Kamis, 20 Februari 2020

#Jodoh_Pilihan_Kiyai 6 - 11 (end)

#Jodoh_Pilihan_Kiyai
#kolab_Silvanni_Huren
#part_06
#Share dulu baru baca, yes!

Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan menuju Sumbersari Untung lalu lintas tak begitu padat. Jadi sebelum dzuhur kami akan sampai di rumah Ibu Kulsum.
Sebenarnya aku ingin menanyakan prihal selisih angka laporan penjualan sapi pada Rayyan. Namun sepertinya kurang pas jika ada Sabrina ikut menyimak.

"Apa kabar umimu, Le?" tanya Ibu Kulsum saat kami sedang di ruang tamu setelah makan siang. Sabrina masih mencuci piring di dapur, sedangkan Rayyan mengambil barang yang katanya tertinggal.
"Alhamdullilah, Bu, baik. Umi juga titip salam tadi. Katanya njengan diminta sering-sering berkunjung ke pesantren.
Wanita berkerudung hitam itu tersenyum, menampakan lesung di pipi kirinya. "Maaf, Ibu gak bisa bantu-bantu di pesantren. Alhamdullilah, usaha katering setengah tahun lebih ramai dari sebelumnya, Zam. Jadi Ibu gak bisa sering-sering berkunjung kecuali ada acara penting."
Aku mengangguk tanda mengerti. Selain itu juga, mungkin Ibu Kulsum sungkan datang ke pesantren sebagai istri kedua Abah. Meksipun Umi selalu memperlakukannya dengan baik, tak membedakan dengan istri Abah yang lain. Bagaimana pun kehadirannya selalu mengundang perhatian pesantren. Selain wajahnya yang cantik juga karena statusnya. Terakhir ia berkunjung saat pernikahanku dengan Sabrina.
"Oh, iya, Zam, Ibu ingin mengatakan sesuatu."
"Monggo silahkan, Bu."
Wajah Ibu Kulsum tampak tegang. Jemarinya saling bertautan. Aku mengerutkan dahi sesaat, penasaran dengan apa yang ingin ia bicarakan.
"Tapi, sebelumnya Ibu minta maaf kalau kata-kata Ibu nanti tidak berkenan di hatimu."
"Injeh, Bu ...." Kuulas senyum agar ia merasa nyaman. "Bagaimanapun, Ibu adalah istri Abah. Itu berarti kedudukan Ibu sama seperti Umi. Yang berhak menasehati saya, juga wajib saya takdzimi dan hormati." Aku menegaskan.
"Jadi, sebelum pernikahanmu dengan Sabrina. Umimu bercerita kalau kamu bersedia menikahi gadis itu dengan syarat. Salah satunya kamu akan ta'adud nantinya, benarkah?"
"Injeh, Bu. Leres (benar)."
Terdengar Ibu Kulsum menghela napas panjang. Menatapku dalam.
"Apa tidak kamu pikirkan lagi niatanmu itu, Le ... ta'adud memang tidak dilarang oleh agama, tapi sebagai perempuan Ibu juga tidak berkenan kalau kamu juga meniru jejak Abahmu. Cukup Umimu dan Ibu saja yang merasaknya. Jangan istrimu juga."
Aku terdiam untuk sesaat. Mencerna kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh ibunda Rayyan. Ibu Kulsum wanita yang sangat sensitif dan sedikit tertutup. Berbeda dengan Umi yang ramah dan terbuka. Makanya ia lebih memilih tinggal di luar pesantren jauh dari Abah kertimbang tinggal di rumah yang sudah disediakan Umi dekat pesantren.
Mungkin itu juga alasan Ibu Kulsum berkata demikian, karena kekhawatirannya kalau-kalau Sabrina akan tersingkir seperti dirinya atau malah Mazaya yang kalah. Namun, tekadku sudah bulat, selain aku yakin Sabrina akan menerima dipoligami, Ning Mazaya pun dengan pemikirannya yang terbuka akan mampu beradaptasi dengan Sabrina dengan cepat.
Seketika, ingatanku tertuju pada Ning Mazaya. 'Kapan kamu pulang, Ning. Sejak ponselku mati, kamu tak pernah menghubungiku lagi.' Aku berharap gadis Kediri itu menghubungiku terlebih dahulu.
"Zam ...." panggilan Ibu Kulsum menyadarkanku.
Aku berdeham untuk mengusai diri. "Bu, jangan khawatir. Saya akan berusaha seadil mungkin juga akan mengayomi istri-istriku dengan baik nantinya."
"Tapi--"
"Wah, Mas Izzam sama Ibu sepertinya ngobrol serius sekali." Rayyan datang dari arah kamarnya menuju sofa yang aku duduki.
"Enggak, lama gak ketemu aja, jadi seru ngobrolnya," tukasku.
"Mas, nuwun sewu (minta maaf) mungkin aku gak bisa langsung ikut balik ke pesantren. Tada ada teman yang telepon kalau mau ke temu aku di rumah.
"Oh, ya, gak apa-apa. Nanti aku bawa mobilnya."
"Masih ingat cara nyupir, kan, Mas."
"Masih, insyallah."
"Oh, ya. Tadi di mobil katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan. Ada apa, ya?"
Aku sedikit tertegun, seolah Rayyan menghindar berbicara berdua denganku. Mana mungkin aku menanyakan soal selisih uang itu di depan Ibunya, dan kini ia beralasan tak bisa kembali ke pesantren. Apakah gara-gara laporan keuangan itu? Astagfirullahhal'azdim. Aku telah su'udzon pada adikku sendiri tanpa penjelasan dan bukti yang benar.
Ibu Kulsum menatap kami bergantian. Sepertinya ingin mengetahui lebih jauh tentang perbincangan kami. "Soal apa, Le?" selidik wanita itu.
"Oh bukan hal penting, Bu. Ya, sudah, Yan, nanti kalau sudah balik ke pesantren saja kita bahas."
"Lo, kok basah begitu, Binn bajumu?" ucap Ibu Kulsum saat melihat Sabrina pun keluar dari arah dapur. 

Lengan bajunya terlihat basah, juga bagian depan. Mungkin terkena percikan air kran saat mencuci piring. Gadis itu hanya tersenyum dan melihat ke arah sekilas.
Inilah salah satu alasanku kenapa ingin berpoligami. Sabrina terlalu muda dan teledor dalam mengerjakan sesuatu. Beberapa hari saja insiden kebaya sobek, HP, wedang menumpahi baju dan hal-hal kecil lainnya. Mana bisa aku melimpahkan urusan pesantren yang lebih besar dan rumit nantinya kalau dia seceroboh itu.
Pasti berbeda cerita kalau itu Ning Mazaya. Selain sudah dewasa, Ning Mazaya juga pasti tahu tugas dan masalah seluk beluk pesantren.
"Kok malah bengong sambil lihatin Mbak Sabrina begitu, Mas." Suara Rayyan mengejutkanku. Diiringi senyuman dari Ibu Kulsum dan tentu saja Sabrina yang tertunduk dengan pipi merona.
"Oh. Emm, kalau begitu kami pamit, Bu, Yan. Semoga jalanan tidak macet jadi sebelum magrib kita sudah sampai."
"Apa tidak nunggu abis asar sekalian, Zam," cegah Ibu Kulsum.
"Gak bisa, Bu. Nanti kita mampir di masjid saja kalau tiba waktu asar. Bagaimana, Bin?"
"Injeh, Gus. Saya ikut saja."
Setelah berpamitan dan memasukan beberapa dus berisi makanan sebagai oleh-oleh untuk Umi, aku melajukan mobil. Sabrina yang lebih banyak diam di kursi penumpang sama sekali tak membuka obrolan.
Aku menghentikan laju mobil di sebuah masjid setelah mendengar azan asar lalu memarkir di bagian kanan masjid. Sabrina masih terpaku di kursi penumpang.
"Kamu gak keluar?"
Gadis bermata sipit itu mengerjap. Sepertinya terkejut dengan panggilanku. "Oh, iya, Gus." Ia segera berkemas dan keluar mobil.
Apa yang Sabrina pikirkan sampai melamun seperti itu?
Setelah melaksanakan solat asar, aku meneruskan perjalanan dan tiba di pesantren tepat saat azan magrib berkumandang.
Malam harinya setelah bada Isya.
"Bagaimana, Zam, Ibumu sehat?" tanya Umi saat kami tengah menikmati teh di ruang tengah.
Sebab tak ada jadwal kajian aku memilih beristrirahat di rumah karena badanku juga terasa lerih. Mungkin karena lama tak mengendarai mobil. Perjalanan dari Sumbersari ke Ambulu ternyata cukup jauh dari dugaanku. 

"Alhamdullilah, Mi, Ibu sehat. Beliau juga titip salam untuk Umi."
Umi melirik ke arah Abah yang sedang membaca kitab. Seolah tak ingin terlibat dalam obrolan kami.
"Titip salam tidak untuk Abah," tanya Umi.
Abah berdeham. Melirik Umi sesaat lalu melanjutkan bacaannya.
Umi memang kerap menggoda Abah kalau itu soal Ibu Kulsum. Mungkin sebenarnya itu ekpresi dari kecemburuan Umi sebagai istri. Sangat wajar, karena pada dasarnya sifat cemburu harus dimiliki dalam sebuah hubungan. Itu artinya, Umi memang mencintai Abah. Sayidina Aisyah pun sempat cemburu pada salah satu istri Rosul.
"Sejak pernikahanmu, Abahmu itu belum berkunjung ke sana, siapa tahu Ibumu kangen, 'kan?"
Karena waktu Abah lebih banyak dihabiskan di pesantren, Abah hanya akan mengunjungi Ibu Kulsum selama tiga hari. Yah, tidak sebanding dengan waktu Abah untuk Umi. Mungkin itu alasan Ibu Kulsum juga melarangku berta'addud.
"Benarkah? Ibu tidak cerita apa-apa. Tadi hanya membahas soal syarat pernikahanku dengan Sabrina," ucapku setelah menyesap teh hangat di meja.
"Mungkin Ibumu malu mau bilang," seloroh Umi.
Aku manggut-manggut tanda mengerti.
"Abah sendiri kenapa tidak mengunjungi Ibu?" Aku menoleh pada Abah yang kemudian meletakkan kitabnya.
Abah menghela napas panjang, sambil menoleh ke arah Umi. "Besok Abah ke sana," jawabnya.
"Apa kata Ibumu soal niatanmu itu, Zam?" Umi menatapku. Wanita berkulit putih bersih itu menggeser duduknya lebih dekat ke arahku.
"Sama, sependapat dengan Umi. Tapi Izzam sudah niat, Mi."
"Apa kamu sudah bilang ke Ning Mazaya dan Sabrina?"
"Belum, tapi Izzam yakin keduanya tidak akan menolak."
Abah meletakan kitab yang sedari tadi dibacanya. Sebelum beranjak pergi beliau berpesan, "pikirkan lagi, kalau perlu istikhoroh, Zam ... ta'addud bukan masalah sepele."
"Injeh, Bah."

