#ByT (Bidadari yang Terluka)
#Mengejar_Cinta_Duda,by Almeera Rosa
Repost.
Bagian 1: Baju Saringan Teh
"Ya elah ... apa nggak ada perjaka, Bu? Kenapa harus duda calonnya?" Aku merengut kesal, saat ibu menyodorkan seorang duda sebagai lelaki yang akan dikenalkan untuk calon pendamping.
"Ya, emang kenapa kalo duda? Yang penting baik dan mapan." Ibu mengerjapkan sebelah matanya. Seolah meyakinkan bahwa Mas Genta adalah lelaki terbaik yang memang pantas kupilih.
"Tapi ganteng nggak, Bu? Secara umurnya jauh banget sama Lita."
"Nggak bakal malu-maluin diajak kondangan kok." Ibu mencuil cuping hidungku. Beliau tahu betul bahwa putri semata wayangnya ini memang penyuka lelaki dewasa. Entah, seperti ada daya tarik tersendiri ketika berhadapan dengan mereka yang usianya jauh di atasku.
πππ
Hari bersejarah itu pun tiba. Aku nampak cantik dengan balutan kebaya modern seksi berwarna putih yang sedikit menampakkan bahu putih mulus. Dengan sanggul pengantin Eropa dan aksen mutiara menambah keanggunanku pagi ini.
Dia ... Genta Prawira telah menunggu tepat di depan meja penghulu. Berhadapan dengan ayahku yang bertindak sebagai wali dan beberapa saksi di sekeliling.
Dengan setelan kemeja putih berbalut jas hitam, Mas Genta tampak gagah dengan aura matangnya. Sungguh lelaki idaman ... minimal di mataku.
"Saya terima nikah dan kawinnya Purnama Jelita binti Muhammad Faisal, dengan mas kawin yang tersebut tunai."
"Sah." Riuh suara terdengar dari ruangan yang berhias bunga mawar dan sedap malam di setiap sudut dindingnya.
Hari ini aku resmi menjadi istri sah dari Mas Genta Prawira. Seorang duda beranak satu yang ditinggal mati oleh istrinya. Kami sama sekali tidak melalui masa pacaran, entah bagaimana asal muasal hingga Mas Genta berkeinginan memperistriku. Yang jelas, sejak pandangan pertama, lelaki berparas biasa itu mampu menghipnotis mata ini untuk terus memandangnya. Aneh bukan? Apa karena dari dulu aku memang pecinta lelaki mature? Entahlah.
Usia kami terpaut cukup jauh, yakni lima belas tahun. Aku yang saat ini masih berusia dua puluh tahun dan tengah duduk di bangku kuliah semester lima, termasuk berani menerima pinangan lelaki berwajah teduh tersebut.
"Mas Genta mau makan? Aku ambilin, ya?" ucapku senyum pada lelaki matang yang ternyata dingin sekali kaya batu es.
"Saya bisa ambil sendiri." Ia berjalan menuju meja prasmanan dengan wajah datar, sama sekali tindak menatapku yang sudah cantik dan seksi ini.
Tiga jam kami berdampingan di pelaminan. Lelaki di sebelah ini benar-benar tak punya hati rasanya. Jangankan ajak bersenda gurau, menegur pun tidak.
Bah, ini laki-laki tau nggak sih kalau bininya itu primadona di kampus? Oke, mungkin karena masih canggung. Secara kita pengantin baru. Baik Mas Genta, kamu yang melamar tandanya kamu yang menginginkanku. Akan terbalas perlakuanmu malam pertama nanti. Kubuat kamu memohon-mohon.
Tak lama kemudian Mas Genta datang membawa sepiring makanan dan dua gelas minuman. Ah, ternyata di balik dinginnya lelaki ini, ia juga romantis. Pasti bakal makan sepiring berdua dan suap-suapan. Luar biasa kamu, Mas.
Aku menatap senyum ke arahnya, ya ... meski tetap dibalas dengan raut wajah datar yang menyebalkan.
"Ian ...! Sini, Nak! Makan dulu."
Berlarilah anak lelaki berusia enam tahun ke arah kami. Kuperhatikan, hidung mancung dan kulit kecokelatan anak ini benar-benar menurun dari Mas Genta. Manis sekali.
"Aaa Ayah ...."
Mulutku masih menganga, ternyata ia bukan hendak menyuapiku tapi anaknya. Duh, lupa aku tuh kalau menikah dengan duda. Jelas dia lebih mementingkan anaknya, tapi ini kan hari bahagia kami. Berkacak pinggang aku menatap Mas Genta yang tersenyum lebar dengan anaknya. Akan tetapi, secuil rasa kagum ini menyelinap ke dalam hati. Bapak-bapak idaman.
"Halo Kakak," panggil anak lelaki tersebut. Segera kupangku ia dan mengajarkannya agar tak memanggilku seperti tadi.
"Panggil bunda aja, Sayang." Anak itu masih menggelendot manja di pangkuanku sampai Mas Genta tiba-tiba menatapku tajam.
"Kamu dipanggil mama saja, jangan bunda. Bunda itu hanya sebutan untuk almarhumah istri saya ... Nadia."
Glek!
Bunyi liur tertelan yang tidak terkontrol. Ucapan yang begitu lembut, tapi menyakitkan.
"Ian kamu panggil aku mama aja, ya."
Ian mengangguk. Sungguh berbeda ayah dan anak ini. Jika si anak amat lucu, manis, ceria, dan menggemaskan. Ayahnya malah ... errrr.
Setelah resepsi selesai, Mas Genta mengajak aku untuk segera pindah ke rumahnya. Menurutnya, wanita setelah menikah memang harus mandiri dan ikut suami.
"Genta ... Lita. Kalian nginap dulu semalam di sini. Kamar pengantin kan juga udah didekor," ujar ibu sambil menyiapkan makan sore untuk kami.
Mas Genta memang benar-benar diperlakukan luar biasa istimewa sama ibu, sampai makan pun diambilkan. Sepertinya memang ibu nih yang kebelet nikahin aku sama dia.
Mataku tetap tertuju pada sosok kebapakan di sebelah. Dengan teliti ia menyuapi anaknya, bahkan nasi di piringnya pun belum sama sekali tersentuh.
"Mas, Ian kan sudah besar. Apa nggak diajarin makan sendiri?"
"Dulu bundanya biasa nyuapinin." Datar ia berucap padaku.
Lagi-lagi almarhumah istrinya. Baik Jelita, nggak mungkin kan cemburu dengan sosok yang bahkan sudah tak ada di dunia.
πππ
Menikmati malam pertama, malam yang paling mendebarkan bagi pengantin di seluruh dunia ... termasuk aku. Berbaring di sebuah ranjang king size yang bertaburan mahkota bunga mawar dengan aroma sedap malam yang begitu menyeruak. Indah sekali, terbayang sudah madu termanis yang hendak kuteguk sebentar lagi.
Krek!
Pintu kamar pun terbuka, Mas Genta masuk hanya dengan menggunakan kaus putih dan celana selutut.
"Pur ...."
"Lita, Mas."
"Purnama kan namamu?"
"Ya, tapi nggak Pur juga kali. Pur ayam apa maksudnya?" ucapku meledek, berusaha agar tak kaku di hadapannya.
Sial! Nggak ketawa sama sekali si Genta itu. Malah ngeloyor pergi dari kamar dengan wajah datar. Benar-benar kau kanebo kering!
"Betah saja pakai kebaya. Ganti dengan baju tidur, sudah saya siapkan di dalam lemari."
"Ya, Mas."
Segera aku membuka lemari, dan ... hah? Ini si Genta diam-diam menghanyutkan rupanya. Masa iya aku disodorin gaun malam tipis. Dingin, sok cuek, tapi mau ... huh.
Entah, karena kekesalan saat di resepsi tadi yang masih berlanjut. Aku berniat mengerjainya malam ini. Kuganti kebayaku dengan baju tidur sesuai permintaannya. Biar dia terpesona dan memohon, tapi akan kuabaikan.
Krek! Pintu kembali terbuka.
"Astaga ... kamu, Pur? Kenapa kamu pake baju saringan tahu? Ganti!" gertaknya seraya menutup mata Ian.
Ya ... Ian, putra semata wayangnya itu akan menemani malam pengantin kami? Benar-benar kamu, Mas.
"Tadi ... kata Mas? Baju di lemari?"
"Bukan itu yang saya maksud, Pur!"
Kembali kuganti pakaianku dengan dress panjang dan lari ke kamar ibu untuk menangis tersedu-sedu.
"Pur!" teriak Mas Genta yang kebetulan berada di ruang televisi saat melihat aku berlari ke kamar ibu.
"Lepasin, Mas!"
"Pur! Jangan kekanak-kanakan!"
"Memanglah aku ini masih belia, nggak kayak kamu yang sudah dewasa tapi justru menyebalkan."
Pintu kamar ibu berhasil terbuka, tapi Mas Genta keburu menarikku duduk di depan televisi. Menyandarkan kepalaku secara paksa ke dadanya.
"Lita tadi kamu panggil ibu? Kenapa, Nak?"
"Nggak, Bu. Ini Lita lagi kagok aja."
Ibu tertawa meledekku, sedangkan aku sangat bersungut pada Mas Genta.
"Biasa itu Lita, kok masih pada di sini? Nggak di kamar? Oia, Ian bobok di kamar ponakan Lita atau kamar ibu aja, Gen?"
Mas Genta tampak kebingungan. Hidung mancungnya kembang kempis saat menjawab pertanyaan ibu. "Ehm, Ian biasa tidur sama saya, Bu. Sebab waktu masih ada mendiang bundanya, punggungnya selalu diusap-usap sebelum tidur."
Ia bangkit, menggandeng aku dan Ian masuk ke kamar. Kami tidur bertiga, dengan posisi Mas Genta di antara aku dan Ian. Tubuhnya membelakangiku, karena sibuk mengusap punggung Ian hingga ia tertidur.
Hampir satu jam Mas Genta mengusap punggung Ian. Aku benar-benar tak kuasa menahan kantuk. Tanpa sadar mata ini pun terpejam, sampai akhirnya merasakan sentuhan halus di area pipi.
"Pur ...."
"Ya Allah, aku biasa dipanggil Lita, Mas." Aku baru sadar jika Mas Genta sudah berbaring menghadapku.
"Kamu bersedia hidup dengan saya dengan segala peraturan yang ada?"
"Peraturan apa, Mas?"
"Kami masih sangat berduka atas meninggalnya Nadia, mantan istriku. Dan Ian ... ia masih amat rindu dengan sosok bundanya. Jadi, bisakah kamu menjelma menjadi Nadia? Mulai dari gaya berpakaian, cara bicara, masakan, dan lain-lain. Kecuali ... panggilan."
Allah ... sebegitu besarkah cinta Mas Genta pada mendiang istrinya? Mampukah aku menggantikan sosok Mbak Nadia? Aku adalah Jelita, gadis dua puluh tahun. Masih labil, tapi dipaksa memahami lelaki yang jauh lebih dewasa sepertinya.
π₯π₯π₯
Saya kembali dengan akun baru, kembali repost cerita. Akun pertama hangus, otomatis seluruh cerita yang dulu di-post di KBM hilang.
Happy reading.
-----
#ByT
Bidadari yang Terluka ( Mengejar Cinta Duda )
Bagian 2
Repost
πππ
"Mana bisa aku seperti Mbak Nadia, Mas. Kami orang yang berbeda. Aku akan menyontoh segala hal baik dari mendiang istrimu, tapi dengan caraku sendiri."
"Maksudmu ... mau menggantikan posisi Nadia di hati saya? Mana bisa, Pur? Sampai kapan pun ia takkan tergantikan."
Bagai kehilangan oksigen sesaat. Napasku sesak mendengar rentetan kalimat yang terucap dari bibir tipis tersebut. Ini malam pengantin kita, Mas. Belum ada 24 jam kami menikah tapi lisannya sudah berani menusuk relung hati ini.
"Bukan menggantikan posisinya, tapi menempati ruang kosong di hatimu. Pastinya bersandingan dengan Mbak Nadia. Ian sudah tidur, Mas?"
Ia mengangguk dan menatapku lekat. Menyusuri setiap helai rambut ini dengan jemarinya. Terpejam mata ini menikmari sentuhan lembutnya. Dugaanku benar, kanebo kering tetap akan lunak ketika terkena air.
"Semua orang punya kisah hidup, Pur. Seperti saya, dan memilihmu sebagai pendamping bukan tanpa alasan."
"Lita, Mas," ucapku sambil menatap mesra lelaki matang di hadapanku. Mengeratkan pelukan di tengkuknya dan mendekatkan wajah kami. Sangat dekat, hingga embusan napas yang keluar baik dari mulut atau hidungnya sangat terasa.
Lita bodoh! Kayaknya tadi pagi mau ngerjain Mas Genta. Ini kenapa gue yang ngebet. Ayolah, Lit! Biarkan ia yang bekerja. Malu-maluin banget diri ini rasanya.
"Ayah ...." Suara Ian mengagetkan sekaligus menghentikan aktivitas yang hendak kami lakukan.
"Tidur, Ian. Sini ayah empok-empok," ucap Mas Genta dengan posisi masih menghadapku tapi tangannya ke belakang empok-empok Ian.
Gurat kecewa tampak jelas di wajah. Segera aku membalikkan badan agar Mas Genta leluasa memeluk Ian.
"Kok kamu balik badan, Pur?"
"Empok-empok Ian dulu aja."
Untunglah aku ini memang suka sama anak kecil. Coba kalau tidak. Sudah kucubit bocah kecil itu. Berani-beraninya mematikan sakelar lampu yang sedang turn on.
Untuk mengurangi rasa kesal, kupejamkan mata ini. Biarlah melanjutkan hal yang tadi tertunda dalam mimpi. Itu pun kalau bisa.
πππ
Adzan shubuh berkumandang, aku masih lelap dalam tidur saat Mas Genta membangunkanku. Rupanya ia telah rapi dengan baju koko dan sarung, hendak menuju masjid.
"Pur ... Pur sayang."
"Lita, Mas!"
"Shalat sana, Pur. Udah shubuh lho. Keluarga kamu nggak ada yang shalat apa? Shubuh gini lampu masih gelap semuanya."
"Ntar-ntaran aja lah, Mas."
"Nadia tak pernah mengundur waktu shalat, Pur."
Segera beranjak dari ranjang dan bergegas menuju kamar mandi. Sepintas kulihat senyum simpul dari Mas Genta dan Ian yang juga ternyata telah bersiap hendak ke masjid.
Selesai shalat, aku mandi dan berhias. Mengganti pakaian dengan baju terusan selutut bertali kecil di bahu. Tentunya pasti terlihat seksi di mata Mas Genta. Polesan minimalis di wajah pun menambah kesan segar pada wajah beliaku. Akan kutaklukan hatimu Mas.
"Pur ... Ian biasa sarapan pagi."
Sarapan? Terus ... maksudnya? Aku yang membuatkan. Ah, lupa bila aku nih sudah menikah. Mana ibu nggak biasa masak pagi. Ribet sudah hidupku sekarang.
"Aku ceplokin telor aja, ya, Mas?"
"Ian biasanya nasi goreng, Pur."
Aku menghela napas kasar, lalu berjalan menuju dapur. Menyiapkan segala bahan untuk membuat nasi goreng. Mulai dari cabe, bawang, kecap, penyedap, dan beberapa piring nasi.
Suara wajan beradu sodet menambah kesan tersendiri di pagi ini. Kenapa? Ini pertama kalinya Purnama Jelita menyiapkan sarapan, biasanya nunggu tukang bubur atau ibu yang menyiapkan. Untunglah ilmu memasak tak seburuk dugaan masyarakat yang mengatakan perempuan cantik dijamin jarang ke dapur.
Lima porsi nasi goreng telur tersaji di meja. Bukannya senyum seperti ibu dan ayah, Mas Genta dan Ian justru tampak melongo.
"Ian tadi katanya lapar?" Mama sendokin ya, Sayang."
"Nasi goreng buatan bunda nggak begini, pakai sayur dan bakso. Baunya juga beda."
Bocah kecil itu langsung lari ke kamar sembari menangis tersedu-sedu memanggil bundanya. Segera Mas Genta menyusul anak kesayangannya. Hancurlah sudah pagi pertamaku, kedua orang tua hanya bisa berdecak lemah dan menguatkan.
Aku terduduk lemah di kursi makan, bertumpu dengan kedua tangan yang bertumpuk di atas meja makan. Menikmati hancurnya pagi pertama bagi seorang pengantin baru yang masih belia.
