Kamis, 20 Februari 2020

(Menurutku) ISTRIKU PELIT 26 - 28 (Tamat)

(Menurutku) ISTRIKU PELIT
Part 26 by Febriani Kharisma
#istrikupelit
Karma dibayar cicil (judul versi buku)
Eps : Mencuri kesempatan/ kesempatan mencuri.

Beban hidup serasa memenuhi seluruh bagi kepala. Sesak dan berdempet-dempetan. Butuh ruang untuk sekedar menjadi tempat menenangkan jiwa. Istri yang harusnya bahu ternyaman, tak lain dari parasit yang mengganggu ketentraman. Beruntung hari ini Minah ke ibu kota Jakarta. Entah untuk apa. Yang jelas, aku bebas berdua-duaan dengan Niar di toko. Setidaknya dengan cara itu tekananku sedikit berkurang.

"Niar, bolehkah kau menjemputku di rumah? Sekalian mengambil kunci. Karena Minah membawa mobilnya ke kota. Aku tidak tahu harus naik apa ke sana," kataku dibalik telepon.
Tak lama Niar dengan motor maticnya datang menjemputku tepat di depan rumah Ibu. Semua mata tetangga seperti mengintai mangsa. Tapi tidak kupedulikan.
"Biar aku saja yang membonceng," ucapku. Niar mengangguk lalu pindah ke bagian belakang. Sengaja ku rem mendadak berkali-kali agar ia bisa memegang pinggangku. Daripada jatuh, tentu ia lebih memilih itu.
"Hati-hati, Mas. Aku takut," teriaknya. Lalu meremas bagian pinggangku.
"Jangan khawatir, dek. Selama ada Maman Surahman, hidup dek Niar tidak kubiarkan terjadi sesuatu yang membahayakan.".

"Mas, bisa aja," katanya. Dan tak berasa toko sudah di depan mata. Ahh, padahal aku masih mau duduk berboncengan dengannya.
"Buka tokonya sebentar saja, kalau sudah ada pembeli kita tutup lagi terus keluar makan bakso. Mumpung Minah belum pulang," ucapku membuka gembok toko.
"Tapi ditraktir kan Mas?" tanyanya.
"Oh jelas, dek. Tapi kau tahu tidak dimana Minah menyimpan hasil penjualannya?"
Dengan lincah Niar berjalan masuk ke meja kasir lalu membuka kunci laci.
"Disini, Mas. Mbak Minah mengumpulkan uang selama sepekan dan ditaruh disini. Katanya kalau di rumah tidak aman. Setelah itu, dia akan menyetor ke bank." kalau rezeki memang tak kemana.
"Coba buka terus hitung sudah ada berapa juta?" kataku mengintip.
"Tunggu kuhitung dulu. Sekarang ini hari kelima, totalnya sudah lebih sepuluh juta"
"Kau serius? Minah dapat uang sebanyak itu perminggu?"

"Iya, Mas. Kan ini toko grosir. Malah ini agak kurang dibanding minggu lalu."
"Kalau begitu, ambil saja dulu dua lembar. Nanti kalau ada kesempatan, biar kucuri saja semua lalu menceraikan Minah. Dan kau mau kan kalau kunikahi?"
"Menikah, Mas? Tapi Mbak Minah itu lumayan berjasa dihidupku. Waktu orang tuaku meninggal, bu Maemunah yang selalu memberiku makan. Tentu dari hasil TKW mbak Minah." ia tertunduk lesu. Padahal sebelumnya tampak bersemangat.
"Tidak usah pedulikan itu. Minah juga orangnya pelit. Tidak pantas diingat kebaikannya. Lagian kamu diberi makan pasti karena bantu-bantu bu Maemunah selama anaknya di Malaysia bukan?" sanggahku. Mencoba merangkul Niar untuk menenangkan.

"Iya sih, Mas. Aku juga iri melihat mbak Minah sukses keuangan lalu dinikahi suami tampan seperti mas Maman. Terus kalau boleh jujur selama kita sering bersama, aku selalu deg-degan, Mas."
Kukecup jemarinya, "Besok aku akan ajak Minah rekreasi di pantai. Sebisa mungkin dia kubuat kelelahan. Hingga ia akan menghabiskan waktunya untuk tidur nyenyak semalaman. Aku akan ada kesempatan untuk mencuri. Terus kubuat seolah-olah tokonya ke malingan. Gimana, keren kan?"
Mata Niar bebinar-binar, "kau benar sekali, Mas. Tapi kalau kalian berlibur. Aku sendirian disini? Aku cemburu, Mas!"
"Ayo sini uangnya. Terus rapikan dulu jualanmu dek. Biar Minah kalau datang nanti sore tidak curiga." lalu bergegas merapikan etalase di toko.
Uang dua ratus ribu tadi kujadikan kipas lalu duduk di atas kursi sambil menaikkan sebelah kaki.

