Sabtu, 11 Januari 2020

AKU PELAKOR ? 6 - 10

#aku_pelakor?
PART 6, Febrianti Windyningrum
(jalan-jalan dulu ke masa lalunya mas Abdul ya, biarkan Gita memikirkan kegalauannya sendiri dulu 
----
PoV mas Abdul

Aku mengenal Sandra 5 tahun yang lalu. Dia bekerja sebagai pekerja borongan di pabrik rokok yang sama denganku bekerja sebagai supervisor produksi. Notabene pekerja adalah wanita, jumlah pejantan paling hanya 10% di dalam pabrik ini.
Aku pertama melihatnya saat dia diajak kenalan anak buah ku di jam makan siang.
Kalian tahu Tyas Mirasih? Itulah yang terlintas di pikiranku saat melihatnya, cantik dengan badan yang proporsional. Sangat mengherankan kenapa gadis secantik dia tidak bekerja di tempat lain, mungkin jadi SPG atau lainnya.

Sampai suatu hari, Wawan, salah satu mandor lapanganku berkata,
"Pak Abdul, boleh minta tolong?" Dia bertanya tanpa basa-basi atau pendahuluan, memasang tampang memelas.
"Silakan, inshaAllah saya tolong kecuali masalah keuangan," jawabku santai.
"Ya Allah pak, segitunya. Kan utang saya sudah saya bayar kemarin pas gajian, sudah lunas lho ya," Wawan mulai bersungut-sungut.
Di antara mandor lapangan yang lain, dia yang paling dekat denganku. Cara kerjanya kuakui yang terbaik.
"Iya wan, ada apa? Kayanya serius sekali, mau minta dilamarkan ke Sibad?" Sibad atau Siti Badriyah adalah ikon populer di pabrik ini. Siapa tak kenal janda 5x itu, tak sungkan rangkul sana-sini, terlalu supel jadi orang.
"Astaghfirullah, amit-amit ! Gini pak, saya mau ijin minta foto sama nomor bapak boleh?" Pertanyaan Wawan membuat dahiku mengkerut seketika.
"Wan, sehat?" tanyaku heran.
"Itu pak, saya pengen ngajak Sandra makan bakso di depan tapi dia baru mau kalau saya mau kasih foto sama nomor hp bapak ke dia," jelas Wawan.
"Wan wan, itu artinya dia naksirnya sama pak Abdul, bukan kamu. Kamu kok bego dipiara, diternak pula. Mari pak Abdul, sudah ditunggu pak Bambang di ruang meeting," pak Dimas, rekanku sesama spv menjawab Wawan. Aku hanya terbahak dan meninggalkan Wawan yang masih bengong. Ada-ada saja.
*****
Aku pulang terakhir malam itu, pak Bambang meminta laporanku sebelum jam 9 pagi besok. Aku tidak suka membawa pekerjaan ke rumah, aku lebih suka mengerjakannya disini walaupun tidak dihitung lembur.
Di luar masih hujan, selama musim hujan aku merumahkan motor cb kesayanganku, membawa mobil lebih aman saat ini.
Saat mobilku melewati pos satpam, aku melihat bu Maryam dan 2 orang lagi yang berteduh. Anak bu Maryam bekerja di pabrik tempe rumahan milik pakdheku, jadi aku lumayan mengenalnya. Ku turunkan kaca jendelaku,
"Bu, belum dijemput Ali? Ayo bareng saya sekalian," aku agak berteriak dari dalam mobil, agar tidak kalah dengan suara hujan.
"Ndak apa-apa mas Abdul? Saya ikut sampai pasar saja gih, kalau boleh," bu Maryam terlihat senang menerima tawaranku.
"Pak, mohon maaf, boleh yang dua ini ikut sekalian? Bapak pulang arah Kepanjen kan ya?" Tiba-tiba pak Satpam bertanya kepadaku.
Aku tidak enak menolak, selain kasihan juga perempuan pulang malam begini, mau naik apa mereka, sudah mau waktu isyak. Akhirnya aku mengiyakan permintaan satpam.
Setelah semua naik, aku mulai menjalankan mobilku. Aku baru sadar, satu di antara dua wanita tadi adalah Sandra. Sepanjang perjalanan, bu Maryam, Sandra, dan temannya mengobrol. Sesekali aku menjawab jika ditanya.
Ku perhatikan dari kaca spion, Sandra memang cantik. Perkataannya lemah lembut, setiap tertawa terdengar renyah bak krupuk Palembang. Sekali aku ketahuan meliriknya dari kaca spion, aku langsung berpaling, saat ku lirik lagi dia sedang memandang keluar jendela dan wajahnya memerah. Entah kenapa, hati ini terasa hangat melihatnya.
Bu Maryam turun duluan di depan gang rumahnya yang dekat pasar. Hujan sudah berhenti saat Sandra dan temannya turun dari mobilku. Setelah mengucapkan terima kasih dan akan berlalu, aku tak tahu apa yang mendorongku, aku turun dan memanggilnya,
"Sandra !"
"Ya? ada apa pak?" Sandra berbalik menjawabku,
"Mana pinjam hp mu." Aku mengulurkan tangan meminta hp nya. Sejenak dia terlihat bingung tapi dia membuka tas dan memberikan hp nya padaku.
"Ini nomor saya, sudah saya simpan ya? Besok-besok makan baksonya sama saya saja, jangan sama Wawan. Saya duluan ya," kataku sambil mengembalikan hp nya. Dia terlihat kaget, tapi juga tersenyum. Wajahnya memerah, terlihat makin menggemaskan di mataku.
***
Sejak itu kami sering berkomunikasi dan sesekali jalan berdua. Ternyata dia tinggal bersama neneknya di Malang. Ibunya menikah lagi dan tinggal di Surabaya. Dia tak nyaman dengan ayah tirinya jadi memutuskan untuk tinggal bersama neneknya.
Dia pernah bekerja sebagai SPG sebuah vendor mobil tapi pernah hampir mengalami pelecehan seksual, jadi dia mau saja ketika tetangganya mengajak bekerja di pabrik rokok. Walaupun gajinya tak sebesar saat dia menjadi SPG, paling tidak dia tidak diganggu pria hidung belang.
Enam bulan kami berhubungan, aku membawanya bertemu pakdhe dan budheku.
Mereka selalu bertanya kapan aku menikah, umurku 25 tahun saat itu. Jadi ku pikir tak apa jika aku mengenalkan Sandra pada mereka.
Aku berasal dari keluarga yang dibilang kaya juga belum, dibilang kekurangan inshaAllah juga tidak. Dulu aku tinggal bersama nenek di Batang, Jawa Tengah. Ibuku jadi TKW di Hongkong saat aku kelas 2 SD.
Jangan tanya bapakku, aku juga tidak begitu mengingat sosoknya. Yang ku ingat, dia jarang ada di rumah, pulang hanya beberapa hari sekali, setiap pulang cuma sebentar, dan pasti ibu menangis saat dia pergi, tak jarang ada luka lebam yang baru kelihatan esok harinya di tubuh ibu.
Saat aku pertama masuk SD, aku ingat bapak pulang dengan diantar ambulance, aku tidak mengerti kalau bapak sudah tiada. Setelah dewasa, aku baru diberi tahu kalau bapak meninggal karena hanyut di sungai, dia kabur dan terjun ke sungai karena polisi menggrebek tempat dia biasa main judi dadu. Aku tak peduli.
Ibu pergi setahun setelah bapak meninggal. Katanya, ini demi aku. Agar aku bisa tetap sekolah.
Tinggal bersama nenek, aku dilatih mandiri. Nenek tetap berjualan nasi pecel dan gorengan walau ibu rutin mengirim uang setiap bulan. Kami tetap hidup sederhana. Aku tinggal bersama nenek hanya sampai kelas 6 SD, nenek lebih dahulu dipanggil Allah. Hanya seminggu sebelum aku rencana akan dikhitan.
Setelah nenek dimakamkan, aku mulai ikut pakdheku yang tinggal di Malang, satu-satunya saudara ibu. Rumah nenek yang di Batang dibeli masih oleh saudara nenek. Rencana khitanku diundur, tapi ibu tetap pulang ke Indonesia karena terlanjur cetak tiket.
Aku kaget, ibu tak datang sendiri. Ada pria mirip Donnie Yen, aktor laga favoritku, datang bersamanya.
Dengan memberi pengertian, ibu meminta ijinku menikah dengan pria itu. Jika aku tidak membolehkan, ibu akan tinggal di Indonesia tidak kembali lagi ke Hongkong.
Aku teringat Ibu yang sebelum pergi dan sesudah kembali ke Indonesia. Ibu terlihat lebih cantik, lebih segar dan yang pasti ibu terlihat bahagia.
Beberapa kali pria itu mengajak aku bicara, dengan bahasa Inggris, aku menjawab dengan bahasa tubuh, aku belum paham bahasa Inggris waktu itu. Tapi dari sikapnya, aku berpikir dia memang pria baik.
Akhirnya aku mengiyakan ibu menikah lagi, ibu berhak bahagia. Tapi aku menolak saat ibu mengajak tinggal disana. Pria itu juga mengajakku, tapi aku ingin tinggal disini, dekat dengan pakdhe yang bersedia mengurusku nanti.
*****
Pakdhe Son sangat baik padaku, begitu juga budhe Marni. Mereka hanya punya satu putri, namanya Liana. Aku lebih tua 3 tahun darinya, tapi karena dia anak pakdhe, dia kakakku.
Liana menderita polio sejak lahir, satu kakinya tidak berkembang sebagaimana mestinya, sehingga dia harus duduk di kursi roda sepanjang waktu. Aku satu-satunya saudara yang dia miliki, begitupun sebaliknya. Karena keadaannya, dia jarang bersosialisasi, aku adalah saudara, teman, sahabat, pelindung baginya. Dia sangat bergantung kepadaku.
Sayang, 3 hari sebelum ulang tahunnya yang ke 17, Liana harus menyerah pada penyakitnya.
Virusnya terus berkembang dan dia tidak dapat bertahan. Aku tidak menangis saat bapak meninggal, tidak pula saat nenek meninggal, atau saat ditinggal ibu bekerja jadi TKW.
Tapi saat Liana akan dimasukkan ke peristirahatan terakhirnya, aku menangis sampai hampir pingsan. Aku begitu kehilangan sosok kakak sekaligus adik.
***
Setelah mempertemukan Sandra dengan pakde dan bude, aku lebih tenang. Mereka terlihat setuju dengan hubunganku dengan Sandra dan menanyakan kapan mereka bisa melamar Sandra untukku. Ketika ku tanyakan pada Sandra, dia mengajakku bertemu ibunya dulu. Aku setuju.
Kami berangkat ke Surabaya saat tanggal merah. Sampai di rumahnya, terlihat lenggang, aku hanya bertemu dengan ibunya, ayah tiri Sandra tidak terlihat. Kata Sandra, tak masalah, yang penting restu ibu. Akupun menyampaikan maksudku datang kemari,
"Maaf nak Abdul, kalau ibu terserah Sandra sebenarnya. Tapi dimana-mana ibu pasti ingin melihat anaknya bahagia, nyaman, apalagi ini anak perempuan. Kira-kira nanti setelah berumah tangga nak Abdul bakal tinggal dimana?" Aku paham arah pembicaraannya,
"InshaAllah Abdul sudah menyiapkan bu. Ada rumah yang sudah bisa ditinggali di Malang, saya ingin kami mandiri setelah menikah," aku menjawab tenang.
Sandra terlihat kaget, niatku rumah itu untuk kejutan nanti, tapi ibu menanyakan ya aku bilang saja sekarang.
"Oh itu lebih bagus. Syukurlah kalau begitu. Tapi bukan rumah kontrakan kan ya, atau masih cicilan?"
"InshaAllah tidak bu, ini rumah pakde yang belum terpakai, untuk investasi, tapi boleh saya pakai setelah menikah nanti," Aku mulai tidak tenang.
"Lalu lamarannya bagaimana nak Abdul? Kalau disini, paling tidak pihak lelaki selain memberi papan, sandang, biasanya membawa kunci juga," Sandra terlihat menarik tangan ibunya, mungkin memberi kode, wajahnya terlihat gelisah. Tapi ibunya hanya menoleh dan berbisik,
"Wes tho, meneng ae," sambil mendelik ke arah Sandra.
"Kunci apa maksudnya bu," Aku mulai bingung dan benar-benar merasa tidak
nyaman sekarang.
"Ya kunci, kunci beserta motornya, syukur-syukur kunci dengan mobilnya," jawab ibu Sandra santai.
Aku kaget sekali, andai ada kasur di sebelahku, mungkin aku akan memilih guling-guling disana.
-----