"Sabar, Lita! Genta dan Ian hanya butuh waktu. Percayalah sama ibu dan bapak, Nak. Kami menerima pinangan suamimu karena memang ia yang terbaik."
Aku beranjak menyusul mereka ke kamar, dan menemukan Mas Genta sedang memeluk erat Ian. Pemandangan yang mengharukan. Begitu terkenang sosok Mbak Nadia, hingga setahun kepergiannya saja seolah masih meninggalkan duka mendalam.
"Ian, cobain nasi goreng buatan mama, ya. Rasa mungkin beda sama bunda, tapi nggak kalah enak kok."
Bocah itu menggeleng, dan malah naik ke pangkuan Mas Genta lantas berbisik sesuatu.
"Ya sudah kalau Ian mau bubur ayam. Tapi kasihan lho mama sudah masakin capek-capek."
Mas Genta membopong Ian di punggungnya, dan berlalu melewatiku tanpa menatap sedikit pun. Entah apa yang ia rasakan, kecewa karena nasi goreng buatanku tak seperti almarhumah istrinya atau ... entahlah!
Sementara mereka mencari bubur, aku menyiapkan beberapa barang-barang yang hendak dibawa ke rumah Mas Genta. Hari ini juga aku pindah. Menurutnya, ia tak ingin lama-lama merepotkan keluargaku.
Tak sengaja ada sesuatu yang jatuh saat aku mencoba menata kembali pakaiannya. Sebuah foto ukuran 4R di mana terdapat gambar wanita cantik bermata sendu yang berhijab. Mungkinkah ini almarhumah istri Mas Genta? Cantik sekali ... aku merasa tidak ada apa-apanya. Bahkan ia membawa foto ini di acara pernikahan kami. Ya Allah, Mas ... sebegitu cintakah kamu dengan Mbak Nadia.
Kembali kumasukkan foto tersebut ke tempat asalnya. Lalu duduk lemas di tepi ranjang, meremas seprai, menangisi keadaan. Membayangkan luka yang mungkin akan kutoreh selama menjalani bahtera dengannya.
Otak seakan memaksa aku untuk menciptakan ide cemerlang. Tentang cara bagaimana menaklukan hati Mas Genta. Segera aku mengganti pakaian dengan style ala Mbak Nadia. Sebuah gamis modern dengan pashmina instant yang tidak terlalu panjang tapi tetap menutup dada. Lalu berkacak pinggang di depan cermin, menikmati pancaran aura yang keluar dari wajah ini setelah menikah. Yeah! Aku tak kalah cantik darimu, Mbak.
Krek!
Suara pintu kamar terbuka, rupanya Mas Genta dan Ian telah kembali ke rumah.
"Pur ... kamu sudah si--ap?"
"Sudah, Mas." Segera ia memasuki kamar dan mendekatiku yang sedang duduk di atas cermin. Tak berhenti ia memandangku kagum meski melalui cermin. Pipinya pun semakin mendekat ke wajahku, hingga aroma permen mint yang habis ia makan terhirup kuat di hidung.
"Kamu cantik sekali, Pur."
Aku membalikkan wajah, menatapnya tak senang. "Par Pur Par Pur. Nggak sekalian dedak?"
Ia sedikit menyunggingkan senyum, lalu perlahan mendekati bibir untuk melanjutkan hal yang semalam tertunda. Tentu, hal manis tersebut tak mungkin kuabaikan begitu saja. Girang aku menyambut ajakannya sampai akhirnya ....
"Ayah ... kapan pulang?"
Huah! Kenapa bocah ini suka sekali mengganggu? Mas Genta pun menghentikan aktivitasnya, dan lebih memilih mendekati Ian.
"Ayo, Pur. Siap-siap!"
"Oke, Mas Pra."
"Pra ...?"
"Namamu Genta Prawira, kan?"
"Tapi dipanggil Genta."
"Ya, aku pun dipanggil Lita."
"Tapi nama depanmu Purnama, saya kan Genta."
"Terserah kamu, Mas. Yang tua memang selalu menang!"
Lagi ... wajahnya datar, sama sekali tak ada senyuman yang tercetak di bibir. Kesal, kulempar kaus kaki ke arahnya, tapi sengaja dibuat tak kena.
"Kamu lempar aku, Pur?"
"Eh-- nggak, mau lempar ke atas lemari tapi nggak sampai."
Akhirnya ... aku, Mas Genta, dan Ian berpamitan dengan orang tua. Setelah menikah, ia berjanji akan menjaga serta melanjutkan biaya kuliahku. Ia menggamit tanganku dan menuntunnya ke mobil. Meski terkesan dingin, ada sisi romantis sendiri yang aku rasakan darinya.
Sesampainya di mobil, Ian langsung memilih duduk di kursi depan. Padahal, baru saja aku akan mendudukinya. Baiklah, rupanya aku akan mengalah lagi sampai akhirnya ucapan Mas Genta membuatku kaget.
"Sayang, kamu di belakang ya, Nak. Ian kan suka tidur, kalau duduk di depan bobonya gimana?"
Hebat! Anak tersebut langsung nurut dengan ayahnya. Tanpa basa-basi ia segera pindah ke kursi belakang. Mas Genta tersenyum ke arahku, manis sekali. Ia mempersilakan aku untuk duduk di sebelahnya.
Perjalanan yang cukup memakan waktu meski sebenarnya jarak tak jauh. Hanya jalanan yang sesak membuat kendaraan kami sulit bergerak. Tampak Ian telah puas di jok belakang, aku pun mulai ngantuk dan tak sadar tertidur.
Tiba-tiba aku merasakan belaian lembut di tangan, kelopak mataku sedikit terbuka dan mendapati tangan kami saling bertautan. Ternyata, diam-diam ia mengusapnya di sepanjang tidurku. Entah sejak kapan rasa hangat ini menjalar ke seluruh peredaran darahku. Membuatku berani untuk bergantian meremas tangannya. Ia pun terkejut.
"Pur ... saya membangunkanmu?"
"Nggak apa-apa, Mas. Teruskan saja!"
Empat puluh lima menit kemudian, kami sampai di sebuah rumah bergaya minimalis. Dengan cat tembok berwarna abu-abu dan putih, menambah kesan elegan.
Halaman rumahnya cukup luas, dengan penataan yang menarin. Beberapa tanaman hias berjejer di depan, beberapa digantung. Halaman yang penuh dengan rumput gajah mini, serta beberapa hiasan seperti bebatuan dan kolam ikan kecil. Indah sendiri, sepertinya Mas Genta memang orang yang apik.
"Pur, ini kuncinya. Kamu tolong bukakan pintu. Saya harus gendong Ian. Barang-barang belakangan aja nanti saya bawa."
"Whoaaa ... luas banget dalamnya." Sungguh terpesona aku menatap isi rumahnya. Sungguh penataan yang cantik. Baru membuka pintu dihadapkan dengan dekorasi yang begitu memanjakan mata. Beberapa guci antik menghiasi sudut rumah, begitu juga dengan hiasan dinding, dan ... tak lupa foto-foto pernikahan mereka yang masih terpajang dengan kokohnya.
"Bagus, ya? Semua yang menata mendiang istriku. O, ya ... aku tidurin Ian dulu di kamar. Kalau di sini kan beda kamar, kamu nggak peka saya ajak pulang kemarin," bisiknya menggoda, hanya entah kenapa aku tak tertarik kali ini.
Setelah menidurkan Ian, Mas Genta menggamit tanganku ke kamar. Membuka lemari, serta mengeluarkan beberapa pakaian wanita.
"Nah, Pur. Ini semua pakaian Nadia. Saya harap kamu bersedia memakainya, badan kalian sama kok. Ada juga beberapa resep masakan, Nadia tuh hobi banget masak dan selalu menyatat resepnya, nanti kamu pelajari, ya."
"Kenapa harus pakaian Mbak Nadia, Mas?"
"Kita sudah menikah. Saya nggak ingin aurat istri saya dinikmati lelaki lain."
"Tapi nggak harus pakaian Mbak Nadia. Aku punya style sendiri, kan?"
"Ayolah, Pur. Demi Ian. Agar ia melihat bundanya hidup dalam diri kamu."
-----
#ByT
Bidadari yang Terluka ( Mengejar Cinta Duda )
Bagian 3
☘☘☘
"Nggak, Mas. Maaf. Sesekali akan kupakai pakaian Mbak Nadia hanya untuk sekadar ganti. Untuk masakan, akan kucoba belajar dari Mbak Nadia, tapi ...."
"Tapi apa, Pur?"
"Istri kecilmu ini nggak bodoh banget, Mas. Apalagi urusan dapur. Aku siap memanjakan perutmu dengan masakan yang pasti akan membuatmu ketagihan."
Mas Genta berbaring menyamping, yang jelas menghadap ke arahku dengan jarak yang benar-benar membuat jantung berdebar kencang. Perlahan ia membuka khimar yang menutup kepala hingga terpampanglah rambut hitam lebat yang terurai sebatas punggung.
Segera kudorong bibir yang hendak menyosor tersebut sejauh mungkin. "Ada syarat!"
"Apa, Pur?"
"Berhenti panggil aku, Pur! Mas Genta raja tega dah, ah." Aku merajuk manja yang kemudian disambut dengan senyum manis Mas Genta.
Ia menarikku ke dalam dekapannya. Membelai setiap helai rambut dengan mesra. Sesekali bibirnya mengecup pucuk kepalaku. Tak ada yang bisa menggambarkan rasa nyaman ini.
Jika gadis lain seusiaku lebih menyukai lelaki seumuran, tapi tidak denganku. Lelaki mature seperti Mas Genta seolah memiliki daya tarik tersendiri.
Lekat kutatap wajah sendunya. Hidung mancung dan bibir seksi dengan kumis tipis yang berbaris di atasnya. Membuatku tak sabar untuk meneguk madu termanis bersamanya.
"Dek ... Dek Pur!"
"Astaghfirullah, Lita Mas."
Yes, setelah 24 jam sah menjadi istrinya. Barulah terlihat barisan gigi di balik cengirannya. Entah apa motivasi ia memanggil seperti itu. Biar beda sendiri atau bagaimana, yang jelas lama-lama aku lebih nyaman dipanggil Pur daripada Lita.
"Kamu lucu. Tadi kalau masih dipanggil Pur nggak mau disosor, ini malah ...."
"Kamu bilang agresif aku pindah ke kamar Ian sekarang!" Aku mengancam, menatapnya penuh tantangan. Lemah ia tertunduk karena tak kuasa menahan pandangan ini.
"Baiklah, Pur! Saya aja yang ke kamar Ian kalau kamu keganggu."
Ia beranjak dari ranjang dan segera membuka pintu. Aku yang kesal justru geregetan sendiri. Pelan kutarik rambut panjang ini seraya menggeram.
"Err ... Mas Gentaaa!"
"Kenapa kamu, Pur?" Polos ia bertanya, tanpa memikirkan perasaan ini.
"Tidurlah sana kamu sama Ian! Hari ini, besok, dan seterusnya. Aku pulang!"
Melihat aku merajuk seperti ini, Mas Genta tersenyum. Ia balik badan dan kembali mendekati. Melakukan hal yang tertunda sejak semalam. Meneguk manisnya surga dunia tanpa gangguan si anak berusia enam tahun tersebut. Kini, aku bukanlah lagi sang bunga yang haus akan datangnya seekor kumbang. Lepas sudah hal yang kujaga selama dua puluh tahun lamanya dengan cara yang diagungkan agama.
Erat ia membawaku dalam dekapan. Terpatah-patah bercerita tentang alasannya memilihku. Sangat klise, karena ia sudah mengenalku sejak lama.
"Memang Mas Genta pernah ketemu aku?"
"Sering. Tapi kamu masih pitik saat itu. Oya, saya nggak bisa cuti lama-lama. Kamu berangkat dan pulang kuliah jam berapa, Pur?"
"Jam tujuh sampai jam dua, kenapa?"
"Nggak ada istirahat gitu? Sementara jemput Ian gitu, Pur."
"Hah ... Mas?" Picik mataku memandang Mas Genta yang ternyata hanya dibalas dengan tatapan polosnya.
"Kamu kan sudah jadi mamanya Ian. Ya, segala keperluan dan apa pun tentangnya kamu yang urus. Dulu bundanya kan ...."
"Stop!" Kuletakkan telunjuk di bibir Mas Genta sebagai isyarat agar ia tidak terus-terusan menyebut mendiang istrinya tersebut.
Awas kamu, Mas! Kutunjukkan pesonaku mulai hari ini.
Segera aku bangkit untuk mandi dan bersih-bersih. Menata seluruh rumah ini 180 derajat berbeda dari sebelumnya. Termasuk mengambil foto-foto peninggalan Mbak Nadia, dan menyimpannya di koper. Mas Genta yang kaget hanya bisa menganga lebar saat aku berusaha membuang seluruh kenangan dengan mendiang istrinya.
"Loh, Pur? Jangan dong!"
"Kamu simpan aja, Mas Pra! Jangan dipajang, hatiku krenyes-krenyes liatnya!" Lekat aku memandang wajah teduh tersebut hingga ia menunduk lemah dan tak berani menjawab perkataanku.
Sekarang aku bergerak mengeluarkan tanaman-tanaman yang dulu diletakkan Mbak Nadia di dalam rumah. Dengan dalih bahwa tanaman melakukan respirasi pada malam hari, secara tidak langsung ... ruangan akan dipenuhi oleh karbondioksida dan tidak baik untuk kesehatan.
"Pur ...."
Tak terasa, tiga jam sudah aku melakukan semuanya. Mas Genta masih duduk tak berpindah dari tempat asal. Ia terkejut karena aku ternyata berani melakukan semua hal ini.
"Mas ... antar aku ke supermarket, ya!"
"Untuk apa, Pur?"
"Nyari bahan makanan untuk makan malam. Makan siang di luar aja, ya."
Segera Ia melangkah ke kamar mencari sesuatu yang kutebak pasti catatan resep masakan ala Mbak Nadia.
"Nyari apa, Mas?"
"Catatan Nadia."
"Tak perlu, Mas. Masakanku akan lebih enak dari Mbak Nadia. Tenang saja!" Aku mengerlingkan mata ke arahnya, sedangkan bibir tipis itu belum juga menutup.
Segera kuganti pakaian dengan gamis casual berwarna baby pink yang senada dengan khimar. Sebenarnya, keinginan menutup aurat sudah ada sejak lama, hanya baru terealisasikan sekarang.
Kami pergi ke supermarket dan membeli berbagai bahan makanan. Tentunya di luar resep Mbak Nadia. Bukan tidak menghargai, tapi dicintai sebagai diri sendiri lebih menyenangkan daripada ketika kita menjelma menjadi sosok lain.
Tangan Ian selalu kugenggam, sesekali memeluk tubuh kecil itu dari belakang. Ia anak yang supel dan mudah beradaptasi, jadi tak sulit untuk mendapatkan hatinya.
☘☘☘
Menu makan malam yang sudah terbayang di kepala adalah sapo tahu seafood, berbekal resep dari internet aku mulai mengolahnya. Memotong lalu menggoreng tahu sutera. Menyiapkan udang, bakso ikan, jamur merang, dan paprika.
Mas Genta tampak asyik memperhatikanku yang sedang masak, tentunya dengan raut wajah datar ala kanebo kering yang sudah menjadi karakternya.
Hanya butuh waktu 30 menit aku memasak, lalu menyajikan makanan tersebut di meja makan dengan bangganya.
"Taraa, sapo tahu seafood yang dibuat penuh cinta ala Mama Lita. Sini aku ambilkan, Mas." Wajahku masih semringah saat menyendok makanan tersebut ke piring Mas Genta sampai akhirnya ia kembali mendorong piring ke arahku.
"Kolesterolku lumayan tinggi, Pur. Kamu mau membunuhku pelan-pelan? Alasan kenapa harus memakai resep Nadia, sebab ia telah menuliskan menu yang tepat untuk kami di setiap harinya. Begitu juga dengan Ian, dia alergi parah makanan laut. Ini dari udang, cumi, bakso ikan, kamu campur semua. Keras kepala kamu, Pur."
Mas Genta menggamit tangan Ian dan pergi keluar rumah, mungkin mencari makanan. Sedangkan aku, menepi dengan hati yang perih. Saat ingin berusaha dicintai tanpa harus menjadi Mbak Nadia, semua malah berantakan. Pelan aku melangkah menuju kamar, mencari catatan resep tersebut Ternyata, ia memang seorang istri dan ibu yang sangat telaten mengurus anak dan suami. Bahkan menu setiap hari pagi sampai sore saja diperhatikan.
