#aku_pelakor?
PART 6, Febrianti Windyningrum
(jalan-jalan dulu ke masa lalunya mas Abdul ya, biarkan Gita memikirkan kegalauannya sendiri dulu
----
PoV mas Abdul
Aku mengenal Sandra 5 tahun yang lalu. Dia bekerja sebagai pekerja
borongan di pabrik rokok yang sama denganku bekerja sebagai supervisor
produksi. Notabene pekerja adalah wanita, jumlah pejantan paling hanya
10% di dalam pabrik ini.
Aku pertama melihatnya saat dia diajak kenalan anak buah ku di jam makan siang.
Kalian tahu Tyas Mirasih? Itulah yang terlintas di pikiranku saat
melihatnya, cantik dengan badan yang proporsional. Sangat mengherankan
kenapa gadis secantik dia tidak bekerja di tempat lain, mungkin jadi SPG
atau lainnya.
Sampai suatu hari, Wawan, salah satu mandor lapanganku berkata,
"Pak Abdul, boleh minta tolong?" Dia bertanya tanpa basa-basi atau pendahuluan, memasang tampang memelas.
"Silakan, inshaAllah saya tolong kecuali masalah keuangan," jawabku santai.
"Ya Allah pak, segitunya. Kan utang saya sudah saya bayar kemarin pas
gajian, sudah lunas lho ya," Wawan mulai bersungut-sungut.
Di antara mandor lapangan yang lain, dia yang paling dekat denganku. Cara kerjanya kuakui yang terbaik.
"Iya wan, ada apa? Kayanya serius sekali, mau minta dilamarkan ke
Sibad?" Sibad atau Siti Badriyah adalah ikon populer di pabrik ini.
Siapa tak kenal janda 5x itu, tak sungkan rangkul sana-sini, terlalu
supel jadi orang.
"Astaghfirullah, amit-amit ! Gini pak, saya mau
ijin minta foto sama nomor bapak boleh?" Pertanyaan Wawan membuat
dahiku mengkerut seketika.
"Wan, sehat?" tanyaku heran.
"Itu pak, saya pengen ngajak Sandra makan bakso di depan tapi dia baru
mau kalau saya mau kasih foto sama nomor hp bapak ke dia," jelas Wawan.
"Wan wan, itu artinya dia naksirnya sama pak Abdul, bukan kamu. Kamu
kok bego dipiara, diternak pula. Mari pak Abdul, sudah ditunggu pak
Bambang di ruang meeting," pak Dimas, rekanku sesama spv menjawab Wawan.
Aku hanya terbahak dan meninggalkan Wawan yang masih bengong. Ada-ada
saja.
*****
Aku pulang terakhir malam itu, pak Bambang
meminta laporanku sebelum jam 9 pagi besok. Aku tidak suka membawa
pekerjaan ke rumah, aku lebih suka mengerjakannya disini walaupun tidak
dihitung lembur.
Di luar masih hujan, selama musim hujan aku merumahkan motor cb kesayanganku, membawa mobil lebih aman saat ini.
Saat mobilku melewati pos satpam, aku melihat bu Maryam dan 2 orang
lagi yang berteduh. Anak bu Maryam bekerja di pabrik tempe rumahan milik
pakdheku, jadi aku lumayan mengenalnya. Ku turunkan kaca jendelaku,
"Bu, belum dijemput Ali? Ayo bareng saya sekalian," aku agak berteriak dari dalam mobil, agar tidak kalah dengan suara hujan.
"Ndak apa-apa mas Abdul? Saya ikut sampai pasar saja gih, kalau boleh," bu Maryam terlihat senang menerima tawaranku.
"Pak, mohon maaf, boleh yang dua ini ikut sekalian? Bapak pulang arah Kepanjen kan ya?" Tiba-tiba pak Satpam bertanya kepadaku.
Aku tidak enak menolak, selain kasihan juga perempuan pulang malam
begini, mau naik apa mereka, sudah mau waktu isyak. Akhirnya aku
mengiyakan permintaan satpam.
Setelah semua naik, aku mulai
menjalankan mobilku. Aku baru sadar, satu di antara dua wanita tadi
adalah Sandra. Sepanjang perjalanan, bu Maryam, Sandra, dan temannya
mengobrol. Sesekali aku menjawab jika ditanya.
Ku perhatikan dari
kaca spion, Sandra memang cantik. Perkataannya lemah lembut, setiap
tertawa terdengar renyah bak krupuk Palembang. Sekali aku ketahuan
meliriknya dari kaca spion, aku langsung berpaling, saat ku lirik lagi
dia sedang memandang keluar jendela dan wajahnya memerah. Entah kenapa,
hati ini terasa hangat melihatnya.
Bu Maryam turun duluan di
depan gang rumahnya yang dekat pasar. Hujan sudah berhenti saat Sandra
dan temannya turun dari mobilku. Setelah mengucapkan terima kasih dan
akan berlalu, aku tak tahu apa yang mendorongku, aku turun dan
memanggilnya,
"Sandra !"
"Ya? ada apa pak?" Sandra berbalik menjawabku,
"Mana pinjam hp mu." Aku mengulurkan tangan meminta hp nya. Sejenak dia
terlihat bingung tapi dia membuka tas dan memberikan hp nya padaku.
"Ini nomor saya, sudah saya simpan ya? Besok-besok makan baksonya sama
saya saja, jangan sama Wawan. Saya duluan ya," kataku sambil
mengembalikan hp nya. Dia terlihat kaget, tapi juga tersenyum. Wajahnya
memerah, terlihat makin menggemaskan di mataku.
***
Sejak
itu kami sering berkomunikasi dan sesekali jalan berdua. Ternyata dia
tinggal bersama neneknya di Malang. Ibunya menikah lagi dan tinggal di
Surabaya. Dia tak nyaman dengan ayah tirinya jadi memutuskan untuk
tinggal bersama neneknya.
Dia pernah bekerja sebagai SPG sebuah
vendor mobil tapi pernah hampir mengalami pelecehan seksual, jadi dia
mau saja ketika tetangganya mengajak bekerja di pabrik rokok. Walaupun
gajinya tak sebesar saat dia menjadi SPG, paling tidak dia tidak
diganggu pria hidung belang.
Enam bulan kami berhubungan, aku membawanya bertemu pakdhe dan budheku.
Mereka selalu bertanya kapan aku menikah, umurku 25 tahun saat itu.
Jadi ku pikir tak apa jika aku mengenalkan Sandra pada mereka.
Aku berasal dari keluarga yang dibilang kaya juga belum, dibilang
kekurangan inshaAllah juga tidak. Dulu aku tinggal bersama nenek di
Batang, Jawa Tengah. Ibuku jadi TKW di Hongkong saat aku kelas 2 SD.
Jangan tanya bapakku, aku juga tidak begitu mengingat sosoknya. Yang ku
ingat, dia jarang ada di rumah, pulang hanya beberapa hari sekali,
setiap pulang cuma sebentar, dan pasti ibu menangis saat dia pergi, tak
jarang ada luka lebam yang baru kelihatan esok harinya di tubuh ibu.
Saat aku pertama masuk SD, aku ingat bapak pulang dengan diantar
ambulance, aku tidak mengerti kalau bapak sudah tiada. Setelah dewasa,
aku baru diberi tahu kalau bapak meninggal karena hanyut di sungai, dia
kabur dan terjun ke sungai karena polisi menggrebek tempat dia biasa
main judi dadu. Aku tak peduli.
Ibu pergi setahun setelah bapak meninggal. Katanya, ini demi aku. Agar aku bisa tetap sekolah.
Tinggal bersama nenek, aku dilatih mandiri. Nenek tetap berjualan nasi
pecel dan gorengan walau ibu rutin mengirim uang setiap bulan. Kami
tetap hidup sederhana. Aku tinggal bersama nenek hanya sampai kelas 6
SD, nenek lebih dahulu dipanggil Allah. Hanya seminggu sebelum aku
rencana akan dikhitan.
Setelah nenek dimakamkan, aku mulai ikut
pakdheku yang tinggal di Malang, satu-satunya saudara ibu. Rumah nenek
yang di Batang dibeli masih oleh saudara nenek. Rencana khitanku
diundur, tapi ibu tetap pulang ke Indonesia karena terlanjur cetak
tiket.