***

"Niar, sudah siang, ayo kita keluar makan bakso dulu." kataku yang gelisah ingin segera membeli makanan dari hasil mengambil uang di laci.
"Tapi masih ada orang, Mas," katanya seraya melayani di meja kasir.
"Kalau selesai, buruan tutup pintunya. Kita kan juga butuh istirahat," kataku yang benar-benar lelah melayani pembeli dan merapikan etalase untuk mencari kelakuan baik.
Setelah pembeli keluar, aku dan Niar segera menutup pintu toko.
"Kita mau makan di warung mana?" tanya Niar.
"Kamu sukanya di mana?"
"Mas Anto baksonya enak, Mas."

Gaya juga si Niar. Dari sekian banyak penjual bakso, mas Anto yang terkenal paling mahal. Masa harga semangkok bakso biasa dua puluh ribu. Bakso urat tiga puluh ribu, bakso telur dua puluh lima dan komplit tiga puluh lima ribu. Tapi tidak masalah. Lagian bukan uangku.
Karena jaraknya lumayan dekat jadi kami berdua hanya berjalan kaki. Setibanya di warung mas Anto, niar tanpa kusuruh langsung memesan
Bakso komplit satu tidak pakai daun bawang terus mienya direbus setengah matang. Sama minumnya jus jeruk dengan jus alpukat.
Satu lagi, kerupuk isi satu porsi yah.
"Kamu bisa habiskan itu?" dia mengangguk kegirangan.
"Iya, Mas."
"Kalau kamu mau pesan apa?"
"Bakso biasa dengan air putih saja,"
Aku menggeleng-geleng ketika Niar makan begitu lahapnya. Seperti orang kesurupan. Bahkan baksoku masih ada seperdua, dia sudah habis tak bersisa. Berikut beserta dengan minum-minumnya terdengar bunyi seruput sampai tetes terakhir. Dan sendawa sebagai penutup. Cantik-cantik kok rakus.

"Ayo, kalau sudah kenyang kita balik ke toko lagi." dia setuju ketika kuajak pulang. Tapi betapa tersentaknya ketika di pintu keluar Lina dan indra turun dari mobil yang sama juga alif.
"Maman jalan sama Niar?" tanya Indra terheran. Lina tampak menggeleng-geleng.
"Kami habis jaga toko jadi makan bareng,"
"Yakin?" tanya Lina.
"Ngapain juga aku bohong. Kamu cemburu?" padahal akulah yang cemburu melihat kedekatan mereka.
"Hahaha tidaklah. Awas ketahuan Minah. Bisa ditinggalkan lagi loh. Kau ini tidak berubah." Jawabnya meledek.
"Bukan urusanmu," ucapku berjalan meninggalkan mereka. Alif bahkan lupa kusapa.
"Tunggu, Mas!" teriak Niar.

***

"Sayang, besok kita rekreasi yuk!" ajakku pada Minah yang sudah datang setelah seharian mengurus sesuatu di kota.
"Untuk?"
"Yah, untuk menghibur diri saja. Kita butuh refreshing. Juga mau kubawa mbak Marni agar bisa move on dari mas Ardy keparat itu," ucapku.
"Mau ke mana?" tanyanya penuh selidik.
"Ke pantai saja," kebetulan mbak Marni memang senang menghabiskan waktu sekadar menatap laut lepas.
"Pantai? Tanjung bunga maksudmu?"
"Iya, Minah sayang."

"Mahal, Mas. Disitu mesti bayar perkepala. Kalau kita berempat berarti harus bayar berapa?" sahutnya.
"Kan cuma dua puluh ribu. Jadi total delapan puluh ribu. Tidak berat bukan?"
"Terus aku yang bayar?"
"Kalau bisa sih, karena kau tahu kan suamimu ini tidak punya pekerjaan."
"Terus makannya disana?"
"Kalau bisa lagi, yah bolehlah kalau ditraktir," kataku.
"Aku bisa saja bayar uang masuk. Tapi kalau makan, lebih baik bawa bekal saja." ucapnya.
"Bekal?"
"Iya, mie goreng dan telur dadar sepertinya enak,"
"Yang benar saja mau makan telur di pantai. Yang ada itu ikan bakar."
"Memangnya ada larangan laut dan telur tak boleh bersatu?" lalu Minah nyengir kuda.
"Bukan gak boleh. Tapi kan ada makanan yang lebih cocok untuk rekreasi."
"Kalau tidak punya uang, jangan terlalu memaksakan sesuatu, Mas. Kalau bisanya cuma makan garam, jangan maksa beli sate." kata Minah sok bijak.
Ingin sekali menjambak rambutnya.

