#Jodoh_Pilihan_Kiyai
#Part_01 by Silvanni Lim Mey
#Edisi_Kolab_Silva_Huren
"Qobiltu nikahaha watazwijaha alal mahril madzkur waradhiitu bihi wallahu waliyu taufiq."
Kalimat qobul itu terucap setelah shigat ijab dilafalkan penghulu. Satu tarikan napas, janji suci itu terangkai dari bibir lelaki yang berjas pengantin warna hitam.
Tangan lelaki yang sudah resmi menikahiku beberapa menit yang lalu ini, segera kucium telapak punggungnya. Tak ada ekspressi apapun, datar, hanya menarik senyum simpul ketika tatapan kami beradu sekilas.
Duduk bersimpuh di sebelahnya, memilih menunduk, sambil meremas tissue lusuh yang digenggaman. Hari ini, aku resmi menjadi menantu Kiyai Basyari, dan juga Bu Nyai Aminah.
Hatiku berdebar, peluh terasa meluruh dibalik baju kebaya pengantin warna putih ini, pendingin di masjid tak mampu membendung keringat dingin yang menjalar di sekujur, tak berani rasanya membalas tatapan tamu undangan yang mayoritas keluarga dan kerabat dekat ndalem.
Pernikahan ini sederhana, tidak ada perhelatan mewah apapun. Sesuai permintaan mempelai pria yang kini duduk dan diam seribu bahasa.
Aku menghela napas panjang nan pelan, ada beban yang ingin kulonggarkan. Menikah dengannya atas dasar perjodohan, dan dia menerima karena kalah dengan tuntutan keluarganya. Sedang aku menerima karena baktiku kepada orang tua.
Gus Muhammad Nizzam Basyari, putra satu-satunya Kiyai pemilik Pesantren tempatku menjadi santri. Gus Izzam akhirnya menerima permintaan Abah dan Uminya menikahiku, setelah ia tidak bisa meminang pujaan hatinya.
Setahuku, wanita pilihan Gus Izzam adalah seorang Ning, mereka dekat karena satu Universitas ketika menempuh pendidikan di Turki. Dan kini Gus berwajah tampan, putih, dan tinggi itu pulang setelah tiga tahun lamanya berpisah dengan orang tua.
Dihadapkan pilihan, segera menikah dengan calonnya sendiri, atau pilihan Abah dan Umi. Lalu kenyataannya, gadis pujaannya menolak dinikahi karena masih melanjutkan pendidikan demi cita-cita menjadi seorang dokter.
Dan aku, Sabrina Azzahra. Hanya seorang gadis yang baru menyantri setahunan di Pesantren ini, dipilih untuk menjadi menantu oleh Pak Kiyai dan Bu Nyai, mendampingi putra tunggalnya.
Bukan tanpa alasan, Kiyai Basyari sangat dekat dengan Bapakku. Mereka semasa muda adalah sahabat baik, sama-sama menjadi santri di salah satu Pesantren di luar kota. Dan mempunyai satu cita-cita yang sama, yang terangkai indah untuk masa depan.
Jika Kiyai Basyari berhasil mewujudkan cita-citanya mendirikan pesantren. Maka Bapak memilih mengubur mimpi besarnya. Pasti, karena beliau tidak bisa membangun istana religi itu. Tidak ada silsilah keturunan Kiyai dalam keluarga kami. Jadi, Bapak pun memilih menjadi Guru ngaji di salah satu madrasah daerah tempat tinggal kami.
"Kamu harus jadi anak kebanggaan Bapak, apapun akan Bapak lakukan, termasuk memondokkan kamu di Pesantren terbaik. Bapak tidak bisa memberikanmu apa-apa, hanya bisa memberi pendidikan agar kamu menjadi orang yang berguna bagi orang lain."
Kalimat itu selalu kuingat, dan itu alasan Bapak berusaha keras memondokkan aku di Pesantren luar kota, tempat Bapak dan Kyai Basyari menyantri dahulu. Namun semua berakhir, dan aku berhenti di tengah jalan.