Aku kaget, ibu tak datang sendiri. Ada pria mirip Donnie Yen, aktor laga favoritku, datang bersamanya.
Dengan memberi pengertian, ibu meminta ijinku menikah dengan pria itu.
Jika aku tidak membolehkan, ibu akan tinggal di Indonesia tidak kembali
lagi ke Hongkong.
Aku teringat Ibu yang sebelum pergi dan sesudah
kembali ke Indonesia. Ibu terlihat lebih cantik, lebih segar dan yang
pasti ibu terlihat bahagia.
Beberapa kali pria itu mengajak aku
bicara, dengan bahasa Inggris, aku menjawab dengan bahasa tubuh, aku
belum paham bahasa Inggris waktu itu. Tapi dari sikapnya, aku berpikir
dia memang pria baik.
Akhirnya aku mengiyakan ibu menikah lagi,
ibu berhak bahagia. Tapi aku menolak saat ibu mengajak tinggal disana.
Pria itu juga mengajakku, tapi aku ingin tinggal disini, dekat dengan
pakdhe yang bersedia mengurusku nanti.
*****
Pakdhe Son
sangat baik padaku, begitu juga budhe Marni. Mereka hanya punya satu
putri, namanya Liana. Aku lebih tua 3 tahun darinya, tapi karena dia
anak pakdhe, dia kakakku.
Liana menderita polio sejak lahir, satu
kakinya tidak berkembang sebagaimana mestinya, sehingga dia harus duduk
di kursi roda sepanjang waktu. Aku satu-satunya saudara yang dia
miliki, begitupun sebaliknya. Karena keadaannya, dia jarang
bersosialisasi, aku adalah saudara, teman, sahabat, pelindung baginya.
Dia sangat bergantung kepadaku.
Sayang, 3 hari sebelum ulang tahunnya yang ke 17, Liana harus menyerah pada penyakitnya.
Virusnya terus berkembang dan dia tidak dapat bertahan. Aku tidak
menangis saat bapak meninggal, tidak pula saat nenek meninggal, atau
saat ditinggal ibu bekerja jadi TKW.
Tapi saat Liana akan
dimasukkan ke peristirahatan terakhirnya, aku menangis sampai hampir
pingsan. Aku begitu kehilangan sosok kakak sekaligus adik.
***
Setelah mempertemukan Sandra dengan pakde dan bude, aku lebih tenang.
Mereka terlihat setuju dengan hubunganku dengan Sandra dan menanyakan
kapan mereka bisa melamar Sandra untukku. Ketika ku tanyakan pada
Sandra, dia mengajakku bertemu ibunya dulu. Aku setuju.
Kami
berangkat ke Surabaya saat tanggal merah. Sampai di rumahnya, terlihat
lenggang, aku hanya bertemu dengan ibunya, ayah tiri Sandra tidak
terlihat. Kata Sandra, tak masalah, yang penting restu ibu. Akupun
menyampaikan maksudku datang kemari,
"Maaf nak Abdul, kalau ibu
terserah Sandra sebenarnya. Tapi dimana-mana ibu pasti ingin melihat
anaknya bahagia, nyaman, apalagi ini anak perempuan. Kira-kira nanti
setelah berumah tangga nak Abdul bakal tinggal dimana?" Aku paham arah
pembicaraannya,
"InshaAllah Abdul sudah menyiapkan bu. Ada rumah
yang sudah bisa ditinggali di Malang, saya ingin kami mandiri setelah
menikah," aku menjawab tenang.
Sandra terlihat kaget, niatku rumah itu untuk kejutan nanti, tapi ibu menanyakan ya aku bilang saja sekarang.
"Oh itu lebih bagus. Syukurlah kalau begitu. Tapi bukan rumah kontrakan kan ya, atau masih cicilan?"
"InshaAllah tidak bu, ini rumah pakde yang belum terpakai, untuk
investasi, tapi boleh saya pakai setelah menikah nanti," Aku mulai
tidak tenang.
"Lalu lamarannya bagaimana nak Abdul? Kalau disini,
paling tidak pihak lelaki selain memberi papan, sandang, biasanya
membawa kunci juga," Sandra terlihat menarik tangan ibunya, mungkin
memberi kode, wajahnya terlihat gelisah. Tapi ibunya hanya menoleh dan
berbisik,
"Wes tho, meneng ae," sambil mendelik ke arah Sandra.
"Kunci apa maksudnya bu," Aku mulai bingung dan benar-benar merasa tidak
nyaman sekarang.
"Ya kunci, kunci beserta motornya, syukur-syukur kunci dengan mobilnya," jawab ibu Sandra santai.
Aku kaget sekali, andai ada kasur di sebelahku, mungkin aku akan memilih guling-guling disana.
-----
#aku_pelakor?
PART 7
*masih* pov mas Abdul
Aku menikahi Sandra, dengan mahar uang 5 juta rupiah dan seperangkat
alat salat serta satu set perhiasan. Sebuah sepeda motor matic keluaran
terbaru masih terpajang manis di atas mobil bak terbuka di depan
rumahnya.
Resepsi digelar di rumah ibu Sandra, menutup jalan
depan rumah dari pagi sampai sore, entah berapa yang diundang, mungkin
satu Surabaya diundang semua, aku bersalaman tiada henti di pelaminan.
*****
Setelah mendengar permintaan ibu Sandra, aku kembali sendirian ke
Malang. Sandra ditahan ibunya untuk tidak ikut pulang bersamaku. Katanya
nanti kalau sudah sah saja boleh pulang bersamaku ke Malang.
Pakdhe dan budhe geleng-geleng setelah mendengar ceritaku. Budhe memintaku memikirkannya lagi.
Karena selain meminta motor sebagai seserahan, ibu Sandra meminta aku
yang menanggung semua biaya pernikahan termasuk resepsinya nanti.
Resepsi harus diadakan di Surabaya. Apa kabar teman-temanku yang di
Malang? Mau tidak mau, aku harus resepsi 2x nantinya.
Aku ada
tabungan untuk itu semua, selama bekerja aku juga ikut berinvestasi di
UKM milik pakdhe. Yang tadinya hanya membuat tempe di dapur, sekarang
sudah ada gudang kecil dengan 20an orang pekerja.
Pakdhe juga
meminta resepsi di Malang adalah tanggungjawabnya, aku tak perlu
memikirkannya. Ibu pun sudah mewanti-wanti bila aku menikah, harus ibu
yang membelikan seluruh seserahannya, katanya itu kewajiban terakhir
orang tua terhadap anak lelakinya. Tapi kalau yang diminta motor, lain
lagi ceritanya.
Namun akhirnya aku tetap menikahi Sandra dengan
segala persyaratan ibunya. Bahagia Sandra harus denganku, aku tahu dia
bukan wanita yang matre, selama denganku dia belum pernah meminta
apa-apa padaku.
*****
Tiga tahun aku menikah dengan
Sandra, hidup kami baik dan tidak pernah ada keributan besar. Walau
belum dikaruniai anak, kami tetap bahagia. Sampai akhirnya ada kabar
kalau ayah tiri dan ibu Sandra kecelakaan.
Segera kami ke
Surabaya melihat keadaan mereka. Ayah tiri Sandra meninggal di tempat,
sedangkan ibu kritis di ICU. Mereka disrempet truk pasir saat akan
menyebrang jalan. Motornya ringsek, ya motor matic yang dulu ku berikan
untuk Sandra sebagai seserahan sekarang sudah tidak berbentuk.
Sandra terus menunggu ibunya. Kakak laki-lakinya belum terlihat bahkan
sampai ibu dipindahkan ke ruang rawat biasa. Menelpon pun tidak. Hanya
istrinya yang datang sekali, itupun tidak ada 10 menit lalu berpamitan.
Aku bolak-balik seminggu ini Surabaya-Malang karena cutiku belum di acc karena rekanku sudah keduluan ambil cuti juga.
"Abdul, tolong kamu jaga Sandra ya nak. Kalau bisa kamu tinggal di
Surabaya bila nanti ibu sudah tidak ada. Biarkan Sandra tinggal di rumah
masa kecilnya. Ibu titip Sandra," kata Ibu suatu malam ketika aku
menjaganya, Sandra sedang ke kamar mandi.
"Ibu bicara apa si, ibu bakal sehat kok, besok pulang wes," kataku menghiburnya. Beliau hanya tersenyum.