-----


(Menurutku) ISTRIKU PELIT
Part 27
#istrikupelit
Karma dibayar cicil (judul versi buku)
Dua part menuju ending KBM.
Sabtu ceria. Begitu juga dengan hatiku. Berniat membawa mbak Marni untuk refreshing karena setelah kejadian itu, dia betul-betul terpukul. Makannya bisa dihitung jari berapa sendok yang bisa ia telan. Sehingga bagian pipi mulai tirus dan bisa dibilang kurus. Rambut mbak Marni yang dulu selalu disisir rapi-walaupun hanya diikat karet tetap terlihat memesona- sekarang justru acak-acakan.
"Bu, ayo rapikan dulu tampilan mbak Marni. Kasihan nanti kalau dia l
Oditertawakan di sana. Apalagi ini hari sabtu, pasti banyak orang."
W ada sedikit pengharapan. Ibu lalu mengambil baju mbak Marni yang ada di dalam koper. Setiap ditunjukkan, kakakku selalu menggeleng. Ternyata wq jatuh pada setelan hitam-hitam. Baju gamis hitam dan selendang hitam.
"Mbak yakin?" tanyaku. Ia mengangguk dengan lemas. Seketika bulir bening memenuhi pelupuk matanya.
"Kenapa, Mbak?" tanyaku.
Tangisnya tumpah, "dulu mas Ardy selalu kupaksa ke pinggir pantai kalau sore. Walaupun capek sepulang kerja, tapi kalau aku marah-marah, pasti ia selalu mengusahakan. Aku rindu suamiku." ibu yang melihat itu langsung memeluk erat mbak Marni.
"Sudah, Nak. Lupakan Ardy. Semoga nanti ada laki-laki lain yang lebih baik daripada dia," ucap ibu menenangkan.
"Tidak, Bu. Aku mungkin tidak akan pernah lagi menemukan orang sebaik dia yang bisa mengerti semua kekuranganku. Tapi sayang aku sangat keterlaluan jadi istri sehingga kesabaran mas Ardy habis."
"Man, kalau memang kau suka dengan Minah, jaga baik-baik. Jangan sia-siakan seperti mbakmu ini. Giliran mas Ardy sudah tinggalkan mbak, barulah mbak sadar kalau ternyata aku membutuhkannya. Kehilangan sangat mengajarkanku bahwa mas Ardy itu penting. Ini balasan atas dosaku terhadap mertua dan juga mantan iparku, Lina."
"Rencananya aku ingin meninggalkan Minah mbak, tapi tidak dengan tangan kosong."
"Mas!" teriak Minah. Aku gelagapan karena takut kalau Minah dengar.
Dan tenang saat dia berkata, "kenapa lama sekali? Nanti keburu sore. Kan rugi dibayar mahal-mahal tapi kita cuma sebentar di sana."
"Syukurlah dia tidak dengar," bisikku pada ibu dan mbak Marni.
Tangan ibu mengarahkanku untuk segera keluar menemui Minah.
Kubuka pintu kamar tamu dan melihat Minah sudah bersiap ingin segera berangkat. Celana jeans di atas lutut, baju lengan pendek tapi berlubang di bagian pundak. Kacamata hitam lebar nyaris menutupi wajah, juga topi pantai merah yang dihiasi kembang warna warni. Tak lupa rantang bersusun tiga disisi kanan dan kiri tangannya.
"Are you ready?" katanya.
"Yes, i'm fine," ucapku. Minah tertawa terpingkal-pingkal.
"Hahaha, gak nyambung kau, Mas,"
"Ibu dan mbak Marni kenapa belum keluar? Ayo buruan."
"Santai aja kali, Nah. Ini masih siang bolong," sahut ibu yang keluar lebih dulu dari mbak Marni
"Gak papa, Bu. Daripada rugi kalau buru-buru pulang. Mending kita pergi sekarang."
"Mbak Marni ayo!" teriaknya.
Sebagai adik yang bertanggung jawab, aku masuk kembali untuk menjemput mbak Marni yang untuk berjalanpun susah.
"Bu, karena aku yang bayar uang masuk, bolehkah aku meminta tolong untuk membawakan ini?"
"Minah, aku mertuamu. Tolong dong jangan kurang ajar begitu. Mentang-mentang ini rumahmu.
"Apanya yang kurang ajar, Bu? Kan saling membantu. Apa susahnya? Kalau tidak mau, terpaksa uang masuk kita bayar masing-masing saja,"
"Ya sudah!" bentak ibu sambil menarik rantang Minah. Lalu ia berjalan berlenggak-lenggok menuju mobil duluan.
Ibu berbisik, "segera mulai rencanamu lalu tendang Minah jauh-jauh dari kehidupan kita."
***
Kami tiba di tanjung bunga saat matahari sedang terik-teriknya. Yang terasa seperti berada tepat di atas kepala. Kami melewati loket pembayaran. Minah yang duduk di sebelah kiriku mengeluarkan uang seratus ribu.
"Berapa orang, pak?" tanyanya.
"Empat orang," ucap Minah sambil mengacungkan ke empat jemarinya daj agak membungkuk agar bisa dilihat oleh yang bertugas.
"Terima kasih!"katanya dengan mengarahkan tangan agar kami melewati porlat untuk masuk.
"Kembaliannya mana?" teriak Minah seraya membuka kacamata.
"Sudah pas, Bu. Perorang dua puluh lima ribu."
"Loh, kok bisa? Dulu dua puluh ribu,"
Belum selesai mereka berbicara, ku tancap gas mobil.
"Mas, aku belum selesai ngomong. Kenapa uangku semuanya diambil? Yang kuikhlaskan cuma delapan puluh ribu. Katamu dua puluh ribu perorang, tidak tahunya dua lima. Aku tidak mau tahu. Yang kutanggung sesuai kesepakatan awal. Jadi sini lima belas ribunya," bibirnya dimanyun-manyunkah lalu meminta uang."
