Part 21 by Febriani Kharisma
#istrikupelit
Minahku sayang. Hari ini ia tidak datang ke toko karena frustasi dibuatku. Aku tak sengaja menghilangkan sidik jari pencurinya. Tapi, tidak jadi masalah. Apapun yang kuperbuat, Minah akan selalu berbesar hati mencintaiku. Maman Surahman, lelaki idaman para perempuan.
"Sayang, sudah nangisnya, kita harus mengikhlaskan jika suatu waktu apa yang ada dalam diri kita direnggut kembali. Bukankah ketika meninggal yang dibawa hanya amal kebaikan? Aku minta maaf karenaku sidik jariinya akan sulit dilacak polisi" ucapku menyapu kepalanya.
Dengan sesenggukan ia menjawab, "iya, sayang aku maafkan. Tapi bolehkah hari ini kau saja yang ke toko temani Niar, katakan padanya aku sedang berduka. Ingat jangan beri potongan ke siapapun, catat semua pemasukan walaupun hanya sebungkus permen. Jangan sampai ada yang terlupakan. Agar jelas berapa omset hari ini. Semoga besok keadaanku membaik dan bisa kembali ke toko." sifat pelit Minah sepertinya sudah mendarah daging. Bahkan disituasi sulit begini, ia masih memikirkan itu.
Tapi, nama Niar tak lupa ia sebut. Yes, itu artinya, aku bisa berdua-duaan dengannya.
"Sayang, tapi aku tidak yakin bisa betah lama-lama di toko tanpa kamu. Kalau rindu, gimana?" ucapku. Dan tak disangka, Minah menyapu air matanya, "jadi aku ikut, Mas?" mati aku. Padahal hanya bercanda.
"Tapi kalau memang kamu masih belum siap keluar rumah, tidak apa-apa. Sudah jadi tugasku membantu istriku tercinta." tangan ikut-ikutan menyeka bulir-bulir yang membasahi pipi putih Minah. Namun, terasa begitu lengket. Krim pemutih yang dipakai semalam, seperti lendir kemudian menyatu dengan air. Ahh, lagi-lagi menjijikkan. Untuk membersihkan sisa ditanganku, kuelus kembali rambut bonding istriku. Biar saja lengket di sana.
Hanya saja bukan Minah namanya kalau tidak membuatku pusing tujuh tanjakan delapan turunan. Dia bilang, "Mas, cium keningku," arrgghhhh. Jangankan bibir, tanganku saja tidak sanggup.
Kutarik nafas dalam-dalam dan memejamkan mata. Setidaknya dengan cara begitu, aku tidak terbebani.
"Thanks for everything, Mas. I love you to the moon and back."katanya pelan.
"wah, Minah. Kau tahu artinya?" tanyaku yang memang tidak tahu. Dan Minah belagak sok english-english ala Bule.
"Mas, mas. Jelaslah aku tahu. Di Malaysia anak majikanku jago bahasa Inggris." baiklah kali ini aku mengaku kalah.
"Aku berangkat dulu," kataku seraya bercermin untuk tampik keren di depan Niar.
"Hati-hati, sayang!" ia bangkit dan memelukku dari arah belakang. Ingin kutolak, tapi tidak bisa.
***
Sebelum ke toko, aku ke rumah ibu dulu. Dia ada di teras duduk sendiri.
"Ehh semalam juga rumah Minah kecurian. Kalungnya yang lima belas gram digondol maling, hahaha!" kataku ketika turun dari mobil.
Wajah yang tadi mendung, seketika berubah bahagia "Wah, kau serius, Man? Ini berita bagus. Hahaha. Tahu rasa dia. Makanya jangan pelit jadi orang."
"Bu, kenapa duduk disitu? Ini masih pagi. Tumben," kataku.
"Ibu bete di dalam, Man. Kita tinggal sama-sama lagi yah?" bujuk ibuku.
"Tenang saja, Bu. Minah sudah sepakat membeli rumah ini. Juga yang satunya biarkan diambil orang lain. Kan ada sisanya. Ibu bisa tabung itu, dan tentu rumah ini akan tetap jadi milik ibu. Karena nanti kita akan tinggal bertiga. Trus, berita baiknya, ibu bisa memanfaatkan tenaga Minah. Terserah mau disuruh ngepel, menyapu, cuci piring, cuci baju, memasak, ahh apapun itu pasti dia sanggup. Asal bukan uangnya yang diambil, Bu. Hahaha."
"Kalau begitu secepatnya yah. Ibu bakalan ngerjain Minah habis-habisan,"
"Tapi, Bu," kataku.
"Tapi apa, Man?"
"Katanya, setiap ingin belanja keperluan rumah, kita bertiga harus patungan. Trus kubilang, ibu tidak punya penghasilan. Eh, Minah bilang minta ke mbak Marni katanya, Bu. Tapi tenang, itu soal gampang, biar itu jadi urusan anak ibu yang tampan ini. Biar kuambil saja uang di tokonya diam-diam. Doakan aku gak ketahuan, Bu."
"Minah bilang begitu? Sialan perempuan itu. Wajar saja rumahnya kemalingan. Berarti masih mending Lina daripada Minah. Ahh ibu rasanya menyesal, Man. Dan dengar-dengan Indra sekarang mendekati mantan istrimu yah? Kalau boleh ibu minta, ganggu mereka Man. Ibu rasanya kurang ikhlas kalau Lina diambil orang." jantungku berdetak tak karuan. Lina, cintaku sebenarnya besar padanya. Tapi, demi saudaraku satu-satunya terpaksa ia kulepas. Padahal ibu jarang sekali bermasalah dengannya. Sedangkan Minah? Baru beberapa waktu sudah bikin ulah.
"Tapi aku gengsi bu kalau harus mendekati Lina. Apalagi selama bercerai aku selalu membuatnya jengkel. Padahal itu untuk menutupi rasa cintaku padanya. Aku juga takut kalau mbak marni marah karena ini." kuintip jam dinding di ruang tamu, aku sudah menghabiskan waktu sepuluh menit disini.
"Aku ke toko dulu yah, Bu?" timpalku seraya berdiri menuju mobil
"Baiklah kalau begitu. Ehh, ambilin mie instan satu dos di toko mu yah, Man." aku terbelalak mendengarnya.
"Ibu serius? Tapi kalau ketahuan Minah?" .
"Katanya kau bilang itu soal gampang. Gimana sih?" jawabnya ketus. Terpaksa kuiyakan.
***
Pucuk dicinta ulam tiba. Si Niar tercinta sudah ada di depan toko. Ia menunggu untuk dibawakan kunci untuknya.
"Mbak Minah mana, Mas?" tanyanya ketika aku sedang berusaha memutar-mutar kunci agar bisa masuk ke lubang gembok besar silver.
"Belum bisa kesini. Katanya ia masih shock soal semalam," ucapku.
"Karena maling itu, Mas?" kutatap lekat-lekat mata Niar. Ia tersipu malu.
"Iya," seraya kukedipkan mata. Ia mendorongku pelan.
"Ihh, genit amat, Mas," Niar cengar-cengir olehku. Gampang juga ternyata dirayu.
"Mas, gak masuk tuh kuncinya." katanya.
"Astaga, pantas dari tadi tidak bisa terbuka. Mas Maman gagak fokus karena dek Niar. Abis kamu cantik sekali." bisikku, lalu bilang lagi, "beda kakak sepupumu," ia menahan rambutnya agar tidak menutupi wajah, lalu di gantung di belakang telinga.
Setelah pintu toko berhasil di buka, Niar bergegas merapikan tatanan barang-barang yang terpajang.
Kutarik tangannya ke kursi pojok, "tidak usah, dek Niar. Hari ini kan tidak ada Minah. Kau bebas untuk bersantai."
"Serius, Mas? Syukurlah. Mbak Minah memang baik, tapi itulah sifat pelit dan terlalu terperinci membuatku jengkel." ucapnya antusias.
Niar memakai jeans di atas mata kaki dengan sepatu kets. Tidak lupa kaos putih bersih juga dikenakan. Keren sekali.
"Memang, aku juga muak dengan Minah. Makanya hari ini tidak perlu repot. Terus kalau mau ambil sesuatu, ambil saja di gudang."
"Apa tidak ketahuan, Mas?"
"Semoga tidak sih, apalagi kalau diambil cuma sekali dua kali. Tidak mungkin juga ia bisa menghitung barang yang menumpuk-numpuk begitu."
"Terima kasih yah, Mas," ucap Niar lalu memegang punggung tanganku. Halus sekali. Rasanya ingin kubelai pipi mulusnya.
-----
(Menurutku) ISTRIKU PELIT
Part 22
#istripelit
Kuhilangkan gengsi untuk menyambangi kediaman Lina. Setelah pukul tujuh malam, kudatangi ia di sebuah kontrakan kecil yang tak jauh dari rumah.
"Alif, alif!" teriakku di depan pintu. Seorang tetangga yang mendengar lebih dulu keluar ingin mencampuri yang bukan urusannya.
"Oo kamu, Man. Tumben cari anakmu. Kenapa? Si Minah gak bisa ngasih kamu anak?" katanya sinis. Rumah disini berdempet-dempetan sehingga rentan memang terdengar tetangga.
Lalu kujawab, "salahkah bu Darma kalau rindu anak sendiri?" sementara Lina tak kunjung membukakan pintu.
"Gak salah sih, tapi tumben. Eh, awas ketahuan istrimu, kasian si Lina kalau harus berurusan dengan kalian lagi." matanya dipicing-picingkan. Enak kali dicongkel.
"Aku cuma mau ketemu Alif. Tidak lebih,"
"Seharusnya memang begitu, karena sepertinya tidak lama lagi Lina bakalan dapat suami baru. Lah dia masih muda begitu, baik pula. Gayanya juga sederhana gak kayak itutuh," diikuti gelak tawa, ia terlihat puas menggodaku
Percakapan berakhir ketika suara pintu terdengar,
"Lina?" kataku ketika ia keluar dengan terburu seraya merapikan kerudung yang agak miring.
"Ada apa datang kesini? Kau tahu dari mana?" tanyanya ketus.
"Awas Lina, jangan sampai terbujuk rayunya," sambung Bu Darma yang hanya terhalang tembok sepinggang. Kemudian menghentakkan kaki lalh masuk ke dalam rumahnya.
"Alif mana?" kataku pelan. Tidak ada ekspresi ingin meledek ataukah takut dikira masih cinta. Itu lebih baik daripada kehilangan Lina (lagi)
"Sudah tidur," Lina mencoba mengalihkan pandangan.
"Boleh aku masuk?" tanyaku lagi.
"Tidak boleh," singkatnya. Setengah membuka pintu kembali.
"Kenapa kamu berubah begitu? Aku ini ayahnya Alif. Maaf kalau akubada salah" tangan berusaha menahan daun pintu yang nyaris tertutup.
"Ayah katamu? Ayah apa? Laki-laki tidak bertanggung jawab sepertimu, tidak pantas disebut Ayah. Dan tidak usah repot-repot meminta maaf. Tidak ada gunanya lagi"
"Kau mulai sombong dan angkuh yah sekarang? Bagus, mentang-mentang Indra sekarang berusaha kau dekati bukan?" ucapku.
