Sabtu, 11 Januari 2020

AKU PELAKOR ? 11 - END

#aku_pelakor?
PART 11 (END)  
Febrianti Windyningrum


pov mas Abdul
"Saya terima nikah dan kawinnya Nagita Maharani binti Supeno dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."
"Sah?"
"SAAAAHH !!!"
Mulai detik ini, tanggungjawabku bertambah. Membahagiakan Gita adalah prioritas utamaku mulai saat ini.
Aku bersyukur acara akad ini berjalan dengan lancar. Gita terlihat begitu anggun, cantik dengan kebaya putihnya. Aku menahan air mata saat dia mencium punggung tanganku. Sebagai lelaki aku termasuk golongan mudah terharu tapi tidak melambai.

Pakdhe Son dan Budhe Marni terlihat sangat bahagia. Mereka menganggap Gita sudah seperti anak sendiri bahkan sebelum aku mengutarakan ingin menikahinya.
Kali ini, pernikahanku terasa sempurna. Ibuku bisa hadir, dengan ayah Lim. Mereka juga mengajak adik-adikku, Mao yang beranjak dewasa dan Jia Li si bungsu yang begitu cantik. Ibu memeluk Gita dengan sayang, menangis sampai sesegukan padahal ini acara pernikahan bukan pemakaman.

-------

Aku cukup terkejut saat dulu Gita menyebut mahar yang diinginkan. Tak terkecuali pakdhe dan budhe yang saat itu ikut melamar Gita, hanya satu minggu setelah aku datang ke rumahnya.
"Delapan ribu delapan ratus delapan puluh delapan rupiah. Empat kali angka delapan. Itu mahar yang ku inginkan mas," Gita tersenyum saat mengatakannya. Bapak ibu Gita juga menampilkan ekspresi bahagia, tak ada ekspresi tidak terima, marah atau apa.
"Gita, misal maksudmu delapan ribu adalah delapan juta rupiah, inshaAllah Abdul masih bisa memenuhi, tidak apa-apa nak" pelan-pelan pakdhe Son berbicara untuk merperjelas.
"Boten (tidak) pakdhe. Benar delapan ribu. Angka delapan itu istimewa, dia tak punya ujung, selalu ada jalan, semoga begitu juga pernikahan Gita kelak. Dan Gita suka angka 4, itu tanggal dan bulan lahir Gita," Sungguh, Gita di mataku semakin tak ternilai. Dia lebih dari berharga, tak akan aku lepaskan.

Jangan dikira tidak ada masalah sampai pernikahan ini terjadi. Perdebatan karena salah paham sempat membuat Gita mendiamkan aku dalam kurun waktu yang lama, kira-kira 6 jam mungkin.
Gara-gara aku dan pakdhe bermaksud ingin menanggung semua biaya pernikahan di Pati, karena kami tidak berencana resepsi lagi di Malang, tapi ditolak baik-baik oleh Bapak. Kata bapak, pihak lelaki boleh memberi sewajarnya, tapi tidak seluruhnya ditanggung. Tetap tanggungjawab seorang Bapak untuk menikahkan putrinya.
Karena salah paham, Gita pribadi mengira pihak kami menginjak harga diri keluarganya. Dikira bapak tidak mampu membuat pesta pernikahan, pikirnya waktu itu. Padahal bukan seperti itu. Baru setelah dibantu Sisil, Lia dan Mita, Gita baru luluh mau bicara baik-baik denganku. Aku berhutang banyak pada sahabat-sahabat Gita.

--------

Tamu sudah mulai sepi, aku lelah, ingin segera merebahkan tubuh.
Tapi aku ragu masuk sekarang atau nanti. Gita sudah tidak kelihatan, apa mungkin dia sudah di dalam?
Ku buka pelan-pelan pintu kamar, ku nyalakan lampu, aku masuk perlahan. Aku melihat kamar dihias layaknya kamar pengantin, tempat tidur sudah tertata rapi, kado-kado pernikahan sudah diberesi. Jantungku berdetak. Sesuatu dalam diriku bergejolak. Tapi mana wanitaku? Aku memutuskan untuk membersihkan diri dulu, aku ingin mengimaminya, kelihatannya dia juga belum salat isyak. Aku keluar lagi.
Saat akan mengambil wudhu di belakang, aku mendengar suara Gita, ternyata dia di dapur, mojok bersama ibunya yang masih beberes,

"Bu, Gita malam ini tidur sama ibu ya?" Loh kok gitu, pikirku seketika.
"Huush dosa nduk, ndak boleh gitu, sana masuk, temani suamimu. Kasihan dia menunggumu. Wes tho, jo kuatir. Ndang turu kono (Sudah, jangan khawatir. Cepat tidur sana)" Ibu menyahuti.

"Jadi ini ndak apa-apa kalau Gita sekamar sama mas Abdul?"
Duh Gita, awas kau. Rasanya ingin segera ku bopong saja anak itu ke kamar. Usia saja yang matang, kelakuan seperti bocah.