Rasa lelah membuatku tidur lebih cepat bahkan sebelum adzan isya berkumandang. Terkejut saat Mas Genta membelai lembut rambut ini seraya mengecup di beberapa bagian wajah.
"Lit ... bangun Sayang. Udah isya."
Hah? Salah dengar nggak, ya? Dia panggil aku Lit, pake sayang segala lagi.
"Pur ... isya nih. Bangun dong. Masa kalah sama Ian."
Aku tersentak saat ia mengguncang pelan bahuku. "Kok Pur lagi? Tadi udah bener panggil Lita?"
"Kapan? Dari tadi juga manggil Pur." Sebelah alisnya naik menatap heran, membuatku semakin bingung. Apakah barusan itu mimpi atau ... entahlah.
☘☘☘
Dua jam sudah mereka meninggalkanku sendirian di rumah. Entah ke mana Mas Genta mengajak Ian hingga begitu lama. Sapo tahu di panci sudah habis tak bersisa. Gemuk--gemuk deh. Biarlah, daripada mubazir karena tak kemakan.
Lambung yang terisi penuh seolah mengirimkan sinyal ke otak untuk segera memejamkan mata. Tak peduli tentang Mas Genta yang masih belum sampai rumah. Biarlah, mungkin ia lupa kalau telah menikah lagi. Tak perlu nunggu berlama-lama, aku lelap begitu saja.
Entah apa penyebab terbangun, dan ternyata jam telah menunjukkan pukul satu malam. Mas Genta terlelap menghadapku, dengan satu tangan melingkar di perut. Pelan aku menyentuh wajah yang masih terlihat menggoda di usianya yang memasuki kepala tiga.
Merasa mendapat respon, sentuhan kulanjutkan dengan mengecup beberapa bagian wajahnya hingga ia sedikit menggeliat dan menyebutkan sebuah nama.
"Aku rindu kamu, Nad ...."
"Allahu ... Mas Genta, sebegitu besarkah cintamu untuknya." Allah, pantaskah aku cemburu pada sosok yang telah terpendam di dalam timbunan tanah? Entah sejak kapan bulir bening ini meluncur deras di pipiku. Nyeri ... tapi tak berdarah.
Pelan aku melepas tangan yang sedari tadi melingkar di perut, lalu berbaring membelakanginya.
"Kamu kok senengnya mantati aku, Pur?"
"Ke mana tadi kamu habis isya?"
"Ajak Ian ke pasar malam. Naik odong-odong.
"Kenapa nggak ajak aku?"
"Ribet lah, Pur. Pulang dulu terus pergi lagi."
"Sakarepmu, Mas. Aku tidur dulu." Kesal, kali ini kulebarkan tangan dan kaki hingga Mas Genta jatuh dari tempat tidur.
Brak!
☘☘☘
"Pur, jangan lupa nasi goreng ala Nadia. Ian suka banget." Ia berucap sambil memberikan jempol kanannya padaku.
"Siap, Mas. Pakai bakso dan sayur, ya?"
"Betul. Selain cantik kamu ini pintar, Sayang."
Berbinar mata ini saat kata sayang tersebut terucap dari bibirnya. Gemas, segera kupeluk erat lelaki berparas syahdu tersebut dan ia membalasnya dengan mengecup pucuk kepala ini.
"Untung kamu pendek, Pur. Jadi aku gampang nyiumnya," ucapnya datar sambil ngeloyor pergi. Menyebalkan.
Setidaknya, pagi ini yang kulakukan tidak sia-sia. Ian mau menghabiskan nasi goreng tersebut, meski masih saja baunya diprotes kalau tidak mirip dengan buatan bundanya.
Sabar, Lita! Mereka cuma butuh waktu.
Jadwal padat pun tiba. Mas Genta mengantar Ian ke sekolahnya sekaligus mengantarku ke kampus. Sepanjang jalan, ia berkali-kali mewanti-wanti untuk menjemput Ian jam sepuluh pagi, dan tidak boleh telat.
Apa daya? Tugas kuliah yang menumpuk membuatku lupa waktu. Masih saja berkutat dengan laptop di perpustakaan dan sadar ketika melihat jam tangan menunjukkan pukul 11 siang. "Ya Allah, Ian ...."
Segera aku berlari, dan memanggil ojek online. Pergi melewati jalanan yang tak lengang. Ditambah teriknya matahari membuat suhu bumi seakan melonjak drastis. Untungnya si pengemudi cukup handal dalam menerobos jalan. Setidaknya tidak memakan waktu lama untuk sampai ke sekolah Ian.
"Semoga Ian masih menunggu Ya Allah." Aku panik, segera berlari masuk ke gerbang sekolah dan mendapati Ian sudah tak ada.
"Ian ....!" Aku memekik khawatir kala Ian tak ada di kelasnya. Segera aku berlari ke ruang guru untuk menanyakan kabar, dan ternyata Ian sudah berlari menuju gerbang dari tadi.
"Ian sudah lari dari tadi, Mbak. Biasanya kalau dia lari begitu suka ada yang jemput."
Terkepal kuat tangan ini, menahan geram pada sosok guru yang terlihat biasa saja melepas siswa kelas 1 SD tanpa pengawalan orang tua.
"Ibu ini bagaimana, sih?" Lelah rasanya jika harus membuang waktu untuk berdebat dengan wali kelas Ian. Segera kuraih benda pipih dari dalam tas dan menghubungi Mas Genta.
Panik!
"Mas ... maaf, tugas kuliah yang padat membuatku telat menjemput. Ian nggak ada, Mas. Hilang." Panik suaraku saat menelepon Mas Genta. Luar biasa khawatir hati ini saat mengetahui Ian sudah tak ada di sekolah. Allah, betapa cerobohnya aku.
"Ian sudah kujemput," ucap Mas Genta singkat dan langsung mematikan panggilan tersebut.
-----
#ByT
Bidadari yang Terluka ( Mengejar Cinta Duda )
Part 4
☘☘☘
[Mas Genta tega banget, telepon dimatiin gitu aja. Maafin aku ya, Mas.]
Tak ada balasan.
Sebongkah organ lunak di dalam terasa nyeri rasanya. Nyatanya, sakit hati tak selalu disebabkan oleh hadirnya orang ketiga. Akan bagaimana aku mampu menjalani bahtera ini ke depannya. Terkadang ingin sekali berontak. Namun, cinta yang mempersulit. Entah, apa yang membuat perasaan ini terlalu dalam pada seseorang yang telah menghalalkanku seminggu yang lalu.
Aku berjalan tertatih di pinggir trotoar seraya mengusap layar ponsel pintar, demi mencari ojek online untuk kembali ke kampus. Rasa khawatir karena Ian bahkan sanggup menghilangkan dahaga yang telah kutahan sejak pagi.
Sesekali aku menyeka bulir keringat yang meluncur deras di sekujur wajah. Membersihkan kacamata akibat debu yang terus menerpa. Melawan sengatan matahari yang luar biasa hingga membuat pipi ini sedikit memerah. Oh, Mas Genta ... andai kamu tahu perjuanganku siang ini. Ini tak mudah, aku si gadis manja bahkan harus seperti ini setelah menikah denganmu.
Dering ponsel memekik tiada henti. Sebuah panggilan tak terjawab dari Sahara.
Sahara : Lita, lo di mana? Dosen udah datang.
Aku : Lah, kan belum jam dua belas. Ya sudah, telat gue. Paling diomelin.
Lima belas menit kemudian, aku tiba di kampus. Pak Hari, dosen Mikrobiologi sudah melotot karena mahasiswinya datang terlambat. Masih dengan peluh bercucuran, kusalimi tangannya dengan takzim.
"Maaf, Pak. Tadi habis jemput anak sekolah."
Dosen tersebut menatapku heran sambil sedikit menaikkan kacamatanya.
"Anak?"
"Iya, Pak. Anak tiri, Jelita kan nikah sama om-om." Riuh tawa mahasiswa memenuhi ruangan ini. Tanpa banyak kata, aku duduk dan segera membuka buku.
Tak terasa, jam dinding telah menunjukkan pukul dua siang. Aku harus kembali ke rumah segera, meski ingin sekali rasanya menerima ajakan kawan untuk ke mall pulang kampus.
Langkahku semakin cepat ketika melihat langit telah bergemuruh. Namun, berhenti ketika melewati tempat cetak foto. Kupikir, tak sabar rasanya memajang foto pernikahan kami di dinding. Mungkin ada baiknya menyetak yang tersimpan di ponsel.
☘☘☘
Bibir ini menyunggingkan senyum kala foto pernikahan kami terpampang di dinding. Sedikit melirik ke arah jam dinding. Oke, sebentar lagi Mas Genta dan Ian pulang. Aku kembali ke dapur untuk menata masakan, tentunya ... kali ini memasak dengan resep Mbak Nadia.
"Assalamu'alaikum."
Girang aku menyambut mereka yang telah tiba di rumah. Kuraih tangan tersebut dan menciumnya dengan takzim, serta mencium kening anak kecil di sebelahnya.
"Ian ... maafin mama, ya. Tadi telat jemput, soalnya tadi lagi repot banget." Bocah kecil itu tersenyum dan memeluk erat.
"Nggak apa-apa, Ma. Tadi juga dijemput ayah kok."
"Mas ... maaf, ya!" Tak banyak kata, ia hanya tersenyum simpul serta mengelus rambutku.
Aku seperti kerepotan sendiri, bingung hendak mendahulukan yang mana, anak atau suami. Ian tampak sedang berganti baju di kamarnya. Baiklah, sepertinya anak itu sudah mahir, tak ada salahnya menyusul Mas Genta ke kamar.
"Mas ... kamu ngapain?" Aku melangkah mendekatinya, berdiri tepat di hadapannya sangat dekat. Di sini aku tahu bahwa tinggi tubuhku tidak melewati bahu Mas Genta, memang mini dari sananya, bukan karena kurang susu waktu kecil.
Perlahan kulepas satu per satu kancing kemejanya, dan diam saat tangan kokohnya mengangkat dagu hingga tatapan kami bertemu selama beberapa saat.
"Kenapa kamu menerima lamaran saya, Pur?"
"Kata ibuku kamu yang terbaik, Mas."
"Nggak ada alasan lain?" Kini tangannya melingkar di punggung, semakin merekatkan jarak di antara kami hingga tak tersisa walau satu sentimeter pun.
Aroma tubuhnya benar-benar membuatku mabuk kepayang. Tak sadar, saat kepala ini telah terbenam ke dadanya, dengan dua tangan memeluk tubuh sedang ini.
"Pur, kok malah meluk? Kemejanya belum kebuka nih? Kamu ... suami baru pulang kerja dipancing-pancing," ledeknya dengan wajah datar, tapi menurutku tetap lucu. Namanya juga cinta.
"Bodo amat, Mas! Kamu yang pepet aku duluan juga!"
"Kamu masak, Pur?"
"Masak dong, resep Mbak Nadia."
"Loh katanya kamu mau memanjakan perut saya dengan resep khasmu?" Kembali ia bertanya dengan wajah dan suara datar, tanpa intonasi dan kontak mata yang berarti.
"Terserah kamu lah, Mas! Serba salah aku."
Kami bertiga di ruang makan sekarang. Dengan jantung berdebar, aku menatap mereka secara bergantian. Ada ketakutan sendiri saat menemani mereka makan. Bayangkan, nikah belum seminggu masakanku selalu diprotes. Semoga kali ini tidak.
Kuperhatikan wajah Mas Genta yang datar bak jalan tol tersebut mengunyah pelan makanan itu, dan ... yes, dia senyum. Begitu juga dengan Ian, paras bahagia terpancar dari wajah manisnya. Mereka benar-benar menyukainya, yes!
"Enak, Mas?" tanyaku penuh asa. Berharap Mas Genta memujiku habis-habisan.
"Biasa saja!"
Glek! Laki peak.
"Enak tau ayah, lebih enak dari masakan bunda." Bocah kecil itu tiba-tiba meracau, dan hebatnya ... mampu menaikkan kembali mood yang sudah dihancurkan oleh ayahnya sendiri. Erat kupeluk Ian yang masih asyik makan, pipi tembam tersebut tak sedikit pun terlewat dari kecupan tulus ini.
Pelan kuinjak kaki Mas Genta.
"Aduh, Pur! Sakit."
"Anakmu saja bilang enak, kamu bilang biasa." Aku merajuk manja padanya, dan kembali dibalas dengan raut wajah datar.
"Saya hanya berusaha jujur, Pur. Anggaplah ini cambukan agar kamu lebih giat belajar masak!"
Matahari semakin bergerak menuju barat, lalu terbenam dan meninggalkan bumi dengan kegelapannya. Kini, suara bising di depan pun tak terdengar, sepertinya anak muda yang suka nongkrong di depan rumah pun sudah pada pulang. Aku masih berkutat di depan laptop setelah satu jam lebih mengusap-usap punggung Ian.
"Sudah malam, Pur. Tidur!"
"Tugasku masih banyak, Mas."
Aku terkejut, ketika segelas susu cokelat tersaji di meja belajar. Rupanya tadi ia ke belakang untuk membuatkan ini. Oh, Mas Genta. Mulai so sweet kamu.
"Kamu nggak pengen ngemil apa? Biar saya beliin. Indomarta belum tutup sepertinya."
"Aku mau kuaci, Mas."
"Hah?" Mulutnya menganga.
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa, lupa saya kalau nikahi anak di bawah umur." Digaruknya rambut lebat tersebut, lalu pergi meninggalkanku.
☘☘☘
Kian hari, aku makin terbiasa dalam menyikapi sikap Mas Genta. Bahkan sudah tak keberatan lagi meski ia selalu memanggilku dengan sebutan Pur. Entah apa alasan besarnya hingga sampai detik ini lidahnya seolah kelu mengucap nama Lita.
Perlahan aku mulai memanjakan perut mereka tanpa harus menyontek catatan resep dari Mbak Nadia. Ian pun tak lagi rewel hanya karena rasa masakanku berbeda dengan mendiang bundanya. Memang tak begitu sulit sebenarnya untuk mengambil hati anak itu, tidak seperti ayahnya.
Sebulan sudah aku menjalani bahtera dengannya, tak mudah sebetulnya ketika kita harus mengubah kebiasaan. Si putri manja yang dulu selalu dimanjakan ibu kini harus bergerak sendiri, justru dituntut untuk melayani dua makhluk lain di sini. Apalagi yang membuat semangat kecuali berharap pahala.
"Pur ... kamu nggak ngampus?"
"Lemes, Mas."
Ia mendekatiku yang tengah terbaring di ranjang, lalu meletakkan punggung tangannya ke beberapa bagian tubuh.
"Demam kamu, kecapean nih. Istirahat aja, Ian saya yang jemput nanti."
"Iya, Mas."
"Ya sudah kamu istirahat, saya berangkat kerja dulu, ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Belum sampai lima langkah berjalan, ia kembali mendekatiku. Menggenggam erat tangan ini serta mengecup kening lama sekali. Ada rasa debar di dalam dada saat Mas Genta memperlakukan diri ini semanis madu. Pelan kuusap punggung tangannya, lalu berpindah perlahan ke lengan atasnya dengan gerakan memijat.
"Kerja sana, Mas."
"Nggak tega, Pur. Izin dulu hari ini, temani kamu. Sekarang saya antar Ian dulu, ya. Setelah itu kembali ke rumah."
Serius? Si Genta izin kerja demi aku? Wew! Bombastis. Rekor ini, perlu dicatat sepertinya! Apa dia udah mulai sayang? Cuma si Gentul ini yang tahu.
Mas Genta pun mengantar Ian ke sekolah. Aku yang bosan, mulai turun dari ranjang dan mencari sesuatu yang menarik. Pelan kaki ini berjalan menuju ruang kerja Mas Genta yang selama ini belum pernah kuusik.
Rumah Mas Genta hanya terdiri dari satu lantai, tapi cukup luas dengan tata ruang yang baik. Kini aku memasuki ruang kerjanya. Sederhana, hanya terdiri atas meja kerja, satu lemari buku dan karpet tebal sebagai alasnya.
Kudekati meja kerjanya dan membuka laptopnya, mengusap keyboard yang sering bersentuhan dengan jemarinya. Begini saja sudah cukup membuatku merasakan hal aneh di dalam hati.
Ah! Ada sesuatu yang membuat pedih mata ini. Di mana terpampang foto mereka bertiga di meja kerja Mas Genta tepat di sebelah fotoku. Ia memajangnya bersebelahan. Apa maksudnya? Membandingkanku dengan Mbak Nadia? Atau sebagai isyarat bahwa ia telah memposisikan istri kecilnya ini sama dengan mendiang istrinya.
