Kamis, 20 Februari 2020

(Menurutku) ISTRIKU PELIT 1 - 5

(menurutku) ISTRIKU PELIT
Part 1 by Febriani Kharisma
#istrikupelit

"Pak, tolong dong tagih utang mbak Marni. Perlengkapan anakmu ituloh, telon, popok ,tissu basah, sabun mandi habis bersamaan. Sudah sebulan dia janji-janji terus, tapi mana buktinya?" celoteh istriku setengah membanting aneka peralatan masak persiapan makan malam.

"Sabar dong, Bu. Lagian Mbak Marni itu kakakku sendiri yang berarti iparmu. Masak uang dua juta saja hubungan kekeluargaan kita harus rusak. " balasku. Rasa lapar sepulang bekerja sebagai kasir swalayan berubah kenyang seketika.


"Dua juta katamu? Itu banyak, Pak. Kalau tidak mau ditagih terus, bayar dong. Anakmu kasihan tau. Susah kalau punya suami tapi sering disetir sama keluarganya!" ucapnya lagi. Suara centong besi dan wajan semakin terdengar jelas.

"Iya, Bu. Memang banyak. Tapi, tolong dong mengerti sedikit. Tidak enak sama mbak Marni. Apalagi kalau ibu sampai tahu." kataku lagi.
"Terus kita mau dapat uang darimana?" tanyanya.

"Nanti kupinjam sama teman kerjaku!" tidak ada pilihan lain. Kupukul kening berkali-kali. Sedang alis istriku semakin mengkerut mendengarnya

"Astaga kau ini betul-betul menjengkelkan. Masa kita pinjam ke oramg lain padahal jelas-jelas uang ada di kakakkmu. Seandainya dia kesusahan, wajar jalau dibantu. Tapi, kau tidak lihat gayanya tidak kalah sama juragan di kampung. Emas di tangan ditumpuk-tumpuk. Pokoknya kalau tidak kau tagih, jangan salahkan aku kalau nekat memintanya sendiri."

"Istri apa kau ini? Tiap hari bisanya cuma marah-marah terus. Makanya bantu suamimu kerja. Cari uang. Jangan tinggal di rumah terus!" tahu rasa dia.
"Atau Mau kuganti saja?" ucapku.
"Ganti? Coba saja kalau berani. Kuyakin tidak akan ada perempuan yang tahan punya suami yang bisanya cuma berpihak sebelah.". Dimatikannya kompor ketika makanan belum matang lalu meninggalkanku di dapur sendirian. Setelahnya hanya kudengar pintu kamar dibanting.


***


Tidak ada niat ingin membujuk, aku keluar dari rumah untuk mencari ketenangan di luar. Sayang, mbak Marni melihatku melintas lalu memanggil-manggil untuk mampir di rumahnya.
"Maman sini!" tangan sebelah berkacak pinggang. Sebelahnya manggil-manggil.
"Kenapa mbak?" kusapu peluh di jidat lalu berjalan ke arahnya.

"Kasih tau istrimu, kalau jadi orang jangan keterlaluan. Coba liat pesan yang dikirim ke HPku!" ucap mbak Marni yang kemudian mengeluarkan teleoon genggam dari kantong dasternya.
Kubaca, "Mbak, maaf mengganggu. Kapan yah uang yang dipinjam bisa dilunasi? Kebutuhan anakku habis, dan mas Maman belum gajian!"

"Lihat bukan? Lancang sekali dia kirim pesan seperti itu. Kubilang juga apa. Jangan menikah sama orang yang tidak punya kerjaan. Rasain sekarang. Kalau sampai dia menagih lagi, kulapor ke ibu!"
"Jangan mbak, tolong!" ucapku.

Kepalaku benar-benar pusing dibuatnya. Andai punya istri yang pengertian tentu hidupku akan lebih tenang.

-----


(Menurutku) ISTRIKU PELIT
Part 2
#istrikupelit

Untuk mencari aman dari keduanya, kukumpulkan nyali untuk meminta separuh dari utang mbak Marni, "mbak, maaf yah. Tapi, memang kami lagi butuh uang untuk beli keperluan alif. Gak papa kalau bayar seperdua saja.. Lagipula ini memang jmsudah jatuh tempo sebulan" ucapku gemetar.
"O, bagus. Kamu mulai diatur-atur sama istrimu? Kalau saya sih ogah punya adik takut sama istrinya." matanya melotot msmbuat keberanianku tadi seketika menciut.

