#ByT
Bidadari yang Terluka ( Mengejar Cinta Duda )
Part 11 : Delusi Psikosis, by Almeera Rosa
☘☘☘
Baca dengan detail, ya! Biar nggak gagal fokus. Yang merasa ceritanya kenapa jadi begini atau begitu, jadi malas baca. Silakan melipir segera. Buat satu part ini benar-benar menguras pikiran. Jadi yakinkan jari kita untuk tidak mencela hanya karena jalan cerita tidak sesuai dengan keinginan kalian. Kecuali, memberikan kritik, saya akan terbuka.
Sekali lagi, ini fiksi.
☘☘☘
"Stop, Pak!" Jangan bicara lagi, stop!"
"Lita ...!"
Aku melangkah mundur, lagi ... dan lagi. Hingga tubuh menabrak dinding di belakang, lalu jatuh terperosok ke lantai. Bagai tertimpa beban berat, kepala ini mendadak sakit ... sakit sekali. Perlahan bayang-bayang Nadia, Ian, dan Mas Genta ... menari-nari di depan mata. Samar, tapi masih dapat dikenali.
"Jangan, Lita ...!" Suara Mbak Nadia begitu lemah, pun sorot matanya yang amat memelas--memohon, agar aku menghentikan aksi untuk melenyapkannya.
Kembali aku mengucak mata, bayang Mbak Nadia kembali hilang. Berganti dengan sosok bapak yang memang sedang berada di hadapanku.
"Lita, kamu mulai ingat, Nak?" Lembut bapak berkata kepadaku yang tengah mengingat semuanya.
Allah, apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa ada lintasan bayang-bayang di mana Mbak Nadia terjatuh di pinggir jembatan dan teriakan Ian. Hilang ketika aku membuka mata, dan muncul ketika aku kembali memejamkan mata.
"Bundaaa ....!" Lengking suara Ian yang terdengar begitu memekakkan telinga.
Kini bayang anak lelaki tersebut yang muncul di depan mata. Kepalaku semakin pusing dibuatnya. Apa yang sedang terjadi?
"Ian, Mas Genta, Mbak Nadia ...." Parau suaraku masih terdengar di telinga bapak. Sosok lelaki yang paling mencintaiku di dunia itu tengah memeluk putrinya yang sedang depresi berat ini.
Perlahan aku mulai tersadar. Bukan hanya mata yang terbuka, tapi juga hati. Meratapi dosa yang telah kulakukan akibat emosi semata. Sore hari itu, setan telah tertawa, bersorak-sorai, karena telah mendapat teman di neraka kelak. Siapa temannya? Tentunya aku, si pembunuh berdarah dingin.
Ingin rasanya menarik selang kecil di dalam pembuluh vena ini. Lalu berlari keluar, sekaligus pergi dari kenyataan pahit. Andai ... andai aku tak terbawa emosi, semua ini takkan pernah terjadi.
Allah telah menghukumku atas rasa ini, atas dendam yang begitu besar tertanam di hati. Atas segala bentuk curiga yang berimbas kepada kenekatan diri.
Lelaki matangku menghampiri, mata yang dulu begitu indah ... kini bengkak. Bukan karena ia menangisi yang telah pergi, tapi menyesali mengapa istri yang amat dicintai bisa berbuat Setega itu.
"Mas Genta, ampuni aku!" Rintih suaraku menggema di sebuah ruangan di rumah sakit.
Kuraih punggung tangan tersebut, lalu mengecupnya beberapa kali. Seluruh air mata ini tumpah, membasahi tangan yang masih berada di pipiku tersebut.
Mas Genta masih diam. Tatapan matanya datar, kantung matanya membesar. Tak digubrisnya ucapanku sama sekali.
"Mas Genta ... ampuni aku, Mas. Ampuni aku!"
Lelaki berwajah teduh tersebut mulai berucap, suaranya parau. Menggambarkan begitu banyak beban di dalam dadanya. Ia pasti terguncang sangat atas semua hal yang menimpa rumah tangga kami.
"Kamu sudah lebih baik, Pur?"
"Mas ...."
Kaca di mata kami sudah semakin basah. Aku menghamburkan diri ke pelukan Mas Genta, ia menyambutnya ... tapi tak seperti dulu. Tak ada kasih sayang, apalagi kehangatan ... hambar.
Lantunan ayat Al-Qur'an terdengar dari masjid yang tak jauh dari rumah sakit, pertanda adzan maghrib hampir tiba. Sudah menjadi kebiasaan warga sini untuk bertilawah sebelum dan setelah waktu shalat.
Bapak, ibu, dan kedua orang tua Mas Genta meninggalkan kami. Masih dengan mulut terkunci, ia membantuku menenggak beberapa butir anti-depresan.
"Sebentar lagi adzan, saya bantu ambilkan semprotan. Biar kamu wudhu di atas kasur saja."
"Baik, Mas."
Melihat suami yang dulu pernah kubenci setengah mati karena terkekang pikiran buruk, melangkah menuju kamar mandi. Begitu ikhlas ya ia membantu istri durjananya ini. Tak lama ia kembali, membawa semprotan berisi air. Membantuku berwudhu dengan menyemprotkan air ke beberapa anggota tubuh.
Mas Genta membungkuk, mencoba mencari sesuatu. Ia mengambil mukena, dan membantuku memasangkannya. Pedih hati ini bagai tergores sembilu saat melihat wajah teduh dengan mata yang berkaca-kaca itu. Terbayang segala kenangan indah yang pernah kami lalui bersama, sebelum kehancuran ini terjadi.
Mas Genta pamit pergi ke masjid, sedangkan aku ... meratap. Mengusap perut yang mulai membuncit ini. Fatamorgana yang kualami bukan hanya isapan jempol. Perlahan mengingat ke belakang, lagi ... dan lagi. Kesadaranku mulai pulih, berkat obat dan dukungan keluarga. Delusi yang kualami tiga bulan ini menimbulkan halusinasi yang begitu besar.
Ya ... aku adalah pasien yang mengalami gangguan mental psikosis yang biasa disebut dengan delusi. Penderitanya akan meyakini bahwa ia sedang merasakan hal-hal yang sebenarnya tak pernah ada dan tak pernah terjadi. Mengkhayal, berhalusinasi, ketakutan sendiri, selalu merasa di posisi disakiti ... kurang lebih seperti itu yang dialami penderita delusi psikosis.
Aku menengadahkan tangan, memohon ampun pada yang kuasa. Seolah menjadi pemegang kunci neraka, aku begitu ketakutan. Kecemasan ini kemudian membawaku pada sebuah delusi khayalan. Sungguh, aku merasa bahwa hari-hari yang pahit itu terasa nyata. Kemesraan Mas Genta dengan Mbak Nadia, tawa menyeringai penuh ambisi wanita tersebut, panggilan manja Ian pada bundanya ... amat terngiang di telinga. Begitu nyata terasa, nyaris aku tak mampu membedakan mana yang benar terlihat dan mana yang hanya sebuah fatamorgana.
Kesadaranku mulai pulih, perlahan mengorek memory di otak. Angan membara ke peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu--yang kemudian membawaku pada kehancuran ini.
๐พ๐พ๐พ
Hari itu, kami liburan ke daerahl
"Mbak Nadia ... aku mau bicara."
"Iya, kenapa, Pur?"
"Apa tujuan Mbak datang lagi mengusik keluargaku? Mengambil hati Ian? Lalu suami aku?"
"Astaghfirullah, Pur. Sudah kubilang, semua yang kulakukan bentuk penebusan kesalahan karena telah meninggalkan Ian. Tak ada keinginan untuk kembali dengan Mas Genta. Ia mencintaimu, Pur. Di hatinya hanya kamu, sama sekali tak tersisa untukku. Hubungan kami hanya masa lalu."
Dadaku memanas, amarah dan cemburu menguasai hati. Berbagai pikiran jelek seolah menari-nari. Membentuk suara yang menggema, seolah berbisik tepat di depan telinga, mengatakan bahwa mereka jahat dan akan menghancurkan keluarga baruku.
"Bohong! Mbak Nadia bohong! Buktinya Mas Genta masih nggak mau urus surat cerai. Pasti ada yang sedang kalian rencanakan."
Aku melangkah maju, mendekati Mbak Nadia yang tengah duduk di tepi jembatan. Nyalang mata ini menatap ia yang semakin mundur karena ketakutan.
"Pur ... kamu mau apa?" Gemertuk giginya amat terlihat melalui celah bibir yang bergetar.
"Pur ...."
"Aku bukan orang jahat, Mbak Nadia. Tenang aja!"