"Lima belas ribu?" tanyaku.
"Iya. Karena ibu, kamu, dan mbak Marni mesti nambah lima ribu lagi. Tidak usah ganti punyaku. Itu saja yang lima belas ribu,"
"Apa susahnya sih ikhlaskan saja!" kataku dengan nada tinggi.
Minah tetap sopan tapi menusuk, "kata-kata ikhlas memang gampang diucapkan, tapi berat dilakukan. Sini uangnya!"
Kami sudah tiba di tempat parkir tapi belum juga berhenti mempermasalahkan uang tambahan sehingga ibu muak lalu mengeluarkan uang dua puluh ribu.
"Ini ambil saja semuanya!"
"Makasih, Bu. Tapi tidak usah bayarkan tambahan untukku. Ini kembaliannya"
Lalu Minah mengeluarkan pecahan lima ribu kepada ibu. Andai Minah masih seorang siswa, mungkin matematikanya dapat 101 saking jagonya berhitung.
Saat mobil telah terparkir rapi berjejeran dengan beberapa kendaraan milik pengunjung lain. Mbak Marni seperti diberi energi tambahan. Ia keluar tanpa sepatah kata.
"Mau makan dulu?" tanya Minah.
"Nanti saja. Masih kenyang," ucap ibuku.
Parkiran menuju laut lumayan jauh. Kami jalan bertiga beriringan. Sedang mbak Marni terlihat dari kejauhan nyaris sampai ke laut. Tapi panas yang menusuk membuatku menghentikan langkah di bawah pohon yang mungkin sengaja ditanam lurus sejajar dengan pohon lainnya. Di tanjung bunga, tiga pilihan untuk menikmati lautnya. Yang pertama, hamparan pasir yang bersentuhan langsung dengan air, lalu ditengah semacam bangunan kayu yang mirip dermaga lumayan panjang menjulur ke atas laut. Kulihat mbak Marni memilih itu, padahal sangat terik. Nah, yang ketiga di sebelah kiri dermaga ada tumpukan bebatuan hitam besar sangat cantik untuk jadi latar foto model. Apalagi jika datang dipenghujung senja.
Lalu Minah? Di sebelah kanan pohon tempatku berteduh ada sebuah cafe yang menyediakan fasilitas untuk indoor dan outdoor. Terdengar suara musik jazz dan pop bergantian di play oleh salah satu pelayan diluar ruangan. Dia menuju kesitu. Aku dan ibu saling berpandangan.
"Minah mau apa? Mau beli minum?" tanya ibu. Kuangkat kedua bahu pertanda bahwa aku tidak tahu ingin apa dia.
"Coba susul. Nanti dia berulah lagi," ucap ibu.
Aku segera bangkit dan berlari.
"Kamu mau apa?" tanyaku.
"Mau minta tolong diputarkan musik india, Mas." ucapnya.
"Boleh kan, dek?" tanya Minah pada pelayan cafe yang seperti masih ABG. Ia nyengir-nyengir.
"Iya, gak papa. Pengunjung boleh request lagu kok. Tapi baru kali ini ada yang minta lagu india." katanya.
"Memangnya kamu sudah pesan minum? Kan gak boleh asal nyelonong begitu."
"Sudah. Air mineral. Itu yang paling murah," sahutnya.
"Dek, kenapa dijual sepuluh ribu perbotol? Kalau di tokoku cuma lima ribu. Tapi tidak apa-apa asal putarin lagu 'mohabbat dil ka sakoon'
Astaga Minah. Itukan soundtrack film india 'Dil Hai Tumhara' yang aku lupa tahun berapa. Yang jelas pernah kulihat di tv ada adegan joget-jogetnya seperti film india kebanyakan. Ceritanya tentang seorang gadis muda bersemangat jatuh cinta pada anak majikannya. Tapi segera ia menyadari bahwa adiknya sendiri juga jatuh cinta dengannya. Salah satu pemerannya artis india yang sangat cantik, si Preity sinta barangkali.
Jangan-jangan? Ahh daripada malu, aku berlari kembali ke bawah pohon.
"Mas, mau kemana? ayo duet!"
Dengan nafas tersengal-sengal aku tiba di samping ibu.
"Kau kenapa? Dia berulah lagi ya kan?"
"Tunggu saja, Bu!"
Kulihat Minah mengikuti irama musik. Berlarian ke hamparan pasir. Berteriak dan bernyanyi.
[Hey hey hey hey hey hey]
[Aa ha ha ha ha ha]
[Ho ho ho ho ho ho] ia terus menerus berlari lalu kembali lagi dengan tangan terbuka lebar. Angin yang kencang membuat topi yang dikenakan jatuh di atas pasir. Dan sebelum melanjutkan ke lirik, Minah kembali dulu memungutnya
[Mohabbat, dil kaa saku hai aitbar]
[Mohabbat, dil kee tadap hai yeh intjar]
[Mohabbat, dil kaa saku hai aitbar]
[Mohabbat, dil kee tadap hai yeh intjar]
Tak jelas gerakan Minah. Tak seperti di televisi. Kudengar gelak tawa pecah di segala penjuru. Tapi Minah seolah tak peduli. Kututup mata untuk menahan malu dengan tingkahnya. Sedang ibuku berkata, "Hahaha istrimu memang edisi terbatas, Man. Jarang ada orang yang begitu. Nikmati saja detik-detik terakhir bersamanya. Ibu mau ke mbakmu dulu di sana. Takutnya ia nyebur di laut."
Antara malu dan bahagia karena itu pertanda Minah akan teler sepulang dari sini. Hahahaa.
------
 (Menurutku) ISTRIKU PELIT
Part 28
#istripelit
Karma dibayar cicil (judul versi buku)

