#aku_pelakor?
PART 11 (END)
Febrianti Windyningrum
pov mas Abdul
"Saya terima nikah dan kawinnya Nagita Maharani binti Supeno dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."
"Sah?"
"SAAAAHH !!!"
Mulai detik ini, tanggungjawabku bertambah. Membahagiakan Gita adalah prioritas utamaku mulai saat ini.
Aku bersyukur acara akad ini berjalan dengan lancar. Gita terlihat
begitu anggun, cantik dengan kebaya putihnya. Aku menahan air mata saat
dia mencium punggung tanganku. Sebagai lelaki aku termasuk golongan
mudah terharu tapi tidak melambai.
Pakdhe Son dan Budhe Marni
terlihat sangat bahagia. Mereka menganggap Gita sudah seperti anak
sendiri bahkan sebelum aku mengutarakan ingin menikahinya.
Kali
ini, pernikahanku terasa sempurna. Ibuku bisa hadir, dengan ayah Lim.
Mereka juga mengajak adik-adikku, Mao yang beranjak dewasa dan Jia Li si
bungsu yang begitu cantik. Ibu memeluk Gita dengan sayang, menangis
sampai sesegukan padahal ini acara pernikahan bukan pemakaman.
-------
Aku cukup terkejut saat dulu Gita menyebut mahar yang diinginkan. Tak
terkecuali pakdhe dan budhe yang saat itu ikut melamar Gita, hanya satu
minggu setelah aku datang ke rumahnya.
"Delapan ribu delapan
ratus delapan puluh delapan rupiah. Empat kali angka delapan. Itu mahar
yang ku inginkan mas," Gita tersenyum saat mengatakannya. Bapak ibu Gita
juga menampilkan ekspresi bahagia, tak ada ekspresi tidak terima, marah
atau apa.
"Gita, misal maksudmu delapan ribu adalah delapan juta
rupiah, inshaAllah Abdul masih bisa memenuhi, tidak apa-apa nak"
pelan-pelan pakdhe Son berbicara untuk merperjelas.
"Boten
(tidak) pakdhe. Benar delapan ribu. Angka delapan itu istimewa, dia tak
punya ujung, selalu ada jalan, semoga begitu juga pernikahan Gita kelak.
Dan Gita suka angka 4, itu tanggal dan bulan lahir Gita," Sungguh, Gita
di mataku semakin tak ternilai. Dia lebih dari berharga, tak akan aku
lepaskan.
Jangan dikira tidak ada masalah sampai pernikahan ini
terjadi. Perdebatan karena salah paham sempat membuat Gita mendiamkan
aku dalam kurun waktu yang lama, kira-kira 6 jam mungkin.
Gara-gara aku dan pakdhe bermaksud ingin menanggung semua biaya
pernikahan di Pati, karena kami tidak berencana resepsi lagi di Malang,
tapi ditolak baik-baik oleh Bapak. Kata bapak, pihak lelaki boleh
memberi sewajarnya, tapi tidak seluruhnya ditanggung. Tetap
tanggungjawab seorang Bapak untuk menikahkan putrinya.
Karena
salah paham, Gita pribadi mengira pihak kami menginjak harga diri
keluarganya. Dikira bapak tidak mampu membuat pesta pernikahan, pikirnya
waktu itu. Padahal bukan seperti itu. Baru setelah dibantu Sisil, Lia
dan Mita, Gita baru luluh mau bicara baik-baik denganku. Aku berhutang
banyak pada sahabat-sahabat Gita.
--------
Tamu sudah mulai sepi, aku lelah, ingin segera merebahkan tubuh.
Tapi aku ragu masuk sekarang atau nanti. Gita sudah tidak kelihatan, apa mungkin dia sudah di dalam?
Ku buka pelan-pelan pintu kamar, ku nyalakan lampu, aku masuk perlahan.
Aku melihat kamar dihias layaknya kamar pengantin, tempat tidur sudah
tertata rapi, kado-kado pernikahan sudah diberesi. Jantungku berdetak.
Sesuatu dalam diriku bergejolak. Tapi mana wanitaku? Aku memutuskan
untuk membersihkan diri dulu, aku ingin mengimaminya, kelihatannya dia
juga belum salat isyak. Aku keluar lagi.
Saat akan mengambil
wudhu di belakang, aku mendengar suara Gita, ternyata dia di dapur,
mojok bersama ibunya yang masih beberes,
"Bu, Gita malam ini tidur sama ibu ya?" Loh kok gitu, pikirku seketika.
"Huush dosa nduk, ndak boleh gitu, sana masuk, temani suamimu. Kasihan
dia menunggumu. Wes tho, jo kuatir. Ndang turu kono (Sudah, jangan
khawatir. Cepat tidur sana)" Ibu menyahuti.
"Jadi ini ndak apa-apa kalau Gita sekamar sama mas Abdul?"
Duh Gita, awas kau. Rasanya ingin segera ku bopong saja anak itu ke kamar. Usia saja yang matang, kelakuan seperti bocah.