Serangan stroke setahun yang lalu, membuat kesehatan Bapak terganggu, penyakit itu melumpuhkan sebagian saraf dalam tubuhnya. Sehingga aku pun menyudahi menuntut ilmu di Pesantren yang sudah empat tahun menaungiku.
"Maafkan Bapak, Nduk. Bapak nggak bisa melanjutkan mondok kamu."
Kata itu cukup menyayat, dan dengan lapang dada pun, aku menerima. Setidaknya masih bisa kulihat lelaki yang kini duduk di kursi roda ini, mengulas senyum dan mengelus pucuk kepalaku.
Beberapa bulan, Kiyai Basyari datang berkunjung bersama istrinya. Perbincangan hangat pun terjalin, aku yang menjembul dari dapur mengantarkan minuman, langsung Bapak perkenalkan.
"Ini putriku, Sabrina, namanya." Bapak menyungging senyum, memperkenalkanku yang memang belum pernah bertemu beliau. Aku pun tersenyum menanggapi, sambil membungkuk memberi hormat. Lalu menyalimi mereka.
Perbincangan berlanjut, sampai mereka membahas tentang hidupku. Dan Kiyai Basyari pun menawarkan untuk melanjutkan menyantri di Pondok Pesantrennya secara cuma-cuma kepadaku.
"Ngapunten, Pak Kiyai, terima kasih, tapi tidak perlu repot-repot, biar saya di rumah saja membantu Ibu merawat Bapak." Aku menolak halus penawaran itu.
"Oh ... tidak, tidak merepotkan, boleh 'kan, Harun?" Kyai Basyari menoleh Bapak, dan tanggapan Bapak pun mengangguk.
"Nggak apa-apa, Bin. Kamu ikut saja, perdalam ilmu agamamu di sana. Bapak setuju saja." Binar netra Bapak, juga senyumnya, membuatku pun akhirnya mengiyakan.
Semua dimulai, dan aku pun menurut semua kemauan sosok yang sudah dua puluh tiga tahun ini menafkahiku. Termasuk menikah dengan Gus yang baru kukenal, baru tahu seperti apa rupanya.
Acara yang dimulai sejak pukul tiga sore, akhirnya selesai. Aku masih di sebelah suamiku, masih diam dan tak ada sapaan apapun. Sesekali mengulas senyum ketika beberapa tamu yang belum undur menyalami, mengucap doa restu dan juga selamat.
Kuekor langkahnya, langkah lebar itu sulit diimbangi, mengingat bawahan kebayaku yang menyulitkan langkah, dan harus menyingsingnya. Dia tak menoleh sedikitpun ke belakang, seolah tengah berjalan sendiri dan tak ada orang yang mengikuti.
"Duh." Aku memekik, langkah sedikit berlari ini menubruknya dari belakang. Dia yang sedikit terdorong ke depan, menoleh dan menatap tajam. Tak terdengar apa yang dikatakan, sangat lirih, mungkin dia mendumal karena hal ini. "Maaf." Hanya itu yang kuucap sambil menundukkan pandangan.
Gus Izzam hanya melengos, dirahinya knop pintu, lalu ia melangkah masuk ke dalam. Baru kusadari, ini sudah sampai di depan kamarnya. Kembali kutarik napas panjang, dan membuangnya perlahan.
"Masuk!"
Aku yang mematung di ambang pintu terperanjat, hanya mengangguk pelan dan melangkah sesuai perintahnya.
Netraku mengedar liar, menyapu seisi kamar ini. Ruangan besar yang didominasi warna putih, horden warna gold yang menjuntai menutup beberapa jendela kaca, juga ornamen yang menyatu dalam setiap sudutnya. Membuatku berdecak kagum.