Dua hari setelahnya, Ibu meninggal. Sandra benar-benar shock kala itu.
Dia tidak mau diajak pulang ke Malang. Dia baru mau pulang setelah ku
janjikan aku akan ikut pindah ke Surabaya bersamanya.
Aku sudah
memikirkannya, sampai di Malang aku segera mengurus pengunduran diriku.
Rumah yang di Malang aku kontrakkan pada temanku yang kebetulan butuh
kontrakan.
Pakdhe menyayangkan keputusanku, tapi juga tidak melarang. Beliau berkata bila butuh apa-apa tetap datanglah kepada beliau.
*****
Memulai hidup baru di daerah asing bukan hal baru bagiku. Namun
sekarang ada istri yang membutuhkanku. Aku melamar pekerjaan sana-sini,
namun belum ada panggilan. Aku sama sekali tak punya kenalan di
Surabaya. Sementara itu, aku mulai membuat tempe disini, untuk mendapat
penghasilan.
Tempeku lumayan laris, resep dari pakde memang
juara. Sandra yang belum terbiasa dengan keadaan ini, kadang suka
uring-uringan. Aku masih ada tabungan tapi kami harus berhemat karena
aku belum mendapat pekerjaan tetap.
Kadang aku berangkat jadi
supir rental, dengan mobilku sendiri. Walau tidak setiap hari ada yang
menyewa, paling tidak Sandra tersenyum lebih manis saat uang hasil
rental ku berikan padanya.
Enam bulan disini, mas Danu, kakak
laki-laki Sandra datang beserta anak istrinya. Setelah basa-basi, dia
mulai memberitahukan maksud tujuannya datang,
"San, Abdul,
sekarang ini kan ibu sudah tidak ada. Aku tahu kamu yang merawat ibu
selama ini, tapi bagaimanapun aku anak lelakinya. Warisan ibu hanya
rumah ini, yang sekarang kalian tinggali. Ini mau kalian bagaimana,
rumah ini dijual dan dibagi atau kalian sanggup nomboki?" tanya mas
Danu.
Aku kaget, tak menyangka mas Danu meminta hak warisnya
sekarang. Setauku dia adalah kontraktor yang sering mendapat tender
besar. Mobilnya bagus, rumahnya 2 lantai.
"Mohon maaf mas, kalau
untuk rumah sebenarnya saya pun sudah ada, bila mas Danu mau menempati
rumah ini, monggo. Kalau saya disuruh nomboki sekarang jelas belum bisa.
Bila mau ditempati atau dijual, silakan, saya dan Sandra akan kembali
ke Malang," aku langsung menjawab pertanyaan mas Danu.
"Tidak mas
! Aku tidak mau pergi dari rumah ini ! Kata ibu rumah ini tidak boleh
dijual, harus ditempati anak-anaknya," Sandra menangis bersikeras tidak
mau pindah dari rumah ini. Aku bingung harus bagaimana.
"Atau
begini saja, apa mobilmu tak bawa sebagai ganti rumah ini, setelah
kalian punya uang buat nomboki, aku kembalikan mobil kalian," mas Danu
memberi alternatif yang sangat tidak masuk akal bagiku.
"Biar
kami berpikir dulu mas, bila kami sudah sepakat nanti kami ke rumah mas
Danu untuk mengabarkan," akhirnya aku menutup diskusi ini. Aku pusing.
*****
Paginya aku mendapat informasi dari salah satu pelangganku, kalau
kantor anaknya sedang membuka loker. Siang itu juga aku mendatangi
alamat yang diberikan. Ternyata loker yang dibuka untuk bagian OB. Pihak
HRD menawarkan, akan dipanggil lagi apabila nanti loker yang ada sesuai
dengan ijazahku.
Aku berpikir cepat, aku butuh paling tidak satu
penghasilan yang pasti nominalnya, untuk mulai mencicil ke mas Danu,
jadi aku memohon untuk diterima walaupun sebagai OB, jika nanti ada
loker untuk posisi lain, aku akan tes lagi tidak mengapa. Akhirnya aku
diterima dan besok mulai bekerja.
"Apa mas?? Kamu jadi OB?? Kamu
sarjana mas, bagaimana bisa kamu menerima pekerjaan seperti itu?! Kamu
ga mikirin aku? Gimana aku ketemu teman-temanku? Jawab apa aku kalau
mereka tanya suamiku kerja apa?!" Tak ku sangka Sandra begitu marah
mendengar aku mulai bekerja sebagai OB.
"Ini hanya sementara San,
nanti kalau aku dapat panggilan di tempat lain yang sesuai, aku pindah
kerja. Lagipula jam kerjanya cocok bila aku sambilan dengan jualan
tempe, tolong bersabarlah," Aku mencoba menjelaskan ke Sandra.
"Atau kalau kamu mau, kita bisa pindah ke Gorontalo segera, aku ditawari
pak Bambang jadi kepala gudang disana, gajinya inshAllah lebih besar
dari saat di Malang, bagaimana?" Tambahku kemudian,
"Tidak ! Aku tidak mau pindah kemana-mana ! Terserah kamu mau kerja apa," Sandra memilih masuk kamar dengan membanting pintu.
Sejak aku memutuskan menjadi OB, Sandra berubah. Biasanya dia
membantuku merebus kedelai, pekerjaan rumah pun sering kami kerjakan
bersama. Tapi kini dia sama sekali tidak mau membantu usaha tempeku,
pekerjaan rumah dia tak mau pegang, bahkan mencuci baju pun dia hanya
mencuci miliknya sendiri.
Tapi Allah Maha Adil, usaha tempeku
berkembang. Aku sudah bisa membayar satu orang untuk mengolah kedelai
dan membantu pekerjaan rumah. Seluruh gajiku ku berikan pada Sandra,
kebutuhan sehari-hari aku belikan dari keuntungan tempe. Bahkan aku juga
yang berbelanja bahan mentah untuk dimasak setiap hari.
*****
Sampai suatu hari Sandra mengeluh perutnya sakit dan ada bercak darah
di area V nya padahal baru selesai haid seminggu lalu, selama ini memang
siklus haidnya tidak teratur, mengeluh nyeri pun sudah sering tapi
setiap diajak ke dokter tidak mau.
Aku langsung membawanya ke
dokter untuk periksa. Sandra di periksa malam itu juga tapi hasilnya
menunggu besok hasil lab untuk memastikan.
Duniaku tiba-tiba
gelap saat keesokan harinya dokter memberi tahu jika ada kista ganas di
rahim Sandra. Satu indung telurnya harus diangkat bila tidak kista ini
akan menyebar menjadi kanker. Itu mungkin sebabnya selama ini kami belum
dikaruniai buah hati. Setelah ini, Sandra masih ada harapan untuk hamil
walau tipis sekali kemungkinannya.
*****
Pertama Sandra
tahu, dia tidak bersedia untuk dioperasi, setelah berkali-kali dibujuk
akhirnya dia menyetujui. Aku berusaha ikhlas, aku berjanji tidak akan
meninggalkannya karena hal ini. Aku tidak ingin rumah tanggaku gagal
seperti Bapak dan Ibu dulu.
Setelah Sandra diperbolehkan pulang,
dia menjadi semakin pendiam. Mungkin dia masih terguncang. Aku berusaha
selalu menemaninya, banyak mengajak dia jalan-jalan saat aku libur, tak
protes saat tahu sekali belanja skincare menghabiskan satu kali gajiku
dan dia jadi sering pulang ke rumah kakaknya. Tapi aku benar-benar tak
bisa tahan saat dia melakukan hal yang menurutku sudah keterlaluan.
"Kenapa mobil kita kamu tinggalkan untuk mas Danu, Sandra?? Kita masih
butuh, bila mas Danu masih ingin warisan itu, tak bisakah kita cicil,
aku masih berusaha untuk itu," Aku kaget saat dia pulang ke rumah tanpa
mobilku, padahal berangkatnya dia menyetir sendiri ke Mojokerto.
"Buat apa mobil mas, toh kita hanya berdua, tak mungkin ada tambahan
keluarga lain. Aku risih setiap bertemu selalu ditanya hal itu. Lagipula
mba Lira lebih butuh, kasihan harus jemput si kembar panas-panasan
pakai motor, biarlah pakai mobil itu," Sandra menjawab tanpa rasa
bersalah sedikitpun.