Pulang dari tanjung bunga, Minah meminta agar aku yang mengemudi. Tak sempat cuci muka atau sekadar mengganti pakaian, ia langsung tepar di atas ranjang. Dan seperti kebiasaannya saat terlelap, ditandai dengan suara ngorok yang terdengar jelas.
Saat ada kesempatan, mengapa aku menjadi ragu. Kalau ketahuan bagaimana? Tapi Minah juga yang salah. Andai dia pelit dan sesuai dengan ekspektasiku, tentu aku akan betah dipelukannya serta tidak mungkin melakukan pekerjaan kotor ini.
Kuambil telepon genggam lalu menghubungi Niar. Niar juga orangnya rada polos, jadi bisalah kumanfaatkan. Soal menikah, harus pikir-pikir dulu. Tidak sanggup aku kalau harus mengulang kisah dengan orang baru lagi. Cukup Minah yang kukira ibu peri justru membuat hatiku semakin perih karena perhitungannya. Cinta juga tidak bisa tumbuh seketika.
"Halo, Niar kamu sedang apa?" tanyaku dibalik telepon. Tentu dengan suara berbisik-bisik.
"Sudah mau tidur, Mas. Kenapa?"
"Minah sudah tidur pulas. Temani ke toko dong,"
"Sekarang?" tanyanya.
"Lusa," ucapku.
"Ya sudah, aku bobo dulu," astaga Niar dan Minah memang jelas hubungan darahnya. Sama-sama tidak peka.
"Sekarang maksudku,"
"Kalau ketahuan gimana, Mas? Aku takut,"
"Santai saja. Semua biar aku yang tanggung."
"Mas yang mau jemput atau aku yang kesana?"
"Tunggu saja disitu,"
Kumatikan telepon lalu masuk ke rumah. Seperti anak bayi yang kelekahan, Minah tak bergerak di atas ranjang. Kunci mobil dan kunci toko sudah kuamankan. Saatnya menjalankan aksi.
Sekitar jam sepuluh malam, Niar menunggu di depan rumahnya. Sebelum naik ke mobil, ia melihat keadaan sekitar. Sunyi sepi. Berbanding terbalik keadaan di sekitar toko Minah. Masih ramai dengan anak muda yang sedang tongkrong di stand minuman. Beli sebotol, dudul berjam-jam.
Niar tampak gugup ketika membuka kunci toko
"Santai saja," kataku.
Toko Minah serasa surga, terbuka lebar dengan aneka macam yabg bisa raib kuambil. Hanya saja tujuan utama ada dalam laci.
"Loh, kok uangnya rapi begini," kata Niar setelah membuka tempat penyimpanan uang.
"Memangnya kenapa kalau rapi?" tanyaku.
"Apa mbak Minah singgah disini sepulang dari kota?"
"Entahlah," ucapku. "Ahh, kau ini lama sekali. Itu tidak penting,"
Karena Niar membuang waktu, segera kuretas uang itu kemudian membuat semuanya berantakan. Mulai dari kotak laci kujatuhkan ke lantai, permen di atas meja -yang biasa digunakan Minah sebagai pengganti uang kembalian kalau tidak ada recehan- kuhamburkan. Semuanya dibuat seolah-olah terjadi perampokan.
"Tunggu kuhitung dulu," sahutku.
"Aku dapat berapa?" Niar menghampiri seraya memegang pundakku.
Waduh, masa dibagi-bagi.
"Kan nanti kamu kunikahi, sayang." tidak apa memberi harapan palsu. Semua dibenarkan dalam situasi mepet. Hahaha.
"Ahh, Mas. Rasanya gak sabar lihat mbak Minah nangis termehek-mehek setelah uang dan suaminya diambil orang," aku berbalik memandangnya. Ia sepertinya benar-benar jatuh hati. Ya ampun, tidak sepatutnya dia seperti itu.
"Kalau masalah itu, aku tidak mungkin mendadak meninggalkan Minah. Bisa ketahuan dong. Mungkin sekitar sebulan atau dua bulan lagi. Tapi sudah kupastikan akan berpisah dengannya."
Bukannya jatuh cinta, sikap agresif Niar membuatku kurang nyaman.
"Ayo kita pulang sekarang,"
"Tapi kenapa yah, aku rasanya mau ambil uang itu juga mas. Untuk beli kacamata anti radiasi. Biar kalau lihat handphone mataku tidak rusak."
"Jangan bergaya kalau tidak ada uang, Niar!"
"Ahh, Mas. Kayak kata-kata mbak Minah. Mana uangnya, sini dong. Dua ratus aja,"
"Ya sudah, tapi jangan bilang-bilang yah!"
"Tenang," katanya.
"Besok masuk
Semua berjalan sesuai rencana. Kakau rezeki memang tak kemana. Ahh, segampang itu mengambil uang Minah. Ini bukan salahku. Yang salah Minah karena terlalu pelit. Rasain dia!
***
Aku tiba di rumah pukul tiga dini hari. Kulihat Minah gelisah tidurnya.
"Mas!" teriaknya. Dan setelah sadar ia menyapu dadanya dan bersandar di bahu ranjang.