"Ya ndak apa-apa tho nduk, lupa tha kamu sudah sah tadi pagi? Perlu ibu
panggilkan penghulu lagi, biar ijab lagi? Wes sana, huush huush minggir
ibu mau mindahin dandang (tempat nasi)," Ibu sepertinya juga gemas sama
anak gadisnya itu, didorongnya tubuh Gita pakai dandang nasi.
Aku keluar dari persembunyianku, ku lanjutkan ke kamar mandi. Aku
mengambil wudhu dan kembali ke kamar. Gita sudah kembali ke kamar,
sedang menghapus make up nya.
"Dek, sudah salat isyak? Ayo
bareng, mas imami ya?" Gita langsung menoleh, wajahnya kelihatan semakin
memerah karena pipinya belum selesai dibersihkan.
"Ah anu, itu
mas, mas duluan saja, nanti aku nyusul," Gita terlihat kaku, aku
mengiyakan, tak mau memaksakan. Aku tak tega melihat wajahnya yang
tegang.
Selesai salat, dia masih sibuk membersihkan make up di
wajahnya, padahal ku lihat dari cermin, wajahnya sudah sangat polos,
cantik natural tanpa make up sedikitpun. Tapi digosok-gosoknya terus,
mungkin berharap keluar jin dari pipinya.
"Dek," Aku berinisiatif duluan, aku memeluk dirinya dari belakang. Gita tiba-tiba berdiri dan menghadapku,
"Mas mau diambilkan minum? Aku ambilkan dulu ya?" Aku tersenyum melihat tingkahnya.
"Tidak dek, mas ndak haus," Aku meraih tangannya pelan,
"Eh atau mas mau makan? Tadi kayanya belum sempat makan, aku ambilkan ya?"
"Sudah dek, tadi kan makan sama adek, nambah dua piring malah, lupa tha? Duduk sini saja lho, temani mas,"
"Eh , oh itu mas, anu... Loh mas denger ga, kayanya Jia Li nangis deh,
beneran, denger ga mas, ada anak kecil nangis, aku lihat dulu ya,
kasihan kalau nangis," Aku semakin gemas pada istriku ini,
"Dek,
Jia Li sudah pergi dari tadi. Ibu dan ayah menginap di hotel kan?
Bukannya tadi kamu sudah dipamiti, bahkan ditawari ikut ke hotel juga
sama aku, tapi kamunya ga mau. Lagipula Jia Li sudah 12 tahun, bukan
anak kecil lagi," Aku mulai tak sabar,
"Kalau kamu dengar suara
anak kecil nangis, wah berarti kamu denger apa itu dek? Sudah ndak ada
anak kecil lho, semua keponakanmu juga sudah pada pulang," Aku
menakut-nakuti Gita. Gita bingung, mungkin kehabisan ide mau kabur
dengan alasan apa lagi.
"Sini duduk, mas kasih tahu sesuatu," Aku mendudukkan Gita di pinggiran bed. Perlahan dia mau juga akhirnya duduk di sebelahku.
"Kamu ikuti yang mas ucapkan ya," Kataku seraya mengusap kepalanya.
"Mas, stop ! Tunggu ! Hop ! Ada yang mau Gita bilang tapi mas jangan
marah ya," Gita terlihat cemas saat mengucapkan itu. Aku menunggunya.
"Mas itu, nganu, aku itu.. " Gita mengulur ucapannya, wajahnya seperti
pesakitan yang mau dihukum mati. Ku tunggu sampai 10 menit, tak juga dia
bicara. Cuma posisi duduknya sudah seperti ayam mau disembelih. Tak
bisa tenang.
"Udah dek, ya sudah kalau adek belum siap, yawis ayo
tidur saja. Besok katanya mau jalan-jalan pagi ke kebun kopi? Mas ndak
apa-apa, udah sini tidur, janji ga bakal diapa-apain," Akhirnya aku
hanya mencium keningnya dan bersiap menarik selimut.
Tiba-tiba
Gita menarikku, dan memelukku. Aku kaget tapi juga senang. Dia
membisikkan sesuatu di telingaku, aku terdiam kemudian terbahak. Jadi
itu kenapa dia begitu takut padaku malam ini.
"Mas ga akan marah
karena itu dek, itu sudah kodrat wanita. Bilang dari tadi harusnya, mas
ga tega lihat wajah adek tegang begitu. Perutnya sakit ga? Mas buatkan
teh hangat ya?" Aku mengelus kepalanya lembut, sekarang baru dia mau
bersandar padaku.
"Ga usah mas, tadi sudah minum air hangat.
Perutku ga sakit kok. Cuma kata Sisil, mas bakal marah kalau tahu,
karena ini malam pertama. Makanya aku menghindar terus. Aku takut mas
kecewa, lalu marah beneran." Gita menunduk dalam, aku hanya tertawa
mendengarnya.
"Ya sudah ayo tidur, mas redupkan lampunya ya?" Aku mematikan lampu utama dan menuntun Gita tidur.
"Mas?"
"Ya?"
"Boleh peluk?"