"Ya ndak apa-apa tho nduk, lupa tha kamu sudah sah tadi pagi? Perlu ibu panggilkan penghulu lagi, biar ijab lagi? Wes sana, huush huush minggir ibu mau mindahin dandang (tempat nasi)," Ibu sepertinya juga gemas sama anak gadisnya itu, didorongnya tubuh Gita pakai dandang nasi.
Aku keluar dari persembunyianku, ku lanjutkan ke kamar mandi. Aku mengambil wudhu dan kembali ke kamar. Gita sudah kembali ke kamar, sedang menghapus make up nya.
"Dek, sudah salat isyak? Ayo bareng, mas imami ya?" Gita langsung menoleh, wajahnya kelihatan semakin memerah karena pipinya belum selesai dibersihkan.

"Ah anu, itu mas, mas duluan saja, nanti aku nyusul," Gita terlihat kaku, aku mengiyakan, tak mau memaksakan. Aku tak tega melihat wajahnya yang tegang.
Selesai salat, dia masih sibuk membersihkan make up di wajahnya, padahal ku lihat dari cermin, wajahnya sudah sangat polos, cantik natural tanpa make up sedikitpun. Tapi digosok-gosoknya terus, mungkin berharap keluar jin dari pipinya.

"Dek," Aku berinisiatif duluan, aku memeluk dirinya dari belakang. Gita tiba-tiba berdiri dan menghadapku,

"Mas mau diambilkan minum? Aku ambilkan dulu ya?" Aku tersenyum melihat tingkahnya.
"Tidak dek, mas ndak haus," Aku meraih tangannya pelan,
"Eh atau mas mau makan? Tadi kayanya belum sempat makan, aku ambilkan ya?"
"Sudah dek, tadi kan makan sama adek, nambah dua piring malah, lupa tha? Duduk sini saja lho, temani mas,"

"Eh , oh itu mas, anu... Loh mas denger ga, kayanya Jia Li nangis deh, beneran, denger ga mas, ada anak kecil nangis, aku lihat dulu ya, kasihan kalau nangis," Aku semakin gemas pada istriku ini,
"Dek, Jia Li sudah pergi dari tadi. Ibu dan ayah menginap di hotel kan? Bukannya tadi kamu sudah dipamiti, bahkan ditawari ikut ke hotel juga sama aku, tapi kamunya ga mau. Lagipula Jia Li sudah 12 tahun, bukan anak kecil lagi," Aku mulai tak sabar,

"Kalau kamu dengar suara anak kecil nangis, wah berarti kamu denger apa itu dek? Sudah ndak ada anak kecil lho, semua keponakanmu juga sudah pada pulang," Aku menakut-nakuti Gita. Gita bingung, mungkin kehabisan ide mau kabur dengan alasan apa lagi.
"Sini duduk, mas kasih tahu sesuatu," Aku mendudukkan Gita di pinggiran bed. Perlahan dia mau juga akhirnya duduk di sebelahku.

"Kamu ikuti yang mas ucapkan ya," Kataku seraya mengusap kepalanya.
"Mas, stop ! Tunggu ! Hop ! Ada yang mau Gita bilang tapi mas jangan marah ya," Gita terlihat cemas saat mengucapkan itu. Aku menunggunya.
"Mas itu, nganu, aku itu.. " Gita mengulur ucapannya, wajahnya seperti pesakitan yang mau dihukum mati. Ku tunggu sampai 10 menit, tak juga dia bicara. Cuma posisi duduknya sudah seperti ayam mau disembelih. Tak bisa tenang.

"Udah dek, ya sudah kalau adek belum siap, yawis ayo tidur saja. Besok katanya mau jalan-jalan pagi ke kebun kopi? Mas ndak apa-apa, udah sini tidur, janji ga bakal diapa-apain," Akhirnya aku hanya mencium keningnya dan bersiap menarik selimut.
Tiba-tiba Gita menarikku, dan memelukku. Aku kaget tapi juga senang. Dia membisikkan sesuatu di telingaku, aku terdiam kemudian terbahak. Jadi itu kenapa dia begitu takut padaku malam ini.
"Mas ga akan marah karena itu dek, itu sudah kodrat wanita. Bilang dari tadi harusnya, mas ga tega lihat wajah adek tegang begitu. Perutnya sakit ga? Mas buatkan teh hangat ya?" Aku mengelus kepalanya lembut, sekarang baru dia mau bersandar padaku.

"Ga usah mas, tadi sudah minum air hangat. Perutku ga sakit kok. Cuma kata Sisil, mas bakal marah kalau tahu, karena ini malam pertama. Makanya aku menghindar terus. Aku takut mas kecewa, lalu marah beneran." Gita menunduk dalam, aku hanya tertawa mendengarnya.
"Ya sudah ayo tidur, mas redupkan lampunya ya?" Aku mematikan lampu utama dan menuntun Gita tidur.
"Mas?"
"Ya?"
"Boleh peluk?"
Aku tertawa, ya yang ini bisa lah, kalau yang 'itu', mungkin aku harus bersabar semingguan lagi.
Gita, Gita, aku bersyukur memilikimu.