"Bukan urusanmu. Lagipula aku bukan kau yang begitu murahnya mengumbar cinta. Belum sebulan pisah, sudah menikah lagi. Pulang sana, nanti istrimu mengira aku mengganggu suaminya,"
"Kau cemburu?" tanyaku.
"Tidak sama sekali, Mas. Aku malah bersyukur. Setidaknya bukan hanya aku seorang yang merasakan menderitanya menikah denganmu. Percayalah, cepat atau lambat Minah akan sadar bahwa kau dan keluargamu tidak butuh seorang menantu."
Secara mendadak Indra dari arah yang sama denganku datang menenteng kantongan yang aku tidak tahu apa isinya.
"Maman, ngapain kamu kesini?"
Karena merasa malu sudah menjelek-jelekkan Lina tempo hari namun ternyata aku terciduk mendatangi rumahnya.
"Tidak tahu, Mas. Tolong usir temanmu ini. Aku sedang malas diganggu,"
"Jadi kamu betulan suka sama si Lina, Ndra? Dia itu janda loh. Bekasku. Kau tidak malu?"
"Minah istrimu sebelumnya juga janda bukan? Lalu apa urusanmu sekarang?" jawabnya.
Aku tak berkutik dibuatnya. Lalu tanpa pamit kutinggalkan mereka berdua. Terdengar suara Lina samar-sama, "maaf, Mas Indra aku sedang tidak mau diganggu," setidaknya aku sedikit lega. Lina belum sepenuhnya bisa menerima Indra. Tapi sampai kapan?
***
Hari yang kunanti tiba. Saat Minah kembali pulih, kuminta agar kami segera pindah ke rumah ibu.
"Mas, tapi kenapa aku jadi ragu harus tinggal serumah mertua? Perasaan tempo hari kita sudah sepakat untuk hidup mandiri."
"Mau gimana lagi, dek. Ibu tidak mungkin tinggal di jalan," kataku seraya merapikan baju untuk kubawa ke rumah ibu.
"Baiklah, Mas. Tapi soal uang yang lima belas ribu bisakan?" tanyanya lagi
Ingin rasanya kusentil bibirnya itu.
"Kau ini bahas uang terus. Lama-lama begini, aku tidak akan betah tinggal sama kamu," kataku mengancam. Minah kembali khawatir.
"Maaf, Mas. Tidak apa-apa tinggal gratis, tapi pastikan mbak Marni selalu membawa makanan untuk ibu."
"Minah! Kurang ajar sekali kau ke ibuku. Masa cuma karena makanan, kau perhitungan begitu." tangan kukepal bersiap ingin menghantamnya.
Tapi matanya seketika memerah, tangisnya sedikit lagi pecah. Kalau bu Maemunah tahu, bisa dikira KDRT terus aku dilapor lagi. Tidak, tidak.
Segera kutenangkan Minah, kupeluk ia secara terpaksa.
"Maaf, sayang. Aku memang suka belajar drama waktu sekolah. Ini mas mu lagi bercanda. Jangan nangis yah!" tak membuang waktu, Minah terlihat santai kembali.
Setiba di rumah ibu, ia langsung masuk ke kamar utama.
"Loh, ngapain kamu disitu?" gertak ibuku.
"Ini rumahku, ibu mertua sayang. Terserah ingin tidur di kamar manapun. Dan kulihat-lihat, dari semua ruangan, disini yang paling luas. Maaf yah, Bu. Biar kubantu membereskan barang-barangmu. Terserah ibu mau pilih kamar yang mana. Bebas, Bu." astaga Minah lancang sekali.
"Mann!" teriak ibuku. Padahal aku sedang berdiri di sampingnya.
"Minah, kasihan Ibu,"
"Kasihan kenapa, Mas sayang? Lagian dia hanya tidur sendiri. Dan kamar ini terlalu luas untuknya.
"Sudah yah, aku mau istirahat dulu. Setelah ini, aku harus ke toko lagi." ucap Minah seraya menarik koper miliknya masuk ke kamar Ibu lalu menutup pintu padahal kami berdua ada di depannya.
Kugedor berkali-kali, tapi tidak direspon.
Ibu tampak sakit hati sekali lalu menelpon mbak Marni.
"Nak, ke rumah sekarang, penting!" hanya satu kalimat yang dilontarkan ibu lalu menutup telepon setelahnya.
Tak butuh waktu yang banyak. Kurang dari lima menit mbak Mirna datang.
Ia berlari terburu-buru masuk ke dalam rumah.
"Kenapa? Ada apa, Bu?" tanyanya panik. Ibu yang lagi-lagi menangis tidak bisa menjelaskan panjang lebar. Hanya menunjuk pintu kamarnya yang bersebelahan dengan ruang televisi.
"Apa, Bu? Kenapa di kamar ibu?" desak mbak Marni lagi. Ia lalu melemparkan pertanyaan padaku, "Man, kenapa ibu?"
"Minah, Mbak."
"Minah? Ada apa lagi dengan perempuan hitam putih itu?" matanya membelalak dan berkacak pinggang setelah kuberitahu, "dia ada di dalam. Katanya mulai hari ini akan menempati kamar ibu."
Mbak Marni menyingsingkan lengan baju, rambutnya diikat terlebih dulu dengan karet di pergelangannya.
"Minah, minah, keluar kau!" kaki mbak Marni begitu kuat menendang pintu.
"Siapa?" teriak Minah dari dalam.
"Keluar kau kalau berani!" balas mbak Marni.
"Tunggu, aku baring dulu!" Minah betul-betul perempuan tersantai sebumi. Kecuali masalah uang.
"Kurang ajar kau yah, kudobrak pintunya!" ancam kakakku. Tak lama Minah keluar, "kenapa kakak Iparku sayang? Sudah bisa bayar utang?"
*puihh* "kau takut kan jadi keluar menemuiku?"
Tetap stay cool Minah berkata, "takut apa, Mbak? Aku cuma tidak mau kalau pintu kamarku rusak. Siapa yang mau ganti? Mbak Marni? Yah, uang dua juta saja belum dibayar. Bagaimana mau ganti kerusakan ini."
Napas mbakku tersengal-sengal menahan amarah, ditariknya rambut Minah sehingga rontok sebagian. Tangan putih mbak Marni terisi helaian rambut bercabang Minah. "Perempuan gila, menantu durhaka!"
Badan Minah sampai membungkuk mengikuti gerak tangan mbak Marni yang tak tentu arah saat menjambak.
"Mbak, kalau masih belum berhenti. Aku bisa lapor polisi loh?" tak lama, mbak Marni menghentikan aksinya lalu Minah merapikan kembali rambutnya dan kelihatan tak merasa sakit sama sekali.
"Aku ke dalam dulu Mbak, Mas, Bu. Masih ngantuk. Permisi!"
-----------
Part 22
#istripelit
Kuhilangkan gengsi untuk menyambangi kediaman Lina. Setelah pukul tujuh malam, kudatangi ia di sebuah kontrakan kecil yang tak jauh dari rumah.
"Alif, alif!" teriakku di depan pintu. Seorang tetangga yang mendengar lebih dulu keluar ingin mencampuri yang bukan urusannya.
"Oo kamu, Man. Tumben cari anakmu. Kenapa? Si Minah gak bisa ngasih kamu anak?" katanya sinis. Rumah disini berdempet-dempetan sehingga rentan memang terdengar tetangga.
Lalu kujawab, "salahkah bu Darma kalau rindu anak sendiri?" sementara Lina tak kunjung membukakan pintu.
"Gak salah sih, tapi tumben. Eh, awas ketahuan istrimu, kasian si Lina kalau harus berurusan dengan kalian lagi." matanya dipicing-picingkan. Enak kali dicongkel.
"Aku cuma mau ketemu Alif. Tidak lebih,"
"Seharusnya memang begitu, karena sepertinya tidak lama lagi Lina bakalan dapat suami baru. Lah dia masih muda begitu, baik pula. Gayanya juga sederhana gak kayak itutuh," diikuti gelak tawa, ia terlihat puas menggodaku
Percakapan berakhir ketika suara pintu terdengar,
"Lina?" kataku ketika ia keluar dengan terburu seraya merapikan kerudung yang agak miring.
"Ada apa datang kesini? Kau tahu dari mana?" tanyanya ketus.
"Awas Lina, jangan sampai terbujuk rayunya," sambung Bu Darma yang hanya terhalang tembok sepinggang. Kemudian menghentakkan kaki lalh masuk ke dalam rumahnya.
"Alif mana?" kataku pelan. Tidak ada ekspresi ingin meledek ataukah takut dikira masih cinta. Itu lebih baik daripada kehilangan Lina (lagi)
"Sudah tidur," Lina mencoba mengalihkan pandangan.
"Boleh aku masuk?" tanyaku lagi.
"Tidak boleh," singkatnya. Setengah membuka pintu kembali.
"Kenapa kamu berubah begitu? Aku ini ayahnya Alif. Maaf kalau akubada salah" tangan berusaha menahan daun pintu yang nyaris tertutup.
"Ayah katamu? Ayah apa? Laki-laki tidak bertanggung jawab sepertimu, tidak pantas disebut Ayah. Dan tidak usah repot-repot meminta maaf. Tidak ada gunanya lagi"
"Kau mulai sombong dan angkuh yah sekarang? Bagus, mentang-mentang Indra sekarang berusaha kau dekati bukan?" ucapku.
"Bukan urusanmu. Lagipula aku bukan kau yang begitu murahnya mengumbar cinta. Belum sebulan pisah, sudah menikah lagi. Pulang sana, nanti istrimu mengira aku mengganggu suaminya,"
"Kau cemburu?" tanyaku.
"Tidak sama sekali, Mas. Aku malah bersyukur. Setidaknya bukan hanya aku seorang yang merasakan menderitanya menikah denganmu. Percayalah, cepat atau lambat Minah akan sadar bahwa kau dan keluargamu tidak butuh seorang menantu."
Secara mendadak Indra dari arah yang sama denganku datang menenteng kantongan yang aku tidak tahu apa isinya.
"Maman, ngapain kamu kesini?"
Karena merasa malu sudah menjelek-jelekkan Lina tempo hari namun ternyata aku terciduk mendatangi rumahnya.
"Tidak tahu, Mas. Tolong usir temanmu ini. Aku sedang malas diganggu,"
"Jadi kamu betulan suka sama si Lina, Ndra? Dia itu janda loh. Bekasku. Kau tidak malu?"
"Minah istrimu sebelumnya juga janda bukan? Lalu apa urusanmu sekarang?" jawabnya.
Aku tak berkutik dibuatnya. Lalu tanpa pamit kutinggalkan mereka berdua. Terdengar suara Lina samar-sama, "maaf, Mas Indra aku sedang tidak mau diganggu," setidaknya aku sedikit lega. Lina belum sepenuhnya bisa menerima Indra. Tapi sampai kapan?
***
Hari yang kunanti tiba. Saat Minah kembali pulih, kuminta agar kami segera pindah ke rumah ibu.
"Mas, tapi kenapa aku jadi ragu harus tinggal serumah mertua? Perasaan tempo hari kita sudah sepakat untuk hidup mandiri."