***
Setelah mengikuti sekolah madrasah, Sabrina masih diam seribu bahasa. Dia masih melaksanakan tugas seperti biasa, menyiapkan pakaian, membuat wedang tapi semua ia lakukan tanpa bertanya seperti biasa.
Hingga tengah malam, saat aku terbangun ia tampak gelisah.
Aku tak terlalu ambil pusing, malah sedikit tenang dengan perlakuannya juga tak ingin tahu apa penyebabnya.
Namun ia kembali biasa setelah hari itu. Lebih banyak tersenyum dan sering berlama-lama tinggal di kamar. Kalau biasanya setelah kajian kitab kulihat ia menyempatkan berbincang dengan teman-temannya di asrama. Namun akhir-akhir tidak.
Bahkan, gadis berhidung mancung itu telah berani membuka kerudungnya di depanku pagi ini. Perubahan yang cukup mengejutkan.
"Gus?" Sabrina mengerutkan dahi saat aku terpaku menatapnya keluar kamar mandi tanpa penutup kepala.
Rambut hitam lurus sebahu itu masih basah. Harumnya aroma sampo dan sabun menguar dari tubuhnya. Seketika ada yang berdesir halus di dalam sini. Jangungku juga berdegup lebih kencang. Melihatnya hanya bergamis lengan pendek, pikiranku melayang.
Ternyata tubuh Sabrina lebih berisi dari yang kukira. Tidak kecil dan kurus seperti seperti saat berpakaian tertutup. Mungkin karena selama ini ia memakai pakaian yang longgar, atau lebih tetapnya kebesaran. Setelah kuamati wajahnya juga cantik. Mata sipit dinaungi alis yang tebal. Hidung mancungnya bertengger di atas bibir yang ranum, ada bulu-bulu halus di atasnya, juga dagu yang sedikit terbelah.

"Gus? Kok diam saja?"
"I-ya?" Aku tergagap mendengar ucapanya.
Gadis itu menggeleng dengan senyum tertahan. Aku mengerutkan dahi sambil mendoangkan kepala. Seolah ingin berkata 'apa?'
"Saya tadi tanya, Guse mau mandi sekarang atau nanti. Tapi, kok, malah bengong begitu."
"Oh, itu. Nanti saja. Sekarang tolong buatkan kopi saja."
"Injeh, Gus."
"Eh, tapi--"
"Iya, Gus?"
"Kamu gak pake kerudung lagi di kamar?"
Sabrina seketika menunduk, menyamarkan semburat merah muda yang menghias di pipinya. "Kita, kan, sudah menikah, jadi gak apa-apa, 'kan, kalau saya gak pake jilbab di kamar?"
"Ya ... ya, gak apa-apa. Itu terserah kamu. Itu artinya kamu sudah siap."
"Sudah siap, maksudnya apa?"
"Nanti saja kita bahas, katanya kamu mau bikin kopi tadi."
"Eh, iya lupa." Sabrina memamerkan gigi gingsungnya.
Manis.
Bersambung di Silvanni Lim Mey

------


#Jodoh_Pilihan_Kiyai
#Part_07
#Kolab_Silva_Huren

Denting sendok yang beradu dengan cangkir saat mengaduk kopi di dapur, seirama dengan denyut di kepalaku pagi ini. Aku memikirkan sesuatu yang berkecamuk dan menguras waktuku. Satu nama yang terus berkelebat di pikiran.
Ning Mazaya, Nama itu membayang nyata dipikiranku sejak Ibu Kulsum mengatakan bahwa perempuan itu yang didamba Gus Izzam. Beliau membahasnya saat berkunjung ke rumahnya kemarin, lalu tiba-tiba mempertanyakan bagaimana hubungan pernikahanku dengan Gus Izzam sesaat setelah menyiapkan makan siang.
Bahkan kala itu, Ibu Kulsum memintaku menjawab jujur pertanyaan tentang hak dan kewajiban antara aku dan Gus Izzam. Wanita itu mendesak dan membuatku tak bisa menyembunyikan lagi bagaimana sikap Gus Izzam yang masih belum menerima pernikahan ini.
"Jadi, Izzam sama sekali belum menyentuhmu, Nduk?" tanyanya.
Aku menggeleng. Memang benar, tak ada sentuhan apapun yang kuterima dari Gus Izzam. Dia lebih sering tidur di sofa, walau pernah sekali kudapati saat bangun tidur dia ada di sampingku. Tapi tidak ada apapun yang terjadi.
"Kamu tahu sebab apa Izzam seperti itu?" Ibu Kulsum kembali memberi pertanyaan. Tanganku yang bertumpu di atas meja makan diraih, digenggam erat seolah mengerti posisiku saat ini.
"Karena Izzam masih memikirkan Ning Maza. Dan kamu? Apa kamu akan diam saja melihat ini, tidak ingin memperjuangkan hakmu?" Tatapan dalam wanita bergincu merah itu menembus manik yang sudah berkaca-kaca. Aku tak bisa apa-apa, bahkan mendengar nama Ning Maza saja, sudah bisa kubayangkan bagaimana sempurnanya wanita itu.
"Izzam itu laki-laki yang baik. Dia penyayang, hanya saja, ia sulit untuk cepat menerima orang asing. Itu sebabnya, kamu harus berusaha meluluhkannya. Jika kamu masih diam seperti ini, bagaimana?" Ibu Kulsum menghela napas seolah menjeda kalimatnya. Kembali netra teduhnya menatapku.
"Jika Izzam tidak bisa memulai, maka kamu yang harus memulainya. Bukankah surga istri ada pada suami?"
Aku mengangguk.

"Makanya, suguhkan surga untuk mendapatkan surga. Tidak masalah meski kamu yang mencoba dulu. Toh, pahalanya besar. Yakin, Nduk. Kamu lebih dari Ning Maza. Hanya butuh keberanian untuk memulai. Ingat, Izzam itu milikmu, hakmu, dan pertahankan itu."
Kalimat demi kalimat itu menembus telinga dan mencubit hatiku. Benar, aku istri Gus Izzam, aku punya hak untuk diperlakukan dengan baik. Kewajibannya adalah menafkahiku, lahir maupun batin.
"Rayu saja, Ibu akan siapkan senjatanya." Kalimat terakhir Ibu Kulsum saat itu, sambil terkekeh wanita itu menggodaku.
Aku menurut semua nasehatnya. Barang-barang yang beliau berikan saat hendak berpamit untuk kembali ke pesantren. Gamis bahan jersey yang kupakai saat ini, ketat dan cukup menunjukkan bentuk tubuhku. Tak nyaman rasanya, tapi beliau bilang, ini bagian perjuangan.
Lulur, aku bahkan berlama-lama di kamar mandi untuk melulur tubuh ini, tentu masih dengan saran Ibu cantik itu. Salah satu ritual penting katanya. Lalu bedak dan gincu yang sengaja tidak kupakai karena tidak terbiasa.
"Bikin apa, Nduk?" Umi yang tiba-tiba ada di sebelahku membuatku terperanjat.
"Ko-pi, Mi," jawabku gugup dan menolehya.
"Nggak sarapan? Kita sarapan bareng. Panggil suamimu, ya."
"Injeh."

"Kayaknya Abah sarapan dulu ini, sudah lapar, apalagi menunya pas banget. Sayur asem sama ikan asin. Oh ya, Nduk. Nanti kamu nyusul saja sarapan sama Izzam. Kami sarapan dulu," ucap Abah sambil mencentong nasi. Dan Umi pun langsung menghampiri Abah untuk melayani.
"Injeh, Bah," jawabku mengulas senyum.
Derit pintu yang kudorong pelan, rupanya membuat Gus Izzam yang duduk di sofa menoleh, jemari tangannya tengah menekan beberapa tombol keyboard di laptop, juga beberapa map yang terbuka dengan lembaran kertas di dalamnya. Aku pun melangkah menghampiri.
"Ko-kopinya, Gus. Saya taruh ...."
"Taruh sini saja." Lelaki berkaus oblong putih itu menggeser laptop dan berkas yang hampir memenuhi meja, dan dia memintaku meletakkan kopi di sana.
Dengan hati-hati kuletakkan secangkir kopi itu ke meja. Tak ingin mengulang kembali kalau-kalau sampai tumpah lagi. Nampak Gus Izzam kembali fokus dengan layar laptop, alisnya menaut sambil menekan beberapa tombol.
Mungkin, dia sedang sibuk. Aku tak mungkin mengganggunya saat ini. Terlebih saat melihatnya menggaruk pelipis dan netranya menekur layar juga berkas bergantian.
"Gus, sibuk?" tanyaku masih berdiri di sampingnya.
"Oh, maaf, maaf. Silahkan duduk." Gus Izzam menoleh dan menggeser duduknya memberi tempat. "Nggak juga, hanya memeriksa hasil penjualan sapi saja," tambahnya mengulas senyum
Aku mengangguk paham.
"Kenapa masih berdiri?" tanyanya membuatku terhenyak, aku hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi. Perlahan aku pun duduk di sebelah Gus Izzam.
"Bagaimana?" tanyanya. Aku menoleh, dan netra itu menatapku.
"Apanya, Gus?" Aku salah tingkah, tidak tahu harus bagaimana, tatapan itu membuatku kehilangan konsentrasi, paras tampan dengan bola mata tajam, rambut ikal hitam, dagu lancip dengan jambang halus, dan juga hidung bangirnya. Menimbulkan debaran di dalam dada, aku pun memilih menunduk.
Tanganku bertumpu pangkuan. Meremas gamis di bagian lutut. Sekilas kulirik Gus Izzam meraih kopi dan menyesapnya lalu meletakkan kembali cangkir porselen itu.
"Nggak sarapan, Gus?" tanyaku masih tak berani bersitatap.
"Kamu sendiri?"

Aku menggeleng. "Masih kenyang, Gus. Tapi kalau, Gus, mau sarapan, saya temenin."
"Alasanmu kenyang, apa sudah sarapan lebih dulu?"
Aku menggeleng kembali. Aku memang belum sarapan, mana sempat memikirkan untuk makan di saat pikiranku melayang tidak menentu karena wejangan Ibu Kulsum.
"Takut gendut?"
Dahiku mengernyit, aku menolehnya. "Saya nggak gendut, Guse, nggak mau, apalagi saya gendut."
Tawa kecil itu terdengar. Membuat pipi ini memanas, kembali manik mata Gus Izzam menghunus di bola mataku. Dia malah beringsut mengganti posisi menghadapku, membuat degup di jantung semakin tidak karuan. Rasa gugup yang tiba-tiba melanda, mendominasi perasaanku saat ini.
"Bukankah kita mau membahas sesuatu?"
Napasku tertahan seketika. Sesuatu apa? Atau membahas apa? Kepalaku mendadak kehilangan memorinya.
"Katanya suami istri? Kenapa kerudungnya masih dipakai? Rambutmu bisa rontok dan bau kalau diikat pas basah."
"Hah?" Aku terkejut. "I-iya, Gus." Aku tidak tahu bagaimana langkah selanjutnya. Duduk di sebelahnya saja, sudah membuatku gemetar, napas terasa sulit, saliva pun tercekat di tenggorokan. Tatapan Gus Izzam yang terus menghujam membuat kaku diri ini.
"Kalau nggak siap jangan dipaksa," ucapnya, aku pun menggeleng. "Mukamu pucat, Sabrina. Aku tahu kamu berusaha menjadi istri yang baik. Aku juga sama, maaf kalau kamu merasa terbebani."
Aku terdiam, kalimat itu terdengar lembut di telinga. Gus Izzam melunak, bahkan setiap kata yang terucap sangat berbeda dari saat pertama menjadi suamiku. Aku mulai menemukan kebaikan itu.
"Kita sarapan dulu," ucapnya mengenggam tanganku. Dadaku berdesir, kembali gemetar dengan sentuhan yang lembut mengelus jemari. "Ayo."
"Iya, Gus."