Pandangan berakhir ketika melihat laki-laki itu menanggalkan jas pengantinnya, hanya menyisakan kemeja putih yang mulai ia buka dari kancing lengannya. Tak berselang lama, kemeja itu lepas dan terlihat kaus oblong warna putih yang cukup memperlihatkan bentuk tubuhnya.
Aku membuang tatapanku, berusaha menelan dalam saliva yang cekat di tenggorokan. Bagaimana jika dia melepas baju terakhirnya? Meskipun setatusnya sudah suami, tapi masih terasa asing, dan tak nyaman melihat hal itu.
"Kenapa masih diam disitu?" Gus Izzam yang masih berdiri di sisi lemari baju besar berbahan kayu jati itu menoleh, tatapan dingin terasa menghujam manik mataku.
"Hmm? Ma-af, Gus."
"Kamu kalau mau mandi, mandi saja! Saya mau rebahan." Suara datar itu membuat aku yang masih melengos, menoleh. Gus Izzam melangkah menuju sofa, mengehempas kasar badannya ke atas tempat duduk berbahan beludru itu.
Napas yang tercekat, kini berangsur normal. Setelah tahu dia memilih tiduran di kursi panjang warna pastel yang terletak di sisi kiri tempatku berdiri. Aku pun melangkah untuk mengambil pakaian ganti yang sudah disiapkan di atas nakas, sisi kanan ranjang.
Sejenak duduk di kursi kayu yang menghadap cermin, tidak mungkin kubuka aksesoris yang masih melekat ini di kamar mandi. Perlahan kutanggalkan satu persatu hiasan yang menempel di balutan hijab ini. Terakhir, ronce melati yang tersemat dengan peniti di hijab ini kutarik. Rangkaian bunga melati yang masih menyengat aromanya itu segera kuletakkan di atas meja rias.
Gus Izzam yang tengah rebahan itu beranjak, dapat kulihat dari pantulan cermin yang memang membelakangi sofa. Netranya mengarah padaku yang masih duduk, dan kini aku mematung ketika bola mata ini bersitatap.
Seperkian detik, kutundukkan kepala ini, rasa sungkan itu masih terasa. Pria yang masih mengamatiku ini membuat detak jantungku memompa lebih cepat. Derap langkah yang mulai terdengar, mulai dekat dan membuat gemetar tangan yang bertumpu dipangkuan.
Mulai terasa kehadirannya, aroma parfum yang mulai tercium, dan bayangan yang terlihat dari lantai granit. Dia kini berdiri di sebelahku.
"Bisa minggir sebentar," pintanya dengan nada datar. Aku langsung beranjak. Dengan tergesa melangkah menjauhi meja rias.
Ujung baju kebayaku tersangkut paku yang menyembul di penyangga meja. Langkahku tertahan, segera kutarik, dan alhasil sobekan itu makin melebar.
"Sebentar, Gus." Aku membalikkan langkah, berusaha meraih ujung baju yang masih tercekat di paku itu. Tanganku gemetar, ingin segera menarik dan beranjak dari tempat ini. Terlebih sosok yang masih berdiri itu menatap tajam dan menaut alis dengan apa yang terjadi.
Gemetar, takut, bingung, aku kesulitan menarik ujung bajuku. Bulir mulai mengantung, baju ini masih baru dan sudah kurusak.
"Ck!"
Gus Izzam mencebik, ia membuka laci dan mengambil gunting. Tanpa pikir panjang, ujung baju itu langsung dipangkasnya.
"Cengeng!"
Kalimat itu terlontar, ia meletakkan kasar gunting itu di atas meja. Lalu membuka laci lainnya, terlihat ponsel yang dirogohnya.
"Saya cuma mau ambil HP."
Aku diam, masih kuremas ujung baju yang diguntingnya. Masih menahan gemuruh setelah air mata ini benar-benar merembes dan menetes dengan sendirinya.
"Mandi sana! Ganti baju, Bajumu robek." Gus Izzam langsung melangkah meninggalkan meja, kembali menghempas diri, merebah kembali di sofa. Dan kini ia fokus dengan layar ponsel, sesekali ia menggeser naik turun benda itu.