#aku_pelakor?
PART 7
*masih* pov mas Abdul

Aku menikahi Sandra, dengan mahar uang 5 juta rupiah dan seperangkat alat salat serta satu set perhiasan. Sebuah sepeda motor matic keluaran terbaru masih terpajang manis di atas mobil bak terbuka di depan rumahnya.
Resepsi digelar di rumah ibu Sandra, menutup jalan depan rumah dari pagi sampai sore, entah berapa yang diundang, mungkin satu Surabaya diundang semua, aku bersalaman tiada henti di pelaminan.
*****
Setelah mendengar permintaan ibu Sandra, aku kembali sendirian ke Malang. Sandra ditahan ibunya untuk tidak ikut pulang bersamaku. Katanya nanti kalau sudah sah saja boleh pulang bersamaku ke Malang.
Pakdhe dan budhe geleng-geleng setelah mendengar ceritaku. Budhe memintaku memikirkannya lagi.
Karena selain meminta motor sebagai seserahan, ibu Sandra meminta aku yang menanggung semua biaya pernikahan termasuk resepsinya nanti. Resepsi harus diadakan di Surabaya. Apa kabar teman-temanku yang di Malang? Mau tidak mau, aku harus resepsi 2x nantinya.
Aku ada tabungan untuk itu semua, selama bekerja aku juga ikut berinvestasi di UKM milik pakdhe. Yang tadinya hanya membuat tempe di dapur, sekarang sudah ada gudang kecil dengan 20an orang pekerja.
Pakdhe juga meminta resepsi di Malang adalah tanggungjawabnya, aku tak perlu memikirkannya. Ibu pun sudah mewanti-wanti bila aku menikah, harus ibu yang membelikan seluruh seserahannya, katanya itu kewajiban terakhir orang tua terhadap anak lelakinya. Tapi kalau yang diminta motor, lain lagi ceritanya.
Namun akhirnya aku tetap menikahi Sandra dengan segala persyaratan ibunya. Bahagia Sandra harus denganku, aku tahu dia bukan wanita yang matre, selama denganku dia belum pernah meminta apa-apa padaku.
*****
Tiga tahun aku menikah dengan Sandra, hidup kami baik dan tidak pernah ada keributan besar. Walau belum dikaruniai anak, kami tetap bahagia. Sampai akhirnya ada kabar kalau ayah tiri dan ibu Sandra kecelakaan.
Segera kami ke Surabaya melihat keadaan mereka. Ayah tiri Sandra meninggal di tempat, sedangkan ibu kritis di ICU. Mereka disrempet truk pasir saat akan menyebrang jalan. Motornya ringsek, ya motor matic yang dulu ku berikan untuk Sandra sebagai seserahan sekarang sudah tidak berbentuk.
Sandra terus menunggu ibunya. Kakak laki-lakinya belum terlihat bahkan sampai ibu dipindahkan ke ruang rawat biasa. Menelpon pun tidak. Hanya istrinya yang datang sekali, itupun tidak ada 10 menit lalu berpamitan.
Aku bolak-balik seminggu ini Surabaya-Malang karena cutiku belum di acc karena rekanku sudah keduluan ambil cuti juga.
"Abdul, tolong kamu jaga Sandra ya nak. Kalau bisa kamu tinggal di Surabaya bila nanti ibu sudah tidak ada. Biarkan Sandra tinggal di rumah masa kecilnya. Ibu titip Sandra," kata Ibu suatu malam ketika aku menjaganya, Sandra sedang ke kamar mandi.
"Ibu bicara apa si, ibu bakal sehat kok, besok pulang wes," kataku menghiburnya. Beliau hanya tersenyum.
Dua hari setelahnya, Ibu meninggal. Sandra benar-benar shock kala itu. Dia tidak mau diajak pulang ke Malang. Dia baru mau pulang setelah ku janjikan aku akan ikut pindah ke Surabaya bersamanya.
Aku sudah memikirkannya, sampai di Malang aku segera mengurus pengunduran diriku. Rumah yang di Malang aku kontrakkan pada temanku yang kebetulan butuh kontrakan.
Pakdhe menyayangkan keputusanku, tapi juga tidak melarang. Beliau berkata bila butuh apa-apa tetap datanglah kepada beliau.
*****
Memulai hidup baru di daerah asing bukan hal baru bagiku. Namun sekarang ada istri yang membutuhkanku. Aku melamar pekerjaan sana-sini, namun belum ada panggilan. Aku sama sekali tak punya kenalan di Surabaya. Sementara itu, aku mulai membuat tempe disini, untuk mendapat penghasilan.
Tempeku lumayan laris, resep dari pakde memang juara. Sandra yang belum terbiasa dengan keadaan ini, kadang suka uring-uringan. Aku masih ada tabungan tapi kami harus berhemat karena aku belum mendapat pekerjaan tetap.
Kadang aku berangkat jadi supir rental, dengan mobilku sendiri. Walau tidak setiap hari ada yang menyewa, paling tidak Sandra tersenyum lebih manis saat uang hasil rental ku berikan padanya.
Enam bulan disini, mas Danu, kakak laki-laki Sandra datang beserta anak istrinya. Setelah basa-basi, dia mulai memberitahukan maksud tujuannya datang,
"San, Abdul, sekarang ini kan ibu sudah tidak ada. Aku tahu kamu yang merawat ibu selama ini, tapi bagaimanapun aku anak lelakinya. Warisan ibu hanya rumah ini, yang sekarang kalian tinggali. Ini mau kalian bagaimana, rumah ini dijual dan dibagi atau kalian sanggup nomboki?" tanya mas Danu.
Aku kaget, tak menyangka mas Danu meminta hak warisnya sekarang. Setauku dia adalah kontraktor yang sering mendapat tender besar. Mobilnya bagus, rumahnya 2 lantai.
"Mohon maaf mas, kalau untuk rumah sebenarnya saya pun sudah ada, bila mas Danu mau menempati rumah ini, monggo. Kalau saya disuruh nomboki sekarang jelas belum bisa. Bila mau ditempati atau dijual, silakan, saya dan Sandra akan kembali ke Malang," aku langsung menjawab pertanyaan mas Danu.
"Tidak mas ! Aku tidak mau pergi dari rumah ini ! Kata ibu rumah ini tidak boleh dijual, harus ditempati anak-anaknya," Sandra menangis bersikeras tidak mau pindah dari rumah ini. Aku bingung harus bagaimana.
"Atau begini saja, apa mobilmu tak bawa sebagai ganti rumah ini, setelah kalian punya uang buat nomboki, aku kembalikan mobil kalian," mas Danu memberi alternatif yang sangat tidak masuk akal bagiku.
"Biar kami berpikir dulu mas, bila kami sudah sepakat nanti kami ke rumah mas Danu untuk mengabarkan," akhirnya aku menutup diskusi ini. Aku pusing.
*****
Paginya aku mendapat informasi dari salah satu pelangganku, kalau kantor anaknya sedang membuka loker. Siang itu juga aku mendatangi alamat yang diberikan. Ternyata loker yang dibuka untuk bagian OB. Pihak HRD menawarkan, akan dipanggil lagi apabila nanti loker yang ada sesuai dengan ijazahku.
Aku berpikir cepat, aku butuh paling tidak satu penghasilan yang pasti nominalnya, untuk mulai mencicil ke mas Danu, jadi aku memohon untuk diterima walaupun sebagai OB, jika nanti ada loker untuk posisi lain, aku akan tes lagi tidak mengapa. Akhirnya aku diterima dan besok mulai bekerja.
"Apa mas?? Kamu jadi OB?? Kamu sarjana mas, bagaimana bisa kamu menerima pekerjaan seperti itu?! Kamu ga mikirin aku? Gimana aku ketemu teman-temanku? Jawab apa aku kalau mereka tanya suamiku kerja apa?!" Tak ku sangka Sandra begitu marah mendengar aku mulai bekerja sebagai OB.
"Ini hanya sementara San, nanti kalau aku dapat panggilan di tempat lain yang sesuai, aku pindah kerja. Lagipula jam kerjanya cocok bila aku sambilan dengan jualan tempe, tolong bersabarlah," Aku mencoba menjelaskan ke Sandra.
"Atau kalau kamu mau, kita bisa pindah ke Gorontalo segera, aku ditawari pak Bambang jadi kepala gudang disana, gajinya inshAllah lebih besar dari saat di Malang, bagaimana?" Tambahku kemudian,
"Tidak ! Aku tidak mau pindah kemana-mana ! Terserah kamu mau kerja apa," Sandra memilih masuk kamar dengan membanting pintu.
Sejak aku memutuskan menjadi OB, Sandra berubah. Biasanya dia membantuku merebus kedelai, pekerjaan rumah pun sering kami kerjakan bersama. Tapi kini dia sama sekali tidak mau membantu usaha tempeku, pekerjaan rumah dia tak mau pegang, bahkan mencuci baju pun dia hanya mencuci miliknya sendiri.
Tapi Allah Maha Adil, usaha tempeku berkembang. Aku sudah bisa membayar satu orang untuk mengolah kedelai dan membantu pekerjaan rumah. Seluruh gajiku ku berikan pada Sandra, kebutuhan sehari-hari aku belikan dari keuntungan tempe. Bahkan aku juga yang berbelanja bahan mentah untuk dimasak setiap hari.
*****
Sampai suatu hari Sandra mengeluh perutnya sakit dan ada bercak darah di area V nya padahal baru selesai haid seminggu lalu, selama ini memang siklus haidnya tidak teratur, mengeluh nyeri pun sudah sering tapi setiap diajak ke dokter tidak mau.
Aku langsung membawanya ke dokter untuk periksa. Sandra di periksa malam itu juga tapi hasilnya menunggu besok hasil lab untuk memastikan.
Duniaku tiba-tiba gelap saat keesokan harinya dokter memberi tahu jika ada kista ganas di rahim Sandra. Satu indung telurnya harus diangkat bila tidak kista ini akan menyebar menjadi kanker. Itu mungkin sebabnya selama ini kami belum dikaruniai buah hati. Setelah ini, Sandra masih ada harapan untuk hamil walau tipis sekali kemungkinannya.
*****
Pertama Sandra tahu, dia tidak bersedia untuk dioperasi, setelah berkali-kali dibujuk akhirnya dia menyetujui. Aku berusaha ikhlas, aku berjanji tidak akan meninggalkannya karena hal ini. Aku tidak ingin rumah tanggaku gagal seperti Bapak dan Ibu dulu.
Setelah Sandra diperbolehkan pulang, dia menjadi semakin pendiam. Mungkin dia masih terguncang. Aku berusaha selalu menemaninya, banyak mengajak dia jalan-jalan saat aku libur, tak protes saat tahu sekali belanja skincare menghabiskan satu kali gajiku dan dia jadi sering pulang ke rumah kakaknya. Tapi aku benar-benar tak bisa tahan saat dia melakukan hal yang menurutku sudah keterlaluan.
"Kenapa mobil kita kamu tinggalkan untuk mas Danu, Sandra?? Kita masih butuh, bila mas Danu masih ingin warisan itu, tak bisakah kita cicil, aku masih berusaha untuk itu," Aku kaget saat dia pulang ke rumah tanpa mobilku, padahal berangkatnya dia menyetir sendiri ke Mojokerto.
"Buat apa mobil mas, toh kita hanya berdua, tak mungkin ada tambahan keluarga lain. Aku risih setiap bertemu selalu ditanya hal itu. Lagipula mba Lira lebih butuh, kasihan harus jemput si kembar panas-panasan pakai motor, biarlah pakai mobil itu," Sandra menjawab tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Sekarang kamu buktikan, kalau kamu mau usaha lebih giat, cari uang lebih giat untuk tebus kembali mobil itu. Lagian jadi OB punya mobil, dilihat orang nanti kamu dikira nyolong lagi," Sandra langsung berlalu setelah berkata itu.
Sikapnya semakin dingin setelah itu, aku tak lagi ambil pusing, kubiarkan sampai tenang hatinya. Aku memutuskan berjualan gorengan untuk menambah penghasilan, hasilnya lumayan. Aku memilih tidak memberi tahu keluargaku tentang masalah ini, aku tahu pakde maupun ibu pasti langsung membantu jika tahu hal ini. Aku tidak ingin merepotkan mereka lebih banyak.
Mungkin Sandra juga merasa kurang waktu bersamaku, sehingga menjadi sangat sensitif, tapi baru belakangan ini dia sering mengucap kata cerai. Terlebih kalau sehabis pulang dari rumah kakaknya, salah meletakkan barang saja langsung minta cerai.
*****
Suatu hari saat aku sedang menggoreng daganganku sambil memikirkan perubahan sikap Sandra, seorang wanita membuyarkan lamunanku,
"Mas gorengannya tolong 10ribu aja, campur yah," Aku mendongak dan kaget melihatnya.
Liana, pikirku spontan saat itu. Matanya, gingsulnya sangat mirip Liana. Bahkan cadelnya saat mengucap huruf 'S' juga sama.
Belakangan aku tahu namanya Gita. Nagita Maharani. Dia menjadi pelanggan setia dan jadi pembeli VIP ku. Melihat dia seperti melihat Liana. Ada rindu yang terobati saat melihat Gita. Aku ingin menjaganya seperti aku menjaga Liana dulu.
Tapi aku sadar posisiku yang bukan siapa-siapa dan tak boleh jadi siapa-siapanya, aku masih punya Sandra. Aku juga sadar ini mulai tidak benar, maka aku hanya berani menyelipkan namanya dalam doaku, mungkin ini caraku menjaganya.
Sampai Sandra menghancurkan semuanya. Seperti yang sudah-sudah, dia mencari kesalahanku, menuduh Gita sebagai selingkuhanku, menuduh aku sudah tak tahan dengannya karena dia tidak bisa hamil dan tuduhan lain yang tidak beralasan.
Puncaknya, aku benar-benar menalaknya di depan pak RT dan pak Abdul, bapak kos Gita. Menangis dia berlari pulang, mengambil tas dan pergi. Aku tak bertanya ataupun menahannya, aku tahu dia pergi ke rumah kakaknya. Aku sadar diri, ini sudah bukan tempatku.
Besoknya aku kembali ke Malang, dan seminggu setelahnya surat dari pengadilan agama datang padaku. Sandra mengugat cerai diriku.
Aku lelah namun lega. Bila itu membuat Sandra lebih bahagia, aku ikhlas. Karena aku juga sadar, saat melihat punggung Gita saat itu, betapa aku menahan kakiku untuk tidak berlari mengejarnya.
Entah sejak kapan, rasa ingin menjaga itu telah berganti .
-----------
Ikatan itu sudah terjalin, hanya insannya yang belum menyadari. Jika suatu saat takdir mengijinkan, biarkan dua makhluk itu bertemu, berbicara asa yang pernah ada.
-----------