-------------

Gita ku boyong ke Malang setelah menikah. Dia resign dari pekerjaannya seminggu sebelum acara pernikahan.
Sebelum menikah masalah rumah tinggal sudah kami bicarakan. Tadinya dia mau ku ajak tinggal di perumahan daerah Malang kota, aku membelinya setelah rumah yang dulu ku jual pada temanku yang bertahun-tahun kontrak disitu.

Aku tak mungkin membawa Gita ke rumah yang pernah aku tinggali dengan Sandra, rasanya kurang etis, menurutku.
Tapi Gita ingin tinggal dekat dengan budhe Marni, katanya biar dia tidak kesepian saat ku tinggal kerja. Kalau bisa malah tinggal sekalian sama budhe, yang disambut antusias oleh budhe Marni. Aku tahu alasan Gita sebenarnya mau menemani pakdhe dan budhe yang mulai sepuh, walau dia tidak pernah mengatakan langsung. Aku sungguh beruntung memiliki Gita.

Tapi aku menolak, menurutku tidak baik kalau sudah menikah masih ikut orang tua. Jadilah kami tinggal di sebelah rumah Pakdhe. Sebenarnya dulu ini rumah untuk para pekerja pakdhe yang mau menginap, tapi sekarang sudah kosong karena rata-rata pekerjanya sudah pada menikah. Hanya direnovasi sedikit menurut selera Gita, setelah menikah sudah bisa langsung kami tempati.
Ku lakukan semua syarat-syarat menjadi suami ideal menurut kriteria emak-emak KBM. Mengajaknya jalan-jalan, kadang memberinya hadiah, menawari seorang ART namun ditolak. Aku bahkan pernah mengajaknya ke salon, tapi dia malah bengong,

"Mau ngapain mas? Aku belum mau potong rambut," Akhirnya dia menolak ketika ku jelaskan mungkin dia ingin perawatan, memilih ke toko buku saja. Baru kemudian aku tahu, jangankan perawatan ke salon, dia bahkan tidak tahu kalau foundation dan concealer adalah dua benda yang berbeda.
Saat ku tinggal bekerja, dia sering menghabiskan waktu dengan membaca, kalau tidak main ke rumah Budhe. Kadang dia menghubungi teman-temannya. Aku pernah menegurnya saat dia terlihat melamun. Tapi Gita bilang tidak ada apa-apa sambil tersenyum.
Aku tahu kalau wanita sudah terbiasa bekerja, pasti akan mudah bosan hanya diam di rumah. Jadi ku tawari untuk meneruskan kuliahnya, agar ada kegiatan, pertama dia menolak. Setelah dibujuk, dia mau juga akhirnya, mengiyakan sambil menangis. Wanitaku ini memang mudah terharu.

*****

Weekend ini kami berkunjung ke Surabaya, Gita kangen teman-temannya katanya. Aku turuti mumpung sedang libur juga. Sambil menunggu jam janjian dengan teman-temannya, kami berkeliling dulu. Kami makan di food court, tak jarang bercanda layaknya abg yang sedang kasmaran.

Dengan Sandra dulu, aku tak pernah makan di food court ataupun di emperan. Sandra tak pernah mau. Katanya tidak ada privacy. Dia selalu mengajak masuk restoran, lebih higienis katanya. Dengan Gita, kami makan dimana saja asal kenyang. Tak pernah malu bahkan saat jajan cilok di pinggir jalan.
Lah kenapa aku jadi mengingat Sandra, dia bukan apa-apa dibanding Gita.
"Mas aku ke kamar mandi dulu ya? Udah kebelet ini nunggu mas dari tadi, lama banget," Gita segera berdiri bersiap ke kamar mandi. Kalau makan di food court, memang aku yang bagian membeli makanan, Gita yang bergerilya mencari tempat kosong.

"Lah kan adek yang minta makan ini, sudah tahu antrinya lama. Ya sudah sana, keburu ngompol," kataku sambil meletakkan baki ke meja.
Gita hanya nyengir dan segera ke kamar mandi. Aku menunggu Gita kembali sembari memainkan ponsel. Tak kusadari, ada yang berdiri di depanku,
"Kak, maaf disini kosong?" Aku mendongak dan terkejut. Dia sama terkejutnya denganku. Sandra.
Penampilannya agak berubah, dia tidak memakai gaun indah seperti biasa, lebih mirip seragam SPG. Tetap kelihatan walau ditutupi sweater. Kesan glamour yang dulu melekat pada dirinya sudah tidak terlihat.