***
Seusai sarapan, aku memilih berdiam di kamar sambil memegang hapalan nadhom Alfiyahku. Duduk di ranjang dan menyandarkan punggung di penyandar. Pikiranku kembali melayang karena nasehat itu tak bisa kujalankan. Bukan karena Gus Izzam yang menolak, tapi justru aku yang terlalu gugup saat berada dekat dan menatap mata itu.
Denting notif berbunyi memecah lamunanku, benda pipih di tepi bantal pun kusambar.
[Gimana, Nduk? Sudah berhasil?]
Pesan dari kontak Ibu Kulsum. Aku menghela napas, nyatanya semua persiapanku gagal. Aku terlalu penakut saat di dekat Gus Izzam.
[Belum, Bu] balasku.
[Loh, piye? Kok belum, gagal? Kebacut Izzam iku] (Loh, gimana? Kok belum, gagal? Keterlaluan Izzam itu)
Rupanya Ibu Kulsum langsung menelponku dan mencecar pertanyaan mengapa bisa belum.
"Maaf, Bu. Tapi ... Binna yang gagal," ucapku lirih, mataku mengarah kamar mandi, Gus Izzam ada di dalam sana tengah mandi. Takut jika sampai mendengar obrolan ini.
"Kok gagal sih? Gimana, to? Tapi, ya sudah, lah. Nggak papa, masih ada kesempatan lain lagi, kok." Terdengar desahan panjang dari seberang sambungan. "Oh ya, Nduk. Kamu nggak nengok Ibu Bapakmu? Kok dari kemarin Ibumu izin nggak masuk kerja. Ibu khawatir ada apa-apa, nggak biasanya, loh."
"Iya, Bu. Nanti Binna kesana."

Usai menyudahi percakapan, aku menjadi kepikiran soal Ibu yang tidak masuk kerja. Apa mungkin Bapak sakit? Tapi kenapa tidak mengabari jika terjadi sesuatu?
Tak lama Gus Izzam keluar dari kamar mandi, terlihat dia hanya mengenakan kaus pendek dan handuk yang menutup bawahnya sebatas lutut dan menunjukkan bulu-bulu halus di betisnya. Tentu, seketika aku menutup mata dengan kedua tanganku.
"Kenapa?" Terdengar Gus Izzam bertanya.
"Nggak kenapa-napa, Gus," jawabku langsung memalingkan muka dan duduk membelakanginya.
"Saya boleh pulang sebentar, Gus?" tanyaku masih dalam posisiku.
"Pulang?"
"Iya."
"Pulang kemana?"
"Ke rumah Bapak, Gus. Sebentar saja."
"Kamu bicara sama siapa?"
"Sama njenengan, Gus."
"Madepmu kemana? Aku disini."
Aku menghela napas. Masih tak beringsut dari posisiku membelakanginya. Perlahan aku memutar badan dan menoleh Gus Izzam yang sudah berada di depan almari tengah memasang kancing baju kokonya.
"Boleh, Gus?" tanyaku kembali.
"Sekarang?" tanyanya, aku pun mengangguk. Aktifitas memasang buah baju itu terhenti, ia kini menatapku. "Apa ada hal penting? Aku tidak bisa ngantar, ada rapat asatidz nanti jam sepuluh."
"Saya bisa berangkat sama Ulfi, nggak lama kok, Gus. Hanya menengok sebentar. Lagi pula, jarak dari sini ke rumah nggak terlalu jauh, Gus."
Awalnya Gus Izzam nampak berpikir, tapi akhirnya ia mengizinkan dengan syarat diantar Kang Rozak. Perjalanan 10 menit dari pesantren, aku pun sampai di rumah. Setelah turun dari mobil bersama Ulfi, aku pun meminta Kang Rozak segera kembali ke pesantren karena nanti akan mengantar Umi ke Majelis Taklim.

Aku mengetuk pintu kayu yang sudah rapuh di beberapa bagian. Pintu coklat kehitaman ini sudah berusia lebih dari umurku. Aku sangat merindukan rumah ini.
Sudah berkali-kali kuucap salam, juga bergantian dengan Ulfi. Tapi tak kunjung ada jawaban, bangunan di dalam rumah ini tidak terlalu luas, jika ada yang bertamu pun pasti akan terdengar dari dalam. Tapi kali ini tak ada jawaban dari salamku.
"Kok sepi, Bin?" tanya Ulfi di sebelahku. Gadis berwajah tirus itu menatapku bingung.
"Nggak tahu, Ul," jawabku. Aku pun berkeliling, menengok jendela barangkali Ibu di dalam. Tapi terlihat rumah ini sepi tak ada aktifitas apapun.
"Sabrina?" Seorang tetangga yang melihat kedatanganku menghampiri. Pak Kasim namanya.
"Pak Kasim?" Aku pun menghampiri lelaki seumuran Bapak itu lalu mencium tangannya. "Bapak sama Ibu kemana ya? Kok rumah sepi?" tanyaku.
"Loh? Emang Binna nggak tahu? Bapakmu dibawa ke rumah sakit tadi pagi. Kondisinya ngedrop."
Mataku membulat seketika. Penjelasan dari Pak Kasim membuat dada ini tiba-tiba bergemuruh, membayangkan lelaki sepuhku tengah jatuh sakit. Aku panik.
"Sabar, Bin." Ulfi yang langsung menghampiri merangkul dan mengelus bahuku.

Lanjut Huren Nahla

-----

#Jodoh_Pilihan_Kiyai
#Kolab_Silvanni_Huren
#Part_08

Aku menunggu di kantor asatiz untuk bersiap mengikuti rapat pembahasan ujian madrasah yang akan dilaksanakan tiga pekan lagi saat ponsel berdering.
Sebuah pesan singkat. "Assalamualaikum, Gus." Nama Ning Mazaya tertera di sana.
Segera, aku menekan tombol panggilan untuk menghubunginya. Sekali, tak diangkat. Aku pun mencoba untuk panggilan kedua. Dan tersambung.
"Assalamualaikum, Ning."
"Walaikumsalam. Apa kabar, Gus?"
"Alhamdulillah, baik. Njenengan sendiri bagaimana?"
"Seperti biasa, Gus. Alhamdulillah, sehat."
Entah, aku merasa obrolan kali ini begitu canggung. Mungkin karena ini panggilan pertama kami setelah aku menikah, juga karena sebelumnya, kami sangat jarang melakukan panggilan jika bukan urusan penting saat di Turki. Kami lebih sering bertemu dan berkumpul bersama teman-teman yang berasal dari Indonesia.
"A-ada hal yang ingin saya sampaikan, Gus."
"Oh, monggo. Silahkan."
"Sa-saya--"
"Gus, monggo, rapat segera dimulai." Kang Rozak yang tiba-tiba muncul dari balik pintu memberi informasi.

"Oh, njenengan masih sibuk. Ya sudah nanti saya hubungi lagi," tukas Ning Mazaya di ujung telepon.
"Enggak, Ning, gak apa--"
Aku memberi isyarat pada Kang Rozak untuk menunggu dengan mengangkat satu tangan padanya.
"Mboten, Gus. Ini gak terlalu penting. Sekarang silahkan lanjutkan kerjaan dulu, nanti bisa kita sambung lagi. Assalamualaikum." Tanpa menunggu jawaban dariku, sambungan dari Ning Mazaya terputus.
"Ning? Ning?"
"Wa-waalaikumsalam," lirihku dengan menghela napas panjang, menyayangkan panggilan yang diputus sepihak.
Kang Rozak masih berdiri di ambang pintu, menunggu dengan wajah kebingungan. Mungkin ia menangkap kekecewaan yang kutunjukan.
"Maaf, Gus. Saya mengganggu," sesalnya.
"Enggak, gak apa-apa, kok. Panggilan dari teman. Nanti bisa disambung lagi. Ayo." Aku bangkit dari kursi dan berjalan mendahului pria bersongkok putih yang masih mematung.
Aku berhenti sejenak. Memutar tubuh menghadapnya. "Ayo, Kang!"
"Injeh, Gus." Pria itu pun menyusul di belakangku.
"Kamu sudah pulang anter Umi ke majlis ta'lim, to?" tanyaku sambil berjalan beriringan dengan Kang Rozak.
"Sampun, Gus. Tadi setelah anter langsung balik ke pesantren. Nanti sore tinggal jemput Bu Nyai sekaligus Mbak Sabrina."
"Nanti sore kasih tahu aku, yo. Aku juga mau ikut."
"Oh, injeh, Gus."
Sejak menikah dengan Sabrina , aku belum sempat sowan ke rumah bapaknya. Mungkin inilah waktu yang tepat memberi salam penghormatan. Bagaimanapun, kini orang tua Sabrina juga orang tuaku.
Terlepas aku belum sepenuhnya menerima Sabrina dalam hati, tapi berbeda urusan jika itu masalah keluarga. Sebab, pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan tapi juga dua famili yang diharapkan mampu menambah silaturahmi agar panjang umur dan lapang rezeki. Toh, suatu saat hati ini akan terbuka untuk gadis manis itu. 

Sepintas terlintas kejadian saat betapa gemetar tubuh Sabrina kala duduk di sampingku tak urung membuat bibir ini tersenyum tipis. Gadis itu sangat polos ternyata.
Hampir satu jam rapat pembahasan ujian madrah berlangsung. Rapat yang dipandu oleh Rayyan rampung saat waktu zuhur tiba. Kami pun segera meninggalkan ruang rapat dan menuju ke masjid.
"Yan, nanti malam jadwal Liverpool main, lo. Ayo nonton bareng. Sudah lama, to, gak nobar." Aku menepuk pundak Rayyan saat kami hendak ke tempat wudu.
"Boleh, Mas. Lawan mana nanti?"
"Bacelona. Alah, yakin aku. Nanti malam Kang Salah pasti nyetak gol banyak lagi. Ngalahin Masmu Messi," godaku pada pria yang menyingsingkan lengan kemeja panjangnya.
"Jangan yakin dulu, Mas. Kita lihat saja nanti. Mas Messi juga sudah latihan, kok."
"Yo mesti, tapi mesti kalah sama Kang Salah, ajak Kang Rozak dan Kang Mu'in sekalian biar rame nanti," timpalku.
Rayyan hanya mengacungkan ibu jarinya dan bergegas mengambil wudu. Pun aku.
Selain sama-sama suka nonton bola, sebenarnya aku berencana untuk membahas laporan hasil penjualan sapi. Meskipun jumlah nominal tidak seberapa dibanding pendapatan laba, tapi aku tetap tidak tenang. Mungkin ini mutlak kekhilafan Rayyan tapi tetap saja, dia harus bertanggung jawab jika itu kesalahannya.
Sebagai kakak, alangkah baiknya jika aku menegurnya sejak dini, dari pada nanti di akhir aku juga yang dimintai pertanggungjawaban.

***
Setelah solat duhur aku kembali ke rumah. Sepi, hanya ada Abah di ruang tengah sedang menerima telepon. Aku menuju ruang makan dan berniat mengambil piring di meja saat Abah tiba dan turut serta duduk di kursi makan.
"Zam, bada magrib, tolong badali undangan Abah ngisi pengajian sejalian jadi imam di masjid Taqwa. Abah barusan dapat telepon, kalau Kiyai Anwar pengasuh pondok Babul 'Ulum masuk rumah sakit dan harus dirawat. Jadi, Abah minta Rayyan yang antar Abah untuk jemput umimu sekalian Abah dan umi ke RS. Biar Rozak yang jemput Sabrina," terang Abah panjang lebar.
Aku hanya mengagguk dan berucap. "Injeh, Bah."
Meskipun dalam hati sedikit kecewa karena tak berkesempatan berbincang serius dengan Rayyan, aku pun tak bisa menolak permintaan Abah. Kyai Anwar salah satu kerabat juga sabahabat Abah sejak dulu. Tidak mungkin beliau mengabaikannya begitu saja.

Dalam hal tertentu Abah memang kerap diundang untuk menjadi imam sekaligus mengisi ceramah di masjid-masjid luar pesantren. Mungkin itu bukti kepercayaan masyarakat terhadap pesantren yang Abah kelola selama puluhan tahun. Dan aku sebagai anak pertamanya, mau tak mau harus bisa meneruskan amanah yang besar ini.
Meskipun belum tentu dalam kepimpinanku nanti akan lebih baik dari Abah. Namun, aku akan berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi umat layaknya yang telah Abah laksanakan selama ini.
Setelah makan siang aku segera bersiap, jarak antara pesantren dan Masjid Taqwa lumayan jauh. Apalagi semua mobil dipakai, kendaraan yang tersisa hanyalah sepeda motor. Dikhawatirkan hujan, lebih baik kalau aku sekalian solat asar di sana.
"Ow, ya. Mungkin setelah dari rumah sakit Abah akan langsung ke Sumber Sari, jadi umimu akan pulang bersama Rayyan."
"Baik, Bah."