#aku_pelakor?
part 8
Aku kembali.

Setelah 6 bulan, aku kembali ke Surabaya. Sudah tidak ada beban kali ini, aku menerima apa yang sudah lalu sebagai pelajaran. Yang berlalu biarlah jadi kenangan, aku harus meneruskan hidupku juga kan?
Sambil menunggu bagasi, aku menghubungi Sisil, katanya mereka bertiga akan menjemputku di Juanda sini.
"Halo Sil? Jadi jemput ga? Uda sampai mana? Aku udah mau keluar ini,"
"Udah kamu keluar aja, kita udah nunggu dari tadi di kedatangan ini, cepetan keluar," Dari suara Sisil kedengarannya memang sudah sampai di bandara, terdengar bising suara di belakangnya.
Aku menarik koperku dan menuju pintu keluar, sekali lihat aku langsung menemukan mereka. Bagaimana tidak, Sisil, Lia dan Mita membawa spanduk besar bertuliskan "WELCOME BACK GITA SAYANG" tak lupa balon warna-warninya. Entah aku harus bahagia atau malu. Belum lagi saat melihatku, mereka berteriak-teriak seperti bonek saat Persebaya mencetak gol di gawang lawan. Jika boleh memilih, aku lebih memilih pura-pura tidak kenal saja.
Mereka langsung memelukku, tak peduli pandangan orang-orang di sekelilingku. Untung aku pakai penerbangan terakhir. Tidak begitu ramai seperti kalau pagi hari.