Huek!
Tiba-tiba gas di lambung bergejolak, menjalarkan sensasi mual yang amat sangat. Aku berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan semua isi perut. Allah, kenapa ini? Tertatih bangun meski tubuh ini amat gemetaran. Terhuyung-huyung berjalan sambil meraba tembok untuk bertemu kasur tersayang.
Ya ... aktivitas padat yang mengagetkan seolah membuat tubuhku down mendadak. Bahkan sebulan menikah penyakit lambungku sudah dua kali kambuh, untung tidak sampai rawat inap.
Brak! Aku terjatuh ketika hendak menaiki ranjang yang cukup tinggi ini.
"Pur ...!" Setengah berlari Mas Genta menghampiriku yang sedang tergeletak di lantai. Segera ia membopong tubuh kecil ini ke ranjang, melepas kacamata, dan menyelimuti hingga sebatas dada.
"Untung aku nggak kerja, Pur. Akhir-akhir ini kamu sering begadang sih."
"Ya ... demi usap-usap punggung si Ian, kan?"
"Ya maaf, Pur. Ian itu biasa digaruk, diempok sama bundanya dulu. Jadi kayak kebiasaan. Oya, baju Nadia sudah di-laundry sejak kemarin. Kenapa nggak kamu pakai? Malu pakai baju bekas?"
"Ya bukan, Mas. Aku nggak mau aja kamu melihatku sebagai mendiang istrimu. Lagian baju Mbak Nadia ibu-ibu banget, aku kan masih muda."
Kini matanya menyipit, memandangku dengan tatapan yang sukar dijelaskan dengan kata-kata.
"Kok liatin aku gitu, Mas?"
"Kamu berkali-kali selalu mengaku masih muda, berarti saya?"
"Memang kau itu tua, Mas. Mau diapakan lagi?"
Tak banyak bicara, ia justru melepas kancing piyamaku satu per satu serta menampakan wajah penuh hasrat. Segera kuhentikan aktivitasnya hingga wajah tersebut terlihat memendam kekecewaan.
"Jahat kamu, Mas. Istri sakit masih mau digilas juga. Oya, mau tolongin aku nggak?"
"Apa, Pur?" Jelas terdengar suara tersebut sebab bibirnya benar-benar menempel di daun telinga.
"Ke apotek, Mas."
"Beli obat? Maag lagi kayaknya, ya?"
"Bukan, Mas. Testpack ...."
"Hah ...?"
"Kok malah hah? Aku ini wanita bersuami, dan telat haid, lalu muntah-muntah. Salah kalau aku mikir hamil?"
Seketika wajah teduh ini berubah menjadi merah padam. Tak ada gurat kebahagiaan tercetak di wajahnya. Hambar, dan justru terlihat tak senang. Berulang kali kuguncang tubuh sedang tersebut untuk memastikan apa yang ia rasakan. Namun, ia tetap bergeming. Sama sekali tak ada senyum di wajahnya. Sungguh aneh! Di saat lelaki lain mungkin akan semringah bila mengetahui tanda kehamilan pada istrinya, tetapi tidak dengan Mas Genta.
"Nggak, Pur! Kamu nggak boleh hamil!" Wajah sendu itu semakin memanas, giginya gemeretak. Sinar ketakutan bercampur kekecewaan terpancar dari wajahnya.
"Kenapa, Mas?"
"Nggak, Pur! Jangan! Lagi pula selama ini aku berusaha untuk tidak menumpahkan bibit ke dalam rahimmu. Mana mungkin, Pur?"
Kasar ia meremas rambut lebat tersebut, kemudian sedikit mundur hingga punggungnya menabrak tembok. Sungguh aku ketakutan dibuatnya.
"Jangan sampai hamil, Pur!" Ia membentak dengan kasar, sepasang mata nyalang itu kini menatapku dengan tajam.
"Mas Genta ...."
Tbc
----
#ByT
Bidadari yang Terluka (Mengejar Cinta Duda)
Bagian 5
☘☘☘
Dua garis muncul pada alat tes kehamilan. Semua berbahagia, kecuali Mas Genta. Entah apa yang merasuki pikirannya hingga ia seolah tak menginginkan kehamilan ini. Susah payah aku menjalani kehamilan seorang diri. Melewati masa morning sickness yang mendera tanpa bisa bermanja pada suami, ia begitu kaku.
Hampir setiap hari, ibu mertua datang demi membawakan makanan bergizi untuk menantu tersayangnya. Betapa mereka nampak bahagia atas berita bahagia ini. Belum lagi ayah mertua yang jadi hobi menambah uang sakuku. Kehamilan membawa berkah.
"Mas ... ini diminum," ucapku seraya meletakkan cangkir berisi teh hangat di kursi teras.
Mas Genta masih diam, dengan wajah datar ia menyeruput teh tersebut. Tiada lengkung indah yang menghiasi bibir tipis tersebut setelah mengetahui adanya nyawa dalam rahimku. Bergetar aku melihatnya, beragam tanya menari di kepala. Ada apa dengannya?
"Mas ...."
"Hmm ...."
Mas Genta masih asyik berkutat di depan ponsel. Jemarinya terlihat menari-nari lihai di atas benda pipih tersebut, dengan sepasang mata yang fokus tanpa sedikit pun menatap ke arahku.
Kepala yang sedikit pusing membuatku memijat sendiri bagian pelipis ini. Lalu menyandarkan tubuh sepenuhnya di kursi dengan kaki berselonjor. "Duh ... pusing amat, ya."
"Kenapa kamu, Pur?" Segera ia meletakkan ponselnya dan membantuku memijat area kepala dan tengkuk.
"Pusing, Mas."
"Obat udah diminum?"
"Udah ...."
"Oya, Pur. Besok saya ada gathering di kantor tiga hari. Sayangnya kamu sakit sih, tapi nanti saya bawa Ian kok."
"Aku nggak diajak, Mas?"
Ia tak menjawab pertanyaanku, dan malah kembali asyik dengan ponselnya. Sesekali menyuap beberapa pisang goreng ke mulutnya dan menyeruput teh manis.
Tak lama kemudian, ia masuk ke rumah. Segera kuikuti langkahnya yang menuju kamar kami. Ruangan ini tak sehangat sebelumnya, tak ada lagi keceriaan yang biasa menemani hari-hari kami sebelumnya. Aku berbaring di sebelah Mas Genta, menatap dinding kamar yang berwarna biru langit.
"Mas gathering ke mana?"
"Kawah putih-Bandung."
"Mas, nanti sore temenin kontrol ke dokter kandungan." Kugenggam tangan tersebut serta mengarahkan ke perut yang masih rata ini. Membantunya mengusap dari atas ke bawah agar ia menyadari bahwa ada benih yang telah tertanam di dalam sini.
Ia sama sekali tak menampakkan ketertarikan. Justru malah berbaring membelakangiku. Merasa dicuekin, aku bangkit dan hendak turun dari ranjang. Namun, dikagetkan oleh ia yang tiba-tiba mencengkeram tangan. Menahan tubuh ini agar tak pergi.
"Mau ke mana anak kecil?"
"Ke depan, di sini juga dicuekin suami."
"Ya Allah, udah siang, Pur. Si Ian udah kamu buatin makan siang?"
Melihat Mas Genta panik, aku pun ikut-ikutan. Segera berlari kecil menuju dapur untuk membuatkan makan siang. Sejak memasuki usia pernikahan yang ke sebulan, Ian sudah banyak paham bahwa aku mampu bersikap sebaik bundanya dulu. Bahkan kini, anak itu tak sungkan lagi memeluk dan meminta makanan kesukaannya.
"Mama ...."
"Ian ... sabar, ya. Mama buatin makan siang dulu."
"Ian udah makan sama nenek tadi, Ma. Mama istirahat aja."
Bu Nursihati, ibu kandung Mas Genta menghampiriku yang tengah berdiri di depan kompor. Perlahan tangan keriput tersebut mulai mengusap pipi ini dengan sangat lembut, hingga membuat diri ini merasa dicintai.
"Istirahat, Lita. Ian sudah makan sama ibu."
"Makasih, Ibu." Kuciumi tangannya dengan takzim. Ia ibu mertua yang sangat baik. Bibir tipis yang berlekuk indah serupa huruf M tersebut sangat mirip dengan Mas Genta.
Mentari mulai bergeser ke arah barat, menampakkan semburat jingga di langit. Aku masih disibukkan dengan menyiram tanaman di halaman Mas Genta yang hampir kering karena tidak terurus seminggu lamanya.
Sadar karena langit semakin gelap dan dua lelakiku masih belum pulang, rasa khawatir mulai merasuki dada. Pelan aku melangkah ke dalam rumah untuk melihat jam dinding yang ternyata telah menunjukkan pukul 18.10 WIB.
Usai menunaikan shalat Maghrib, aku melangkah menuju cermin. Mematut diri di sana. Memeriksa perubahan kulit yang sedikit menggelap dibanding sebelumnya, efek hormon kehamilan.
"Ish, jadi kusem mukanya," keluhku sendiri di depan cermin seraya mengusap-usap wajah sendiri.
Krek!
Suara pintu terbuka, Mas Genta pun melangkah dan segera memelukku dari belakang.
"Ngapain Pur pipi ditoel-toel?"
"Kulitku kusam, Mas." Aku merajuk manja sembari memperlihatkan bagian wajah yang memang mulai mengusam.
"Coba kamu KB dulu, ya, Pur."
Datar ia berbicara, lalu merebahkan diri di atas ranjang. Mendengar ucapannya aku seperti tertampar. Mengapa? Janin ini telah tumbuh tapi ia berucap demikian.
"Demi apa kamu, Mas? Di saat suami lain bahagia atas kehamilan istrinya. Tapi kamu enggak?"
"Ya kamu masih kuliah, jaga Ian. Kalau kamu hamil apa nggak terbengkalai?"
"Astaghfirullah ... mulutmu, Mas!"
"Coba ke dokter, Pur! Minta diluruhin. Mumpung belum empat bulan."
Tak sengaja, tangan ini melayang cukup kencang ke wajah manisnya. Bagai tersayat hati ini mendengar ucapan lembut tapi menusuk tersebut. Entah apa alasan kuat dibalik prinsipnya. Sungguh, begitu panas telinga ini mendengar kata-kata yang terucap dari bibir tersebut.
"Beginikah tanggapanmu dulu saat Mbak Nadia mengandung?" tanyaku dengan nada menantang. Nyalang mataku memandangnya, seolah mengungkapkan besarnya amarah di dalam dada.
"Nggak."
"Lalu kenapa aku dibedakan?"
"Karena kamu nggak akan pernah sama seperti dia!" Kini sepasang mata tersebut berubah menatapku tajam. Intonasi suaranya naik, membuat hati ini. Ingin rasanya menangis detik ini juga, tapi kutahan. Tak boleh tampak cengeng di hadapannya.
Mas Genta bangkit dan turun dari ranjang. Lalu keluar meninggalkan kamar. Segera aku menyusul dan menarik lengannya. Berusaha membalikkan badan yang cukup tinggi tersebut.
"Mas Genta! Kenapa harus Nadia, Nadia, dan Nadia?"
"Karena saya mencintai dia!" Mata itu kian memicik, menyorotkan sesuatu yang tak kupaham apa maksudnya.
"Lalu kamu anggap apa aku, Mas? Tidakkah kamu mencintaiku?"
Kupeluk erat lengannya, ia masih bergeming. Wajahnya menatap lurus ke depan dengan sorot mata tajam.
"Tapi kamu yang memilihku, Mas."
Kali ini kepalanya berputar, ia menghadapku, menatapku muak. Hidung mancung itu kini terlihat kembang kempis seakan menahan napas yang berat.
"Bukan tanpa alasan saya memilihmu. Sekarang ...."
"Apa, Mas?"
"Kalau kamu mau saya tetap menyayangimu, ikhlaskan anak di perut tersebut!"
"Mas ... jelasin kenapa!"
"Ya sudah! Ucapan saya nggak serius tadi! Pusing kamu kalau nanya itu nyecar terus!"
Mendadak perut tidak bisa diajak kompromi, gas di lambung seolah meletup-letup hendak memuntahkan isinya. Segera aku berlari ke kamar mandi. Terkuraslah sudah isi perutku. Allah, beginikah rasanya mengandung.
Sekilas kutatap Mas Genta yang malah asyik duduk di meja makan, menikmati makan malam yang telah kusiapkan. Sedikit pun ia tak berusaha mengejar, apalagi memijat tengkuk ini.
Huek ... Huek ...!
Aku terus pura-pura muntah, sengaja biar Mas Genta dengar. Nihil! Ia masih bergeming, dan malah asyik dengan pisang gorengnya.
"Biasa aja, Pur. Dulu Nadia hamil nggak gitu-gitu amat!"
Kesal! Kemudian melangkah mendekati meja makan yang terletak tak jauh dari toilet. Kutarik piring berisi pisang goreng tersebut saat tangan Mas Genta hampir menyambarnya.
"Aku goreng bukan buat kamu doang!"
Mulutnya hanya menganga melihatku menghabisi lima pisang goreng sekaligus. Sejak hamil, nafsu makan memang melonjak dua kali lipat. Meski mual tapi ujung-ujungnya selalu lapar.
Ah, waktunya ke dokter kandungan. Aku segera bersiap-siap. Mengganti daster hamil ini dengan gamis dan khimar cokelat yang menutup sampai ke perut. Semenjak menikah aku memang sudah tekad untuk menutup aurat agar menjadi manusia yang jauh lebih baik.
Sedikit sapuan lipstik mauve pada bibir menambah kesan segar di kulit kuning langsat ini. Baik, aku siap ke dokter kandungan tanpa Mas Genta. Sampai delapan Minggu usia kehamilan, ia masih belum terlihat bersemangat untuk mengantar kontrol ke rumah sakit. Semoga aku sabar, Mas.
πΌπΌπΌ
"Selamat malam Bu Purnama," sapa dokter kandungan ramah. Kerut di wajahnya menandakan usianya tak muda lagi, tapi senyum merekahnya menandakan bahwa ia adalah dokter yang baik.
Asisten dokter memintaku berbaring di ranjang periksa, kemudian mengoleskan gel ke perut. Sekarang giliran sang dokter yang menempelkan alat USG ke perut bagian bawah, mencari-cari sang jabang bayi. Ia sedikit membetulkan kacamatanya, matanya menatap fokus pada monitor.
"Bu, detak jantungnya sudah terlihat nih. Alhamdulillah, dijaga baik-baik. Bulan depan kontrol lagi."
Aku masih duduk di depan dokter tersebut. Sesekali mata ini menatap sekeliling. Ruangan bercat putih dengan aroma khas rumah sakit. Jika bukan karena hamil, rasanya aku tak ingin pergi ke sini.
"Ngomong-ngomong, sudah dua kali suami nggak ikut. Ini kan weekend, Bu."
"Sibuk, Pak." Aku berbohong, bahkan mungkin tak mampu tertutup oleh raut wajah ini. Rasa sedih kian menghampiri ketika ditanya pertanyaan seperti itu. Ke mana suaminya, mengapa tidak menemani. Kenyataannya, aku memiliki suami, tidak lembur apalagi LDR. Hanya ia sangat enggan mengantar istrinya ke dokter kandungan.
Aku keluar dari ruangan dokter dan menebus beberapa vitamin di apotek, lalu bergegas pulang. Segera kuraih benda pipih di dalam tas lalu menghubungi Mas Genta.
Aku : Halo, Mas. Aku udah selesai. Jemput, ya.
Mas Genta : Coba naik ojek atau taksi online dulu, ini Ian minta diempok-empok.
Aku : Baik, Mas.
Tanganku gemetar ketika menyentuh layar ponsel ini. Terseok-seok berjalan mencari bangku agar tak jatuh di tengah jalan seperti ini. Selama hamil, seringkali merasa mendadak mual seperti ini. Oke, cukup menanti dua menit agar pengemudi tiba di sini.
Ah, nikmat sekali rasanya bisa bersandar saat tubuh sedang lemas-lemasnya. Tak lama kemudian lelaki dengan jaket dan helm hijau menghampiri. "Mbak Purnama, ya?"
"Betul. Purnama tujuan Jalan Kenanga."
"Naik, Mba."
Baru saja hendak menaiki motor, mataku dikejutkan oleh sosok wanita yang ... Allahuakbar, salah lihat nggak sih? Itu kan ....