"Sekarang kamu buktikan, kalau kamu mau
usaha lebih giat, cari uang lebih giat untuk tebus kembali mobil itu.
Lagian jadi OB punya mobil, dilihat orang nanti kamu dikira nyolong
lagi," Sandra langsung berlalu setelah berkata itu.
Sikapnya
semakin dingin setelah itu, aku tak lagi ambil pusing, kubiarkan sampai
tenang hatinya. Aku memutuskan berjualan gorengan untuk menambah
penghasilan, hasilnya lumayan. Aku memilih tidak memberi tahu keluargaku
tentang masalah ini, aku tahu pakde maupun ibu pasti langsung membantu
jika tahu hal ini. Aku tidak ingin merepotkan mereka lebih banyak.
Mungkin Sandra juga merasa kurang waktu bersamaku, sehingga menjadi
sangat sensitif, tapi baru belakangan ini dia sering mengucap kata
cerai. Terlebih kalau sehabis pulang dari rumah kakaknya, salah
meletakkan barang saja langsung minta cerai.
*****
Suatu
hari saat aku sedang menggoreng daganganku sambil memikirkan perubahan
sikap Sandra, seorang wanita membuyarkan lamunanku,
"Mas gorengannya tolong 10ribu aja, campur yah," Aku mendongak dan kaget melihatnya.
Liana, pikirku spontan saat itu. Matanya, gingsulnya sangat mirip Liana. Bahkan cadelnya saat mengucap huruf 'S' juga sama.
Belakangan aku tahu namanya Gita. Nagita Maharani. Dia menjadi
pelanggan setia dan jadi pembeli VIP ku. Melihat dia seperti melihat
Liana. Ada rindu yang terobati saat melihat Gita. Aku ingin menjaganya
seperti aku menjaga Liana dulu.
Tapi aku sadar posisiku yang
bukan siapa-siapa dan tak boleh jadi siapa-siapanya, aku masih punya
Sandra. Aku juga sadar ini mulai tidak benar, maka aku hanya berani
menyelipkan namanya dalam doaku, mungkin ini caraku menjaganya.
Sampai Sandra menghancurkan semuanya. Seperti yang sudah-sudah, dia
mencari kesalahanku, menuduh Gita sebagai selingkuhanku, menuduh aku
sudah tak tahan dengannya karena dia tidak bisa hamil dan tuduhan lain
yang tidak beralasan.
Puncaknya, aku benar-benar menalaknya di
depan pak RT dan pak Abdul, bapak kos Gita. Menangis dia berlari pulang,
mengambil tas dan pergi. Aku tak bertanya ataupun menahannya, aku tahu
dia pergi ke rumah kakaknya. Aku sadar diri, ini sudah bukan tempatku.
Besoknya aku kembali ke Malang, dan seminggu setelahnya surat dari
pengadilan agama datang padaku. Sandra mengugat cerai diriku.
Aku
lelah namun lega. Bila itu membuat Sandra lebih bahagia, aku ikhlas.
Karena aku juga sadar, saat melihat punggung Gita saat itu, betapa aku
menahan kakiku untuk tidak berlari mengejarnya.
Entah sejak kapan, rasa ingin menjaga itu telah berganti .
-----------
Ikatan itu sudah terjalin, hanya insannya yang belum menyadari. Jika
suatu saat takdir mengijinkan, biarkan dua makhluk itu bertemu,
berbicara asa yang pernah ada.
-----------
#aku_pelakor?
part 8
Aku kembali.
Setelah 6 bulan, aku kembali ke Surabaya. Sudah tidak ada beban kali
ini, aku menerima apa yang sudah lalu sebagai pelajaran. Yang berlalu
biarlah jadi kenangan, aku harus meneruskan hidupku juga kan?
Sambil menunggu bagasi, aku menghubungi Sisil, katanya mereka bertiga akan menjemputku di Juanda sini.
"Halo Sil? Jadi jemput ga? Uda sampai mana? Aku udah mau keluar ini,"
"Udah kamu keluar aja, kita udah nunggu dari tadi di kedatangan ini,
cepetan keluar," Dari suara Sisil kedengarannya memang sudah sampai di
bandara, terdengar bising suara di belakangnya.
Aku menarik
koperku dan menuju pintu keluar, sekali lihat aku langsung menemukan
mereka. Bagaimana tidak, Sisil, Lia dan Mita membawa spanduk besar
bertuliskan "WELCOME BACK GITA SAYANG" tak lupa balon warna-warninya.
Entah aku harus bahagia atau malu. Belum lagi saat melihatku, mereka
berteriak-teriak seperti bonek saat Persebaya mencetak gol di gawang
lawan. Jika boleh memilih, aku lebih memilih pura-pura tidak kenal saja.
Mereka langsung memelukku, tak peduli pandangan orang-orang di
sekelilingku. Untung aku pakai penerbangan terakhir. Tidak begitu ramai
seperti kalau pagi hari.
Sebelum diamankan petugas keamanan, aku
mengajak mereka pulang. Aku agak kaget mendengar Mita membawa mobil,
berapa bulan ku tinggal sudah sukses saja ini anak. Aku ikut senang
donk.
Namun aku terbahak saat melihat mobilnya. Mobilnya biasa,
stikernya yang luar biasa. Bertuliskan promosi agen properti beserta no
teleponnya, lengkap dengan gambar apatemennya, full body. Warnanya
kuning mentereng. Berasa ditelan spongebob.
"Ini punya saudara
aku yang dari Mojokerto git, dia ada urusan ke Jakarta, daripada
mobilnya diparkir di bandara kan mahal, jadi dia titip aku, lumayanlah.
Kapan lagi keliling Surabaya pakai mobil segokil ini," Mita menjelaskan
sambil tertawa.
"Iya ndak apa-apa tho Mit, yang penting kan roda
empat, panas ga kepanasan, hujan ga kehujanan," Aku senang berkumpul
kembali dengan mereka semua.
"Iya tapi ya ada ndak enaknya, kata
masku dia jadi sering dapat telpon, katanya nyari aku, dikira nomor hp
di mobil ini nomorku, kan mobilnya aku bawa terus ke kantor, sama kalau
butuh pergi sama dua manusia ini," Kami terbahak membayangkan kerepotan
kakaknya Mita menanggapi orang-orang iseng.
Sesuai perjanjian,
aku ditraktir mereka. Setelah kenyang, kami pun pulang. Melewati rumah
mba Sandra, tanpa sadar aku menengok, terlihat sepi dan gelap.
"Uda ga ada orangnya git, mak lampir ataupun mas Abdulmu itu," Sisil
seakan tahu apa yang ku pikirkan. Aku hanya nyengir, malu ketahuan apa
yang ku pikirkan.
Sampai di kamarku dulu, aku kembali terharu. Kamarku bersih dan kelihatan baru dirapikan.
"Gimana service room nya Nona, anda puas? Kami lemas," Lia merangkul
pundakku, saat aku masih memandangi kamarku dan tak juga masuk. Aduh
kenapa aku jadi baper si, mau nangis tapi malu. Mereka sahabat
terbaikku, saat ini semoga untuk selamanya.
***
Aku
menjalani kehidupanku yang dulu, pekerjaanku yang dulu. Bekerja
membuatku lupa bahwa aku pernah jadi mantan calon pelakor. Orang-orang
juga sepertinya sudah lupa. Tak ada yang membahasnya lagi. Saat ini, aku
bahagia dengan keadaanku.
Hari ini aku ada tugas negara ke
Malang. Jadwal tagihan ke sebuah pabrik makanan olahan yang memakai jasa
transporter tempatku bekerja. Harusnya ini tugasnya Essi, tapi dia cuti
hamil sejak minggu lalu, jadi aku menggantikannya.
Sampai
disana, aku diminta langsung naik ke lantai 3 ke bagian finance.
Menunggu lift aku melihat sekitarku, baru ketika lift terbuka, aku kaget
sungguhan. Aku berhalusinasi, atau benar di depanku ini wujud nyata mas
Abdul?