Sebelum diamankan petugas keamanan, aku mengajak mereka pulang. Aku agak kaget mendengar Mita membawa mobil, berapa bulan ku tinggal sudah sukses saja ini anak. Aku ikut senang donk.
Namun aku terbahak saat melihat mobilnya. Mobilnya biasa, stikernya yang luar biasa. Bertuliskan promosi agen properti beserta no teleponnya, lengkap dengan gambar apatemennya, full body. Warnanya kuning mentereng. Berasa ditelan spongebob.
"Ini punya saudara aku yang dari Mojokerto git, dia ada urusan ke Jakarta, daripada mobilnya diparkir di bandara kan mahal, jadi dia titip aku, lumayanlah. Kapan lagi keliling Surabaya pakai mobil segokil ini," Mita menjelaskan sambil tertawa.
"Iya ndak apa-apa tho Mit, yang penting kan roda empat, panas ga kepanasan, hujan ga kehujanan," Aku senang berkumpul kembali dengan mereka semua.
"Iya tapi ya ada ndak enaknya, kata masku dia jadi sering dapat telpon, katanya nyari aku, dikira nomor hp di mobil ini nomorku, kan mobilnya aku bawa terus ke kantor, sama kalau butuh pergi sama dua manusia ini," Kami terbahak membayangkan kerepotan kakaknya Mita menanggapi orang-orang iseng.
Sesuai perjanjian, aku ditraktir mereka. Setelah kenyang, kami pun pulang. Melewati rumah mba Sandra, tanpa sadar aku menengok, terlihat sepi dan gelap.
"Uda ga ada orangnya git, mak lampir ataupun mas Abdulmu itu," Sisil seakan tahu apa yang ku pikirkan. Aku hanya nyengir, malu ketahuan apa yang ku pikirkan.
Sampai di kamarku dulu, aku kembali terharu. Kamarku bersih dan kelihatan baru dirapikan.
"Gimana service room nya Nona, anda puas? Kami lemas," Lia merangkul pundakku, saat aku masih memandangi kamarku dan tak juga masuk. Aduh kenapa aku jadi baper si, mau nangis tapi malu. Mereka sahabat terbaikku, saat ini semoga untuk selamanya.
***
Aku menjalani kehidupanku yang dulu, pekerjaanku yang dulu. Bekerja membuatku lupa bahwa aku pernah jadi mantan calon pelakor. Orang-orang juga sepertinya sudah lupa. Tak ada yang membahasnya lagi. Saat ini, aku bahagia dengan keadaanku.
Hari ini aku ada tugas negara ke Malang. Jadwal tagihan ke sebuah pabrik makanan olahan yang memakai jasa transporter tempatku bekerja. Harusnya ini tugasnya Essi, tapi dia cuti hamil sejak minggu lalu, jadi aku menggantikannya.
Sampai disana, aku diminta langsung naik ke lantai 3 ke bagian finance. Menunggu lift aku melihat sekitarku, baru ketika lift terbuka, aku kaget sungguhan. Aku berhalusinasi, atau benar di depanku ini wujud nyata mas Abdul?
***
Disini aku sekarang, di kantin pabrik berhadapan dengan mas Abdul. Sebenarnya tadi aku mau pura-pura tidak kenal dan langsung masuk lift, ku tutupi wajahku dengan map yang ku bawa, karena ku pikir dia mau keluar. Tapi dia terlanjur melihatku, dia tidak jadi keluar dan memilih naik lagi bersamaku. Setelah aku mau berjanji mau menemuinya lagi setelah urusanku selesai, baru dia mau pergi dari sini. Ku iyakan karena setiap orang yang bertemu, selalu ber 'ciiee ciiee' melihat mas Abdul terus merepetku. The power of ciee-ciie sukses membuat mukaku seperti udang rebus.
Lama tidak berjumpa, kenapa dia jadi pemaksa ya? Namun bohong bila ku bilang aku tidak senang karenanya.
***
"Aku sudah bercerai git," Itu kalimat pertamanya yang diucapkan setelah 10 menit berlalu tanpa ada yang berani memulai pembicaraan.
Aku sudah tahu dia cerai dari teman-temanku yang lain, tapi lain rasanya saat mendengarnya langsung. Aku hanya diam mendengarkan dia berbicara lagi,
"Sandra yang menggugat aku, dengan dirimu hanya puncak permasalahan dari masalah kami yang lain. Aku benar-benar tidak bermaksud mengikutkanmu dalam masalah rumah tangga kami. Aku benar-benar minta maaf." Dia terus menatapku selama berbicara.
Ah jantung, kenapa kamu malah asyik salto di dalam, aku yakin mas Abdul mendengar jantungku yang berdebar sekarang.
"Bisakah kita mulai dari awal, anggaplah aku temanmu, kita mulai berteman lagi seperti semula. Walau aku sudah tidak bisa memberi bonus mendoan atau cabai yang banyak seperti yang sudah-sudah," Seketika aku tertawa mendengar ucapannya. Mas Abdul tersenyum karena akhirnya aku menanggapi semua ucapannya.
"Aku sudah memaafkanmu mas, lepas dari semua yang pernah terjadi, aku tahu kamu tak akan sengaja melibatkanku dalam masalahmu. Kita berawal baik-baik saja, mari kita akhiri dengan baik juga. Mari berteman kembali," Aku mencoba berdamai kembali dengannya, senyumnya terlihat lebih mengembang, kelegaan terpancar jelas di wajahnya. Ah mas Abdul, kenapa harus kamu yang membuat hatiku freestyle?
End
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(Tapi boong, yang request next lumayan juga ya, jadi coba saya kembangkan lagi, sabar gih ๐Ÿ˜)
**EXTRA PART**
Minggu ini ada Harpitnas (HARi kecePIT NASional), aku tak pulang kampung karena bapak dan ibu sedang ke Bogor, ada acara reuni angkatan disana.
Sisil, Lia dan Mita sudah berencana pulkam ke asalnya masing-masing. Jadilah aku terancam sendirian di kos.
Mas Abdul menawari untuk liburan di Malang, aku langsung menolak.
Aku pernah sekali berkunjung ke rumahnya di Malang, waktu itu aku dan teman-teman kos lainnya ingin liburan ke Malang. Tahu-tahu mas Abdul datang ke salah satu tempat wisata yang kami kunjungi dan memaksa untuk mampir ke rumahnya.
Hubunganku dengan mas Abdul memang membaik, sangat baik malah.
Hubungan kami saat ini seperti lebih dari teman, tapi kurang dari kekasih, karena tak ada kata pacaran di antara kami. Kalau kata mas Abdul, yang penting kami saling menjaga. Pacaran cuma buat abg, bukan bangkotan seperti kami.
Sampai di rumah mas Abdul, tak tahu kenapa budhenya terlihat sangat kaget melihatku, lalu memelukku sambil menangis. Pakdhenya sama saja, hanya saja beliau tidak memeluk, ya kali kalau peluk aku, bisa ada adegan 'Disangka Pelakor' episode 2.
Belakangan aku tahu ternyata aku sangat mirip dengan putri mereka yang sudah meninggal, Liana.
Dan aku sungkan jika harus bertemu mereka lagi saat ini, aku belum siap. Mereka pengganti orang tua mas Abdul disini. Ibu dan ayah mas Abdul tinggal di Hongkong. Walau begitu, berhadapan dengan pakdhe dan budhe mas Abdul serasa berhadapan dengan calon mertua. Belum apa-apa masa aku disuruh berlibur, menginap pula di rumah mereka? Bisa digantung ibuku di pohon cabai kalau sampai beliau tahu.
