Sabtu, 11 Januari 2020

AKU PELAKOR ? 1 - 5

Febrianti Windyningrum to Komunitas Bisa Menulis
#aku_pelakor?
part 1

"mas, gorengannya 15ribu ya, cabenya banyakin,"
"iya mba, cabenya mau berapa kilo? 3kilo cukup?"
Aku terbahak mendengar jawabannya. Mas Abdul selalu sabar mendengar permintaanku , tak jarang ditambahkan tawa tanpa sedikitpun nada jengkel.

Sebagai anak kos yang mengusung asas pengiritan dan keadilan sosial bagi seluruh warga kos, aku jadi pelanggan setia gorengan mas Abdul, walaupun sebenarnya gorengan itu untuk dimakan dengan teman-teman kamarku juga, tapi aku yang paling sering diutus beli karena tempat kerjaku yang searah pulang dengan lapaknya.

"Ga sekalian tempenya mba Gita, bisa dimasak juga, jadi ndak tiap hari makan gorengan," tawar mas Abdul, selain jual gorengan, dia juga menjual tempe mentah buatannya sendiri.
"Enggak deh mas, ga sempat masak nanti malah busuk. Enak gorengan, tinggal hap," jawabku sambil menirukan iklan sosis di tv.
"Okee mba, ini gorengannya, terima kasih ya mba, selamat datang kembali," dia membalas dengan menirukan sapaan salah satu minimarket terkenal.
Aku hanya tertawa dan pergi setelah menerima kembalian.
Setelah mandi dan beberes, aku memanggil pasukan a.k.a teman-teman kosku untuk makan bersama. Sudah jadi kebiasaan kalau di tanggal tua, kami berempat masing-masing membeli lauk, lalu makan bersama-sama dengan lauk yang disajikan jadi satu , jadi berasa makan prasmanan.
"Waaahh mantab, kalo Gita yang beli gorengan pasti ada lebihnya 3 biji, cabenya banyak pula," Lia mengomentari sambil menata gorengan hasil buruanku di piring.
"Iye lah, lah wong Gita calon istri kedua, hahahaha" Sisil tak kalah menimpali.
"Widiih hebat kamu Git, berani jadi istri kedua mas Abdul, sudah siap jadi santapan singa?" Mita ikut menyahuti, sambil tangannya menuang capcay kuah.
"Sembarangan, jadi istri pertama aja belum tentu aku mau, lha kok istri kedua, bisa habis dikruwes sama istrinya mas Abdul," aku menanggapi santai ocehan mereka.
Mereka selalu bercanda soal itu. Memang, dari chasing luar mas Abdul sebenarnya kurang cocok jadi penjual gorengan, karena wajahnya adem seadem lantai masjid, sebelas duabelas sama mantan aku Dude Harlino. Tapi sayang istrinya, tidak seanggun Alyssa Soebandono, lebih cocok jika istrinya dikatakan titisan Gerandong, galaknya minta ampun.

Pernah waktu itu Mita beli tempe dan yang melayani istrinya mas Abdul, iseng Mita tanya mas Abdul dimana tumben ga keliatan, langsung disemprot,
"Sampean mau beli tempe apa mau nyari suami saya? kalau cuma beli tempe, ini tempenya, 5ribu, kalau udah silakan pergi," semenjak itu Mita kapok disuruh beli gorengan atau tempe disana.
Kami makan sambil terus mengobrol, ya kerjaan, ya curcol, tentang jodoh yang tak kunjung tiba semua diobrolin, sampai semua sepakat balik ke kandang masing-masing karena besok kembali bekerja.
Kuakui, aku mengagumi sosok mas Abdul. Selain berjualan gorengan dan tempe, dia juga bekerja sebagai OB di salah satu kantor swasta. Sore setelah bekerja di kantor, dia berjualan gorengan di depan rumahnya yang kebetulan di pinggir jalan besar.
Awalnya dia hanya berjualan tempe mentah, baru sekitar 6 bulan ini dia mulai berjualan gorengan. Semangat kerjanya aku akui luar biasa, padahal belum ada anak yang harus dipikirkan kebutuhannya. Pernah aku bertanya, apa ndak capek, dia hanya menjawab,
"ya namanya kerja ya capek mba. Tapi ya gimana, butuh."
Dia perantauan, sama sepertiku, di Surabaya dia tinggal di rumah mertuanya. Kami sama-sama dari daerah Jawa Tengah, jadi setiap ngobrol seringnya nyambung. Tapi ya hanya itu hubungan kami, sebatas pembeli dan penjual, tak ada lebih.