"Mas Abdul, beruntung bisa bertemu disini ya mas? Sendirian sajakah, aku boleh duduk disini ya," Sandra langsung duduk tanpa menunggu jawabanku.
"Bisa kamu pindah San, aku tidak sendirian. Aku menunggu istriku. Banyak kursi kosong lainnya, ngapain kamu kesini?" Yang ku katakan tidak salah, ini baru jam 11, belum begitu ramai karena mall baru buka.

"Kamu tahu aku tak bisa makan sendirian kan mas, jadi aku coba mencari teman makan. Tak ku sangka malah ketemunya kamu disini. Mungkin kita memang masih ada jodoh kali ya mas," Aku sudah akan menyela tapi dia terus berbicara,

"Jadi kamu sudah menikah mas? Mana istrimu? Aku tak melihatnya. Tapi ku yakin dia tak lebih cantik dariku," Sandra tak juga pergi malah siap-siap menyendok makanannya.
"Sandra, pergilah. Dia di kamar mandi dan akan segera kembali. Aku tak ingin dia berpikir macam-macam." Aku terang-terangan mengusirnya sekarang. Aku bahkan menaikkan sedikit nada bicaraku.
"Mas, aku minta maaf atas segala kesalahanku dulu. Aku menyesal telah meninggalkanmu. Sungguh aku tak bermaksud begitu. Aku sadar aku yang kurang sabar dengan keadaan kita waktu itu. Aku yakin kamu masih mengingat kebersamaan kita dulu, bisakah kita mulai lagi? Aku janji akan berubah, memperbaiki kesalahanku yang lalu. Aku bahkan belum menikah lagi sampai sekarang, karena aku masih berharap padamu," Aku tak percaya, dia berani berbohong seperti itu. Bahkan berani berusaha meraih tanganku, untung refleks ku bagus, langsung ku tepis tangannya.
Gita sudah menceritakan pernikahannya yang kacau dulu di Mojokerto. Seketika aku muak terhadapnya. Ku lihat Gita berjalan ke arahku, memandang bingung siapa wanita yang sedang bersamaku, hanya punggung Sandra yang dia lihat.

"Biarkan kami bahagia San, semoga kamu juga bahagia dengan pilihanmu. Maaf aku sudah tak bisa memberimu apa-apa lagi, bahkan harapan sekalipun. Tolong jangan ganggu kami lagi, aku duluan." Aku berdiri dan menghampiri Gita, merangkulnya dan berkata agak keras,
"Ayo sayang, katamu tadi ingin melihat pameran di bawah? Bolehlah kalau kamu mau mini cooper, aku tak tega melihatmu panas-panasan lagi naik motor," Gita hanya menurut, tak membantah, dengan wajah bingung dia mengikutiku, nanti saja ku beri tahu siapa wanita tadi. Aku tak ingin melihat Gita disantap mulut jahat Sandra.

Tinggal Gita yang bengong, perasaan tadi pagi yang dimintanya adalah mixer, kenapa bisa jadi mini cooper.
Aku tak menoleh lagi ke belakang, tak pernah tahu kalau saat itu juga wajah Sandra seperti menelan bakmie berikut mangkoknya.
Aku tak peduli. Aku hanya menatap masa depan, yang sekarang ku genggam erat di tanganku. Terpikir untuk menerima tawaran ibu berlibur ke Hongkong, sekalian menjalankan 'misi' disana. Siapa tahu pulang nanti keluarga kecil kami akan bertambah. Doakan saja.
End

-----


#aku_pelakor?
EXTRA PART

Tak henti aku mengamati pemandangan selama perjalanan dari bandara ke apartemen ibu. Ini pertama kali aku ke luar negeri, jadi boleh ya kalau aku kelihatan sedikit 'katrok'.
Mas Abdul duduk di depan bersama kak Junsu yang sedang menyetir, kak Junsu anak satu-satunya ayah Lim dari istri yang terdahulu. Mereka berbincang dengan bahasa Inggris, sedikit-sedikit aku mengerti, walau kalau diajak bicara aku hanya bisa nyengir. Inggrisku pasif sodara. Hanya bisa menyimak tak bisa menjawab.
Aku tahu mas Abdul bisa berbahasa inggris, tapi tak menyangka mas Abdul selancar ini. Apa lagi kejutan yang akan diberikannya.

*****

"Gita ! Abdul ! Kalian capek sayang? Bagaimana perjalanannya? Sini cepat masuk, ibu sudah masak buat kalian," Ibu memelukku erat saat kami tiba di apartemen beliau. Aku mencium punggung tangan ayah Lim, tak lupa mencium Jia Li yang ikut menyambutku.
"Mana Mao bu, tidak kelihatan," Aku mencari keberadaan adik mas Abdul yang berusia 15 tahun itu.
"Ah dia tinggal di asrama sekarang, tapi besok dia akan kemari, ini ayah baru mau pergi menjemputnya," Ayah Lim tersenyum dan berpamitan setelah meminta maaf tidak bisa lama menyambut kami. Tapi beliau berjanji akan cepat kembali bersama Mao.