***
Disini aku sekarang, di kantin pabrik
berhadapan dengan mas Abdul. Sebenarnya tadi aku mau pura-pura tidak
kenal dan langsung masuk lift, ku tutupi wajahku dengan map yang ku
bawa, karena ku pikir dia mau keluar. Tapi dia terlanjur melihatku, dia
tidak jadi keluar dan memilih naik lagi bersamaku. Setelah aku mau
berjanji mau menemuinya lagi setelah urusanku selesai, baru dia mau
pergi dari sini. Ku iyakan karena setiap orang yang bertemu, selalu ber
'ciiee ciiee' melihat mas Abdul terus merepetku. The power of ciee-ciie
sukses membuat mukaku seperti udang rebus.
Lama tidak berjumpa, kenapa dia jadi pemaksa ya? Namun bohong bila ku bilang aku tidak senang karenanya.
***
"Aku sudah bercerai git," Itu kalimat pertamanya yang diucapkan setelah
10 menit berlalu tanpa ada yang berani memulai pembicaraan.
Aku
sudah tahu dia cerai dari teman-temanku yang lain, tapi lain rasanya
saat mendengarnya langsung. Aku hanya diam mendengarkan dia berbicara
lagi,
"Sandra yang menggugat aku, dengan dirimu hanya puncak
permasalahan dari masalah kami yang lain. Aku benar-benar tidak
bermaksud mengikutkanmu dalam masalah rumah tangga kami. Aku benar-benar
minta maaf." Dia terus menatapku selama berbicara.
Ah jantung, kenapa kamu malah asyik salto di dalam, aku yakin mas Abdul mendengar jantungku yang berdebar sekarang.
"Bisakah kita mulai dari awal, anggaplah aku temanmu, kita mulai
berteman lagi seperti semula. Walau aku sudah tidak bisa memberi bonus
mendoan atau cabai yang banyak seperti yang sudah-sudah," Seketika aku
tertawa mendengar ucapannya. Mas Abdul tersenyum karena akhirnya aku
menanggapi semua ucapannya.
"Aku sudah memaafkanmu mas, lepas
dari semua yang pernah terjadi, aku tahu kamu tak akan sengaja
melibatkanku dalam masalahmu. Kita berawal baik-baik saja, mari kita
akhiri dengan baik juga. Mari berteman kembali," Aku mencoba berdamai
kembali dengannya, senyumnya terlihat lebih mengembang, kelegaan
terpancar jelas di wajahnya. Ah mas Abdul, kenapa harus kamu yang
membuat hatiku freestyle?
End
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(Tapi boong, yang request next lumayan juga ya, jadi coba saya kembangkan lagi, sabar gih ๐)
**EXTRA PART**
Minggu ini ada Harpitnas (HARi kecePIT NASional), aku tak pulang
kampung karena bapak dan ibu sedang ke Bogor, ada acara reuni angkatan
disana.
Sisil, Lia dan Mita sudah berencana pulkam ke asalnya masing-masing. Jadilah aku terancam sendirian di kos.
Mas Abdul menawari untuk liburan di Malang, aku langsung menolak.
Aku pernah sekali berkunjung ke rumahnya di Malang, waktu itu aku dan
teman-teman kos lainnya ingin liburan ke Malang. Tahu-tahu mas Abdul
datang ke salah satu tempat wisata yang kami kunjungi dan memaksa untuk
mampir ke rumahnya.
Hubunganku dengan mas Abdul memang membaik, sangat baik malah.
Hubungan kami saat ini seperti lebih dari teman, tapi kurang dari
kekasih, karena tak ada kata pacaran di antara kami. Kalau kata mas
Abdul, yang penting kami saling menjaga. Pacaran cuma buat abg, bukan
bangkotan seperti kami.
Sampai di rumah mas Abdul, tak tahu
kenapa budhenya terlihat sangat kaget melihatku, lalu memelukku sambil
menangis. Pakdhenya sama saja, hanya saja beliau tidak memeluk, ya kali
kalau peluk aku, bisa ada adegan 'Disangka Pelakor' episode 2.
Belakangan aku tahu ternyata aku sangat mirip dengan putri mereka yang sudah meninggal, Liana.
Dan aku sungkan jika harus bertemu mereka lagi saat ini, aku belum
siap. Mereka pengganti orang tua mas Abdul disini. Ibu dan ayah mas
Abdul tinggal di Hongkong. Walau begitu, berhadapan dengan pakdhe dan
budhe mas Abdul serasa berhadapan dengan calon mertua. Belum apa-apa
masa aku disuruh berlibur, menginap pula di rumah mereka? Bisa digantung
ibuku di pohon cabai kalau sampai beliau tahu.
"Makanya cepetan
mau mas halalin, besok ya?" mas Abdul memberi saran yang langsung ku
beri tatapan setajam silet sambil mengasah golok.
Mas Abdul
kadang memang membahas hal-hal yang menyerempet ke 'arah sana', tapi aku
ngeles dengan sejuta alasan. Bapak dan ibuku sudah mengenal mas Abdul
juga, walau hanya lewat video call.
Sepertinya lampu hijau,
mungkin karena umurku yang sudah hampir 27 tahun dan belum ada
tanda-tanda ingin menikah, mereka senang akhirnya ada lelaki yang ku
kenalkan.
Kata ibu tak masalah dia duda, duda hanya status, yang penting akhlaknya. Toh belum ada anak juga.
Kata bapak, kalau mau pulang ke Pati, disuruh mengajak mas Abdul, bapak
ingin kenal langsung. Tapi aku tak ingin buru-buru. Aku masih agak
trauma.
Tapi ada satu perkataan mas Abdul yang ku ingat saat mengobrol dengannya, dan aku masih bingung sampai sekarang,
"Dek, misal ya, ini baru misal," ujarnya memulai pembicaraan.
"Misal kamu sudah sadar kalau kamu juga sayang sama mas, terus kamu mau kalau mas lamar, kamu mintanya motor apa mobil?"
Aku hanya bengong, pertanyaan macam apa itu?
***
Akhirnya Mita mengajak aku untuk ikut pulang ke Mojokerto sana. Aku langsung yes saja daripada bengong di kos 3 hari sendirian.
"Mas, aku ikut Mita ke Mojokerto besok Jumat, mas ndak usah ke sini ya," Malamnya aku memberitahukan mas Abdul via video call.
Setiap weekend bila tak ada halangan, memang mas Abdul mengunjungiku di
Surabaya. So sweet ga sih, aku sering terharu dengan beberapa
perlakuannya padaku.
"Mojokerto? Perlu mas antar?" Ah ini yang bikin aku makin cinta *eeh
"Ndak usah mas, ngebis saja kita. Sudah lama ndak naik tayo, kangen, hehehe," Aku menolak.
"Kangen masnya kapan?" Sa ae duren itu ngegombal. Tak ingat usia.
"Nanti, kalau indomie ngeluarin rasa rengginang," Aku tergelak menanggapi gombalannya.
"Ga bakal ada rasa rengginang tho dek, yang ada rasa sayangku padamu,"
Serasa nyeeess hati ini. Halalin adek sekarang baaang *looh yaa.
"Mojokertonya mana?" Dia bertanya setelah aku hanya tertawa tak menyahut gombalannya.
Aku menyebut salah satu desa disana. Sejenak dia terdiam, seperti berpikir.
"Yakin ndak mau diantar dek? Mas antar saja ya," Tumben dia maksa, kan aku jadi senang.
"Ndak usah mas, yakin lah. Takut amat Mita culik aku," Aku menyakinkannya.
"Mas aja yang culik mendingan, tak bawa langsung ke KUA terdekat," MashaAllah, duren satu ini benar-benar menggoda iman.
Membayangkan dia dari Malang lalu ke Surabaya, lanjut ke Mojokerto, aku tak tega. Jadi aku terus menolak diantar mas Abdul.
Akhirnya dia melepasku berangkat sendiri setelah serentetan pesan yang aku asal iya-iyakan.
***
Jumat sore aku sampai di rumah Mita. Aku sudah pernah bertemu ibunya
Mita saat beliau berkunjung di kos. Setelah laporan pada bapak negara
kalau sudah sampai, aku bergabung dengan Mita dan ibunya.
"Nduk,
besok kamu wakili ibu ya, ada resepsi di ujung gang sana, ibu agak ndak
enak badan ini, lagian ibu kurang sreg sama yang punya hajat," Ibu Mita
berkata pada Mita sambil memasang koyo ajaib di pelipisnya.
"Lah kenapa tho bu?" Mita kepo, tumben ibunya seperti ini ke tetangga.
"Ibu kurang akrab sama mereka. Sombong, ndak pernah nyapa sama orang
sini, apalagi bergaul. Ini nikahin adiknya atau siapanya gitu, ibu
kurang paham," Ibunya menjelaskan.
"Oalah inggih bu. Sama Gita ya bu, ndak apa-apa kan?"
"Iyo, ga opo-opo, jakken Gita ben ngerti desa kene, mangan enak kon
sesuk, wong sugih sing due gawe (Iya, tidak apa-apa, ajak Gita biar tahu
desa sini, makan enak kamu besok, orang kaya yang punya hajat)" jawab
ibunya Mita.
Esoknya, kami berangkat sambil saling menertawakan
penampilan masing-masing, kami tidak siap baju pesta, jadi memakai gamis
ibunya Mita, disini ke kondangan umumnya memakai gamis. Gamisku agak
kebesaran, punya Mita sejengkal di atas mata kaki.
Terlihat sound
system dan tenda disana, tapi orang-orang banyak berkumpul di luar
tenda, bahkan ada yang sudah berjalan pulang ke arah kami.
"Lek,
lek Sarmi, kok podo neng njobo tho? Pean yo ngopo kok wes balik? (Bulik
Sarmi, kenapa pada di luar? Anda kenapa sudah pulang?)" Mita mencegat
salah satu tetangganya yang berjalan ke arah kami.
"Batal Mit,
muliho. Jebule kae kawin karo bojone wong. Anak e mbok tuwo ora terimo
pak'anne kawin maneh. Kon gowo amplop ra? Nek gowo lebokke tok ae,
pangananne akih bungkusen. Gowo plastik ora, ki tak wenehi plastik nek
ora gowo
(Batal Mit, pulang saja. Ternyata dia nikah sama suami
orang. Anak dari istri pertama tidak terima ayahnya nikah lagi. Kamu
bawa amplop tidak? Kalau bawa masukkan saja, makanannya banyak, bungkus
saja. Bawa plastik tidak? Kalau tidak, ini saya kasih plastiknya)" Kata
Lek Sarmi sambil mengeluarkan kantong plastik.
Sekilas terlihat isi tasnya, sudah penuh jajanan dan makanan.
Setelah tetangga Mita berlalu, kami tertawa. Buset, sampai diberi
plastik. Keliatan sekali kah kami anak kos yang jarang makan enak?
Kami sampai di meja penerima tamu, heboh sekali memang di depan sana.
Seorang perempuan berusaha meraih pengantin wanita tapi dihalangi
pengantin prianya dan (mungkin) keluarga pihak wanita.
"Dasar
pelac*r ! L*nte ! Mau-maunya jadi simpanan ! Lo ngincer harta papa gue
kan?! Mama gue sekarat gara-gara lo ! Lo ga ada otak haah??" Si anak
perempuan terdengar memaki-maki pengantin wanita.
Mita langsung menuju meja prasmanan, bergabung dengan ibu-ibu yang juga sibuk memindahkan makanan ke plastik yang dibawa.
Aku masih menyimak adegan di pelaminan sana, sambil menikmati martabak
yang disediakan, seru sekali seperti adegan film di TV ikan terbang.
Si anak sudah berhasil mendapatkan ronce melatinya, menarik sekuat
tenaga, pengantin wanitanya mulai berteriak kesakitan. Samar-samar aku
seperti mengenal pengantin wanitanya, seperti pernah bertemu.
"Ayo Git, balik. Lumayan ini bisa buat makan siang sampai malam,
hahahaha," Kebiasaan anak kos tidak hilang dimanapun kami berada.
"Bentar Mit, aku kayaknya kenal sama mantennya," Aku menarik Mita, masih penasaran.
"Loh iya git, itu kan, loh dia kan??" Mita kaget, bersamaan aku menyadari siapa pengantin wanitanya,
"MBA SANDRA???"
---------------
#aku_pelakor?
PART 9
pov Sandra
Aku mulai tinggal bersama nenekku di Malang setelah ibuku menikah lagi. Lebih tepatnya, aku kabur.
Ayah tiriku genit sekali, setiap ibu tidak ada di rumah, dia berusaha
mendekatiku. Ibu juga sama saja, selalu berusaha menjodohkan aku dengan
seorang juragan angkot di daerahku. Benar dia kaya, tanahnya
dimana-mana, tapi diimbangi juga dengan hobinya yang kawin cerai. Tak
sudi aku. Anaknya banyak, nanti pasti menuntut warisan. Akhirnya aku tak
dapat apa-apa nanti.
Aku ikut bekerja di pabrik rokok setelah
diajak Ina, tetanggaku di Malang sini. Aku kapok jadi SPG event,
bukannya dapat bonus malah ditampar istri supervisornya, dikira aku
selingkuhan suaminya. Padahal kami cuma makan bersama dan dia
membelikanku kalung juga bukan karena aku minta. Aku hanya menanyakan
harga kalung itu, tahu-tahu dia membelikannya untukku. Salahku dimana
coba?
***
Aku tahu pak Abdul, dia idola di pabrik ini.
Selain masih muda, tampan, single dan ramah, dia juga punya jabatan
disini. Tapi tetap saja, seganteng apapun lelakinya kalau masih pakai
roda 2 ya tetap saja dia lelaki biasa. Motor jadul pula, cb atau apalah
namanya. Aku tak berminat.
Tapi pandanganku berubah pagi itu. Di
tengah hujan gerimis, dia terlihat begitu bersinar turun dari Livina
silvernya. Hari itu juga aku mulai mencari tahu tentangnya. Beruntung
ada seorang mandor lapangan yang berusaha mendekatiku, ku korek info
darinya.
Darinya aku tahu, kalau pak Abdul berasal dari keluarga
berada. Pakdhenya punya pabrik tempe, budhenya mengelola 3 toko
oleh-oleh di Malang. Aku tak tahu kemana orang tuanya, tak masalah, yang
penting aku sudah tahu kalau dia pantas untukku.
Pucuk dicinta
ulam tiba, hujan sore itu membawa berkah. Aku bisa pulang bersamanya,
dan akhirnya dia yang meminta kontakku. Aku senang? Pasti.
Semua
berjalan lancar. Aku merasa budhenya kurang menyukaiku, tidak penting.
Aku tahu Abdul sangat mencintaiku. Dia lelaki sejati, tak perlu kata
pacaran, dia berniat langsung melamar. Jadi dia mengiyakan saat ku ajak
ke Surabaya bertemu ibuku.
Ibu meminta motor atau mobil untuk
lamaran. Ku kode ibu, beliau malah tidak mengerti. Bukan seperti itu
cara mendapatkan sesuatu dari Abdul. Aku cukup memuji satu barang yang
ku inginkan, atau memasangnya menjadi dp di bbm, dia akan membelikannya
untukku. Aku tak perlu meminta, dia cukup peka menjadi lelaki. Aku tidak
matre, aku hanya realistis. Semua wanita suka memakai barang bagus dan
indah, terlebih datangnya gratis, ya kan?
Setelah mengadakan
resepsi yang lumayan mewah untuk ukuran kampung di rumah Surabaya, aku
ikut ke Malang. Aku bahagia, Abdul menuruti apapun yang ku inginkan,
selain yang ku butuhkan. Tapi disini sepi sekali, aku terbiasa dengan
keramaian Surabaya. Disini jam 8 malam seakan sudah tidak ada kehidupan.
Mau ke salon yang bagus untuk treatment saja harus ke kota dulu, hampir
satu jam perjalanan. Aku cepat bosan disini.
Lalu ibuku
meninggal. Ini kesempatanku kembali ke Surabaya, aku rindu
teman-temanku, kehidupanku disana. Abdul menurutiku, tentu saja. Jadi
apa dia tanpa aku?
Dia memulai usaha tempenya, aku membantunya
sebagai kompensasi dia mau menurutiku memulai dari nol disini. Pada
teman-temanku, aku bilang suamiku pengusaha. Mereka tak perlu tahu yang
sebenarnya, selama aku masih bisa ikut arisan dan bergaya nyonya besar
di depan mereka.
Tapi penghasilannya memang tak sebesar di
Malang. Walaupun kebutuhan sehari-hari masih tercukupi, aku mulai
komplain saat jatah untuk skincare ku berkurang. Ke salon pun sudah
jarang. Tak tahukah dia perawatanku tak murah agar terlihat selalu
cantik?