"Mau gimana lagi, dek. Ibu tidak mungkin tinggal di jalan," kataku seraya merapikan baju untuk kubawa ke rumah ibu.
"Baiklah, Mas. Tapi soal uang yang lima belas ribu bisakan?" tanyanya lagi
Ingin rasanya kusentil bibirnya itu.
"Kau ini bahas uang terus. Lama-lama begini, aku tidak akan betah tinggal sama kamu," kataku mengancam. Minah kembali khawatir.
"Maaf, Mas. Tidak apa-apa tinggal gratis, tapi pastikan mbak Marni selalu membawa makanan untuk ibu."
"Minah! Kurang ajar sekali kau ke ibuku. Masa cuma karena makanan, kau perhitungan begitu." tangan kukepal bersiap ingin menghantamnya.
Tapi matanya seketika memerah, tangisnya sedikit lagi pecah. Kalau bu Maemunah tahu, bisa dikira KDRT terus aku dilapor lagi. Tidak, tidak.
Segera kutenangkan Minah, kupeluk ia secara terpaksa.
"Maaf, sayang. Aku memang suka belajar drama waktu sekolah. Ini mas mu lagi bercanda. Jangan nangis yah!" tak membuang waktu, Minah terlihat santai kembali.
Setiba di rumah ibu, ia langsung masuk ke kamar utama.
"Loh, ngapain kamu disitu?" gertak ibuku.
"Ini rumahku, ibu mertua sayang. Terserah ingin tidur di kamar manapun. Dan kulihat-lihat, dari semua ruangan, disini yang paling luas. Maaf yah, Bu. Biar kubantu membereskan barang-barangmu. Terserah ibu mau pilih kamar yang mana. Bebas, Bu." astaga Minah lancang sekali.
"Mann!" teriak ibuku. Padahal aku sedang berdiri di sampingnya.
"Minah, kasihan Ibu,"
"Kasihan kenapa, Mas sayang? Lagian dia hanya tidur sendiri. Dan kamar ini terlalu luas untuknya.
"Sudah yah, aku mau istirahat dulu. Setelah ini, aku harus ke toko lagi." ucap Minah seraya menarik koper miliknya masuk ke kamar Ibu lalu menutup pintu padahal kami berdua ada di depannya.
Kugedor berkali-kali, tapi tidak direspon.
Ibu tampak sakit hati sekali lalu menelpon mbak Marni.
"Nak, ke rumah sekarang, penting!" hanya satu kalimat yang dilontarkan ibu lalu menutup telepon setelahnya.
Tak butuh waktu yang banyak. Kurang dari lima menit mbak Mirna datang.
Ia berlari terburu-buru masuk ke dalam rumah.
"Kenapa? Ada apa, Bu?" tanyanya panik. Ibu yang lagi-lagi menangis tidak bisa menjelaskan panjang lebar. Hanya menunjuk pintu kamarnya yang bersebelahan dengan ruang televisi.
"Apa, Bu? Kenapa di kamar ibu?" desak mbak Marni lagi. Ia lalu melemparkan pertanyaan padaku, "Man, kenapa ibu?"
"Minah, Mbak."
"Minah? Ada apa lagi dengan perempuan hitam putih itu?" matanya membelalak dan berkacak pinggang setelah kuberitahu, "dia ada di dalam. Katanya mulai hari ini akan menempati kamar ibu."
Mbak Marni menyingsingkan lengan baju, rambutnya diikat terlebih dulu dengan karet di pergelangannya.
"Minah, minah, keluar kau!" kaki mbak Marni begitu kuat menendang pintu.
"Siapa?" teriak Minah dari dalam.
"Keluar kau kalau berani!" balas mbak Marni.
"Tunggu, aku baring dulu!" Minah betul-betul perempuan tersantai sebumi. Kecuali masalah uang.
"Kurang ajar kau yah, kudobrak pintunya!" ancam kakakku. Tak lama Minah keluar, "kenapa kakak Iparku sayang? Sudah bisa bayar utang?"
*puihh* "kau takut kan jadi keluar menemuiku?"
Tetap stay cool Minah berkata, "takut apa, Mbak? Aku cuma tidak mau kalau pintu kamarku rusak. Siapa yang mau ganti? Mbak Marni? Yah, uang dua juta saja belum dibayar. Bagaimana mau ganti kerusakan ini."
Napas mbakku tersengal-sengal menahan amarah, ditariknya rambut Minah sehingga rontok sebagian. Tangan putih mbak Marni terisi helaian rambut bercabang Minah. "Perempuan gila, menantu durhaka!"
Badan Minah sampai membungkuk mengikuti gerak tangan mbak Marni yang tak tentu arah saat menjambak.
"Mbak, kalau masih belum berhenti. Aku bisa lapor polisi loh?" tak lama, mbak Marni menghentikan aksinya lalu Minah merapikan kembali rambutnya dan kelihatan tak merasa sakit sama sekali.
"Aku ke dalam dulu Mbak, Mas, Bu. Masih ngantuk. Permisi!"
-----------
(Menurutku) ISTRIKU PELIT.
Part 23
#istripelit
"Mas, ayo makan dulu terus buruan ke toko. Niar pasti sudah menunggu di sana," kata Minah setelah membuka pintu kamar. Ia menyusuri dapur untuk mencari bahan makanan yang tersisa.
"Aku pergi sendiri?" tanyaku bersemangat. Tadinya hanya berbaring di kursi di depan TV setelah ibu dan mbak Marni masuk di kamar tamu.
"Tidak, tidak. Kita pergi ke sana sama-sama. Tapi setelah kita makan, Mas. Boros kalau harus makan di luar lagi." lalu kembali kurebahkan tubuh ke kursi.
"Masssss. Mie instan ini beli di mana?" sekujur tubuh seketika berasa tak bertulang. Kenapa Minah menanyakan hal yang tidak penting begitu. Apa dia tahu?
Kupercepat langkah menuju dapur. Sebelum terjadi perdebatan sengit kembali dengan ketiga perempuan itu.
"Memangnya kenapa, Dek?" tanyaku.
"Gak, Mas. Cuma nanya saja. Ini belinya satu dos. Kenapa bukan di toko saja?" tanya Minah mengambil dua bungkus mie rasa kaldu ayam.
"Aanuu, dek," ucapku terbata.
"Anu apa, Mas? Tapi roman-romannya dari tanggal expired dan model kardusnya, sama dengan di toko. Kamu ambil disana?" kata Minah penuh selidik. Ia menatapku lekat-lekat.
"Ti tidak, dek!"
"Terus beli dimana?" timpalnya.
"Di toko pak Mukhlis katanya" jawabku.
"Pak mukhlis? Bukannya itu penjual bahan bangunan.
"Maksudku di toko bu Noni.".
"Oo begitu. Lain kali kalau mau belanja, kan bisa di tokoku. Kenapa sih orang lain yang mau diuntungkan padahal ada keluarga sendiri"
"Aku ambil dua yah. Ini uang lima ribu bawa ke Ibu. Katakan aku memakan mie instannya. Dan uang ini sebagai gantinya"
Jantungku seperti ingin copot. Hampir saja ketahuan. Tak lama mbak Marni datang lagi mengacaukan.
"Oo sok berkuasa yah kamu sekarang. Enak kan makan gratis?" katanya menyindir. Menarik kursi meja makan lalu memperhatikan Minah yang sedang asik memasak dua mie instan.
"Iya, Mbak memang enak. Mau? Tapi aku beli cuma dua." balasnya sesekali menghadap belakang untuk bertemu pandang dengan iparnya.
"Ogah makan masakan dari tangan kamu. Nanti perutku diare lagi,"
"Eh, Man. Kapan kamu ceraikan istrimu itu?" tanya mbak Marni.
Minah menjawab, "memangnya kalau kami bercerai, mas Maman dan Ibu boleh tinggal di rumahmu, Mbak? Ahh, tapi itukan rumah mas Ardy. Kalau mbak juga diceraikan Mas Ardy, kalian tinggal dimana?"
"Minah!" bentakku. Pundaknya seketika terangkat bersamaan. Nyaris saja isi panci tumpah karena kaget.
"Maaf, Mas. Abis mbak Marni tega bener bilang kayak begitu. Padahal kita sama-sama perempuan." lalu ia mematikan kompor dan mengajakku makan di depan TV saja.
"Ayo, Mas kita makan di depan TV. Kalau disini nanti mbak Marni marah lagi terus mie ku ditumpah. Takut," kata Minah berlari kecil memegang dua mangkok yang tentu panas. Tak ada piring pelapis atau apapun itu untuk melindungi tangannya. Ia justru memakai telapak tangannya sendiri untuk mengangkat mie itu. Hebat sekali dia.
***
Sesampai di toko, benar Niar sudah ada di depan. Ia terburu-buru masuk saat pintu sudah Minah buka.
"Kenapa berantakan sekali?" tanya Minah.
"Mas Maman bilang katanya tidak usah dibersihkan, Mbak." jawab Niar sesekali memandangku.
Aku mencoba memberinya kode dengan menutup mulut menggunakan telunjuk. Tapi, Niar tidak mengerti..
Lalu Minah berkata, "yang punya toko siapa?"
Itu artinya keberadaanku di sini memang tidak dianggap.
"Mana laporan keuangan kemarin?"
Niar secara cepat mengambil buku di laci kasir. Lalu menjulurkannya pada Minah.
Secara teliti Minah mengecek uang yang masuk dengan stok barang di toko. Ia terus menghitung-hitung pemasukan kemudian berjalan mengelilingi toko dan juga gudang di dalam.
"Niaarrrrrrrrr!"
Kenapa jumlah kardus wafer dan mie instan berkurang? Suara Minah menggelegar dari arah belakang. Aku jadi was-was dibuatnya.
Aku dan Niar berlari masuk.
"Memang segitu, Mbak." sanggah Niar.
"Tidak mungkin. Dicatatan untuk hari kemarin tidak ada tertulis dua dus itu. Tapi kenapa jumlahnya segini? Mie instan kupesan waktu itu 50 kardus. Wafer coklat 10, tapi yang laku masing-masing baru empat kardus. Trus sekarang Mie instan sisa 45 dan wafer sisa 5 dos. Kemana yang lain hah?" mata Minah amat menyeramkan.
"Mungkin mbak salah catat waktu pemesanan di sales," ucap Niar
"Tidak mungkin itu. Aku tahu persis. Jangankan satu kardus. Sebungkus permen saja tidak akan kulewatkan."
Sebelum ketahuan, aku mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
"Oo jadi maksudmu aku yang mengambil barang di toko ini? Percuma aku jadi suamimu kalau kau tidak bisa menghargaiku."
"Bukan begitu, Mas. Tapi aku bisa rugi besar kalau terus menerus seperti ini."
Kubentak Minah, "memangnya kau yakin betul kalau hitung-hitunganmu selalu bagus? Kau yakin tidak pernah khilaf? Memangnya kamu ahli matematika? Hah?"
"Atau jangan-jangan mie yang kumakan tadi adalah mie ku sendiri?"
"Kenapa pikiranmu sekotor itu, Minah? Kau kira aku mau mencuri untuk makanan instan itu?" aku lalu keluar toko dengan terburu-buru lalu mencari tukang ojek yang mulai mangkal diujung jalan.