Aku semakin melangkah maju. Kini jarak di antara kami hanya sejengkal saja. Hampir saja kedua kening kami menyatu, tapi ....
"Mbaak ...!"
Aku terpeleset, hanya bertumpu dengan kedua tangan yang memegang tepi jembatan. Sedangkan seluruh tubuh telah menggantung sempurna. Lemah saja pegangan ini, maka arus air di bawah siap membawa tubuh kecil ini entah ke mana.
"Pur ...!"
Bersikeras Mbak Nadia membantuku, memegang erat kedua tangan ini sekuat tenaganya.
"Mbaak ... aku takut."
"Mas Gentaaa ...!" Mbak Nadia berteriak kencang, memanggil Mas Genta agar turut serta membantunya.
"Mbak, jangan lepas!" Aku meratap, memohon pada Mbak Nadia agar tetap menggenggam erat tangan ini. Sungguh takut, takut jika ini adalah ajalku.
"Pur, aku akan tetap menggenggam tanganmu. Kamu adalah ibu sambung yang sangat baik untuk Ian, dan istri yang baik untuk Mas Genta. Biarlah kukubur rasa yang pernah ada untuk lelaki itu, agar kalian bisa bersama selamanya.
Antara panas dan terharu. Terharu karena ternyata ia adalah sosok yang tulus, tapi panas ketika mengetahui bahwa ternyata Mbak Nadia masih memiliki rasa yang utuh pada Mas Genta. Seolah mendapat kekuatan, aku mengerahkan seluruh tenaga agar kaki ini mampu menjangkau tepi jembatan, dan berhasil.
"Pur ... Nadia ...!"
Teriakkan Mas Genta membuat kami tersentak kaget, dan posisinya kini berbalik. Mbak Nadia yang kaget terjatuh, situasinya lebih berat, ia hanya bertumpu dengan satu tangan.
"Pur, jangan dilepas, tolong."
"Tahan, Pur! Jangan lepas tangannya!" teriak Mas Genta yang berlari mendekat ke arah kami.
"Aaaaaaa ...."
Tubuh sintal ala model tersebut terjatuh ke sungai. Gamis lebarnya melambai terhempas angin. Ia jatuh, tak hanyut, melainkan membentur bebatuan besar di bawah. Diiringi teriakan Ian yang melengking keras, mulutku menganga. Allah, aku tak sadar, apakah tadi sengaja atau tidak.
"Bunda ...."
"Pur ...!" Geram memanggilku saat melihat dengan mata kepalanya di mana tubuh Nadia meluncur ke bawah.
"Nggak sengaja, Mas." Kaca di mata ini mulai basah, mengucurkan titik-titik air yang menggenang di pelupuknya.
☘☘☘
Sejak saat itu, diri ini bagai dihantui bayang Mbak Nadia. Seolah melihatnya, berbincang dengannya, melihat senyumnya. Ah, benar-benar terasa nyata. Bagaimana kemesraan mereka, yang kupikir bahwa Nadia akan bermain cantik dengan menikamku dari belakang. Ternyata semua adalah halusinasi semata. Bahkan ... sampai detik ini belum yakin, apakah aku sengaja menjatuhkannya atau memang murni karena kecelakaan. Yang jelas, ia terlepas dari genggaman tangan ini.
"Lita ...." Suara bapak mengagetkan, erat ia memeluk putrinya yang tengah terisak ini.
"Lita seperti dikejar dosa, Pak. Tapi Lita nggak yakin kalau melakukan itu sengaja."
"Bapak nggak ada di sana saat itu, Nak. Tidak bisa menyimpulkan. Bapak percaya anak bapak orang baik, tapi tetap saja--ada sisi gelap di hatimu. Di mana kamu ingin melihat Nadia lenyap."
Aku terisak dalam pelukan bapak, bahkan saat Mas Genta masuk ke dalam ruangan. Menggantikan bahunya sebagai sandaran kursi kini.
"Bagaimana kondisi Mbak Nadia, Mas?"
"Seminggu lalu sempat membaik, tapi masalah penggumpalan darah di otaknya membuat ia kembali di ICU. Kamu mau tengok?"
"Mau, Mas."
Mas Genta membimbingku di atas kursi roda. Mendorong ke arah ruang ICU. Kami hanya bisa menatap Mbak Nadia yang tergolek lemah di atas ranjang melalui kaca pembatas ruang. Hati ini teriris melihat kondisinya.
"Ia sempat membaik, malah menjengukmu. Hanya saja, saat itu kamu masih linglung, Pur. Hanya seminggu lalu ini kondisinya memburuk lagi. Pur, yakinlah ... selama ini kamu hanya berhalusinasi. Kamu begitu ketakutan saat Nadia hadir kembali dan sering bertemu Ian. Yaa ... sejak itu intinya."
"Aku masih belum mampu membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya delusi."
Setelah melihat Mbak Nadia, Mas Genta kembali mengajakku ke kamar inap. Hela napasnya cukup berat, sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Pur, ada yang ingin saya bicarakan."
"Apa, Mas?"
"Hati seolah memaksa untuk terus mempercayaimu, meski semua tak sejalan dengan indera penglihatan saya saat itu."
Dahiku mengernyit, berusaha mencerna ucapan Mas Genta.
"Dengan mata kepala saya melihatmu melepas Nadia hingga jatuh ke bawah." Kembali ia mendengkus, membuat napas beratnya hingga otot rahang yang tadi sempat tertarik mengendur kembali.
"Aku nggak tau, Mas. Yang jelas ia terlepas dari genggamanku. Sengaja atau tidak aku masih mencerna. Hanya saat itu hatiku terlalu panas saat mengatakan akan berusaha mengubur perasaannya."
"Jika semua memang kecelakaan semata, kamu tak mungkin mengalami delusi psikosis seperti ini. Dua minggu lebih kamu hidup bagai orang dikejar dosa, marah-marah sendiri, ketakutan sendiri, seolah merasa bahwa ada Nadia di sekitar kita. Padahal ia sendiri tengah terbaring lemah saat itu."
Aku menggamit tangannya, lalu menggenggamnya erat. Menciumi jemari itu, mengarahkan agar ia mengusap titik air yang mulai turun membasahi pipi. Allah ... apa yang sedang terjadi pada hidup ini? Mungkinkah aku memang dengan sadar membunuhnya--melepas genggamannya hingga ia terjatuh hingga membentur bebatuan besar di sungai.
Mungkinkah luka yang tergores di qalbu saat pikiran buruk padanya merasuk--mampu membuat hati yang semula suci ini berubah menjadi pendendam? Sungguh, semenjak Ian masuk rumah sakit--lalu Mbak Nadia kembali hadir, hati ini sungguh gundah gulana. Ketakutan seolah menghampiri, tak ingin bila ia kembali menyelip dalam rumah tangga ini. Lalu perlahan menggantikan posisiku.
Terlebih sikap Mas Genta yang seolah lembek dan selalu menunda mengurus surat perceraian, membuat hati semakin tak keruan. Mencoba mencerna segala hal yang berkecamuk di dalam hati. Ada apa dengan mereka? Semua seakan bergumul di dalam otak saat Ian meminta Mbak Nadia untuk ikut acara liburan kami ke Bogor. Antara rasa takut, cemburu, dan juga dendam menjadi satu.
Erat Mas Genta membawaku dalam dekapan. Begitu kuat lengan kokoh itu memelukku. Menyalurkan kekuatan, ketenangan, dan asa. Cukup lama kami di posisi demikian, hingga ponselnya tiba-tiba berbunyi.
"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un," ucap Mas Genta memecah keheningan di antara kami.
"Mas ... siapa yang meninggal?
Bukannya menjawab, Mas Genta malah menangis lalu berlari keluar sekuat tenaga dan meninggalkanku sendirian.
-----
#ByT
Bidadari yang Terluka ( Mengejar Cinta Duda )
Part 12
☘☘☘
Cukup lama Mas Genta meninggalkanku seorang diri di sini. Sembari menunggu, anganku kembali menyelami satu per satu peristiwa yang sampai detik ini belum mampu kubedakan nyata atau tidaknya.
☘☘☘
Yang kuingat, sebelum akhirnya aku mengidap delusi psikosis ini. Kami sekeluarga pergi berlibur dengan mengajak Mbak Nadia. Alasan sederhana, aku tak tahan dengan rengekan Ian, maka aku memohon pada Mas Genta untuk mengikutsertakan mantan istrinya ke acara kami meski di awal ia amat tidak setuju.