***
Usai solat isya dan ceramah aku bergegas menuju parkiran untuk mengambil sepeda motor. Namun langkah tertahan saat sebuah tepukan di pundak.
"Assalamualaikum, Gus," sapa seorang pria paruh baya berjubah putih dengan peci berwarna senada. Di sampingnya seorang pria tersenyum ramah.
Penerangan di depan masjid cukup baik sehingga dengan cepat aku bisa mengenali pria tersebut. Beliau adalah imam masjid Taqwa, Pak Firman. Sedangkan yang di sampingnya salah satu jama'ah yang duduk sebelahnya saat ceramah tadi.
Aku sudah mengenal Pak Firman, bahakn sering bertemu dengan beliau dulu sebelum ke Turki. Beliau salah satu teman Abah dan juga wali santri. Semua putra putrinya mondok di pesantren.
"Walaikumsalam." Aku segera menjabat tangan keduanya dengan mencium tangannya.
"Wah, wah, wah, Gus Izzam ini memang tawadu', selain ilmu agamanya tak kalah dengan Kiyai Basyari, Gus Izzan ancen bagus tenan," puji pria di samping Pak Firman. "Kenalkan nama saya Mustafa." Lanjutnya.
Aku meyambut goyonannya dengan mengulas senyum. "Jangan berlebih, Pak, ilmu saya belum ada apa-apanya. Masih butuh bimbingan dari panjenengan semua."
"Gus Izzam ini mantu idaman pak Mus," timpal Pak Firman.
Kami pun terkekeh.
"Wah, kebetulan sekali. Saya punya anak gadis yang insyaallah siap dikhitbah," kata Pak Mustafa. "Gus Izzam masih singel, kan?" imbuhnya.
"Alhamdulillah, dua pekan lalu saya sudah menikah, Pak."
"Ah, nambah lagi tidak apa-apa. Jaman sekarang ta'addud itu sudah lumrah. Banyak wanita ketimbang pria. Benar begitu, Pak Mus?" ucap Pak Firman dan dijawab tawa oleh Pak Musatafa.
"Betul, betul, betul. Apalagi kalau suaminya macam Gus Izzam, insyallah putri saya bersedia."
Kami pun tertawa lagi.
Obrolan pun usai saat beberapa jama'ah yang lain mengambil kendaraan di parkiran. Aku pun segera pamit undur diri.

***
Malam telah larut saat aku kembali ke pesantren. Rumah sepi. Lampu teras telah menyala. Namun saat pintu terbuka, tak ada tanda-tanda ada penghuni di rumah. Aku menuju kamar dan mendapati Sabrina tak ada di kamar. Mungkin dia menginap di rumah ayahnya.
Badan terasa lelah juga mata yang berat aku memutuskan untuk segera berbaring di ranjang meluruskan punggung yang terasa kaku setelah berkendara.
Sebuah sentuhan harum nan lembut juga dingin di pipi membuatku terjaga. Perlahan aku membuka mata. Sabrina tengah tersenyum dengan wajah merona. Rambut sebahunya di gerai, beberapa helai menutupi wajahnya yang entah kenapa tampak begitu cerah saat ini.
Sepertinya aku belum sepenuhnya tersadar. Namun tangan bergerak untuk menyibak anak rambut di wajahnya dan menyelipkan ke belakang telinga Sabrina yang hanya menunduk. Perlahan kuraih dagunya yang runcing, menghadapkan ke wajahku.
Gadis ini hanya menggigit bibir bawahnya. Dia sama sekali tak gemetar seperti saat itu meski tampak sedikit malu. Jemariku semakin berani membelai pipinya yang kini bersemu merah.
"Gus," Sabrina berkata lirih seraya menyembunyikan rona di parasnya dengan menunduk.
"Ada apa?" Suaraku terdengar berat, seiring detak jantung yang memacu.
Sabrina bergeming. Bangkit dan meninggalkan ranjang tempatku berbaring sedangkan tanganku berusaha meraih tubuhnya yang semakin menjauh, dan --.
"Au!" Aku memekik saat kurasakan tubuh membentur lantai.
"Astahfirullahhal'azdim!"
Aku terduduk di atas lantai. Terdengar puji pujian dari masjid bertanda solat subuh segera dilaksanakan. 

Huft! Ternyata aku cuma hanya mimpi.
Aku mengusap wajah kasar. Mungkin karena semalam khilaf tidak bersuci sebelum tidur sehingga bermimpi seperti itu. Untung saja segera terbangun, jika tidak mungkin setan semakin senang bermain denganku.
Aku segera bangkit menuju kamar mandi lalu menuju masjid.
Bada subuh rumah masih sepi. Mungkin Umi tidak pulang semalam. Aku menuju dapur untuk membuat teh hangat, ada Mbak Sari salah satu abdi ndalem yang datang dari arah pintu keluar. Mungkin ingin beberes rumah.
"Kalau butuh sesuatu biar saya siapkan, Gus," ucapnya.
"Gak usah, Mbak. Cuma teh, kok. Oh, ya, pada ke mana, ya? Kok sepi?"
"Injeh, Gus, semalam Kang Rozak nelpon saya, katanya Umi dan Mbak Sabrina lanjut ke rumah sakit. Katanya sudah coba hubungi nomer Guse tadi ndak aktip."
Jadi Sabrina ikut Umi sekalian ke rumah sakit menjenguk Kyai Anwar. Tapi apa harus menginap di sana? Ah, aku bisa tanya langsung saat membesuk nanti.
"Ya, sudah terima kasih, ya, Mbak."
"Injeh, Gus." Gadis berjilbab hitam itu beringsut dan meneruskan pekerjaannya.
Setelah membuat teh aku pun kembali ke kamar, melihat ponsel yang sejak berangkat ke masjid Taqwa ada di dalam tas dan belum tersentuh.
Ah, benar! HPku mati.
Aku pun segera mengecasnya. Setelah menunggu sekitar lima menit kutekan tombol power on-off, layar segera menampilkan produk benda pipih ini, tak lama setelah benar-benar menyala sempurna, puluhan pemberitahuan muncul di aplikasi pesan singkat.
Beberap pesan dari Umi, Sabrina, Kang Rozak, Rayyan, nomer asing, dan ... Ning Mazaya!
Segera aku menyentuh pesan dengan nama kontak 'Ning Mazaya'.
"Gus, dua bulan lagi insyallah saya kembali ke Indonesia." Hanya itu. Namun, satu pesan itu cukup membuat kembang di bibirku, juga letupan bahagian membuncah di dada.
Lalu, aku membuka pesan dari Umi. "Zam, kalau sudah selesai urusanmu, segera datang ke rumah sakit. Ayah Sabrina mertuamu sedang kritis."
Selanjutnya, pesan dari Rayyan dan Kang Rozak pun bernada sama.
Berbeda dengan pesan Sabrina yang hanya berisi, "Gus, maaf, saya gak bisa pulang ke pesantren malam ini."
BERSAMBUNG di Maknya Binbin Silvanni Lim Mey

-------


#Jodoh_Pilihan_Kiyai
#Part_9
#Kolab_Silva_Huren

Pintu bercat putih dengan tulisan ruang ICU di atasnya kubuka. Pelan kutapakkan kaki memasuki ruangan dingin tersebut. Tanganku gemetar, rasa waswas melanda. Lelaki berambut putih tengah terbaring lemah di brankar, dengan infus, selang oksigen, juga layar monitor di sebelahnya.
Aku tak kuasa menahan tangis ketika tatapan sayu itu mengarah padaku. Aku pun berhambur memeluk tubuh ringkihnya.
“Bapak,” lirihku dengan bibir gemetar.
“Nduk ....” Sangat lirih beliau berucap. Tangan keriputnya membelai pucuk kepalaku yang terbalut hijab square maroon. “Jangan nangis, Bapak nggak apa-apa.”
Kuamati beliau. Wajah penuh ukiran keriput yang semakin kentara, pucat, dan sayu. Sesekali tarikan napas dalam diambilnya. Mungkin untuk menahan sakit yang tengah mendera.
Stroke yang menyerang, membuat kesehatan Bapak kian menurun. Ibu bilang, Bapak kena komplikasi sehingga dilarikan ke rumah sakit.
“Sama siapa kamu, Nduk?” tanya Bapak dengan nada gemetar. Bibirnya pucat pasi.
“Sama Ulfi, Pak.”
“Suamimu?”
Aku menggeleng. Kugenggam erat tangan dingin karena pendingin ruangan. “Sedang ada kegiatan di pesantren, Pak. Gus Izzam nggak bisa ke sini.”
Hening beberapa saat. Hanya tatapan kami yang beradu. Selepas dari rumah tadi, aku dan Ulfi langsung ke rumah sakit. Tapi karena di ruang ICU, waktu jenguk terbatas, aku baru bisa masuk setelah pukul dua siang.
“Apa kabar keluarga suamimu, Nduk?” tanya Bapak setelah hening menyelimuti.
“Alhamdulillah, baik, Pak,” jawabku. Bapak kembali tersenyum.

“Kamu tahu, Nduk. Bapak menjodohkanmu sama Nak Izzam itu bukan semata-mata karena dia orang berada ....” Kalimat Bapak terjeda oleh tarikan napas dalam. Kembali beliau menatapku.
“Tapi karena dia, dan keluarganya orang mengerti agama. Bapak bisa menitipkanmu pada mereka.”
“Injeh, Pak.” Air mata terus mengalir tanpa suara karena kutahan dengan menggigit bibir bawahku. Sesegera aku menyeka, tak ingin Bapak tahu aku tengah menangisinya.
“Kamu anak Bapak satu-satunya. Tidak ada yang bisa Bapak wariskan kecuali ilmu agama. Bapak bangga karena kamu sudah menjadi anak yang berbakti, manut sama orang tua.”
Meski lirih, aku masih bisa mendengar jelas semua kalimat beliau.
“Terapkan bakti itu pada suamimu, karena semua tingkah lakumu, suamimu lah yang akan mempertanggung jawab kan kelak. Jaga marwahnya.”
“Injeh, Pak.” Serak sudah suaraku, bulir yang menganak sungai. Dadaku terasa sesak, seolah ada bongkahan yang menindih dan menyulitkanku bernapas melihat wajah sepuh itu sesekali memejam netra.
“Tugas Bapak selesai, Nduk.”
“Pak ....” Kembali kepeluk tubuhnya. Tak ingin rasanya berjauh jarak.
Jam besuk telah habis. Dan nanti akan dibuka kembali pukul enam sore, setengah jam lagi. Aku duduk di bangku tunggu bersama Ibu dan Ulfi. Kami berjajar, saling diam dalam keheningan. Mungkin hanya doa yang tengah menggema di hati kami. Doa agar Bapak baik-baik saja.
Aku menoleh wanita di sebelah kiriku. Wanita berhijab biru tua ini tengah menatap langit-langit koridor. Punggung dan kepalanya menyandar pada kursi dengan tatapan melayang entah ke mana.
Kuraih tangan beliau yang terkulai di pangkuannya. Ibu menoleh ke arahku, netranya memerah. Senyum tersungging.
“Insya Allah, Bapak akan sembuh, Nduk,” ucapnya.
“Amin, Bu.” Genggaman semakin kupererat.
“Kamu nggak pulang, Nduk?”
Aku menggeleng. "Binna masih mau nemenin Bapak, Bu.”