"Mas!!!!!!!! Bukan maskudku begitu. Maafkan aku. Mungkin aku yang salah hitung. Tapi kalau benar yang kukatakan, tolong bayar mie instannya."
"Mas, Maaf!" teriaknya. Masih sempat menagih padahal ia sedang minta maaf. Minah, Minah!
Ahh Niar. Harusnya ia mengambil satu dos kecil saja. Kenapa malah mengambil satu kardus besar. Mau diapakan coba wafer sebanyak itu.
***
Saat tukang ojek mengantarku persis sampai ke depan rumah, kulihat mbak Marni menangis sesenggukan di teras rumah. Ibu yang disampingnya sibuk mengelus kepala.
"Kenapa, Mbak? Apa karena Minah lagi?" keduanya bergeming. Membuatku semakin penasaran.
"Jawab, Mbak. Ada apa?"
Mbak Marni sesekali melihat ke atas agar air matanya tak lagi tumpah. Ia menarik napas dalam-dalam. Dan perlahan memberiku telepon genggam miliknya. Dilayar terlihat jelas mas Ardy berfoto dengan memperlihatkan cincin di jari manisnya. Juga seorang perempuan di sebelahnya.
"Mas Ardy menikah lagi? Sialan dia" kataku meremas handphone mikik kakakku yang nyaris kubanting karena kelewat emosi. Tega sekali dia berbuat seperti itu pada perempuan.
"Sabar, Nak!" itu terus yang diucapkan Ibuku. Tapi tangis mbak Marni tidak bisa lagi ditahan. Ia kembali mengungkapkan rasa sakitnya lewat air mata.
Dan yang lebih mengerikan. Kedua mertua mbak Marni mengapit mas Ardy dan istri barunya seolah merestui perbuatan keji iparku.
"Kau tahu mereka sekarang ada di mana?" tanyaku.
Dengan berat dan pelan mbak Marni bilang, "kemarin dia cuma bilang mau pulang ke kampungnya dan cuti beberapa hari. Tapi aku santai saja padahal mas Ardy membawa barang yang cukup banyak"
"Sialan suamimu itu, Mbak. Biar ini jadi urusanku. Maman Surahman tidak akan tinggal diam kalau satu diantara keluarganya ada yang tersakiti. Besok kita ke kampung suamimu, kalau hari ini biarkan kau tenang dulu mbak. Tidak baik bertemu mereka kalau keadaanmu masih begini" ucapku penuh keyakinan.
"Pinjam mobil Minah, Man!" saran ibuku. Belum kapok juga ternyata. Tapi bagaimana yah, sedangkan aku tadi marah ke Minah. Apa harus menyurutkan gengsi lagi. Trus apa Minah sudi dipinjam mobilnya?
"Tapi aku sedang marah dengannya, Bu. Lagipula, pasti kalau kupinjam banyak sekali syarat yang mesti dilakukan. Ini saja aku pulang karena dia mencari mienya yang hilang. Hampir saja ketahuan."
"Kenapa menantu ibu semuanya tidak beres yah? Kalau syaratnya cuma bensin baiklah biar ibu saja yang tanggung. Uang sisa penjualan rumah masih ada. Kita pakai itu saja. Sekalian untuk mie di dalam kau beli lagi yang lain terus diam-diam masukkan ke dalam gudangnya lagi. Terus maki-maki Minah biar ia merasa bersalah." saran ibuku keren sekali.
"Baiklah, Bu," kataku.
Mbak Marni mengambil kembali handphonenya lalu semakin memperjelas foto yang ia lihat.
"Mas ardy, kenapa kamu tega, Mas!" kasihan sekali melihat perempuan menangis begitu. Awas saja kau Ardy.
------
(Menurutku) ISTRIKU PELIT
Part 24
#istripelit
Larut malam, Minah sudah pulang ke rumah. Ia terus-menerus memanggil namaku. Tapi, tak kuhiraukan.
"Mas, maafkan aku. Niar sudah menjelaskan. Mungkin memang aku yang salah," ucap Minah yang berlutut di sisi kursi.
Lalu berbisik, "tapi, sepertinya tidak mungkin aku salah hitung,"
"Apa kamu bilang?" Aku bangkit dan melotot kehadapan Minah.
"Kamu ganteng, Mas!" kurang ajar juga dia mulai ikuti gayaku saat berbisik buruk tentangnya. Tapi tidak apa-apa aku mengalah lagi. Demi mobil yang akan kupakai esokan harinya.
"Maafkan aku, Mas," kataya lagi seraya memeluk betisku seperti mengemis-ngemis. Itulah kelebihan Maman Surahman. Idaman setiap wanita. Walaupun jengkel, harus tetap kuberi kesempatan.
Aku mengalihkan pandangan dan melipat tangan di depan dada
"Boleh, aku maafkan. Asal besok mobilmu bisa kupinjam ke kampung Mas Ardy."
Minah berdiri menyamakan posisi.
"Untuk?" baru juga meminta maaf. Sekarang kembali lagi jadi si Minah sarkimin yang perhitungan.
"Mas Ardy sudah menikah lagi," kataku singkat.
Wajah Minah antara kaget, sedih, senang, berubah-ubah kelihatan.
"Kau kenapa? Bahagia karena mbakku dipoligami?" tanyaku.
Dijawab, "bukan, bukan, Mas. Aku hanya kepikiran dengan ucapanku tadi pagi. Mbak Marni mengejekku, dan justru terjadi hal buruk padanya. Hampir sama yang kubilang. Bedanya, mas Ardy baru menikah, belum menceraikan mbak Marni. Inikah yang namanya karma?"
Rasa jengkel seketika menyeruak, "Apa katamu? Kau ini baru dimaafkan malah berulah lagi."
"Maaf, Mas. Kalau begitu, besok pakai saja mobilnya. Tapi jangan lupa suruh mbak Marni isi bensin juga cuci bersih yah kalau sudah dipakai" katanya.
"Jangan pelit begitu dong, dek"
"Haha. Bukan pelit mas sayang. Demi kenyamanan bersama. Aku yang punya, kalian yang pinjam jadi harus sama-sama memberi untung satu dengan yang lain. Aku mengikhlaskan mobil, dan kalian harus tahu diri bagaimana selayaknya orang meminjam," ucapannya lembut dan pelan tapi entah kenapa tetap mampu menembus relung hatikh yang terdalam. Menusuk sekali.
"Terserah, terserah, terserah. Masuk sana, aku mau disini dulu." kuraih kunci mobil miliknya untuk lebih dulu menyelesaikan persoalan mie instan di gudang.
"Tapi nanti bobo di dalam kan?" jemarinya meyapu lembut wajahku.
"Tidak cocok kalau kamu bilang begitu. Harusnya pakai kata 'tidur' saja," ucapku ketika kelewat geli mendengar Minah sok manja begitu.
"Kan sama saja artinya. Lagian lebih terdengar mesra bukan?"
"Ya sudah kalau itu maumu."
Setelah Minah berlalu ke kamar dan memastikan ia sudah tertidur pulas. Ditandai dengan suara dengkuran. Sepanjang perjalanan menuju gudang, aku memikirkan kata-katanya tadi. Apa yang terjadi padaku memang benar karena karma atas kesalahanku pada anak dan istriku terdahulu? Tapi karma yang dibayar cicil. Aku menikah dengan orang yang kupikir lebih baik dari Lina tapi justru membuatku semakin pusing, lalu Ayah masuk penjara karena korupsi, dan sekarang mbak Marni lagi yang menerima perlakuan tidak mengenakkan ini. Juga Indra pernah bilang kalau Lina anak yatim piatu tidak seharusnya kudzolimi.
Kuyakinkan diri bahwa itu hanya takdir saja. Bukan karma. Toh, saat ini aku masih bisa menyelesaikan semua masalah. Sedang Minah anggap saja harta di bawah tanah yang butuh alat dan perjuangan untuk mendapatkan apa saja yang dimilikinya. Setelah kudapat, Minah kutinggalkan. Dan bisa memulai hidup baru dengan keluargaku.
***
Di pagi hari, Minah sebelum ke Toko membuatkan sarapan untuk orang rumah.
"Kenapa hanya tiga piring? Kan mbak Marni ada disini," ucapku heran.
"Mubazzir, Mas. Kalau orang sakit hati biasanya nafsu makannya hilang. Kalau aku buat empat, yang makan siapa? Kalau basi kan kasihan nasinya."
Mendengar itu ibu menggeleng-geleng kepala. "Kau ini semakin kurang ajar yah," katanya.
"Kan memang tidak boleh mubazzir, Bu. Ehh, ada kabar baik. Mulai hari ini, demi amal kebaikan, makan ibu biar kutanggung saja. Kalau kemarin aku minta dibayar atau menyarankan mbak Marni mengirim makanan kesini, biar kubatalkan saja. Berhubung mas Ardy sudah menikah lagi. Pasti penghasilannya harus dibagi antara istri tua dan istri mudanya."
Ibu membanting sendok di atas piring dan meninggalkan makanan begitu saja.
"Bu, mau kemana? Kasihan makanan kalau tidak disentuh," teriak Minah. Akupun sama. Nafsu makanku hilang. Tanpa berpikir panjang kuajak segera ibu dan mbak Marni ke kampung mas Ardy dan meninggalkan Minah di rumah. Soal ke toko naik apa. Biar jadi urusannya.
***
Ibu duduk di depan dengan kacamata hitamnya. Sedang mbak Marni berbaring di kursi bagian belakang seolah tak bernyawa. Lemah sekali dia. Matanya sembab. Ia bahkan tidak melakukan perlawanan apa-apa saat Minah keceplosan lagi soal mas Ardy. Minah itu baik, tapi kadang lidahnya kadang setajam silet.
"Mbak, kau yakin mau kesana?" tanyaku seraya melihat mbak Marni dari arah kaca depan. Ia hanya mengangguk. Tatapannya mengarah ke langit-langit mobil.
"Ini salah ibu dan ayah. Tidak bisa mencontohkan hal baik pada kalian. Ayahmu selalu tidak kuhargai. Begitupun dia. Sehingga kalian dalam menjalin hubungan selalu mengikuti kami. Sayangnya Ardy tidak sesetia Ayahmu." kata Ibu ketika melihat putrinya terbaring tak berdaya.
"Jangan bilang begitu, Bu. Mas Ardy saja yang tidak bisa bersyukur padahal mbak Marni itu cantik sekali." sanggahku tak rela ibu menyalahkan diri sendiri.
"Mbak, sudah. Tidak usah diratapi. Nanti di sana mereka justru tertawa puas kalau mbak Marni tidak bertenaga begitu. Istri keduanya akan merasa menang telah mengalahkan mbak." sahutku seraya mengingat-ingat kembali jalan ke rumah orang tua mas Ardy.
Untung ada google maps. Secangging itu tekhnologi zaman sekarang. Akhirnya kami tiba dikediamannya.
Suasana teras rumah kian ramai. Tapi tak kulihat iparku disana.
"Ayo, Bu, Mbak, turun!" kataku mengetuk jendela karena lebih dulu turun daripada mereka.
Semua mata tertuju pada kami saat kurangkul mbak Marni ketika berjalan. Sungguh tidak pernah kubayangkan saudara kandungku yang amat pemberani bisa selemah ini.