"Kamu kenapa?" tanyaku yang baru ingin tidur.
"Mas," ucapnya lalu memelukku.
"Aku mimpi buruk, Mas. Aku takut," kurasa sekujur tubuhnya dipenuhi keringat dingin.
"Tenang sayang. Ada mas disini,"
"Jangan tinggalkan aku, Mas. Maafkan aku kalau belum bisa jadi istri yang baik untukmu."
"Memangnya kamu mimpi apa?"
"Kulihat kau dibawa terbang oleh seekor burung yang bulunya terbuat daro uang pecahan seratus ribu,"
"Hahahaha. Itu karena kamu terlalu memikirkan uang. Sampai-sampai dimimpimu tak jauh-jauh dari itu. Sudah bangun terus ganti baju sana. Kamu bau kambing."
"Mas ada-ada saja."
"Coba angkat tanganmu!"
Minah lalu tertawa setelahnya, "hahaha. Kau benar, Mas. Memang bau. Seharian aku berlarian di pantai berpanas-panasan dan lupa pula memakai deodoran. Kalau begitu, aku ganti baju dulu yah terus bobo."
"Iya!"
Setelah mengganti baju, Minah duduk disisiku sambil memegang segelas air. Ia duduk belujur dan masih gelisah. Aku khawatir. Jangan-jangan karena ia tahu tentang uang yang kuambil.
"Mas, kenapa perasaanku tetap tidak enak yah? Bolehkah malam ini aku tidur di pelukanmu? Rasanya aku sangat gelisah, Mas. Aku takut sesuatu terjadi pada kita,"
Ahh Minah ini dasarnya memang perhitungan. Uang baru diambil segitu, ia sampai sebegitunya. Akhirnya demi kenyamanan Minah dan anggap saja aku sedang memberinya salam perpisahan, kupeluk erat tubuh istriku itu.
Hingga akhirnya ia kembali terlelap.
***
Dipagi hari aku rasanya tak sabar melihat Minah dengan ekspresi kacau di toko nanti. Seperti hari sebelumnya, ia bangun lebih awal dan memasak untuk semua orang di rumah. Dan jelas, porsi tak lebih dan tak kurang sedikitpun. Pas sekali sehingga tak pernah ada yang mubazzir.
Ibu membawakan makanan ke dalam kamar untuk mbak Marni lalu kembali ke meja untuk makan bersama dengan kami.
Minah membuka percakapan, katanya, "Mas, rencananya aku akan meminjamkanmu modal usaha. Jadi semua keuntungan akan dibagi dua. Supaya kamu punya penghasilan sendiri,"
Aku hanya memakan lauk telur rebus, tapi serasa memiliki tulang seperti ikan saat mendengar kata-kata Minah.
"Apa aku tidak salah dengar?"
"Tidak, Mas." aku dan ibu saling menatap. Bibir menganga antara bahagia dan menyesal karena terlanjur mengambil uangnya.
"Tapi kenapa baru sekarang?" tanyaku
"Kan tidak baik kalau terburu-buru. Lagipula tokoku yang satu baru kubuka, masa bikin usaha dua sekaligus dengan waktu yang singkat." benar juga yang dikatakan Minah. Ahh, kenapa aku jadi membelanya.
"Kalau ibu pikir-pikir, memang selama ini kamu keterlaluan jadi istri Minah. Pelitnya gak ketulungan," sambung ibu memotong pembicaraan kami.
"Ibu bukan orang pertama yang bilang begitu. Semua keluargaku selain ibuku juga merasa bahwa aku itu pelit. Tapi terserah merekalah. Aku cuma memegang prinsip keluarkan yang mesti dibiayai. Kalau tidak penting, yah jangan. Asal tidak menyusahkan orang."
"Memang sih terserah kamu, kan itu uangmu. Tapi keterlaluan tau gak sih. Percuma punya uang kalau tidak dinikmati,"
"Tapi kalau aku merasa nikmat dengan berhemat, bagaimana?"
"Terserah," kata ibu.
"Ya sudah. Mas, aku tunggu di mobil yah. Kalau sudah makan, susul aku di depan,"
Setelah Minah keluar dan memastikan ia sampai di mobil, aku berbisik pada ibu. "Bu, aku jadi menyesal mengambil uang Minah. Apa kukembalikan saja?"
"Tidak usah. Itung-itung sebagai balasan karena Minah sudah kurang ajar kepada keluarga kita,"
"Okelah, Bu. Semoga tidak ketahuan."
***
Saat Minah memarkirkan mobil di depan toko, aku juga berusaha agar seolah-olah tak terjadi apa-apa. Niar sudah menunggu di depan toko karena semalam sudah kuberitahu.
"Dari tadi?" tanya Minah ke Niar seraya membuka pintu toko.
"Iya," sahutnya ketus.
Niar melipat kedua tangan di depan dada. Lalu mengernyitkan alis ketika melihatku. Mungkin dia cemburu, tapi itu bukan urusanku. Rasanya aku penasaran melihat ekspresi Minah ketika melihat keadaan di dalam toko.