"Makanya cepetan mau mas halalin, besok ya?" mas Abdul memberi saran yang langsung ku beri tatapan setajam silet sambil mengasah golok.
Mas Abdul kadang memang membahas hal-hal yang menyerempet ke 'arah sana', tapi aku ngeles dengan sejuta alasan. Bapak dan ibuku sudah mengenal mas Abdul juga, walau hanya lewat video call.
Sepertinya lampu hijau, mungkin karena umurku yang sudah hampir 27 tahun dan belum ada tanda-tanda ingin menikah, mereka senang akhirnya ada lelaki yang ku kenalkan.
Kata ibu tak masalah dia duda, duda hanya status, yang penting akhlaknya. Toh belum ada anak juga.
Kata bapak, kalau mau pulang ke Pati, disuruh mengajak mas Abdul, bapak ingin kenal langsung. Tapi aku tak ingin buru-buru. Aku masih agak trauma.
Tapi ada satu perkataan mas Abdul yang ku ingat saat mengobrol dengannya, dan aku masih bingung sampai sekarang,
"Dek, misal ya, ini baru misal," ujarnya memulai pembicaraan.
"Misal kamu sudah sadar kalau kamu juga sayang sama mas, terus kamu mau kalau mas lamar, kamu mintanya motor apa mobil?"
Aku hanya bengong, pertanyaan macam apa itu?
***
Akhirnya Mita mengajak aku untuk ikut pulang ke Mojokerto sana. Aku langsung yes saja daripada bengong di kos 3 hari sendirian.
"Mas, aku ikut Mita ke Mojokerto besok Jumat, mas ndak usah ke sini ya," Malamnya aku memberitahukan mas Abdul via video call.
Setiap weekend bila tak ada halangan, memang mas Abdul mengunjungiku di Surabaya. So sweet ga sih, aku sering terharu dengan beberapa perlakuannya padaku.
"Mojokerto? Perlu mas antar?" Ah ini yang bikin aku makin cinta *eeh
"Ndak usah mas, ngebis saja kita. Sudah lama ndak naik tayo, kangen, hehehe," Aku menolak.
"Kangen masnya kapan?" Sa ae duren itu ngegombal. Tak ingat usia.
"Nanti, kalau indomie ngeluarin rasa rengginang," Aku tergelak menanggapi gombalannya.
"Ga bakal ada rasa rengginang tho dek, yang ada rasa sayangku padamu," Serasa nyeeess hati ini. Halalin adek sekarang baaang *looh yaa.
"Mojokertonya mana?" Dia bertanya setelah aku hanya tertawa tak menyahut gombalannya.
Aku menyebut salah satu desa disana. Sejenak dia terdiam, seperti berpikir.
"Yakin ndak mau diantar dek? Mas antar saja ya," Tumben dia maksa, kan aku jadi senang.
"Ndak usah mas, yakin lah. Takut amat Mita culik aku," Aku menyakinkannya.
"Mas aja yang culik mendingan, tak bawa langsung ke KUA terdekat," MashaAllah, duren satu ini benar-benar menggoda iman.
Membayangkan dia dari Malang lalu ke Surabaya, lanjut ke Mojokerto, aku tak tega. Jadi aku terus menolak diantar mas Abdul.
Akhirnya dia melepasku berangkat sendiri setelah serentetan pesan yang aku asal iya-iyakan.
***
Jumat sore aku sampai di rumah Mita. Aku sudah pernah bertemu ibunya Mita saat beliau berkunjung di kos. Setelah laporan pada bapak negara kalau sudah sampai, aku bergabung dengan Mita dan ibunya.
"Nduk, besok kamu wakili ibu ya, ada resepsi di ujung gang sana, ibu agak ndak enak badan ini, lagian ibu kurang sreg sama yang punya hajat," Ibu Mita berkata pada Mita sambil memasang koyo ajaib di pelipisnya.
"Lah kenapa tho bu?" Mita kepo, tumben ibunya seperti ini ke tetangga.
"Ibu kurang akrab sama mereka. Sombong, ndak pernah nyapa sama orang sini, apalagi bergaul. Ini nikahin adiknya atau siapanya gitu, ibu kurang paham," Ibunya menjelaskan.
"Oalah inggih bu. Sama Gita ya bu, ndak apa-apa kan?"
"Iyo, ga opo-opo, jakken Gita ben ngerti desa kene, mangan enak kon sesuk, wong sugih sing due gawe (Iya, tidak apa-apa, ajak Gita biar tahu desa sini, makan enak kamu besok, orang kaya yang punya hajat)" jawab ibunya Mita.
Esoknya, kami berangkat sambil saling menertawakan penampilan masing-masing, kami tidak siap baju pesta, jadi memakai gamis ibunya Mita, disini ke kondangan umumnya memakai gamis. Gamisku agak kebesaran, punya Mita sejengkal di atas mata kaki.
Terlihat sound system dan tenda disana, tapi orang-orang banyak berkumpul di luar tenda, bahkan ada yang sudah berjalan pulang ke arah kami.
"Lek, lek Sarmi, kok podo neng njobo tho? Pean yo ngopo kok wes balik? (Bulik Sarmi, kenapa pada di luar? Anda kenapa sudah pulang?)" Mita mencegat salah satu tetangganya yang berjalan ke arah kami.
"Batal Mit, muliho. Jebule kae kawin karo bojone wong. Anak e mbok tuwo ora terimo pak'anne kawin maneh. Kon gowo amplop ra? Nek gowo lebokke tok ae, pangananne akih bungkusen. Gowo plastik ora, ki tak wenehi plastik nek ora gowo
(Batal Mit, pulang saja. Ternyata dia nikah sama suami orang. Anak dari istri pertama tidak terima ayahnya nikah lagi. Kamu bawa amplop tidak? Kalau bawa masukkan saja, makanannya banyak, bungkus saja. Bawa plastik tidak? Kalau tidak, ini saya kasih plastiknya)" Kata Lek Sarmi sambil mengeluarkan kantong plastik.
Sekilas terlihat isi tasnya, sudah penuh jajanan dan makanan.
Setelah tetangga Mita berlalu, kami tertawa. Buset, sampai diberi plastik. Keliatan sekali kah kami anak kos yang jarang makan enak?
Kami sampai di meja penerima tamu, heboh sekali memang di depan sana. Seorang perempuan berusaha meraih pengantin wanita tapi dihalangi pengantin prianya dan (mungkin) keluarga pihak wanita.
"Dasar pelac*r ! L*nte ! Mau-maunya jadi simpanan ! Lo ngincer harta papa gue kan?! Mama gue sekarat gara-gara lo ! Lo ga ada otak haah??" Si anak perempuan terdengar memaki-maki pengantin wanita.
Mita langsung menuju meja prasmanan, bergabung dengan ibu-ibu yang juga sibuk memindahkan makanan ke plastik yang dibawa.
Aku masih menyimak adegan di pelaminan sana, sambil menikmati martabak yang disediakan, seru sekali seperti adegan film di TV ikan terbang.
Si anak sudah berhasil mendapatkan ronce melatinya, menarik sekuat tenaga, pengantin wanitanya mulai berteriak kesakitan. Samar-samar aku seperti mengenal pengantin wanitanya, seperti pernah bertemu.
"Ayo Git, balik. Lumayan ini bisa buat makan siang sampai malam, hahahaha," Kebiasaan anak kos tidak hilang dimanapun kami berada.
"Bentar Mit, aku kayaknya kenal sama mantennya," Aku menarik Mita, masih penasaran.
"Loh iya git, itu kan, loh dia kan??" Mita kaget, bersamaan aku menyadari siapa pengantin wanitanya,
"MBA SANDRA???"
---------------