"Marni!" gumam ibu mertuanya.
Tak ada yang mempersilakan kami masuk. Ibu, ayah, saudara mas Ardy, hanya menatap kami heran dan cemas.
"Ardy mana?" tanya ibuku berkacak pinggang.
"Ada di dalam," kata saudaranya.
"Panggil dia keluar. Kurang ajar sekali anakku diperlakukan seperti ini. Kalau sudah tidak mau, kembalikan baik- baik. Jangan malah main kawin lagi seperti laki-laki murahan!" emosi ibuku sangat menbuncah. Nada suaranya begiti tinggi tak seperti marahnya sebelumnya membuat orang di rumah mas Ardy panik.
Lelaki buntal berkulit hitam muncul dengan merangkul seorang perempuan yang terlihat sangat sederhana. Tak ada riasan make up, bajunya pun juga biasa saja. Tidak sebanding dengan kakakku yang selalu tampil keren dan cantik.
"Oo jadi itu istri barumu?" *puuihh*
"Kupikir cantik seperti cinderella, Mas. Ternyata tidak lebih baik dari kakakku," sahutku.
"Mas!" tangis histerisnya pecah. Mbak Marni mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk meraih tubuh suaminya. Ia bersimpuh di depan mas Ardy. Dadaku sakit sekali.
"Maafkan aku Marni. Sepertinya rumah tangga kita tidak bisa lagi dipertahankan. Hari ini juga aku menalakmu" kata mas Ardy. Ia sama sekali tak mengangkat istri yang sedang berada di kakinya.
"Mas kenapa kamu setega ini?" tanya mbak Marni.
"Kamu yang tega, Marni. Selama kita menikah, hampir tidak pernah aku kau perlakukan selayaknya seorang istri kepada suaminya. Tapi tidak masalah, lalu orang tuaku? Jangankan untuk kunafkahi, sekadar membeli bensin untuk menjenguk mereka pun kau harus berpikir seribu kali. Dan ini yang kau lakukan bertahun lamanya. Memang Eni perempuan biasa saja, tapi kuyakin saat bersamanya aku akan bahagia. Dia baik dan juga sayang kepadaku. Pulanglah dan tolong bereskan semua barang-barangmu di rumah." kata-kata mas Ardy betul-betul menyakit mbak Marni. Ia kemudian jatuh pingsan setelahnya.
Seluruh orang menjadi panik. Sedang aku menghilangkan rasa takut untuk berhadapan langsung dengan Mas Ardy. Tubuhnya yang besar akan mudah menghancurkan pertahanku jika beradu otot.
"Kau bilang dia perempuan baik? Tidak ada orang baik yang rela merebut hak perempuan lain. Cepat atau lambat, kamu akan menyesal karena tidak paham betul bagaimana cara suami bertanggung jawab," ucapku.
"Maaf sebelumnya, Man. Mas tahu betul kau begitu sayang pada kakakmu Marni. Tapi, tidak usah mengajariku soal rumah tangga. Air mata mantan istrimu Lina saja belum kering karena ulah kakakmu. Coba lihat bagaimana egoisnya Marni? Demi kepentingan dirinya sendiri, bahkan ia rela menghancurkan rumah tanggamu. Dan kau sebagai kepala rumah tangga menjelaskanku tentang tanggung jawab? Seandainya kau juga paham, tidak mungkin yatim piatu yang kau nikahi dibuang begitu saja."
"Kalau mbakmu sudah sadar, bawa ia pulang,"
"Kau keterlaluan!" kutunjuk ia penuh keberanian lalu menuju kakakku
--------
(Menurutku) ISTRIKU PELIT
Part 25
#istrikupelit
Karma dibayar cicil (Judul versi buku)
"Bangun, Mbak. Kita pulang sekarang," ucapku menepuk-nepuk pipi kakak perempuanku agar segera sadar dari pingsannya.
Dengan tangan, ibu sibuk mengipas-ngipas mbak Marni.
Mas Ardy yang menyusul di belakangku terkena semprot ibu ketika ia berdiri di antara kerumunan keluarganya sembari memperhatikan kami. Ia yang berempati beberapa waktu kemudian berlutut di sisi kursi berdekatan dengan kepala mbakku.
"Marni, bangun, maafkan aku," katanya.
"Kalau sesuatu terjadi pada anakku, awas kamu Ardy. Tidak akan kubiarkan kau bahagia di atas derita Marni. Lagian kamu itu laki-laki atau bukan sih?"
Mereka semua hanya bergeming. Perlahan mbak Marni membuka matanya.
"Alhamdulillah kau sudah sadar," ucapku lega.
Ia melihat mas Ardy di sampingnya lalu dengan wajah memelas ia berkata sangat pelan, "Mas tolong beri aku satu kesempatan lagi. Jangan tinggalkan aku, Mas. Tidak masalah kalau harus dipoligami," tangisnya pecah kembali.
"Maaf Marni. Keputusanku sudah bulat. Aku juga tidak yakin bisa berlaku adil dalam berbagi kasih sayang dengan kedua istri. Cukuplah kesalahanmu kemarin jadikan pelajaran bahwa seorang suami selalu berharap dirinya dihargai. Juga kalau menikah bukan hanya suami dan istri yang terlibat. Tapi keluarga kedua belah pihak juga."
"Sudah-sudah, tidak usah sok mengajari anakku. Kau saja yang tidak tahu bersyukur," potong ibuku.
"Eh, anakmu ini ajari dia, jangan lari dari tanggung jawab. Didik dia baik-baik," telunjuknya mengarah ke mertua mbak Marni.
"Dan untuk kau perempuan perebut suami orang *ppuih* kusumpahi kau tidak jadi istri terakhir. Siap-siap saja suatu saat Ardy juga akan meninggalkanmu demi perempuan lain,"
Mas Ardy bangkit untuk merespon ibuku, "semoga ini pernikahan terakhirku sampai ke surga kelak. Bu, maaf kalau selama jadi menantu, aku banyak salah. Dan kalau boleh sekarang juga silahkan bawa Marni pulang karena dia sudah sadar.
"Tidak usah mengusir, kami bisa pulang sendiri," mbak Marni dan ibu memang sejenis. Sedang aku, kadang nyaliku naik turun. Baru ingin menghantam, kuurangkan lagi niat karena tidak berani mencari resiko.
Kukerahkan seluruh tenaga untuk menggendong mbak Marni yang begitu lesu dengan mata yang teramat sembab. Bulir yang menetes menjadi bukti bahwa sebenarnya ia teramat mencintai suaminya.
***
"Mas aku mau minta maaf soal mie instan itu," kata Minah dipenghujung malam. Suaranya dan bunyi jangkrik bersautan.
"Aku tidak salah kan?" jelaslah, orang sudah kuganti secara diam-diam. Dasar Minah titttt....
"Maaf sayangku. Tapi tumben aku salah hitung." Ia menggaruk-garuk kepalanya.
"Eh Mas kenapa tadi pagi aku ditinggal? Untung Niar baca statusku jadi dia menjemput di sini. Kalau tidak, bisa terlambat aku ke toko."
Memang diperjalanan tadi sempat kulihat di berandaku status Minah tertulis,
[HuFFt, k0k cu@mi aKu p3rgi g@k bil@ng cih. K@n aku b1sa TerL@mbat]
"Lagian kamu menjengkelkan pagi-pagi. Mulutmu itu kadang tidak bisa dikontrol. Kau tidak bisa bedakan mana yang bisa diucapkan dan mana yang harus dipendam."
"Maaf, Mas. Aku hanya tidak terbiasa berbohong. Apa yang kurasakan, itu juga yang kuucapkan. Tidak baik orang munafik. Lebih baik aku dibenci karena mengungkapkan," sanggah Minah yang berbaring di sebelahku.
"Tapikan ada namanya menghargai perasaan orang. Apalagi dia mertuamu," ucapku membelakanginya.
"Tapi kenapa aku juga tidak pernah dihargai, Mas? Dijambak, di kata-katai. Aku tidak pernah melawan." sahutnya.
"Itu karena kamu terlalu perhitungan. Kalau di matematika, Kamu cuma pintar penjumlahan, tidak bisa membagi-bagi "
"Memangnya kalau uang sendiri diatur keluar masuknya itu namanya pelit yah, Mas? Yang salah itu kalau uang orang lain yang kukuasai. Atau jangan-jangan ibu merestui kita karena uang?"
Seketika aku terhentak dengan pertanyaannya.
"Tau deh. Aku mau tidur,"
***
"Astaga, Mas mamaaaaaaaaaaaan," teriak Minah dipagi hari.
"Ada apa sih ribut begitu? Nanti didengar tetangga" tanyaku. Karena posisiku ada di belakangnya. Sontak kujitak kepala Minah.
"Kenapa kotor begini mobilnya, Mas? Aku kan sudah bilang agar dicuci"
"Coba lihat di sebelah sini bisa ditanami kacang," ucapnya.
"Tidak usah lebay, Minah. Sebentar lagi hujan. Ngapain di cuci?"
"Mas, aku kurang suka orang yang bicara dua kali. Kalau janji yah janji. Jangan mengaku bisa tapi tidak bisa." katanya.
"Kamu ini tambah cerewet yah? Atau mau kalau aku tambah istri satu atau dua lagi?" tanyaku. Dia kibaskan rambutnya dan berkata, "mungkin aku akan sakit hati kalau kau menikah lagi, tapi tentu mas akan tambah pusing. Aku saja belum dinafkahi. Masa mau ditambah lagi"
"Mau dicoba?" ucapku.
"Awas saja kalau berani menduakanku, Mas. Secinta-cintanya aku kepadamu, pantang diri ini diduakan. Entah itu kau menikah lagi ataupun selingkuh."
"Kau mengancamku?"
"Tidak!"
"Lalu?" tanyaku lagi.
"Yah jangan mendua, Mas. Kau tahu, lelaki setia pada satu wanita itu keren ketimbang ditaksir banyak wanita lalu semuanya diberi kesempatan. Apalagi kau sudah punya istri sesempurna ini." kata-kata Minah membuatku ingin muntah.
"Iya ,sempurna. Hitung-hitungannya."
"Hahaha. Mas ada-ada saja. Mbak Marni mana?" katanya.
"Di kamar. Masih sedih dia." ucapku singkat lalu menaiki kursi mobil sebelah kiri. Biar Minah saja yang menyetir.
"Kalau sudah agak mendingan, minta tolong dibantu beres-beres rumah biar adil. Aku yang kerja, mereka bantu bersih-bersih ataupun masak. Masa semua harus aku yang tanggung jawab. Kalau sewa pembantu mahal, mau beli lauk diluar terus juga mahal. Tapi kalau mau membayar, tidak apa-apa kalau mereka gak bantu di rumah. Kecuali tinggal gratis, ya bolehlah.
Ingin sekali rasanya kutukarkan Minah dengan panci di pasar. Itu lebih baik. Setidaknya panci lebih senang bertengger diatas kompor tanpa ada perlawanan. Sedangkan Minah, ampun. Semua serba diperhitungkan.
"Mana bisa mbak Marni kerja-kerja kalau kondisinya begitu?"