"Bukan begitu, Mbak. Tapi..." belum selesai, ia memotong pembicaraanku.
"Tapi apa? Kenyataannya memang begitu kan? Ingat dong siapa yang nyekolahin kamu sampai tamat SMA? Mbakmu ini yang dulu sering bantu keuangan ibu. Masa cuma uang segitu ditagih berkali-kali. Kesabaranku sudah habis. Ayo ikut sini biar kulabrak istrimu itu!" ia mengambil sendal yang tidak jauh dari tempatnya berdiri kemudian mempercepat langkah menuju rumahku. Aku sampai kewalahan mengikuti langkahnya.

"Jangan mbak! Jangan!" teriakku tapi tidak digubrisnya. Sepanjang jalan terus mengumpat.
"Keluar woy!" Panggilnya tidak sopan. Ia sibuk menggedor-gedor pintu kamarku. Setelahnya, suara *krak* pintu mulai terdengar.
"Ada apa, Mbak?" tanya Lina istriku.

"Ada apa, ada apa katamu? Dasar tidak tahu diri. Rumah ini juga masih atas namaku, sudah songong mau tagih utang dua juta berkali-kali. Sampai pengaruhi adikku untuk melawan.
"Bukan begitu, mbak. Tapi kami memang butuh sekali. Tolong pengertiannya!" kata Lina sedikit lebih halus dari yang tadi

"Ahhhh, alasan! Dasar perempuan tidak tahu malu. Syukur-syukur dulu kami sekeluarga menerima orang yang tidak jelas asal usulnya!" balas mbak Marni lagi
"Sudah!" ucapku pelan.
"Woy, mbak. Sudah cukup yah kau hina selama ini. Kau yang pinjam, tapi kami yang harus mengemis-ngemis. Ngakunya orang kaya. Tapi, uang dua juta tidak dibayar sampai sekarang!" ia mulai membuka suara tentang apa yang dirasa. Seperti bersiap untuk saling menyerang. Dan berakhir baku jambak antar keduanya.

***

"Bu, kenapa sih kamu tidak bisa mengerti. Mbak marni kan karakternya memang begitu. Kenapa diladeni?" tanyaku lembut berharap istriku tidak tersinggung. Ia baru saja mengganti baju bayi kami lalu menidurkannya di kasur. Lina hanya bergeming.
"Bu! Jawab. Jangan diam begitu!" tambahku.
"Ah, percuma juga kujawab. Ujung-ujungnya kau lebih pilih kakakkmu!" katanya.
"Bukan begitu!" ucapku.

"Lalu apa? Kalau sampai besok mbak Marni belum kembalikan uangnya. Lebih baik kita pisah saja, Pak!" aku tersentak mendengarnya. Lalu kujawab, "jangan asal bilang. Masak karena utang di kakkaku kau sampai ambil keputusan yang keterlaluan begitu!"

"Aku sudah capek. Dua tahun menikah, kakakmu selalu menjengkelkan. Belum lagi masalah rumah ini. Mentang-mentang kita cuma numpang. Lagipula inikan rumah orang tuamu. Tapi, mbak marni selalu merasa dia yang berhak karena anak sulung katanya. Belum lagi tentang pola asuh anak. Semua serba dikomentari. Aku capek, Pak!" amarah serta tangis yang tertahan di pelupuk matanya bersatu padu. Membuatku merasa tidak tahu harus berbuat apa.

"Maaf, Bu. Tapi aku serba salah. Dilain sisi mbak Marni memang membantu ibu menyekolahkanku. Dan sisi lain, mas cinta sama kamu, istriku." balasku mencoba mengelus pundaknya. Nafasnya tersengal.
"Bukan saatnya bicara cinta, Mas. Semua orang bisa bilang begitu. Sekarang tolong keluar dari sini. Dan ingat perkataanku tadi tidak main-main. Aku beri waktu sampai besok pagi.

-----

(Menurutuku) ISTRIKU PELIT
Part 3
#istripelit

Sebelum berangkat kerja. Pukul enam pagi hari, kusambangi kediaman kakakku. Ternyata, meski berat bibir berucap, tapi aku takut kalau harus kehilangan Lina.
"Mbak. Mbak!" ketukan pintu diiringi panggilan kepadanya. Tak lama berselang, ia mulai membuka. Rambutnya masih digulung dengan roll rambut.