Pikiranku berkecamuk saat sosok Nadia kembali hadir di rumah tangga kami sejak Ian sakit, terlebih saat mengetahui bahwa anak tersebut teramat mencintai ibu kandungnya dan seolah melupakanku--ibu sambung yang juga menyayanginya. Belum lagi omongan buruk yang memperkeruh keadaan dari orang sekitar, terutama teman-teman kampus. Mereka bilang Mas Genta jahat, Mbak Nadia akan kembali merebut apa yang pernah jadi miliknya, dan bla ... bla ... bla ....
Aku terhasut, antara benci dan cemburu menjadi satu. Tak ada kepercayaan lagi yang dapat kuberikan pada Mas Genta, sebaik apa pun sikapnya--semua luntur karena segudang perasaan negatif di hati.
Krek.
Suara pintu terbuka, datang sosok bapak yang mungkin bisa memberikan kejelasan atas semua kegamangan ini.
"Ian meninggal." Lemah suaranya, menandakan duka mendalam.
"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Mengapa bisa, Pak?"
"Lita ... kamu belum paham juga? Belum sadar juga?"
"Lita nggak paham, Pak. Sungguh."
"Apa dari tadi kamu nggak heran karena tidak ada Ian?"
"Nggak, Pak."
Bapak menutup wajahnya dengan kedua tangan seraya beristighfar beberapa kali.
"Lita ... yang celaka bukan hanya Nadia, tapi Ian juga. Entah seberapa hancur perasaan suamimu melihat putra kesayangannya jatuh dengan cara yang mengenaskan.
Mendelik mata ini saat mendengar ucapan bapak, dan kembali terangkai beberapa rekam peristiwa di otak. Ya ... aku ingat ... sangat ingat. Aku terus menggali pikiran, memori, tentang hal apa saja yang telah dialami sebelumnya.
☘☘☘
Hari itu ....
"Ian nggak mau tau, bunda harus ikut! Ian nggak mau kalau cuma sama Mama Lita!" Anak itu mengamuk, memaksa jika bundanya harus ikut kami liburan. Penat kepala ini, dan pengang telinga ini rasanya mendengar racauan dari anak berusia enam tahun tersebut.
Aku menghampiri Mas Genta yang sedang bergeming, menepuk pelan bahunya. Meminta agar ia memenuhi keinginan Ian untuk mengajak mantan istrinya.
"Kepalaku pusing dengar rengekan Ian. Ajak saja, Mas. Lagi pula, Mbak Nadia bisa bantu kita momong Ian di sana."
"Tapi, Pur ...."
"Mas ...."
"Saya nggak mau setelah ini kita ribut lagi karena ngebahas hal beginian, ya!"
"Oke, Mas."
Kami berlibur ke daerah puncak, Bogor. Menginap di sebuah villa di daerah sana. Telah lama aku menginginkan liburan ini, rasanya tubuh dan jiwa memang telah melambai ingin diajak berlibur.
Sesampainya di sana, Ian begitu menempel erat pada bundanya, dan melupakanku yang juga hadir di tengah mereka. Kecemburuan muncul lagi saat melihat Nadia yang begitu sigap mengurus segala keperluan Ian. Kenapa ... kenapa tidak aku yang dimintanya tolong saat Ian butuh? Kenapa pula harus ia lakukan sendiri. Mulai dari menyiapkan pakaian Ian, membuatkan makanan. Aku jengah, pikiran buruk menghampiri. Mungkin ia sedang mengambil kembali hati suamiku, entah!
Sore itu ... kami berjalan-jalan di sekitar villa, menikmati sejuknya udara bersih khas pegunungan yang tak dapat ditemui di ibukota. Aku, Ian, dan Mbak Nadia berjalan beriringan menuju sebuah jembatan.
"Mbak Nadia ... aku mau bicara."
"Iya, kenapa, Pur?"
"Apa tujuan Mbak datang lagi mengusik keluargaku? Mengambil hati Ian? Lalu suami aku?"
"Astaghfirullah, Pur. Sudah kubilang, semua yang kulakukan bentuk penebusan kesalahan karena telah meninggalkan Ian. Tak ada keinginan untuk kembali dengan Mas Genta. Ia mencintaimu, Pur. Di hatinya hanya kamu, sama sekali tak tersisa untukku. Hubungan kami hanya masa lalu."
Dadaku memanas, amarah dan cemburu menguasai hati. Berbagai pikiran jelek seolah menari-nari. Membentuk suara yang menggema, seolah berbisik tepat di depan telinga, mengatakan bahwa mereka jahat dan akan menghancurkan keluarga baruku.
"Bohong! Mbak Nadia bohong! Buktinya Mas Genta masih nggak mau urus surat cerai. Pasti ada yang sedang kalian rencanakan."
Wajah cantik itu berubah murung, ia bergeming kala mendengar ucapanku. Sepasang netra kami kini saling bertatapan, sama-sama menyalurkan rasa yang berbeda.
"Mintalah pada Genta, ia yang menjatuhkan talaq padaku."
Mbak Nadia berjalan cepat, langkahnya lebar-lebar seperti kakinya yang jenjang.
"Mbak ... apa kalian masih saling cinta?"
Ia menghela napas kasar, lalu meminta Ian kembali ke villa agar kami bisa melanjutkan pembicaraam tanpa terdengar oleh bocah tersebut.
"Nggak, Purnama ...! Jadi ini tujuanmu ke sini? Hanya untuk mengintrogasiku?"
Dengan hati-hati, aku merogoh saku rok, di mana terdapat foto pernikahan Mbak Nadia yang kedua. Foto yang pernah kutemukan di laci lemari Mas Genta dan mampu membuatku syok seketika saat itu.
"Ini foto pernikahan, Mbak sama suami kedua?"
"I-iya ...."
Mbak Nadia seolah ketakutan ketika aku menunjukkan sebuah foto berukuran 3R. Satu hal yang perlu diketahui, tak ada yang istimewa dari gambar tersebut. Namun, kutipan di baliknya.
'Aku pastikan kita akan bersama lagi suatu hari nanti.'
"Begitu besar cinta Mas Genta pada Mbak, hingga ia menyia-nyiakan aku yang telah ikhlas menjadi istrinya."
Nanar mataku menatap Mbak Nadia. Kakinya terpeleset kerikil, ia jatuh di tepi jembatan yang hanya bertepi bambu sebagai pegangannya.
Aku melangkah maju, mendekati Mbak Nadia yang tengah duduk di tepi jembatan. Nyalang mata ini menatap ia yang semakin mundur karena ketakutan.
"Pur ... kamu mau apa?" Gemertuk giginya amat terlihat melalui celah bibir yang bergetar.
"Pur ...."
"Aku bukan orang jahat, Mbak Nadia. Tenang aja!"
Aku semakin melangkah maju. Kini jarak di antara kami hanya sejengkal saja. Hampir saja kedua kening kami menyatu, tapi ....
"Mbaak ...!"
Aku terpeleset, hanya bertumpu dengan kedua tangan yang memegang tepi jembatan. Sedangkan seluruh tubuh telah menggantung sempurna. Lemah saja pegangan ini, maka arus air di bawah siap membawa tubuh kecil ini entah ke mana.
"Pur ...!"
Bersikeras Mbak Nadia membantuku, memegang erat kedua tangan ini sekuat tenaganya.
"Mbaak ... aku takut."
"Mas Gentaaa ...!" Mbak Nadia berteriak kencang, memanggil Mas Genta agar turut serta membantunya.
"Mbak, jangan lepas!" Aku meratap, memohon pada Mbak Nadia agar tetap menggenggam erat tangan ini. Sungguh takut, takut jika ini adalah ajalku.
"Pur, aku akan tetap menggenggam tanganmu. Kamu adalah ibu sambung yang sangat baik untuk Ian, dan istri yang baik untuk Mas Genta. Biarlah kukubur rasa yang pernah ada untuk lelaki itu, agar kalian bisa bersama selamanya.
Antara panas dan terharu. Terharu karena ternyata ia adalah sosok yang tulus, tapi panas ketika mengetahui bahwa ternyata Mbak Nadia masih memiliki rasa yang utuh pada Mas Genta. Seolah mendapat kekuatan, aku mengerahkan seluruh tenaga agar kaki ini mampu menjangkau tepi jembatan, dan berhasil.
"Pur ... Nadia ...!"
Teriakkan Mas Genta membuat kami tersentak kaget, dan posisinya kini berbalik. Mbak Nadia yang kaget terjatuh, situasinya lebih berat, ia hanya bertumpu dengan satu tangan.
"Pur, jangan dilepas, tolong."
"Tahan, Pur! Jangan lepas tangannya!" teriak Mas Genta yang berlari mendekat ke arah kami.
"Aaaaaaa ...."