*****

Besok ada acara "kerja bakti" di kantor tempatku bekerja, ada-ada aja si bos, hari Sabtu aturan kami pulang lebih cepat tapi ini disuruh beres-beres dulu sebelum pulang, persiapan audit di hari senin.
Padahal sudah dari seminggu ini, kami sudah siap-siap diaudit karena kabarnya sudah terdengar dari minggu lalu. Setelah berdebat dan menimbang, kami bersedia asal ada "sajen"nya. Keluarlah duit 300ribu dari kantong pribadi pak bos. Sekarang anak-anak pada ribut,ada 30an mulut yang ikut sumbang saran itu duit dibeliin apaan buat "sajen" besok.
Akhirnya setelah bermusyawarah, mas Bayu, kepala adminku selaku yang dituakan, menyerahkan duit itu ke aku,
"Gita, pokoknya duit ini besok harus jadi makanan sama minuman, terserah mau camilan atau nasbung, pokoknya besok kamu harus bawa, kalau berat banyak bawaannya, kamu tinggal telpon Dimas suruh bantuin, udah sekarang pada balik semua," aku melongo, terus ngapain tadi debat panjang kalau akhirnya semua terserah aku?
Sekarang aku yang bingung, udah pasti kalo dibeliin camilan di indomerid , bakal ga merata dan bisa terjadi perang saudara. Dan minuman pasti mereka ga mau air yg ga ada rasanya a.k.a air putih. Kalo dibeliin air putih, aku pasti dituduh korupsi.
Pas bingung-bingungnya, aku ga sadar sudah sampai depan lapaknya mas Abdul. 2x baru ngeh kalau dia manggil-manggil aku.
"Tumben mba pulangnya sore, mampir mba," sapanya ramah.
"E iya mas, tadi ada briefing dulu sebelum pulang," melihat gorengan yang baru diangkat dari wajan, langsung ahaaa , ini nih, pikirku seketika.
"Mas Abdul, misal besok saya pesan gorengan 100biji, jam 1an diantar, bisa?" tanyaku langsung.
"Apa mba? 100 biji? Bisa mba Gita, bisa banget. Kebetulan besok saya libur," jawab mas Abdul semangat.
"Kantor saya yang di ruko depan sana mas, nanti kalau sudah sampai kantor, mas kabari biar saya turun. Ini saya tinggalin duitnya sekalian, sama nomor wa saya tlg disimpen ya mas," jelasku sambil terus menyebut nomor hp.

"Oke mba Gita, makasih banyak ya mba, inshaAllah besok tidak telat ngantarnya," mas Abdul terlihat sangat senang menerima uang dariku. Senyumnya terus mengembang seperti adonan donat kebanyakan ragi.
Nah beres sudah makanannya,tinggal minumannya, aku ingat punya teman yang jual sup buah, bolehlah nanti aku tanya bisa tidak buat untuk besok.
Langkahku lebih ringan sekarang, entah karena urusan besok sudah beres atau karena teringat wajah tampan penuh senyuman suami orang. *eehh
*postingan pertama, masih belajar, mohon krisannya πŸ™
*terima kasih untuk admin sudah meloloskan cerita saya πŸ™
next

-----

 
#aku_pelakor?
PART 2
Sejak aku pesan gorengan kemarin di mas Abdul dan punya nomor wa nya, aku lebih sering chat dengannya. Eits jangan salah, yang ku tanyakan hanya sekitar,
"Mas hari ini jualan?"
"Mas sudah buka?"
"Mas mendoannya 10ribu, bakwannya 5ribu ya,"
Yap, teman kerjaku sering pesan lewat aku, karena memang gorengannya enak dan tempatnya tidak jauh dari kantor. Jadi pas pulang, temanku tidak antri, langsung ambil karena sudah aku pesankan.
Hari ini aku kembali beli mendoan di tempat mas Abdul, gerobaknya sudah dipajang tapi yang jual belum nampak.
Beberapa saat menunggu, yang keluar istrinya. Aku hanya beberapa kali bertemu istrinya, itupun tanpa ada kalimat basa-basi. Hanya diam dan berlalu. Aku juga tidak menyapa karena minder lihat wajah juteknya. Cantik, tapi wajahnya sangat antagonis.

"Mba, beli mendoannya saja 10ribu," aku memulai pembicaraan dengannya.
"Iya," tapi dia tidak terus mengambilkan pesananku padahal sudah ada yang matang di gerobak.
Aku menunggu sekian purnama, dia sibuk menata bahan-bahan yang mentah. Akhirnya karena waktu sudah mepet magrib, aku ulangi pesananku.
"Mba maaf, mendoannya aja tolong, 10ribu,"
"Mba nya sabar kenapa, suami saya lagi keluar beli plastik, plastiknya habis. Mau mba nya dijualin ga pakai plastik? Ini lagi si Abdul beli plastik ga balik-balik, mana yang beli ga sabaran," tiba-tiba dia ngomel panjang lebar.
Aku kaget, perasaan aku bicara juga ga ngegas, udah aku perhalus, lah dianya ngegas.
Untung belum selesai kagetku, mas Abdul sudah datang,
"Darimana aja mas, beli plastik lama banget, ngegodain janda yang jual plastik ya? Uda bosen sama aku, iya? Kenapa balik kalau gitu, sana nginep sekalian disana," si istri langsung nyembur ke mas Abdul.
Aku yang liat jadi sungkan, orang yang ikut ngantri gorengan juga tiba-tiba punya kesibukan lain, ngobrol sama sebelahnya, ada yang siul", cabut rumput ,mancing *eehh
Mas Abdul langsung gandeng sang istri ke dalam, tak sampai 5 menit keluar lagi dengan wajah senyuman yang dipaksakan. Dan mulai berjualan sambil minta maaf sudah bikin suasana tidak enak. Setelah jadi pesananku, aku pun pulang tanpa basa-basi.
Dalam hatiku, Tuhan itu adil, mas Abdul yang pendiam dan ramah, jodohnya yang cerewet dan judes, jadi bisa saling mengimbangi.
Tapi aku kembali berpikir, mungkin lebih adil lagi kalau jodohnya itu aku, walaupun tak secantik istrinya, paling tidak aku akan menjaga kehormatan suamiku dengan tidak berteriak di depan umum.
Ah, apa yang aku pikirkan, pasti efek lapar.

Jam 22.00 ada yang mengetuk pintu kamarku, aku belum tidur karena masih asyik mijitin layar androidku. Ternyata Sisil, mengajak kuliner malam. Alasan, aku tau dia baru pulang karena shift siang, pasti belum sempat makan tadi di tokonya. Muter-muter akhirnya kita makan di daerah Wonokromo. Sambil menunggu pesanan, aku buka chat di hp yang dari tadi ku kantongi. Mataku langsung melek maksimal karena ada chat dari mas Abdul, biasanya aku yang chat duluan untuk pesan gorengan.
Aku bingung, seketika hatiku deg-degan, gemetar entah kenapa. Inikah rasanya di chat suami orang.
Aku jawil Sisil,
"Sil aku di chat mas Abdul, gimana ini??"
"Ha? Mas Abdul siapa git, mas Abdul apa pak Abdul bapak kos? Genit kamu git, pak Abdul kamu panggil mas," kebetulan bapak kosku juga bernama Abdul.
"Hadehh, mas Abdul yang jual gorengan itu lho sil, yang istrinya galak macam centeng belanda," aku menjelaskan gemas.
"Wooo edan arek iki, sumpah tak akui nyalimu besar git, istrinya gualake pol kamu berani chattingan sama suaminya," ucap Sisil sambil geleng-geleng.
"Ngarang, aku ndak pernah chat aneh-aneh sil, ini juga baru pertama dia chat duluan. Gimana ini, dibuka jangan?" aku minta pertimbangannya.
"Buka aja git, aku penasaran juga ini, akhirnya dude harlino tergoda juga sama asmirandah kawe, hahahaha" Sisil ketawa puas sambil makan suapan pertamanya, tak doain keselek karena ngetawain aku.
Sejenak ragu, tapi lalu aku buka chat dari mas Abdul, dia masih online.
"Maaf ganggu, lagi apa git?"
Deg, kok begini chattingan pertamanya, aku kan jadi seneng.
"Ini lagi makan sama temen, ada apa ya?" Aku to the point karena aku sadar chat ini mengandung resiko.
"Jam segini baru makan, jangan telat makan git," Aku tak balas lagi, hanya aku baca karena dia tak menjawab pertanyaanku. Aku konsen pada makananku, Sisil juga kayaknya kepedesan, lupa tanya lagi soal chatku dan mas Abdul.
Selesai makan, baru ku cek lagi hp ku, ternyata mas Abdul chat lagi,
"Git sebenarnya aku mau minta maaf soal istriku tadi sore. Aku bener-bener ndak enak sama kamu, kamu jangan kapok beli mendoan di aku ya?"
Yassalaaammm, ku pikir ada apa. Segitunya kamu tidak ingin kehilangan pelanggan setiamu mas,
"ashiiap, gpp mas, kalau ndak enak kasi garam mas biar enak, hee" balasku kemudian.
"Kamu ada-ada saja git, ya sudah kamu pulangnya jangan malam-malam, ga bagus perempuan pulang malam, apalagi sama cowok, tiati pulangnya ya git," Aku baca sambil miring alisku, cowok siapa yang dia maksud?
"Duuuuhh senyum terus yang di chat gebetan, hayok balik, uda malam, aku lagi baik, uda aku bayarin spesial buat kamu yang lagi berflower-flower," Sisil menarik aku yang masih terbengong di tempat.
Gita, ingat dia suami orang, dilarang bahagia karena dia.
*terimakasih untuk krisan, komen, like dan share nya πŸ˜†πŸ™πŸ™
next