"Ada apa pagi-pagi ke sini?" tanyanya jutek. Lalu duduk di sofa tamu berbahan bludru. Meja kaca yang diatasnya ada fas bungan jadi saksi betapa gugupnya memulai pembicaraan.
"Anu, Mbak!" ucapku menggaruk kepala.

"Apa? Masalah utang lagi? Kalau itu, mending kau pulang saja." katanya lantang.
"Tolong ,Mbak. Kalau tidak, Lina mengancam akan keluar dari rumah kalau aku gak dapat uangnya. Lagian mbak punya banyak uang, kalau dua juta pasti tidak akan ada pengaruhnya di dompet, Mbak!" mata seringkali kupejamkan lama ketika berbicara.

"Hahaha. Kau ini jadi laki-laki cemen sekali. Masa takut ditinggalkan perempuan. Kalau jadi suami harus tegas. Biarkan saja kalau Lina mau pergi." ia agak maju sedikit lalu mengencangkan tawanya.
Dan berbisik, "kamu masih muda dan punya pekerjaan. Tidak sulit dapat istri baru. Percaya sama mbakmu."

"Tapi, aku betul-betul masih cinta sama Lina. Tolong mbak!" balasku memohon. Namun, ia tetap bersikeras untuk mengatakan, "tidak. Lebih baik kau pulang sekarang. Sebelum kesabaranku habis!"
Harus bagaimana lagi ini, aku takut keduanya. Jiwa lelakiku akan ciut setiap dihadapkan -lagi dan lagi- dengan keadaan begini.

"Kalau begitu, aku permisi dulu, Mbak!" kataku pasrah.
"Nah, itu baru namanya adik Marni. Percuma kita bersaudara kalau otakmu beda dengan kakakkmu ini. Pulang sana! Kalau Lina tidak mau mengalah. Ceraikan saja. Gitu aja repot!" seolah tak peduli nasib rumah tanggaku.

Kulangkahkan kaki keluar rumah dan terus memutar otak bagaimana caranya untuk tetap dalam situasi aman. Antara istri dan kakakku tentu itu bukan pilihan karena dua-duanya orang yang penting dalam hidupku.
Dan, Indra solusinya. Teman SMAku dulu. Dia sudah berhasil jadi juragan beras dari modal orang tuanya.

Jaraknya juga masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki karena juga tidak jauh dari rumah kami. Tempat tinggalnya sangat luas halamannya. Dengan bangunan terbesar di kampung ini. Beruntung ia sedang di teras menikmati secangkir kopi. Jadi, aku tidak susah memanggil-manggil.
"Maman, mampir sini!" teriaknya ketika melihatku berdiri di depan gerbang.
"Ah kebetulan sekali ini, aku memang ada keperluan." jawabku ketika sampai di dekatnya.
"Ada apa kalau boleh tahu? Tumben ,Man!" ucapnya lagi menyodorkan biskuit di mejanya
"Tapi, rasanya aku tidak enak. Takut kau kurepotkan!" tambahku.
"Ahh, jangan begitu. Bilang saja!" katanya.

"Aku mau pinjem duit dua juta kalau bisa. dengan menghilngkan malu kukatakan tentang pinjaman uang. Daripada Lina minggat dari rumah.
"O, itu. Kenapa tidak bilang dari tadi? Tapi, buat apa yah, Man? Kau kan bekerja!" tanyanya. Terpaksa kujawab, "keperluan anakku habis, dan gajian masih lama. Tapi, kalau tidak bisa juga gak apa-apa, Ndra!" balasku.
"Bisalah. Masa sama teman sendiri tidak mau dibantu!" setidaknya perasaanku lega setelah mendengarnya.
"Tunggu sebentar, yah!"

Tak lama setelahnya, Indra datang membawa dua puluh lembar uang merah diiringi senyum tulus darinya. Selain tampan, hartanya juga bergelimang. Orangnya juga baik. Siapa perempuan beruntung yang nanti jadi istrinya.
"Terima kasih banyak yah, Indra. Kalau tidak keberatan lagi, bisa kucicil perbulan sampai lunas?" tanyaku. Karena bayar langsung dua juta nanti dengan gaji yang hanya 2,5 juta. Bisa ketahuan sama Lina.

"Iya, tidak apa-apa. Semoga bermanfaat untuk kalian sekeluarga." ucapnya lagi.
"Sekali lagi, terima kasih banyak ,Ndra! Aku permisi dulu yah. Mau kerja juga setelah ini." kataku kemudian pamit.
Alhamdulillah akhirnya aku bisa selamat dari amukan keduanya. Walaupun aku harus menanggung malu pada temanku.