Tbc
#Mengejar_Cinta_Duda,by Almeera Rosa
Repost.
Bagian 1: Baju Saringan Teh
"Ya elah ... apa nggak ada perjaka, Bu? Kenapa harus duda calonnya?" Aku merengut kesal, saat ibu menyodorkan seorang duda sebagai lelaki yang akan dikenalkan untuk calon pendamping.
"Ya, emang kenapa kalo duda? Yang penting baik dan mapan." Ibu mengerjapkan sebelah matanya. Seolah meyakinkan bahwa Mas Genta adalah lelaki terbaik yang memang pantas kupilih.
"Tapi ganteng nggak, Bu? Secara umurnya jauh banget sama Lita."
"Nggak bakal malu-maluin diajak kondangan kok." Ibu mencuil cuping hidungku. Beliau tahu betul bahwa putri semata wayangnya ini memang penyuka lelaki dewasa. Entah, seperti ada daya tarik tersendiri ketika berhadapan dengan mereka yang usianya jauh di atasku.
πππ
Hari bersejarah itu pun tiba. Aku nampak cantik dengan balutan kebaya modern seksi berwarna putih yang sedikit menampakkan bahu putih mulus. Dengan sanggul pengantin Eropa dan aksen mutiara menambah keanggunanku pagi ini.
Dia ... Genta Prawira telah menunggu tepat di depan meja penghulu. Berhadapan dengan ayahku yang bertindak sebagai wali dan beberapa saksi di sekeliling.
Dengan setelan kemeja putih berbalut jas hitam, Mas Genta tampak gagah dengan aura matangnya. Sungguh lelaki idaman ... minimal di mataku.
"Saya terima nikah dan kawinnya Purnama Jelita binti Muhammad Faisal, dengan mas kawin yang tersebut tunai."
"Sah." Riuh suara terdengar dari ruangan yang berhias bunga mawar dan sedap malam di setiap sudut dindingnya.
Hari ini aku resmi menjadi istri sah dari Mas Genta Prawira. Seorang duda beranak satu yang ditinggal mati oleh istrinya. Kami sama sekali tidak melalui masa pacaran, entah bagaimana asal muasal hingga Mas Genta berkeinginan memperistriku. Yang jelas, sejak pandangan pertama, lelaki berparas biasa itu mampu menghipnotis mata ini untuk terus memandangnya. Aneh bukan? Apa karena dari dulu aku memang pecinta lelaki mature? Entahlah.
Usia kami terpaut cukup jauh, yakni lima belas tahun. Aku yang saat ini masih berusia dua puluh tahun dan tengah duduk di bangku kuliah semester lima, termasuk berani menerima pinangan lelaki berwajah teduh tersebut.
"Mas Genta mau makan? Aku ambilin, ya?" ucapku senyum pada lelaki matang yang ternyata dingin sekali kaya batu es.
"Saya bisa ambil sendiri." Ia berjalan menuju meja prasmanan dengan wajah datar, sama sekali tindak menatapku yang sudah cantik dan seksi ini.
Tiga jam kami berdampingan di pelaminan. Lelaki di sebelah ini benar-benar tak punya hati rasanya. Jangankan ajak bersenda gurau, menegur pun tidak.
Bah, ini laki-laki tau nggak sih kalau bininya itu primadona di kampus? Oke, mungkin karena masih canggung. Secara kita pengantin baru. Baik Mas Genta, kamu yang melamar tandanya kamu yang menginginkanku. Akan terbalas perlakuanmu malam pertama nanti. Kubuat kamu memohon-mohon.
Tak lama kemudian Mas Genta datang membawa sepiring makanan dan dua gelas minuman. Ah, ternyata di balik dinginnya lelaki ini, ia juga romantis. Pasti bakal makan sepiring berdua dan suap-suapan. Luar biasa kamu, Mas.
Aku menatap senyum ke arahnya, ya ... meski tetap dibalas dengan raut wajah datar yang menyebalkan.
"Ian ...! Sini, Nak! Makan dulu."
Berlarilah anak lelaki berusia enam tahun ke arah kami. Kuperhatikan, hidung mancung dan kulit kecokelatan anak ini benar-benar menurun dari Mas Genta. Manis sekali.
"Aaa Ayah ...."
Mulutku masih menganga, ternyata ia bukan hendak menyuapiku tapi anaknya. Duh, lupa aku tuh kalau menikah dengan duda. Jelas dia lebih mementingkan anaknya, tapi ini kan hari bahagia kami. Berkacak pinggang aku menatap Mas Genta yang tersenyum lebar dengan anaknya. Akan tetapi, secuil rasa kagum ini menyelinap ke dalam hati. Bapak-bapak idaman.
"Halo Kakak," panggil anak lelaki tersebut. Segera kupangku ia dan mengajarkannya agar tak memanggilku seperti tadi.
"Panggil bunda aja, Sayang." Anak itu masih menggelendot manja di pangkuanku sampai Mas Genta tiba-tiba menatapku tajam.
"Kamu dipanggil mama saja, jangan bunda. Bunda itu hanya sebutan untuk almarhumah istri saya ... Nadia."
Glek!
Bunyi liur tertelan yang tidak terkontrol. Ucapan yang begitu lembut, tapi menyakitkan.
"Ian kamu panggil aku mama aja, ya."
Ian mengangguk. Sungguh berbeda ayah dan anak ini. Jika si anak amat lucu, manis, ceria, dan menggemaskan. Ayahnya malah ... errrr.
Setelah resepsi selesai, Mas Genta mengajak aku untuk segera pindah ke rumahnya. Menurutnya, wanita setelah menikah memang harus mandiri dan ikut suami.
"Genta ... Lita. Kalian nginap dulu semalam di sini. Kamar pengantin kan juga udah didekor," ujar ibu sambil menyiapkan makan sore untuk kami.
Mas Genta memang benar-benar diperlakukan luar biasa istimewa sama ibu, sampai makan pun diambilkan. Sepertinya memang ibu nih yang kebelet nikahin aku sama dia.
Mataku tetap tertuju pada sosok kebapakan di sebelah. Dengan teliti ia menyuapi anaknya, bahkan nasi di piringnya pun belum sama sekali tersentuh.
"Mas, Ian kan sudah besar. Apa nggak diajarin makan sendiri?"
"Dulu bundanya biasa nyuapinin." Datar ia berucap padaku.
Lagi-lagi almarhumah istrinya. Baik Jelita, nggak mungkin kan cemburu dengan sosok yang bahkan sudah tak ada di dunia.
πππ
Menikmati malam pertama, malam yang paling mendebarkan bagi pengantin di seluruh dunia ... termasuk aku. Berbaring di sebuah ranjang king size yang bertaburan mahkota bunga mawar dengan aroma sedap malam yang begitu menyeruak. Indah sekali, terbayang sudah madu termanis yang hendak kuteguk sebentar lagi.
Krek!
Pintu kamar pun terbuka, Mas Genta masuk hanya dengan menggunakan kaus putih dan celana selutut.
"Pur ...."
"Lita, Mas."
"Purnama kan namamu?"
"Ya, tapi nggak Pur juga kali. Pur ayam apa maksudnya?" ucapku meledek, berusaha agar tak kaku di hadapannya.
Sial! Nggak ketawa sama sekali si Genta itu. Malah ngeloyor pergi dari kamar dengan wajah datar. Benar-benar kau kanebo kering!
"Betah saja pakai kebaya. Ganti dengan baju tidur, sudah saya siapkan di dalam lemari."
"Ya, Mas."
Segera aku membuka lemari, dan ... hah? Ini si Genta diam-diam menghanyutkan rupanya. Masa iya aku disodorin gaun malam tipis. Dingin, sok cuek, tapi mau ... huh.
Entah, karena kekesalan saat di resepsi tadi yang masih berlanjut. Aku berniat mengerjainya malam ini. Kuganti kebayaku dengan baju tidur sesuai permintaannya. Biar dia terpesona dan memohon, tapi akan kuabaikan.
Krek! Pintu kembali terbuka.
"Astaga ... kamu, Pur? Kenapa kamu pake baju saringan tahu? Ganti!" gertaknya seraya menutup mata Ian.
Ya ... Ian, putra semata wayangnya itu akan menemani malam pengantin kami? Benar-benar kamu, Mas.
"Tadi ... kata Mas? Baju di lemari?"
"Bukan itu yang saya maksud, Pur!"
Kembali kuganti pakaianku dengan dress panjang dan lari ke kamar ibu untuk menangis tersedu-sedu.
"Pur!" teriak Mas Genta yang kebetulan berada di ruang televisi saat melihat aku berlari ke kamar ibu.
"Lepasin, Mas!"
"Pur! Jangan kekanak-kanakan!"
"Memanglah aku ini masih belia, nggak kayak kamu yang sudah dewasa tapi justru menyebalkan."
Pintu kamar ibu berhasil terbuka, tapi Mas Genta keburu menarikku duduk di depan televisi. Menyandarkan kepalaku secara paksa ke dadanya.
"Lita tadi kamu panggil ibu? Kenapa, Nak?"
"Nggak, Bu. Ini Lita lagi kagok aja."
Ibu tertawa meledekku, sedangkan aku sangat bersungut pada Mas Genta.
"Biasa itu Lita, kok masih pada di sini? Nggak di kamar? Oia, Ian bobok di kamar ponakan Lita atau kamar ibu aja, Gen?"
Mas Genta tampak kebingungan. Hidung mancungnya kembang kempis saat menjawab pertanyaan ibu. "Ehm, Ian biasa tidur sama saya, Bu. Sebab waktu masih ada mendiang bundanya, punggungnya selalu diusap-usap sebelum tidur."
Ia bangkit, menggandeng aku dan Ian masuk ke kamar. Kami tidur bertiga, dengan posisi Mas Genta di antara aku dan Ian. Tubuhnya membelakangiku, karena sibuk mengusap punggung Ian hingga ia tertidur.
Hampir satu jam Mas Genta mengusap punggung Ian. Aku benar-benar tak kuasa menahan kantuk. Tanpa sadar mata ini pun terpejam, sampai akhirnya merasakan sentuhan halus di area pipi.
"Pur ...."
"Ya Allah, aku biasa dipanggil Lita, Mas." Aku baru sadar jika Mas Genta sudah berbaring menghadapku.
"Kamu bersedia hidup dengan saya dengan segala peraturan yang ada?"
"Peraturan apa, Mas?"
"Kami masih sangat berduka atas meninggalnya Nadia, mantan istriku. Dan Ian ... ia masih amat rindu dengan sosok bundanya. Jadi, bisakah kamu menjelma menjadi Nadia? Mulai dari gaya berpakaian, cara bicara, masakan, dan lain-lain. Kecuali ... panggilan."
Allah ... sebegitu besarkah cinta Mas Genta pada mendiang istrinya? Mampukah aku menggantikan sosok Mbak Nadia? Aku adalah Jelita, gadis dua puluh tahun. Masih labil, tapi dipaksa memahami lelaki yang jauh lebih dewasa sepertinya.
π₯π₯π₯
Saya kembali dengan akun baru, kembali repost cerita. Akun pertama hangus, otomatis seluruh cerita yang dulu di-post di KBM hilang.
Happy reading.
-----
#ByT
Bidadari yang Terluka ( Mengejar Cinta Duda )
Bagian 2
Repost
πππ
"Mana bisa aku seperti Mbak Nadia, Mas. Kami orang yang berbeda. Aku akan menyontoh segala hal baik dari mendiang istrimu, tapi dengan caraku sendiri."
"Maksudmu ... mau menggantikan posisi Nadia di hati saya? Mana bisa, Pur? Sampai kapan pun ia takkan tergantikan."
Bagai kehilangan oksigen sesaat. Napasku sesak mendengar rentetan kalimat yang terucap dari bibir tipis tersebut. Ini malam pengantin kita, Mas. Belum ada 24 jam kami menikah tapi lisannya sudah berani menusuk relung hati ini.
"Bukan menggantikan posisinya, tapi menempati ruang kosong di hatimu. Pastinya bersandingan dengan Mbak Nadia. Ian sudah tidur, Mas?"
Ia mengangguk dan menatapku lekat. Menyusuri setiap helai rambut ini dengan jemarinya. Terpejam mata ini menikmari sentuhan lembutnya. Dugaanku benar, kanebo kering tetap akan lunak ketika terkena air.
"Semua orang punya kisah hidup, Pur. Seperti saya, dan memilihmu sebagai pendamping bukan tanpa alasan."
"Lita, Mas," ucapku sambil menatap mesra lelaki matang di hadapanku. Mengeratkan pelukan di tengkuknya dan mendekatkan wajah kami. Sangat dekat, hingga embusan napas yang keluar baik dari mulut atau hidungnya sangat terasa.
Lita bodoh! Kayaknya tadi pagi mau ngerjain Mas Genta. Ini kenapa gue yang ngebet. Ayolah, Lit! Biarkan ia yang bekerja. Malu-maluin banget diri ini rasanya.
"Ayah ...." Suara Ian mengagetkan sekaligus menghentikan aktivitas yang hendak kami lakukan.
"Tidur, Ian. Sini ayah empok-empok," ucap Mas Genta dengan posisi masih menghadapku tapi tangannya ke belakang empok-empok Ian.
Gurat kecewa tampak jelas di wajah. Segera aku membalikkan badan agar Mas Genta leluasa memeluk Ian.
"Kok kamu balik badan, Pur?"
"Empok-empok Ian dulu aja."
Untunglah aku ini memang suka sama anak kecil. Coba kalau tidak. Sudah kucubit bocah kecil itu. Berani-beraninya mematikan sakelar lampu yang sedang turn on.
Untuk mengurangi rasa kesal, kupejamkan mata ini. Biarlah melanjutkan hal yang tadi tertunda dalam mimpi. Itu pun kalau bisa.
πππ
Adzan shubuh berkumandang, aku masih lelap dalam tidur saat Mas Genta membangunkanku. Rupanya ia telah rapi dengan baju koko dan sarung, hendak menuju masjid.
"Pur ... Pur sayang."
"Lita, Mas!"
"Shalat sana, Pur. Udah shubuh lho. Keluarga kamu nggak ada yang shalat apa? Shubuh gini lampu masih gelap semuanya."
"Ntar-ntaran aja lah, Mas."
"Nadia tak pernah mengundur waktu shalat, Pur."
Segera beranjak dari ranjang dan bergegas menuju kamar mandi. Sepintas kulihat senyum simpul dari Mas Genta dan Ian yang juga ternyata telah bersiap hendak ke masjid.
Selesai shalat, aku mandi dan berhias. Mengganti pakaian dengan baju terusan selutut bertali kecil di bahu. Tentunya pasti terlihat seksi di mata Mas Genta. Polesan minimalis di wajah pun menambah kesan segar pada wajah beliaku. Akan kutaklukan hatimu Mas.
"Pur ... Ian biasa sarapan pagi."
Sarapan? Terus ... maksudnya? Aku yang membuatkan. Ah, lupa bila aku nih sudah menikah. Mana ibu nggak biasa masak pagi. Ribet sudah hidupku sekarang.
"Aku ceplokin telor aja, ya, Mas?"
"Ian biasanya nasi goreng, Pur."
Aku menghela napas kasar, lalu berjalan menuju dapur. Menyiapkan segala bahan untuk membuat nasi goreng. Mulai dari cabe, bawang, kecap, penyedap, dan beberapa piring nasi.
Suara wajan beradu sodet menambah kesan tersendiri di pagi ini. Kenapa? Ini pertama kalinya Purnama Jelita menyiapkan sarapan, biasanya nunggu tukang bubur atau ibu yang menyiapkan. Untunglah ilmu memasak tak seburuk dugaan masyarakat yang mengatakan perempuan cantik dijamin jarang ke dapur.
Lima porsi nasi goreng telur tersaji di meja. Bukannya senyum seperti ibu dan ayah, Mas Genta dan Ian justru tampak melongo.
"Ian tadi katanya lapar?" Mama sendokin ya, Sayang."
"Nasi goreng buatan bunda nggak begini, pakai sayur dan bakso. Baunya juga beda."
Bocah kecil itu langsung lari ke kamar sembari menangis tersedu-sedu memanggil bundanya. Segera Mas Genta menyusul anak kesayangannya. Hancurlah sudah pagi pertamaku, kedua orang tua hanya bisa berdecak lemah dan menguatkan.
Aku terduduk lemah di kursi makan, bertumpu dengan kedua tangan yang bertumpuk di atas meja makan. Menikmati hancurnya pagi pertama bagi seorang pengantin baru yang masih belia.