#aku_pelakor?
PART 9
pov Sandra

Aku mulai tinggal bersama nenekku di Malang setelah ibuku menikah lagi. Lebih tepatnya, aku kabur.
Ayah tiriku genit sekali, setiap ibu tidak ada di rumah, dia berusaha mendekatiku. Ibu juga sama saja, selalu berusaha menjodohkan aku dengan seorang juragan angkot di daerahku. Benar dia kaya, tanahnya dimana-mana, tapi diimbangi juga dengan hobinya yang kawin cerai. Tak sudi aku. Anaknya banyak, nanti pasti menuntut warisan. Akhirnya aku tak dapat apa-apa nanti.
Aku ikut bekerja di pabrik rokok setelah diajak Ina, tetanggaku di Malang sini. Aku kapok jadi SPG event, bukannya dapat bonus malah ditampar istri supervisornya, dikira aku selingkuhan suaminya. Padahal kami cuma makan bersama dan dia membelikanku kalung juga bukan karena aku minta. Aku hanya menanyakan harga kalung itu, tahu-tahu dia membelikannya untukku. Salahku dimana coba?
***
Aku tahu pak Abdul, dia idola di pabrik ini. Selain masih muda, tampan, single dan ramah, dia juga punya jabatan disini. Tapi tetap saja, seganteng apapun lelakinya kalau masih pakai roda 2 ya tetap saja dia lelaki biasa. Motor jadul pula, cb atau apalah namanya. Aku tak berminat.
Tapi pandanganku berubah pagi itu. Di tengah hujan gerimis, dia terlihat begitu bersinar turun dari Livina silvernya. Hari itu juga aku mulai mencari tahu tentangnya. Beruntung ada seorang mandor lapangan yang berusaha mendekatiku, ku korek info darinya.
Darinya aku tahu, kalau pak Abdul berasal dari keluarga berada. Pakdhenya punya pabrik tempe, budhenya mengelola 3 toko oleh-oleh di Malang. Aku tak tahu kemana orang tuanya, tak masalah, yang penting aku sudah tahu kalau dia pantas untukku.
Pucuk dicinta ulam tiba, hujan sore itu membawa berkah. Aku bisa pulang bersamanya, dan akhirnya dia yang meminta kontakku. Aku senang? Pasti.
Semua berjalan lancar. Aku merasa budhenya kurang menyukaiku, tidak penting. Aku tahu Abdul sangat mencintaiku. Dia lelaki sejati, tak perlu kata pacaran, dia berniat langsung melamar. Jadi dia mengiyakan saat ku ajak ke Surabaya bertemu ibuku.
Ibu meminta motor atau mobil untuk lamaran. Ku kode ibu, beliau malah tidak mengerti. Bukan seperti itu cara mendapatkan sesuatu dari Abdul. Aku cukup memuji satu barang yang ku inginkan, atau memasangnya menjadi dp di bbm, dia akan membelikannya untukku. Aku tak perlu meminta, dia cukup peka menjadi lelaki. Aku tidak matre, aku hanya realistis. Semua wanita suka memakai barang bagus dan indah, terlebih datangnya gratis, ya kan?
Setelah mengadakan resepsi yang lumayan mewah untuk ukuran kampung di rumah Surabaya, aku ikut ke Malang. Aku bahagia, Abdul menuruti apapun yang ku inginkan, selain yang ku butuhkan. Tapi disini sepi sekali, aku terbiasa dengan keramaian Surabaya. Disini jam 8 malam seakan sudah tidak ada kehidupan. Mau ke salon yang bagus untuk treatment saja harus ke kota dulu, hampir satu jam perjalanan. Aku cepat bosan disini.
Lalu ibuku meninggal. Ini kesempatanku kembali ke Surabaya, aku rindu teman-temanku, kehidupanku disana. Abdul menurutiku, tentu saja. Jadi apa dia tanpa aku?
Dia memulai usaha tempenya, aku membantunya sebagai kompensasi dia mau menurutiku memulai dari nol disini. Pada teman-temanku, aku bilang suamiku pengusaha. Mereka tak perlu tahu yang sebenarnya, selama aku masih bisa ikut arisan dan bergaya nyonya besar di depan mereka.
Tapi penghasilannya memang tak sebesar di Malang. Walaupun kebutuhan sehari-hari masih tercukupi, aku mulai komplain saat jatah untuk skincare ku berkurang. Ke salon pun sudah jarang. Tak tahukah dia perawatanku tak murah agar terlihat selalu cantik?
Untung ibu Abdul yang TKW itu masih perhatian pada menantunya, dikiriminya aku skincare dari sana. Terkadang disertai transferan yang jumlahnya tak sedikit. Lumayan, jatah uang skincare bisa ku alokasikan untuk baju atau tas baru. Abdul tak pernah tahu tentang hal ini, ibunya pun melarang memberitahunya, karena Abdul sungkan kalau harus merepotkan dan selalu menolak bila ibu menawari bantuan. Gengsi digedein, istri tak diurusin, dasar.
Tapi aku benar-benar tak terima saat dia menjadi OB. Dia hanya perlu bilang ke ibu atau pakdhenya kalau kekurangan uang, tapi tak pernah ia lakukan. Aku yang dikorbankan untuk menderita tanpa perawatan tiap bulan.
Bagaimana kalau temanku melihat dia di luar? Sandra Anggraini, sang primadona sekolah dulu, bersuamikan OB?
Aku tidak lagi berperan sebagai istri penurut, aku tidak perlu lagi berakting.
Saat aku harus dioperasi, Abdul menangis, menenangkan aku, tak masalah aku tak bisa hamil, dia akan tetap bersamaku.
Aku menangis karena membayangkan luka sayatan di perut rata hasil rajin fitness ku. Akan lama sekali hilang bekasnya. Siapa peduli tak bisa punya anak? Tubuh menggelambir dan payudara turun selalu menghantuiku bila punya anak nanti.
Aku tahu Abdul sudah 'habis' untuk biaya operasi ini. Uang kontrakan sudah diberikan ke kakakku untuk mencicil rumah warisan ibu. Aku sering pergi ke rumah mas Danu, berkeluh kesah dengan mba Lira, ipar sekaligus sobat sosialitaku.
Kemudian mas Danu mengenalkanku pada pak Jimmy, koleganya dari Jakarta. Dia lebih pantas jadi ayahku sebenarnya. Tapi mas Danu dan dia berhasil menyakinkanku, bila umur tak jadi masalah, selama bisa memenuhi segala keinginanku. Mas Danu tak ingin aku menderita.
Aku mulai dekat dengannya. Sudah tak ku pedulikan Abdul. Terkadang aku kasihan dengannya, sesekali wajahnya terlihat sangat lelah. Kadang aku membantunya berjualan, tapi hanya saat dia tak ada di rumah, gengsi kalau ketahuan aku membantunya.
Pak Jimmy melamarku, untuk menjadi istri kedua. Aku menolak, aku masih dalam ikatan pernikahan. Dijanjikan rumah dan mobil serta kartu kredit yang bisa ku pakai sepuasku, aku tergoda akhirnya. Aku tak mau selingkuh dari Abdul, aku mau menikah jika kami sama-sama sudah lepas dari pasangan kami.

