Minggu, 19 Januari 2020

Bidadari yang Terluka ( Mengejar Cinta Duda ) 6 - 10

#ByT
Bidadari yang Terluka ( Mengejar Cinta Duda )
Part 6, by Almeera Rosa


"Mas ... Mas Genta!" Aku berteriak memanggilnya, menelusuri ruang demi ruang di dalam rumah demi menemukannya. Ribuan pertanyaan di otak rasanya hendak mencuat keluar saat ini juga.
"Apa sih, Pur? Kok teriak aja? Ian udah tidur." Lembut ia berucap seraya mengusap khimar ini.
"Di mana sebenarnya Mbak Nadia berada?"
"Apa sih, Pur? Kamu ini ngomong apa?"

Khimar ini kulepas kasar. Lalu mendorong tubuh Mas Genta sekencang mungkin hingga ia menabrak tembok. Emosiku memuncak, beragam pikiran buruk menari-nari di otak. Mungkinkah ini alasan ia masih enggan mengurus surat pernikahan kami di KUA? Entah.
"Pur, kamu kenapa? Jelaskan!"
"Kamu bohong, Nadia masih hidup."
"Hah ...?"

Mulutnya menganga lebar, ia maju sedikit demi sedikit. Mendekati aku yang tengah mengamuk bagai singa kelaparan. Lalu membawaku dalam dekapan. Erat sangat, hingga detak jantungnya begitu terasa di pipiku.
"Kamu lelah, Pur. Tidur yuk, Sayang. Tadi bukan nggak mau jemput, tapi pas banget Ian lagi mau tidur. Maaf, ya."

Sekali lagi, aku yang bodoh begitu mudah terbuai dengan sikap manisnya. Emosi yang tadi hampir tak terkendali kini redam sudah berganti kenyamanan yang menjalar ke seluruh tubuh.
Menikah dengan Mas Genta adalah keinginanku, dan telah melalui restu orang tua. Tidak ada paksaan sama sekali. Sejak dulu aku telah menyukai lelaki matang sepertinya. Meski banyak pro dan kontra menghadang saat kami melangsungkan pernikahan. Salah satu di antaranya adalah karena kami menikah di bawah tangan.

Alasan Mas Genta sederhana. Rasa terpuruk membuatnya tak sempat mengurus surat kematian Mbak Nadia. Itu penghalang kami dapat melangsungkan pernikahan secara hukum.
Tanpa memberi kesempatanku melepas gamis dan kaus kaki, ia memeluk di atas ranjang. Menggerakkan jemarinya untuk mengusap rambut ini secara perlahan.
"Pur, apa maksudmu tadi bilang Nadia masih hidup. Saya nggak paham."

Bola mata ini berputar, lalu menatap wajahnya yang memang kebingungan. Polos, seperti tak ada dusta di sana. Masa ia nggak tahu kalau istrinya masih hidup. Jelas-jelas yang kulihat tadi adalah Nadia. Meski hanya baru melihatnya dari foto, tapi aku sudah hafal wajahnya. Bagaimana tidak? Fotonya terpajang di setiap sudut ruang saat aku baru pindah ke sini.

"Aku lihat Mbak Nadia."
Mas Genta tertawa sambil menepuk jidatnya. Yes, tertawa. Renyah sekali malam ini ia padaku, padahal tadi pas minta dijemput di rumah sakit masih cuek.
"Lucu kamu, Pur." Kali ini ia tertawa, bahkan cukup keras.
"Mbak Nadia meninggal kenapa?"

Matanya terpejam, kemudian berbaring dengan dua tangan di bawah kepala. Hela napasnya terlihat berat, mungkin ia sedang mengenang peristiwa yang tidak mengenakkan. Ada rasa tak enak hati saat mempertanyakan ini. Namun, sesak di dada seolah memaksa telinga untuk segera mendengarkan jawaban.

Perlahan ia mulai bercerita tentang romantika manis, istri cantik, serta hal pahit yang merenggut kebahagiaannya. Mata bening itu perlahan buram, menampakkan sebegitu berat kisah hidupnya.
Istri pertama Mas Genta bernama Talita Nadia. Berusia sepuluh tahun di bawahnya. Dari sini bisa kunilai bahwa Mas Genta memang menyukai gadis muda. Tahun lalu, mereka pergi rekreasi ke sebuah pantai. Tepat saat pasang purnama, deburan ombak meluluhlantakkan pesisir pantai, merenggut banyak korban jiwa, Mbak Nadia salah satunya.

Jasadnya tidak diketemukan, kemungkinan tertelan lautan. Sejak itu, Mas Genta sempat depresi. Awal bulan kepergian istrinya, ia tak mampu melakukan aktivitas sendiri, meski yang ringan sekali pun. Semua hasil gotong royong keluarganya.

Mas Genta berhasil sembuh dengan motivasi dan bantuan obat. Perlahan menemukan jati dirinya kembali. Berusaha mencari cinta baru, dan ternyata hanya aku gadis yang mampu memenuhi kriterianya.

"Jasad tidak ditemukan? Jika ternyata Mbak Nadia masih hidup gimana?"
Bibir tipis tersebut melengkung indah, lalu memandangku sendu. Tatapan yang tak dapat diartikan. Seolah dengan menatap, ia berharap aku bisa membaca seluruh isi pikirannya.
"Jangan bertanya sesuatu yang nggak mungkin. Semua itu, karena saya terlalu sering menyebut namanya hingga bayang wajahnya ada di pikiranmu."
"Enggak, Mas. Aku serius. Bagaimana jika ia masih hidup?"
"Ya, tinggal bareng-bareng aja. Susah banget."
"Mas Gentaaa!"

Kesal! Kugigit guling di sebelah seraya memukul bahunya. Ia hanya tersenyum saat kepalan tangan ini mendarat di tubuhnya. Sesekali meringis, mungkin sedikit sakit.
Tak sampai lima belas menit, Mas Genta terlelap. Dengkuran halusnya mulai terdengar. Sedangkan aku? Masih penasaran dengan sosok yang melintas di depan rumah sakit. Masa iya salah lihat? Masa hantu? Rasanya tak mungkin. Berjuta tanya beradu di dalam benak, bayang-bayang akan hal buruk pun mulai menghantui. Bagaimana jika ... sudahlah, berpikiran buruk hanya akan mengganggu kehamilanku.



"Pur, saya sama Ian berangkat dulu. Hanya tiga hari kok. Kalau kamu mau pulang ke rumah ibu nggak apa-apa."
"Ya, Mas." Singkat, sebab tak sempat menjawab panjang perkataannya. Dua tas besar kujinjing sekaligus.
Hari ini Mas Genta dan Ian akan gathering ke Bandung. Alasan mereka hanya pergi berdua karena melihat kondisiku yang masih naik turun. Selama hamil, bisa lima sampai sepuluh kali muntah dalam sehari. Berjuang sendiri tanpa bermanja pada suami. Sebegitu pelik hidup saat menikah dengannya. Bukan tak mampu berontak, menurutku ... selama ia tidak melakukan kezaliman besar, menaati suami hukumnya wajib.

Banyak kebaikan yang ia bawa selama kami menikah. Karenanya, aku mampu membaca kitab suci Al-Qur'an sedikit demi sedikit. Totalitas dalam menjalankan ibadah dan menutup aurat. Hanya satu kekurangannya, sepertinya kehadiranku dan jabang bayi ini belum diterima seutuhnya. Entah apa alasannya.
Erat kupeluk anak berusia enam tahun tersebut. Menciumnya dengan penuh kasih. Tak ayal rasa cinta untuk Ian memang sudah tumbuh, ia lebih dari anak tiri. Aku menyayangi sepenuh hati, begitu juga dengannya.

"Masuk mobil, Ian!"
Anak tersebut langsung berlari ke dalam mobil. Hanya tinggal kami berdua berdiri di ambang pintu. Aku tersentak, kala kedua tangan Mas Genta membingkai lembut wajah ini, mengedarkan usapan halus di sana. Sepasang manik cokelat itu menatapku penuh kasih. Cukup lama di posisi seperti ini, hingga tersadar saat sentuhan manis mendarat di beberapa bagian wajah.
"Kamu mau titip apa, Pur."

"Terserah, asal kalian pulang dengan selamat aku udah girang."
"Jaga kesehatan selama saya pergi, Pur!" Kedua sudut bibir itu pun tertarik, seumpama indahnya bulan sabit. Segera kucium tangannya penuh khidmat, seraya melafalkan doa agar mereka yang kusayang selalu dalam lindungan-Nya.