Minah yang heran saat menyalakan mesin mobil karena bensinnya sisa satu balok tiba-tiba perhatiannya teralihkan.
"Wah, gak cocok ini. Kenapa bensin sisa segini? Kenapa tidak bertambah. Kemarin satu balok. Masa sudah dipakai tetap satu?"
"Sudah kuisi saat mau ke sana ,tapi balik kesini tentu pakai BBM lagi."
"Tidak boleh begitu dong, Mas. Kan kalian tidak bayar mobil rental, otomatis pengeluaran berkurang. Kenapa tidak beli bensin waktu mau balik lagi kesini?"
"Eh aku baru ingat. Sisa penjualan rumah kan masih ada. Harusnya ibu punya uang. Dan pasti masih berpuluh juta. Aku harus minta ke ibu." lalu masuk kembali ke dalam rumah. Segera aku mengikuti.
*tok*tok*tok*
"Bu, tolong buka pintunya," sahut Minah sambil mengetuk daun pintu kamar tamu yang sekarang ditempati ibu dan mbakku.
Setelah membuka, ibu mengangkat tangan lalu menguap lebar-lebar.
"Bu, bagi duit," ucap Minah seraya menjulurkan tangan.
"Untuk?" tanya ibu.
"Masa mobil dikembalikan dalam keadaan kehausan begitu, Bu. Manusia butuh minum, kendaraan juga."
"Astaga, Man. Istrimu ini sakit jiwa barangkali."
"Orang sakit jiwa mana tahu mata uang, Bu. Tiga ratus ribu cukup itung-itung uang ganti rugi karena seharian mobilku dipakai. Sekalian juga aku mau beli perlengkapan dapur."
"Ahh, gak mau. Aku tinggal disini karena anakku, bukan untuk menumpang sama kamu," gumam ibu. Matanya dipicingkan saking emosinya.
"Umur ibu berapa?"
"Apa urusanmu? Balasn ibu.
"Gak, cuma nanya, Bu."
"Lebih empat puluh" sahutku.
"O, pantas agak pikun. Dia bilang menumpang sama anaknya. Padahal baru saja beberapa kulunasi rumah ini. Eh, sudah lupa lagi." ibu tak berpikir panjang, dilayangkannya tamparan ke wajah Minah.
"Kurang ajar kau!" katanya.
Minah senyum-senyum, "Kan aku ditampar begini, harusnya ibu sudah puas. Nah, sini uangnya!"
"Minaaaaaaaaaaaaaaaaa!" ibu mengepal tangan dan berteriak sejadi-jadinya.
--------
Part 23
#istripelit
"Mas, ayo makan dulu terus buruan ke toko. Niar pasti sudah menunggu di sana," kata Minah setelah membuka pintu kamar. Ia menyusuri dapur untuk mencari bahan makanan yang tersisa.
"Aku pergi sendiri?" tanyaku bersemangat. Tadinya hanya berbaring di kursi di depan TV setelah ibu dan mbak Marni masuk di kamar tamu.
"Tidak, tidak. Kita pergi ke sana sama-sama. Tapi setelah kita makan, Mas. Boros kalau harus makan di luar lagi." lalu kembali kurebahkan tubuh ke kursi.
"Masssss. Mie instan ini beli di mana?" sekujur tubuh seketika berasa tak bertulang. Kenapa Minah menanyakan hal yang tidak penting begitu. Apa dia tahu?
Kupercepat langkah menuju dapur. Sebelum terjadi perdebatan sengit kembali dengan ketiga perempuan itu.
"Memangnya kenapa, Dek?" tanyaku.
"Gak, Mas. Cuma nanya saja. Ini belinya satu dos. Kenapa bukan di toko saja?" tanya Minah mengambil dua bungkus mie rasa kaldu ayam.
"Aanuu, dek," ucapku terbata.
"Anu apa, Mas? Tapi roman-romannya dari tanggal expired dan model kardusnya, sama dengan di toko. Kamu ambil disana?" kata Minah penuh selidik. Ia menatapku lekat-lekat.
"Ti tidak, dek!"
"Terus beli dimana?" timpalnya.
"Di toko pak Mukhlis katanya" jawabku.
"Pak mukhlis? Bukannya itu penjual bahan bangunan.
"Maksudku di toko bu Noni.".
"Oo begitu. Lain kali kalau mau belanja, kan bisa di tokoku. Kenapa sih orang lain yang mau diuntungkan padahal ada keluarga sendiri"
"Aku ambil dua yah. Ini uang lima ribu bawa ke Ibu. Katakan aku memakan mie instannya. Dan uang ini sebagai gantinya"
Jantungku seperti ingin copot. Hampir saja ketahuan. Tak lama mbak Marni datang lagi mengacaukan.
"Oo sok berkuasa yah kamu sekarang. Enak kan makan gratis?" katanya menyindir. Menarik kursi meja makan lalu memperhatikan Minah yang sedang asik memasak dua mie instan.
"Iya, Mbak memang enak. Mau? Tapi aku beli cuma dua." balasnya sesekali menghadap belakang untuk bertemu pandang dengan iparnya.
"Ogah makan masakan dari tangan kamu. Nanti perutku diare lagi,"
"Eh, Man. Kapan kamu ceraikan istrimu itu?" tanya mbak Marni.
Minah menjawab, "memangnya kalau kami bercerai, mas Maman dan Ibu boleh tinggal di rumahmu, Mbak? Ahh, tapi itukan rumah mas Ardy. Kalau mbak juga diceraikan Mas Ardy, kalian tinggal dimana?"
"Minah!" bentakku. Pundaknya seketika terangkat bersamaan. Nyaris saja isi panci tumpah karena kaget.
"Maaf, Mas. Abis mbak Marni tega bener bilang kayak begitu. Padahal kita sama-sama perempuan." lalu ia mematikan kompor dan mengajakku makan di depan TV saja.
"Ayo, Mas kita makan di depan TV. Kalau disini nanti mbak Marni marah lagi terus mie ku ditumpah. Takut," kata Minah berlari kecil memegang dua mangkok yang tentu panas. Tak ada piring pelapis atau apapun itu untuk melindungi tangannya. Ia justru memakai telapak tangannya sendiri untuk mengangkat mie itu. Hebat sekali dia.
***
Sesampai di toko, benar Niar sudah ada di depan. Ia terburu-buru masuk saat pintu sudah Minah buka.
"Kenapa berantakan sekali?" tanya Minah.
"Mas Maman bilang katanya tidak usah dibersihkan, Mbak." jawab Niar sesekali memandangku.
Aku mencoba memberinya kode dengan menutup mulut menggunakan telunjuk. Tapi, Niar tidak mengerti..
Lalu Minah berkata, "yang punya toko siapa?"
Itu artinya keberadaanku di sini memang tidak dianggap.
"Mana laporan keuangan kemarin?"
Niar secara cepat mengambil buku di laci kasir. Lalu menjulurkannya pada Minah.
Secara teliti Minah mengecek uang yang masuk dengan stok barang di toko. Ia terus menghitung-hitung pemasukan kemudian berjalan mengelilingi toko dan juga gudang di dalam.
"Niaarrrrrrrrr!"
Kenapa jumlah kardus wafer dan mie instan berkurang? Suara Minah menggelegar dari arah belakang. Aku jadi was-was dibuatnya.
Aku dan Niar berlari masuk.
"Memang segitu, Mbak." sanggah Niar.
"Tidak mungkin. Dicatatan untuk hari kemarin tidak ada tertulis dua dus itu. Tapi kenapa jumlahnya segini? Mie instan kupesan waktu itu 50 kardus. Wafer coklat 10, tapi yang laku masing-masing baru empat kardus. Trus sekarang Mie instan sisa 45 dan wafer sisa 5 dos. Kemana yang lain hah?" mata Minah amat menyeramkan.
"Mungkin mbak salah catat waktu pemesanan di sales," ucap Niar
"Tidak mungkin itu. Aku tahu persis. Jangankan satu kardus. Sebungkus permen saja tidak akan kulewatkan."
Sebelum ketahuan, aku mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
"Oo jadi maksudmu aku yang mengambil barang di toko ini? Percuma aku jadi suamimu kalau kau tidak bisa menghargaiku."
"Bukan begitu, Mas. Tapi aku bisa rugi besar kalau terus menerus seperti ini."
Kubentak Minah, "memangnya kau yakin betul kalau hitung-hitunganmu selalu bagus? Kau yakin tidak pernah khilaf? Memangnya kamu ahli matematika? Hah?"
"Atau jangan-jangan mie yang kumakan tadi adalah mie ku sendiri?"
"Kenapa pikiranmu sekotor itu, Minah? Kau kira aku mau mencuri untuk makanan instan itu?" aku lalu keluar toko dengan terburu-buru lalu mencari tukang ojek yang mulai mangkal diujung jalan.
"Mas!!!!!!!! Bukan maskudku begitu. Maafkan aku. Mungkin aku yang salah hitung. Tapi kalau benar yang kukatakan, tolong bayar mie instannya."
"Mas, Maaf!" teriaknya. Masih sempat menagih padahal ia sedang minta maaf. Minah, Minah!
Ahh Niar. Harusnya ia mengambil satu dos kecil saja. Kenapa malah mengambil satu kardus besar. Mau diapakan coba wafer sebanyak itu.
***
Saat tukang ojek mengantarku persis sampai ke depan rumah, kulihat mbak Marni menangis sesenggukan di teras rumah. Ibu yang disampingnya sibuk mengelus kepala.
"Kenapa, Mbak? Apa karena Minah lagi?" keduanya bergeming. Membuatku semakin penasaran.
"Jawab, Mbak. Ada apa?"
Mbak Marni sesekali melihat ke atas agar air matanya tak lagi tumpah. Ia menarik napas dalam-dalam. Dan perlahan memberiku telepon genggam miliknya. Dilayar terlihat jelas mas Ardy berfoto dengan memperlihatkan cincin di jari manisnya. Juga seorang perempuan di sebelahnya.
"Mas Ardy menikah lagi? Sialan dia" kataku meremas handphone mikik kakakku yang nyaris kubanting karena kelewat emosi. Tega sekali dia berbuat seperti itu pada perempuan.
"Sabar, Nak!" itu terus yang diucapkan Ibuku. Tapi tangis mbak Marni tidak bisa lagi ditahan. Ia kembali mengungkapkan rasa sakitnya lewat air mata.
Dan yang lebih mengerikan. Kedua mertua mbak Marni mengapit mas Ardy dan istri barunya seolah merestui perbuatan keji iparku.
"Kau tahu mereka sekarang ada di mana?" tanyaku.
Dengan berat dan pelan mbak Marni bilang, "kemarin dia cuma bilang mau pulang ke kampungnya dan cuti beberapa hari. Tapi aku santai saja padahal mas Ardy membawa barang yang cukup banyak"
"Sialan suamimu itu, Mbak. Biar ini jadi urusanku. Maman Surahman tidak akan tinggal diam kalau satu diantara keluarganya ada yang tersakiti. Besok kita ke kampung suamimu, kalau hari ini biarkan kau tenang dulu mbak. Tidak baik bertemu mereka kalau keadaanmu masih begini" ucapku penuh keyakinan.