Ku cari celah untuk bercerai dengan Abdul. Tak ada, dia pria sabar yang tidak pernah macam-macam. Harusnya aku bisa mencintainya, tapi kebutuhanku yang banyak mulai tidak bisa dia penuhi. Salahkah aku jika berpaling?
Sampai akhirnya ku temukan satu kontak di hp nya, yang lebih sering dia hubungi dibanding lainnya. Bahkan Abdul menyimpan namanya dengan nama lengkapnya, Gita Maharani. Sebenarnya chatnya biasa saja, tapi insting wanitaku berkata kalau Abdul mulai menaruh rasa pada gadis itu. Aku sedikit cemburu, tapi ini kesempatanku untuk segera menjadi nyonya Jimmy.
Ku labrak gadis bernama Gita itu, aku tahu dia, dia memang sering membeli gorengan pada Abdul. Sengaja aku membuat keramaian agar mempercepat semuanya. Benar, Abdul menalakku. Aku menangis, air mata kali ini sungguhan, satu sisi ada kesedihan melepas lelaki sebaik dia, namun ambisiku terlalu besar untuk bisa hidup mewah tanpa kekurangan lagi.
Pak Jimmy tak segera menikahiku bahkan saat aku sudah resmi berstatus janda. Katanya istrinya tak mau dimadu, tapi juga tak mau diceraikan. Dia perlu waktu.
Abdul hanya sekali menemuiku, beberapa saat setelah aku menggugat cerai dirinya. Dia datang bersama pakdhe Son, meminta kembali mobilnya.
Katanya mobil itu sudah ada sejak sebelum menikah denganku, dibeli dengan uang mantan mertuaku dan pakdhe Son, hasil menjual rumah neneknya atau apalah.
Mas Danu meminta 50 juta untuk ganti 'papan' yang gagal dia berikan untukku. Bukankah harusnya kewajiban suami menyediakan papan, sandang dan pangan untuk istrinya?
Mereka terdiam sejenak, lalu pakdhe Son berdiri dan mengambil sesuatu dari mobilnya,
"Ini 70 juta, tapi tolong tandatangani surat perjanjian ini, saya anggap keponakan saya sudah tidak ada tanggungan apapun pada adik anda dan jangan mempersulit proses perceraian," Dengan muka datar, pakdhe Son mengeluarkan segepok uang dari kantong kresek dan memintaku tanda tangan di atas materai.
Tak ada raut wajah kaget atau marah terlihat. Sepertinya mereka sudah menduga hal ini akan terjadi.
Coba dari dulu pakdhenya ikut membantu perekonomian kami, mungkin aku masih memikirkan untuk bertahan dengannya.
***
Ku dengar dari temanku di Malang, Abdul sudah kembali menjadi manager di sebuah perusahaan makanan ternama di sana. Aku tak berminat kembali padanya, semenjak bercerai dengannya, hidupku disokong oleh pak Jimmy, lebih daripada saat aku hidup dengannya.
Buat apa hidup penuh cinta tapi miskin harta? Cinta bisa dipupuk, terlebih dengan banyak pupuk Soekarno-Hatta, cinta akan berkembang dengan sendirinya.
Hampir setahun kemudian, akhirnya pak Jimmy menikahiku, secara siri di Surabaya. Istrinya koma di Jakarta sana, apa peduliku?
Mas Danu mengadakan pesta di Mojokerto sini, bagaimanapun aku adik kesayangannya. Dia juga menghormati pak Jimmy sebagai koleganya. Tak perlu mengatakan ke orang-orang jika aku hanya menikah siri.
Tak terduga, Cindy, anak tertua Jimmy yang sekarang jadi suamiku, datang bersama suaminya. Mengacaukan segalanya, berteriak-teriak tak karuan.
Ibunya yang sudah tak menarik lagi, tak bisa memenuhi kebutuhan biologis ayahnya, aku yang disalahkan. Aku tak pernah merebut, Jimmy sendiri yang selalu datang padaku.
Saat ronce melatiku tengah ditarik Cindy, kepalaku tertoleh ke arah tamu-tamu yang menyaksikan kami, astaga !
Bagaimana mungkin dia ada disini, menyaksikan aku tengah didzalimi anak tiriku, santai melahap martabak,
Nagita Maharani sedang memandangku sekarang.
-------