Ayah Lim seorang kepala sekolah. Ibu dulu bekerja merawat ibunya ayah Lim yang sudah lansia. Istrinya telah meninggal dunia saat kak Junsu masih berumur 10 tahun. Sebelum ibunya meninggal itulah, beliau meminta ayah Lim untuk tetap bersama ibu. Ketulusan ibu merawat dirinya dan menjaga Junsu seperti anaknya sendiri memberi arti yang besar baginya dan ayah Lim. Kak Junsu juga sangat senang mendapatkan ibu sebagai ibu sambungnya.

"Ini bu, pesanan ibu. Sama ada sedikit dari budhe Marni untuk kak Junsu dan adik-adik," Aku mulai membongkar koperku setelah menikmati makanan luar biasa enak hasil olahan ibu.
"Ah Fang pasti senang mendapatkan ini, dia selalu penasaran saat ibu perlihatkan cara menggendong bayi di Indonesia, nanti kamu ikut ibu ke tempat Fang dan Junsu ya Git, pas di bawah kita tempat mereka," Ibu gembira sekali membuka selendang/jarit untuk gendongan bayi.

Fang, istri kak Junsu sangat senang saat kami berkunjung ke apartemennya. Kak Junsu tidak bisa hadir saat pernikahan kami karena sedang menunggu kelahiran anak pertama mereka. Kami mengobrol bertiga, lebih tepatnya ibu dan kak Fang yang asyik mengobrol, aku nimbrung sesekali kalau ditanya, kebanyakan hanya sumbang ketawa. Aku lebih sibuk menggoda bayi mereka. Ah kapan giliranku, pikirku sambil mengelus perutku yang sedikit kembung karena angin.

*****

Dua hari ini ku habiskan berjalan-jalan dengan mas Abdul. Kadang ditemani Mao, kadang bersama ibu dan ayah, kadang hanya berdua dengan mas Abdul kalau masih di sekitaran tempat tinggal sini.
"Dek, capek kah? Kalau capek, kita pulang sekarang ya? Wajahmu agak pucat," Mas Abdul memijit kakiku, aku terdampar di rerumputan sambil menyelonjorkan kaki.
"Enggak mas, cuma agak pusing, mungkin kepanasan. Tapi aku seneng lho mas, habis ini foto di kastil itu ya?" Aku menunjuk satu kastil di Disneyland ini.

"Baik tuan putri, perlu pangeran gendong kalau sudah tidak kuat jalan?" mas Abdul mengecup keningku, tak tahu kenapa, akhir-akhir ini mas Abdul mesra sekali padaku, lebih dari biasanya.
"Lebay, yuk ah jalan. Nanti ditinggal Mao dan Jian Li kalau kelamaan duduk," Aku berdiri dibantu suamiku yang ganteng ini.

Disneyland, Lady's Market, Kowloon Streetfood sudah kami jelajahi. Lusa kami sudah harus sampai di Malang, cuti mas Abdul tidak panjang. Oleh-oleh untuk pakdhe, budhe dan tiga kurawaku sudah aman di koper. Hari ini ku habiskan bersama keluarga saja.
Malam ini ayah mengajak kami semua makan di restoran Jepang favoritnya. Aku tidak pernah berani makan sashimi sebelumnya, membayangkan ikan mentah masuk ke perutku sudah cukup membuatku mual. Tapi melihat sashimi disini, rasanya ingin mencoba. Malah akhirnya hanya itu yang ku makan berkali-kali. Aneh ya, tapi itu yang kurasakan.

*****

Aku terbangun dari tidurku, tiba-tiba perutku terasa sangat mual. Tak ku jawab pertanyaan mas Abdul, aku berlari ke kamar mandi.
"Dek, kamu ndak apa-apa? Kita ke klinik ya?" mas Abdul tiba-tiba sudah ada di belakangku, mengelus punggungku. Aku hanya menunduk di wastafel, mendadak ingin muntah lagi.
"Mungkin kebanyakan sashimi tadi ya mas, perutku kaget. Aku baik-baik saja, ndak usah lah ke klinik, besok kita sudah pulang juga," Aku membersihkan diri dan bermaksud kembali ke tempat tidur.
"Tapi kamu pucat sekali, mas ambilkan obat dulu ya, paling ga kamu minum obat sakit perut," Aku melihat mas Abdul akan membongkar koper. Aku masih melihat dia berlari menuju diriku, lalu semuanya gelap.

*****

"Alhamdulilah adek sudah siuman," Mas Abdul mengelus kepalaku perlahan. Saat aku sadar, aku tidak berada di kamarku. Satu tanganku kebas, ketika ku raba ada infus menancap disana. Interiornya mengingatkanku pada kamar kami di Malang sana.
"Kita sudah sampai di Malang mas?"
"Kita di klinik sayang, besok baru sampai di Malang. Kamu tidur lagi ya? Istirahat. Biar kamu dan dedeknya kuat besok perjalanan pulang ke Indonesia," Tatapan mas Abdul begitu syahdu, walau sudah sah menjadi istrinya, tetap saja nyess kalau ditatap seperti itu. Eh sebentar, tadi mas Abdul bilang dedek? Anak siapa yang mau diajak pulang?
"Dedek? Jia Li mau ikut ke Indonesia mas?" Aku menatapnya bingung. Bersamaan itu, ibu masuk ke kamar rawatku.