"Sabar, Lita! Genta dan Ian hanya butuh waktu. Percayalah sama ibu dan bapak, Nak. Kami menerima pinangan suamimu karena memang ia yang terbaik."
Aku beranjak menyusul mereka ke kamar, dan menemukan Mas Genta sedang memeluk erat Ian. Pemandangan yang mengharukan. Begitu terkenang sosok Mbak Nadia, hingga setahun kepergiannya saja seolah masih meninggalkan duka mendalam.
"Ian, cobain nasi goreng buatan mama, ya. Rasa mungkin beda sama bunda, tapi nggak kalah enak kok."
Bocah itu menggeleng, dan malah naik ke pangkuan Mas Genta lantas berbisik sesuatu.
"Ya sudah kalau Ian mau bubur ayam. Tapi kasihan lho mama sudah masakin capek-capek."
Mas Genta membopong Ian di punggungnya, dan berlalu melewatiku tanpa menatap sedikit pun. Entah apa yang ia rasakan, kecewa karena nasi goreng buatanku tak seperti almarhumah istrinya atau ... entahlah!
Sementara mereka mencari bubur, aku menyiapkan beberapa barang-barang yang hendak dibawa ke rumah Mas Genta. Hari ini juga aku pindah. Menurutnya, ia tak ingin lama-lama merepotkan keluargaku.
Tak sengaja ada sesuatu yang jatuh saat aku mencoba menata kembali pakaiannya. Sebuah foto ukuran 4R di mana terdapat gambar wanita cantik bermata sendu yang berhijab. Mungkinkah ini almarhumah istri Mas Genta? Cantik sekali ... aku merasa tidak ada apa-apanya. Bahkan ia membawa foto ini di acara pernikahan kami. Ya Allah, Mas ... sebegitu cintakah kamu dengan Mbak Nadia.
Kembali kumasukkan foto tersebut ke tempat asalnya. Lalu duduk lemas di tepi ranjang, meremas seprai, menangisi keadaan. Membayangkan luka yang mungkin akan kutoreh selama menjalani bahtera dengannya.
Otak seakan memaksa aku untuk menciptakan ide cemerlang. Tentang cara bagaimana menaklukan hati Mas Genta. Segera aku mengganti pakaian dengan style ala Mbak Nadia. Sebuah gamis modern dengan pashmina instant yang tidak terlalu panjang tapi tetap menutup dada. Lalu berkacak pinggang di depan cermin, menikmati pancaran aura yang keluar dari wajah ini setelah menikah. Yeah! Aku tak kalah cantik darimu, Mbak.
Krek!
Suara pintu kamar terbuka, rupanya Mas Genta dan Ian telah kembali ke rumah.
"Pur ... kamu sudah si--ap?"
"Sudah, Mas." Segera ia memasuki kamar dan mendekatiku yang sedang duduk di atas cermin. Tak berhenti ia memandangku kagum meski melalui cermin. Pipinya pun semakin mendekat ke wajahku, hingga aroma permen mint yang habis ia makan terhirup kuat di hidung.
"Kamu cantik sekali, Pur."
Aku membalikkan wajah, menatapnya tak senang. "Par Pur Par Pur. Nggak sekalian dedak?"
Ia sedikit menyunggingkan senyum, lalu perlahan mendekati bibir untuk melanjutkan hal yang semalam tertunda. Tentu, hal manis tersebut tak mungkin kuabaikan begitu saja. Girang aku menyambut ajakannya sampai akhirnya ....
"Ayah ... kapan pulang?"
Huah! Kenapa bocah ini suka sekali mengganggu? Mas Genta pun menghentikan aktivitasnya, dan lebih memilih mendekati Ian.
"Ayo, Pur. Siap-siap!"
"Oke, Mas Pra."
"Pra ...?"
"Namamu Genta Prawira, kan?"
"Tapi dipanggil Genta."
"Ya, aku pun dipanggil Lita."
"Tapi nama depanmu Purnama, saya kan Genta."
"Terserah kamu, Mas. Yang tua memang selalu menang!"
Lagi ... wajahnya datar, sama sekali tak ada senyuman yang tercetak di bibir. Kesal, kulempar kaus kaki ke arahnya, tapi sengaja dibuat tak kena.
"Kamu lempar aku, Pur?"
"Eh-- nggak, mau lempar ke atas lemari tapi nggak sampai."
Akhirnya ... aku, Mas Genta, dan Ian berpamitan dengan orang tua. Setelah menikah, ia berjanji akan menjaga serta melanjutkan biaya kuliahku. Ia menggamit tanganku dan menuntunnya ke mobil. Meski terkesan dingin, ada sisi romantis sendiri yang aku rasakan darinya.
Sesampainya di mobil, Ian langsung memilih duduk di kursi depan. Padahal, baru saja aku akan mendudukinya. Baiklah, rupanya aku akan mengalah lagi sampai akhirnya ucapan Mas Genta membuatku kaget.
"Sayang, kamu di belakang ya, Nak. Ian kan suka tidur, kalau duduk di depan bobonya gimana?"
Hebat! Anak tersebut langsung nurut dengan ayahnya. Tanpa basa-basi ia segera pindah ke kursi belakang. Mas Genta tersenyum ke arahku, manis sekali. Ia mempersilakan aku untuk duduk di sebelahnya.
Perjalanan yang cukup memakan waktu meski sebenarnya jarak tak jauh. Hanya jalanan yang sesak membuat kendaraan kami sulit bergerak. Tampak Ian telah puas di jok belakang, aku pun mulai ngantuk dan tak sadar tertidur.
Tiba-tiba aku merasakan belaian lembut di tangan, kelopak mataku sedikit terbuka dan mendapati tangan kami saling bertautan. Ternyata, diam-diam ia mengusapnya di sepanjang tidurku. Entah sejak kapan rasa hangat ini menjalar ke seluruh peredaran darahku. Membuatku berani untuk bergantian meremas tangannya. Ia pun terkejut.
"Pur ... saya membangunkanmu?"
"Nggak apa-apa, Mas. Teruskan saja!"
Empat puluh lima menit kemudian, kami sampai di sebuah rumah bergaya minimalis. Dengan cat tembok berwarna abu-abu dan putih, menambah kesan elegan.
Halaman rumahnya cukup luas, dengan penataan yang menarin. Beberapa tanaman hias berjejer di depan, beberapa digantung. Halaman yang penuh dengan rumput gajah mini, serta beberapa hiasan seperti bebatuan dan kolam ikan kecil. Indah sendiri, sepertinya Mas Genta memang orang yang apik.
"Pur, ini kuncinya. Kamu tolong bukakan pintu. Saya harus gendong Ian. Barang-barang belakangan aja nanti saya bawa."
"Whoaaa ... luas banget dalamnya." Sungguh terpesona aku menatap isi rumahnya. Sungguh penataan yang cantik. Baru membuka pintu dihadapkan dengan dekorasi yang begitu memanjakan mata. Beberapa guci antik menghiasi sudut rumah, begitu juga dengan hiasan dinding, dan ... tak lupa foto-foto pernikahan mereka yang masih terpajang dengan kokohnya.
"Bagus, ya? Semua yang menata mendiang istriku. O, ya ... aku tidurin Ian dulu di kamar. Kalau di sini kan beda kamar, kamu nggak peka saya ajak pulang kemarin," bisiknya menggoda, hanya entah kenapa aku tak tertarik kali ini.
Setelah menidurkan Ian, Mas Genta menggamit tanganku ke kamar. Membuka lemari, serta mengeluarkan beberapa pakaian wanita.
"Nah, Pur. Ini semua pakaian Nadia. Saya harap kamu bersedia memakainya, badan kalian sama kok. Ada juga beberapa resep masakan, Nadia tuh hobi banget masak dan selalu menyatat resepnya, nanti kamu pelajari, ya."
"Kenapa harus pakaian Mbak Nadia, Mas?"
"Kita sudah menikah. Saya nggak ingin aurat istri saya dinikmati lelaki lain."
"Tapi nggak harus pakaian Mbak Nadia. Aku punya style sendiri, kan?"
"Ayolah, Pur. Demi Ian. Agar ia melihat bundanya hidup dalam diri kamu."
-----
#ByT
Bidadari yang Terluka ( Mengejar Cinta Duda )
Bagian 3
☘☘☘
"Nggak, Mas. Maaf. Sesekali akan kupakai pakaian Mbak Nadia hanya untuk sekadar ganti. Untuk masakan, akan kucoba belajar dari Mbak Nadia, tapi ...."
"Tapi apa, Pur?"
"Istri kecilmu ini nggak bodoh banget, Mas. Apalagi urusan dapur. Aku siap memanjakan perutmu dengan masakan yang pasti akan membuatmu ketagihan."
Mas Genta berbaring menyamping, yang jelas menghadap ke arahku dengan jarak yang benar-benar membuat jantung berdebar kencang. Perlahan ia membuka khimar yang menutup kepala hingga terpampanglah rambut hitam lebat yang terurai sebatas punggung.
Segera kudorong bibir yang hendak menyosor tersebut sejauh mungkin. "Ada syarat!"
"Apa, Pur?"
"Berhenti panggil aku, Pur! Mas Genta raja tega dah, ah." Aku merajuk manja yang kemudian disambut dengan senyum manis Mas Genta.
Ia menarikku ke dalam dekapannya. Membelai setiap helai rambut dengan mesra. Sesekali bibirnya mengecup pucuk kepalaku. Tak ada yang bisa menggambarkan rasa nyaman ini.
Jika gadis lain seusiaku lebih menyukai lelaki seumuran, tapi tidak denganku. Lelaki mature seperti Mas Genta seolah memiliki daya tarik tersendiri.
Lekat kutatap wajah sendunya. Hidung mancung dan bibir seksi dengan kumis tipis yang berbaris di atasnya. Membuatku tak sabar untuk meneguk madu termanis bersamanya.
"Dek ... Dek Pur!"
"Astaghfirullah, Lita Mas."
Yes, setelah 24 jam sah menjadi istrinya. Barulah terlihat barisan gigi di balik cengirannya. Entah apa motivasi ia memanggil seperti itu. Biar beda sendiri atau bagaimana, yang jelas lama-lama aku lebih nyaman dipanggil Pur daripada Lita.
"Kamu lucu. Tadi kalau masih dipanggil Pur nggak mau disosor, ini malah ...."
"Kamu bilang agresif aku pindah ke kamar Ian sekarang!" Aku mengancam, menatapnya penuh tantangan. Lemah ia tertunduk karena tak kuasa menahan pandangan ini.
"Baiklah, Pur! Saya aja yang ke kamar Ian kalau kamu keganggu."
Ia beranjak dari ranjang dan segera membuka pintu. Aku yang kesal justru geregetan sendiri. Pelan kutarik rambut panjang ini seraya menggeram.
"Err ... Mas Gentaaa!"
"Kenapa kamu, Pur?" Polos ia bertanya, tanpa memikirkan perasaan ini.
"Tidurlah sana kamu sama Ian! Hari ini, besok, dan seterusnya. Aku pulang!"
Melihat aku merajuk seperti ini, Mas Genta tersenyum. Ia balik badan dan kembali mendekati. Melakukan hal yang tertunda sejak semalam. Meneguk manisnya surga dunia tanpa gangguan si anak berusia enam tahun tersebut. Kini, aku bukanlah lagi sang bunga yang haus akan datangnya seekor kumbang. Lepas sudah hal yang kujaga selama dua puluh tahun lamanya dengan cara yang diagungkan agama.
Erat ia membawaku dalam dekapan. Terpatah-patah bercerita tentang alasannya memilihku. Sangat klise, karena ia sudah mengenalku sejak lama.
"Memang Mas Genta pernah ketemu aku?"
"Sering. Tapi kamu masih pitik saat itu. Oya, saya nggak bisa cuti lama-lama. Kamu berangkat dan pulang kuliah jam berapa, Pur?"
"Jam tujuh sampai jam dua, kenapa?"
"Nggak ada istirahat gitu? Sementara jemput Ian gitu, Pur."
"Hah ... Mas?" Picik mataku memandang Mas Genta yang ternyata hanya dibalas dengan tatapan polosnya.
"Kamu kan sudah jadi mamanya Ian. Ya, segala keperluan dan apa pun tentangnya kamu yang urus. Dulu bundanya kan ...."
"Stop!" Kuletakkan telunjuk di bibir Mas Genta sebagai isyarat agar ia tidak terus-terusan menyebut mendiang istrinya tersebut.
Awas kamu, Mas! Kutunjukkan pesonaku mulai hari ini.
Segera aku bangkit untuk mandi dan bersih-bersih. Menata seluruh rumah ini 180 derajat berbeda dari sebelumnya. Termasuk mengambil foto-foto peninggalan Mbak Nadia, dan menyimpannya di koper. Mas Genta yang kaget hanya bisa menganga lebar saat aku berusaha membuang seluruh kenangan dengan mendiang istrinya.
"Loh, Pur? Jangan dong!"
"Kamu simpan aja, Mas Pra! Jangan dipajang, hatiku krenyes-krenyes liatnya!" Lekat aku memandang wajah teduh tersebut hingga ia menunduk lemah dan tak berani menjawab perkataanku.
Sekarang aku bergerak mengeluarkan tanaman-tanaman yang dulu diletakkan Mbak Nadia di dalam rumah. Dengan dalih bahwa tanaman melakukan respirasi pada malam hari, secara tidak langsung ... ruangan akan dipenuhi oleh karbondioksida dan tidak baik untuk kesehatan.
"Pur ...."
Tak terasa, tiga jam sudah aku melakukan semuanya. Mas Genta masih duduk tak berpindah dari tempat asal. Ia terkejut karena aku ternyata berani melakukan semua hal ini.
"Mas ... antar aku ke supermarket, ya!"
"Untuk apa, Pur?"
"Nyari bahan makanan untuk makan malam. Makan siang di luar aja, ya."
Segera Ia melangkah ke kamar mencari sesuatu yang kutebak pasti catatan resep masakan ala Mbak Nadia.
"Nyari apa, Mas?"
"Catatan Nadia."
"Tak perlu, Mas. Masakanku akan lebih enak dari Mbak Nadia. Tenang saja!" Aku mengerlingkan mata ke arahnya, sedangkan bibir tipis itu belum juga menutup.
Segera kuganti pakaian dengan gamis casual berwarna baby pink yang senada dengan khimar. Sebenarnya, keinginan menutup aurat sudah ada sejak lama, hanya baru terealisasikan sekarang.
Kami pergi ke supermarket dan membeli berbagai bahan makanan. Tentunya di luar resep Mbak Nadia. Bukan tidak menghargai, tapi dicintai sebagai diri sendiri lebih menyenangkan daripada ketika kita menjelma menjadi sosok lain.
Tangan Ian selalu kugenggam, sesekali memeluk tubuh kecil itu dari belakang. Ia anak yang supel dan mudah beradaptasi, jadi tak sulit untuk mendapatkan hatinya.
☘☘☘
Menu makan malam yang sudah terbayang di kepala adalah sapo tahu seafood, berbekal resep dari internet aku mulai mengolahnya. Memotong lalu menggoreng tahu sutera. Menyiapkan udang, bakso ikan, jamur merang, dan paprika.
Mas Genta tampak asyik memperhatikanku yang sedang masak, tentunya dengan raut wajah datar ala kanebo kering yang sudah menjadi karakternya.
Hanya butuh waktu 30 menit aku memasak, lalu menyajikan makanan tersebut di meja makan dengan bangganya.
"Taraa, sapo tahu seafood yang dibuat penuh cinta ala Mama Lita. Sini aku ambilkan, Mas." Wajahku masih semringah saat menyendok makanan tersebut ke piring Mas Genta sampai akhirnya ia kembali mendorong piring ke arahku.
"Kolesterolku lumayan tinggi, Pur. Kamu mau membunuhku pelan-pelan? Alasan kenapa harus memakai resep Nadia, sebab ia telah menuliskan menu yang tepat untuk kami di setiap harinya. Begitu juga dengan Ian, dia alergi parah makanan laut. Ini dari udang, cumi, bakso ikan, kamu campur semua. Keras kepala kamu, Pur."
Mas Genta menggamit tangan Ian dan pergi keluar rumah, mungkin mencari makanan. Sedangkan aku, menepi dengan hati yang perih. Saat ingin berusaha dicintai tanpa harus menjadi Mbak Nadia, semua malah berantakan. Pelan aku melangkah menuju kamar, mencari catatan resep tersebut Ternyata, ia memang seorang istri dan ibu yang sangat telaten mengurus anak dan suami. Bahkan menu setiap hari pagi sampai sore saja diperhatikan.