#aku_pelakor?
PART 10
pov Gita

Sepanjang perjalanan Surabaya-Pati, aku tak berhenti bergetar. Ini pertama kali mas Abdul akan bertemu orang tuaku. Sebenarnya aku juga mengajak Sisil, Mita atau Lia untuk ikut menemaniku. Selama pergi dengan mas Abdul, kami tak pernah hanya pergi berdua saja bahkan untuk cari makan. Tapi entah kenapa tiga kurawa itu kompak menyatakan ketidakbisaannya ikut mudik denganku.
"Wah aku ga bisa git, minggu ini ada tes kenaikan jabatan, aku ndak boleh ijin cuti. Syukur-syukur kalau aku bisa lolos jadi supervisor, tak traktir all you can eat di warung Yu Mar kamu nanti," Mita beralasan. Oke, aku bisa terima.
"Aku juga lewat git. Sigit ada lomba mancing pas hari itu, lumayan kalau menang biayanya bisa buat nambah modal kawin, aku mau jadi suporternya," Ini mulai aneh, sejak kapan Lia mau ikut Sigit mancing, selama ini dia sama sekali tak pernah mendukung hobi pacarnya itu, di demo terus yang ada, karena kalau mancing suka lupa diri, eh waktu.
"Aku juga ga bisa lho. Hari minggunya, aku ada kerja bakti ke Tugu Pahlawan sana, sama teman-teman satu toko, memperingati hari Pahlawan," Sisil menambahi. Wah ini paling tidak benar. Mana ada hari Pahlawan di bulan Desember Maemunah??
Jadilah aku dagdigdug sendirian bersama mas Abdul, dia menolak naik bus dan memilih menyetir sendiri ke Pati. Mau melek tapi ngantuk. Mau tidur tapi tidak bisa merem. Serba salah.
****
6 jam perjalanan kami melewati gerbang Selamat Datang Pati, aku kembali bergetar, kalau orang Jawa bilang, ndredek. Sekitar setengah jam lagi, kami akan sampai di rumahku. Rumahku agak naik ke daerah gunung soalnya.
"Dek, kabari bapak sama ibu kalau kita sudah mau sampai," mas Abdul mengingatkan. Memang ibu berpesan kalau sudah dekat disuruh telpon dulu.
Aku tiba-tiba lupa password ponselku, membayangkan membawa mas Abdul ke rumah membuatku hilang konsentrasi. Akhirnya Nagita Maharani sang perawan tua membawa calon ke rumah, itu yang akan jadi trending topic di desaku nanti.
Ya, di desaku belum menikah di atas usia 20 tahun sudah layak disebut perawan tua. Dan usiaku tahun depan menginjak 27 tahun. Wajar jika aku deg-degan. Mas Abdul lelaki pertama yang aku ajak ke rumah. Aku pernah pacaran, itupun hanya sekali, tapi tak sampai serius seperti ini.
Aku hanya memegang ponsel tapi tak kunjung menghubungi orang rumah. Mas Abdul sepertinya tahu kegugupanku. Dia memberhentikan mobil dan parkir di Alfamerit.

"Dek, kamu percaya sama mas tidak?" mas Abdul bertanya sambil memandangku.
"Kalau masih ada yang adek ragukan pada mas, kita masih ada waktu untuk kembali. Mas hanya akan antar adek sampai rumah, mas janji turun untuk pamitan saja, nanti mas langsung pergi lagi. Nanti mas jemput lagi kalau besok adek sudah mau kembali ke Surabaya," perkataannya begitu lemah lembut, tanpa sentuhan fisik pun dia punya cara sendiri untuk menenangkan hatiku.
Selain gugup, jujur aku masih terkejut dengan sosok mas Abdul. Setelah kembali berhubungan dengannya, aku baru tahu kalau dia seorang Sarjana Teknik, lulusan salah satu universitas ternama di Jogja. Keluarganya termasuk berada kalau tak mau disebut kaya. Dia tampan, jelas. Punya pekerjaan yang bagus dan inshaAllah sudah mapan, nilainya bertambah plus plus plus.
Apalah aku yang hanya lulusan SMA, keluargaku dari keluarga biasa. Aku sempat kuliah, tapi berhenti di tengah jalan. Bapak mengalami musibah yang membuatku memutuskan tidak meneruskan kuliahku saat itu. Wajah juga menurutku juga pas-pasan kalau tak mau dibilang jelek walau Sisil pernah bilang aku masih pantas kalau jadi saudaranya Wulan Guritno. Bapak hanya petani dan punya penggilingan padi kecil-kecilan, tak sebanding dengan pakdhe mas Abdul. Tiba-tiba aku merasa bagai remukan rempeyek di toples kosong. Pantaskah aku bersanding dengannya?
"Gita, aku sampai disini karena aku yakin kamu bisa membawaku menjadi manusia yang lebih baik. Kamu pasti tahu maksud tujuanku kemari. Aku sering menyampaikan hal ini namun tak pernah kamu tanggapi serius. Tapi aku ingin kamu tahu, aku senang akhirnya kamu mengijinkan aku mengenal keluargamu. Aku tak berani menjanjikan apa-apa, tapi aku akan menjadi kaki untukmu berjalan, tangan untukmu menggenggam, bahu untukmu bersandar. Aku tidak sempurna, tapi bersamamu semua terasa hampir sempurna.

Jadi sebelum memintamu pada ayahmu, ijinkan aku mengucapkannya dahulu.
Nagita Maharani, maukah kamu jadi istriku, pendamping yang melengkapi hidupku sekarang untuk selamanya?" mas Abdul mengucapkan kalimat pamungkasnya.
Tak perlu candlenight dinner, tak perlu cincin berlian atau buket mawar, disini, di parkiran Alfamerit, dengan backsound mars toko retail tersebut, begini saja aku sudah sangat bahagia. Keraguanku seketika melebur. Aku mengangguk, air mataku meluncur tak tahu malu. Tidak apa-apa, ini air mata bahagia.
"Terima kasih dek, mas janji akan selalu menjaga adek. Sekarang dilap dulu air matanya ya? Nanti dikira mas ngapa-ngapain adek, pulang-pulang matanya sembap. Kita jalan lagi ya?" Mas Abdul hanya membantu mengelap bekas air mataku dengan tissue, tidak ada adegan berpelukan ala telenovela, untuk hal ini aku acungi dua jempol untuknya. Tipe kuno yang aku suka.
*****
Sampai di depan rumah, aku sudah menduga ini. Sudah banyak orang di rumahku, pasti Bapak mengumpulkan saudara dan handai taulan untuk penyambutan. Padahal sudah ku jelaskan kalau yang datang hanya mas Abdul tanpa orang tua, tapi tetap saja beritanya menyebar. Walau tak diundang, mereka pasti ingin tahu.
Setelah basa-basi dan istirahat sejenak, barulah mas Abdul menyampaikan maksudnya,
"Pak, bu saya datang kemari dengan maksud baik. Bila diijinkan, saya ingin meminang Gita menjadi istri saya," mas Abdul mengawali.
"Bapak terserah Gita, tapi Gitanya sendiri kelihatannya sudah ngebet ya bapak bisa apa," Bapak termasuk orang yang humoris, tapi jangan sekali-kali membuatnya marah, bisa ludes satu kampung dilahapnya.
"Nak Abdul, maaf, ibu dengar dari Gita kalau nak Abdul duda, itu sudah benar-benar cerai atau bagaimana statusnya?" Giliran ibu yang bertanya.
"InshaAllah sudah benar-benar selesai bu, mantan istri sudah menikah lagi kabarnya dan sampai saat ini tidak ada hubungan apa-apa dengan saya. Bahkan malah Gita yang sempat menghadiri pernikahan mantan saya itu. Kalau untuk anak, mungkin nanti inshaAllah dengan Gita saya baru diberi kepercayaan sama Yang Di Atas, karena dari yang sebelumnya saya belum punya," mas Abdul melirik aku yang langsung salah tingkah.
"Baguslah kalau begitu. Berarti ke depannya inshaAllah tidak ada masalah ya. Lalu kapan kira-kira keluarga nak Abdul bisa kemari, yah paling tidak ada omongan orang tua ke orang tua," Bapak melanjutkan.
"Kapan saja pakdhe dan budhe siap kemari, tinggal Gita nya sudah siap atau belum. Bahkan malam ini pun kalau boleh, pakdhe dan budhe saya besok sudah sampai disini," mas Abdul terlihat percaya diri sekali.
"Wah ini calon pengantin lakinya juga sudah ngebet kayaknya, cepetan ndang diresmino wae mas No (buruan segera diresmikan saja No)" Paklikku menyahut disertai gelak tawa yang lain.
Antara malu dan senang, aku hanya nyengir salting. Begini rasanya dilamar kekasih hati, bagaimana nanti kalau diijab kabul *eeh
Kisah cintaku memang bagai cerita ftv, mungkin kalau diberi judul bakal seperti ini judulnya, 'Cintaku Mentok di Abang Gorengan' atau 'Mendoan Pembawa Cinta'.
Tapi aku berdoa durasinya selamanya, bukan hanya sekejap seperti di film.
----------
Cause perfect love is not by loving someone perfect,
But by loving someone imperfect, perfectly.
----------
next