***

"Lina sayang!" sapaku ketika istriku sedang sibuk menggendong Alif. Ia hanya bergumam.
"Ini ada kejutan untukmu!" kusodorkan uang tepat di depan wajahnya. Cemberut tadi berubah menjadi semburat kebahagiaan.
"Dari mbak Marni?" tanyanya.
"Ia, Bu. Nanti kau buat kue yah lalu kubawakan ke rumahnya. Sebagai tanda permintaan maaf karena kemarin kau sudah melawannya." kataku. Ia lalu kaget dan bilang, "loh, kan dia yang mulai, Pak. Masa harus aku yang minta maaf!"

"Tolong kali ini menurut dulu. Mas tidak mau kalian berdua masih bertengkar. Lagian kan uangnya sudah ada. Tapi, nanti tidak usah dibahas lagi yah. Kuenya biar aku yang antar.
"Mas mandi dulu mau siap-siap kerja. Kalau pulang, kuenya sudah siap!" ucapku lalu mencium pipinya. Dan ubun-ubun anakku.

-----

(Menurutku) ISTRIKU PELIT
Part 4
#istrikupelit

Pulang kerja pukul tiga. Perasaanku tak sekacau kemarin. Setidaknya urusan mbakku Marni dengan Lina sudah beres. Sisa menyicil uang ke Indra. Dan untuk mendamaikan keduanya, membawa kue adalah jalan terbaik.

"Bu, sayang!" teriakku memasuki rumah yang tak satupun menjawab. Kususuri sekitar, Lina istriku sedang di dalam kamar memasukkan semua pakaiannya dan alif ke dalam sebuah kope hitamr ukuran besar. Spontan kucegat.

"Kau mau kemana?" tanyaku. Ia masih sibuk menyusun satu persatu barang yang ingin dibawa.
"Maaf, Mas. Aku harus pergi!" ucapnya.
"Bukannya kau akan pergi kalau uangnya tidak dikembalikan?" timpalku lagi menahan tangannya agar menghentikan gerakan.
"Iya!" jawabnya singkat.
"Nah, kenapa sekarang malah packing begini? Mau kemana?" ternyata aku memang begitu takut ditinggalkan Lina.

Ia duduk di kursi bupet dan menatap kosong bayangan di cermin. "Kau berbohong. Uang tadi pagi bukan dari mbak Marni. Entahlah kau pinjam di mana. Aku hanya mengikutimu sampai ke rumah kakakkmu saja. Dan kau tahu kan suaranya yang kadang tiba-tiba berteriak membuatku tak kesusahan menguping. Percuma, Mas. Rumah tangga kita sudah terlalu banyak kebohongan. Kalau terus dilanjutkan, kita berdua hanya akan tersiksa."
"Jadi kau tahu? Maafkan aku, Bu. Terpaksa. Tidak ada jalan lain." tanyaku panik. Mencoba menenangkannya dengan sentuhan kasih, tapi dihempas berkali-kali.

"Kata maafmu tidak bisa lagi kuhitung berapa kali selama dua tahun kita menikah. Tapi, kau juga tidak henti-hentinya membuat kesalahan. Kau tidak bisa dipercaya. Masalah utang dan kebohonganmu kali ini bukan alasanku pergi. Hanya saja jika diingat-ingat semuanya, aku rasa tidak ada lagi tang mesti dimaklumi." ucapnya.

"Beri aku kesempatan sekali lagi, Bu!" aku duduk berlutut di depan Lina. Mengangkat kepala dengan tatapan memelas.

"Aku tidak bisa, Pak. Kalau keluargamu masih terus-menerus bersikap seperti itu, percayalah, sebaik apapun penggantiku nanti, tidak akan pernah ada yang sanggup menjalani hubungan seperti ini."
"Mbak Marni itu berjasa besar untuk hidupku. Juga keluarga besar yang lain. Kalau kau mau pergi,pergi saja sana, tapi jangan bawa-bawa nama saudaraku" emosiku seketika membuncah saat lagi-lagi ia mengkambinghitamkan keluargaku.