Tangan ini masih terus melambai sampai mobilnya menghilang dari pandangan. Seulas senyum menghiasi bibir. Keinginanku memang sederhana selama menikah dengannya. Bukan harta, apalagi dikatakan numpang hidup. Hanya ingin dikasihi, berbakti dan menjalani bahtera ini sebaik-baiknya.
Aku memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua selama mereka pergi. Tak ada yang lebih membosankan rasanya dari sendirian di rumah sebesar ini.

Entah angin apa yang membuatku mengenakan pakaian Nadia. Seutas khimar panjang menutup perut dengan gamis casual berwarna marun. Andai Mas Genta ada di sebelah ia pasti senang sekali. Mungkin tak ada salahnya berfoto.
Cekrek!

Beberapa gambar tersebut kukirim ke Mas Genta melalui pesan WhatsApp. Tak ada balasan, mungkin karena masih di jalan. Baru saja hendak melangkah keluar, sebuah laci kecil di lemari bawah seolah melambai-lambai menarik perhatianku.
Bergerak lamban mendekati, lalu membukanya perlahan. Tubuh bergetar hebat. Kuat aku mencengkeram gamis ini, sekuat rasa ingin tahu yang semakin berkelebat di dalam benak. Segera meraih benda tersebut dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian melangkah cepat menuruni anak tangga, dan pergi dari rumah ini.

Jalanan yang cukup lengang, membuat pengemudi ojek online ini melaju dengan mudah. Hanya butuh waktu tiga puluh lima menit untuk sampai ke rumah orang tua. Tak sabar rasanya ingin segera mencurahkan segala rasa dan bertanya seputar kejanggalan pernikahan ini.
"Ibu ...." Wanita paruh baya yang telah melahirkanku dua puluh tahun lalu tengah berdiri menyambut di depan daun pintu yang berwarna keemasan tersebut. Kedua tangannya direnggangkan, bersiap menerima pelukan dari putri kesayangannya.
"Litaa ... ibu rindu, Nak."
"Lita juga, Bu."

Kami masuk ke rumah, aku yang manja masih menggelayut mesra di tubuh ibu. Rasa rindu yang teramat besar padanya. Selama menikah, tak bisa menunjukkan karakter asli pada Mas Genta. Apalagi gelayutan, bisa dijitak sama dia.
"Ibu ambilkan minum, ya."
"Bu, sini aja! Ada yang ingin Lita tanyakan." Segera kuraih lembut tangan ibu, lalu mengajaknya duduk di sebelah.
"Kenapa, Nak? Sepertinya serius?"
"Ibu kenal Mas Genta dari mana?"
"Genta itu bukan orang jauh. Sekitar tujuh atau delapan tahun lalu, saat ia baru wisuda magister. Ibunya itu mau jodohin sama kamu."
"Lahh ...?"

Singkat! Mau jawab apalagi coba? Kurang kerjaan aja masih nungguin aku yang tujuh tahun lalu itu ya masih cilik.
"Eh, si Genta malah kepincut sama anak yang baru lulus SMA. Ya mendiang istrinya itu, meski dulu sebenarnya suka lho sama kamu."
Tiba-tiba teringat dengan dua hal yang membuat rasa penasaranku meningkat. Namun, siapa yang dapat menjamin kalau ibu akan tahu jawabannya. Yang ada malah semua akan runyam.
"Bu, Mas Genta duda berapa lama?"
"Setahun lebih, atau hampir dua tahun gitu. Kenapa sih, Lit? Emang nggak pernah kamu tanyakan hal itu sama suamimu?"
"Malas, Bu. Sama suami bahas mantan." Aku menjulurkan lidah, kebiasaan sejak belum menikah. Lalu berlari kecil menuju kamar tercinta, tempat melepas lelah sebelum berstatus menjadi istri Mas Genta.

Notifikasi ponsel berbunyi, pesan singkat dati Mas Genta.
Mas Genta : Pur (emoji love), cantik banget kayak bidadari. Saya lagi di rest area.
Nyengir saat membaca pesan tersebut, sepertinya ia telah melihat pesan tersebut. Plak! Kutampar pelan pipi ini. Jangan terbuai, Lita! Ingat, banyak hal yang harus kamu pecahkan.
Aku : Bidadari turun dari mana, Mas?
Mas Genta : Turun dari tangga, Pur.
Aku : Kejam kamu, Mas.
Mas Genta : ( Emoji cium ).
Ini si Gentol kenapa jadi ganjen begini, sih? Aneh banget. Mungkinkah depresi yang pernah dialami membuat sikapnya jadi mudah berubah setiap saat bak wanita yang mengalami PMS?



Senja menjelang. Mentari mulai bergerak ke arah barat. Langit yang sebelumnya cerah perlahan memerah, lalu gelap. Sang purnama pun tiba, sinarnya merekah menerangi malam. Sejak sore, aku memang sudah ingin sekali pergi ke minimarket. Beberapa kebutuhan bulanan pribadi habis.
Dengan motor matic punya ayah, aku pergi ke minimarket. Sejak lajang, memang terbiasa ke mana-mana sendiri, maka tak heran begitu mandiri meski sedang hamil. Setibanya di minimarket, aku memilih berbagai barang-barang dan memasukkannya ke sebuah keranjang belanja.
"Mas, susu yang tahap satu nggak ada, ya?" Sebuah suara wanita yang berasal dari meja kasir terdengar.

Baru saja hendak mendekati sang pemilik suara tersebut, wanita itu pergi. Ah, apes! Aku segera berlari kecil keluar dari minimarket. Demi apa kalau bukan ingin ambil fotonya.
Telat!
Wanita itu pergi, dan ... dengan laki-laki dan satu anak balita.
Tbc

-----

#ByT bagian 7
Bidadari yang Terluka ( Mengejar Cinta Duda )

"Bu ...."
"Lita ... kamu tuh kebiasaan suka teriak-teriak dari dulu." Tergesa-gesa ibu keluar karena mendengar teriakanku.
"Bu, Lita liat mantan istri Mas Genta di mini market." Tersengal-sengal saat bicara. Siapa yang tadi kulihat di minimarket wajahnya sama persis dengan sosok wanita yang melintas di depan rumah sakit. Aku mampu bersumpah bahwa parasnya benar-benar menyerupai Mbak Nadia.
"Sudah meninggal, Lit. Kamu ini aneh!"

"Tapi ... menurut Mas Genta, ia kan meninggal karena korban tsunami. Dan jasad tidak ditemukan. Mungkin saja ...."
"Tak semua jenazah bisa ditemukan saat musibah alam seperti itu, Lit. Kebanyakan dari mereka akan terlempar ke lautan.
"Bu ...."
Aku menjatuhkan diri ke pelukan ibu. Berbagai pikiran buruk seakan menari-nari di otak. Terbayang jika suatu hari ... ah, tak mungkin! Lindungi rumah tanggaku, Rabb.

Dua bulan pernikahan, aku memang belum merasakan manisnya kehidupan. Beberapa sahabat yang selalu menjadi ladang keluh kesah selalu mengatakan bahwa aku terlalu bodoh dalam menyikapi segala hal yang menimpa rumah tangga.
Aku bodoh? Atau santai? Entahlah. Aku tak pernah beranggapan kalau Mas Genta selama ini berbuat zalim, semua yang kurasakan masih dalam batas wajar. Terkadang ia manis, terkadang memuakkan. Bukankah itu hal yang wajar dalam suatu pernikahan?



Sendiri, menikmati detak jam dinding yang berbunyi. Tak ada telepon, pesan, atau apa pun dari suami. Bahagia betul rupanya ia liburan di sana. Pikiranku mendadak melayang ke peristiwa beberapa jam lalu, di mana sosok yang sangat mirip Mbak Nadia keluar dari minimarket lalu masuk ke mobil bersama seorang lelaki dan balita. Siapa wanita itu? Mengapa begitu sama? Andai memang ia adalah mantan istri Mas Genta yang ternyata belum meninggal masa iya kemudian menikah dengan lelaki yang menolongnya. Macam sinetron ikan terbang saja
.
Iseng, kuraih ponsel dan menelpon Mas Genta. Baru nada sambung yang kedua sudah diangkat. 'Mantap, gercep!'
Mas Genta : Assalamu'alaikum, Pur. Gimana bobo nggak ada saya? Bisa nggak?
Duh, cerita nggak, ya? Ah, nanti saja. Khawatir merusak suasana dan si Gentong malah nggak pulang.
Mas Genta : Puurrrr ....!
Aku : Wa'alaikumussalam. Nggak ada Pur, Mas. Istrimu Lita bukan Pur. Masih aja, Par Pur Par Pur.
Mas Genta : Iya ... kenapa, Lit? Saya sama Ian lagi di luar villa makan kacang rebus. Sejuk lho.
Aku : Nggak usah pamer kamu, Mas! Dari tadi HP-ku sepi, memang kamu nggak rindu sama istri?
Mas Genta : Nggak.

Kesal! Segera kumatikan panggilan tersebut dan membanting ponsel ke atas kasur. Dipikir aku pun rindu dengannya? Maaf, ya, Mas. Tidur lega tanpamu.
Dering notifikasi ponsel berbunyi. Satu pesan dari Mas Genta, rupanya ia merasa bersalah atas ucapannya, lalu berusaha meminta maaf.
Mas Genta : Pur, maaf, ya. Tadi maksudnya itu nggak salah lagi. Belum selesai ngomong sudah dimatiin teleponnya. Selamat tidur bidadari. Assalamu'alaikum.



Selama Mas Genta dan Ian Gathering ke Bandung, aku menetap di rumah orang tua. Lumayan, setidaknya ada yang menemani. Daripada terus-menerus iri karena si Gentong hampir setiap jam mengirim foto-foto liburan mereka di Bandung. Menyebalkan bukan? Mendadak setitik rindu muncul di hati, tak sabar rasanya menanti mereka pulang hari ini.
"Lit ... Genta pulang hari ini?" Suara ibu mengagetkanku yang sedang asyik memasak demi menyiapkan makan malam untuk suami.
"Iya, Bu. Sebentar lagi sampai kayaknya."

"Eh, kayak ada yang salam. Sini ibu yang lanjutin masak, kamu buka pintu. Barangkali suamimu."
Berlari kecil menuju ruang tamu. Dari suara, sepertinya memang Mas Genta yang mengucap salam.
"Minggir sebentar, Pur. Saya gendong Ian tidur soalnya." Segera ia melangkah menuju kamar menggendong Ian yang tertidur. Tentunya, dengan raut wajah datar tanpa senyum. Menyebalkan!
Langkahku mengikuti Mas Genta yang berjalan menuju kamar, lalu meraih tangannya serta mencium dengan takzim.

"Senyum kenapa, Mas! Laki-laki kok jutek banget."
"Kamu itu disenyumin dikit suka baper, terus tiba-tiba minta jatah. Masalahnya aku aja baru pulang, belum mandi."
"Terserah kamu, Mas!" Aku merajuk, meski dalam hati ingin menampakkan cengiran padanya. Lalu berjalan ke dapur untuk menyiapkan makan dan minum untuknya.
Tak lama kemudian Mas Genta berjalan ke kamar mandi dengan handuk melingkar di lehernya. Sebentar ia menghampiri aku yang tengah menyiapkan makanan di meja makan, lalu mendaratkan beberapa kecupan singkat di sekujur wajah.
Bakda maghrib, kami menikmati makan malam bersama kedua orang tuaku. Kecuali Ian, ia memang telah lelap sejak sampai rumah. Entah mengapa napsu makanku malam ini tak baik, bayang-bayang pertanyaan yang sudah terangkum sedemikian rupa tak sabar untuk segera kulayangkan pada Mas Genta.



"Kapan pernikahan kita segera diurus ke KUA?"
"Sabar, Pur."
Aku segera bangkit dari dada bidang tersebut, menatap sepasang mata cokelat tersebut dengan tajam. Lelah rasanya meminta agar ia segera mengurus surat pernikahan kami agar tercatat di KUA.
"Mas, biar bisa buat KK. Aku nih lagi hamil."
"Saya nggak minta kamu segera hamil, Pur."
Agak kencang kupukul pahanya hingga ia mengaduh. Bisa-bisanya bicara demikian. Kerjaannya nyemai terus, hasil panennya ditolak.
"Nggak mau aku hamil karena masih berharap Mbak Nadia kembali, ya, Mas?"

Mendadak kepalanya berputar, raut wajahnya berubah. Terus ia menatapku tanpa kedip, netranya semakin menyipit. Dari tatapannya, aku mengartikan bahwa ia benar-benar tak suka jika membahas hal ini.
"Kenapa, Mas? Mbak Nadia itu masih hidup."
"Pur ...."
"Mbak Nadia masih hidup."
"Pur ...."
"Mbak Nadia masih hidup!" Lantang aku berbicara hingga ia bangkit, membingkai kasar wajahku dengan kedua tangannya. Menyatukan kening kami, lalu menggertakku cukup kencang. Untungnya gertakannya tak sampai membangunkan Ian yang tertidur.
"Cukup, Pur ...!"

"Kenapa? O, ya. Ada satu lagi."
Perlahan menuruni ranjang, lalu mengambil sesuatu dari dalam tas. Benda yang kudapat dari laci lemari Mas Genta, yang berhasil membuat insomnia karena terus memikirkannya. Di mana, benda tersebut adalah sebuah foto pernikahan mantan istrinya. Hal yang paling membuat terkejut, sebenarnya bukanlah fotonya--melainkan kutipan di baliknya.

"Pur ...!" Mata nyalang tersebut kini berubah sendu. Bibirnya bergetar, seperti kesulitan untuk mengucap sesuatu. Mimik wajah tersebut justru membuat rasa penasaranku kian naik. Ambisi untuk segera mengetahui rahasia yang ia sembunyikan semakin kuat.
"Jelaskan, Mas! Mengapa kamu seolah belum menerimaku sebagai istri, dan terobsesi untuk menjadikanku seperti Nadia? Mengapa kamu jadikan hal-hal seperti ini sebagai rahasia? Ada apa sebenarnya, Mas. Bingung."

Mata bulat itu kini berkaca-kaca, perlahan air mata meluncur deras melewati pipi cokelatnya. Tak mau terbawa emosi, aku menggerakkan tangan, membantu mengusap bulir bening itu. Menyandarkan kepalanya di atas bahu. Jelas terdengar isak tangis dari bibirnya. Ya ... Gentongku yang kaku bak kanebo kering itu kini menangis.
"Aku itu nanya, Mas. Bukan ngomel-ngomel."
"Kamu anak baik, Pur. Kamu cantik."
"Iya ... aku tau. Semua orang juga bilang seperti itu."

Kepedean memang, biarkan saja. Siapa suruh menjawab aneh, diberi rentetan pertanyaan malah terus bilang aku cantik. Di mana nyambungnya?
"Nadia memang sudah mati, Pur."
"T-tapi, aku lihat."
"Mati dari hati saya."
"Maksudnya?"

Mas Genta membawaku dalam dekapan, ia bercerita secara runtun. Hampir dua tahun yang lalu, saat tsunami kecil itu menerjang pesisir pantai. Ia beserta keluarga disibukkan mencari jenazah Nadia yang tak kunjung ditemukan. Lelah sudah pasti, terpuruk? Tentu!
Depresi menyerang jiwa Mas Genta yang begitu kehilangan sosok yang amat ia cinta. Butuh beberapa bulan ia menemukan semangatnya kembali. Sampai akhirnya, kabar yang jauh lebih buruk menyapa. Nadia kembali, tak sendiri. Ia datang berdua dengan seorang lelaki dan perut yang membesar.

"Yang kamu lihat mungkin memang Nadia, Pur. Biarlah! Mereka sudah menikah di bawah tangan juga. Sebenarnya aku sudah menjatuhkan talak satu sebelum bencana alam itu terjadi. Tapi, baru saja mau minta maaf dan ajak rujuk dia justru menghilang."
"Mas, aku nggak paham."
"Jenazahnya nggak ketemu, jelas! Dia belum mati, dia itu kabur sama pacarnya. Saya susah payah ke tempat evakuasi demi mencarinya. Tapi ia malah menipu."
Hela napasnya terdengar berat. Ada sedikit rasa iba, tapi keraguan masih lebih besar. Bagiku, ini belum terbongkar. Rasa yang teramat besar untuk dapat bertemu dengan Mbak Nadia dan suaminya langsung.
"Kamu lagi bohong apa nggak, Mas? Kalau memang dia jahat, kenapa aku harus seperti dia? Aneh kamu, Mas!"
"Nggak, Pur. Itu semua saya lakukan demi Ian."
"Aku akan tetap mencari bukti. Andai kamu menipu, kita pisah!"

-----

#ByT 8
Bidadari yang Terluka (Mengejar Cinta Duda)

"Baiklah, Pur. Saya akan mengurus surat cerai segera setelah itu baru pernikahan kita."
"Kapan, Mas?"
"Secepatnya ...."
"Aku bukan butuh kata itu, tapi waktu yang jelas. Kapan? Hari apa? Tanggal berapa? Mungkinkah kalian ada niat kembali? Makanya anak yang kukandung saja tak kamu harapkan?"
Mas Genta menyandarkan dirinya ke ranjang, lalu menutup wajah dengan kedua tangan. Suaranya terdengar berat, sesekali terisak. Entah beban apa yang dipendam hingga rasanya sulit sekali untuk dikatakan.