Aku tertawa, ya yang ini bisa lah, kalau yang 'itu', mungkin aku harus bersabar semingguan lagi.
Gita, Gita, aku bersyukur memilikimu.
-------------
Gita ku boyong ke Malang setelah menikah. Dia resign dari pekerjaannya seminggu sebelum acara pernikahan.
Sebelum menikah masalah rumah tinggal sudah kami bicarakan. Tadinya dia
mau ku ajak tinggal di perumahan daerah Malang kota, aku membelinya
setelah rumah yang dulu ku jual pada temanku yang bertahun-tahun kontrak
disitu.
Aku tak mungkin membawa Gita ke rumah yang pernah aku tinggali dengan Sandra, rasanya kurang etis, menurutku.
Tapi Gita ingin tinggal dekat dengan budhe Marni, katanya biar dia
tidak kesepian saat ku tinggal kerja. Kalau bisa malah tinggal sekalian
sama budhe, yang disambut antusias oleh budhe Marni. Aku tahu alasan
Gita sebenarnya mau menemani pakdhe dan budhe yang mulai sepuh, walau
dia tidak pernah mengatakan langsung. Aku sungguh beruntung memiliki
Gita.
Tapi aku menolak, menurutku tidak baik kalau sudah menikah
masih ikut orang tua. Jadilah kami tinggal di sebelah rumah Pakdhe.
Sebenarnya dulu ini rumah untuk para pekerja pakdhe yang mau menginap,
tapi sekarang sudah kosong karena rata-rata pekerjanya sudah pada
menikah. Hanya direnovasi sedikit menurut selera Gita, setelah menikah
sudah bisa langsung kami tempati.
Ku lakukan semua syarat-syarat
menjadi suami ideal menurut kriteria emak-emak KBM. Mengajaknya
jalan-jalan, kadang memberinya hadiah, menawari seorang ART namun
ditolak. Aku bahkan pernah mengajaknya ke salon, tapi dia malah bengong,
"Mau ngapain mas? Aku belum mau potong rambut," Akhirnya dia menolak
ketika ku jelaskan mungkin dia ingin perawatan, memilih ke toko buku
saja. Baru kemudian aku tahu, jangankan perawatan ke salon, dia bahkan
tidak tahu kalau foundation dan concealer adalah dua benda yang berbeda.
Saat ku tinggal bekerja, dia sering menghabiskan waktu dengan membaca,
kalau tidak main ke rumah Budhe. Kadang dia menghubungi teman-temannya.
Aku pernah menegurnya saat dia terlihat melamun. Tapi Gita bilang tidak
ada apa-apa sambil tersenyum.
Aku tahu kalau wanita sudah
terbiasa bekerja, pasti akan mudah bosan hanya diam di rumah. Jadi ku
tawari untuk meneruskan kuliahnya, agar ada kegiatan, pertama dia
menolak. Setelah dibujuk, dia mau juga akhirnya, mengiyakan sambil
menangis. Wanitaku ini memang mudah terharu.
*****
Weekend
ini kami berkunjung ke Surabaya, Gita kangen teman-temannya katanya.
Aku turuti mumpung sedang libur juga. Sambil menunggu jam janjian dengan
teman-temannya, kami berkeliling dulu. Kami makan di food court, tak
jarang bercanda layaknya abg yang sedang kasmaran.
Dengan Sandra
dulu, aku tak pernah makan di food court ataupun di emperan. Sandra tak
pernah mau. Katanya tidak ada privacy. Dia selalu mengajak masuk
restoran, lebih higienis katanya. Dengan Gita, kami makan dimana saja
asal kenyang. Tak pernah malu bahkan saat jajan cilok di pinggir jalan.
Lah kenapa aku jadi mengingat Sandra, dia bukan apa-apa dibanding Gita.
"Mas aku ke kamar mandi dulu ya? Udah kebelet ini nunggu mas dari tadi,
lama banget," Gita segera berdiri bersiap ke kamar mandi. Kalau makan
di food court, memang aku yang bagian membeli makanan, Gita yang
bergerilya mencari tempat kosong.
"Lah kan adek yang minta makan
ini, sudah tahu antrinya lama. Ya sudah sana, keburu ngompol," kataku
sambil meletakkan baki ke meja.
Gita hanya nyengir dan segera ke
kamar mandi. Aku menunggu Gita kembali sembari memainkan ponsel. Tak
kusadari, ada yang berdiri di depanku,
"Kak, maaf disini kosong?" Aku mendongak dan terkejut. Dia sama terkejutnya denganku. Sandra.
Penampilannya agak berubah, dia tidak memakai gaun indah seperti biasa,
lebih mirip seragam SPG. Tetap kelihatan walau ditutupi sweater. Kesan
glamour yang dulu melekat pada dirinya sudah tidak terlihat.
"Mas
Abdul, beruntung bisa bertemu disini ya mas? Sendirian sajakah, aku
boleh duduk disini ya," Sandra langsung duduk tanpa menunggu jawabanku.
"Bisa kamu pindah San, aku tidak sendirian. Aku menunggu istriku.