“Sudah Izin suamimu? Bukannya kata Ulfi kamu cuma izin sebentar? Ini sudah menjelang magrib loh, Nduk.” Ibu tersenyum sambil menoleh Ulfi di sebelah kananku. “Anak Ibu ini bukan anak gadis lagi, sudah istri orang. Izin suami itu penting.”
Aku mengangguk. Ponsel dalam tas yang berada dalam pangkuan pun kuambil. Sesegera mencari kontak dengan nama Gus Izzam, lantas segera meneleponnya. Namun sampai dua kali, tak ada jawaban. Kuputuskan menelepon kembali nanti.
Usai menunaikan shalat magrib di mushola rumah sakit yang ada di lantai bawah. Aku dan Ulfi menyempatkan ke kantin untuk membeli makanan. Sejak siang tadi kami belum makan sama sekali, dan mungkin Ibu juga. Meski tak ada hasrat sedikit pun mengisi perut karena memikirkan kondisi Bapak.
Nasi kotak berjumlah tiga sudah ada di tangan. Terbungkus kantung keresek yang kutenteng. Aku dan Ulfi pun bergegas menuju ruang rawat Bapak yang ada di lantai dua. Namun saat melewati bangsal rawat inap, kami tak sengaja bertemu Abah, Umi, juga Kang Rayyan. Mereka tampak kaget dengan keberadaan kami. Segera kucium tangan Abah dan Umi bergantian, lalu menyapa Kang Rayyan dengan menangkupkan tangan di dada. Dia pun membalas demikian sambil mengulas senyum.
“Nduk? Kamu kok di sini?” tanya Abah mengernyit.
“Injeh, Bah,” jawabku.
Tatapan bingung terlihat dari tiga pasang netra di hadapanku. Mereka saling pandang satu sama lain.
“Bukannya kamu ke rumah Ibu Bapakmu? Kok di sini?” Umi kini bertanya.
“Ba-pak, sakit, Mi.”
“Loh? Kok nggak bilang kamu, Nduk?” tanya Abah kembali.
“Saya juga baru tahu, Bah.”
Aku sampai di ruang ICU. Ibu tengah duduk sendiri di sana, beliau langsung beranjak saat menyadari ada keluarga Abah yang ikut menengok.
Usai berjabat tangan, Ibu mempersilahkan Abah dan Umi duduk di bangku tunggu. Sedang Kang Rayyan memilih berdiri menyandar di pilar yang tak jauh dari posisi kami.
“Sejak kapan Harun sakit?” tanya Abah.
“Sudah empat hari yang lalu. Tapi puncaknya tadi pagi saat pingsan, Pak Kiyai,” jawab Ibu lirih.
Abah mengangguk.
Tak berselang lama, suster datang dan mengizinkan Bapak dijenguk, tapi hanya satu orang. Abah pun segera bangkit dan memasuki ruangan.

**
“Yan. Sepertinya Abah nggak jadi ke Sumbersari. Kamu ke sana sendiri, ya. Abah nemenin Sabrina di sini sama Umi. Kasihan kalau hanya berdua dengan Ibunya,” ucap Abah seusai menengok Bapak.
“Injeh, Bah.”
Tak lama, Lelaki jangkung itu berpamit. Ia mencium tangan Abah dan Umi, juga Ibu sebelum meninggalkan tempat ini.
Ulfi pun juga kembali ke pesantren diantar Kang Rozak.
Suasana koridor tengah malam sangat sepi. Abah dan Umi tampak tertidur dengan posisi duduk. Sebenarnya kasihan melihat mereka harus ikut menemani, tapi aku pun tidak bisa menolak niat baik mereka.
Ibu, wanita itu duduk tak jauh dari Umi. Beliau pun juga tertidur. Aku yang masih belum bisa memejam hanya mondar-mandir di depan pintu ruangan Bapak. Sesekali menengok dari kaca pintu, lalu menyandar di sana.
Ponsel di genggaman kuhidup kan, lantas mengusap layarnya, terpampang waktu yang menunjukkan pukul 2 malam. Baru tersadar jika belum mengabari Gus Izzam. Ingin rasanya menelepon, tapi pasti dia sudah tidur. Aku tak ingin mengganggu.
Aku menghela napas panjang, biasanya aku menyiapkan keperluannya sebelum shalat subuh nanti. Tapi kali ini tidak. Aku pun memberanikan mengirim pesan yang memberitahukan bahwa tidak bisa pulang.

**
Kondisi Bapak dinyatakan menurun, dokter yang bertugas mengontrol keadaan Bapak pagi ini tampak tengah melakukan tindakan medis. Kami hanya bisa menunggu di luar dengan harap cemas. Aku yang masih berdiri di depan pintu hanya bisa menatap dari kaca. Netraku sudah berembun, jemari menaut diiringi rapal doa dalam hati. Berharap Bapak akan kembali baik-baik saja.
Aku menoleh ketika mendengar isakan pelan Ibu yang tengah duduk di kursi, beliau tampak tak tenang. Aku langsung menghampiri dan memeluk tubuh gemetarnya, aku tahu apa dirasakan. Kami dalam bayang-bayang ketakutan kehilangan sosok pelindung.
Hanya usapan di punggungnya yang bisa kuberikan. Memberi kekuatan dan keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja, tapi tidak dipungkiri, aku pun tengah ketakutan.
Hampir satu jam, dokter pun masih belum juga keluar, hanya suster yang keluar masuk tanpa memberi keterangan. Aku dan Ibu masih saling merengkuh satu sama lain.
Kulihat Abah kini mondar-mandir, bibir penuh jambang putih yang menutupi dagu itu tak henti bergerak. Mungkin tengah merapal doa. Sedang Umi di sebelahku, mengelus bahuku.
Hingga akhirnya terdengar derit pintu yang dibuka untuk ke sekian kali. Dan dokter yang menangani di dalam berhenti di depan pintu, menatap kami bergantian.
“Keluarga Pak Harun?” ucapnya. Aku segera beranjak dan menghampiri, begitu juga Abah.
“Saya anaknya, Dok,” ucapku.
“Maaf, Pak Harun ... meninggal dunia. Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik, tapi Allah berkehendak lain.”

Aku menutup rapat bibir. Menahan tangis yang sebentar lagi akan tumpah. Sebuah kabar yang tidak pernah ingin kudengar. Bulir mulai berjatuhan. Pijakkanku seolah amblas, aku tak bisa menopang diri dan luruh ke lantai.
Kalimat ‘Innalillahi’ terdengar dari Abah dan juga Umi. Menambahkan luka yang melanda hatiku. Aku kehilangan Bapak. Masih teringat siang itu beliau menasihati dan kini pergi untuk selama-lamanya.
“Nduk. Bangun, Nduk. Ikhlas, insya allah, Bapakmu husnul khotimah.” Abah berusaha membantuku bangkit.
“Astagfirullahal adzim.” Aku menoleh ketika Umi memekik. Terlihat Ibu tumbang dalam pelukan Umi. Segera aku menghampiri.
“Bu ....” Pipi basah wanita yang tak sadarkan diri dan kini terkulai di pangkuan kuelus. Seiring air mata yang terus menghulu sungai, aku memanggil, tapi beliau tak kunjung membuka mata. Sampai akhirnya suster membantu dan membawa Ibu ke UGD memberi pertolongan.
Aku menangis sejadinya. Hari ini menjadi hari kelamku. Ingin mengejar Ibu yang dibawa ke UGD dengan brankar dorong. Tapi Umi menahan, beliau memeluk erat tubuhku.
“Sabar, Nduk ....”
“Abah kabari Izzam dulu.” Belum sempat Abah mengambil ponsel di saku. Terlihat sosok Gus Izzam tiba, lelaki berbaju koko cokelat muda itu tampak kebingungan melihat ke arahku.
“Zam, dari mana kamu baru sampai?” Abah langsung bertanya.
“Maaf, Bah. Tadi handphone Izzam mati, baru masuk pesan dari Umi.”
“Mertuamu meninggal dunia.”
“Innalillahi waina Ilahi rojiun.”
Umi menuntunku duduk, berkali-kali mengusap punggungku.
“Zam, temani istrimu, Umi mau nyusul Ibunya Sabrina, tadi pingsan,” ucap Umi sambil beranjak dari sebelahku. Lalu berjalan bersama Abah meninggalkan tempat ini.
Aku hanya menoleh sekilas lelaki yang masih berdiri tak jauh dariku. Kembali larut dalam tangis kehilangan. Mata ini terlanjur buram penuh air yang terus meluruh. Sampai terasa sentuhan yang membelai bahuku.
Aku menoleh, Gus Izzam duduk di sisiku. Tatapan kami bertemu, tapi hanya hening yang tercipta.
“Maaf, harusnya aku ada di sampingmu,” ucapnya kemudian.
“Tidak apa-apa, Gus. Saya tahu, kata Umi, njenengan sedang ada tausiah,” ucapku seraya mengusap air mata dan menolehnya.
Kami kembali hening. Sampai akhirnya dia merengkuhku. Memberi dekapan yang kemudian diikuti usapan lembut di punggung. Aku kembali tergugu, tangis yang kembali berderai dan membasahi baju Gus Izzam. Tapi kali ini, aku butuh tempat untuk menyandarkan kepala yang terasa berat.
“Pak Harun sudah tenang, jangan ditangisi terus. Tidak baik,” ucap Gus Izzam, ia melonggarkan pelukan dan melepas. Kemudian jemarinya mengusap bulir yang terus berjejak di pipi.
“Tapi saya belum siap kehilangan Bapak, Gus,” ucapku sesenggukan.
“Tidak ada orang yang siap dengan kata kehilangan.”
Kembali Gus Izzam menarikku dalam pelukannya. Membiarkan kepala ini menyandar di dadanya.

**
Sirine ambulance meraung. Mobil putih itu membelah jalanan menuju rumah duka yang masih satu kecamatan dengan pesantren. Di dalamnya ada Abah yang menemani jenazah Bapak, sedang aku satu mobil dengan Umi dan Ibu yang dikendarai Gus Izzam.
Sesekali Gus Izzam menoleh ke arahku di jok sampingnya, mengulas senyum dan menguatkan dengan menggenggam tanganku yang bertumpu di pangkuan.
Sudah banyak warga yang berdatangan, bendera kuning pun berkibar di halaman rumah. Hancur rasanya hatiku saat ini, melihat tubuh kaku Bapak dibopong beberapa warga menuju ke dalam. Namun kembali, genggaman tangan Gus Izzam memberi kekuatan untuk tetap tegar.
Semua fardu kifayah perawatan jenazah sudah dilakukan, Gus Izzam terlibat di dalamnya. Dan kini, suamiku membantu proses pemakaman. Hatiku bergetar, antara bahagia dan haru saat mendengar dia mengazankan Bapak yang sudah dimasukkan ke liang lahat.
Gundukan tanah basah bernisan itu sudah penuh dengan taburan bunga. Penghormatan terakhir untuk Bapak selesai. Pelayat pun mulai meninggalkan pemakaman. Gus Izzam mengajakku kembali, aku mengangguk lalu beranjak dari simpuh di sisi makam.
Lanjut besan Huren Nahla (Gagal tag, nggak ada kontak batin)
Nggak bisa balas komen satu-satu, Emak banyak PR yang musti dituntasin. Peyuk dan ciyum buat kalian semua. ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜
Ttd
Anak pak Mustafa.

-------


#Jodoh_Pilihan_Kiyai
#Kolab_Silvanni_Huren
#part_10

Wajah Sabrina pucat, kusam masai dengan mata bengkak sebab banyak menangis. Tak kulihat kilat semangat di iris matanya yang bulat. Redup. Terkungkung kesedihan atas kematian ayahnya.
Pelukan dan dekapanku tak mampu menghalau kesedihannya. Dia masih saja larut dalam duka mendalam. Dan itu, membuat bongkahan dalam dada ini teremas. Iba menatapnya. Sebagai anak perempuan satu-satunya pasti dia ingin membahagiakan ayahnya, tapi belum sempurna usahanya sang ayah sudah tutup usia. 

Sejak kedatanganku di rumah sakit, gadis itu belum berhenti menangis. Pun ibunya yang beberapa kali tak sadarkan diri. Tak jarang aku mendapatinya tiba-tiba menangis sesenggukan di kamar atau selepas solat. Sambil mengadahkan tangan dalam doa yang ia panjatkan, hanya isak yang terdengar.
Tak tega rasanya melihatnya terpuruk terlalu lama dirundung duka, dan kehadiranku di rumah ini diharapkan mampu sedikit menghibur masa suram yang tengah ia dan ibunya dihadapi.
Aku berusah menghiburnya dengan bercerita tentang kekonyolanku di masa kecil. Menyembunyikan kitab Abah agar tidak berangkat mengaji atau membuang sendal Abah jika permintaanku tak dituruti. Sabrina hanya menanggapinya dengan senyum kaku, sepertinya ia belum sepenuhnya terhibur.
"Gus, baiknya njenengan besok gak usah ke sini saja. Biar saya ditemani ibu juga saudara," pintanya padaku di hari ketiga kematian ayahnya.
Pukul 21.12, Sabrina tengah sibuk menata baju-bajuku yang sore tadi kupakai, sepertinya sudah bersih dicuci untuk aku baca pulang ke pesantren. Sedangkan aku duduk di kursi dekat pembaringan menghadap Sabrina. Menunggunya memberekan pakaian sambil menikmati wedang jahe buatannya.
Selama masa berkabung, aku memang bolak balik pesantren. Datang bada asar untuk malam tahlilan dan langsung pulang ke pesantren, sedangkan Abah di Sumber Sari karena Ibu Kulsum yang sedang sakit. 

Tidak mungkin meninggalkan Sabrina dan ibunya dalam keadaan seperti ini.
Rumah telah sepi, tinggal beberapa santri yang menungguku di luar dan akan kembali ke pesantren malam ini. Ya, selain warga sekitar aku juga meminta beberapa santri juga asatiz ikut dalam acara tahlilan.
"Memang kenapa kalau ke sini lagi?"
"Mboten nopo-nopo, Gus. Hanya ...." Sabrina menghentikan ucapan juga gerakan tangannya. Menatapku sesaat.
"Hanya apa?"
Terdengar embusan napasnya yang berat dan melanjutkan memasukkan baju ke dalam tas. "Lebih baik di pesantren saja, biar Kang Rayyan dan asatiz lain yang ke sini. Saya kasihan saja sama Guse, harus bolak balik pesantren."
"Kamu kasihan sama aku?"
"Injeh, Gus. "
"Yakin?" cecarku.
Sabrina menautkan kedua alisnya hingga hampir menyatu. "Sak estu, Gus." Sabrina menyakinkanku sambil memberengut. Mungkin kesal aku menggodanya.
"Awas, lo, dari kasihan nanti bisa jadi sayang," candaku dengan menatapnya lekat.
"Kulo memang sayang sama Guse, kok," lirih Sabrina yang langsung menunduk.
Aku tercengang dengan jawabannya yang spontan dan sempat menangkap semburat merah jambu di pipi putih itu. Hatiku berdesir seketika. Ada gejolak yang membuncah di jiwa. Tak heran, karena sejak awal Sabrina memang begitu perhatian, menyiapkan segala keperluanku tanpa keluhan.
Ah, ingin rasanya merangkum wajah yang masih tertunduk itu.
Malam kian larut, di luar masih terdengar riuh para santri yang bercapak di depan rumah tapi tak menghentikan detak jantung yang berpacu kuat.
Aku bergeser ke ranjang yang berderit saat kududuki. Ingin lebih dekat dengan gadis yang kini menatapku dengan sendu. Entah bagaimana aku mengartikannya. Ada dorongan yang kuat agar aku tetap tinggal di sini. Di kamar berukuran 3x3 m tanpa pendingin ruangan. Hanya ranjang, lemari dan kursi. Bersamanya, bersama Sabrina
Apa aku tidak usah kembali saja ke pesantren.
"Nak Izzam, itu sudah ditunggu para santri." Suara Ibu dari luar kamar mengbuyarkan angan yang baru saja tergambar.
Aku segera berdiri dan menggaruk tengkung yang tidak gatal. Menjauhi dari Sabrina yang tersenyum simpul.

"O-oh injeh, Buk. Sebentar saya beberes dulu." Aku meraih tas yang diberikan Sabrina, kemudia dia mencium tanganku takdzim.
Aku meraih kepalanya dan memberikan kecupan lembut di ubun-ubunnya. "Aku pulang dulu, ya. Jangan nangis."
"Cuma ditinggal Guse saya gak akan nangis, kok."
Kini aku yang tertawa kecil mendapati Sabrina salah tanggap dengan ucapanku. Dia tak mengira kalau maksudku menangisi ayahnya.
"Baguslah kalau begitu." Aku keluar kamar diikuti Sabrina.
Di halaman rumah berbentuk leter L bercat kuning ini, Rayyan dan yang lainnya telah menunggu, bahkan sebagian sudah masuk ke mobil. Rayyan berdiri dari kursi yang didudukinya saat melihatku di ambang pintu.
"Bagaimana, Mas, mau ikut pulang atau menginap di sini?"
Ucapan Rayyan serta merta membuat wajahku memanas. Sabrina yang berdiri di sisiku tertunduk dengan mengulas senyum.
"Ya-ya gak, to."
Rayyan tertawa kecil melihatku tergaagp. "Ya, kalau mau tinggal biar aku dan teman-teman berangkat sekarang. Siapa tau Sabrinanya butuh teman."
"Besok saja kalau Abah sudah kundur dari Sumber Sari aku nginep."
Sabrina yang berada di sampingku tak ayal mendongak, menatapku hingga mulutnya sedikit terbuka. Kukatupkan bibirnya dengan menyentuh dagunya dengan ujung jari.
"Ciyeee ... Guse ...." Teriakan para santri membuat gadis di sampingku menunduk lalu berlari masuk ke rumah dengan wajah semerah tomat.

***
Malam pekat saat kendaraan yang aku tumpangi tiba di pesantren. Hampir pukul 22.00. Setelah para santri turun, aku memarkir mobil dan langsung menuju ndalem.
Setelah membersihkan diri, kusempatkan untuk mengecek ponsel sebelum beranjak ke ranjang. Ada beberapa pesan baru rupanya.
"Gus, pakan sapi siap kirim besok." Sebuah pesan dari Pak Warso, penjual tetes tebu, bungkil, dan jenjet. Untuk tambahan seperti dedak aku cukup mengambilnya dari pabrik penggilingan milik Abah.
Dahiku mengerut saat sebuah pesan dari nomer yang tak terdaftar di kontak. "Assalamualaikum, Gus. Perkenalkan saya Meylandari, panggil saja Mey. Saya putri dari bapak Mustafa."
Meylandari putri bapak Mustafa. Ingatanku segera tertuju pada obrolan dengan Pak Firman dan Pak Mustafa sepekan lalu di Masjid Taqwa. Astagfirulloahal adzim. Apa Pak Mustafa sungguh serius dengan ucapannya?
Aku tak melanjutkan membuka pesan lainnya. Mengusap wajah kasar dan merebahkan tubuh di ranjang, merapalkan doa, ayat kursi, akhir surah Albaqarah juga mu’awwidzaat.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi saat kita tertidur, maka alangkah baiknya jika kita mensucikan diri dan mohon ampun dan perlindungan sebelumnya.
Pinutur Abah, ayat kursi itu bisa sebagai tolak bala, makanya baik dibaca kapan saja. Menurut Abah juga, jika kita membaca akhir surah Albaqarah pada pagi hari, maka akan terjaga hingga malam hari dan jika dibaca saat malam hari maka akan terjaga hingga pagi kemudian. Sedangkan, Wu'awwidzat adalah surat Al Ikhlas, surat Al Falaq, dan surat An Naas. Disebut mu’awwidzaat karena tiga surat pendek Alquran ini dapat berfungsi sebagai ta’awwudz atau permohonan perlindungan kepada Allah.

***
Aku tengah duduk di teras depan menyambut para tamu yang masih berdatangan untuk takziah di hari ketujuh kepulangan bapak Harun, ayah Sabrina. Pagi ini aku berangkat lebih awal karena Abah sudah kundur dari Sumber Sari.
Dari kejauhan tampak orang gadis yang turun dari mobil menuju kediaman Sabrina.
"Gus Izzam, 'kan?" Sebuah panggilan membuatku menoleh ke sumber suara. Seorang gadis berjilbab hitam juga gamis berwarna senada. "Saya Nissa." Gadis itu menangkup kedua tangan di dada.
Aku hanya tersenyum membalas keakraban yang ia berikan, karena nyatanya aku tidak merasa mengenalnya.
Nisa mengambil duduk di kursi tak jauh dari temparku duduk. "Saya temannya Ning Mazaya, Gus pasti tidak kenal saya, wong saya cuma tahu Guse dari foto dan cerita Ning Maza saja," terang gadis itu panjang lebar.
"Oh ...."
Gadis yang mengaku teman Ning Maza ini sangat supel, ramah dan tidak basa-basi. Membuatku tak sungkan meski baru mengenalnya. Ada bungah yang berkembang di dada mendengar nama Ning Maza disebut, juga bertemu dengan salah satu temannya menyisipkan kebahagian tersendiri bagiku.
"Saya ke sini ikut Ayah takziah. Ayah temannya Pak Harun waktu nyantri dulu. Tadi niatnya gak turun soalnya kata Ayah gak lama. Tapi saya perhatiin Guse, kok, sepertinya mirip dengan seorang yang saya lihat fotonya dan ternyata benar. Oh, ya, Ning Maza dua bulan lagi pulang ke Indonesia, 'kan?"
"Kabarnya begitu."
Gadis itu menatapku dengan tersenyum. "Dan kabarnya ... mau pinang," bisik Nisa. Guratan bahagia juga terpancar di wajah Nisa. "Jangan lupa undangannya, ya, Gus."
"Insyaallah."
"Gus, ini wedangnya." Sabrina muncul dari pintu depan dengan membawa nampan berisi segelas teh yang masih mengepul. "Oh, ada tamu juga, maaf saya ndak tahu," ucap Sabrina santun melihat Nisa.
Nisa pun mengangguk membalas sapaan Sabrina. Gadis itu mengerutkan dahinya dan berkata, "Gus Izzam ini ... maksud saya apa masih kerabat juga dengan Pak Harun?"
Aku sedikit kaget dengan pertanyaan Nisa. Seketika menatap Sabrina yang melengkungkan bibir ke bawah. Seolah sedih, tidak nyaman, atau kecewa dengan pertanyaan Nisa. Entahlah.
"Sabrina ini ... istriku, Nis. Sabrina, kenalkan ini ... Nisa," ucapku mengenalkan Sabrina.
Dua gadis di depanku saling berjabat tangan dan berbalas senyum. Rona terkejut juga tergambar jelas di wajah Nisa. Bertolak belakang dengan ekspresi yang ia tampakkan saat pertama kali kami berbincang tadi.
Obrolan selanjutnya begitu canggung. Nisa tak lagi menyebut nama Ning Maza walaupun dia yang terap mendominasi percakapan. Setelah Ayahnya keluar dari ruang tamu, mereka pun pamit.