Kuhela napas panjang mengusir sesak yang sempat menjalar. Pakaian yang masih terlipat di atas nakas itu pun kusambar, segera melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Siraman air dari shower yang mengguyur, menerpa pori-pori terasa sedikit mengurangi lelah setelah seharian mengikuti prosesi pernikahan. Selesai ritual membersihkan tubuh, aku pun segera mengganti pakaian, lalu memasang hijab square yang bermotif bunga.
Pintu berbahan kaca tapi tak tembus pandang ini kubuka. Tak kudapati sosok Gus Izzam di sana, sofa kosong. Entah kemana dia, pintu pun terlihat terbuka, itu artinya dia keluar dari kamar ini.
Hanya mengulas senyum simpul. Aku menikah dengan lelaki yang mencintai perempuan lain. Perempuan yang menyandang kasta seorang Ning, yang tentu saja sejajar dengan dirinya yang seorang Gus. Dan aku, aku bukan Ning, aku juga bukan siapa-siapa.
Lanjut Mak Huren Nahla
-----
#Part_01 by Silvanni Lim Mey
#Edisi_Kolab_Silva_Huren
"Qobiltu nikahaha watazwijaha alal mahril madzkur waradhiitu bihi wallahu waliyu taufiq."
Kalimat qobul itu terucap setelah shigat ijab dilafalkan penghulu. Satu tarikan napas, janji suci itu terangkai dari bibir lelaki yang berjas pengantin warna hitam.
Tangan lelaki yang sudah resmi menikahiku beberapa menit yang lalu ini, segera kucium telapak punggungnya. Tak ada ekspressi apapun, datar, hanya menarik senyum simpul ketika tatapan kami beradu sekilas.
Duduk bersimpuh di sebelahnya, memilih menunduk, sambil meremas tissue lusuh yang digenggaman. Hari ini, aku resmi menjadi menantu Kiyai Basyari, dan juga Bu Nyai Aminah.
Hatiku berdebar, peluh terasa meluruh dibalik baju kebaya pengantin warna putih ini, pendingin di masjid tak mampu membendung keringat dingin yang menjalar di sekujur, tak berani rasanya membalas tatapan tamu undangan yang mayoritas keluarga dan kerabat dekat ndalem.
Pernikahan ini sederhana, tidak ada perhelatan mewah apapun. Sesuai permintaan mempelai pria yang kini duduk dan diam seribu bahasa.
Aku menghela napas panjang nan pelan, ada beban yang ingin kulonggarkan. Menikah dengannya atas dasar perjodohan, dan dia menerima karena kalah dengan tuntutan keluarganya. Sedang aku menerima karena baktiku kepada orang tua.
Gus Muhammad Nizzam Basyari, putra satu-satunya Kiyai pemilik Pesantren tempatku menjadi santri. Gus Izzam akhirnya menerima permintaan Abah dan Uminya menikahiku, setelah ia tidak bisa meminang pujaan hatinya.
Setahuku, wanita pilihan Gus Izzam adalah seorang Ning, mereka dekat karena satu Universitas ketika menempuh pendidikan di Turki. Dan kini Gus berwajah tampan, putih, dan tinggi itu pulang setelah tiga tahun lamanya berpisah dengan orang tua.
Dihadapkan pilihan, segera menikah dengan calonnya sendiri, atau pilihan Abah dan Umi. Lalu kenyataannya, gadis pujaannya menolak dinikahi karena masih melanjutkan pendidikan demi cita-cita menjadi seorang dokter.
Dan aku, Sabrina Azzahra. Hanya seorang gadis yang baru menyantri setahunan di Pesantren ini, dipilih untuk menjadi menantu oleh Pak Kiyai dan Bu Nyai, mendampingi putra tunggalnya.