Banyak kursi kosong lainnya, ngapain kamu kesini?" Yang ku katakan tidak
salah, ini baru jam 11, belum begitu ramai karena mall baru buka.
"Kamu tahu aku tak bisa makan sendirian kan mas, jadi aku coba mencari
teman makan. Tak ku sangka malah ketemunya kamu disini. Mungkin kita
memang masih ada jodoh kali ya mas," Aku sudah akan menyela tapi dia
terus berbicara,
"Jadi kamu sudah menikah mas? Mana istrimu? Aku
tak melihatnya. Tapi ku yakin dia tak lebih cantik dariku," Sandra tak
juga pergi malah siap-siap menyendok makanannya.
"Sandra,
pergilah. Dia di kamar mandi dan akan segera kembali. Aku tak ingin dia
berpikir macam-macam." Aku terang-terangan mengusirnya sekarang. Aku
bahkan menaikkan sedikit nada bicaraku.
"Mas, aku minta maaf atas
segala kesalahanku dulu. Aku menyesal telah meninggalkanmu. Sungguh aku
tak bermaksud begitu. Aku sadar aku yang kurang sabar dengan keadaan
kita waktu itu. Aku yakin kamu masih mengingat kebersamaan kita dulu,
bisakah kita mulai lagi? Aku janji akan berubah, memperbaiki kesalahanku
yang lalu. Aku bahkan belum menikah lagi sampai sekarang, karena aku
masih berharap padamu," Aku tak percaya, dia berani berbohong seperti
itu. Bahkan berani berusaha meraih tanganku, untung refleks ku bagus,
langsung ku tepis tangannya.
Gita sudah menceritakan
pernikahannya yang kacau dulu di Mojokerto. Seketika aku muak
terhadapnya. Ku lihat Gita berjalan ke arahku, memandang bingung siapa
wanita yang sedang bersamaku, hanya punggung Sandra yang dia lihat.
"Biarkan kami bahagia San, semoga kamu juga bahagia dengan pilihanmu.
Maaf aku sudah tak bisa memberimu apa-apa lagi, bahkan harapan
sekalipun. Tolong jangan ganggu kami lagi, aku duluan." Aku berdiri dan
menghampiri Gita, merangkulnya dan berkata agak keras,
"Ayo
sayang, katamu tadi ingin melihat pameran di bawah? Bolehlah kalau kamu
mau mini cooper, aku tak tega melihatmu panas-panasan lagi naik motor,"
Gita hanya menurut, tak membantah, dengan wajah bingung dia mengikutiku,
nanti saja ku beri tahu siapa wanita tadi. Aku tak ingin melihat Gita
disantap mulut jahat Sandra.
Tinggal Gita yang bengong, perasaan tadi pagi yang dimintanya adalah mixer, kenapa bisa jadi mini cooper.
Aku tak menoleh lagi ke belakang, tak pernah tahu kalau saat itu juga wajah Sandra seperti menelan bakmie berikut mangkoknya.
Aku tak peduli. Aku hanya menatap masa depan, yang sekarang ku genggam
erat di tanganku. Terpikir untuk menerima tawaran ibu berlibur ke
Hongkong, sekalian menjalankan 'misi' disana. Siapa tahu pulang nanti
keluarga kecil kami akan bertambah. Doakan saja.
End
-----
#aku_pelakor?
EXTRA PART
Tak henti aku mengamati pemandangan selama perjalanan dari bandara ke
apartemen ibu. Ini pertama kali aku ke luar negeri, jadi boleh ya kalau
aku kelihatan sedikit 'katrok'.
Mas Abdul duduk di depan bersama
kak Junsu yang sedang menyetir, kak Junsu anak satu-satunya ayah Lim
dari istri yang terdahulu. Mereka berbincang dengan bahasa Inggris,
sedikit-sedikit aku mengerti, walau kalau diajak bicara aku hanya bisa
nyengir. Inggrisku pasif sodara. Hanya bisa menyimak tak bisa menjawab.
Aku tahu mas Abdul bisa berbahasa inggris, tapi tak menyangka mas Abdul selancar ini. Apa lagi kejutan yang akan diberikannya.
*****
"Gita ! Abdul ! Kalian capek sayang? Bagaimana perjalanannya? Sini
cepat masuk, ibu sudah masak buat kalian," Ibu memelukku erat saat kami
tiba di apartemen beliau. Aku mencium punggung tangan ayah Lim, tak
lupa mencium Jia Li yang ikut menyambutku.
"Mana Mao bu, tidak kelihatan," Aku mencari keberadaan adik mas Abdul yang berusia 15 tahun itu.
"Ah dia tinggal di asrama sekarang, tapi besok dia akan kemari, ini
ayah baru mau pergi menjemputnya," Ayah Lim tersenyum dan berpamitan
setelah meminta maaf tidak bisa lama menyambut kami. Tapi beliau
berjanji akan cepat kembali bersama Mao.
Ayah Lim seorang kepala
sekolah. Ibu dulu bekerja merawat ibunya ayah Lim yang sudah lansia.