Untung ibu Abdul yang TKW itu masih perhatian pada
menantunya, dikiriminya aku skincare dari sana. Terkadang disertai
transferan yang jumlahnya tak sedikit. Lumayan, jatah uang skincare bisa
ku alokasikan untuk baju atau tas baru. Abdul tak pernah tahu tentang
hal ini, ibunya pun melarang memberitahunya, karena Abdul sungkan kalau
harus merepotkan dan selalu menolak bila ibu menawari bantuan. Gengsi
digedein, istri tak diurusin, dasar.
Tapi aku benar-benar tak
terima saat dia menjadi OB. Dia hanya perlu bilang ke ibu atau pakdhenya
kalau kekurangan uang, tapi tak pernah ia lakukan. Aku yang dikorbankan
untuk menderita tanpa perawatan tiap bulan.
Bagaimana kalau temanku melihat dia di luar? Sandra Anggraini, sang primadona sekolah dulu, bersuamikan OB?
Aku tidak lagi berperan sebagai istri penurut, aku tidak perlu lagi berakting.
Saat aku harus dioperasi, Abdul menangis, menenangkan aku, tak masalah aku tak bisa hamil, dia akan tetap bersamaku.
Aku menangis karena membayangkan luka sayatan di perut rata hasil rajin
fitness ku. Akan lama sekali hilang bekasnya. Siapa peduli tak bisa
punya anak? Tubuh menggelambir dan payudara turun selalu menghantuiku
bila punya anak nanti.
Aku tahu Abdul sudah 'habis' untuk biaya
operasi ini. Uang kontrakan sudah diberikan ke kakakku untuk mencicil
rumah warisan ibu. Aku sering pergi ke rumah mas Danu, berkeluh kesah
dengan mba Lira, ipar sekaligus sobat sosialitaku.
Kemudian mas
Danu mengenalkanku pada pak Jimmy, koleganya dari Jakarta. Dia lebih
pantas jadi ayahku sebenarnya. Tapi mas Danu dan dia berhasil
menyakinkanku, bila umur tak jadi masalah, selama bisa memenuhi segala
keinginanku. Mas Danu tak ingin aku menderita.
Aku mulai dekat
dengannya. Sudah tak ku pedulikan Abdul. Terkadang aku kasihan
dengannya, sesekali wajahnya terlihat sangat lelah. Kadang aku
membantunya berjualan, tapi hanya saat dia tak ada di rumah, gengsi
kalau ketahuan aku membantunya.
Pak Jimmy melamarku, untuk
menjadi istri kedua. Aku menolak, aku masih dalam ikatan pernikahan.
Dijanjikan rumah dan mobil serta kartu kredit yang bisa ku pakai
sepuasku, aku tergoda akhirnya. Aku tak mau selingkuh dari Abdul, aku
mau menikah jika kami sama-sama sudah lepas dari pasangan kami.
Ku cari celah untuk bercerai dengan Abdul. Tak ada, dia pria sabar yang
tidak pernah macam-macam. Harusnya aku bisa mencintainya, tapi
kebutuhanku yang banyak mulai tidak bisa dia penuhi. Salahkah aku jika
berpaling?
Sampai akhirnya ku temukan satu kontak di hp nya,
yang lebih sering dia hubungi dibanding lainnya. Bahkan Abdul menyimpan
namanya dengan nama lengkapnya, Gita Maharani. Sebenarnya chatnya biasa
saja, tapi insting wanitaku berkata kalau Abdul mulai menaruh rasa pada
gadis itu. Aku sedikit cemburu, tapi ini kesempatanku untuk segera
menjadi nyonya Jimmy.
Ku labrak gadis bernama Gita itu, aku tahu
dia, dia memang sering membeli gorengan pada Abdul. Sengaja aku membuat
keramaian agar mempercepat semuanya. Benar, Abdul menalakku. Aku
menangis, air mata kali ini sungguhan, satu sisi ada kesedihan melepas
lelaki sebaik dia, namun ambisiku terlalu besar untuk bisa hidup mewah
tanpa kekurangan lagi.
Pak Jimmy tak segera menikahiku bahkan
saat aku sudah resmi berstatus janda. Katanya istrinya tak mau dimadu,
tapi juga tak mau diceraikan. Dia perlu waktu.
Abdul hanya sekali
menemuiku, beberapa saat setelah aku menggugat cerai dirinya. Dia
datang bersama pakdhe Son, meminta kembali mobilnya.
Katanya
mobil itu sudah ada sejak sebelum menikah denganku, dibeli dengan uang
mantan mertuaku dan pakdhe Son, hasil menjual rumah neneknya atau
apalah.
Mas Danu meminta 50 juta untuk ganti 'papan' yang gagal
dia berikan untukku. Bukankah harusnya kewajiban suami menyediakan
papan, sandang dan pangan untuk istrinya?
Mereka terdiam sejenak, lalu pakdhe Son berdiri dan mengambil sesuatu dari mobilnya,
"Ini 70 juta, tapi tolong tandatangani surat perjanjian ini, saya
anggap keponakan saya sudah tidak ada tanggungan apapun pada adik anda
dan jangan mempersulit proses perceraian," Dengan muka datar, pakdhe Son
mengeluarkan segepok uang dari kantong kresek dan memintaku tanda
tangan di atas materai.
Tak ada raut wajah kaget atau marah terlihat. Sepertinya mereka sudah menduga hal ini akan terjadi.
Coba dari dulu pakdhenya ikut membantu perekonomian kami, mungkin aku masih memikirkan untuk bertahan dengannya.
***
Ku dengar dari temanku di Malang, Abdul sudah kembali menjadi manager
di sebuah perusahaan makanan ternama di sana. Aku tak berminat kembali
padanya, semenjak bercerai dengannya, hidupku disokong oleh pak Jimmy,
lebih daripada saat aku hidup dengannya.
Buat apa hidup penuh
cinta tapi miskin harta? Cinta bisa dipupuk, terlebih dengan banyak
pupuk Soekarno-Hatta, cinta akan berkembang dengan sendirinya.
Hampir setahun kemudian, akhirnya pak Jimmy menikahiku, secara siri di Surabaya. Istrinya koma di Jakarta sana, apa peduliku?
Mas Danu mengadakan pesta di Mojokerto sini, bagaimanapun aku adik
kesayangannya. Dia juga menghormati pak Jimmy sebagai koleganya. Tak
perlu mengatakan ke orang-orang jika aku hanya menikah siri.
Tak
terduga, Cindy, anak tertua Jimmy yang sekarang jadi suamiku, datang
bersama suaminya. Mengacaukan segalanya, berteriak-teriak tak karuan.
Ibunya yang sudah tak menarik lagi, tak bisa memenuhi kebutuhan
biologis ayahnya, aku yang disalahkan. Aku tak pernah merebut, Jimmy
sendiri yang selalu datang padaku.
Saat ronce melatiku tengah ditarik Cindy, kepalaku tertoleh ke arah tamu-tamu yang menyaksikan kami, astaga !
Bagaimana mungkin dia ada disini, menyaksikan aku tengah didzalimi anak tiriku, santai melahap martabak,
Nagita Maharani sedang memandangku sekarang.
-------
#aku_pelakor?
PART 10
pov Gita
Sepanjang perjalanan Surabaya-Pati, aku tak berhenti bergetar. Ini
pertama kali mas Abdul akan bertemu orang tuaku. Sebenarnya aku juga
mengajak Sisil, Mita atau Lia untuk ikut menemaniku. Selama pergi dengan
mas Abdul, kami tak pernah hanya pergi berdua saja bahkan untuk cari
makan. Tapi entah kenapa tiga kurawa itu kompak menyatakan
ketidakbisaannya ikut mudik denganku.
"Wah aku ga bisa git,
minggu ini ada tes kenaikan jabatan, aku ndak boleh ijin cuti.
Syukur-syukur kalau aku bisa lolos jadi supervisor, tak traktir all you
can eat di warung Yu Mar kamu nanti," Mita beralasan. Oke, aku bisa
terima.
"Aku juga lewat git. Sigit ada lomba mancing pas hari
itu, lumayan kalau menang biayanya bisa buat nambah modal kawin, aku mau
jadi suporternya," Ini mulai aneh, sejak kapan Lia mau ikut Sigit
mancing, selama ini dia sama sekali tak pernah mendukung hobi pacarnya
itu, di demo terus yang ada, karena kalau mancing suka lupa diri, eh
waktu.