"Gitaaa !! Selamat ya sayang, kenapa kamu masih bangun? Ayo tidur lagi. Atau tiketnya mau diundur sampai kamu pulih? Kurang baik juga hamil muda naik pesawat, apalagi jarak jauh. Abdul biar pulang sendiri dulu, nanti kamu belakangan, nanti gampang lah diantar siapa ke Indonesia," Ibu memelukku sambil terus berbicara.
"Hamil? Siapa? Aku??" Aku tak percaya ini. Begitu cepat Allah memberikan kami pelengkap dalam keluarga, seketika aku ingin menangis.

"Iya dek, kamu pingsan karena kecapekan, sedang hamil muda malah jalan-jalan seharian. Kamu juga bilang kan sebelum kesini kalau belum haid padahal sudah waktunya, kamunya saja yang ngeyel ndak mau cek dulu, kesenengan mau kesini. Tau gini mas batal kesini, di rumah aja lah, kesian istri dan anakku capek jadinya," mas Abdul mengelus perutku. Aku masih tak percaya ini. Benarkah ini ya Allah?
"Huush jangan begitu Abdul, kalau ga begini kamu juga ga bakal sampai sini kan? Nyenengin istri itu pahalanya besar. Lagipula selama disini Gita kelihatannya bahagia, ya kan Git?" Aku mengangguk, belum bisa berkata apa-apa. Aku masih bingung, sekaligus bahagia. Ternyata usia kandunganku sudah masuk minggu ketiga.
Terima kasih ya Allah, terima kasih untuk titipanMu ini. Aku berjanji akan benar-benar menjaga anugrahMu ini.

*****

Kami sampai di Juanda malam hari. Walau belum terlalu malam, mas Abdul memutuskan untuk bermalam di Surabaya dulu, tidak langsung ke Malang. Dia memikirkan kondisiku, sikapnya menjadi sangat protektif sejak mengetahui aku mengandung anaknya.
"Dek jangan buru-buru jalannya, pelan saja, kalau ketinggalan pesawat, nanti booking lagi,"
"Dek jangan bawa itu, mas saja yang bawa, itu berat, adek bawa tas adek saja,"
"Dek jangan minum ini, ini ada sodanya, tidak bagus untuk ibu hamil,"
"Ini beneran mas ndak boleh ikut masuk, nanti kalau adek kenapa-kenapa di dalam bagaimana? Adek jangan lama-lama ya, nanti mas kepikiran," Aku benar-benar mengusirnya saat aku ijin ke kamar mandi di bandara dan dia mengatakan ingin masuk menemaniku.
Jadilah aku menginap semalam di Surabaya. Mas Abdul terlihat bersiap keluar lagi, kami belum makan malam.
"Adek beneran ga apa-apa sendirian? Mas tinggal lho ya. Cuma pengen nasi bebek kan? Ga ada yang lain?" Aku menggeleng.
"Tidak mas, beli yang deket-deket saja, ndak usah jauh-jauh. Makasih ya mas, jangan lama-lama,"
"Ashiiiap kanjeng ratu. Ayah pergi dulu ya dek, maem bebek habis ini kamu," mas Abdul mencium perutku sekilas. Aku tertawa melihat tingkahnya.

Aku meraih ponselku saat mas Abdul sudah pergi. Baru ku nyalakan, bunyi notifikasi beruntun berbunyi. Kebanyakan dari pesan wa dan fb. Aku memang mengupload beberapa foto waktu di Hongkong. Banyak juga yang berkomentar di laman fb. Tapi ada satu nama yang selalu memberi jempol di postinganku beserta pesan messenger dari nama yang sama membuat jantungku berdegup lebih kencang. Sandra Anggraini.
Aku melihat profilnya terlebih dahulu sebelum membuka pesannya. Benar, itu mba Sandra, mantan mas Abdul. Aku bimbang, dibuka ga ya pesannya. Akhirnya dengan membaca basmallah dan ayat kursi, ku beranikan membuka pesannya, ternyata dia mengirim beberapa pesan karena tidak kunjung ku balas,

S.A : [Selamat ya, akhirnya kamu mendapatkan yang kamu inginkan]
S.A : [Pintar kamu, Abdul sudah sukses kamu mau bersamanya. Aku yang menemani saat susah dilupakan begitu saja]
S.A : [Woow liburan ke luar negeri juga sekarang? Bahkan aku yang bersamanya bertahun-tahun tak pernah diajak bertemu ibunya disana. Benar-benar hebat kamu mengambil hati mereka. Pakai guna-guna apa kamu?]
S.A : [Dasar pelakor ! Harusnya aku masih bersama Abdul sekarang kalau kamu tak hadir di antara kami. Dasar perusak rumah tangga orang. Bahagia kamu sementara disini aku menderita? Wanita tak punya hati !! ]
Aku tak meneruskan membaca pesannya. Ponsel ku lempar begitu saja ke sofa. Aku menangis. Tuhan, apa benar aku pelakor? Benarkah aku bahagia di atas penderitaan wanita lain? Aku harus bagaimana sekarang?