Bukan tanpa alasan, Kiyai Basyari sangat dekat dengan Bapakku. Mereka semasa muda adalah sahabat baik, sama-sama menjadi santri di salah satu Pesantren di luar kota. Dan mempunyai satu cita-cita yang sama, yang terangkai indah untuk masa depan.
Jika Kiyai Basyari berhasil mewujudkan cita-citanya mendirikan pesantren. Maka Bapak memilih mengubur mimpi besarnya. Pasti, karena beliau tidak bisa membangun istana religi itu. Tidak ada silsilah keturunan Kiyai dalam keluarga kami. Jadi, Bapak pun memilih menjadi Guru ngaji di salah satu madrasah daerah tempat tinggal kami.
"Kamu harus jadi anak kebanggaan Bapak, apapun akan Bapak lakukan, termasuk memondokkan kamu di Pesantren terbaik. Bapak tidak bisa memberikanmu apa-apa, hanya bisa memberi pendidikan agar kamu menjadi orang yang berguna bagi orang lain."
Kalimat itu selalu kuingat, dan itu alasan Bapak berusaha keras memondokkan aku di Pesantren luar kota, tempat Bapak dan Kyai Basyari menyantri dahulu. Namun semua berakhir, dan aku berhenti di tengah jalan.
Serangan stroke setahun yang lalu, membuat kesehatan Bapak terganggu, penyakit itu melumpuhkan sebagian saraf dalam tubuhnya. Sehingga aku pun menyudahi menuntut ilmu di Pesantren yang sudah empat tahun menaungiku.
"Maafkan Bapak, Nduk. Bapak nggak bisa melanjutkan mondok kamu."
Kata itu cukup menyayat, dan dengan lapang dada pun, aku menerima. Setidaknya masih bisa kulihat lelaki yang kini duduk di kursi roda ini, mengulas senyum dan mengelus pucuk kepalaku.
Beberapa bulan, Kiyai Basyari datang berkunjung bersama istrinya. Perbincangan hangat pun terjalin, aku yang menjembul dari dapur mengantarkan minuman, langsung Bapak perkenalkan.
"Ini putriku, Sabrina, namanya." Bapak menyungging senyum, memperkenalkanku yang memang belum pernah bertemu beliau. Aku pun tersenyum menanggapi, sambil membungkuk memberi hormat. Lalu menyalimi mereka.
Perbincangan berlanjut, sampai mereka membahas tentang hidupku. Dan Kiyai Basyari pun menawarkan untuk melanjutkan menyantri di Pondok Pesantrennya secara cuma-cuma kepadaku.
"Ngapunten, Pak Kiyai, terima kasih, tapi tidak perlu repot-repot, biar saya di rumah saja membantu Ibu merawat Bapak." Aku menolak halus penawaran itu.
"Oh ... tidak, tidak merepotkan, boleh 'kan, Harun?" Kyai Basyari menoleh Bapak, dan tanggapan Bapak pun mengangguk.
"Nggak apa-apa, Bin. Kamu ikut saja, perdalam ilmu agamamu di sana. Bapak setuju saja." Binar netra Bapak, juga senyumnya, membuatku pun akhirnya mengiyakan.
Semua dimulai, dan aku pun menurut semua kemauan sosok yang sudah dua puluh tiga tahun ini menafkahiku. Termasuk menikah dengan Gus yang baru kukenal, baru tahu seperti apa rupanya.
Acara yang dimulai sejak pukul tiga sore, akhirnya selesai. Aku masih di sebelah suamiku, masih diam dan tak ada sapaan apapun. Sesekali mengulas senyum ketika beberapa tamu yang belum undur menyalami, mengucap doa restu dan juga selamat.
Kuekor langkahnya, langkah lebar itu sulit diimbangi, mengingat bawahan kebayaku yang menyulitkan langkah, dan harus menyingsingnya. Dia tak menoleh sedikitpun ke belakang, seolah tengah berjalan sendiri dan tak ada orang yang mengikuti.