"Pinjam mobil Minah, Man!" saran ibuku. Belum kapok juga ternyata. Tapi bagaimana yah, sedangkan aku tadi marah ke Minah. Apa harus menyurutkan gengsi lagi. Trus apa Minah sudi dipinjam mobilnya?
"Tapi aku sedang marah dengannya, Bu. Lagipula, pasti kalau kupinjam banyak sekali syarat yang mesti dilakukan. Ini saja aku pulang karena dia mencari mienya yang hilang. Hampir saja ketahuan."
"Kenapa menantu ibu semuanya tidak beres yah? Kalau syaratnya cuma bensin baiklah biar ibu saja yang tanggung. Uang sisa penjualan rumah masih ada. Kita pakai itu saja. Sekalian untuk mie di dalam kau beli lagi yang lain terus diam-diam masukkan ke dalam gudangnya lagi. Terus maki-maki Minah biar ia merasa bersalah." saran ibuku keren sekali.
"Baiklah, Bu," kataku.
Mbak Marni mengambil kembali handphonenya lalu semakin memperjelas foto yang ia lihat.
"Mas ardy, kenapa kamu tega, Mas!" kasihan sekali melihat perempuan menangis begitu. Awas saja kau Ardy.
------
(Menurutku) ISTRIKU PELIT
Part 24
#istripelit
Larut malam, Minah sudah pulang ke rumah. Ia terus-menerus memanggil namaku. Tapi, tak kuhiraukan.
"Mas, maafkan aku. Niar sudah menjelaskan. Mungkin memang aku yang salah," ucap Minah yang berlutut di sisi kursi.
Lalu berbisik, "tapi, sepertinya tidak mungkin aku salah hitung,"
"Apa kamu bilang?" Aku bangkit dan melotot kehadapan Minah.
"Kamu ganteng, Mas!" kurang ajar juga dia mulai ikuti gayaku saat berbisik buruk tentangnya. Tapi tidak apa-apa aku mengalah lagi. Demi mobil yang akan kupakai esokan harinya.
"Maafkan aku, Mas," kataya lagi seraya memeluk betisku seperti mengemis-ngemis. Itulah kelebihan Maman Surahman. Idaman setiap wanita. Walaupun jengkel, harus tetap kuberi kesempatan.
Aku mengalihkan pandangan dan melipat tangan di depan dada
"Boleh, aku maafkan. Asal besok mobilmu bisa kupinjam ke kampung Mas Ardy."
Minah berdiri menyamakan posisi.
"Untuk?" baru juga meminta maaf. Sekarang kembali lagi jadi si Minah sarkimin yang perhitungan.
"Mas Ardy sudah menikah lagi," kataku singkat.
Wajah Minah antara kaget, sedih, senang, berubah-ubah kelihatan.
"Kau kenapa? Bahagia karena mbakku dipoligami?" tanyaku.
Dijawab, "bukan, bukan, Mas. Aku hanya kepikiran dengan ucapanku tadi pagi. Mbak Marni mengejekku, dan justru terjadi hal buruk padanya. Hampir sama yang kubilang. Bedanya, mas Ardy baru menikah, belum menceraikan mbak Marni. Inikah yang namanya karma?"
Rasa jengkel seketika menyeruak, "Apa katamu? Kau ini baru dimaafkan malah berulah lagi."
"Maaf, Mas. Kalau begitu, besok pakai saja mobilnya. Tapi jangan lupa suruh mbak Marni isi bensin juga cuci bersih yah kalau sudah dipakai" katanya.
"Jangan pelit begitu dong, dek"
"Haha. Bukan pelit mas sayang. Demi kenyamanan bersama. Aku yang punya, kalian yang pinjam jadi harus sama-sama memberi untung satu dengan yang lain. Aku mengikhlaskan mobil, dan kalian harus tahu diri bagaimana selayaknya orang meminjam," ucapannya lembut dan pelan tapi entah kenapa tetap mampu menembus relung hatikh yang terdalam. Menusuk sekali.
"Terserah, terserah, terserah. Masuk sana, aku mau disini dulu." kuraih kunci mobil miliknya untuk lebih dulu menyelesaikan persoalan mie instan di gudang.
"Tapi nanti bobo di dalam kan?" jemarinya meyapu lembut wajahku.
"Tidak cocok kalau kamu bilang begitu. Harusnya pakai kata 'tidur' saja," ucapku ketika kelewat geli mendengar Minah sok manja begitu.
"Kan sama saja artinya. Lagian lebih terdengar mesra bukan?"
"Ya sudah kalau itu maumu."
Setelah Minah berlalu ke kamar dan memastikan ia sudah tertidur pulas. Ditandai dengan suara dengkuran. Sepanjang perjalanan menuju gudang, aku memikirkan kata-katanya tadi. Apa yang terjadi padaku memang benar karena karma atas kesalahanku pada anak dan istriku terdahulu? Tapi karma yang dibayar cicil. Aku menikah dengan orang yang kupikir lebih baik dari Lina tapi justru membuatku semakin pusing, lalu Ayah masuk penjara karena korupsi, dan sekarang mbak Marni lagi yang menerima perlakuan tidak mengenakkan ini. Juga Indra pernah bilang kalau Lina anak yatim piatu tidak seharusnya kudzolimi.
Kuyakinkan diri bahwa itu hanya takdir saja. Bukan karma. Toh, saat ini aku masih bisa menyelesaikan semua masalah. Sedang Minah anggap saja harta di bawah tanah yang butuh alat dan perjuangan untuk mendapatkan apa saja yang dimilikinya. Setelah kudapat, Minah kutinggalkan. Dan bisa memulai hidup baru dengan keluargaku.
***
Di pagi hari, Minah sebelum ke Toko membuatkan sarapan untuk orang rumah.
"Kenapa hanya tiga piring? Kan mbak Marni ada disini," ucapku heran.
"Mubazzir, Mas. Kalau orang sakit hati biasanya nafsu makannya hilang. Kalau aku buat empat, yang makan siapa? Kalau basi kan kasihan nasinya."
Mendengar itu ibu menggeleng-geleng kepala. "Kau ini semakin kurang ajar yah," katanya.
"Kan memang tidak boleh mubazzir, Bu. Ehh, ada kabar baik. Mulai hari ini, demi amal kebaikan, makan ibu biar kutanggung saja. Kalau kemarin aku minta dibayar atau menyarankan mbak Marni mengirim makanan kesini, biar kubatalkan saja. Berhubung mas Ardy sudah menikah lagi. Pasti penghasilannya harus dibagi antara istri tua dan istri mudanya."
Ibu membanting sendok di atas piring dan meninggalkan makanan begitu saja.
"Bu, mau kemana? Kasihan makanan kalau tidak disentuh," teriak Minah. Akupun sama. Nafsu makanku hilang. Tanpa berpikir panjang kuajak segera ibu dan mbak Marni ke kampung mas Ardy dan meninggalkan Minah di rumah. Soal ke toko naik apa. Biar jadi urusannya.
***
Ibu duduk di depan dengan kacamata hitamnya. Sedang mbak Marni berbaring di kursi bagian belakang seolah tak bernyawa. Lemah sekali dia. Matanya sembab. Ia bahkan tidak melakukan perlawanan apa-apa saat Minah keceplosan lagi soal mas Ardy. Minah itu baik, tapi kadang lidahnya kadang setajam silet.
"Mbak, kau yakin mau kesana?" tanyaku seraya melihat mbak Marni dari arah kaca depan. Ia hanya mengangguk. Tatapannya mengarah ke langit-langit mobil.
"Ini salah ibu dan ayah. Tidak bisa mencontohkan hal baik pada kalian. Ayahmu selalu tidak kuhargai. Begitupun dia. Sehingga kalian dalam menjalin hubungan selalu mengikuti kami. Sayangnya Ardy tidak sesetia Ayahmu." kata Ibu ketika melihat putrinya terbaring tak berdaya.
"Jangan bilang begitu, Bu. Mas Ardy saja yang tidak bisa bersyukur padahal mbak Marni itu cantik sekali." sanggahku tak rela ibu menyalahkan diri sendiri.
"Mbak, sudah. Tidak usah diratapi. Nanti di sana mereka justru tertawa puas kalau mbak Marni tidak bertenaga begitu. Istri keduanya akan merasa menang telah mengalahkan mbak." sahutku seraya mengingat-ingat kembali jalan ke rumah orang tua mas Ardy.
Untung ada google maps. Secangging itu tekhnologi zaman sekarang. Akhirnya kami tiba dikediamannya.
Suasana teras rumah kian ramai. Tapi tak kulihat iparku disana.
"Ayo, Bu, Mbak, turun!" kataku mengetuk jendela karena lebih dulu turun daripada mereka.
Semua mata tertuju pada kami saat kurangkul mbak Marni ketika berjalan. Sungguh tidak pernah kubayangkan saudara kandungku yang amat pemberani bisa selemah ini.
"Marni!" gumam ibu mertuanya.
Tak ada yang mempersilakan kami masuk. Ibu, ayah, saudara mas Ardy, hanya menatap kami heran dan cemas.
"Ardy mana?" tanya ibuku berkacak pinggang.
"Ada di dalam," kata saudaranya.
"Panggil dia keluar. Kurang ajar sekali anakku diperlakukan seperti ini. Kalau sudah tidak mau, kembalikan baik- baik. Jangan malah main kawin lagi seperti laki-laki murahan!" emosi ibuku sangat menbuncah. Nada suaranya begiti tinggi tak seperti marahnya sebelumnya membuat orang di rumah mas Ardy panik.
Lelaki buntal berkulit hitam muncul dengan merangkul seorang perempuan yang terlihat sangat sederhana. Tak ada riasan make up, bajunya pun juga biasa saja. Tidak sebanding dengan kakakku yang selalu tampil keren dan cantik.
"Oo jadi itu istri barumu?" *puuihh*
"Kupikir cantik seperti cinderella, Mas. Ternyata tidak lebih baik dari kakakku," sahutku.
"Mas!" tangis histerisnya pecah. Mbak Marni mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk meraih tubuh suaminya. Ia bersimpuh di depan mas Ardy. Dadaku sakit sekali.
"Maafkan aku Marni. Sepertinya rumah tangga kita tidak bisa lagi dipertahankan. Hari ini juga aku menalakmu" kata mas Ardy. Ia sama sekali tak mengangkat istri yang sedang berada di kakinya.
"Mas kenapa kamu setega ini?" tanya mbak Marni.
"Kamu yang tega, Marni. Selama kita menikah, hampir tidak pernah aku kau perlakukan selayaknya seorang istri kepada suaminya. Tapi tidak masalah, lalu orang tuaku? Jangankan untuk kunafkahi, sekadar membeli bensin untuk menjenguk mereka pun kau harus berpikir seribu kali. Dan ini yang kau lakukan bertahun lamanya. Memang Eni perempuan biasa saja, tapi kuyakin saat bersamanya aku akan bahagia. Dia baik dan juga sayang kepadaku. Pulanglah dan tolong bereskan semua barang-barangmu di rumah." kata-kata mas Ardy betul-betul menyakit mbak Marni. Ia kemudian jatuh pingsan setelahnya.
Seluruh orang menjadi panik. Sedang aku menghilangkan rasa takut untuk berhadapan langsung dengan Mas Ardy. Tubuhnya yang besar akan mudah menghancurkan pertahanku jika beradu otot.