"Saya janji akan ceritakan semuanya, Pur. Tapi nggak sekarang. Satu hal yang perlu kamu tau, saya nggak pernah main-main dengan pernikahan kita."
Ia menatap netraku dalam, pandangan kami bertemu selama beberapa saat. Tatapannya kali ini berbeda dengan yang biasanya. Seolah ia berusaha menjelaskan isi hatinya melalui sepasang mata.
"Ada banyak hal yang nggak kamu tau, Pur. Kalau bukan karena Ian, saya nggak akan mati-matian berniat merubahmu menjadi sosok Nadia."

Mas Genta mengajakku keluar, duduk di teras seraya menikmati udara malam. Kami duduk berdampingan dengan jarak cukup jauh dan tatapan lurus ke depan. Sesekali mata ini terpejam, merasakan dinginnya embusan angin malam yang menerpa tubuh.
"Ngapain ngajak keluar kalo dianggurin kayak gini? Kamu kenapa cuek banget deh, Mas? Kayak kanebo kering tau!"
"Saya emang cuek, Pur. Tapi penyayang."
"Nggak percaya!" Aku melengos, saat ia tiba-tiba menatap mesra. Merah pasti pipi ini, tomat pun kalah.
"Pur, kamu kok mau nerima lamaran saya?"
"Seleraku dari dulu memang om-om." Datar aku berbicara, sesekali melirik ke arahnya yang ternyata sedang tertawa kecil memperhatikanku.

Perlahan, ia merebahkan kepalaku ke pangkuannya. Mengusap lembut rambut ini. Meremang bulu Roma seketika saat sentuhannya mendarat ke beberapa titik syarafku.
"Pur ... jika kamu takut saya kecewakan, silakan pergi dari sekarang. Tapi, kalau ternyata dugaan burukmu salah. Berjanjilah, untuk tetap bersama saya apa pun yang terjadi."
Lekat ia memandangku penuh cinta, hingga hati ini terpana. Kalau mungkin emak-emak pembaca sudah gemas dengan tingkahnya, tapi tidak denganku. Bagiku, Mas Genta justru unik, lain dari yang lain.
"Saya boleh cium kamu, Pur?"
"Nggak!" jawabku ketus, padahal ingin.
"Oh, yasudah."
"Amit-amit, Mas Genta!"

Kesal! Aku bangkit dari pangkuannya. Lalu berjalan dengan cara menghentakkan kaki hingga bunyi telapak dan lantai amat terdengar di telinga. Melihat sikapku demikian, Mas Genta hanya tersenyum kecil lalu mengiringi langkah ini menuju kamar.

Dua bulan menikah dengannya, aku mengenal Mas Genta adalah sosok yang cuek, sesekali hangat. Sempat terpikir bahwa ia adalah lelaki lembut, tapi tegar. Nyatanya semua salah, bahwa ternyata karakter memang tidak bisa kita tebak hanya dari melihat wajah.

Hari demi hari berlalu, ia mulai menerima kehamilan ini. Terlihat dari antusiasnya dalam menyiapkan segala keperluanku. Sikapnya semakin lembut, tutur katanya pun semakin halus. Tak pernah lagi ia memaksaku untuk menjadi Nadia. Hanya satu kekurangannya, betapa berat ia memanggil istri manisnya ini dengan sebutan yang lebih layak, yaitu Lita.

"Pur, kalau kamu nggak sempat jemput Ian kabarin saya, ya."
"In syaa Allah sempat, Mas." Aku tersenyum, lalu meraih tangannya dan menciumnya dengan takzim. Kemudian keluar dari mobil.

"Pur ...." Kaca mobil tersebut perlahan dibukanya, lengkungan indah di bibirnya terlihat menggemaskan. Ia tersenyum, sedikit melambaikan tangannya, lalu berucap salam.
Aku masih berdiri sampai mobil sedan hitam itu menghilang dari pandangan. Lembut kuusap perut yang tertutup gamis Balotelli marun ini. Berbagai doa terpanjat untuk sebuah nyawa yang berada di dalamnya. In syaa Allah kamu akan punya akta, Nak.

Sahara, sahabat dekat sejak SMP melambai dari kejauhan. Kami saling mendekat, lalu berpelukan--bagai kawan yang lama tak bertemu.
"Lita, gue pikir Lo nggak Dateng, Beib."
"Dateng lah, mosok nggak."
"Katanya lagi nggak enak badan?"
"Namanya hamil, Beib. Ya, pasti gini kondisinya. Yuk, ke perpus!"
Sahara adalah sahabat yang tak pernah henti menanyakan kelanjutan kisahku dengan Mas Genta. Baginya, aku adalah remaja yang merugi. Sudah dinikahi om-om, di bawah tangan pula. Malang sekali nasib ini.

"Lita, surat nikah lo belum diresmikan?"
"Belum, Sa."
"Lita, ayolah! Gue heran jalan pikiran lo ke mana. Kalau kalian nggak ada kekuatan hukum, si Genta dengan mudah ngedepak kalo dia udah bosen."
"Gue capek, si Gentong bilang nanti terus. Au kapan. Masalahnya ...."
"Masalahnya apa?" Mata Sahara menyipit, menatapku penuh tanya.

"Surat cerai belum diurus. Gentong bohong, istrinya masih hidup, tapi udah nikah lagi ... pastinya di bawah tangan juga. Tau kenapa itu rumah tangga mereka ruwet banget. Aneh!"
Sahara berdecih. Dari awal, ia memang kurang setuju jika aku memilih untuk menerima pinangan Mas Genta. Alasannya sederhana, sudah duda, beranak, tak jelas kehidupannya sebelum bertemu denganku. Terlebih setelah mendengar berbagai curhatanku di awal pernikahan, Sahara amat geram. Hanya laki-laki tega yang meminta sang istri berubah secara totalitas agar seperti mantannya.
Setelah melalui dua mata kuliah, aku bergegas menjemput Ian. Segera kuraih benda pipih dalam tas untuk mencari ojek online, lalu beranjak ke sekolah Ian. Melewati panas terik udara yang menusuk kulit, dan menahan rasa mual yang mulai mendera. Ian ... meski ia hanyalah anak tiri, tapi aku sungguh mencintainya.

"Mama ...," sapa bocah itu riang, lalu menggelendot di tubuh secara manja.
"Mama telepon ayah dulu. Takutnya kita ke rumah oma, ayah malah jemput."
"Oke, Ma ...." Anak lelaki tersebut masih saja menghunjami wajahku dengan kecupan.
Segera kucari kontak Mas Genta, lalu menghubunginya. Meski sedikit susah akibat ulah Ian yang sangat manja.

Mas Genta : Assalamu'alaikum, Pur.
Aku : Wa'alaikumussalam, Mas. Aku lagi di sekolah jemput Ian. Kamu nggak usah ke sini.
Mas Genta : Oh, gitu. Ya sudah. Kamu ke rumah bapak dan ibu duluan. Nanti saya nyusul, lalu antar kamu ke kampus. Assalamu'alaikum.
Aku dan Ian pergi ke rumah orang tua Mas Genta. Memang seperti itu rutenya. Kami sebagai orang tua mengantar Ian ke sekolah, lalu ... sambil menunggu aku dan Mas Genta pulang, kami menitipkan Ian di rumah orang tuanya. Sebenarnya agak bingung, mengapa Mas Genta tidak memakai jasa antar jemput untuk Ian. Bukankah itu akan membuat semuanya lebih efisien?

Aku dan Ian tiba di depan rumah besar bergerbang tinggi. Warna emas yang mencolok menambah kesan mewah. Rumah bergaya Eropa bercat putih bersih, berpadu dengan tiang kokoh yang berwarna keemasan--sungguh amat memanjakan mata.
Kami membuka gerbang tersebut, lalu memasuki halaman yang cukup luas. Air mancur yang berada di tengah rerumputan, persis di depan kursi santai menambah keindahan tempat ini. Mas Genta memang berasal dari keluarga kaya.

"Lita, Ian ...." Wanita tua bertudung kuning tersebut menghampiri. Segera ia mengecup kedua pipi cucunya, lalu beralih ke pipiku, dan ... perutku.
Berbeda dengan anaknya yang bak kanebo kering. Ibu mertuaku justru sosok yang ramah dan penyayang, terlebih ketika ia mengetahui kehamilan ini. Ia selalu riang kala aku berkunjung ke sini meski hanya sekadar menitipkan Ian.
Baru saja berbincang kecil, suara ketukan pintu terdengar jelas sekalinya. Rupanya Mas Genta telah datang.