Tubuh sintal ala model tersebut terjatuh ke sungai. Gamis lebarnya melambai terhempas angin. Ia jatuh, tak hanyut, melainkan membentur bebatuan besar di bawah. Diiringi teriakan Ian yang melengking keras, mulutku menganga. Allah, aku tak sadar, apakah tadi sengaja atau tidak.
"Bunda ...!" Tak terduga, kaki kecil tersebut ikut berlari menyusul bundanya yang terpental ke bawah. Bisa ... seharusnya aku mampu menarik tubuh kecil Ian, tapi entah mengapa hal tersebut tak kulakukan saat tangan kecil itu berusaha menggapaiku. Akan tetapi, sungguh ... ini terjadi di luar dugaan. Sama sekali tidak ada niatan menyakiti mereka berdua.
Melihat pemandangan mengenaskan di depan mata, terlebih bisa dibilang ada kaitan antara aku dengan kecelakaan tersebut. Membuat pikiran ini kosong seketika. Sejak itu, aku mengalami delusi, serupa halusinasi--jauh lebih parah. Rasa bersalah membuatku seolah dikejar mereka, berada di sisi mereka--padahal sesungguhnya kami bertiga sedang dirawat di rumah sakit dan berbeda ruang.
Aku ditangani spesialis kesehatan jiwa, sedangkan Ian dan Mbak Nadia di ruang ICU. Beberapa hari setelah jatuh, Mbak Nadia rupanya sempat sadar. Menurut Mas Genta, ia masih menyempatkan diri berkunjung ke ruanganku meski saat itu pandangan dan pikiranku kosong. Namun, selang seminggu setelah kondisinya dinyatakan membaik, ia kembali drop akibat terdapat gumpalan darah di otaknya.
Sungguh, delusi yang amat terasa nyata. Seolah mereka berada di sisiku. Bercanda ria, bermain ayunan, bercengkerama. Benci ... ya, ternyata beberapa minggu ini aku benar-benar berkhayal total. Tak ada Nadia yang mengincar Genta, tak ada Ian yang minta bolak-balik ke rumah Nadia, tak ada aku kabur ke rumah orang tua. Tidak ada ... semua murni halusinasi semata.
☘☘☘
"Lita ingat semua, Pak."
Spontan bapak memelukku penuh haru, mengusap setiap inchi rambut ini. Mendoakan agar semua tetap baik-baik saja baik raga dan jiwa.
Dua hari kemudian, aku diperbolehkan pulang. Mas Genta masih tegar menuntunku ke gundukan tanah merah, tempat di mana jasad Ian--putra kesayangannya bersemayam. Tak ada tangis yang terlihat hari ini, entah saat proses pemakamannya. Aku tak tahu, sebab saat itu masih di rumah sakit.
"Ian ...." Air mataku meluncur deras, lalu jatuh di atas timbunan tanah kuburan anak berusia enam tahun ini. Rasa kehilangan yang teramat dahsyat, aku benar-benar menyayanginya. Tak ada niatan sedikit pun untuk melukai anak ini.
"Ian ... maafin mama, Nak."
Masih kupeluk gundukan tanah tersebut. Berharap inilah yang sebetulnya hanya halusinasi, atau mimpi. Lalu terbangun, dan mendapati ia yang tengah memeluk manja, seperti biasanya.
"Mas, aku ... a-aku tak sengaja. Sungguh aku begitu menyayangi putramu."
Air mata Mas Genta mulai turun, terlihat dari mata sayu yang telah memerah itu. Lembut ia menyeka pipi, lalu memutar langkah ... meninggalkanku.
"Ian ... mama rindu. Ian bilang mau punya dedek."
Hingga di posisi ini, aku masih belum sepenuhnya memahami yang terjadi. Yang jelas, kecelakaan Mbak Nadia dan Ian yang tertangkap jelas oleh lensa mataku ini membuat depresi yang amat sangat sehingga berkembang menjadi sebuah delusi psikosis yang menghasilkan halusinasi yang dahsyat. Bagaimana tidak? Aku berperan dalam hal ini, sengaja atau tidak ... aku terlibat.
"Maafin mama, Ian." Sebuah replika pesawat kecil kesukaannya, kuletakkan tepat di depan nisan bertuliskan 'Alifian Ramadhan bin Genta Prawira'.
Aku melangkah pergi dari pemakaman dan menemui Mas Genta yang masih menunggu di depan mobilnya.
Di sepanjang perjalanan, kami hanya bergeming. Mata yang dulu begitu sendu kini lebih dingin daripada dulu--pertama ia menikahiku.
"Obat sudah diminum, Pur?" tanyanya datar.
"Sudah, Mas."
"Bagaimana kondisimu sekarang?"
"Stabil, Mas?"
Kaki Mas Genta mengarah ke kamar Ian. Terduduk ia di ranjang kecil dengan seprai bermotif kartun tersebut. Lalu berbaring menyamping, memeluk erat guling di sebelahnya. Aku tahu, ia sedang membayangkan bahwa yang tengah di pelukannya adalah seorang bocah kecil berusia enam tahun nan ceria.
"Maafkan aku, Mas ...."
Tubuhku beringsut di lantai, bertumpu dengan kedua tangan dan lutut, serta wajah yang menatap alas ruangan ini.
"Jika kamu menganggap aku adalah pembunuh, silakan laporkan dan ceraikan aku."
Cukup lama di posisi ini, hingga kurasa lantai telah basah akibat tumpahan air mata yang tak dapat terbendung. Sebuah sentuhan lembut mendarat di kepala yang masih tertutup khimar pastel. Usapan yang bergerak naik turun dengan lembut, mulai dari pucuk kepala hingga dagu.
Ia menyejajarkan tubuhnya, dengan ikut berlutut di hadapanku. Menengadahkan wajah ini, serta mengecup titik-titik air yang turun dari mata. Entah sejak kapan, ia membenamkan kepalaku ke dadanya dengan erat.
"Maafin saya, Pur. Andai saya lebih memahami kamu." Parau suaranya menandakan bahwa ia pun tengah menangis.
"Mas ...." Aku mendongakkan kepala, dan lekat menatap wajah matang yang masih terlihat tampan di usianya yang telah memasuki kepala tiga.
"Andai saya tak berhasrat memiliki Nadia kembali, andai saya segera mengesahkan pernikahan kita. Tentunya kesalahpahaman ini tidak akan terjadi dan kamu takkan pernah memendam luka seperti ini. Kamu terlalu muda untuk menanggung beban seperti ini. Menjadi istri dari seorang duda egois yang selalu memaksa menjelma menjadi sosok mantan istri yang dicintai."
"Mas Genta ...."
"Ketulusanmu benar-benar menanamkan benih cinta di hati saya, Lita."
"Mas panggil aku Lita?"
"Iya ... namamu Lita, kan? Mau saya panggil Lita atau bidadari?"
Aku kembali memeluknya, sangat erat. Bahkan lebih erat dari segala dekapan yang pernah kami lakukan.
Seminggu kemudian, kami mendapat kabar jika kondisi Mbak Nadia membaik. Mas Genta mengajakku menjenguknya, bermusyawarah tentang waktu yang tepat mengurus perceraian secara hukum.
Tak berseling lama, setelah surat cerai turun. Kami mengesahkan pernikahan di KUA, hidup bahagia, memulai segalanya dari awal.
Ada banyak alasan bagiku, Purnama Jelita--seorang gadis muda yang rela bertahan atas pernikahannya yang mungkin sebagian besar orang akan menganggapku bodoh. Masih banyak kebaikan yang kulihat dari Mas Genta, jangan karena nila setitik rusak susu sebelanga.
Pernikahan dengan Mas Genta sebab takdir, ujian yang kualami sebab takdir. Siapa yang berani menyalahkan semua ini? Ah, aku ... Purnama Jelita, berhasil lepas dari delusi psikosis. Di setiap sujud, selalu memohon ampun atas segala dosa yang pernah aku lakukan, baik sengaja atau tidak. Dosa yang membuat setan tersenyum riang kala melihat tragedi di jembatan itu.
☘☘☘
"Bagaimana hasilnya, Mas? Apakah aku pun seorang carrier?"
Mas Genta memelukku erat. Ia bersimpuh dengan lututnya, lalu mencium perut ini berkali-kali.
"Hasil tes DNA membuktikan kamu bukan seorang carrier thalassemia. Insyaa Allah anak kita akan sehat."
Aku tersenyum mendengar perkataannya. "Dan apakah kamu akan memaksa anak di perutku menjadi Ian?"
"Tentu tidak, Ian punya ruang tersendiri di hati kita, Lita ... eh, Bidadari saya."
"Apaan, sih, Mas?" Kupukul bahu bidang tersebut dengan manja. Kami berdua tertawa riang, seraya melangkah pelan menelusuri lorong rumah sakit.
End.