Istrinya telah meninggal dunia saat kak Junsu masih berumur 10 tahun.
Sebelum ibunya meninggal itulah, beliau meminta ayah Lim untuk tetap
bersama ibu. Ketulusan ibu merawat dirinya dan menjaga Junsu seperti
anaknya sendiri memberi arti yang besar baginya dan ayah Lim. Kak Junsu
juga sangat senang mendapatkan ibu sebagai ibu sambungnya.
"Ini
bu, pesanan ibu. Sama ada sedikit dari budhe Marni untuk kak Junsu dan
adik-adik," Aku mulai membongkar koperku setelah menikmati makanan luar
biasa enak hasil olahan ibu.
"Ah Fang pasti senang mendapatkan
ini, dia selalu penasaran saat ibu perlihatkan cara menggendong bayi di
Indonesia, nanti kamu ikut ibu ke tempat Fang dan Junsu ya Git, pas di
bawah kita tempat mereka," Ibu gembira sekali membuka selendang/jarit
untuk gendongan bayi.
Fang, istri kak Junsu sangat senang saat
kami berkunjung ke apartemennya. Kak Junsu tidak bisa hadir saat
pernikahan kami karena sedang menunggu kelahiran anak pertama mereka.
Kami mengobrol bertiga, lebih tepatnya ibu dan kak Fang yang asyik
mengobrol, aku nimbrung sesekali kalau ditanya, kebanyakan hanya sumbang
ketawa. Aku lebih sibuk menggoda bayi mereka. Ah kapan giliranku,
pikirku sambil mengelus perutku yang sedikit kembung karena angin.
*****
Dua hari ini ku habiskan berjalan-jalan dengan mas Abdul. Kadang
ditemani Mao, kadang bersama ibu dan ayah, kadang hanya berdua dengan
mas Abdul kalau masih di sekitaran tempat tinggal sini.
"Dek,
capek kah? Kalau capek, kita pulang sekarang ya? Wajahmu agak pucat,"
Mas Abdul memijit kakiku, aku terdampar di rerumputan sambil
menyelonjorkan kaki.
"Enggak mas, cuma agak pusing, mungkin
kepanasan. Tapi aku seneng lho mas, habis ini foto di kastil itu ya?"
Aku menunjuk satu kastil di Disneyland ini.
"Baik tuan putri,
perlu pangeran gendong kalau sudah tidak kuat jalan?" mas Abdul mengecup
keningku, tak tahu kenapa, akhir-akhir ini mas Abdul mesra sekali
padaku, lebih dari biasanya.
"Lebay, yuk ah jalan. Nanti ditinggal Mao dan Jian Li kalau kelamaan duduk," Aku berdiri dibantu suamiku yang ganteng ini.
Disneyland, Lady's Market, Kowloon Streetfood sudah kami jelajahi. Lusa
kami sudah harus sampai di Malang, cuti mas Abdul tidak panjang.
Oleh-oleh untuk pakdhe, budhe dan tiga kurawaku sudah aman di koper.
Hari ini ku habiskan bersama keluarga saja.
Malam ini ayah
mengajak kami semua makan di restoran Jepang favoritnya. Aku tidak
pernah berani makan sashimi sebelumnya, membayangkan ikan mentah masuk
ke perutku sudah cukup membuatku mual. Tapi melihat sashimi disini,
rasanya ingin mencoba. Malah akhirnya hanya itu yang ku makan
berkali-kali. Aneh ya, tapi itu yang kurasakan.
*****
Aku
terbangun dari tidurku, tiba-tiba perutku terasa sangat mual. Tak ku
jawab pertanyaan mas Abdul, aku berlari ke kamar mandi.
"Dek,
kamu ndak apa-apa? Kita ke klinik ya?" mas Abdul tiba-tiba sudah ada di
belakangku, mengelus punggungku. Aku hanya menunduk di wastafel,
mendadak ingin muntah lagi.
"Mungkin kebanyakan sashimi tadi ya
mas, perutku kaget. Aku baik-baik saja, ndak usah lah ke klinik, besok
kita sudah pulang juga," Aku membersihkan diri dan bermaksud kembali ke
tempat tidur.
"Tapi kamu pucat sekali, mas ambilkan obat dulu ya,
paling ga kamu minum obat sakit perut," Aku melihat mas Abdul akan
membongkar koper. Aku masih melihat dia berlari menuju diriku, lalu
semuanya gelap.
*****
"Alhamdulilah adek sudah siuman,"
Mas Abdul mengelus kepalaku perlahan. Saat aku sadar, aku tidak berada
di kamarku. Satu tanganku kebas, ketika ku raba ada infus menancap
disana. Interiornya mengingatkanku pada kamar kami di Malang sana.
"Kita sudah sampai di Malang mas?"
"Kita di klinik sayang, besok baru sampai di Malang. Kamu tidur lagi
ya? Istirahat. Biar kamu dan dedeknya kuat besok perjalanan pulang ke
Indonesia," Tatapan mas Abdul begitu syahdu, walau sudah sah menjadi
istrinya, tetap saja nyess kalau ditatap seperti itu. Eh sebentar, tadi
mas Abdul bilang dedek? Anak siapa yang mau diajak pulang?