-----

#aku_pelakor?
PART 3

Dari chat terakhir mas Abdul yang akhirnya cuma aku baca tanpa balas, aku belum bertemu lagi dengannya. Karena sering lembur dan beberapa kali teman kantor mengajak pulang bareng sekalian cari makan, jadi aku juga jarang pulang lewat lapaknya mas Abdul.
Kadang ada rasa ingin bertemu, tapi sadar dia suami orang yang tidak boleh dirindukan. Hanya melihat namanya yang tidak pernah absen baca story wa ku saja aku sudah bahagia, betapa recehnya diriku.
Hari ini giliran Lia yang minta ditemani cari makan, karena sudah tanggung bulan, kita hanya muter di sekitaran kos. Pilihan jatuh di abang nasgor yang mangkal di pinggir jalan. Lia memesan dan aku menunggu di atas motor sambil tengok kanan kiri mungkin ada jajanan yang menarik hati.
Pas aku tengok di lesehan sebelah, deg. Itu mas Abdul, sendirian. Mungkin menunggu pesanan. Setan vs Angel di batinku mulai berperang.
"Udah gita, samperin, mumpung sendirian, kapan lagi ada kesempatan berlian kaya gini??" Mas Setan mulai berbisik di telinga kiri.

"Jangan gita, kamu mulai tergoda untuk mendekati suami orang. Kamu sudah ada rasa, cukup. Nanti keterusan, cukupkan niatmu sampai disini," Mba Angel menarik sisi telinga kanan.
Sedang bingung dan galau antara nyamperin atau tidak, Lia menepuk bahuku,
"Loh itu mas Abdul git, mas Abdul mas, sini, ngapain sendirian di situ mas? Diculik bencong loh," Lia tanpa basa-basi malah melambai dan memanggil mas Abdul.
Mas Abdul yang menyadari keberadaan kami melambai dan akhirnya pindah duduk di samping kami yang menunggu pesanan.
"Mba gita, mba Lia, makan juga mba?" sapa mas Abdul.
"Enggak, kita cuma pesen bungkus, e mas kok sendirian, istrinya ga diajak?" Lia yang menyahuti. Aku tiba-tiba sangat tertarik dengan motif ban motorku, ku perhatikan sampai menunduk dalam-dalam.
"Oh Sandra lagi di rumah kakaknya, iparnya sakit jadi dia bantu-bantu disana," jawab mas Abdul.
"Oalah, lha mas Abdul kok ndak diajak? Ini jualannya libur juga?" Lia malah introgasi, sedangkan aku mulai mengitung jumlah kendaraan yang lewat.
"Iya saya belum dapat cuti mba, nanti kalau libur belum selesai urusannya, saya susulin kesana. Kebetulan yang juragan kedelainya juga libur mba, jadi saya ndak bisa buat tempe. Sekalian libur lah mba, sekali-kali," jelasnya sambil tersenyum.
"Wah pantesan makan sendirian, e kita gabung boleh mas, di kos juga sepi belum pada pulang, gapapa ya git? GITA !"

Aku kaget karena dari tadi tidak menyimak pembicaraan mereka, entah, aku grogi maksimal. Lama tidak bertemu, level kegantengannya bertambah 120%, menurutku.
Eling git, eling, kataku dalam hati.
"Iya iya ga usah teriak juga kali Li, iye makan disini, sekarang? mana makannya? kamunya sekalian aku kunyah sini," jawabku setengah ngegas ke Lia.
"Ih kamu, bentar aku bilang bapaknya ga jadi bungkus, makan sini aja," Lia berlalu ke tukang nasgor untuk revisi pesanannya.
Jadilah aku ditinggal sendirian, ku dengar samar-samar lagu Kesempurnaan Cinta dinyayikan mas Setan.
"Gita apa kabar? Lama tidak ketemu ya," mas Abdul memulai pembicaraan.
"Hehe iya mas. Sering lembur juga di kantor, jadinya kemalaman sampai kos. Sering dijajanin juga, jadi jarang beli makan," jawabku dengan nada yang (berusaha) biasa saja.
"Syukurlah sudah ada pacar yang perhatian sama kamu git, aku sering lihat kamu kadang pulang malam, masih makan gorengan terus. Walaupun aku penjual, aku ya sadar kalau kebanyakan juga ndak bagus. Paling tidak sekarang ada yang merhatiin makan kamu." mas Abdul bicara sambil terus memandang aku, atau aku yang kegeeran?
"Pacar? Aku ndak ada pacar mas, aku pergi sama teman-teman cewe, samasekali tidak pernah sama cowo. Kalaupun ada pasti perginya ramai-ramai, tidak pernah berduaan,"
Aduh ngapain juga aku jelasin panjang gini ya, tapi sekilas aku melihat air mukanya berubah, sekali lagi apa aku kegeeran, tapi sepintas aku melihat ada senyum lega disana.
Lia datang membawa pesanan kami, pesanan mas Abdul juga sudah datang, jadi kami mulai makan sambil sesekali mengobrol.