-----
Bidadari yang Terluka ( Mengejar Cinta Duda )
Part 11 : Delusi Psikosis, by Almeera Rosa
☘☘☘
Baca dengan detail, ya! Biar nggak gagal fokus. Yang merasa ceritanya kenapa jadi begini atau begitu, jadi malas baca. Silakan melipir segera. Buat satu part ini benar-benar menguras pikiran. Jadi yakinkan jari kita untuk tidak mencela hanya karena jalan cerita tidak sesuai dengan keinginan kalian. Kecuali, memberikan kritik, saya akan terbuka.
Sekali lagi, ini fiksi.
☘☘☘
"Stop, Pak!" Jangan bicara lagi, stop!"
"Lita ...!"
Aku melangkah mundur, lagi ... dan lagi. Hingga tubuh menabrak dinding di belakang, lalu jatuh terperosok ke lantai. Bagai tertimpa beban berat, kepala ini mendadak sakit ... sakit sekali. Perlahan bayang-bayang Nadia, Ian, dan Mas Genta ... menari-nari di depan mata. Samar, tapi masih dapat dikenali.
"Jangan, Lita ...!" Suara Mbak Nadia begitu lemah, pun sorot matanya yang amat memelas--memohon, agar aku menghentikan aksi untuk melenyapkannya.
Kembali aku mengucak mata, bayang Mbak Nadia kembali hilang. Berganti dengan sosok bapak yang memang sedang berada di hadapanku.
"Lita, kamu mulai ingat, Nak?" Lembut bapak berkata kepadaku yang tengah mengingat semuanya.
Allah, apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa ada lintasan bayang-bayang di mana Mbak Nadia terjatuh di pinggir jembatan dan teriakan Ian. Hilang ketika aku membuka mata, dan muncul ketika aku kembali memejamkan mata.
"Bundaaa ....!" Lengking suara Ian yang terdengar begitu memekakkan telinga.
Kini bayang anak lelaki tersebut yang muncul di depan mata. Kepalaku semakin pusing dibuatnya. Apa yang sedang terjadi?
"Ian, Mas Genta, Mbak Nadia ...." Parau suaraku masih terdengar di telinga bapak. Sosok lelaki yang paling mencintaiku di dunia itu tengah memeluk putrinya yang sedang depresi berat ini.
Perlahan aku mulai tersadar. Bukan hanya mata yang terbuka, tapi juga hati. Meratapi dosa yang telah kulakukan akibat emosi semata. Sore hari itu, setan telah tertawa, bersorak-sorai, karena telah mendapat teman di neraka kelak. Siapa temannya? Tentunya aku, si pembunuh berdarah dingin.
Ingin rasanya menarik selang kecil di dalam pembuluh vena ini. Lalu berlari keluar, sekaligus pergi dari kenyataan pahit. Andai ... andai aku tak terbawa emosi, semua ini takkan pernah terjadi.
Allah telah menghukumku atas rasa ini, atas dendam yang begitu besar tertanam di hati. Atas segala bentuk curiga yang berimbas kepada kenekatan diri.
Lelaki matangku menghampiri, mata yang dulu begitu indah ... kini bengkak. Bukan karena ia menangisi yang telah pergi, tapi menyesali mengapa istri yang amat dicintai bisa berbuat Setega itu.
"Mas Genta, ampuni aku!" Rintih suaraku menggema di sebuah ruangan di rumah sakit.
Kuraih punggung tangan tersebut, lalu mengecupnya beberapa kali. Seluruh air mata ini tumpah, membasahi tangan yang masih berada di pipiku tersebut.
Mas Genta masih diam. Tatapan matanya datar, kantung matanya membesar. Tak digubrisnya ucapanku sama sekali.
"Mas Genta ... ampuni aku, Mas. Ampuni aku!"
Lelaki berwajah teduh tersebut mulai berucap, suaranya parau. Menggambarkan begitu banyak beban di dalam dadanya. Ia pasti terguncang sangat atas semua hal yang menimpa rumah tangga kami.
"Kamu sudah lebih baik, Pur?"
"Mas ...."
Kaca di mata kami sudah semakin basah. Aku menghamburkan diri ke pelukan Mas Genta, ia menyambutnya ... tapi tak seperti dulu. Tak ada kasih sayang, apalagi kehangatan ... hambar.
Lantunan ayat Al-Qur'an terdengar dari masjid yang tak jauh dari rumah sakit, pertanda adzan maghrib hampir tiba. Sudah menjadi kebiasaan warga sini untuk bertilawah sebelum dan setelah waktu shalat.
Bapak, ibu, dan kedua orang tua Mas Genta meninggalkan kami. Masih dengan mulut terkunci, ia membantuku menenggak beberapa butir anti-depresan.
"Sebentar lagi adzan, saya bantu ambilkan semprotan. Biar kamu wudhu di atas kasur saja."
"Baik, Mas."
Melihat suami yang dulu pernah kubenci setengah mati karena terkekang pikiran buruk, melangkah menuju kamar mandi. Begitu ikhlas ya ia membantu istri durjananya ini. Tak lama ia kembali, membawa semprotan berisi air. Membantuku berwudhu dengan menyemprotkan air ke beberapa anggota tubuh.
Mas Genta membungkuk, mencoba mencari sesuatu. Ia mengambil mukena, dan membantuku memasangkannya. Pedih hati ini bagai tergores sembilu saat melihat wajah teduh dengan mata yang berkaca-kaca itu. Terbayang segala kenangan indah yang pernah kami lalui bersama, sebelum kehancuran ini terjadi.
Mas Genta pamit pergi ke masjid, sedangkan aku ... meratap. Mengusap perut yang mulai membuncit ini. Fatamorgana yang kualami bukan hanya isapan jempol. Perlahan mengingat ke belakang, lagi ... dan lagi. Kesadaranku mulai pulih, berkat obat dan dukungan keluarga. Delusi yang kualami tiga bulan ini menimbulkan halusinasi yang begitu besar.
Ya ... aku adalah pasien yang mengalami gangguan mental psikosis yang biasa disebut dengan delusi. Penderitanya akan meyakini bahwa ia sedang merasakan hal-hal yang sebenarnya tak pernah ada dan tak pernah terjadi. Mengkhayal, berhalusinasi, ketakutan sendiri, selalu merasa di posisi disakiti ... kurang lebih seperti itu yang dialami penderita delusi psikosis.
Aku menengadahkan tangan, memohon ampun pada yang kuasa. Seolah menjadi pemegang kunci neraka, aku begitu ketakutan. Kecemasan ini kemudian membawaku pada sebuah delusi khayalan. Sungguh, aku merasa bahwa hari-hari yang pahit itu terasa nyata. Kemesraan Mas Genta dengan Mbak Nadia, tawa menyeringai penuh ambisi wanita tersebut, panggilan manja Ian pada bundanya ... amat terngiang di telinga. Begitu nyata terasa, nyaris aku tak mampu membedakan mana yang benar terlihat dan mana yang hanya sebuah fatamorgana.
Kesadaranku mulai pulih, perlahan mengorek memory di otak. Angan membara ke peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu--yang kemudian membawaku pada kehancuran ini.
๐พ๐พ๐พ
Hari itu, kami liburan ke daerahl
"Mbak Nadia ... aku mau bicara."
"Iya, kenapa, Pur?"
"Apa tujuan Mbak datang lagi mengusik keluargaku? Mengambil hati Ian? Lalu suami aku?"
"Astaghfirullah, Pur. Sudah kubilang, semua yang kulakukan bentuk penebusan kesalahan karena telah meninggalkan Ian. Tak ada keinginan untuk kembali dengan Mas Genta. Ia mencintaimu, Pur. Di hatinya hanya kamu, sama sekali tak tersisa untukku. Hubungan kami hanya masa lalu."
Dadaku memanas, amarah dan cemburu menguasai hati. Berbagai pikiran jelek seolah menari-nari. Membentuk suara yang menggema, seolah berbisik tepat di depan telinga, mengatakan bahwa mereka jahat dan akan menghancurkan keluarga baruku.
"Bohong! Mbak Nadia bohong! Buktinya Mas Genta masih nggak mau urus surat cerai. Pasti ada yang sedang kalian rencanakan."
Aku melangkah maju, mendekati Mbak Nadia yang tengah duduk di tepi jembatan. Nyalang mata ini menatap ia yang semakin mundur karena ketakutan.
"Pur ... kamu mau apa?" Gemertuk giginya amat terlihat melalui celah bibir yang bergetar.
"Pur ...."
"Aku bukan orang jahat, Mbak Nadia. Tenang aja!"
Aku semakin melangkah maju. Kini jarak di antara kami hanya sejengkal saja. Hampir saja kedua kening kami menyatu, tapi ....