"Duh." Aku memekik, langkah sedikit berlari ini menubruknya dari belakang. Dia yang sedikit terdorong ke depan, menoleh dan menatap tajam. Tak terdengar apa yang dikatakan, sangat lirih, mungkin dia mendumal karena hal ini. "Maaf." Hanya itu yang kuucap sambil menundukkan pandangan.
Gus Izzam hanya melengos, dirahinya knop pintu, lalu ia melangkah masuk ke dalam. Baru kusadari, ini sudah sampai di depan kamarnya. Kembali kutarik napas panjang, dan membuangnya perlahan.
"Masuk!"
Aku yang mematung di ambang pintu terperanjat, hanya mengangguk pelan dan melangkah sesuai perintahnya.
Netraku mengedar liar, menyapu seisi kamar ini. Ruangan besar yang didominasi warna putih, horden warna gold yang menjuntai menutup beberapa jendela kaca, juga ornamen yang menyatu dalam setiap sudutnya. Membuatku berdecak kagum.
Pandangan berakhir ketika melihat laki-laki itu menanggalkan jas pengantinnya, hanya menyisakan kemeja putih yang mulai ia buka dari kancing lengannya. Tak berselang lama, kemeja itu lepas dan terlihat kaus oblong warna putih yang cukup memperlihatkan bentuk tubuhnya.
Aku membuang tatapanku, berusaha menelan dalam saliva yang cekat di tenggorokan. Bagaimana jika dia melepas baju terakhirnya? Meskipun setatusnya sudah suami, tapi masih terasa asing, dan tak nyaman melihat hal itu.
"Kenapa masih diam disitu?" Gus Izzam yang masih berdiri di sisi lemari baju besar berbahan kayu jati itu menoleh, tatapan dingin terasa menghujam manik mataku.
"Hmm? Ma-af, Gus."
"Kamu kalau mau mandi, mandi saja! Saya mau rebahan." Suara datar itu membuat aku yang masih melengos, menoleh. Gus Izzam melangkah menuju sofa, mengehempas kasar badannya ke atas tempat duduk berbahan beludru itu.
Napas yang tercekat, kini berangsur normal. Setelah tahu dia memilih tiduran di kursi panjang warna pastel yang terletak di sisi kiri tempatku berdiri. Aku pun melangkah untuk mengambil pakaian ganti yang sudah disiapkan di atas nakas, sisi kanan ranjang.
Sejenak duduk di kursi kayu yang menghadap cermin, tidak mungkin kubuka aksesoris yang masih melekat ini di kamar mandi. Perlahan kutanggalkan satu persatu hiasan yang menempel di balutan hijab ini. Terakhir, ronce melati yang tersemat dengan peniti di hijab ini kutarik. Rangkaian bunga melati yang masih menyengat aromanya itu segera kuletakkan di atas meja rias.
Gus Izzam yang tengah rebahan itu beranjak, dapat kulihat dari pantulan cermin yang memang membelakangi sofa. Netranya mengarah padaku yang masih duduk, dan kini aku mematung ketika bola mata ini bersitatap.
Seperkian detik, kutundukkan kepala ini, rasa sungkan itu masih terasa. Pria yang masih mengamatiku ini membuat detak jantungku memompa lebih cepat. Derap langkah yang mulai terdengar, mulai dekat dan membuat gemetar tangan yang bertumpu dipangkuan.
Mulai terasa kehadirannya, aroma parfum yang mulai tercium, dan bayangan yang terlihat dari lantai granit. Dia kini berdiri di sebelahku.
"Bisa minggir sebentar," pintanya dengan nada datar. Aku langsung beranjak. Dengan tergesa melangkah menjauhi meja rias.
Ujung baju kebayaku tersangkut paku yang menyembul di penyangga meja. Langkahku tertahan, segera kutarik, dan alhasil sobekan itu makin melebar.
"Sebentar, Gus." Aku membalikkan langkah, berusaha meraih ujung baju yang masih tercekat di paku itu. