mau dapat dari mana, Man? Kau tahu sendirikan gaji mas Ardy cuma enam juta. Tidak cukup untuk kutabung. Kalau ada bonus yang dia dapat, sepertinya sering ia umpetin biar tidak ketahuan. Kau tahu kan orang tuanya selalu merepotkan. Itu yang bikin aku malas di rumah. Biar saja dia urus diri sendiri," ehh, mbak Marni malah curhat.

"Terus solusi satu-satunya berarti menjual dua rumah? Begitu?" mendengarku, tangis ibu semakin menggelegar. Telinga rasanya ingin pecah. Meraung-raung seperti apa yah. Astaga.
"Mbak ada ide, bagaimana kalau rumahmu yang dulu dijual ke orang lain, terus rumah ini dijual ke Minah? Kau setuju? Kan disini lebih bagus. Dan kalau cuma pindah ke tangan Minah, itu persoalan kecil bagi kita untuk mengelabuhinya lagi." sambung Mbak Marni.
"Idenya brilian juga mbakku. Tapi, memang bisa? Rasanya akan sulit. Mengingat Minah amat sangat perhitungan. Sekarang saja ia masih sibuk di toko. Berselisih paham dengan pembeli hanya karena pecahan seribu rupiah," kataku pesimis. Mbak marni memutar-mutar bola matanya seraya berpikir. Kaki sebelah digantung, sebelahnya lagi diangkat ke atas kursi.

Sambil menyeka air matanya, ibu berkata, "Iya, begitu saja. Daripada ayahmu semakin menderita. Tapi nanti ibu masih bisa tinggal disini kan?"
"Bisalah, Bu. Kalau Minah tidak mau, biar kuhajar lagi dia." sahut mbak Marni.
"Kalau masalah uang Minah pelit, tapi ia masih punya rasa kemanusiaan. Tidak mungkin ia membantah. Asal jangan masalah materi," sahutku. Berdiri di ambang pintu dengan pandangan lurus ke depan.
Terbayang-bayang wajah Lina diingatan. Apa ini karma karena telah menyia-nyiakannya? Indra juga sempat bilang kalau dosa hukumnya berbuat seperti itu pada anak yatim.

"Arggghhhhhhhh!" kukepal tangan lalu menghantam kepala sendiri.
Mereka serentak kaget melihatku, "Kau kenapa?" tanya ibu dan mbak Marni nyaris bersamaan.
"Minah pembawa sial! Aku menyesal menikahinya. Aku rindu Lina. Aku mau Lina kembali padaku. Aku tidak mau kalau ia jatuh kepelukan orang lain."
"Linaaaaaaaaaaaaaa!" kujatuhkan tubuh ke lantai. Berteriak memanggil-manggil Lina.
"Man, kalau kau tidak berhenti begitu, awas yah. Satu, dua...." dengan mata sembab, ibu mengancamku seperti biasa. Menghitung satu dan dua. Belum sampai ke angka tiga, secara cepat aku kembali ke posisi semula.

Mbak Marni mendekatiku dengan wajah jengkel, "aku juga menyesal karena kau dan Minah menikah. Tapi, mbak juga tidak setuju kalau kau rapuh begitu. Apalagi cuma karena rindu Lina. Lembek sekali kau, Man. Lagipula kalian bercerai kan karena Lina kurang ajar ke mbakmu ini. Tugasmu sekarang, jemput Minah di toko, berpura-puralah mencintainya, buat dia rela melakukan apa saja demi bersamamu. Setelah itu ,keruk hartanya lalu tinggalkan Minah."
Ucapan satu-satunya saudara perempuanku ini, keren kedengaran. Tapi, aku tidak yakin.
"Kalau begitu, aku pamit dulu yah mbak, Bu. Doakan Minah sakit-sakitan biar tidak rese lagi,"
Mbak Marni ketawa sepuas-puasnya dan bilang, "nah, itu baru adekku yang ganteng. Maman surahman,"

Kugaruk kepala lalu menaiki mobil yang terparkir di pinggir jalan. Yah begitulah, walaupun lumayan besar, rumah ibuku tidak ada halamannya. Jadi amat rentan terdengar tetangga setiap ucapan kami di teras. Sehingga beberapa mata tertuju pada kami ketika ia menangis dan aku berteriak memanggil lina.
"Belum move on, Man?" ledek tetangga sebelah saat aku ingin pulang.
"Maaf seribu maaf. Tapi itu bukan urusanmu," kubanting pintu mobil lalu menyalakan mesin. Ada untungnya juga motorku belum kubawa ke bengkel.
Sepanjang jalan menuju toko grosir Minah, aku bernyanyi dengan mengubah lirik lagu Inul daratista (buaya buntung) dan bejoget-joget untuk menghilangkan setres.
[Dasar kau minaahh buntung tung, menikah kau itung itung tung.
dasar kau Minah buntung, mencari untung
Kamu datang cuma bawa cinta ta„ kamu datang cuma bawa sayang yang
apa aku harus makan cinta, dasar, minaaahh buaya, buayaaaa buntung. Buntung dong]
Kunyanyikan terus-menerus sampai sepuluh kali mungkin sehingga sampai ke Minah lagi

"Minah sayang. Ayo kita pulang!" ucapku berdiri di depan meja kasir. Toko yang masih ramai pengunjung.
"Kan tokonya tutup jam sepuluh malam, Mas. Gimana sih," ucapnya merapikan uang kecil.
"Aku rindu, dek. Cuaca lagi mendung. Aku rindu berduaan denganmu di kamar." ia seketika mengangkat kepala lalu tersenyum sok manis di hadapanku. Dan, jlebb. Jantung rasanya ditikam belati melihat gaya Minah. Sudah magrib tapi bedaknya masih sangat tebal 5cm barangkali. Rambut bondingnya dibelah dua dengan jepitan kiri kanan masing-masing tiga. Lipstik merah yang menempel di gigi.
"Jijik aku, dek." bisikku.
"Apa kau bilang, Mas?"
"Kau cantik hari ini!" ia berdiri lalu meraih tanganku dan menciumnya.
"Ehh banyak orang," kataku. Ia tersipu malu.
Dari arah gudang, Niar datang.
"Mau pulang, mbak? Tanyanya.
Dia sepupu Minah. Ibarat pisang, lagi ranum-ranumnya. Masih umur dua puluh dua. Dari sekian banyak keluarganya, hanya Niar yang kulitnya putih bersih. Rambutnya sebahu lurus tanpa rebonding. Giginya ginsul juga berlesung pipi. Bodynya bahenol. Uhh, cantik sekali.
"Gak papa kalau mbak pulang duluan?" tanya Minah. Ia lalu keluar memelukku dan bilang, "soalnya suamiku tercinta datang menjemputku. Katanya rindu"
Ia tersenyum. Suaranya lembut dan santun menjawab, ia, Mbak. Gak papa. Namanya juga pengantin baru." aduh senyumannya manis sekali. Terbesit niat jahat ingin menggodanya nanti kalau ada waktu.

----------

(Menurutku) Istriku pelit.
Part 20.
#istripelit
 .
Setelah menjalankan kewajiban sebagai suami yang baik. Minah memeluk erat tubuhku. Rambutnya dibiarkan terurai.
"Mas, terima kasih," ucapnya. Merebahkan tubuhnya ke dadaku, membuat hidung semakin tersengat bau parfum. Entah harus berapa kali kuberitahu kalau aku betul-betul tidak suka.
"Untuk?" tanyaku.
"Karena kau menikahiku," ia melihatku dengan penuh rasa haru.
Kubalas pelukannya agar bisa mengajaknya bertukar pikiran, "Aku merasa lelaki yang sangat beruntung, dek. Di dunia ini, tidak satupun orang yang bisa sebahagia ini memiliki istri yang cantik luar dalam, baik perangainya, keren gayanya, harum semerbak bak bunga raflesia."
Ia bangkit dan merajuk. "Raflesia? Itukan bunga bangkai," kupikir Minah tidak tahu.
"Hahaha. Bukan, bukan, maksudku bunga mawar merah."