"Mbaak ...!"
Aku terpeleset, hanya bertumpu dengan kedua tangan yang memegang tepi jembatan. Sedangkan seluruh tubuh telah menggantung sempurna. Lemah saja pegangan ini, maka arus air di bawah siap membawa tubuh kecil ini entah ke mana.
"Pur ...!"
Bersikeras Mbak Nadia membantuku, memegang erat kedua tangan ini sekuat tenaganya.
"Mbaak ... aku takut."
"Mas Gentaaa ...!" Mbak Nadia berteriak kencang, memanggil Mas Genta agar turut serta membantunya.
"Mbak, jangan lepas!" Aku meratap, memohon pada Mbak Nadia agar tetap menggenggam erat tangan ini. Sungguh takut, takut jika ini adalah ajalku.
"Pur, aku akan tetap menggenggam tanganmu. Kamu adalah ibu sambung yang sangat baik untuk Ian, dan istri yang baik untuk Mas Genta. Biarlah kukubur rasa yang pernah ada untuk lelaki itu, agar kalian bisa bersama selamanya.
Antara panas dan terharu. Terharu karena ternyata ia adalah sosok yang tulus, tapi panas ketika mengetahui bahwa ternyata Mbak Nadia masih memiliki rasa yang utuh pada Mas Genta. Seolah mendapat kekuatan, aku mengerahkan seluruh tenaga agar kaki ini mampu menjangkau tepi jembatan, dan berhasil.
"Pur ... Nadia ...!"
Teriakkan Mas Genta membuat kami tersentak kaget, dan posisinya kini berbalik. Mbak Nadia yang kaget terjatuh, situasinya lebih berat, ia hanya bertumpu dengan satu tangan.
"Pur, jangan dilepas, tolong."
"Tahan, Pur! Jangan lepas tangannya!" teriak Mas Genta yang berlari mendekat ke arah kami.
"Aaaaaaa ...."
Tubuh sintal ala model tersebut terjatuh ke sungai. Gamis lebarnya melambai terhempas angin. Ia jatuh, tak hanyut, melainkan membentur bebatuan besar di bawah. Diiringi teriakan Ian yang melengking keras, mulutku menganga. Allah, aku tak sadar, apakah tadi sengaja atau tidak.
"Bunda ...."
"Pur ...!" Geram memanggilku saat melihat dengan mata kepalanya di mana tubuh Nadia meluncur ke bawah.
"Nggak sengaja, Mas." Kaca di mata ini mulai basah, mengucurkan titik-titik air yang menggenang di pelupuknya.
☘☘☘
Sejak saat itu, diri ini bagai dihantui bayang Mbak Nadia. Seolah melihatnya, berbincang dengannya, melihat senyumnya. Ah, benar-benar terasa nyata. Bagaimana kemesraan mereka, yang kupikir bahwa Nadia akan bermain cantik dengan menikamku dari belakang. Ternyata semua adalah halusinasi semata. Bahkan ... sampai detik ini belum yakin, apakah aku sengaja menjatuhkannya atau memang murni karena kecelakaan. Yang jelas, ia terlepas dari genggaman tangan ini.
"Lita ...." Suara bapak mengagetkan, erat ia memeluk putrinya yang tengah terisak ini.
"Lita seperti dikejar dosa, Pak. Tapi Lita nggak yakin kalau melakukan itu sengaja."
"Bapak nggak ada di sana saat itu, Nak. Tidak bisa menyimpulkan. Bapak percaya anak bapak orang baik, tapi tetap saja--ada sisi gelap di hatimu. Di mana kamu ingin melihat Nadia lenyap."
Aku terisak dalam pelukan bapak, bahkan saat Mas Genta masuk ke dalam ruangan. Menggantikan bahunya sebagai sandaran kursi kini.
"Bagaimana kondisi Mbak Nadia, Mas?"
"Seminggu lalu sempat membaik, tapi masalah penggumpalan darah di otaknya membuat ia kembali di ICU. Kamu mau tengok?"
"Mau, Mas."
Mas Genta membimbingku di atas kursi roda. Mendorong ke arah ruang ICU. Kami hanya bisa menatap Mbak Nadia yang tergolek lemah di atas ranjang melalui kaca pembatas ruang. Hati ini teriris melihat kondisinya.
"Ia sempat membaik, malah menjengukmu. Hanya saja, saat itu kamu masih linglung, Pur. Hanya seminggu lalu ini kondisinya memburuk lagi. Pur, yakinlah ... selama ini kamu hanya berhalusinasi. Kamu begitu ketakutan saat Nadia hadir kembali dan sering bertemu Ian. Yaa ... sejak itu intinya."
"Aku masih belum mampu membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya delusi."
Setelah melihat Mbak Nadia, Mas Genta kembali mengajakku ke kamar inap. Hela napasnya cukup berat, sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Pur, ada yang ingin saya bicarakan."
"Apa, Mas?"
"Hati seolah memaksa untuk terus mempercayaimu, meski semua tak sejalan dengan indera penglihatan saya saat itu."
Dahiku mengernyit, berusaha mencerna ucapan Mas Genta.
"Dengan mata kepala saya melihatmu melepas Nadia hingga jatuh ke bawah." Kembali ia mendengkus, membuat napas beratnya hingga otot rahang yang tadi sempat tertarik mengendur kembali.
"Aku nggak tau, Mas. Yang jelas ia terlepas dari genggamanku. Sengaja atau tidak aku masih mencerna. Hanya saat itu hatiku terlalu panas saat mengatakan akan berusaha mengubur perasaannya."
"Jika semua memang kecelakaan semata, kamu tak mungkin mengalami delusi psikosis seperti ini. Dua minggu lebih kamu hidup bagai orang dikejar dosa, marah-marah sendiri, ketakutan sendiri, seolah merasa bahwa ada Nadia di sekitar kita. Padahal ia sendiri tengah terbaring lemah saat itu."
Aku menggamit tangannya, lalu menggenggamnya erat. Menciumi jemari itu, mengarahkan agar ia mengusap titik air yang mulai turun membasahi pipi. Allah ... apa yang sedang terjadi pada hidup ini? Mungkinkah aku memang dengan sadar membunuhnya--melepas genggamannya hingga ia terjatuh hingga membentur bebatuan besar di sungai.
Mungkinkah luka yang tergores di qalbu saat pikiran buruk padanya merasuk--mampu membuat hati yang semula suci ini berubah menjadi pendendam? Sungguh, semenjak Ian masuk rumah sakit--lalu Mbak Nadia kembali hadir, hati ini sungguh gundah gulana. Ketakutan seolah menghampiri, tak ingin bila ia kembali menyelip dalam rumah tangga ini. Lalu perlahan menggantikan posisiku.
Terlebih sikap Mas Genta yang seolah lembek dan selalu menunda mengurus surat perceraian, membuat hati semakin tak keruan. Mencoba mencerna segala hal yang berkecamuk di dalam hati. Ada apa dengan mereka? Semua seakan bergumul di dalam otak saat Ian meminta Mbak Nadia untuk ikut acara liburan kami ke Bogor. Antara rasa takut, cemburu, dan juga dendam menjadi satu.
Erat Mas Genta membawaku dalam dekapan. Begitu kuat lengan kokoh itu memelukku. Menyalurkan kekuatan, ketenangan, dan asa. Cukup lama kami di posisi demikian, hingga ponselnya tiba-tiba berbunyi.
"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un," ucap Mas Genta memecah keheningan di antara kami.
"Mas ... siapa yang meninggal?
Bukannya menjawab, Mas Genta malah menangis lalu berlari keluar sekuat tenaga dan meninggalkanku sendirian.
-----
#ByT
Bidadari yang Terluka ( Mengejar Cinta Duda )
Part 12
☘☘☘
Cukup lama Mas Genta meninggalkanku seorang diri di sini. Sembari menunggu, anganku kembali menyelami satu per satu peristiwa yang sampai detik ini belum mampu kubedakan nyata atau tidaknya.
☘☘☘
Yang kuingat, sebelum akhirnya aku mengidap delusi psikosis ini. Kami sekeluarga pergi berlibur dengan mengajak Mbak Nadia. Alasan sederhana, aku tak tahan dengan rengekan Ian, maka aku memohon pada Mas Genta untuk mengikutsertakan mantan istrinya ke acara kami meski di awal ia amat tidak setuju.