*****

Sepanjang perjalanan ke Malang aku diam, memikirkan mba Sandra. Semalam ketika mas Abdul mendapatiku menangis, aku hanya menunjuk ke ponselku yang ternyata mendarat bebas di lantai. Setelah melihat ponselku, wajahnya memerah. Di blokirnya semua akun mba Sandra, dari fb, ig semuanya. Ternyata dia juga menguntit ig ku.
"Sudah dek, jangan dipikirkan. Sandra itu gila. Ikut gila nanti kamu ngeladenin orang gila. Kamu lagi hamil, jangan banyak pikiran,"
Satu tangan mas Abdul memegang setir sedang tangan lainnya mengenggam tanganku.
"Aku bukan pelakor kan mas? Aku berhubungan lagi denganmu saat statusmu sudah resmi bercerai dengannya, aku bukan pelakor kan?" Aku terbata saat mengatakannya. Mas Abdul kemudian menepikan mobilnya. Seperti de javu, ini pernah terjadi sebelumnya. Aku menangis dan mas Abdul menenangkanku.

"Gita, bisa kamu tenangkan pikiranmu? Tentu bukan dek, kamu istriku, sah. Aku yang memilih bersamamu, bukan kamu yang merebut aku darinya. Dia yang meninggalkanku, bersama kepercayaan yang ku berikan padanya. Aku sama sekali tak ada niat kembali padanya, bahkan memikirkannya pun tidak. Anggap dia kerikil, tendang jauh-jauh. Kamu harus kuat, bukan hanya untukku, tapi juga untuk kamu sendiri dan anak kita," Kala mendengar dia mengucap 'anak kita', seketika aku sadar. Ada nyawa yang harus ku jaga di dalam sini. Aku harus kuat.

"Terima kasih mas. Aku akan berusaha mengabaikannya. Berjanjilah selalu bersamaku ya mas, ingatkan aku bila aku melakukan kesalahan. Tetaplah bersamaku, kuatkan aku saat aku merasa rapuh," Aku menghapus air mataku.
"Pasti dek, pasti. Mas akan melakukan segalanya untuk kalian berdua," Mas Abdul memelukku pelan. Kami melanjutkan perjalanan sampai ke rumah kami. Tak ada lagi beban. Benar, anggap saja dia kerikil. Aku akan menendangnya ke ujung dunia sana.

*****

Tujuh bulan berlalu sangat cepat. Hanya Sisil yang bisa mengunjungiku ke Malang saat aku mengundang para sahabatku untuk acara mitoni.
"Salam dari Mita dan Lia ya git, kata mereka maaf belum bisa datang. Mita masih lemas, habis mondok di rumah sakit seminggu, typusnya kumat. Lia pas lamaran juga hari ini, jadi titip salam dulu." Sisil menjelaskan kenapa mereka berhalangan hadir.

"Waduh kenapa ga ngabari lho Sil kalau Mita masuk rumah sakit?? Tapi sudah keluar kan ya? Kalau Lia sudah bilang tidak bisa kesini dari pertama aku ngundang dia memang. Aku juga ga bisa dateng ke acaranya dia sih, perutku sudah besar ini," Aku mengelus perutku yang sudah lumayan besar.
"Wes pokoknya doakan saja. Eh jadi jalan ga? Sudah boleh cari peralatan bayi kan ya? Aku temani ya Git, boleh ya?" Sisil memandangku penuh harap. Aku tertawa, mengiyakannya. Kami pergi bersama budhe Marni ke sebuah mall di Malang kota sana. Aku menolak diantar mas Abdul karena dia masih membantu pakdhe beres-beres.

Akhirnya budhe dan Sisil yang bersemangat berbelanja. Mereka baru bertemu ini, tapi sudah sangat cocok. Di antara temanku yang lain, memang Sisil yang paling mudah bergaul. Dengan yang lebih tua pun dia tak masalah. Aku hanya duduk mengamati mereka berburu aneka perlengkapan bayi. Sebenarnya yang mau lahiran siapa, yang semangat belanja siapa coba?
Aku tak sadar bahaya mendekatiku. Saat aku berdiri bermaksud melihat Sisil dan budhe yang mulai tak kelihatan, seseorang mencekal tanganku.