***
Rumah telah sepi, Ibu juga sepertinya sudah istirahat sejak tadi. Sabrina duduk di sisi ranjang dengan gawai di tangannya saat aku masuk setelah dari kamar mandi. Ia segera meletakkan benda pipih itu di meja kecil saat melihatku.
"Kenapa seperti terkejut begitu? Dapet pesan dari siapa hayo?" godaku.
"En-enggak, kok. Pesan dari siapa? Kontak di HP saya saja cuma nomer Guse, Ibu, Umi dan Abah, kok. Memangnya Guse yang punya teman banyak ...." ketus Sabrina.
Aku hanya mengangkat alis meski menangkap aura kejanggalan di kalimat akhir Sabrina.
Gadis itu beringsut dan melepas jilbab kaus yang ia kenakan, berdiri menyisir rambut lurus sebahunya di depan lemari kayu berkaca.
Aku hanya menikmati pemandangan itu dengan duduk di kursi. Salah satu kebiasaan Sabrina menjelang tidur, menyisir rambut dan menggunakan lation di tangan dan kakinya.
Perasaan ini masih bergemuruh saat melihat Sabrina tanpa penutup kepala. Ada desiran halus yang menyusup dalam kalbu juga dentaman jantung yang memacu lebih dari biasanya.
"Mbak Nisa cantik, njeh, Gus. Sepertinya juga pinter."

Aku sepertinnya mengerti arah pembicaraan gadis bergingsul ini. "Aku baru pertama kali tadi bertemu dengannya. Kenapa? Kamu cemburu?" Kutopang dagu dengan satu tangan.
Sabrina berhenti menyisir. Dari pantulan cermin dia menatapku sesaat lalu kemudian lanjutkan menata rambutnya kembali setelah meletakan sisir di kotak kecil atas lemari.
"Enggak. Kenapa meski cemburu." Sabrina kembali duduk di tepi ranjang.
Aku menggeser tubuh untuk menghadapnya, menatap paras ayu itu lekat. Jarak kami cukup dekat, bahkan mungkin tanganku bisa meraih tubuh mungil Sabrina.
"Sebentar lagi ujian madrasah, kamu sudah seminggu tidak mengikuti kajian. Apa nanti bisa menyusul ketinggalan? Materi kelas akhir berat-berat, lo. Jangan sampai nanti kamu mengecewakan."
"Saya akan berusaha, Gus," jawab Sabrina dalam tunduk. Dia sepertinya salah tingkah. Merasa terintimidasi atau mungkin karena aku tak henti memandangnya.
"Bagus itu. Dan kalau kesulitan ... kamu bisa tanya aku. Kita bisa kajian bareng nanti."
"Sak estu, Gus?" Sabrina mengangkat wajah. Mata bulat Sabrina membeliak. Ada kilatan cahaya di sana. Spontan tangannya memegang lenganku.
Seolah ada aliran listrik yang menyengat. Ini bukan kontak fisik kami yang pertama, tapi malam ini satu sentuhan tangan Sabrina mampu membangkitkan deburan rasa yang tertahan sejak lama.
Aku mengangguk seraya mengulas senyum. "Iya, tapi sebelumnya kita 'ngaji' satu sama lain dulu sekarang."

"Maksud, Guse?"
Aku beralih duduk di tepi ranjang yang langsung berderit. Namun tak menyurutkan erotisisme yang telah memuncak. "Apa kamu gak kasihan sama aku beberapa hari ini bolak balik pesantren ke sini." Sabrina menunduk tapi urung saat aku meraih dagunya yang runcing. Pipinya sudah bersemu merah. "Katanya sudah sayang ....?"
Kami saling berpandangan, ada ketegangan pada Sabrina tapi bukan ketakutan seperti saat pertama kali aku menyentuh janggutnya. Dia hanya terpejam saat aku menyentuh kedua pipinya dan mendekatkan wajah. Meniadakan jarak dan larut dalam irama gerak yang kuciptakan.
Sabrina pasrah saat lenganku merengkuh tubuhnya. Menunaikan kewajiban sebagai sepasang kekasih yang halal, melebur segala kerinduan dan kegelisahan yang menyiksa, merasakan manisnya buah pernikahan bersama-sama. Telah gugur kewajibanku sebagai suami untuk pertama kalinya, memberi nafkah batin pada istriku, Sabrina.
Mungkin tanpa aku sadari rasa sayangku bertumbuh saat melihat Sabrina bermuram durja atas meninggalnya bapak. Arrohmaan arrohiim, Maha Pengasih Maha Penyayang. Bagitulah kuasa Allah menciptakan rasa pada hati hamba-Nya. Mudah bagi Sang Muqallabal Quluub, Maha pembalik hati untuk menumbuhkan rasa cinta. Dari rasa saling mengasihani lalu kemudian saling menyayangi.
TAMAT pov Izzam! Versi lengkap di novel ya. Next anaknya Pak Mustafa Silvanni Lim Mey landari wkkwwkkwkwk

-----

#Jodoh_Pilihan_Kiyai
#Part11

Jendela kamar berkaca bening kubuka, membiarkan udara pagi masuk dan memberi kesejukan. Kilauan surya yang keemasan menerobos rindangnya pohon mangga yang berdiri kokoh di samping rumah menerpa wajah. Tepat di sebelah kamarku, pohon mangga yang ditanam Bapak bertahun-tahun yang lalu. Entah, aku lupa tepatnya kapan.
Di sana, di bawah pohon mangga, ada kursi panjang berbahan kayu yang menjadi tempat favoritku dengan Bapak menghabiskan waktu luang di kala senja. Menikmati semburat jingga meski tak bisa seutuhnya karena terhalang bangunan rumah tetangga. Tapi aku suka berlama-lama di sana.
Aku merengkuh diri, mengangan kembali kebersamaan yang hanya tinggal kenangan. Semua terekam jelas dalam ingatan, bagaimana sosok yang kini hanya ada dalam doaku selalu memberi nasihat. Menjadi sebuah rindu yang akan senantiasa tumbuh subur di dalam kalbu
"Kita jadi balik ke pondok hari ini?" 

Pertanyaan yang memudarkan angan. Aku menoleh dan berbalik badan, menatap lelaki yang baru saja masuk ke kamar dan duduk di kursi kayu.
"Jadi, Gus," jawabku. Lalu melangkah dan duduk sisi ranjang, mulai mengemas pakaian yang sudah terlipat ke dalam tas. Beberapa baju pun segera kumasukkan.
Aku menutup resleting tas hitam yang kini di pangkuan. Mengembus napas manakala ingat sosok ibu yang harus kutinggal. Meski beberapa hari ini keadaan beliau sudah lebih baik, bisa beraktivitas seperti biasa, mengobrol dengan tetangga yang membantu acara selama tujuh hari. Bahkan tadi pagi kami masak bersama, tapi luka di hatinya mana tahu seberapa dalam.
Aku sebagai anak sangat merasa kehilangan atas wafatnya Bapak, bagaimana Ibu yang kehilangan separuh hati dan jiwanya. Sesak di dada ini tiba-tiba muncul dan menggumpal, membuatku kembali menghela napas untuk melonggarkan.
"Kalau masih mau di sini, kita bisa menginap lagi." Gus Izzam beranjak dari duduk, menghampiri dan beralih duduk sisiku.

"Ndak, Gus. Saya sudah banyak tertinggal pelajaran." Aku menoleh ke arah Gus Izzam.
"Atau kita pulang nanti sore saja?"
Aku menggeleng, lalu mengulas senyum. Di sana, di manik mata terang itu dapat kulihat kepeduliannya padaku. Dia yang banyak menghabiskan waktu hanya untuk menghiburku. "Ndak apa, Gus. Kita balik bada zuhur saja. Saya juga punya tanggungan ngajar TPQ, sudah lebih seminggu saya absen."
Gus Izzam mengangguk dan tersenyum. Membelai bahu lalu menarikku dalam pelukannya. Entah, aku merasa menemukan kebaikan darinya, dan mungkin hatinya. Aku tak bisa menggambarkan bagaimana perasaanku saat ini, tapi ada rasa bahagia yang terasa saat bersama dia.
Matahari mulai merangkak naik, melebarkan cahaya yang kian terik. Usai shalat zuhur aku dan Gus Izzam pun berpamit pada Ibu yang berada di ruang tamu tengah duduk menyandar. Di sana ada Mbak Ratna, anak Pak Kasim yang sejak seminggu ini menemani aku dan Ibu.
"Bu, kita pamit dulu, Bu," ucapku yang duduk di kursi sebelah Ibu. Wanita bergamis motif bunga warna hitam itu mengangguk. Menatapku juga Gus Izzam di sampingku bergantian.
"Iya, hati-hati." Ibu mengulas senyum saat aku dan Gus Izzam bergantian mencium tangannya.
"Ibu jaga diri di sini," ucapku, beliau kembali tersenyum, mungkin tahu jika aku mengkhawatirkannya.

"Tenang saja, ada Ratna yang nemenin Ibu."
Aku tersenyum menoleh Mbak Ratna di sebelah Ibu, dia yang merupakan murid ngaji Bapak dulu, juga sudah dianggap anak oleh Bapak juga Ibu.
Setidaknya rasa khawatirku meninggalkan Ibu berkurang karena Mbak Ratna bisa sering berkunjung, juga rumahnya yang berjarak pekarangan kecil, membuat gadis yang berusia di atasku ini bisa datang sewaktu-waktu.
"Tenang aja, Bin. Aku bakal temenin Ibu kok." Begitu ucap Mbak Ratna sambil mengelus bahu Ibu. Aku pun tersenyum menanggapi.
Usai berpamit, aku pun berangkat bersama Gus Izzam, selama perjalanan pulang, lelaki yang duduk di balik kemudi ini banyak mendominasi percakapan, banyak hal yang diceritakan, bahkan aku lupa apa saja yang dibahas. Mataku tertuju pada gerak bibirnya yang sesekali menyungging senyum. Dari sana, ada kebahagiaan tersendiri yang kurasa. Dia yang awalnya hanya berbicara seperlunya, kini seolah memecah hening, membuang sekat diantara kami.

***
Denting notif terdengar dari ponsel yang tergeletak di sisi bantal. Aku yang tengah bersiap berangkat ke madrasah diniyah selepas isya menoleh benda pipih itu. Terlihat di layar sebuah pesan masuk. Aku pun meraih dan mengusap layarnya.
"Assalamualaikum Sabrina, semoga harimu lebih baik lagi. Selepas meninggalnya Bapakmu, aku khawatir dengan keadaanmu."
Pesan dari nomor yang tidak kukenal. Aku yang masih berdiri memilih duduk di kursi meja rias. Mengamati kembali isi pesan itu.
Bukan sekali, atau dua kali aku mendapat pesan seperti ini. Bahkan dari beberapa hari yang lalu. Masih dari nomor yang sama, isi pesan pun seolah memotivasi dari musibah yang baru saja kualami.
Setiap kali aku menelepon, pemilik nomor itu tak mau menjawab. Membuatku bertanya-tanya, siapa yang dibalik pengirim pesan misterius ini?
Aku menggeleng, membuang pertanyaan tentang pesan yang berkelebat dalam pikiran. Ada baiknya mengabaikan pesan yang tentu tidak perlu ditanggapi.
Belum sempat kuletakkan ponsel ke laci meja. Kembali muncul pesan dari nomor yang sama.
"Baik-baik, ya. Jangan terlalu banyak pikiran."