"Kau bilang dia perempuan baik? Tidak ada orang baik yang rela merebut hak perempuan lain. Cepat atau lambat, kamu akan menyesal karena tidak paham betul bagaimana cara suami bertanggung jawab," ucapku.
"Maaf sebelumnya, Man. Mas tahu betul kau begitu sayang pada kakakmu Marni. Tapi, tidak usah mengajariku soal rumah tangga. Air mata mantan istrimu Lina saja belum kering karena ulah kakakmu. Coba lihat bagaimana egoisnya Marni? Demi kepentingan dirinya sendiri, bahkan ia rela menghancurkan rumah tanggamu. Dan kau sebagai kepala rumah tangga menjelaskanku tentang tanggung jawab? Seandainya kau juga paham, tidak mungkin yatim piatu yang kau nikahi dibuang begitu saja."
"Kalau mbakmu sudah sadar, bawa ia pulang,"
"Kau keterlaluan!" kutunjuk ia penuh keberanian lalu menuju kakakku
--------
(Menurutku) ISTRIKU PELIT
Part 25
#istrikupelit
Karma dibayar cicil (Judul versi buku)
"Bangun, Mbak. Kita pulang sekarang," ucapku menepuk-nepuk pipi kakak perempuanku agar segera sadar dari pingsannya.
Dengan tangan, ibu sibuk mengipas-ngipas mbak Marni.
Mas Ardy yang menyusul di belakangku terkena semprot ibu ketika ia berdiri di antara kerumunan keluarganya sembari memperhatikan kami. Ia yang berempati beberapa waktu kemudian berlutut di sisi kursi berdekatan dengan kepala mbakku.
"Marni, bangun, maafkan aku," katanya.
"Kalau sesuatu terjadi pada anakku, awas kamu Ardy. Tidak akan kubiarkan kau bahagia di atas derita Marni. Lagian kamu itu laki-laki atau bukan sih?"
Mereka semua hanya bergeming. Perlahan mbak Marni membuka matanya.
"Alhamdulillah kau sudah sadar," ucapku lega.
Ia melihat mas Ardy di sampingnya lalu dengan wajah memelas ia berkata sangat pelan, "Mas tolong beri aku satu kesempatan lagi. Jangan tinggalkan aku, Mas. Tidak masalah kalau harus dipoligami," tangisnya pecah kembali.
"Maaf Marni. Keputusanku sudah bulat. Aku juga tidak yakin bisa berlaku adil dalam berbagi kasih sayang dengan kedua istri. Cukuplah kesalahanmu kemarin jadikan pelajaran bahwa seorang suami selalu berharap dirinya dihargai. Juga kalau menikah bukan hanya suami dan istri yang terlibat. Tapi keluarga kedua belah pihak juga."
"Sudah-sudah, tidak usah sok mengajari anakku. Kau saja yang tidak tahu bersyukur," potong ibuku.
"Eh, anakmu ini ajari dia, jangan lari dari tanggung jawab. Didik dia baik-baik," telunjuknya mengarah ke mertua mbak Marni.
"Dan untuk kau perempuan perebut suami orang *ppuih* kusumpahi kau tidak jadi istri terakhir. Siap-siap saja suatu saat Ardy juga akan meninggalkanmu demi perempuan lain,"
Mas Ardy bangkit untuk merespon ibuku, "semoga ini pernikahan terakhirku sampai ke surga kelak. Bu, maaf kalau selama jadi menantu, aku banyak salah. Dan kalau boleh sekarang juga silahkan bawa Marni pulang karena dia sudah sadar.
"Tidak usah mengusir, kami bisa pulang sendiri," mbak Marni dan ibu memang sejenis. Sedang aku, kadang nyaliku naik turun. Baru ingin menghantam, kuurangkan lagi niat karena tidak berani mencari resiko.
Kukerahkan seluruh tenaga untuk menggendong mbak Marni yang begitu lesu dengan mata yang teramat sembab. Bulir yang menetes menjadi bukti bahwa sebenarnya ia teramat mencintai suaminya.
***
"Mas aku mau minta maaf soal mie instan itu," kata Minah dipenghujung malam. Suaranya dan bunyi jangkrik bersautan.
"Aku tidak salah kan?" jelaslah, orang sudah kuganti secara diam-diam. Dasar Minah titttt....
"Maaf sayangku. Tapi tumben aku salah hitung." Ia menggaruk-garuk kepalanya.
"Eh Mas kenapa tadi pagi aku ditinggal? Untung Niar baca statusku jadi dia menjemput di sini. Kalau tidak, bisa terlambat aku ke toko."
Memang diperjalanan tadi sempat kulihat di berandaku status Minah tertulis,
[HuFFt, k0k cu@mi aKu p3rgi g@k bil@ng cih. K@n aku b1sa TerL@mbat]
"Lagian kamu menjengkelkan pagi-pagi. Mulutmu itu kadang tidak bisa dikontrol. Kau tidak bisa bedakan mana yang bisa diucapkan dan mana yang harus dipendam."
"Maaf, Mas. Aku hanya tidak terbiasa berbohong. Apa yang kurasakan, itu juga yang kuucapkan. Tidak baik orang munafik. Lebih baik aku dibenci karena mengungkapkan," sanggah Minah yang berbaring di sebelahku.
"Tapikan ada namanya menghargai perasaan orang. Apalagi dia mertuamu," ucapku membelakanginya.
"Tapi kenapa aku juga tidak pernah dihargai, Mas? Dijambak, di kata-katai. Aku tidak pernah melawan." sahutnya.
"Itu karena kamu terlalu perhitungan. Kalau di matematika, Kamu cuma pintar penjumlahan, tidak bisa membagi-bagi "
"Memangnya kalau uang sendiri diatur keluar masuknya itu namanya pelit yah, Mas? Yang salah itu kalau uang orang lain yang kukuasai. Atau jangan-jangan ibu merestui kita karena uang?"
Seketika aku terhentak dengan pertanyaannya.
"Tau deh. Aku mau tidur,"
***
"Astaga, Mas mamaaaaaaaaaaaan," teriak Minah dipagi hari.
"Ada apa sih ribut begitu? Nanti didengar tetangga" tanyaku. Karena posisiku ada di belakangnya. Sontak kujitak kepala Minah.
"Kenapa kotor begini mobilnya, Mas? Aku kan sudah bilang agar dicuci"
"Coba lihat di sebelah sini bisa ditanami kacang," ucapnya.
"Tidak usah lebay, Minah. Sebentar lagi hujan. Ngapain di cuci?"
"Mas, aku kurang suka orang yang bicara dua kali. Kalau janji yah janji. Jangan mengaku bisa tapi tidak bisa." katanya.
"Kamu ini tambah cerewet yah? Atau mau kalau aku tambah istri satu atau dua lagi?" tanyaku. Dia kibaskan rambutnya dan berkata, "mungkin aku akan sakit hati kalau kau menikah lagi, tapi tentu mas akan tambah pusing. Aku saja belum dinafkahi. Masa mau ditambah lagi"
"Mau dicoba?" ucapku.
"Awas saja kalau berani menduakanku, Mas. Secinta-cintanya aku kepadamu, pantang diri ini diduakan. Entah itu kau menikah lagi ataupun selingkuh."
"Kau mengancamku?"
"Tidak!"
"Lalu?" tanyaku lagi.
"Yah jangan mendua, Mas. Kau tahu, lelaki setia pada satu wanita itu keren ketimbang ditaksir banyak wanita lalu semuanya diberi kesempatan. Apalagi kau sudah punya istri sesempurna ini." kata-kata Minah membuatku ingin muntah.
"Iya ,sempurna. Hitung-hitungannya."
"Hahaha. Mas ada-ada saja. Mbak Marni mana?" katanya.
"Di kamar. Masih sedih dia." ucapku singkat lalu menaiki kursi mobil sebelah kiri. Biar Minah saja yang menyetir.
"Kalau sudah agak mendingan, minta tolong dibantu beres-beres rumah biar adil. Aku yang kerja, mereka bantu bersih-bersih ataupun masak. Masa semua harus aku yang tanggung jawab. Kalau sewa pembantu mahal, mau beli lauk diluar terus juga mahal. Tapi kalau mau membayar, tidak apa-apa kalau mereka gak bantu di rumah. Kecuali tinggal gratis, ya bolehlah.
Ingin sekali rasanya kutukarkan Minah dengan panci di pasar. Itu lebih baik. Setidaknya panci lebih senang bertengger diatas kompor tanpa ada perlawanan. Sedangkan Minah, ampun. Semua serba diperhitungkan.
"Mana bisa mbak Marni kerja-kerja kalau kondisinya begitu?"
Minah yang heran saat menyalakan mesin mobil karena bensinnya sisa satu balok tiba-tiba perhatiannya teralihkan.
"Wah, gak cocok ini. Kenapa bensin sisa segini? Kenapa tidak bertambah. Kemarin satu balok. Masa sudah dipakai tetap satu?"
"Sudah kuisi saat mau ke sana ,tapi balik kesini tentu pakai BBM lagi."
"Tidak boleh begitu dong, Mas. Kan kalian tidak bayar mobil rental, otomatis pengeluaran berkurang. Kenapa tidak beli bensin waktu mau balik lagi kesini?"
"Eh aku baru ingat. Sisa penjualan rumah kan masih ada. Harusnya ibu punya uang. Dan pasti masih berpuluh juta. Aku harus minta ke ibu." lalu masuk kembali ke dalam rumah. Segera aku mengikuti.
*tok*tok*tok*
"Bu, tolong buka pintunya," sahut Minah sambil mengetuk daun pintu kamar tamu yang sekarang ditempati ibu dan mbakku.
Setelah membuka, ibu mengangkat tangan lalu menguap lebar-lebar.
"Bu, bagi duit," ucap Minah seraya menjulurkan tangan.
"Untuk?" tanya ibu.
"Masa mobil dikembalikan dalam keadaan kehausan begitu, Bu. Manusia butuh minum, kendaraan juga."
"Astaga, Man. Istrimu ini sakit jiwa barangkali."
"Orang sakit jiwa mana tahu mata uang, Bu. Tiga ratus ribu cukup itung-itung uang ganti rugi karena seharian mobilku dipakai. Sekalian juga aku mau beli perlengkapan dapur."
"Ahh, gak mau. Aku tinggal disini karena anakku, bukan untuk menumpang sama kamu," gumam ibu. Matanya dipicingkan saking emosinya.
"Umur ibu berapa?"
"Apa urusanmu? Balasn ibu.
"Gak, cuma nanya, Bu."
"Lebih empat puluh" sahutku.
"O, pantas agak pikun. Dia bilang menumpang sama anaknya. Padahal baru saja beberapa kulunasi rumah ini. Eh, sudah lupa lagi." ibu tak berpikir panjang, dilayangkannya tamparan ke wajah Minah.
"Kurang ajar kau!" katanya.
Minah senyum-senyum, "Kan aku ditampar begini, harusnya ibu sudah puas. Nah, sini uangnya!"
"Minaaaaaaaaaaaaaaaaa!" ibu mengepal tangan dan berteriak sejadi-jadinya.
--------
bersambung