"Astaga, ada apa ini? Kenapa berantakan sekali? Atau ada kucing di dalam sini?"
"Kucing? Kau ini sempatnya melawak," ucapku.
"Permen, laci berserakan. Uangku!" teriaknya sembari berlari ke tempat penyimpanan uang. Ia bergetar ketika mendapati laci bersisa uang receh dan pecahan seribu.
"Kenapa? Ada apa?" aku dan Niar bergantian pura-pura panik.
Minah menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai dengan tangan bergetar menutupi mulut. Rasa kasihan kembali menyeruak. Ini karena mau dimodali usaha padahal sebelumnya aku sangat bahagia telah mencuri uang Minah.
"Uangku hilang. Siapa yang ambil?" bibirnya gemetar sehingga suara yang dihasilkan juga samar-samar kedengaran.
"Astaga Minah. Jangan-jangan ada perampok?"
"Pasti pencuri itu bukan orang biasa. Dia punya kunci cadangan!"
"Kenapa kau bilang begitu?"
"Toko tertutup rapi, sedangkan dalamnya berantakan. Tidak ada akses lain masuk kesini kecuali pintu depan." kukepalkan tangan dan sesekali bertemu pandang dengan Niar. Kenapa aku seceroboh ini. Kenapa tidak ada dipikiranku kalau semua mencurigakan karena aku lupa membiarkan pintu terbuka saja. Tapi semalam banyak anak muda di depan. Tentu mereka akan curiga. Atau paling tidak akan mengingatkan kalau aku lupa menutupnya.
Aku gugup, bahkan untuk menelan ludah pun sulit.
"Aku harus telepon polisi!" Minah bangkit dan dengan tangan yang masih gemetar meraih telepom genggam di dompet ungunya.
Kuhalau ia segera. Situasi genting begini, untung masih ada sisa-sisa akal yang bisa kupakai.
"Jangan. Jangan!" kataku.
"Kenapa?"
"Kau tidak ingat dengan kejadian di berita-berita. Kalau perampok bisa saja tidak berpikir panjang untuk membunuh ketika marah."
"Maksudnya?" tanya Minah.
"Kalau mereka tahu kau melapor polisi pasti ia akan mengabari anggotanya yang lain untuk menghabisimu," syukurlah Minah mengurungkan niat setelah kutakut-takuti.
"Iya juga yah, Mas. Kalau begitu kutelepon temanku saja,"
Niar hanya bergeming. Tidak berguna juga ternyata. Hanya aku sendiri yang berusaha menghalangi Minah padahal kami berdua pelakunya.
"Temanmu yang mana?" ucapku.
"Ada. Dia mengerti soal IT." IT apa itu? Biar saja. Daripada polisi.
"Siapa itu? Untuk apa?"
"Tunggu saja,"
Minah duduk kembali di atas kursi kasir. Beberapa pembeli mulai berdatangan, tapi kukatakan, "Maaf kami habis kerampokan. Nanti saja yang belinya,"
"Tidak apa-apa,"
"Layani saja Niar." Minah Minah. Memang tidak akan melewatkan kesempatan sedikitpun.
"Mas, sini di dekatku," kata Minah menjulurkan tangan. Ia meminta agar digenggam.
Mungkin sekitar setengah jam teman yang dimaksud Minah datang. Lelaki dengan pahatan wajah yang nyaris sempurna dengan celana hitam kain dan kemeja kotak hitam datang dengan sepeda motornya.
"Ada apa? CCTVnya bermasalah?" tanyanya sembari membuka helm. Kulihat sudut atap. Ternyata Minah diam-diam memasangi kamera pengintai. Ingin kabur tapi tanganku masih ditawannya. Mati aku!
"Kapan? Padahal baru dua hari dipasang, eh sudah kecurian lagi rupanya."
"Semalam," tangis Minah pecah. Ia mendatangi ruangan di sebelah gudang dan Minah mengajakku masuk ke sana. Niar yang sudah tidak sibuk menjual juga ikut dengan kami.
Kenapa aku tidak diberitahu lebih dulu oleh Minah.
"Aku ke WC dulu!" ucapku.
"Jangan, Mas. Tunggu dulu. Tidak lama kok." seketika keringat mengucur deras memenuhi keningku.
Layar TV Lcd yang semuanya jelas memperlihatkan bagian-bagian toko terekam jelas. Ia membuka rekaman mulai sore hingga malam.
Kini giliranku yang gemetar ketika suasana di ruangan mulai gelap
"Itu itu, itu orangnya,"
"Apa kau kenal orang ini?" tanya teman Minah.
Minah membungkukkan badannya agar bisa melihat secara dekat. Aku mundur perlahan dan sedikit lagi bisa kabur tapi Minah berteriak.
"Itu itu itu Ni ni aar dan Mas Maa man" dengan ekspresi penuh amarah Minah menatapku tajam dan dadanya yang naik turun ketika nafasnya tersengal. Baru saja ingin berlari, tangan Minah menunjuk ke arahku seolah mengancam.