"Dedek? Jia Li mau ikut ke Indonesia mas?" Aku menatapnya bingung. Bersamaan itu, ibu masuk ke kamar rawatku.
"Gitaaa !! Selamat ya sayang, kenapa kamu masih bangun? Ayo tidur lagi.
Atau tiketnya mau diundur sampai kamu pulih? Kurang baik juga hamil
muda naik pesawat, apalagi jarak jauh. Abdul biar pulang sendiri dulu,
nanti kamu belakangan, nanti gampang lah diantar siapa ke Indonesia,"
Ibu memelukku sambil terus berbicara.
"Hamil? Siapa? Aku??" Aku
tak percaya ini. Begitu cepat Allah memberikan kami pelengkap dalam
keluarga, seketika aku ingin menangis.
"Iya dek, kamu pingsan
karena kecapekan, sedang hamil muda malah jalan-jalan seharian. Kamu
juga bilang kan sebelum kesini kalau belum haid padahal sudah waktunya,
kamunya saja yang ngeyel ndak mau cek dulu, kesenengan mau kesini. Tau
gini mas batal kesini, di rumah aja lah, kesian istri dan anakku capek
jadinya," mas Abdul mengelus perutku. Aku masih tak percaya ini.
Benarkah ini ya Allah?
"Huush jangan begitu Abdul, kalau ga
begini kamu juga ga bakal sampai sini kan? Nyenengin istri itu pahalanya
besar. Lagipula selama disini Gita kelihatannya bahagia, ya kan Git?"
Aku mengangguk, belum bisa berkata apa-apa. Aku masih bingung, sekaligus
bahagia. Ternyata usia kandunganku sudah masuk minggu ketiga.
Terima kasih ya Allah, terima kasih untuk titipanMu ini. Aku berjanji akan benar-benar menjaga anugrahMu ini.
*****
Kami sampai di Juanda malam hari. Walau belum terlalu malam, mas Abdul
memutuskan untuk bermalam di Surabaya dulu, tidak langsung ke Malang.
Dia memikirkan kondisiku, sikapnya menjadi sangat protektif sejak
mengetahui aku mengandung anaknya.
"Dek jangan buru-buru jalannya, pelan saja, kalau ketinggalan pesawat, nanti booking lagi,"
"Dek jangan bawa itu, mas saja yang bawa, itu berat, adek bawa tas adek saja,"
"Dek jangan minum ini, ini ada sodanya, tidak bagus untuk ibu hamil,"
"Ini beneran mas ndak boleh ikut masuk, nanti kalau adek kenapa-kenapa
di dalam bagaimana? Adek jangan lama-lama ya, nanti mas kepikiran," Aku
benar-benar mengusirnya saat aku ijin ke kamar mandi di bandara dan dia
mengatakan ingin masuk menemaniku.
Jadilah aku menginap semalam di Surabaya. Mas Abdul terlihat bersiap keluar lagi, kami belum makan malam.
"Adek beneran ga apa-apa sendirian? Mas tinggal lho ya. Cuma pengen nasi bebek kan? Ga ada yang lain?" Aku menggeleng.
"Tidak mas, beli yang deket-deket saja, ndak usah jauh-jauh. Makasih ya mas, jangan lama-lama,"
"Ashiiiap kanjeng ratu. Ayah pergi dulu ya dek, maem bebek habis ini
kamu," mas Abdul mencium perutku sekilas. Aku tertawa melihat
tingkahnya.
Aku meraih ponselku saat mas Abdul sudah pergi. Baru
ku nyalakan, bunyi notifikasi beruntun berbunyi. Kebanyakan dari pesan
wa dan fb. Aku memang mengupload beberapa foto waktu di Hongkong. Banyak
juga yang berkomentar di laman fb. Tapi ada satu nama yang selalu
memberi jempol di postinganku beserta pesan messenger dari nama yang
sama membuat jantungku berdegup lebih kencang. Sandra Anggraini.
Aku melihat profilnya terlebih dahulu sebelum membuka pesannya. Benar,
itu mba Sandra, mantan mas Abdul. Aku bimbang, dibuka ga ya pesannya.
Akhirnya dengan membaca basmallah dan ayat kursi, ku beranikan membuka
pesannya, ternyata dia mengirim beberapa pesan karena tidak kunjung ku
balas,
S.A : [Selamat ya, akhirnya kamu mendapatkan yang kamu inginkan]
S.A : [Pintar kamu, Abdul sudah sukses kamu mau bersamanya. Aku yang menemani saat susah dilupakan begitu saja]
S.A : [Woow liburan ke luar negeri juga sekarang? Bahkan aku yang
bersamanya bertahun-tahun tak pernah diajak bertemu ibunya disana.
Benar-benar hebat kamu mengambil hati mereka. Pakai guna-guna apa kamu?]