Aku sangat kaget melihat siapa yang menarik tanganku. Gusti, kenapa mantan mas Abdul ada disini setelah keadaan mulai membaik?
"Hai? Apa kabar pelakor?" Mba Sandra mencekal tanganku erat saat aku beranjak ingin pergi darinya.
"Lepas mba, aku tidak punya masalah apapun lagi dengan mba Sandra. Dan tolong jangan panggil aku seperti itu." Aku berusaha melepaskan cekalannya, tapi ini terlalu kencang.
"Emang ya, kalau maling pasti tidak mau ngaku. Puas kamu sekarang? Sudah bisa bergaya sekarang kelihatannya. Bagaimana rasanya jadi nyonya Abdul? Tinggal duduk manis kebutuhanmu datang sendiri. Kalau aku jadi kamu, aku malu. Karena harusnya itu aku yang menikmati kesuksesan Abdul karena aku yang bersamanya saat susah," mba Sandra menatap sinis padaku. Gawat, bendungan di mataku mulai jebol. Tanganku refleks mengelus perut.

"Oh hamil ya? Tak ku sangka. Selama denganku, Abdul belum bisa memberi anak. Yakin itu anak Abdul?" Benar-benar dia sudah keterlaluan sekarang. Aku sudah ingin pergi dari sini tapi dia terus memegangi tanganku.
"Plaakk !" Tiba-tiba sebuah tangan menampar pipi mulus mba Sandra. Seketika pegangannya lepas dariku. Aku langsung berbalik, sudah ada budhe Marni di belakangku, aku mencari perlindungan pada beliau.
Tak puas hanya menampar, Sisil menarik rambut mba Sandra yang diikat satu. Mba Sandra mulai berteriak kesakitan, namun tak dihiraukan Sisil,
"Dasar kamu ya! Pelakor teriak pelakor ! Kamu yang minta cerai, sekarang kamu nyalahin Gita !! Sudah kere minta balikan ! Makanya kalau Tuhan bagi otak jangan ngilang !! Beraninya sama ibu hamil, sini sama aku !" Sisil terus menjambak rambut mba Sandra, sampai jadi tontonan orang-orang di sekitar kami.

"Jadi SPG event kamu sekarang? Masih ikut kantor Surabaya kan? Pak Danang koordinatormu? Aku bisa pastikan besok kamu sudah tidak bisa pakai seragam ini lagi, siap-siap cari kerjaan lain !" Sisil sering menangani event-event yang diadakan tokonya, menyewa SPG dari satu perusahaan outsourcing jadi dia mengenali seragam SPG yang dikenakan mba Sandra sekarang.
Mba Sandra mengkeret di tangan Sisil. Sisil lebih tinggi darinya, tampilan Sisil yang tomboy membuatnya tak berani berkutik. Mulutnya terlihat akan membantah tapi diurungkan. Satpam mulai datang, dan melerai kami. Mba Sandra pergi begitu saja saat Sisil melepasnya.

"Awas kamu ganggu Gita lagi. Tak jadikan dendeng balado kamu !!" Sisil masih sempat meneriaki mba Sandra yang berlari meninggalkan kami. Budhe sibuk menenangkan aku. Setelah selesai semuanya, kami pun pulang.
Mas Abdul geram begitu mendengar aku diganggu mba Sandra tadi. Dia berterima kasih pada Sisil sudah melindungi aku darinya. Semoga mba Sandra benar-benar tidak menganggu kami lagi.

*****

"Allahu Akbar, Allahu Akbar...." Mas Abdul terlihat menahan tangis saat mengumandangkan adzan di telinga bayi kami.
Aku terharu melihatnya. Ibu dan bapakku juga datang, mereka di sebelahku saat ini. Dari kemarin mereka sudah tiba di Malang. Pakdhe dan budhe juga terus menemaniku sejak aku dibawa ke rumah sakit tadi pagi. Setelah menahan sakit dari setelah subuh, akhirnya bersamaan dengan adzan magrib aku melahirkan bayi laki-laki yang tampan.

Ibu sudah menelpon dari tadi, ingin melihat cucunya. Hidung dan bentuk wajahnya sangat mirip mas Abdul, hanya mataku yang menurun padanya.
Rizki Adiyatta Kurniawan. Demikian mas Abdul memberi nama. Sang kuda perang yang gagah berani. Mas Abdul meletakkan Rizki di sebelahku. Kebahagiaanku membuncah,
"Terima kasih ya dek, sudah mau berjuang untuk kami. Selamanya adek adalah wanita terhebat buat mas," mas Abdul mengecup keningku, tak sungkan pada orang tua kami disini, aku masih lemas jadi hanya bisa tersenyum.

Kebahagiaan kami nyaris sempurna. Mba Sandra benar-benar tidak menganggu kami lagi, kata Sisil dia terus mengawasi mba Sandra di Surabaya sana.
Aku bahagia. Sangat bahagia. Dikelilingi orang-orang yang menyayangiku. Sekarang ada baby Rizki yang melengkapi keluarga kecil kami. Semoga kami bisa membesarkannya dengan baik. Aku bersyukur memiliki mas Abdul, bersyukur bisa menjadi bagian dari hidupnya.
Aku mencintaimu mas Abdul.


tamat