"Satu langkah kau keluar dari sini, kupastikan kau membusuk di penjara," ucap Minah. Aku yang tidak punya keberanian mendengar itu segera bersujud di kaki Minah.
"Maafkan aku sayang. Maaf!" kataku.
"Dasar suami tidak tahu diri!" umpatnya.
"Dan kamu Niar, betul-betul tidak tahu berterima kasih. Kurang ajar yah. Awas saja kalian berdua,"
"Maafkan aku, mbak Minah," ucap Niar yang juga berlutut di sebelahku.
"Pulanglah ke rumahmu. Mulai detik ini, kita tidak ada hubungan keluarga lagi. Hewan saja bisa berterima kasih dengan perbuatab ketika diberi makan. Dan kamu? Sejak dulu kuanggap adik sendiri malah tidak tahu membalas budi." sahut Minah.
"Maafkan aku, Mbak!"
"Pergi kau dari sini atau mau kulapor polisi?"
"Jangan mbak. Kumohon jangan,"
"Kalau begitu cepatlah keluar dari sini. Ternyata kalian berdua pengkhianat. Entah dosa apa lagi yang pernah kau dan Maman perbuat."
Niar yang sudah banjir air mata cepat-cepat keluar dari ruangan itu setelah diancam Minah. Sedang aku masih terjebak. Entah nasibku bagaimana kedepannya.
"Jadi pencurinya suami sendiri? Wah ini keterlaluan namanya." teman Minah ikut campur.
"Lepaskan! Aku tidak akan pernah memaafkanmu."
"Terima kasih yah Haris. Untung kemarin aku sudah memasangi CCTV. Itu semua berkatmu. Aku mau pulang dulu," ucap Minah. Kakinya digoyang-goyangkan agar aku melepaskan pelukan di betisnya.
"Ayo kita pulang sekarang!" sepertinya Minah mau bicara baik-baik di rumah. Kami bertiga keluar toko. Aku dan Minah menuju rumah.
Sepanjang jalan aku selalu meminta maaf, tapi Minah enggan melihatku.
Setibanya di rumah, ia berteriak.
"Ibu, mbak Marni, kemasi barang-barang kalian, dan juga kau Maman surahman laki-laki tidak tahu diuntung"
"Apa maksudmu?" tanyaku.
"Maksudku mulai detik ini, kalian jangan lagi tinggal di rumah ini. Aku mau kita pisah!"
"Ada apa ini?" tanya ibu. ibu dan mbak Marni keluar kamar.
"Tidak usah belaga sok tidak tahu, Bu. Aku tahu kalian sudah merencanakan ini semua. Siapapun istri Maman nanti, tidak akan ada yang bisa bertahan kalau punha keluarga serakah seperti kalian."
"Kau tahu kan kalau anakmu ini mencuri di toko istri sendiri? Laki-laki macam apa anakmu ini? Pantas saja kalian tiba-tiba setuju kalau aku menikah dengannya. Ternyata cuma karena uang. Serendah itukah harga dirimu?"
Tanpa berpikir panjang, ibu bersimpuh di kaki Minah.
"Maafkan aku, Nak! Jangan usir kami. Kami tidak punya tempat tinggal lagi selain disini" Kata ibu menangis.
"Kepercayaan itu datangnya cuma sekali, Bu. Sekali tercemar, tidak akan bisa kembali seperti dulu. Pergilah dari sini daripada kulapor ke kantor polisi"
"Ternyata benar kata orang kalau Mas tidak mecintaiku," kulihat air bening menumpuk dipelupuk mata Minah.
"Aku yang bodoh karena dibutakan cinta. Kupikir mas Maman bisa menerima kekuranganku dan tidak mengincar harta yang sebenarnya bukan miliknya. Karena sebenarnya yang harus menafkahi keluarga yah laki-laki bukan perempuan." akhirnya tangisnya pecah. Dadaku terasa sakit sekali melihat Minah terluka.
"Maafkan aku, Minah!" aku turut di samping ibu untuk bersimpuh.
"Aku akan berusaha memaafkan, tapi kumohon pergilah dari sini," ucapnya sesenggukan.
"Aku selalu tahu dan berusaha menerima ketika kalian mengolok-olokku. Pelit dan norak katanya. Tapi itu lebih baik daripada hidup penuh kepura-puraan.".
"Minah maafkan aku!" ucapku menangis tapi tidak mengubah keputusan Minah. Ia tetap memintaku untuk keluar dari rumah orang tuaku yang sudah ia tebus dengan uangnya sendiri. Hidupku dan keluarga hancur karena kami tidak tahu caranya bersyukur. Entah kami harus tinggal dimana. Aku hanya bisa menyesali tanpa tahu cara memperbaiki. Inilah karma dibayar cicil hingga detik ini semua telah lunas. Satu persatu pergi dari genggaman dan yang kudapat hanya kekecewaan.

TAMAT versi KBM
-------