"Assalamu'alaikum ...," sapanya lembut, dengan menampakkan lengkungan indah di bibir. Senyuman yang sebenarnya amat kusukai tapi terlalu sulit untuk dinikmati. Sebab, biasanya itu bibir selalu datar kayak talenan.
"Wa'alaikumussalam ... anak ibu."
Terlihat bagaimana ibu mertua amat menyayangi putra menyebalkannya. Baru saja datang sudah disambut sebegitu mesra, kecup sana-sini. Bah, anak mama juga rupanya si Gentong ini. Diam-diam aku menutup gigi yang mungkin sudah terlihat semua akibat menahan cengiran.
Setelah melalui obrolan kecil, ibu mertua membuka pembicaraan. Topik yang selama ini kutunggu. Allah seolah mulai menjawab berbagai do'aku.

Kali ini wajah ibu mertua nampak serius, matanya menyipit, dan tentunya menatap Mas Genta. Seolah terhipnotis oleh mata sang ibu, suamiku nampak ketakutan, ia menunduk--seolah tahu apa yang sebentar lagi akan keluar dari mulut ibunya.
"Kapan pernikahan kalian disahkan?" ucap mertua tegas.
"Nadia belum ngurus, Bu."
"Nggak usah tunggu-tungguan dong, Genta! Lemah banget kamu jadi laki-laki. Sini, ibu yang urus sekalian!"
Wajah Mas Genta tampak panik, sekaligus pasrah. Di tengah suasana yang mulai menegang ini, kami dikejutkan oleh teriakan bapak mertua yang sedang menggendong Ian yang tengah lemah.

"Ke rumah sakit sekarang!" Suara teriakannya mampu menghentikan ketegangan ini. Seketika kami bertiga fokus pada Ian yang terkulai lemah.
"Allahuakbar, jadwal Ian transfusi seminggu yang lalu, Bu. Saya lupa," ujar Mas Genta lemah.
Kami semua berlari ke mobil. Membawa Ian yang telah pucat pasi. Sebenarnya, sudah beberapa hari ini kondisi anak itu tampak tak stabil. Hanya saja, karena pengetahuanku yang masih minim, pikiran yang muncul adalah ia lemah karena kelelahan.

Jalanan yang cukup lancar, membuat mobil kami bergerak dengan mudah. Hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke rumah sakit. Mas Genta berlari menggendong Ian menuju UGD yang terletak di bagian depan rumah sakit, seluruh tim dokter dan perawat segera menangani.
Wajah yang tampak bersimbah air mata itu diusapnya berkali-kali. Berlarian ke sana-sini mengurus administrasi rawat inap dan segala tindakan yang mungkin akan dilakukan untuk Ian.
Sampai detik ini, aku belum bertanya tentang apa yang terjadi pada Ian sesungguhnya. Mengapa sampai sefatal ini? Anak lelaki riang tersebut ternyata tak sehat seratus persen.
Satu jam kemudian, Ian dipindah ke ruang rawat inap. Aku, Mas Genta, dan kedua orang tuanya masih menemani. Semua nampak pilu, kecuali aku yang memang masih bingung atas semua hal yang terjadi.

"Lita, Genta. Bapak sama ibu keluar sebentar cari makanan, sekalian buat kalian."
"Iya, Pak," jawab Mas Genta lemah.
Mas Genta terduduk di kursi tunggu. Wajahnya menunduk dengan kedua tangan yang menutupinya. Isak tangisnya kembali terdengar, begitu rapuh dan menyayat hati. Aku memberanikan diri mendekati dan membawanya ke dalam dekapan. Ia yang begitu angkuh di awal, kini pasrah saat jatuh ke pelukanku. Gemetar dadanya akibat Isak yang cukup keras begitu terasa di tubuh ini.

"Maafin saya, Pur. Pernikahan ini seolah membawamu untuk ikut menikmati segala masalah saya."
Tak kujawab ucapannya, dan malah mengalihkan topik pembicaraan. "Ian sakit apa, Mas?"
Ia mendongak, menatapku sendu. Satu hal yang membuatku tersentak adalah, ketika ia mengusap dan menciumi perut ini penuh kasih. Aneh! Padahal sebelumnya begitu tak rela sepertinya jika aku mengandung benihnya.

"Saya sayang sama jiwa yang ada di rahim kamu, Pur. Makanya saya nggak ingin dia hidup di dunia."
Plak! Kutampar wajah mulus tersebut. Kesal, entah bagaimana jalan pikirannya. Mengapa harus berbicara demikian di tengah situasi seperti ini.
"Saya seorang carrier, Pur."
"Hah ...?"
"Saya seorang carrier thalassemia, atau dikenal dengan bahasa thalassemia minor. Pembawa gen penyebab penyakit thalassemia. Saya sudah cek saking penasaran, saat itu ... saya mau membatalkan pernikahan kita setelah mengetahui hasilnya, tapi ibumu menolak."
"Mas, aku nggak ngerti!"
Baru saja Mas Genta hendak menjelaskan lagi, tiba-tiba sosok yang tak asing masuk ke dalam ruang dengan Isak tangis yang terdengar jelas. Ia berlari kecil dan memeluk serta tubuh Ian yang terkulai lemah di atas ranjang pasien.
TbC

-----

#ByT
Bidadari yang Terluka ( Mengejar Cinta Duda )
Part 9


"Bisa sopan nggak? Ketuk atau salam dulu kek!" Mas Genta berbicara lantang terhadap sosok wanita berkhimar panjang di hadapannya.
Wanita itu tak menggubris Mas Genta sedikit pun. Ia mulai memegang tangan Ian, menciumnya, dan mengusap di pipinya. Berkali-kali nama anak kecil itu dipanggilnya. Isak tangis begitu jelas memenuhi ruang rawat inap VVIP ini.

"Maafin bunda, Ian ... maaf!" Terus menangis di depan tubuh Ian yang tergolek lemas, seraya mengecup sekujur wajah anak tersebut.
"Menjauh dari anak saya! Ngapain ke sini? Urus saja anakmu yang sehat!" Nada suara Mas Genta semakin meninggi. Amarah mulai menguasai dirinya, terlihat dari otot leher dan rahang yang tertarik, menampakkan wajah tegasnya.

Mas Genta belum bergerak maju, begitu juga dengan wanita itu dan aku. Kami masih di posisi sama. Perlahan aku memutar kepala ke arah Mas Genta, memperhatikan mimik wajahnya yang benar-benar seperti menahan marah. Pelan kuusap bahu lebar tersebut, berusaha menenangkannya. Namun, ia menepis halus--tanpa sedikit pun menoleh ke arah istri kecilnya ini.
"Jika kamu tidak menghargai saya, nggak masalah. Tapi tolong hargai wanita di sebelah saya."
Suara Mas Genta merendah. Sepertinya ia mulai mengontrol emosinya. Perlahan wanita bergamis biru dongker itu memutar tubuhnya. Kini kami berhadapan. Dapat terlihat dengan jelas dua manik cokelat indahnya menatapku sayup. Kaca di matanya tampak basah, menggambarkan banyaknya tetes air yang telah keluar dari muaranya.

Cantik memang ia. Hidung mancung lancip dengan lubang hidung sempit, serta kulit kecokelatan tapi eksotis khas wanita India. Aku yang perempuan saja kepincut, apalagi Mas Genta, tak heran bila sepertinya ia masih tergila-gila dengan sang mantan. Bibir tipis ranum tersebut melengkung dengan indahnya, seperti bulan sabit yang baru muncul di permulaan fase. Ia berjalan mendekat ke arahku, seraya mengulurkan tangannya.
"Aku Lita ...." Merdu suaranya seolah menghipnotisku.
Ah, apa? Siapa namanya? Tak salah dengarkah aku?

"Aku Lita ...." Aku mengulurkan tangan, lalu kami berjabat tangan. Lembut kulitnya benar-benar bikin minder.
Ya Allah. Pernah nyuci nggak sih ini perempuan? Alus bener kulitnya. Nggak kusikan kayak gue.
"Ah, nama kita sama. Nama lengkapnya Talita Nadia."
Ah, gila. Suaranya kenapa kaya mendesah gitu. Pengen rasanya sumbat telinga Mas Gentong sekarang juga. Takut dia khilaf, dan kembali tergila-gila sama wanita ini.
"Aku Purnama Jelita, Mbak. Panggil Pur aja! Gitu Mas Genta kalau manggil."
Perlahan, bola mata Mbak Nadia berputar ke arah Mas Genta. Mereka saling bertatapan selama beberapa saat. Ada rasa teriris saat melihat hal tersebut. Entah, aku merasa masih ada setitik cinta di antara mereka. Tak banyak, tapi pasti ada.