Pikiranku berkecamuk saat sosok Nadia kembali hadir di rumah tangga kami sejak Ian sakit, terlebih saat mengetahui bahwa anak tersebut teramat mencintai ibu kandungnya dan seolah melupakanku--ibu sambung yang juga menyayanginya. Belum lagi omongan buruk yang memperkeruh keadaan dari orang sekitar, terutama teman-teman kampus. Mereka bilang Mas Genta jahat, Mbak Nadia akan kembali merebut apa yang pernah jadi miliknya, dan bla ... bla ... bla ....
Aku terhasut, antara benci dan cemburu menjadi satu. Tak ada kepercayaan lagi yang dapat kuberikan pada Mas Genta, sebaik apa pun sikapnya--semua luntur karena segudang perasaan negatif di hati.
Krek.
Suara pintu terbuka, datang sosok bapak yang mungkin bisa memberikan kejelasan atas semua kegamangan ini.
"Ian meninggal." Lemah suaranya, menandakan duka mendalam.
"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Mengapa bisa, Pak?"
"Lita ... kamu belum paham juga? Belum sadar juga?"
"Lita nggak paham, Pak. Sungguh."
"Apa dari tadi kamu nggak heran karena tidak ada Ian?"
"Nggak, Pak."
Bapak menutup wajahnya dengan kedua tangan seraya beristighfar beberapa kali.
"Lita ... yang celaka bukan hanya Nadia, tapi Ian juga. Entah seberapa hancur perasaan suamimu melihat putra kesayangannya jatuh dengan cara yang mengenaskan.
Mendelik mata ini saat mendengar ucapan bapak, dan kembali terangkai beberapa rekam peristiwa di otak. Ya ... aku ingat ... sangat ingat. Aku terus menggali pikiran, memori, tentang hal apa saja yang telah dialami sebelumnya.
☘☘☘
Hari itu ....
"Ian nggak mau tau, bunda harus ikut! Ian nggak mau kalau cuma sama Mama Lita!" Anak itu mengamuk, memaksa jika bundanya harus ikut kami liburan. Penat kepala ini, dan pengang telinga ini rasanya mendengar racauan dari anak berusia enam tahun tersebut.
Aku menghampiri Mas Genta yang sedang bergeming, menepuk pelan bahunya. Meminta agar ia memenuhi keinginan Ian untuk mengajak mantan istrinya.
"Kepalaku pusing dengar rengekan Ian. Ajak saja, Mas. Lagi pula, Mbak Nadia bisa bantu kita momong Ian di sana."
"Tapi, Pur ...."
"Mas ...."
"Saya nggak mau setelah ini kita ribut lagi karena ngebahas hal beginian, ya!"
"Oke, Mas."
Kami berlibur ke daerah puncak, Bogor. Menginap di sebuah villa di daerah sana. Telah lama aku menginginkan liburan ini, rasanya tubuh dan jiwa memang telah melambai ingin diajak berlibur.
Sesampainya di sana, Ian begitu menempel erat pada bundanya, dan melupakanku yang juga hadir di tengah mereka. Kecemburuan muncul lagi saat melihat Nadia yang begitu sigap mengurus segala keperluan Ian. Kenapa ... kenapa tidak aku yang dimintanya tolong saat Ian butuh? Kenapa pula harus ia lakukan sendiri. Mulai dari menyiapkan pakaian Ian, membuatkan makanan. Aku jengah, pikiran buruk menghampiri. Mungkin ia sedang mengambil kembali hati suamiku, entah!
Sore itu ... kami berjalan-jalan di sekitar villa, menikmati sejuknya udara bersih khas pegunungan yang tak dapat ditemui di ibukota. Aku, Ian, dan Mbak Nadia berjalan beriringan menuju sebuah jembatan.
"Mbak Nadia ... aku mau bicara."
"Iya, kenapa, Pur?"
"Apa tujuan Mbak datang lagi mengusik keluargaku? Mengambil hati Ian? Lalu suami aku?"
"Astaghfirullah, Pur. Sudah kubilang, semua yang kulakukan bentuk penebusan kesalahan karena telah meninggalkan Ian. Tak ada keinginan untuk kembali dengan Mas Genta. Ia mencintaimu, Pur. Di hatinya hanya kamu, sama sekali tak tersisa untukku. Hubungan kami hanya masa lalu."
Dadaku memanas, amarah dan cemburu menguasai hati. Berbagai pikiran jelek seolah menari-nari. Membentuk suara yang menggema, seolah berbisik tepat di depan telinga, mengatakan bahwa mereka jahat dan akan menghancurkan keluarga baruku.
"Bohong! Mbak Nadia bohong! Buktinya Mas Genta masih nggak mau urus surat cerai. Pasti ada yang sedang kalian rencanakan."
Wajah cantik itu berubah murung, ia bergeming kala mendengar ucapanku. Sepasang netra kami kini saling bertatapan, sama-sama menyalurkan rasa yang berbeda.
"Mintalah pada Genta, ia yang menjatuhkan talaq padaku."
Mbak Nadia berjalan cepat, langkahnya lebar-lebar seperti kakinya yang jenjang.
"Mbak ... apa kalian masih saling cinta?"
Ia menghela napas kasar, lalu meminta Ian kembali ke villa agar kami bisa melanjutkan pembicaraam tanpa terdengar oleh bocah tersebut.
"Nggak, Purnama ...! Jadi ini tujuanmu ke sini? Hanya untuk mengintrogasiku?"
Dengan hati-hati, aku merogoh saku rok, di mana terdapat foto pernikahan Mbak Nadia yang kedua. Foto yang pernah kutemukan di laci lemari Mas Genta dan mampu membuatku syok seketika saat itu.
"Ini foto pernikahan, Mbak sama suami kedua?"
"I-iya ...."
Mbak Nadia seolah ketakutan ketika aku menunjukkan sebuah foto berukuran 3R. Satu hal yang perlu diketahui, tak ada yang istimewa dari gambar tersebut. Namun, kutipan di baliknya.
'Aku pastikan kita akan bersama lagi suatu hari nanti.'
"Begitu besar cinta Mas Genta pada Mbak, hingga ia menyia-nyiakan aku yang telah ikhlas menjadi istrinya."
Nanar mataku menatap Mbak Nadia. Kakinya terpeleset kerikil, ia jatuh di tepi jembatan yang hanya bertepi bambu sebagai pegangannya.
Aku melangkah maju, mendekati Mbak Nadia yang tengah duduk di tepi jembatan. Nyalang mata ini menatap ia yang semakin mundur karena ketakutan.
"Pur ... kamu mau apa?" Gemertuk giginya amat terlihat melalui celah bibir yang bergetar.
"Pur ...."
"Aku bukan orang jahat, Mbak Nadia. Tenang aja!"
Aku semakin melangkah maju. Kini jarak di antara kami hanya sejengkal saja. Hampir saja kedua kening kami menyatu, tapi ....
"Mbaak ...!"
Aku terpeleset, hanya bertumpu dengan kedua tangan yang memegang tepi jembatan. Sedangkan seluruh tubuh telah menggantung sempurna. Lemah saja pegangan ini, maka arus air di bawah siap membawa tubuh kecil ini entah ke mana.
"Pur ...!"
Bersikeras Mbak Nadia membantuku, memegang erat kedua tangan ini sekuat tenaganya.
"Mbaak ... aku takut."
"Mas Gentaaa ...!" Mbak Nadia berteriak kencang, memanggil Mas Genta agar turut serta membantunya.
"Mbak, jangan lepas!" Aku meratap, memohon pada Mbak Nadia agar tetap menggenggam erat tangan ini. Sungguh takut, takut jika ini adalah ajalku.
"Pur, aku akan tetap menggenggam tanganmu. Kamu adalah ibu sambung yang sangat baik untuk Ian, dan istri yang baik untuk Mas Genta. Biarlah kukubur rasa yang pernah ada untuk lelaki itu, agar kalian bisa bersama selamanya.
Antara panas dan terharu. Terharu karena ternyata ia adalah sosok yang tulus, tapi panas ketika mengetahui bahwa ternyata Mbak Nadia masih memiliki rasa yang utuh pada Mas Genta. Seolah mendapat kekuatan, aku mengerahkan seluruh tenaga agar kaki ini mampu menjangkau tepi jembatan, dan berhasil.
"Pur ... Nadia ...!"
Teriakkan Mas Genta membuat kami tersentak kaget, dan posisinya kini berbalik. Mbak Nadia yang kaget terjatuh, situasinya lebih berat, ia hanya bertumpu dengan satu tangan.
"Pur, jangan dilepas, tolong."
"Tahan, Pur! Jangan lepas tangannya!" teriak Mas Genta yang berlari mendekat ke arah kami.
"Aaaaaaa ...."