Karena pulang pun kami searah, kos ku hanya selang 5 rumah dengan rumah mas Abdul, kami pun pulang beriringan. Mas Abdul sempat berhenti di kios minuman, kami lanjut saja sambil pamitan di atas motor. Tapi berhenti juga pas ada jual jagung bakar pinggir jalan, lumayan buat teman nonton drakor habis ini.
Sampai di kos, pas buka gerbang, mas Abdul berhenti tepat di dekat kami. Seraya mengulurkan kantong plastik,
"Ini git, katanya pengen thai tea tapi belum sempat beli, sama buat mba Lia juga ya," senyumnya itu lho, tak pernah absen di wajah tampannya.
"Lah mas, tadi udah dibayarin nasgornya masih dibeliin minum, aduh kita kan jadi enak, makasih banyak loh," Sialan si Lia, dia nyerobot dialogku, harusnya aku yang berterimakasih kan aku yang dikasih.
"Iya sama-sama, duluan ya Gita, jangan begadang mulu liat drakor," dia bicara sambil menstarter motornya.
"Ha? hahaha iya mas, makasih banyak ya mas Abdul, maaf jadi bikin repot," Akhirnya aku bisa bicara normal juga sama dia.
"Ndak repot kok, oke masuk gih, assalammualaikum," dan mas Abdul pun berlalu meninggalkan bunga-bunga di hatiku.
*****
"Kok dia tahu ya Li, kalau aku lagi pengen thai tea sama mau nonton drakor? Jangan-jangan..." Aku mulai membahas mas Abdul dengan Lia sesampainya di kamar.
"Ya iyalha tau, lah wong story wa mu uda kayak liputan 6, update terooosss," seloroh Lia sambil ambil posisi ternyaman buat nonton drakor.
Kami mulai nonton di kamarku, tapi pikiranku melayang ke mas Abdul, bahkan yang main di layar kaca adalah mas Abdul, bukan Song Joong-Ki.
Ya Allah aku tahu perasaanku ini dosa, tolong hentikan sampai disini.
--------


#aku_pelakor?
PART 4

Kata Sisil, aku mulai gila karena efek jomblo kadaluarsa. Banyak lelaki single berseliweran, kenapa pilihan hatiku justru jatuh ke lelaki yang sudah dilabeli status MENIKAH.
Kata Lia, pilihanku cuma 2, jadi pelakor atau kembali ke jalanNya. Yang dimaksud Lia kembali ke jalanNya, aku disuruh lebih rajin salat, tahajud, puasa, lalu banyak-banyak berdoa minta mas Abdul segera ganti status jadi DUDA. Dua pilihan yang sangat tidak mendidik.
Hanya Mita yang cukup waras mengatakan,
"Wes tho git, lupakan. Jangan jadi pelakor. Kamu juga wanita. Bayangkan kalau pasangan kamu direbut orang, sakit tho? Lha wong ikan lelemu disambar kucing kemarin aja kamu marahnya dari siang nyampe besok siangnya lagi, apalagi kalau pasangan yang direbut,"
******
Maka aku memilih saran Mita, aku tidak boleh baper lagi sama mas Abdul. Bersikap biasa saja, ngobrol seperti biasa saat bertemu, dan tidak berlama-lama saat beli gorengan.
Walau kadang aku merasa mas Abdul masih ingin ngobrol denganku saat aku mampir beli, aku langsung kabur dengan seribu alasan.
Pernah sesekali dia chat aku, tanya ada pesanan lagi tidak, aku jawab seperlunya. Aku menyibukkan diri, lebih banyak lembur atau hangout dengan teman kerja maupun teman kos. Karena kalau sendirian di kos, tanganku gatal membalas chat mas Abdul yang seringkali ku abaikan.

******

Hari minggu ini aku habiskan untuk mempersiapkan kepergianku ke Bali. Aku ditugaskan menjadi trainer di perusahaan cabang yang baru dibuka disana. Rencana bakal sebulan, mungkin lebih aku disana nanti.
Sisil, Lia, Mita sudah membuat daftar panjang pesanan mereka yang harus aku bawa pas pulang nanti. Padahal disana aku kerja, bukan piknik. Sisil dapat shift pagi hari ini, tapi dia bisa mengantar aku ke bandara besok pagi. Ditemani Lia dan Mita, aku menata bawaanku.
Tengah kami asyik mengobrol dan berkhayal soal kemungkinan jodohku nantinya bule, mba Santi penghuni kamar bawah, muncul di pintu kamarku. Ya, kosanku 2 lantai, yang lantai atas hanya 4 orang ini, aku dan bala kurawa ku.
"Gita ! Kamu dicariin mba-mba, orangnya di bawah itu teriak-teriak, tak kira dia nyari Sagita, ditemuin Sagita katanya bukan, berarti Nagita, kamu kan ya?? Cepetan temuin sana, bikin malu teriak-teriak dia," mba Santi bicara sambil ngos-ngosan, bisa dibayangkan perjuangannya naik ke lantai atas dengan body aduhai macam pacar boboho.
"Hah? Siapa mba? Perasaan utangku ke yu Mar kemarin udah aku bayar, udah bayar juga kosan bulan ini, udah tak titipin Sisil kemarin pas dia bayar," jawabku bingung.
"Ga tau git, udah pokoknya temuin aja dulu, uda jadi tontonan itu dibawah, ayook malah bengong arek iki !!"
Tak sabar mba Santi menarik tanganku, tak lupa aku juga menarik tangan Lia, dan Lia menarik tangan Mita, Mita reflek pegangan pintu lemari agar tak ambruk ditarik Lia, jadilah lemari cabinet plastikku yang ambruk karena sebagian isinya sudah dikeluarkan, Mita hanya cengengesan saat aku hanya menatap tajam dirinya.
Benar kata mba Santi, di bawah sudah ramai orang, hari Minggu dan di sekitaran sini area kos-kosan kary/i yang memang mereka libur.
Aku kaget, ada mba Sandra, istri mas Abdul yang langsung menuding diriku begitu aku terlihat. Terburu-buru dia menghampiriku, dan tanpa babibu langsung menampar pipiku disertai seruan dari para penonton.