"Kamu sudah menikah lagi? Selamat!"
Wanita itu mengulurkan tangannya, dan mereka berjabat tangan. Singkat, tapi cukup menggoreskan luka di hati. Ada sesuatu yang tak bisa berbohong kala bertatapan, yaitu mata.
"Mas Genta ...." Lembut ia memanggil suamiku. Mas Genta hanya berdehem, tapi tak menatap sedikit pun.
"Mas ... bisa kita bicara sebentar di luar--tentunya tanpa Purnama."
Aku hanya melongo, sama sekali tak mampu menyangkal ucapan Mbak Nadia. Seolah menjadi obat nyamuk di antara mereka berdua. Perlahan mundur, selangkah ... dua langkah menjauh dari mereka.
"Tetap di sini, Pur! Jangan pergi! Nadia ... silakan bicara, istriku berhak tau." Datar ia berbicara dengan tangan bersedekap di atas dada.

Aku tersentak, saat wanita itu berlutut dan bersimpuh di hadapan kaki Mas Genta. Rintihan tangisnya amat mengguncang dada siapa pun yang mendengarnya. Sementara lelakiku hanya bergeming, dan sesekali menyeka wajah yang nampaknya mulai basah dengan air mata.

Perlahan Mas Genta membungkuk, menyejajarkan tubuhnya. Entah bagaimana cara menggambarkan isi hati ini. Aku perlahan mundur, dan melangkah pergi keluar dari ruangan ini. Ada rasa sakit saat melihat mereka seperti itu. Sekali lagi, sorot mata tak mampu berbohong, cinta di antara mereka begitu besar.
Aku terus berjalan, sesekali menengok ke belakang. Tak ada tanda Mas Genta mengejar, mana mungkin? Malah bisa jadi ia tak sadar bahwa istri kecilnya sudah tak ada di ruangan tersebut.
Brak.

Tanpa sengaja tubuh ini bertabrakan dengan seorang lelaki jangkung yang sedang menggendong balita. Ah, ini kan yang aku lihat menemani Mbak Nadia saat di minimarket itu. Mungkinkah ini suaminya?
"Maaf ...." Singkat lelaki itu bicara.
"Mas suaminya Mbak Nadia, ya?"
Matanya menyipit, heran mungkin karena aku tahu tentang wanita tersebut.
"Talita Nadia? Dia adikku, bukan istri. Kamu kok kenal? Temannya Lita?"
"Emm, bukan. Saya istri mantan suaminya."

Lelaki tersebut kemudian memperkenalkan diri, lalu mengajakku berbincang berdua di kursi tunggu rumah sakit. Kami duduk berhadapan, dengan ia yang masih menggendong balita yang ternyata adalah anak kandung dari Mbak Nadia.
Panjang lelaki tersebut menguraikan kata demi kata. Menjelaskan bahwa ketika keluarga mereka mengetahui bahwa Ian yang saat itu masih berusia sepuluh bulan terjangkit thalassemia, maka kesimpulannya adalah bahwa kedua orang tuanya merupakan carrier thalassemia.
Thalassemia sendiri merupakan penyakit genetika, dibawa oleh kromosom tubuh ( autosom ). Penderita memiliki sel darah merah yang abnormal, berfungsi tidak sebagaimana mestinya. Jika eritrosit atau sel darah merah seharusnya mengandung hemoglobin yang mampu mengikat oksigen bebas di udara, tidak dengan penderita.

Penderita akan mengalami anemia terus-menerus, akibat sel darah merah yang terus rusak karena tak mampu mengalami regenerasi. Tindakannya memang dengan transplantasi sel induk, yaitu sum-sum merah yang memproduksi eritrosit. Akan tetapi, tak semua pasien bisa diterapkan terapi demikian. Maka, pengobatan sementara adalah dengan transfusi berkala.

"Kami bersikeras menjauhkan Talita dengan Genta saat melihat Ian mengalami penyakit tersebut, karena tak ingin anak seterusnya seperti itu. Maka, saat tsunami menerjang pesisir pantai dua tahun lalu. Kami membuat seolah-olah Talita adalah salah satu korbannya."
"Tapi ... bukankah Mbak Nadia sudah menikah lagi?"
"Pernikahan seumur jagung, di bawah tangan. Ia dan anak ini ditinggal begitu saja. Maaf saya tidak bisa lama-lama. Itu Talita sudah menunggu."

Aku mendongak ke arah lelaki tersebut menunjukkan tangannya. Wanita cantik itu tengah berdiri sekitar jarak tiga meter di hadapanku. Tampak anggun dengan make up tipis dan gamis biru dongker yang senada dengan Khimar panjangnya. Lelaki di hadapanku pun beranjak pergi dan melangkah bersama dengan Mbak Nadia.
Tersisa aku sendiri, yang duduk di kursi tunggu. Terbelenggu memikirkan berjuta tanya yang melesak di dalam otak. Teka-teki itu seakan terus meliuk-liuk, memaksaku untuk segera memecahkannya.
Allah, bantu aku mengungkap tabir ini. Apa pun jawabannya, aku yakin itu yang terbaik untuk hidup ini. Qoddarullahu wa masyaa'a fa'ala.

"Pur ...." Suara lembut serta sentuhan halus mendarat di bahu. Mas Genta sedang berdiri tepat di belakangku, sedikit ia bungkukkan tubuhnya agar mampu mengecup pucuk kepala ini.
"Masuk, lebih baik kita temani Ian."
Aku menurut, menggerakkan kaki menuju kamar tempat Ian di rawat. Berjalan gontai akibat lemas karena sesuatu hal yang belum jelas, tapi nampak seperti ancaman besar.
Pernikahan penuh misteri dan tak terduga. Aku tak pernah menyangka bahwa mantan istri yang sering disebut dengan mendiang karena terpikir bahwa ia telah tiada ... ternyata masih sehat. Mungkin itu alasannya mengapa rasa cemburu kian hadir saat Mas Genta menyebut namanya, karena memang sosok itu masih hidup. Tentang alasan mengapa mereka berpisah pun aku masih tak mengerti, tak mungkin hanya karena penyakit Ian. Bahkan dengan jelas rantai cinta terlihat di mata mereka.

"Pur, tadi itu ...."
"Aku tau, Mas. Mbak Nadia, kan? Cantik, ya? Mungkin itu alasan kamu selalu menyebut namanya."
Kini ia menggenggam lembut kedua tanganku dan menatap dalam. Disajikan pemandangan sepasang netra cokelat yang indah nyaris membuatku terlena.
"Dua bulan ini kamu membuat saya jatuh cinta, Pur. Ia adalah masa lalu, dan kamu berhasil menggantikannya ternyata."

"Apalah aku, Mas? Usia pun belum genap dua puluh tahun. Hanyalah anak kecil yang berharap dicintai oleh suaminya sendiri, tapi sepertinya takkan mungkin. Mata kalian nggak bisa bohong saat berhadapan tadi."

Mas Genta kini mulai merangkai untaian kalimat yang memang sedari tadi hendak dia ucap. Menurutnya, Ian adalah segalanya. Ian sangat mencintai bundanya, dan sampai detik ini belum tau jika sosok yang dicinta itu ternyata masih hidup.

Ketika mengetahui bahwa Ian adalah pengidap thalassemia mayor, keluarga Nadia ketar-ketir. Secara ilmu sains, persentase anak mengidap thalassemia mayor semakin besar jika kedua orang tua adalah carrier atau si pembawa gen tersebut.

Kelelahan cukup dirasakan oleh keluarga mereka ketika Ian selalu melakukan transfusi berkala setiap dua bulan sekali. Jika tidak, fungsi hatinya akan terganggu, tubuhnya menguning. Sempat terjadi pertengkaran antara Mbak Nadia dengan Mas Genta.

Mas Genta yakin bahwa Mbak Nadia pun seorang Carrier, makanya bisa terlahir Ian dengan kondisi yang demikian. Akan tetapi, Mbak Nadia tetap menyangkal, menurutnya semua gen thalassemia itu dibawa oleh Mas Genta.

Sesaat setelah tsunami menerjang pesisir pantai, Mas Genta dan keluarga berusaha mencari Mbak Nadia ke setiap sudut. Karena awalnya mereka mendapat berita bahwa istrinya itu memang sedang berada di kawasan sana. Mas Genta sempat down parah saat mengetahui bahwa sosok yang dicintai hilang ditelan bumi, tapi ternyata ... ia kembali beberapa bulan kemudian dengan lelaki lain dalam keadaan hamil--kabarnya juga nikah di bawah tangan.

"Malam itu saya menalaknya satu kali, Pur. Lalu ia pulang ke rumah orang tuanya dan tak kembali sampai bencana alam itu terjadi. Menyakitkan, ia menghindar hanya untuk melewati masa Iddah agar bisa kembali menikah."
"Mas, kamu takut anak yang kukandung bernasib serupa dengan Ian?"
"Saya trauma, Pur."