S.A : [Dasar pelakor ! Harusnya aku masih bersama Abdul sekarang kalau
kamu tak hadir di antara kami. Dasar perusak rumah tangga orang. Bahagia
kamu sementara disini aku menderita? Wanita tak punya hati !! ]
Aku tak meneruskan membaca pesannya. Ponsel ku lempar begitu saja ke
sofa. Aku menangis. Tuhan, apa benar aku pelakor? Benarkah aku bahagia
di atas penderitaan wanita lain? Aku harus bagaimana sekarang?
*****
Sepanjang perjalanan ke Malang aku diam, memikirkan mba Sandra. Semalam
ketika mas Abdul mendapatiku menangis, aku hanya menunjuk ke ponselku
yang ternyata mendarat bebas di lantai. Setelah melihat ponselku,
wajahnya memerah. Di blokirnya semua akun mba Sandra, dari fb, ig
semuanya. Ternyata dia juga menguntit ig ku.
"Sudah dek, jangan
dipikirkan. Sandra itu gila. Ikut gila nanti kamu ngeladenin orang gila.
Kamu lagi hamil, jangan banyak pikiran,"
Satu tangan mas Abdul memegang setir sedang tangan lainnya mengenggam tanganku.
"Aku bukan pelakor kan mas? Aku berhubungan lagi denganmu saat statusmu
sudah resmi bercerai dengannya, aku bukan pelakor kan?" Aku terbata
saat mengatakannya. Mas Abdul kemudian menepikan mobilnya. Seperti de
javu, ini pernah terjadi sebelumnya. Aku menangis dan mas Abdul
menenangkanku.
"Gita, bisa kamu tenangkan pikiranmu? Tentu bukan
dek, kamu istriku, sah. Aku yang memilih bersamamu, bukan kamu yang
merebut aku darinya. Dia yang meninggalkanku, bersama kepercayaan yang
ku berikan padanya. Aku sama sekali tak ada niat kembali padanya, bahkan
memikirkannya pun tidak. Anggap dia kerikil, tendang jauh-jauh. Kamu
harus kuat, bukan hanya untukku, tapi juga untuk kamu sendiri dan anak
kita," Kala mendengar dia mengucap 'anak kita', seketika aku sadar. Ada
nyawa yang harus ku jaga di dalam sini. Aku harus kuat.
"Terima
kasih mas. Aku akan berusaha mengabaikannya. Berjanjilah selalu
bersamaku ya mas, ingatkan aku bila aku melakukan kesalahan. Tetaplah
bersamaku, kuatkan aku saat aku merasa rapuh," Aku menghapus air mataku.
"Pasti dek, pasti. Mas akan melakukan segalanya untuk kalian
berdua," Mas Abdul memelukku pelan. Kami melanjutkan perjalanan sampai
ke rumah kami. Tak ada lagi beban. Benar, anggap saja dia kerikil. Aku
akan menendangnya ke ujung dunia sana.
*****
Tujuh bulan
berlalu sangat cepat. Hanya Sisil yang bisa mengunjungiku ke Malang saat
aku mengundang para sahabatku untuk acara mitoni.
"Salam dari
Mita dan Lia ya git, kata mereka maaf belum bisa datang. Mita masih
lemas, habis mondok di rumah sakit seminggu, typusnya kumat. Lia pas
lamaran juga hari ini, jadi titip salam dulu." Sisil menjelaskan kenapa
mereka berhalangan hadir.
"Waduh kenapa ga ngabari lho Sil kalau
Mita masuk rumah sakit?? Tapi sudah keluar kan ya? Kalau Lia sudah
bilang tidak bisa kesini dari pertama aku ngundang dia memang. Aku juga
ga bisa dateng ke acaranya dia sih, perutku sudah besar ini," Aku
mengelus perutku yang sudah lumayan besar.
"Wes pokoknya doakan
saja. Eh jadi jalan ga? Sudah boleh cari peralatan bayi kan ya? Aku
temani ya Git, boleh ya?" Sisil memandangku penuh harap. Aku tertawa,
mengiyakannya. Kami pergi bersama budhe Marni ke sebuah mall di Malang
kota sana. Aku menolak diantar mas Abdul karena dia masih membantu
pakdhe beres-beres.
Akhirnya budhe dan Sisil yang bersemangat
berbelanja. Mereka baru bertemu ini, tapi sudah sangat cocok. Di antara
temanku yang lain, memang Sisil yang paling mudah bergaul. Dengan yang
lebih tua pun dia tak masalah. Aku hanya duduk mengamati mereka berburu
aneka perlengkapan bayi. Sebenarnya yang mau lahiran siapa, yang
semangat belanja siapa coba?
Aku tak sadar bahaya mendekatiku.
Saat aku berdiri bermaksud melihat Sisil dan budhe yang mulai tak
kelihatan, seseorang mencekal tanganku.
Aku sangat kaget melihat siapa yang menarik tanganku. Gusti, kenapa mantan mas Abdul ada disini setelah keadaan mulai membaik?
"Hai? Apa kabar pelakor?" Mba Sandra mencekal tanganku erat saat aku beranjak ingin pergi darinya.