Tubuh sintal ala model tersebut terjatuh ke sungai. Gamis lebarnya melambai terhempas angin. Ia jatuh, tak hanyut, melainkan membentur bebatuan besar di bawah. Diiringi teriakan Ian yang melengking keras, mulutku menganga. Allah, aku tak sadar, apakah tadi sengaja atau tidak.
"Bunda ...!" Tak terduga, kaki kecil tersebut ikut berlari menyusul bundanya yang terpental ke bawah. Bisa ... seharusnya aku mampu menarik tubuh kecil Ian, tapi entah mengapa hal tersebut tak kulakukan saat tangan kecil itu berusaha menggapaiku. Akan tetapi, sungguh ... ini terjadi di luar dugaan. Sama sekali tidak ada niatan menyakiti mereka berdua.
Melihat pemandangan mengenaskan di depan mata, terlebih bisa dibilang ada kaitan antara aku dengan kecelakaan tersebut. Membuat pikiran ini kosong seketika. Sejak itu, aku mengalami delusi, serupa halusinasi--jauh lebih parah. Rasa bersalah membuatku seolah dikejar mereka, berada di sisi mereka--padahal sesungguhnya kami bertiga sedang dirawat di rumah sakit dan berbeda ruang.
Aku ditangani spesialis kesehatan jiwa, sedangkan Ian dan Mbak Nadia di ruang ICU. Beberapa hari setelah jatuh, Mbak Nadia rupanya sempat sadar. Menurut Mas Genta, ia masih menyempatkan diri berkunjung ke ruanganku meski saat itu pandangan dan pikiranku kosong. Namun, selang seminggu setelah kondisinya dinyatakan membaik, ia kembali drop akibat terdapat gumpalan darah di otaknya.
Sungguh, delusi yang amat terasa nyata. Seolah mereka berada di sisiku. Bercanda ria, bermain ayunan, bercengkerama. Benci ... ya, ternyata beberapa minggu ini aku benar-benar berkhayal total. Tak ada Nadia yang mengincar Genta, tak ada Ian yang minta bolak-balik ke rumah Nadia, tak ada aku kabur ke rumah orang tua. Tidak ada ... semua murni halusinasi semata.
☘☘☘
"Lita ingat semua, Pak."
Spontan bapak memelukku penuh haru, mengusap setiap inchi rambut ini. Mendoakan agar semua tetap baik-baik saja baik raga dan jiwa.
Dua hari kemudian, aku diperbolehkan pulang. Mas Genta masih tegar menuntunku ke gundukan tanah merah, tempat di mana jasad Ian--putra kesayangannya bersemayam. Tak ada tangis yang terlihat hari ini, entah saat proses pemakamannya. Aku tak tahu, sebab saat itu masih di rumah sakit.
"Ian ...." Air mataku meluncur deras, lalu jatuh di atas timbunan tanah kuburan anak berusia enam tahun ini. Rasa kehilangan yang teramat dahsyat, aku benar-benar menyayanginya. Tak ada niatan sedikit pun untuk melukai anak ini.
"Ian ... maafin mama, Nak."
Masih kupeluk gundukan tanah tersebut. Berharap inilah yang sebetulnya hanya halusinasi, atau mimpi. Lalu terbangun, dan mendapati ia yang tengah memeluk manja, seperti biasanya.
"Mas, aku ... a-aku tak sengaja. Sungguh aku begitu menyayangi putramu."
Air mata Mas Genta mulai turun, terlihat dari mata sayu yang telah memerah itu. Lembut ia menyeka pipi, lalu memutar langkah ... meninggalkanku.
"Ian ... mama rindu. Ian bilang mau punya dedek."
Hingga di posisi ini, aku masih belum sepenuhnya memahami yang terjadi. Yang jelas, kecelakaan Mbak Nadia dan Ian yang tertangkap jelas oleh lensa mataku ini membuat depresi yang amat sangat sehingga berkembang menjadi sebuah delusi psikosis yang menghasilkan halusinasi yang dahsyat. Bagaimana tidak? Aku berperan dalam hal ini, sengaja atau tidak ... aku terlibat.
"Maafin mama, Ian." Sebuah replika pesawat kecil kesukaannya, kuletakkan tepat di depan nisan bertuliskan 'Alifian Ramadhan bin Genta Prawira'.
Aku melangkah pergi dari pemakaman dan menemui Mas Genta yang masih menunggu di depan mobilnya.
Di sepanjang perjalanan, kami hanya bergeming. Mata yang dulu begitu sendu kini lebih dingin daripada dulu--pertama ia menikahiku.
"Obat sudah diminum, Pur?" tanyanya datar.
"Sudah, Mas."
"Bagaimana kondisimu sekarang?"
"Stabil, Mas?"
Kaki Mas Genta mengarah ke kamar Ian. Terduduk ia di ranjang kecil dengan seprai bermotif kartun tersebut. Lalu berbaring menyamping, memeluk erat guling di sebelahnya. Aku tahu, ia sedang membayangkan bahwa yang tengah di pelukannya adalah seorang bocah kecil berusia enam tahun nan ceria.
"Maafkan aku, Mas ...."
Tubuhku beringsut di lantai, bertumpu dengan kedua tangan dan lutut, serta wajah yang menatap alas ruangan ini.
"Jika kamu menganggap aku adalah pembunuh, silakan laporkan dan ceraikan aku."
Cukup lama di posisi ini, hingga kurasa lantai telah basah akibat tumpahan air mata yang tak dapat terbendung. Sebuah sentuhan lembut mendarat di kepala yang masih tertutup khimar pastel. Usapan yang bergerak naik turun dengan lembut, mulai dari pucuk kepala hingga dagu.
Ia menyejajarkan tubuhnya, dengan ikut berlutut di hadapanku. Menengadahkan wajah ini, serta mengecup titik-titik air yang turun dari mata. Entah sejak kapan, ia membenamkan kepalaku ke dadanya dengan erat.
"Maafin saya, Pur. Andai saya lebih memahami kamu." Parau suaranya menandakan bahwa ia pun tengah menangis.
"Mas ...." Aku mendongakkan kepala, dan lekat menatap wajah matang yang masih terlihat tampan di usianya yang telah memasuki kepala tiga.
"Andai saya tak berhasrat memiliki Nadia kembali, andai saya segera mengesahkan pernikahan kita. Tentunya kesalahpahaman ini tidak akan terjadi dan kamu takkan pernah memendam luka seperti ini. Kamu terlalu muda untuk menanggung beban seperti ini. Menjadi istri dari seorang duda egois yang selalu memaksa menjelma menjadi sosok mantan istri yang dicintai."
"Mas Genta ...."
"Ketulusanmu benar-benar menanamkan benih cinta di hati saya, Lita."
"Mas panggil aku Lita?"
"Iya ... namamu Lita, kan? Mau saya panggil Lita atau bidadari?"
Aku kembali memeluknya, sangat erat. Bahkan lebih erat dari segala dekapan yang pernah kami lakukan.
Seminggu kemudian, kami mendapat kabar jika kondisi Mbak Nadia membaik. Mas Genta mengajakku menjenguknya, bermusyawarah tentang waktu yang tepat mengurus perceraian secara hukum.
Tak berseling lama, setelah surat cerai turun. Kami mengesahkan pernikahan di KUA, hidup bahagia, memulai segalanya dari awal.
Ada banyak alasan bagiku, Purnama Jelita--seorang gadis muda yang rela bertahan atas pernikahannya yang mungkin sebagian besar orang akan menganggapku bodoh. Masih banyak kebaikan yang kulihat dari Mas Genta, jangan karena nila setitik rusak susu sebelanga.
Pernikahan dengan Mas Genta sebab takdir, ujian yang kualami sebab takdir. Siapa yang berani menyalahkan semua ini? Ah, aku ... Purnama Jelita, berhasil lepas dari delusi psikosis. Di setiap sujud, selalu memohon ampun atas segala dosa yang pernah aku lakukan, baik sengaja atau tidak. Dosa yang membuat setan tersenyum riang kala melihat tragedi di jembatan itu.
☘☘☘
"Bagaimana hasilnya, Mas? Apakah aku pun seorang carrier?"
Mas Genta memelukku erat. Ia bersimpuh dengan lututnya, lalu mencium perut ini berkali-kali.
"Hasil tes DNA membuktikan kamu bukan seorang carrier thalassemia. Insyaa Allah anak kita akan sehat."
Aku tersenyum mendengar perkataannya. "Dan apakah kamu akan memaksa anak di perutku menjadi Ian?"
"Tentu tidak, Ian punya ruang tersendiri di hati kita, Lita ... eh, Bidadari saya."
"Apaan, sih, Mas?" Kupukul bahu bidang tersebut dengan manja. Kami berdua tertawa riang, seraya melangkah pelan menelusuri lorong rumah sakit.
End.
-----