Kembali ia membawaku ke dalam dekapan. Begitu erat dan hangat, aroma tubuh alami yang dulu selalu mampu membius penciumanku untuk tetap di posisi nyaman dengannya kini tak kurasakan. Kini akulah yang jadi si kanebo kering. Entah, sejak melihat bagaimana cara ia membungkukkan badan hanya demi menatap Mbak Nadia, hati ini sakit. Dua bulan menikah dengannya, sekali pun ia tak pernah melakukan hal demikian.

Siapakah aku? Hanya remahan rengginang yang bertumpuk di dalam kaleng Khong Guan. Tak bisa dibandingkan dengan Mbak Nadia yang begitu elegan dan mengagumkan.
Siapa aku? Gadis kecil yang baru bikin KTP tiga tahun lalu. Yang bahkan penggemarnya pun adalah anak-anak sekolah dasar semua. Mana pantas bersaing dengan Mbak Nadia.
"Kamu ngobrol apa sama Mbak Nadia, Mas ...."
"Tentang Ian aja."
"Bohong."
"Benar, Pur."
"Nggak percaya. Jujur, Mas!"
"Nadia ... Nadia ...."
Krek.

Suara pintu terbuka, bapak dan ibu mertua telah kembali dan membawakan dua bungkus nasi untuk kami.
"Bu, Pak. Kalian yang telepon Nadia agar menjenguk Ian?"
Bapak dan ibu mertua saling berpandangan dengan raut wajah yang polos.
"Nggak, memang dia ke sini? Mau apalagi wanita itu? Setelah meninggalkan anak dan suami seenaknya--kembali pun semaunya. Gila!"
Bu Ratih--ibu mertuaku tampak benar-benar muak saat mengetahui kedatangan Mbak Nadia. Sungguh memang ada dendam yang terlukis di keluarga kecil ini hingga menanamkan benci yang sebegitu besar di mata keluarga Mas Genta.

-----
 
#ByT
Bidadari yang Terluka (Mengejar Cinta Duda)
Bagian 10
๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ

Satu hal yang tak mungkin dapat terbaca, yaitu takdir. Dulu, sewaktu masih menjadi lajang dan berhadapan dengan beban berat, kupikir menikah adalah solusi. Nyatanya tidak, kini aku seperti terjerembap di sebuah lorong nestapa. Pernikahanku yang sebelumnya baik-baik saja menjadi berliku setelah hadirnya sosok Nadia.

Tak banyak yang diminta darinya, ia hanya ingin terus berada di sisi putra kesayangannya. Ya ... ia meminta agar Mas Genta perlahan mengatakan bahwa ibu kandungnya tidak meninggal. Hal sederhana, tapi begitu rumit. Sebab, dengan demikian, pertemuan antara mereka lebih intens. Terlebih, sejak tahu bahwa sosok sang ibu masih ada, Ian gemar sekali meminta Nadia untuk mengunjunginya.

Dua belas hari sudah Ian menginap di rumah sakit, hari ini jadwal kepulangannya. Bersyukur karena kondisinya sudah semakin membaik. Meski belum tahu kapan bisa dilakukan tindakan cangkok sumsum merah, karena transfusi berkala tidak dapat menyembuhkan total, hanya terapi sementara untuk mengembalikan kadar sel darah merah dalam tubuhnya.

"Ayah, bunda ikut pulang ke rumah kita, kan? Tinggal sama-sama lagi?"
Mas Genta tampak bingung menjawab, sesaat bertanya menatapku dalam. Menampakkan kebingungan, dan berharap agar aku dapat membantu menjawab pertanyaan Ian.
"Ian ... bunda nanti akan antar Ian sampai rumah. Tapi nggak bisa tinggal dan bobok bareng lagi." Lemah Mas Genta berucap, semua agar tidak menyakiti hati putra kecilnya.
"Loh kok gitu ayah? Ian kan kangen nasi goreng bunda."
"Mama Lita kan juga jago masak." Mas Genta masih merayu bocah tersebut agar tak banyak permintaan.

"Tapi Ian mau sama bunda, bukan mama Lita." Anak tersebut merajuk, menangis kencang--mengharap iba. Mas Genta nampak bingung, tampak beberapa kali ia memijat pelipisnya saat mendengar putra kecilnya meraung-raung.
"Iya, Ian. Bunda akan selalu nemenin Ian. Bacain cerita sebelum bobo, empok-empok Ian."
"Bener, Bunda?"
"Iya, dong."
Mendengar ucapan Mbak Nadia, mata Mas Genta menyipit.
"Nadia, ikut saya keluar." Nada yang cukup tegas itu keluar dari mulutnya, mendengar demikian aku bersiap untuk beranjak mengikuti mereka.
"Pur, tetap di sana!"

Aku menurut, lalu menatap mereka yang melangkah menjauhi ruangan ini. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku berada di posisi serba sulit. Rasanya, melihat sikap Mbak Nadia demikian--nggak bisa rasanya untuk tetap ber-husnudzon.
Setelah mengurus administrasi, kami pulang dengan mobil. Aku dan Mas Genta duduk di depan, sedangkan Ian dan Mbak Nadia duduk di jok belakang. Ian tampak bahagia karena bisa kembali bersua dengan bundanya. Mereka betul-betul akrab sekali. Beberapa kali bocah kecil tersebut menggelayut manja di tubuh langsing bundanya. Sementara, aku pun tahu bahwa pandangan lelakiku tak pernah lepas dari kaca spion di hadapannya, tengah memperhatikan dua sosok di bangku belakang.

Jalanan yang lengang membuat mobil kami melaju dengan cepat, hanya butuh waktu lima belas menit saja untuk sampai ke rumah. Entah kenapa, melihat Nadia di rumah ini ada rasa tak senang dalam diri. Mengapa Mas Genta tidak bisa tegas sedikit, apakah ia pun sebenarnya suka akan kehadiran mantan istrinya?
"Mbak Nadia nginep?"
"Ya enggak dong, Pur. Lagian dia juga punya anak."
"Tapi ini udah jam delapan malam."
Mas Genta segera menggamit tanganku dan menuntunnya menuju kamar Ian.
"Nad, sudah malam. Ian, ayah aja yang gantiin bunda empok-empok. Biasanya juga sama ayah dan mama Lita." Suara Mas Genta terdengar menyindir, nampak Mbak Nadia menahan malu dengan menundukkan kepalanya.

"Ian, bunda pulang dulu, ya. Nanti bunda ke sini lagi bawa dedek kecil."
"Benar, Bunda? Ian punya adek?"
Mbak Nadia tersenyum mengangguk, lalu memutar kepala ke arah kami. Lengkungan indah bibir tersebut kini terpampang di hadapan wajah kami, membuat sosok di sebelahku mematung karena terpana.
"Ian ... nurut ayah. Bunda mau pulang, rumah bunda kan bukan di sini sekarang."
Mas Genta memintaku untuk mengantar Mbak Nadia ke depan rumah. Sedangkan ia menggantikan Mbak Nadia menemani Ian. Aku melangkah berjajar dengan Mbak Nadia, sesekali kami mengumbar senyum, cukup sulit memandang ia yang ternyata cukup jauh lebih tinggi dari aku yang mini ini.
"Berapa usiamu, Pur?"

"Bulan depan dua puluh tahun, Mbak."
"Ah, kukira masih baru lulus SMA loh. Kayak anak kecil kamu."
"Iya, Mbak. Awet kecilnya kalau kata orang mah. Kurang susu, hehe."
Mendengar aku bicara demikian, Mbak Nadia tertawa cukup keras. Hingga ia susah payah menutup mulut agar suara tawanya tak terdengar kencang.
"Pur, kamu tenang, ya. Aku hanya ingin bersama Ian, bukan ayahnya."
"Sama ayahnya juga nggak apa-apa, Mbak."
Segera kututup mulut ini. Aih, keceplosan.
"Serius?" tanya Mbak Nadia menyidik.
"Eh, jangan, Mbak."

Mbak Nadia kembali tertawa, sedangkan aku tidak. Puas tertawa, ia kembali bergeming--sesekali terpejam menikmati embusan angin malam yang menerpa, membuat Khimar panjangnya melambai tertiup angin.
"Rawat tanaman ini ya, Pur. Dulu aku yang biasa mengerjakan semuanya." Otot rahangnya tampak melemas, pandangannya menunduk ke bawah.
"Iya, Mbak."
Tak lama kemudian, taksi online pun datang. Mbak Nadia pamit, setelah sebelumnya ia memeluk tubuhku. Memohon agar menjaga dan merawat Ian dengan baik.
"Aku pamit, ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."