Isi pesan kali ini. Semakin membuat penasaran, juga merasa terganggu dengan pesan-pesan yang dikirimnya. Kembali kuabaikan dan segera meletakkan benda digenggaman ke dalam laci.
Segera kuambil kitab juga buku yang akan menjadi mata pelajaran malam ini. Setelah merasa tak ada yang terlupa, aku pun melangkah keluar kamar.
Tepat di depan pintu, Gus Izzam berdiri di sana, sepertinya baru tiba dari masjid seusai shalat isya berjamaah. Aku memundurkan langkah membiarkan dia masuk terlebih dahulu.
"Mau berangkat?" tanyanya seraya masuk.
"Iya, Gus." Segera kusambut dan mencium tangannya.
"Belajar yang rajin," ucapnya kemudian. Kurasakan sebuah kecupan di ubun-ubun. Membuatku memejam menikmatinya.
Aku pun segera berpamit. "Assalamualaikum, Gus."
"Waalaikum salam." Dia mengulas senyum sebelum akhirnya pintu kututup.
Kegiatan diniyah tengah berlangsung, tapi entah pikiranku melayang, menerka tentang pemilik nomor yang semakin gencar mengirimkan pesan. Kali ini sangat mengganggu, bahkan bisa mengganggu hubungan baikku dengan Gus Izzam yang baru terjalin hangat.
Aku terperanjat saat Ulfi meniup kasar wajahku. Seketika aku menoleh dia yang berada di sebelahku.
"Ngelamun, e? Liat itu, kitabmu lowong berapa baris," bisik Ulfi sambil menunjuk kitab di meja depanku dengan dagunya. "Jangan ngelamun terus."
"Iya, Ul."
Aku baru tersadar, tertinggal beberapa baris saat memaknai kitab yang diterangkan Kang Rayyan. Aku hanya beristigfar dalam hati sambil menghela napas. Lalu menoleh sekeliling yang tengah khusyuk menyimak asatidz mengajar.
Rupanya Kang Rayyan terganggu karena percakapanku dengan Ulfi, terbukti dia menghentikan pelajaran. "Siapa yang berisik?" tanyanya. Tatapannya mengedar ke seisi kelas.
Semua santri di kelas menoleh ke arahku dan Ulfi, dan pandangan Kang Rayyan pun demikian. Aku menunduk, begitupun Ulfi, meski Kang Rayyan tipe pemuda yang ramah, tapi ketika tengah memimpin pelajaran, dia sangat disiplin dan tegas.
"Ada apa Sabrina? Ulfi?" tanya Kang Rayyan yang masih dengan posisi duduknya.
Tak ada jawaban yang aku dan Ulfi berikan, kami saling diam. Apalagi tatapan murid lain seolah mengintimidasi.

"Ya sudah. Kalau memang mau melanjutkan ngobrol, silahkan keluar. Saya tidak mau pelajaran saya terganggu." Tegas juga berwibawa saat Kang Rayyan mengucap. Lelaki berpeci hitam itu kembali melanjutkan bacaan kitabnya.
Pelajaran berlangsung lebih dari dua jam karena penambahan kajian. Seusai mengucap salam, Kang Rayyan berpamit undur dari kelas. Suasana kelas masih riuh, sebagian masih duduk di bangku masing-masing, merapikan buku sambil berbincang dengan teman santri lainnya.
"Kamu mikirin apa sih, Bin?" tanya Ulfi saat aku merapikan buku-bukuku. Aku hanya menoleh, masih enggan menceritakan tentang pesan yang mengganggu pikiran sedari tadi.
"Bin!" Kali ini Ulfi menahan buku yang hendak kubawa, ia menatap tajam ke arahku. Selama menyantri di sini, Ulfi lah satu-satunya santri yang begitu dekat denganku. Tempat berbagi keluh kesah.
Aku menatap Ulfi, menghela napas. Mungkin, ada baiknya juga kuceritakan tentang pesan itu. Setidaknya ada solusi yang bisa membantu. Gadis itu menyimak ketika kuceritakan bagaimana awal mula pesan itu.
"Kamu nggak tahu nomornya siapa?" tanyanya kemudian. Aku menggeleng.
"Aku kan baru pegang HP, Ul. Nomor juga hanya menyimpan punya Guse, dan keluarga ndalem, dan yang tahu nomorku pun cuma keluarga ndalem juga," jelasku. Ulfi mengangguk, matanya menerawang langit-langit, itu pertanda dia tengah berpikir.
"Ya udah, kita lanjut sambil jalan aja." Ulfi beranjak, merapikan buku dan mengajakku meninggalkan kelas yang sudah sepi, hanya tersisa kami berdua.
Koridor madrasah sepi saat kami melintas, banyak santri putri yang sudah kembali ke asrama mengingat waktu sudah mulai larut. Jam di salah satu kelas kelas yang terlihat dari jendela kaca menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Hanya ruang asatiz yang masih terdengar percakapan antar dewan pengajar yang belum kundur.
"Bin," panggil Ulfi dengan tatapan mengarah kantor asatiz.
"Opo?"
"Dugaanku kok mengarah ke Kang Rayyan, ya?"
Langkahku terhenti, menghadap Ulfi yang masih mengawasi ruang asatiz di sisi kiri kami. Bagaimana bisa Ulfi menduga Kang Rayyan pelakunya?
"Jangan menduga-duga, Ul," tegurku. Kembali kulanjutkan langkah sambil menoleh ruang asatidz, ucapan Ulfi membuatku menoleh pemilik nama yang disebutkan. Kang Rayyan yang duduk bersama asatidz lain menyadari tengah diperhatikan hanya mengulas senyum.
"Bisa jadi, Bin. Kamu nggak ngerasa gitu, kalau Kang Rayyan perhatian sama kamu?" tanya Ulfi sembari berlari kecil dan mengimbangi langkahku. Aku hanya menoleh sekilas menanggapi. Entah, masih tak percaya jika pengirim pesan itu Kang Rayyan.

"Kang Rayyan kan memang perhatian sama semua orang, Ul," sanggahku.
"Peduli sama perhatian itu beda, Bin. Kang Rayyan peduli sama semua orang, tapi dia perhatian sama kamu. Nggak ngerasa kamu?"
Aku hanya diam. Mencerna setiap kalimat Ulfi, hanya saja tidak serta merta mengiyakan pendapat sahabatku ini.
Kang Rayyan memang peduli, dan mungkin dianggap perhatian. Tapi itu karena memang Ibu sering menitipkan uang, atau mungkin makanan lewat dia. Kang Rayyan sering bolak-balik ke cabang katering untuk mewakili Ibu Kulsum mengelola usaha. Sering bertemu Ibu dan menjadi perantara untuk menitipkan sesuatu.
"Ya sudah lah, jangan dibahas dulu. Lama-lama kita suudzon sama orang. Toh, nggak ada buktinya juga," ucapku mengakhiri obrolan karena sudah sampai di pembatas asrama putri. Ulfi pun berpamit untuk kembali ke asrama. Sedang aku melanjutkan langkah menuju ndalem.

***
Hari sudah menjelang sore, aku yang beberapa hari ini berkutat pada beberapa kitab demi mengejar ketertinggalan, juga menghabiskan berjam-jam menekur dan menyalin maknanya. Bahkan tangan pun terasa ngilu sebab terus menulis. Akhirnya aku menyudahi karena sebentar lagi masuk waktu asar.
Aku beranjak dari sisi ranjang, meletakkan kitab-kitab pada rak, juga kitab Ulfi yang kupinjam. Tidak ada Gus Izzam di kamar, dia tengah memimpin kajian di masjid yang dimulai jam dua siang tadi.
Harusnya aku pun mengikuti kajian tersebut, tapi Gus Izzam menyuruhku untuk tidak ikut karena alasan butuh istirahat. Senyumku mengembang, mengingat bagaimana dia menunjukkan perhatiannya sekarang.
Usai membersihkan diri, aku bersiap untuk mengajar TPQ yang dimulai bada asar, sebelumnya aku menunaikan shalat asar secara munfarid. Karena biasanya, usai kajian akan langsung dilanjutkan shalat asar berjamaah.
Gamis warna saleem, juga khimar warna senada membalut diri, bros di atas meja rias kusematkan di bahu kiri. Aku pun beranjak dan mengambil buku Iqro dan buku panduan pegon di atas nakas yang akan kubawa ke madrasah.
Langkahku terhenti saat melihat Gus Izzam membuka pintu. Ia yang berdiri di ambang pintu menatapku.
"Sudah rapi, mau ke mana?" tanyanya kemudian seraya menutup kembali pintunya.
"Ke madrasah, Gus."
Dia hanya tersenyum, melangkah dan meletakkan kitab yang dipegangnya ke rak. Kembali ia menolehku yang masih mematung tak jauh darinya.
"Ada yang aneh, Gus?" tanyaku tak nyaman, setiap tatapannya kembali membuat sesuatu di dalam dada ini berdebar.
"Ndak ada." Hanya jawaban singkat yang ia berikan, lagi-lagi senyumnya membuatku kembali salah tingkah.
"Gus ... jangan diliatin gitu, to." Pipiku sudah ngilu menahan senyum, terasa memanas setiap tatapan itu mengarah pada manik mataku.
Aku beringsut mundur ketika Gus Izzam berjalan mendekat, terasa kaki ini membentur bibir ranjang. "Pipimu merah lo," ucapnya seraya menyentuh pipiku, tak ayal membuatku langsung menunduk menahan malu.
"Saya sudah wudu lo, Gus ...," ucapku sedikit mendengkus karena sentuhannya. Bukan apa, sudah menjadi kebiasaan sebelum mengajar aku selalu bersuci, karena di sana kadang juga mengajar santri yang sudah Alquran.
"Kenapa kalo sudah wudu? Bisa wudu lagi bukan?"
"Tapi kan--"
"Tapi apa? Hm ...?" cecarnya semakin menyusut jarak. Kembali, membuat gemuruh melanda di dalam dada. Sedang dia hanya tersenyum seolah memang sengaja menggodaku.
"Ta-tapi saya kan mau ... ngajar ngaji," lirihku kemudian. Tidak tahu harus bagaimana, seolah mati kutu setiap berhadapan dengannya.
"Tapi aku juga sudah bilang ke Rayyan kalau kamu nggak ngajar hari ini. Dia, to, Kepala madrasahnya?"
Dahiku mengernyit mendengar ucapannya.

"Aku lihat sepulang dari rumah Ibu, kamu nggak berhenti belajar. Dari pagi, siang, bahkan malam pun masih sibuk dengan buku-bukumu. Belum lagi hapalan nadhom, kamu bisa sakit lo, kalau terlalu diforsir."
Aku hanya tersenyum mendengar kalimat panjang lebar itu. Sedikit tidak percaya bahwa Gus Izzam sangat peduli. Bahkan memikirkan kesehatanku.
Memang, akhir-akhir ini, mata pelajaran pun ditambah oleh setiap asatiz, dikarenakan mengejar waktu yang kian mendekati ujian. Jadi sebelum hari itu tiba, semua mata pelajaran sudah harus khatam.
Tapi bagaimana pun, aku juga punya tanggung jawab sebagai tenaga pengajar, baru tiga hari aku mulai mengajar kembali setelah kepergian Bapak, haruskah libur lagi?
"Hari ini nggak usah ngajar ngaji. Aku sudah bilang juga sama ustazah Rahma, beliau nggak keberatan mbadali kamu." Kembali Gus Izzam berucap, wajahnya tampak serius kali ini.
"Injeh, Gus." Aku tak membantah, menatap dia yang mengangguk-angguk kemudian.
"Ya sudah, gimana kalau ... kita yang 'ngaji'?"
"Gus--" Aku tak berkutik saat Gus Izzam semakin mendekat dan menghapus jarak, terdiam dan pasrah ketika tangannya meraih buku dalam dekapanku dan meletakkan ke rak di sampingnya.
Kembali tatapannya mengunci manik mata ini. Tanpa jarak dengannya, menimbulkan desiran yang memicu detak jantung bereaksi lebih cepat.
Saat sentuhan lembut tangannya membelai pipi, membuatku hanya memejam. Membiarkan diri terbuai setiap sentuhannya, menyempurnakan hak dan juga kewajiban sebagai suami istri.
Aku teringat nasihat Abah tempo itu. Di mana beliau pernah mengajak berbincang seusai acara khitbah, beliau pernah bertutur, "Witing tresno jalaran soko kulino. Kulino (kebiasaan) ... tukule tresno (tumbuhnya cinta). Ketika Allah sudah berkehendak, dari sebuah kebiasaan, dapat menyatukan hati yang bahkan tidak saling mengenal."
Hati yang beku, menolak, bahkan mungkin menganggapku tak ada. Kini, bisa memberi cinta, juga kasih sayang dengan seiring waktu dan juga kebiasaan. Dia, letak surgaku, juga pengganti sosok yang hilang dalam hidupku.

Timit Pov Sabrina.