Minah lalu tersenyum. Dan yang membuatku tak habis pikir, ia berdiri dan bernyanyi kemudian berjoget-joget. Lagi-lagi aku geli. Bukannya tampak merangsang, justru merusak pemandangan.
[Bunga mawar merah, satu tanda cinta. Yang berarti bahwa Maman surahman cinta padakuu]
setelah itu, di lirik [oo bahagiaaaa, dua hati telah bersatu] ia membuang tubuhnya ke atas kasur lalu menyenggol-nyenggol lenganku dengan lengannya kemudian bersandar lagi. Karena jengkel aku turun dari ranjang padahal Minah sedang asik bertumpu di tubuhku. Akhirnya ia jatuh tersungkur di bawah ranjang.
Sebelum kutolong, aku ketawa dulu.
"Hahahaha. Maaf, maaf dek. Aku kebelet pipis. Sampai lupa permisi,"
Ia meringis kesakitan. Untung Minah tidak kenapa-kenapa.
"Tidak ada yang luka kan?" tanyaku sok khawatir.

"Sayang. Aku takut sesuatu terjadi padamu. Ini salahku."
Dengan romantis namun tetap berekspresi masam, Minah membelai lembut wajahku. Sayang, tangannya kasar sekali. Seperti parutan kelapa. Dulu dia di Malaysia ngapain aja sih?
"Terima kasih, sayang atas cinta kasihmu" ingin rasanya tertawa sekencang-kencangnya. Budak cinta betul.
"Aku ke WC dulu, yah!"
Dengan gelajat sok manja, ia berkata "Mas, gendonggggg!" gendong, gendong. Kutampol kau! Tapi aku tidak berani mengatakannya.
Aku berlama-lama di dalam kamar mandi. Ternyata menikah tanpa cinta itu menyiksa.
"Mas, lama bener. Ngapain di dalam?" teriak Minah.
"Tunggu, cintaku," kataku sambil mual-mual.

Ahh, bodoh kau Man. Ngapain sih nikahi Minah. Bukannya untung, malah menderita. Harus terpaksa melayani kebutuhan istri, tapi tidak dapat apa-apa.
Sekitar tiga puluh menit kuhabiskan di dalam toilet. Setelah keluar, ternyata Minah dengan setia menunggu di lantai.
"Ngapain disitu? Mau mengemis?" tanyaku bercanda.
"Hahaha. Ada-ada aja. Aku khawatir karena kau lama sekali di dalam sayang."
Dengan wajah memelas kukatakan, "sebenarnya aku sedang punya beban pikiran."
Minah mendekatiku perlahan, "ada apa? Tolong cerita, Mas. Aku mau kita saling terbuka satu sama lain,"
Kutatap matanya lekat-lekat, "kau mencintaiku bukan?"
"Tentu saja," jawabnya.
"Tapi aku merasakan tidak Minah. Selama kita bersama kau sangat perhitungan untuk semua hal."
Dengan telunjuknya, ia menutup mulutku, " sstt. Jangan bilang begitu. Semua ini untuk masa depan anak kita nanti." merinding rasanya bulu kudukku. Sungguh aku tidak pernah bermimpi sedekat ini dengan Minah.
"Kau serius?" ia mengangguk. Matanya dikedipkan perlahan. Entah apa maksdunya. Mungkinkah ia sedang terinspirasi dengan drama romantis.
"Kalau begitu, belilah rumah ibuku."

Seketika matanya melotot. Baru juga satu kalimat, ia sudah sadar.
"Loh, bukannya yang mau dijual rumah lamamu?" tanya Minah.
"Dua-duanya harus dijual. Karena kalau salah satunya saja, tidak akan cukup seratus dua puluh juta. Dan pasti kau tidak mau menambah begitu saja." ucapku memegang kedua lengannya.
"Berapa?" jawabnya singkat.
"Kau bisa berapa?"
"Seratus lima juta."
"Tidak lebih?" ia menggeleng.
"Baiklah. Berarti kau yang beli rumah ibu. Orang lain yang beli rumah lamaku. Satu lagi, bolehkan setelah fix nanti, ibu tinggal bersama kita?"
"Tentu boleh, Mas. Tapi usahakan uang belanja harus disetor secara adil yah. Misal kebutuhan sehari-hari seratus ribu. Berarti aku dan kamu kurang lebih tujuh puluh ribu. Sisanya ibu harus menyumbang tiga puluh ribu."