Rasa lelah membuatku tidur lebih cepat bahkan sebelum adzan isya berkumandang. Terkejut saat Mas Genta membelai lembut rambut ini seraya mengecup di beberapa bagian wajah.
"Lit ... bangun Sayang. Udah isya."
Hah? Salah dengar nggak, ya? Dia panggil aku Lit, pake sayang segala lagi.
"Pur ... isya nih. Bangun dong. Masa kalah sama Ian."
Aku tersentak saat ia mengguncang pelan bahuku. "Kok Pur lagi? Tadi udah bener panggil Lita?"
"Kapan? Dari tadi juga manggil Pur." Sebelah alisnya naik menatap heran, membuatku semakin bingung. Apakah barusan itu mimpi atau ... entahlah.
☘☘☘
Dua jam sudah mereka meninggalkanku sendirian di rumah. Entah ke mana Mas Genta mengajak Ian hingga begitu lama. Sapo tahu di panci sudah habis tak bersisa. Gemuk--gemuk deh. Biarlah, daripada mubazir karena tak kemakan.
Lambung yang terisi penuh seolah mengirimkan sinyal ke otak untuk segera memejamkan mata. Tak peduli tentang Mas Genta yang masih belum sampai rumah. Biarlah, mungkin ia lupa kalau telah menikah lagi. Tak perlu nunggu berlama-lama, aku lelap begitu saja.
Entah apa penyebab terbangun, dan ternyata jam telah menunjukkan pukul satu malam. Mas Genta terlelap menghadapku, dengan satu tangan melingkar di perut. Pelan aku menyentuh wajah yang masih terlihat menggoda di usianya yang memasuki kepala tiga.
Merasa mendapat respon, sentuhan kulanjutkan dengan mengecup beberapa bagian wajahnya hingga ia sedikit menggeliat dan menyebutkan sebuah nama.
"Aku rindu kamu, Nad ...."
"Allahu ... Mas Genta, sebegitu besarkah cintamu untuknya." Allah, pantaskah aku cemburu pada sosok yang telah terpendam di dalam timbunan tanah? Entah sejak kapan bulir bening ini meluncur deras di pipiku. Nyeri ... tapi tak berdarah.
Pelan aku melepas tangan yang sedari tadi melingkar di perut, lalu berbaring membelakanginya.
"Kamu kok senengnya mantati aku, Pur?"
"Ke mana tadi kamu habis isya?"
"Ajak Ian ke pasar malam. Naik odong-odong.
"Kenapa nggak ajak aku?"
"Ribet lah, Pur. Pulang dulu terus pergi lagi."
"Sakarepmu, Mas. Aku tidur dulu." Kesal, kali ini kulebarkan tangan dan kaki hingga Mas Genta jatuh dari tempat tidur.
Brak!
☘☘☘
"Pur, jangan lupa nasi goreng ala Nadia. Ian suka banget." Ia berucap sambil memberikan jempol kanannya padaku.
"Siap, Mas. Pakai bakso dan sayur, ya?"
"Betul. Selain cantik kamu ini pintar, Sayang."
Berbinar mata ini saat kata sayang tersebut terucap dari bibirnya. Gemas, segera kupeluk erat lelaki berparas syahdu tersebut dan ia membalasnya dengan mengecup pucuk kepala ini.
"Untung kamu pendek, Pur. Jadi aku gampang nyiumnya," ucapnya datar sambil ngeloyor pergi. Menyebalkan.
Setidaknya, pagi ini yang kulakukan tidak sia-sia. Ian mau menghabiskan nasi goreng tersebut, meski masih saja baunya diprotes kalau tidak mirip dengan buatan bundanya.
Sabar, Lita! Mereka cuma butuh waktu.
Jadwal padat pun tiba. Mas Genta mengantar Ian ke sekolahnya sekaligus mengantarku ke kampus. Sepanjang jalan, ia berkali-kali mewanti-wanti untuk menjemput Ian jam sepuluh pagi, dan tidak boleh telat.
Apa daya? Tugas kuliah yang menumpuk membuatku lupa waktu. Masih saja berkutat dengan laptop di perpustakaan dan sadar ketika melihat jam tangan menunjukkan pukul 11 siang. "Ya Allah, Ian ...."
Segera aku berlari, dan memanggil ojek online. Pergi melewati jalanan yang tak lengang. Ditambah teriknya matahari membuat suhu bumi seakan melonjak drastis. Untungnya si pengemudi cukup handal dalam menerobos jalan. Setidaknya tidak memakan waktu lama untuk sampai ke sekolah Ian.
"Semoga Ian masih menunggu Ya Allah." Aku panik, segera berlari masuk ke gerbang sekolah dan mendapati Ian sudah tak ada.
"Ian ....!" Aku memekik khawatir kala Ian tak ada di kelasnya. Segera aku berlari ke ruang guru untuk menanyakan kabar, dan ternyata Ian sudah berlari menuju gerbang dari tadi.
"Ian sudah lari dari tadi, Mbak. Biasanya kalau dia lari begitu suka ada yang jemput."
Terkepal kuat tangan ini, menahan geram pada sosok guru yang terlihat biasa saja melepas siswa kelas 1 SD tanpa pengawalan orang tua.
"Ibu ini bagaimana, sih?" Lelah rasanya jika harus membuang waktu untuk berdebat dengan wali kelas Ian. Segera kuraih benda pipih dari dalam tas dan menghubungi Mas Genta.
Panik!
"Mas ... maaf, tugas kuliah yang padat membuatku telat menjemput. Ian nggak ada, Mas. Hilang." Panik suaraku saat menelepon Mas Genta. Luar biasa khawatir hati ini saat mengetahui Ian sudah tak ada di sekolah. Allah, betapa cerobohnya aku.
"Ian sudah kujemput," ucap Mas Genta singkat dan langsung mematikan panggilan tersebut.
-----
#ByT
Bidadari yang Terluka ( Mengejar Cinta Duda )
Part 4
☘☘☘
[Mas Genta tega banget, telepon dimatiin gitu aja. Maafin aku ya, Mas.]
Tak ada balasan.
Sebongkah organ lunak di dalam terasa nyeri rasanya. Nyatanya, sakit hati tak selalu disebabkan oleh hadirnya orang ketiga. Akan bagaimana aku mampu menjalani bahtera ini ke depannya. Terkadang ingin sekali berontak. Namun, cinta yang mempersulit. Entah, apa yang membuat perasaan ini terlalu dalam pada seseorang yang telah menghalalkanku seminggu yang lalu.
Aku berjalan tertatih di pinggir trotoar seraya mengusap layar ponsel pintar, demi mencari ojek online untuk kembali ke kampus. Rasa khawatir karena Ian bahkan sanggup menghilangkan dahaga yang telah kutahan sejak pagi.
Sesekali aku menyeka bulir keringat yang meluncur deras di sekujur wajah. Membersihkan kacamata akibat debu yang terus menerpa. Melawan sengatan matahari yang luar biasa hingga membuat pipi ini sedikit memerah. Oh, Mas Genta ... andai kamu tahu perjuanganku siang ini. Ini tak mudah, aku si gadis manja bahkan harus seperti ini setelah menikah denganmu.
Dering ponsel memekik tiada henti. Sebuah panggilan tak terjawab dari Sahara.
Sahara : Lita, lo di mana? Dosen udah datang.
Aku : Lah, kan belum jam dua belas. Ya sudah, telat gue. Paling diomelin.
Lima belas menit kemudian, aku tiba di kampus. Pak Hari, dosen Mikrobiologi sudah melotot karena mahasiswinya datang terlambat. Masih dengan peluh bercucuran, kusalimi tangannya dengan takzim.
"Maaf, Pak. Tadi habis jemput anak sekolah."
Dosen tersebut menatapku heran sambil sedikit menaikkan kacamatanya.
"Anak?"
"Iya, Pak. Anak tiri, Jelita kan nikah sama om-om." Riuh tawa mahasiswa memenuhi ruangan ini. Tanpa banyak kata, aku duduk dan segera membuka buku.
Tak terasa, jam dinding telah menunjukkan pukul dua siang. Aku harus kembali ke rumah segera, meski ingin sekali rasanya menerima ajakan kawan untuk ke mall pulang kampus.
Langkahku semakin cepat ketika melihat langit telah bergemuruh. Namun, berhenti ketika melewati tempat cetak foto. Kupikir, tak sabar rasanya memajang foto pernikahan kami di dinding. Mungkin ada baiknya menyetak yang tersimpan di ponsel.
☘☘☘
Bibir ini menyunggingkan senyum kala foto pernikahan kami terpampang di dinding. Sedikit melirik ke arah jam dinding. Oke, sebentar lagi Mas Genta dan Ian pulang. Aku kembali ke dapur untuk menata masakan, tentunya ... kali ini memasak dengan resep Mbak Nadia.
"Assalamu'alaikum."
Girang aku menyambut mereka yang telah tiba di rumah. Kuraih tangan tersebut dan menciumnya dengan takzim, serta mencium kening anak kecil di sebelahnya.
"Ian ... maafin mama, ya. Tadi telat jemput, soalnya tadi lagi repot banget." Bocah kecil itu tersenyum dan memeluk erat.
"Nggak apa-apa, Ma. Tadi juga dijemput ayah kok."
"Mas ... maaf, ya!" Tak banyak kata, ia hanya tersenyum simpul serta mengelus rambutku.
Aku seperti kerepotan sendiri, bingung hendak mendahulukan yang mana, anak atau suami. Ian tampak sedang berganti baju di kamarnya. Baiklah, sepertinya anak itu sudah mahir, tak ada salahnya menyusul Mas Genta ke kamar.
"Mas ... kamu ngapain?" Aku melangkah mendekatinya, berdiri tepat di hadapannya sangat dekat. Di sini aku tahu bahwa tinggi tubuhku tidak melewati bahu Mas Genta, memang mini dari sananya, bukan karena kurang susu waktu kecil.
Perlahan kulepas satu per satu kancing kemejanya, dan diam saat tangan kokohnya mengangkat dagu hingga tatapan kami bertemu selama beberapa saat.
"Kenapa kamu menerima lamaran saya, Pur?"
"Kata ibuku kamu yang terbaik, Mas."
"Nggak ada alasan lain?" Kini tangannya melingkar di punggung, semakin merekatkan jarak di antara kami hingga tak tersisa walau satu sentimeter pun.
Aroma tubuhnya benar-benar membuatku mabuk kepayang. Tak sadar, saat kepala ini telah terbenam ke dadanya, dengan dua tangan memeluk tubuh sedang ini.
"Pur, kok malah meluk? Kemejanya belum kebuka nih? Kamu ... suami baru pulang kerja dipancing-pancing," ledeknya dengan wajah datar, tapi menurutku tetap lucu. Namanya juga cinta.
"Bodo amat, Mas! Kamu yang pepet aku duluan juga!"
"Kamu masak, Pur?"
"Masak dong, resep Mbak Nadia."
"Loh katanya kamu mau memanjakan perut saya dengan resep khasmu?" Kembali ia bertanya dengan wajah dan suara datar, tanpa intonasi dan kontak mata yang berarti.
"Terserah kamu lah, Mas! Serba salah aku."
Kami bertiga di ruang makan sekarang. Dengan jantung berdebar, aku menatap mereka secara bergantian. Ada ketakutan sendiri saat menemani mereka makan. Bayangkan, nikah belum seminggu masakanku selalu diprotes. Semoga kali ini tidak.
Kuperhatikan wajah Mas Genta yang datar bak jalan tol tersebut mengunyah pelan makanan itu, dan ... yes, dia senyum. Begitu juga dengan Ian, paras bahagia terpancar dari wajah manisnya. Mereka benar-benar menyukainya, yes!
"Enak, Mas?" tanyaku penuh asa. Berharap Mas Genta memujiku habis-habisan.
"Biasa saja!"
Glek! Laki peak.
"Enak tau ayah, lebih enak dari masakan bunda." Bocah kecil itu tiba-tiba meracau, dan hebatnya ... mampu menaikkan kembali mood yang sudah dihancurkan oleh ayahnya sendiri. Erat kupeluk Ian yang masih asyik makan, pipi tembam tersebut tak sedikit pun terlewat dari kecupan tulus ini.
Pelan kuinjak kaki Mas Genta.
"Aduh, Pur! Sakit."
"Anakmu saja bilang enak, kamu bilang biasa." Aku merajuk manja padanya, dan kembali dibalas dengan raut wajah datar.
"Saya hanya berusaha jujur, Pur. Anggaplah ini cambukan agar kamu lebih giat belajar masak!"
Matahari semakin bergerak menuju barat, lalu terbenam dan meninggalkan bumi dengan kegelapannya. Kini, suara bising di depan pun tak terdengar, sepertinya anak muda yang suka nongkrong di depan rumah pun sudah pada pulang. Aku masih berkutat di depan laptop setelah satu jam lebih mengusap-usap punggung Ian.
"Sudah malam, Pur. Tidur!"
"Tugasku masih banyak, Mas."
Aku terkejut, ketika segelas susu cokelat tersaji di meja belajar. Rupanya tadi ia ke belakang untuk membuatkan ini. Oh, Mas Genta. Mulai so sweet kamu.
"Kamu nggak pengen ngemil apa? Biar saya beliin. Indomarta belum tutup sepertinya."
"Aku mau kuaci, Mas."
"Hah?" Mulutnya menganga.
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa, lupa saya kalau nikahi anak di bawah umur." Digaruknya rambut lebat tersebut, lalu pergi meninggalkanku.
☘☘☘
Kian hari, aku makin terbiasa dalam menyikapi sikap Mas Genta. Bahkan sudah tak keberatan lagi meski ia selalu memanggilku dengan sebutan Pur. Entah apa alasan besarnya hingga sampai detik ini lidahnya seolah kelu mengucap nama Lita.
Perlahan aku mulai memanjakan perut mereka tanpa harus menyontek catatan resep dari Mbak Nadia. Ian pun tak lagi rewel hanya karena rasa masakanku berbeda dengan mendiang bundanya. Memang tak begitu sulit sebenarnya untuk mengambil hati anak itu, tidak seperti ayahnya.
Sebulan sudah aku menjalani bahtera dengannya, tak mudah sebetulnya ketika kita harus mengubah kebiasaan. Si putri manja yang dulu selalu dimanjakan ibu kini harus bergerak sendiri, justru dituntut untuk melayani dua makhluk lain di sini. Apalagi yang membuat semangat kecuali berharap pahala.
"Pur ... kamu nggak ngampus?"
"Lemes, Mas."
Ia mendekatiku yang tengah terbaring di ranjang, lalu meletakkan punggung tangannya ke beberapa bagian tubuh.
"Demam kamu, kecapean nih. Istirahat aja, Ian saya yang jemput nanti."
"Iya, Mas."
"Ya sudah kamu istirahat, saya berangkat kerja dulu, ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Belum sampai lima langkah berjalan, ia kembali mendekatiku. Menggenggam erat tangan ini serta mengecup kening lama sekali. Ada rasa debar di dalam dada saat Mas Genta memperlakukan diri ini semanis madu. Pelan kuusap punggung tangannya, lalu berpindah perlahan ke lengan atasnya dengan gerakan memijat.
"Kerja sana, Mas."
"Nggak tega, Pur. Izin dulu hari ini, temani kamu. Sekarang saya antar Ian dulu, ya. Setelah itu kembali ke rumah."
Serius? Si Genta izin kerja demi aku? Wew! Bombastis. Rekor ini, perlu dicatat sepertinya! Apa dia udah mulai sayang? Cuma si Gentul ini yang tahu.
Mas Genta pun mengantar Ian ke sekolah. Aku yang bosan, mulai turun dari ranjang dan mencari sesuatu yang menarik. Pelan kaki ini berjalan menuju ruang kerja Mas Genta yang selama ini belum pernah kuusik.
Rumah Mas Genta hanya terdiri dari satu lantai, tapi cukup luas dengan tata ruang yang baik. Kini aku memasuki ruang kerjanya. Sederhana, hanya terdiri atas meja kerja, satu lemari buku dan karpet tebal sebagai alasnya.
Kudekati meja kerjanya dan membuka laptopnya, mengusap keyboard yang sering bersentuhan dengan jemarinya. Begini saja sudah cukup membuatku merasakan hal aneh di dalam hati.
Ah! Ada sesuatu yang membuat pedih mata ini. Di mana terpampang foto mereka bertiga di meja kerja Mas Genta tepat di sebelah fotoku. Ia memajangnya bersebelahan. Apa maksudnya? Membandingkanku dengan Mbak Nadia? Atau sebagai isyarat bahwa ia telah memposisikan istri kecilnya ini sama dengan mendiang istrinya.