"Aku juga ga bisa lho. Hari minggunya, aku ada kerja bakti
ke Tugu Pahlawan sana, sama teman-teman satu toko, memperingati hari
Pahlawan," Sisil menambahi. Wah ini paling tidak benar. Mana ada hari
Pahlawan di bulan Desember Maemunah??
Jadilah aku dagdigdug
sendirian bersama mas Abdul, dia menolak naik bus dan memilih menyetir
sendiri ke Pati. Mau melek tapi ngantuk. Mau tidur tapi tidak bisa
merem. Serba salah.
****
6 jam perjalanan kami melewati
gerbang Selamat Datang Pati, aku kembali bergetar, kalau orang Jawa
bilang, ndredek. Sekitar setengah jam lagi, kami akan sampai di rumahku.
Rumahku agak naik ke daerah gunung soalnya.
"Dek, kabari bapak
sama ibu kalau kita sudah mau sampai," mas Abdul mengingatkan. Memang
ibu berpesan kalau sudah dekat disuruh telpon dulu.
Aku tiba-tiba
lupa password ponselku, membayangkan membawa mas Abdul ke rumah
membuatku hilang konsentrasi. Akhirnya Nagita Maharani sang perawan tua
membawa calon ke rumah, itu yang akan jadi trending topic di desaku
nanti.
Ya, di desaku belum menikah di atas usia 20 tahun sudah
layak disebut perawan tua. Dan usiaku tahun depan menginjak 27 tahun.
Wajar jika aku deg-degan. Mas Abdul lelaki pertama yang aku ajak ke
rumah. Aku pernah pacaran, itupun hanya sekali, tapi tak sampai serius
seperti ini.
Aku hanya memegang ponsel tapi tak kunjung
menghubungi orang rumah. Mas Abdul sepertinya tahu kegugupanku. Dia
memberhentikan mobil dan parkir di Alfamerit.
"Dek, kamu percaya sama mas tidak?" mas Abdul bertanya sambil memandangku.
"Kalau masih ada yang adek ragukan pada mas, kita masih ada waktu untuk
kembali. Mas hanya akan antar adek sampai rumah, mas janji turun untuk
pamitan saja, nanti mas langsung pergi lagi. Nanti mas jemput lagi kalau
besok adek sudah mau kembali ke Surabaya," perkataannya begitu lemah
lembut, tanpa sentuhan fisik pun dia punya cara sendiri untuk
menenangkan hatiku.
Selain gugup, jujur aku masih terkejut dengan
sosok mas Abdul. Setelah kembali berhubungan dengannya, aku baru tahu
kalau dia seorang Sarjana Teknik, lulusan salah satu universitas ternama
di Jogja. Keluarganya termasuk berada kalau tak mau disebut kaya. Dia
tampan, jelas. Punya pekerjaan yang bagus dan inshaAllah sudah mapan,
nilainya bertambah plus plus plus.
Apalah aku yang hanya lulusan
SMA, keluargaku dari keluarga biasa. Aku sempat kuliah, tapi berhenti di
tengah jalan. Bapak mengalami musibah yang membuatku memutuskan tidak
meneruskan kuliahku saat itu. Wajah juga menurutku juga pas-pasan kalau
tak mau dibilang jelek walau Sisil pernah bilang aku masih pantas kalau
jadi saudaranya Wulan Guritno. Bapak hanya petani dan punya penggilingan
padi kecil-kecilan, tak sebanding dengan pakdhe mas Abdul. Tiba-tiba
aku merasa bagai remukan rempeyek di toples kosong. Pantaskah aku
bersanding dengannya?
"Gita, aku sampai disini karena aku yakin
kamu bisa membawaku menjadi manusia yang lebih baik. Kamu pasti tahu
maksud tujuanku kemari. Aku sering menyampaikan hal ini namun tak pernah
kamu tanggapi serius. Tapi aku ingin kamu tahu, aku senang akhirnya
kamu mengijinkan aku mengenal keluargamu. Aku tak berani menjanjikan
apa-apa, tapi aku akan menjadi kaki untukmu berjalan, tangan untukmu
menggenggam, bahu untukmu bersandar. Aku tidak sempurna, tapi bersamamu
semua terasa hampir sempurna.
Jadi sebelum memintamu pada ayahmu, ijinkan aku mengucapkannya dahulu.
Nagita Maharani, maukah kamu jadi istriku, pendamping yang melengkapi
hidupku sekarang untuk selamanya?" mas Abdul mengucapkan kalimat
pamungkasnya.
Tak perlu candlenight dinner, tak perlu cincin
berlian atau buket mawar, disini, di parkiran Alfamerit, dengan
backsound mars toko retail tersebut, begini saja aku sudah sangat
bahagia. Keraguanku seketika melebur. Aku mengangguk, air mataku
meluncur tak tahu malu. Tidak apa-apa, ini air mata bahagia.
"Terima kasih dek, mas janji akan selalu menjaga adek. Sekarang dilap
dulu air matanya ya? Nanti dikira mas ngapa-ngapain adek, pulang-pulang
matanya sembap. Kita jalan lagi ya?" Mas Abdul hanya membantu mengelap
bekas air mataku dengan tissue, tidak ada adegan berpelukan ala
telenovela, untuk hal ini aku acungi dua jempol untuknya. Tipe kuno yang
aku suka.
*****
Sampai di depan rumah, aku sudah menduga
ini. Sudah banyak orang di rumahku, pasti Bapak mengumpulkan saudara dan
handai taulan untuk penyambutan. Padahal sudah ku jelaskan kalau yang
datang hanya mas Abdul tanpa orang tua, tapi tetap saja beritanya
menyebar. Walau tak diundang, mereka pasti ingin tahu.
Setelah basa-basi dan istirahat sejenak, barulah mas Abdul menyampaikan maksudnya,
"Pak, bu saya datang kemari dengan maksud baik. Bila diijinkan, saya
ingin meminang Gita menjadi istri saya," mas Abdul mengawali.
"Bapak terserah Gita, tapi Gitanya sendiri kelihatannya sudah ngebet ya
bapak bisa apa," Bapak termasuk orang yang humoris, tapi jangan
sekali-kali membuatnya marah, bisa ludes satu kampung dilahapnya.
"Nak Abdul, maaf, ibu dengar dari Gita kalau nak Abdul duda, itu sudah
benar-benar cerai atau bagaimana statusnya?" Giliran ibu yang bertanya.
"InshaAllah sudah benar-benar selesai bu, mantan istri sudah menikah
lagi kabarnya dan sampai saat ini tidak ada hubungan apa-apa dengan
saya. Bahkan malah Gita yang sempat menghadiri pernikahan mantan saya
itu. Kalau untuk anak, mungkin nanti inshaAllah dengan Gita saya baru
diberi kepercayaan sama Yang Di Atas, karena dari yang sebelumnya saya
belum punya," mas Abdul melirik aku yang langsung salah tingkah.
"Baguslah kalau begitu. Berarti ke depannya inshaAllah tidak ada masalah
ya. Lalu kapan kira-kira keluarga nak Abdul bisa kemari, yah paling
tidak ada omongan orang tua ke orang tua," Bapak melanjutkan.
"Kapan saja pakdhe dan budhe siap kemari, tinggal Gita nya sudah siap
atau belum. Bahkan malam ini pun kalau boleh, pakdhe dan budhe saya
besok sudah sampai disini," mas Abdul terlihat percaya diri sekali.
"Wah ini calon pengantin lakinya juga sudah ngebet kayaknya, cepetan
ndang diresmino wae mas No (buruan segera diresmikan saja No)" Paklikku
menyahut disertai gelak tawa yang lain.
Antara malu dan senang, aku hanya nyengir salting. Begini rasanya dilamar kekasih hati, bagaimana nanti kalau diijab kabul *eeh
Kisah cintaku memang bagai cerita ftv, mungkin kalau diberi judul bakal
seperti ini judulnya, 'Cintaku Mentok di Abang Gorengan' atau 'Mendoan
Pembawa Cinta'.
Tapi aku berdoa durasinya selamanya, bukan hanya sekejap seperti di film.
----------
Cause perfect love is not by loving someone perfect,
But by loving someone imperfect, perfectly.
----------
next