"Astaga Minah. Kau serius?" tanyaku.
"Iya, sayang. Adil bukan? Kita berdua harus dihitung perkepala dan tentu uang tujuh puluh ribu mesti aku yang bayar karena kau kan tidak bekerja. Masa ibumu juga harus ditanggung." Minah betul-betul sinting.
"Ibu mau dapat uang dari mana?" tanyaku.
"Dari mbak Marni." jawabnya mengindar membelakangikum
"Aku juga anak ibu. Tapi, masa cuma mbak Marni yang dibebankan," kataku mengikuti langkahnya.
"Tapi kau kan tidak punya kerjaan. Aku yang tanggung," ucapnya. Pelan tapi menyakitkan.
"Oo begitu, aku tahu diri. Aku cuma pengangguran. Terima kasih," sindirku.
Terlihat Minah begitu panik. "Maaf, maaf sayang. Kalau begitu. Aku juga yag tanggung lima belas ribu untuk ibu. Tapi sisanya harus mbak marni. Iyakan?"
"Terserah!" kataku. Kuambil selimut lalu menutup sekujur tubuh. Ia terus-menerus menempel seperti cicak, tapi selalu kuhindari. Awas saja. Kalau tidak bisa mengambil secara jujur, biar kuambil di meja kasir.

Malam semakin larut. Minah yang sudah lelah membujuk terdengar mulai mendengkur. Berisik sekali membuat tidurku terganggu. Aku tersentak mendengar langkah kaki di dalam kamar. Kuintip perlahan
"Sii sii siiapa kamu?" ia mengenakan pakaian hitam-hitam dengan penutup wajah. Ia sementara membongkar lemari Minah. Namun ketika melihatku, ia lalu berlari kearah jendela dan melompat.
"Minah, Minah ma ma" kugoyang-goyangkan tubuhnya. Ia hanya berdeham.
"Maaa ma malinggg..Rumahmu kemalingan," spontan ia terbangun dan bilang tidak karuan, "mana malingnya. Mana."
"Astaga lemariku!"

"Di sebelah sana!" ucapku seraya menunjuk jendela. Tak berpikir panjang. Minah melompat dari atas jendela untuk mengejar pencurinya. Aku yang antara takut dan penasaran mencoba lewat ke pintu depan karena tidak berani melompat. Dan ternyata maling itu melintas di hadapanku.
Tak ada yang bisa kuperbuat. Aku takut dilukai. Tapi, Minah dengan gagahnya terus-menerus mengejar orang itu. Namun sayang, ketika usahanya gagal karena kakinya tersandung pot bunga. Minah lagi-lagi jatuh tersungkur.
"Pencuriiiiiiiiiiiii!" teriaknya menggelegar. Lalu diikuti tangis kencang.
"Sabar, Sayang. Ikhlaskan saja. Bukan rezekimu lagi," tangan mengelus lembut rambutnya. Sedang bibir mencium puncuk kepala Minah.
"Makanya kau tidak boleh terlalu pelit, ini buktinya. Rumahmu kemasukan maling." Tangisnya semakin menjadi.

Ia minta digendong masuk ke dalam rumah. Bu Maemunah yang juga ikut terbangun mendengar keributan keluar dari kamar.
"Ada apa Minah?" tanyanya. Dengan daster merah bella dan rambut acak-acakan ia begitu khawatir. Kemudian kami masuk ke kamar bersamaan. Minah mengecek keseluruhan barangnya. Ternyata yang hilang hanya satu kalung tapi beratnya mencapai lima belas gram. Kalau diuangkan berapa yah? Ahh biar saja. Siapa suruh pelit.
"Bu, kalungku!" mereka saling berpelukan seperti teletubis. Aku hanya bisa tertawa dalam hati. "Hahahahaha tahu rasa. Pergi yang jauh maling. Jangan sampai ketahuan. Memang Minah pantas dicuri barang-barangnya. Untung ia hanya mengambil satu. Kalau tidak, bisa rugi aku jadi suaminya kalau tidak ada lagi harta Minah"

--------

Kalau yang ini dibukukan, ada yang mau gak? Lumayan buat hiburan receh ini. Maman dan Minah akan selalu menghibur sampai kapanpun. Inbox yah!