Refleks aku membalas tamparannya, kembali penonton bersorak tambah semangat.
"Mba ini apa maksudnya?! Datang itu salam bukan nampar !" Seruku tidak terima ditampar tanpa alasan.
Sesaat mba Sandra terkejut, mungkin dia tidak siap dengan sikapku yang langsung membalas tamparannya. Tapi dia segera kembali ke sikap semula,
"Kamu itu godain suami saya ! Chat tidak jelas, alesan mau pesan gorengan, modus ! Lagu lama ! Bilang saja kalau kamu ada hati sama Abdul ! Bener kan?! Ngaku kamu sekarang !!" serunya sambil menuding wajahku.
"Saya tidak pernah deketin suami mba ! Sekalipun saya tidak pernah maksud apa-apa, hanya pesan, udah itu aja. Mba tolong kita bicara di dalam, kita omongin baik-baik," Walau emosi aku masih waras, aku tak mau perdebatan kami jadi trending topic di area sini nanti.
"Halaah alesan, dimana-mana pelakor pasti berlagak korban ! Tidak tahu apa-apa, padahal pengen semuanya ! Apa yang kamu pengen dari suami saya, ha?! Dia sudah bangkrut, tak ada harta ! Cari sensasi saja kamu ya !" bukannya menanggapi ajakanku untuk menyelesaikan baik-baik, mba Sandra malah semakin berapi-api.
Aku hanya terdiam mendengarkan segala tuduhan dia, bila aku menjawab pasti akan tambah panjang ocehannya. Lia dan Mita di sampingku memberi kekuatan untuk aku berdiri menghadapinya.
"Sandra !" suara mas Abdul menggelegar, aku tak pernah menyangka mas Abdul yang pendiam bisa bersuara seperti itu. Wajahnya merah padam pertanda amarah yang dipendam bukan main-main lagi.
Di belakang mas Abdul menyusul pak RT dan pak Abdul, bapak kos ku.
"Kita selesaikan sekarang juga, ikut mas sekarang. Gita kamu ikut sekalian, ajak temanmu," suara mas Abdul begitu tegas dan menarik tangan istrinya.
"Tapi mas, dia " mba Sandra berusaha menghindar,
"SANDRA !!"
Kali ini mba Sandra diam, tak berani membantah lagi. Kami pun beriringan mengikuti langkah pak Abdul yang berjalan paling depan. Massa sudah dibubarkan pak RT dengan diiringi seruan kekecewaan, batal lihat adegan rumah K*ya live.

******

Kami dikumpulkan di ruang tamu rumah pak Abdul. Mba Sandra tak segarang tadi. Dia hanya berani menatapku tanpa berani berucap. Mas Abdul terus menatap istrinya seakan ingin menelannya bulat-bulat.
Aku menangis tanpa suara diapit Lia dan Mita. Bukan apa-apa, aku malu.
"Nah sekarang semuanya sudah berkumpul, bisa dijelaskan awalnya bagaimana kok pagi-pagi sudah ada keributan di kosan saya?" pak Abdul membuka suara.
Aku memandang Mita, aku belum sanggup menjelaskan, aku pun bingung apanya yang dijelaskan. Jelas ini karena cemburu buta yang berlebihan dari mba Sandra. Salah paham pasti.
"Mungkin bu Sandra bisa mengawali? Karena saya dengar sekilas, ibu yang mendatangi dek Gita duluan," pak Abdul langsung menanyai mba Sandra.
" Saya .."
"Cukup, saya saja yang jelaskan." mas Abdul memotong kata-kata mba Sandra.
"Sebelumnya saya minta maaf karena ulah istri saya kepada mba Gita pagi ini, mungkin ini ada juga salah saya sehingga Sandra bisa berlaku nekat seperti ini.
Sandra salah paham pak, semalam dia membaca chat saya dengan mba Gita. Saya sudah jelaskan bahwa chat itu hanya sekedar pesan gorengan atau tempe yang saya jual. Sandra bersikeras saya ada hubungan dengan mba Gita. Billahi saya tidak ada hubungan apapun dengan mba Gita selain penjual dan pembeli. Semalam saya jelaskan kelihatannya dia sudah menerima, saya samasekali tidak menyangka waktu saya ke pasar, dia datang ke mba Gita dan menuduhkan yang tidak-tidak, saya benar-benar minta maaf pak, mba Gita saya minta maaf," suara mas Abdul bergetar saat mengucap maaf.