"Nah, sikapmu yang begini nih yang buat aku semakin yakin untuk meninggalkanmu!" bentaknya seraya menunjuk wajahku.
Pitamku tak terkendali, "pergi sana! Tapi ingat, sejengkal saja kau keluar dari sini, jangan harap aku mau menafkahi anakmu! Orang tidak punya sekolah sepertimu, bisa apa? Mau kerja dimana? Paling baru sebulan kau sudah mengemis-ngemis minta kembali. Tapi, maaf. Pantang Maman tampan ini memungut barang bekas!"

"Kau keterlaluan!" Teriaknya. Air matanya tumpah menyeruak. Biarkan saja!
Kalau tadi aku menghalanginya mengambil barang, kini justru aku menariknya agar segera berkemas.
"Tidak usah tarik-tarik, aku bisa sendiri!"
Tanpa ada penyesalan dan menyentuh buah hatiku, kuretas uang yang kuberi pagi tadi di dalam tasnya lalu melemparkan hanya dua lembar saja. "Ini ambil! Syukur-syukur untuk kau pakai naik angkot!"
Setelah berkemas, Lina menggendong anakku alif yang sedari tadi menangis lalu menarik koper besarnya.

***

"Mbak, Lina minggat dari rumah!" ucapku mengadu seolah mencari pembenaran bahwa apa yang kulakukan memang sudah tepat.

Dengan wajah berseri-seri, ia menjawab "alhamdulillah. Akhirnya dia sadar diri juga kalau kedatangannya di keluarga kita memang hanya sebagai parasit yang menumpang hidup. Sudah miskin, tidak tahu berterima kasih lagi ke keluarga kita. Ihh, najis deh punya ipar kayak begitu. Bagus bagus, keputusanmu membiarkannya pergi keren sekali. Tidak usah khawatir, besok atau lusa, perempuan akan mudah kau nikahi lagi. Yang jelas bukan seperti si Lina jelek itu.

Puas sekali rasanya mendengar penjelasan dari Mbak Marni. Biar bagaimanapun cintaku ke Lina, kakakku dan keluargaku tetap yang paling penting dalam hidup.
"Ayo makan dulu!" ucapnya menyodorkan piring kosong yang di depannya sudah tersaji aneka lauk.
"Mas Ardi mana, mbak? Gak ikut makan?" tanyaku mengambil sesendok nasi.
"Masih di kantor dong. Suamiku kan pekerja kantoran. Setiap hari juga ia lembur demi uang tambahan." jawabnya.

"Sudah makan duluan saja. Mas mu gampang bisa makan di luar saja nanti."
"Mbak, masakanmu memang tidak ada duanya. Lina dulu kalau masak lauknya itu-itu saja. Huh!" kataku lagi.
"Makanya tidak usah dipikir, perempuan gak guna seperti itu lebih pantas hidup di jalan!"

-----
 
(Menurutku) ISTRIKU PELIT
Part 5
#istripelit

"Mbak, di depan seperti suara motor mas Ardi" ucapku ketika sementara makan terdengar bunyi klakson.
"Biar saja. Nanti juga masuk sendiri! Lagian tumben jam segini sudah pulang" ia tampak acuh ketika suami buntal dan kulit hitamnya datang.

"Wah, tumben makan di sini, Man!" kalimat pertama yang diucapkan ketika masuk ke dalam rumah dan mendapatiku menikmati makanan.
Belum kujawab, mbak Marni nyerocos duluan, "kenapa cepat pulang? Biasanya kan malam? Tidak lembur lagi? Berarti pemasukanmu berkurang dong. Yang rajinlah kerjanya, jangan malas-malasan begini. Baru juga setengah empat.

"Ada telepon dari adikku, katanya ibu sakit. Jadi, rencananya hari ini aku mau kesana. Uang bulanan masih banyak kan?" tanyanya.
"Kalau mau jenguk, silakan. Tapi uang mau diapakan?" jawab mbak Marni ketus.
"Yah, buat beli bensin, sama siapa tau ada obat yang mau ditebus. Buah-buahan juga." kata mas Ardy yang ikut duduk di meja makan bundar. Tak respon dariku selain terus makan sambil memandangi mereka bergantian. Kulihat kakakku masuk ke dalam kamar dan keluar dengan membawa dua lembar uang hijau.