Huek!
Tiba-tiba gas di lambung bergejolak, menjalarkan sensasi mual yang amat sangat. Aku berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan semua isi perut. Allah, kenapa ini? Tertatih bangun meski tubuh ini amat gemetaran. Terhuyung-huyung berjalan sambil meraba tembok untuk bertemu kasur tersayang.
Ya ... aktivitas padat yang mengagetkan seolah membuat tubuhku down mendadak. Bahkan sebulan menikah penyakit lambungku sudah dua kali kambuh, untung tidak sampai rawat inap.
Brak! Aku terjatuh ketika hendak menaiki ranjang yang cukup tinggi ini.
"Pur ...!" Setengah berlari Mas Genta menghampiriku yang sedang tergeletak di lantai. Segera ia membopong tubuh kecil ini ke ranjang, melepas kacamata, dan menyelimuti hingga sebatas dada.
"Untung aku nggak kerja, Pur. Akhir-akhir ini kamu sering begadang sih."
"Ya ... demi usap-usap punggung si Ian, kan?"
"Ya maaf, Pur. Ian itu biasa digaruk, diempok sama bundanya dulu. Jadi kayak kebiasaan. Oya, baju Nadia sudah di-laundry sejak kemarin. Kenapa nggak kamu pakai? Malu pakai baju bekas?"
"Ya bukan, Mas. Aku nggak mau aja kamu melihatku sebagai mendiang istrimu. Lagian baju Mbak Nadia ibu-ibu banget, aku kan masih muda."
Kini matanya menyipit, memandangku dengan tatapan yang sukar dijelaskan dengan kata-kata.
"Kok liatin aku gitu, Mas?"
"Kamu berkali-kali selalu mengaku masih muda, berarti saya?"
"Memang kau itu tua, Mas. Mau diapakan lagi?"
Tak banyak bicara, ia justru melepas kancing piyamaku satu per satu serta menampakan wajah penuh hasrat. Segera kuhentikan aktivitasnya hingga wajah tersebut terlihat memendam kekecewaan.
"Jahat kamu, Mas. Istri sakit masih mau digilas juga. Oya, mau tolongin aku nggak?"
"Apa, Pur?" Jelas terdengar suara tersebut sebab bibirnya benar-benar menempel di daun telinga.
"Ke apotek, Mas."
"Beli obat? Maag lagi kayaknya, ya?"
"Bukan, Mas. Testpack ...."
"Hah ...?"
"Kok malah hah? Aku ini wanita bersuami, dan telat haid, lalu muntah-muntah. Salah kalau aku mikir hamil?"
Seketika wajah teduh ini berubah menjadi merah padam. Tak ada gurat kebahagiaan tercetak di wajahnya. Hambar, dan justru terlihat tak senang. Berulang kali kuguncang tubuh sedang tersebut untuk memastikan apa yang ia rasakan. Namun, ia tetap bergeming. Sama sekali tak ada senyum di wajahnya. Sungguh aneh! Di saat lelaki lain mungkin akan semringah bila mengetahui tanda kehamilan pada istrinya, tetapi tidak dengan Mas Genta.
"Nggak, Pur! Kamu nggak boleh hamil!" Wajah sendu itu semakin memanas, giginya gemeretak. Sinar ketakutan bercampur kekecewaan terpancar dari wajahnya.
"Kenapa, Mas?"
"Nggak, Pur! Jangan! Lagi pula selama ini aku berusaha untuk tidak menumpahkan bibit ke dalam rahimmu. Mana mungkin, Pur?"
Kasar ia meremas rambut lebat tersebut, kemudian sedikit mundur hingga punggungnya menabrak tembok. Sungguh aku ketakutan dibuatnya.
"Jangan sampai hamil, Pur!" Ia membentak dengan kasar, sepasang mata nyalang itu kini menatapku dengan tajam.
"Mas Genta ...."
Tbc
----
#ByT
Bidadari yang Terluka (Mengejar Cinta Duda)
Bagian 5
☘☘☘
Dua garis muncul pada alat tes kehamilan. Semua berbahagia, kecuali Mas Genta. Entah apa yang merasuki pikirannya hingga ia seolah tak menginginkan kehamilan ini. Susah payah aku menjalani kehamilan seorang diri. Melewati masa morning sickness yang mendera tanpa bisa bermanja pada suami, ia begitu kaku.
Hampir setiap hari, ibu mertua datang demi membawakan makanan bergizi untuk menantu tersayangnya. Betapa mereka nampak bahagia atas berita bahagia ini. Belum lagi ayah mertua yang jadi hobi menambah uang sakuku. Kehamilan membawa berkah.
"Mas ... ini diminum," ucapku seraya meletakkan cangkir berisi teh hangat di kursi teras.
Mas Genta masih diam, dengan wajah datar ia menyeruput teh tersebut. Tiada lengkung indah yang menghiasi bibir tipis tersebut setelah mengetahui adanya nyawa dalam rahimku. Bergetar aku melihatnya, beragam tanya menari di kepala. Ada apa dengannya?
"Mas ...."
"Hmm ...."
Mas Genta masih asyik berkutat di depan ponsel. Jemarinya terlihat menari-nari lihai di atas benda pipih tersebut, dengan sepasang mata yang fokus tanpa sedikit pun menatap ke arahku.
Kepala yang sedikit pusing membuatku memijat sendiri bagian pelipis ini. Lalu menyandarkan tubuh sepenuhnya di kursi dengan kaki berselonjor. "Duh ... pusing amat, ya."
"Kenapa kamu, Pur?" Segera ia meletakkan ponselnya dan membantuku memijat area kepala dan tengkuk.
"Pusing, Mas."
"Obat udah diminum?"
"Udah ...."
"Oya, Pur. Besok saya ada gathering di kantor tiga hari. Sayangnya kamu sakit sih, tapi nanti saya bawa Ian kok."
"Aku nggak diajak, Mas?"
Ia tak menjawab pertanyaanku, dan malah kembali asyik dengan ponselnya. Sesekali menyuap beberapa pisang goreng ke mulutnya dan menyeruput teh manis.
Tak lama kemudian, ia masuk ke rumah. Segera kuikuti langkahnya yang menuju kamar kami. Ruangan ini tak sehangat sebelumnya, tak ada lagi keceriaan yang biasa menemani hari-hari kami sebelumnya. Aku berbaring di sebelah Mas Genta, menatap dinding kamar yang berwarna biru langit.
"Mas gathering ke mana?"
"Kawah putih-Bandung."
"Mas, nanti sore temenin kontrol ke dokter kandungan." Kugenggam tangan tersebut serta mengarahkan ke perut yang masih rata ini. Membantunya mengusap dari atas ke bawah agar ia menyadari bahwa ada benih yang telah tertanam di dalam sini.
Ia sama sekali tak menampakkan ketertarikan. Justru malah berbaring membelakangiku. Merasa dicuekin, aku bangkit dan hendak turun dari ranjang. Namun, dikagetkan oleh ia yang tiba-tiba mencengkeram tangan. Menahan tubuh ini agar tak pergi.
"Mau ke mana anak kecil?"
"Ke depan, di sini juga dicuekin suami."
"Ya Allah, udah siang, Pur. Si Ian udah kamu buatin makan siang?"
Melihat Mas Genta panik, aku pun ikut-ikutan. Segera berlari kecil menuju dapur untuk membuatkan makan siang. Sejak memasuki usia pernikahan yang ke sebulan, Ian sudah banyak paham bahwa aku mampu bersikap sebaik bundanya dulu. Bahkan kini, anak itu tak sungkan lagi memeluk dan meminta makanan kesukaannya.
"Mama ...."
"Ian ... sabar, ya. Mama buatin makan siang dulu."
"Ian udah makan sama nenek tadi, Ma. Mama istirahat aja."
Bu Nursihati, ibu kandung Mas Genta menghampiriku yang tengah berdiri di depan kompor. Perlahan tangan keriput tersebut mulai mengusap pipi ini dengan sangat lembut, hingga membuat diri ini merasa dicintai.
"Istirahat, Lita. Ian sudah makan sama ibu."
"Makasih, Ibu." Kuciumi tangannya dengan takzim. Ia ibu mertua yang sangat baik. Bibir tipis yang berlekuk indah serupa huruf M tersebut sangat mirip dengan Mas Genta.
Mentari mulai bergeser ke arah barat, menampakkan semburat jingga di langit. Aku masih disibukkan dengan menyiram tanaman di halaman Mas Genta yang hampir kering karena tidak terurus seminggu lamanya.
Sadar karena langit semakin gelap dan dua lelakiku masih belum pulang, rasa khawatir mulai merasuki dada. Pelan aku melangkah ke dalam rumah untuk melihat jam dinding yang ternyata telah menunjukkan pukul 18.10 WIB.
Usai menunaikan shalat Maghrib, aku melangkah menuju cermin. Mematut diri di sana. Memeriksa perubahan kulit yang sedikit menggelap dibanding sebelumnya, efek hormon kehamilan.
"Ish, jadi kusem mukanya," keluhku sendiri di depan cermin seraya mengusap-usap wajah sendiri.
Krek!
Suara pintu terbuka, Mas Genta pun melangkah dan segera memelukku dari belakang.
"Ngapain Pur pipi ditoel-toel?"
"Kulitku kusam, Mas." Aku merajuk manja sembari memperlihatkan bagian wajah yang memang mulai mengusam.
"Coba kamu KB dulu, ya, Pur."
Datar ia berbicara, lalu merebahkan diri di atas ranjang. Mendengar ucapannya aku seperti tertampar. Mengapa? Janin ini telah tumbuh tapi ia berucap demikian.
"Demi apa kamu, Mas? Di saat suami lain bahagia atas kehamilan istrinya. Tapi kamu enggak?"
"Ya kamu masih kuliah, jaga Ian. Kalau kamu hamil apa nggak terbengkalai?"
"Astaghfirullah ... mulutmu, Mas!"
"Coba ke dokter, Pur! Minta diluruhin. Mumpung belum empat bulan."
Tak sengaja, tangan ini melayang cukup kencang ke wajah manisnya. Bagai tersayat hati ini mendengar ucapan lembut tapi menusuk tersebut. Entah apa alasan kuat dibalik prinsipnya. Sungguh, begitu panas telinga ini mendengar kata-kata yang terucap dari bibir tersebut.
"Beginikah tanggapanmu dulu saat Mbak Nadia mengandung?" tanyaku dengan nada menantang. Nyalang mataku memandangnya, seolah mengungkapkan besarnya amarah di dalam dada.
"Nggak."
"Lalu kenapa aku dibedakan?"
"Karena kamu nggak akan pernah sama seperti dia!" Kini sepasang mata tersebut berubah menatapku tajam. Intonasi suaranya naik, membuat hati ini. Ingin rasanya menangis detik ini juga, tapi kutahan. Tak boleh tampak cengeng di hadapannya.
Mas Genta bangkit dan turun dari ranjang. Lalu keluar meninggalkan kamar. Segera aku menyusul dan menarik lengannya. Berusaha membalikkan badan yang cukup tinggi tersebut.
"Mas Genta! Kenapa harus Nadia, Nadia, dan Nadia?"
"Karena saya mencintai dia!" Mata itu kian memicik, menyorotkan sesuatu yang tak kupaham apa maksudnya.
"Lalu kamu anggap apa aku, Mas? Tidakkah kamu mencintaiku?"
Kupeluk erat lengannya, ia masih bergeming. Wajahnya menatap lurus ke depan dengan sorot mata tajam.
"Tapi kamu yang memilihku, Mas."
Kali ini kepalanya berputar, ia menghadapku, menatapku muak. Hidung mancung itu kini terlihat kembang kempis seakan menahan napas yang berat.
"Bukan tanpa alasan saya memilihmu. Sekarang ...."
"Apa, Mas?"
"Kalau kamu mau saya tetap menyayangimu, ikhlaskan anak di perut tersebut!"
"Mas ... jelasin kenapa!"
"Ya sudah! Ucapan saya nggak serius tadi! Pusing kamu kalau nanya itu nyecar terus!"
Mendadak perut tidak bisa diajak kompromi, gas di lambung seolah meletup-letup hendak memuntahkan isinya. Segera aku berlari ke kamar mandi. Terkuraslah sudah isi perutku. Allah, beginikah rasanya mengandung.
Sekilas kutatap Mas Genta yang malah asyik duduk di meja makan, menikmati makan malam yang telah kusiapkan. Sedikit pun ia tak berusaha mengejar, apalagi memijat tengkuk ini.
Huek ... Huek ...!
Aku terus pura-pura muntah, sengaja biar Mas Genta dengar. Nihil! Ia masih bergeming, dan malah asyik dengan pisang gorengnya.
"Biasa aja, Pur. Dulu Nadia hamil nggak gitu-gitu amat!"
Kesal! Kemudian melangkah mendekati meja makan yang terletak tak jauh dari toilet. Kutarik piring berisi pisang goreng tersebut saat tangan Mas Genta hampir menyambarnya.
"Aku goreng bukan buat kamu doang!"
Mulutnya hanya menganga melihatku menghabisi lima pisang goreng sekaligus. Sejak hamil, nafsu makan memang melonjak dua kali lipat. Meski mual tapi ujung-ujungnya selalu lapar.
Ah, waktunya ke dokter kandungan. Aku segera bersiap-siap. Mengganti daster hamil ini dengan gamis dan khimar cokelat yang menutup sampai ke perut. Semenjak menikah aku memang sudah tekad untuk menutup aurat agar menjadi manusia yang jauh lebih baik.
Sedikit sapuan lipstik mauve pada bibir menambah kesan segar di kulit kuning langsat ini. Baik, aku siap ke dokter kandungan tanpa Mas Genta. Sampai delapan Minggu usia kehamilan, ia masih belum terlihat bersemangat untuk mengantar kontrol ke rumah sakit. Semoga aku sabar, Mas.
πΌπΌπΌ
"Selamat malam Bu Purnama," sapa dokter kandungan ramah. Kerut di wajahnya menandakan usianya tak muda lagi, tapi senyum merekahnya menandakan bahwa ia adalah dokter yang baik.
Asisten dokter memintaku berbaring di ranjang periksa, kemudian mengoleskan gel ke perut. Sekarang giliran sang dokter yang menempelkan alat USG ke perut bagian bawah, mencari-cari sang jabang bayi. Ia sedikit membetulkan kacamatanya, matanya menatap fokus pada monitor.
"Bu, detak jantungnya sudah terlihat nih. Alhamdulillah, dijaga baik-baik. Bulan depan kontrol lagi."
Aku masih duduk di depan dokter tersebut. Sesekali mata ini menatap sekeliling. Ruangan bercat putih dengan aroma khas rumah sakit. Jika bukan karena hamil, rasanya aku tak ingin pergi ke sini.
"Ngomong-ngomong, sudah dua kali suami nggak ikut. Ini kan weekend, Bu."
"Sibuk, Pak." Aku berbohong, bahkan mungkin tak mampu tertutup oleh raut wajah ini. Rasa sedih kian menghampiri ketika ditanya pertanyaan seperti itu. Ke mana suaminya, mengapa tidak menemani. Kenyataannya, aku memiliki suami, tidak lembur apalagi LDR. Hanya ia sangat enggan mengantar istrinya ke dokter kandungan.
Aku keluar dari ruangan dokter dan menebus beberapa vitamin di apotek, lalu bergegas pulang. Segera kuraih benda pipih di dalam tas lalu menghubungi Mas Genta.
Aku : Halo, Mas. Aku udah selesai. Jemput, ya.
Mas Genta : Coba naik ojek atau taksi online dulu, ini Ian minta diempok-empok.
Aku : Baik, Mas.
Tanganku gemetar ketika menyentuh layar ponsel ini. Terseok-seok berjalan mencari bangku agar tak jatuh di tengah jalan seperti ini. Selama hamil, seringkali merasa mendadak mual seperti ini. Oke, cukup menanti dua menit agar pengemudi tiba di sini.
Ah, nikmat sekali rasanya bisa bersandar saat tubuh sedang lemas-lemasnya. Tak lama kemudian lelaki dengan jaket dan helm hijau menghampiri. "Mbak Purnama, ya?"
"Betul. Purnama tujuan Jalan Kenanga."
"Naik, Mba."
Baru saja hendak menaiki motor, mataku dikejutkan oleh sosok wanita yang ... Allahuakbar, salah lihat nggak sih? Itu kan ....
Tbc