Seketika hatiku mendesir, serasa ada yang longsor di dalam sana. Kenapa lelaki sesabar ini bukan jodohku? Aku tepis jauh-jauh pikiran itu, aku harus fokus untuk sekarang.
"Saya juga pak, sungguhan saya tidak ada hubungan apa-apa dengan mas Abdul. Bapak bisa cek hp saya, bila ada riwayat chat yang menjurus kesana saya bersedia keluar dari kos saat ini juga," aku ikut bicara mengatakan pembelaanku. Aku merogoh kantongku dan menyerahkan hp ku untuk diperiksa.
Pak RT dan pak Abdul mengecek hapeku dan meminta hp mas Abdul untuk mencocokkan riwayat chat. Setelah selesai, akhirnya pak RT berkata,
"Saya lihat disini memang tidak ada pembicaraan yang mencurigakan atau menjurus ke perselingkuhan. Bisa masalah ini diselesaikan karena yang terjadi sepertinya kesalahpahaman saja?"
Aku menunggu permintaan maaf dari mba Sandra, tapi yang ditunggu hanya diam saja dan menunduk.
"Bu Sandra, mungkin ada yang mau disampaikan ke mba Gita?" pak RT pun memancing perkataan maaf dari mba Sandra.
"Silakan kau ambil Abdul, aku sudah lelah dengannya, aku minta cerai saja !" perkataan mba Sandra sangat mengejutkan semua pihak, terutama aku.
"Sandra kita sudah bahas ini berulang kali, aku tidak mungkin menceraikanmu, jangan mencari-cari alasan untuk berpisah. Ayo pulang, kita bicarakan ini di rumah," mas Abdul merengkuh istrinya lembut, mengajaknya pulang.
"Tidak mas, tidak ! Kamu yang bilang mau menyelesaikan semua, mari selesaikan, termasuk pernikahan kita ! Ceraikan aku sekarang ! Talak aku !" mba Sandra terus menjerit-jerit minta cerai.
Aku tak tahan, aku keluar tanpa pamit ke siapapun, pak RT dan pak Abdul membantu mas Abdul menenangkan mba Sandra yang mendadak seperti orang kesetanan.
Sampai di kamar, aku baru sadar Lia dan Mita ikut denganku, aku menangis lepas di pelukan mereka. Kami menangis bertiga.
Ada saatnya hati ini berbunga karena dirimu.
Namun ku tau jika saatnya tiba, kau miliknya dan tinggal aku serta luka yang menganga di dalam sana.
next

-----


#aku_pelakor?
PART 5

Aku pergi dengan penerbangan pertama pagi ini. Semalaman aku ditemani Lia, Mita dan Sisil. Sisil marah aku dituduh pelakor. Dengan mempraktekkan berbagai gerakan mematikan, dia terus menghujat mba Sandra yang di mataku dia malah terlihat sedang melawak. Sedikit tawa dapat mengurangi sakit di hati.
"Udah git, kamu hati-hati ya disana, misal si mak lampir itu ada ganggu kamu lagi disana, telpon atau apa, kamu langsung ngomong aku, langsung tak calling pakdeku yang bisa "kirim", minimal wajahnya ga bakal semulus sekarang," ujar Sisil menyakinku saat aku akan check in.
"Huush, jaman udah maju gini kok masih pakai begituan Sil, dosanya aku yang tanggung malah nanti. Udah aku berangkat dulu ya, jangan lupa ingetin Mita kalau keponakannya jadi pinjem kamarku, udah aku bayar sampai bulan depan," Aku memeluk Sisil, terharu dia begitu perhatian denganku.
"Ashiiap, cuma sebulan tho git? Jangan lama-lama, nanti pulang tak doain gandeng bule,"
Aku hanya tersenyum. Puas melambai-lambai ala adegan drakor, aku masuk check in dan menunggu di gate.
Sebulan? Apa cukup menutup patah hatiku? Aku bahkan baru akan menutup hati tanpa berniat meneruskan perasaanku tapi sudah dipatahkan duluan, dari awal aku memang sudah kalah sebelum start.