Malam semakin larut, hawa dingin menyeruak hingga ke tubuh. Tanpa sadar mata ini terbuka perlahan, dan mendapati Mas Genta dengan mata masih terbuka lebar.
"Mas, kamu belum tidur?"
Ia tak menjawab, hanya tersenyum dan mendekatkan wajah kami.
"Kamu terbaik, Pur."
Ia mulai mengirimkan kehangatan itu melalui bingkai kecil nan lembut di wajahnya. Aku tersentak ketika ia membawa tubuh kecil ini dalam dekapannya.

"Saya lagi ingat pertama kali ketemu kamu. Lucu deh, Pur."
"Oh, iya. Ibu bilang Mas Genta pernah suka sama aku sebelum ketemu sama Mbak Nadia. Apa benar? Pasti aku kan masih kecil banget."
"Iya, Pur. Kamu baru lulus SD waktu itu. Dulu kamu bongsor, usia segitu udah kayak remaja banget, eh nggak taunya segini-gini aja. Nggak nambah gede."
Kesal! Aku menyikut perutnya hingga ia mengaduh. Sambil mengusap kepalaku, ia banyak bercerita. Dikatakan bahwa ia pernah kenal denganku dulu sekali, saat aku hendak mendaftar ke Sekolah Menengah Pertama. Hanya saja, usianya yang sudah memasuki dua puluh tujuh tahun, membuat orang tuanya ketar-ketir.

"Nggak nyangka sekarang bocah kecil itu jadi istri saya."
"Terus apa hubungannya sama Mas yang masih melotot sampai jam segini?"
"Nggak ada."
"Kalau gitu kita bahas perceraian Mas aja. Kapan disahkan di pengadilan, biar pernikahan kita bisa segera diresmikan juga."
"Itu pasti, Pur. Sabar."
"Nunggu apa sih, Mas? Nggak mungkin karena uang, kan?"
"Nggak, Pur."
"Apa karena mau kembali sama Mbak Nadia?"
"Wallahi, Purnama. Nggak."
Entah bagaimana cara berpikir Mas Genta, aku tak paham. Apa sulitnya mengurus surat cerai lalu mengesahkan pernikahan di KUA. Aku hanya butuh kejelasan secara hukum. Apa yang memberatkan dirinya mengurus semuanya, andai ada uang--jalan dan mengurus sendiri aku mau.




Hari demi hari berlalu, kami disibukkan dengan mengantar jemput Ian hanya demi menemui bundanya. Sungguh perih hati jika ternyata sikap bocah kecil itu berubah padaku saat ibu kandungnya telah kembali, hampir tak pernah lagi ia mau memakan masakanku. Bahkan, urusan jemput-menjemput pun, ia lebih memilih ibu kandungnya.
Mas Genta pun masih stagnan, belakangan ini malah seperti orang linglung saat kutanya kapan perceraian diurus. Allah, hidupku penat sudah. Beratkan permintaan ini? Sepertinya tidak.
"Pur ... ayo siap-siap. Antar Ian ke rumah Nadia."
"Sebentar, Mas."
"Pur, ayo ...."

Akhir-akhir ini Mas Genta selalu bersemangat kala mengantar Ian menemui Mbak Nadia. Tak mau berburuk sangka, tapi pikiranku selalu menangkap suatu hal yang buruk.
"Mas ...."
"Ya, Pur."
"Kamu bisa mengambil cuti hanya untuk mengantar Ian ke rumah bundanya. Mengapa untuk ke pengadilan kok susah banget, ya?"
Ia melangkah ke arahku, kemudian meletakkan kepalanya ke bahuku dengan dua tangan melingkar di atas perut. Tangan itu mulai bergerak memutar, memberikan sentuhan halus di sana.
"Sabar, Pur. Segera kuurus."
"Kapan, Mas? Sudahlah, antar Ian sendiri sana! Aku mau ke rumah ibu."
Kuraih koper kecil yang berada di samping lemari, lalu memasukkan pakaian satu per satu. Terlalu lelah menghadapi suami yang hobi berkelit. Jika dulu aku terima ia mengundurkan perceraian karena menahan beban seorang diri. Sekarang apa?

"Pur ... dengerin dulu!"
"Apa, sih? Capek aku lah!"
"Pur ...!"
Diam-diam, kuraih ponsel demi memesan ojek online. Baiklah, hari ini aku pulang ke tempat ibu. Dosa memang, sebab tanpa izin suami. Habis bagaimana? Tak pernah kuminta barang mahal padanya, hanya ingin pernikahan kami juga dah secara hukum. Biar bagaimana aku sedang mengandung benihnya. Tegakah dia jika anaknya lahir dan tidak bisa buat akta.
Hanya menunggu lima menit, pengemudi ojek pun tiba di depan pagar. Aku segera berlari dan menaiki motor. Tak peduli apakah Genta marah atau tidak. Sebenarnya bukan hal sepele ini yang membuatku nekat pulang ke rumah orang tua, tapi ....
Kelopak ini membasah seketika, saat teringat peristiwa yang kulihat seminggu yang lalu.

๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ

Langit mulai berubah warna, pertanda petang akan tiba. Bayangan sang purnama mulai muncul di ufuk barat. Ah, sudah sore, tapi Ian masih betah di rumah bundanya. Aku mengitari taman, berharap menemukan Mas Genta dan Ian yang entah ada di mana.
"Mas Genta ... udah sore, nih."
Dengan mata kepala sendiri aku melihat mereka bertiga bercengkerama riang di taman. Di mana Mbak Nadia memangku Ian di atas ayunan yang digerakkan oleh Mas Genta.
"Mas Genta ...!"
"Eh, Pur. Sini ikutan!"
"Ayo, pulang! Sudah sore."
Kami berpamitan dengan Mbak Nadia. Terpaksa seulas senyum tetap kuberikan untuknya. Demi apa? Aku malas cari ribut. Biarlah mereka menanggung dosa jika membunyikan sesuatu dariku.
Jangan dikira masalah ini tak kubicarakan dengan Mas Genta. Entah harus percaya atau tidak. Jawabannya selalu sama, demi Ian.

๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ

Lembut aku menyeka wajah yang telah basah. Tak terasa, aku hampir sampai di rumah.
"Pak, sampai gang aja."
"Lho, kenapa nggak sampai rumah, Neng? Titik pengantaran masih jauh, lho."
"Saya mau jalan kaki. Stres, Pak."
Pengemudi ojek pun hanya melongo saat mendengar ucapanku. Tak banyak menjawab, ia hanya berucap terima kasih setelah memberikan uang kembali.
Berjalan tertatih karena menanggung beban ketakutan membuat pandangan ini sedikit buyar. Terlebih perut ini memang belum terisi nasi sejak sore tadi.
Ponsel berdering beberapa kali, kukirim sebentar, dan kembali meletakkannya ke dalam tas. Sudah hafal dengan karakternya, pasti hanya ingin meminta maaf--lalu berjanji, dan mengulangnya lagi. Begitu terus sampai aku tambah tinggi. Nggak mungkin, kan?
Aku tiba di depan rumah orang tua, berlari kecil membuka pagar dan memeluk ibu yang tengah menyapu halaman.

"Ibu ...."
"Lita, sendirian kamu?"
Aku mengangguk, lalu masuk ke dalam rumah bersama ibu. Kuputuskan, hari ini akan dikeluarkan segala isi hati pada wanita yang telah mengandungku sembilan bulan ini.
"Bu, Lita nggak nyaman semenjak mantan istri Mas Genta kembali."
"Iya, Lit. Ibu juga bingung. Ternyata masih hidup, tau duda cerai mah nggak akan ibu kasih ke kamu."
"Pulang, Lita. Bapak ikut nggak ridha jika kamu ke sini tanpa ridha suami."
Suara bapak membuyarkan perbincangan aku dan ibu. Bapak adalah orang tua yang berperan besar dalam perjodohanmu dengan Mas Genta. Entah apa misi di baliknya hingga ia bersikukuh menikahkan putrinya dengan lelaki matang berstatus duda.
"Pak, Lita ...."
"Ikut bapak, Lit!"
Aku mengikuti langkah bapak, dan membuka pembicaraan. Hela napas bapak panjang, seakan mengingat rantai peristiwa yang mungkin pernah terjadi di hidupnya.
"Pak, Lita lelah. Mas Genta selalu mengulur waktu, seolah enggan mengesahkan pernikahan kami."
"Bapak paham, Nak. Tapi kamulah yang seharusnya paham bahwa semua ini kesalahanmu bukan mereka. Ingatkah kamu ... jika bapak pernah berkata, apa yang kamu tanam, itulah yang kamu tuai."
Mulutku menganga, saat telinga ini menangkap seluruh perkataan bapak. Menanam, menuai. Apa? Apa maksud bapak? Mengapa aku yang disalahkan?
"Terkadang, dikejar dosa membuat kita dihantui pikiran buruk. Seperti yang kamu alami, Lita."

Bersambung