"Lepas mba, aku tidak punya masalah apapun lagi dengan mba Sandra. Dan
tolong jangan panggil aku seperti itu." Aku berusaha melepaskan
cekalannya, tapi ini terlalu kencang.
"Emang ya, kalau maling
pasti tidak mau ngaku. Puas kamu sekarang? Sudah bisa bergaya sekarang
kelihatannya. Bagaimana rasanya jadi nyonya Abdul? Tinggal duduk manis
kebutuhanmu datang sendiri. Kalau aku jadi kamu, aku malu. Karena
harusnya itu aku yang menikmati kesuksesan Abdul karena aku yang
bersamanya saat susah," mba Sandra menatap sinis padaku. Gawat,
bendungan di mataku mulai jebol. Tanganku refleks mengelus perut.
"Oh hamil ya? Tak ku sangka. Selama denganku, Abdul belum bisa memberi
anak. Yakin itu anak Abdul?" Benar-benar dia sudah keterlaluan sekarang.
Aku sudah ingin pergi dari sini tapi dia terus memegangi tanganku.
"Plaakk !" Tiba-tiba sebuah tangan menampar pipi mulus mba Sandra.
Seketika pegangannya lepas dariku. Aku langsung berbalik, sudah ada
budhe Marni di belakangku, aku mencari perlindungan pada beliau.
Tak puas hanya menampar, Sisil menarik rambut mba Sandra yang diikat
satu. Mba Sandra mulai berteriak kesakitan, namun tak dihiraukan Sisil,
"Dasar kamu ya! Pelakor teriak pelakor ! Kamu yang minta cerai,
sekarang kamu nyalahin Gita !! Sudah kere minta balikan ! Makanya kalau
Tuhan bagi otak jangan ngilang !! Beraninya sama ibu hamil, sini sama
aku !" Sisil terus menjambak rambut mba Sandra, sampai jadi tontonan
orang-orang di sekitar kami.
"Jadi SPG event kamu sekarang? Masih
ikut kantor Surabaya kan? Pak Danang koordinatormu? Aku bisa pastikan
besok kamu sudah tidak bisa pakai seragam ini lagi, siap-siap cari
kerjaan lain !" Sisil sering menangani event-event yang diadakan
tokonya, menyewa SPG dari satu perusahaan outsourcing jadi dia
mengenali seragam SPG yang dikenakan mba Sandra sekarang.
Mba
Sandra mengkeret di tangan Sisil. Sisil lebih tinggi darinya, tampilan
Sisil yang tomboy membuatnya tak berani berkutik. Mulutnya terlihat akan
membantah tapi diurungkan. Satpam mulai datang, dan melerai kami. Mba
Sandra pergi begitu saja saat Sisil melepasnya.
"Awas kamu ganggu
Gita lagi. Tak jadikan dendeng balado kamu !!" Sisil masih sempat
meneriaki mba Sandra yang berlari meninggalkan kami. Budhe sibuk
menenangkan aku. Setelah selesai semuanya, kami pun pulang.
Mas
Abdul geram begitu mendengar aku diganggu mba Sandra tadi. Dia berterima
kasih pada Sisil sudah melindungi aku darinya. Semoga mba Sandra
benar-benar tidak menganggu kami lagi.
*****
"Allahu Akbar, Allahu Akbar...." Mas Abdul terlihat menahan tangis saat mengumandangkan adzan di telinga bayi kami.
Aku terharu melihatnya. Ibu dan bapakku juga datang, mereka di
sebelahku saat ini. Dari kemarin mereka sudah tiba di Malang. Pakdhe dan
budhe juga terus menemaniku sejak aku dibawa ke rumah sakit tadi pagi.
Setelah menahan sakit dari setelah subuh, akhirnya bersamaan dengan
adzan magrib aku melahirkan bayi laki-laki yang tampan.
Ibu sudah
menelpon dari tadi, ingin melihat cucunya. Hidung dan bentuk wajahnya
sangat mirip mas Abdul, hanya mataku yang menurun padanya.
Rizki
Adiyatta Kurniawan. Demikian mas Abdul memberi nama. Sang kuda perang
yang gagah berani. Mas Abdul meletakkan Rizki di sebelahku.
Kebahagiaanku membuncah,
"Terima kasih ya dek, sudah mau berjuang
untuk kami. Selamanya adek adalah wanita terhebat buat mas," mas Abdul
mengecup keningku, tak sungkan pada orang tua kami disini, aku masih
lemas jadi hanya bisa tersenyum.
Kebahagiaan kami nyaris
sempurna. Mba Sandra benar-benar tidak menganggu kami lagi, kata Sisil
dia terus mengawasi mba Sandra di Surabaya sana.
Aku bahagia.
Sangat bahagia. Dikelilingi orang-orang yang menyayangiku. Sekarang ada
baby Rizki yang melengkapi keluarga kecil kami. Semoga kami bisa
membesarkannya dengan baik. Aku bersyukur memiliki mas Abdul, bersyukur
bisa menjadi bagian dari hidupnya.
Aku mencintaimu mas Abdul.
tamat