***

Bulan ketiga, aku menemui Lia di salah satu hotel tempat dia menginap. Dia ada acara gathering di Bali selama 3 hari. Aku memeluknya erat saat pertama menjumpainya, kangen.
"Kamu kenapa ga balik-balik git? Belum bisa move on kah?" tanya Lia langsung sambil membukakan camilan untukku.
"Tanya kabarku apa gimana gitu Li, basa-basi biar aku bahagia," aku memilih menghindari pembahasan tentang mereka, mas Abdul maupun istrinya.
"Halah kaya aku ga tau kamu git. Kamu sulit suka sama orang, sekali suka pasti sulit melupakan. Salahmu kenapa sukanya sama suami orang. Aku tahu kamu sengaja kabur kan, minta sama pak Bayu lama-lama disini. Jangan lupa aku punya intel di kantor kamu," Aku lupa, pacar Lia satu kantor denganku, hanya beda lantai.
"Aku tahu kamu masih pengen balik ke Surabaya, nyatanya kamar kos masih kamu bayarin penuh, padahal ponakannya Mita sudah selesai PKL. Kami sadar kok kamu ga bakal mampu ninggalin kita-kita kan? Dimana lagi kamu nemu peninggalan nenek moyang kaya Sisil kalau kamu kabur ga balik-balik lagi?" Aku tertawa mendengar ocehan Lia.

Aku sangat merindukan mereka. Mereka keluarga kedua aku selama 4 tahun ini. Mungkin benar, sudah saatnya aku move on. Tak ada gunanya menangisi air yang sudah tumpah.
"Iya Lia, selama disini aku juga berpikir, aku memang salah. Semua seperti dirancang, saat kemarin terjadi itu, aku harus pergi. Kesannya aku memang si pelakor itu. Setelah ketahuan, aku tidak muncul lagi kan.
Sebulan disini, pak Bayu tanya aku betah apa tidak, aku langsung iya aja pas dia nawarin extend sampai audit pertama kantor cabang. Yang ku pikir aku mau jauh dulu dari sana, sambil nenangin hati aku.
Tapi ternyata rindu kalian itu beraaatt, kamu ga akan kuat," aku menjelaskan sambil memeluk Lia lagi, aku memang mudah baper. Dasar aku.
"Iya iya dimengerti. Terus kapan kamu balik git? Kapan auditnya?" tanya Lia.
"Enam bulan Li, berarti sekitar 3 bulan lagi kurang dikit, aku janji bakal balik ya," sahutku sambil mengusap air mata yang meluncur malu-malu.
"Awas kalau pulang ga bawa apa-apa, gantinya kamu tidak tepat janji, katanya sebulan jadi 6 bulan. E ternyata kamu pulang malu tak pulang rindu," ledek Lia puas.

Kami ngobrol sampai larut malam di kamar Lia. Teman kamar Lia sudah tepar dari tadi, mungkin kecapekan, tak peduli dengan suara kami yang asyik bertukar cerita.
Dari Lia aku tahu perkembangan terkini. Mas Abdul sudah tidak berjualan di rumah mertuanya. Tidak pernah kelihatan juga orangnya. Hanya istrinya yang sesekali terlihat. Itupun jarang, hanya kelihatan pas pagi sudah dandan cantik mau pergi, tak tahu kapan pulangnya.
Gosip dari Yu Mar, penjual nasi pecel yang rumahnya pas di sebelah mereka, kabarnya mereka sudah bercerai. Mas Abdul kembali ke keluarganya di Malang, mba Sandra sering pulang ke rumah kakaknya di Mojokerto.

"Kamu beruntung Gita, karena mas Abdul kan balik ke keluarganya, ga pergi sama kamu. Jadi kamu ga disebut pelakor lagi," tukas Lia.
"Iya tapi aku dicap PHO, Perusak Hubungan Orang, sama aja si, makanya aku kemarin belum berani balik," aku menunduk mengingat perkataan bu Titin, kepala personaliaku yang sempat menghubungi 3 hari setelah aku tiba di Bali.
Entah darimana beliau mendengar kabar aku dilabrak, sampai menanyakan hal itu kepadaku. Untung beliau cukup mengenalku, bu Titin menelpon hanya untuk memastikan aku baik-baik saja. Aku bersyukur, dikelilingi banyak orang baik.
Jam 2 pagi baru akhirnya kami menyerah pada kantuk.
******
Seharian ini ku habiskan bersama Lia, Lia sengaja mengajak aku bersama rombongan gatheringnya, beberapa sudah kenal aku, jadi tak masalah.
Selama di Bali aku belum pernah berkeliling, hanya dari mess ke kantor ruteku setiap hari. Aku kurang pede jika harus berkeliling sendirian, sedangkan mau mengajak teman sini aku belum berani.
Sampai akhirnya aku mengantar sampai bandara, Lia berpesan agar aku cepat pulang ke Surabaya, dengan iming-iming traktiran jika aku pulang nanti.
Sampai di mess, aku menimang hp ku. Satu nama ku buka tapi tak berani berbuat apa-apa. Selama 3 bulan terakhir, namanya tak lagi muncul melihat story wa ku. Karena namanya sudah berpindah ke daftar blokir.
Perkataan Lia membuat bimbang, apa iya dia sudah menduda?
***

bersambung