"Ini buat beli bensin. Tidak usah sok mau beli bingkisan sama bayar obat. Saudaramu kan banyak. Masa kau yang harus tanggung!" katanya menyodorkan uang.
"Astaga, Marni masa gajian baru kemarin kau sudah sepelit ini. Tambah dua ratus ribu!" kalau kami sering kewalahan karena butuh perlengkapan bayi setiap bulan dengan gajiku yang sedikit. Berbeda dengan mereka yang sudah lima tahun pernikahannya, anak belum ada. Jadi pengeluaran mbak Marni hanya dipakai untuk bergaya dan bergaya.

"Sudah! Kalau tidak mau, kuambil lagi nih!" nyaris dirampas uang tadi, beruntung mas Ardy langsung memasukkan dalam kantong.
"Kau tidak mau ikut?" mengalihkan pembicaraan.
"Panas, jauh, naik motor lama bisa bikin kulitku jadi hangus. Kau saja!" tolak mbakku.
"Jangan begitu dong, kau kan baru berapa kali berkunjung ke rumahku selama menikah." mas Ardy menatap istrinya yang berbicara tapi pandangannya tidak fokus.

"Malas!" jawabnya singkat. Akhirnya mas Ardy keluar rumah dengan raut wajah kecewa seraya menggenggam uang empat puluh ribu tadi.
"Mbak, apa suamimu tidak tahu marah?" tanyaku ketika mulai terdengar laju motor iparku.
"Mau marah? Hahaha. Kau tidak lihat bagaimana ia kalau mbakkmu ini mulai bicara. Takut kutinggalkan makanya dia selalu terima setiap keputusan yang kubuat." ucapnya mengambil perkedel di piring untuk dicubiti sedikit demi sedikit.

"Tapi lama kelamaan pasti kesabarannya juga habis. Mbak gak takut kalau dia selingkuh?" timpalku. Selayaknya seorang suami, aku tahu persis rasanya
"Coba saja kalau berani. Biar kucincang-cincang keduanya. Lagian kenapa bertanya begitu sih, lanjut makan saja!"
"Eh nanti malam kita ngumpul di rumah ibu bapak yok! Di rumahmu kan gak ada orang. Di sini juga. Sekalian buat acara untuk merayakan kepergian si Lina.
"Oke mbak. Siap!"

***

"Ibu, bapak!" teriakku di depan pintu. Masing-masing kami menenteng aneka macam makanan dan minuman lalu menerobos masuk.
Kulihat mereka sedang asik menonton televisi di ruang keluarga yang cukup luas.
"Bawa apaan tuh?" ucap ibu.
"Si Lina sudah minggat, Bu. Jadi sebagai perayaan di sini kita bawa cemilan banyak." mbak Marni langsung duduk di samping ibu dan menyimpan
kantongan di lantai.

'Alhamdulillah kalau begitu. Ehh, tapi bagaimana dengan cucian ibu setiap minggu kalau tidak ada si Lina. Padahal selama sama dia, Ibu tidak kerepotan soal pakaian. Kalau di laundry mahal.
"Nanti kubelikan mesin cuci, Bu. Atau kalau perlu si Maman suruh menikah lagi!" potong kakakku.
"Iya juga sih!"
"Pak! Ambil piring dulu!" seru ibu.
"Suruh Maman saja, Bu. Tanggung acaranya sudah mau selesai" ayah tak bergeser dari tempat juga matanya masih menatap layar kaca. Ia hanya menggunakan sarung sebagai penutup tubuh.

Sedangkan ibuku di malam petang begini, ia masih dengan make upnya di wajah keriputnya.
"Ihh kau ini kalau disuruh banyak sekali alasannya!"
"Man, masuk dulu Nak ambil piring untuk gorengan ini!" kujawab, "iya ,Bu!" daripada kutolak, pasti ibu marah. Takut!

"Ehh, Man. Kau sudah tau belum mantanmu waktu SMA si Minah yang dulu cinta mati sama kamu. Dia sudah pulang dari Malaysia. Wah, emasnya banyak. Ihh ibu mau punya mantu begitu!"
"Ibu, si Lina baru saja pergi tadi sore. Masa aku langsung dekat sama perempuan lain. Apa kata orang?" sanggahku.

"Yang suruh kamu sekarang siapa? Ibu cuma nanya kamu sudah tahu atau belum!"
"Belum, Bu!" kataku duduk di samping bapak.
"Kalau begitu, besok kau mampir ke sebelah. Iseng-iseng, mana tahu dia masih ada rasa sama kamu." wajah ibuku begitu sumringah membahas Minah. Padahal dulu dia benci sekali. Sekarang malah sebaliknya.

-----

bersambung . . .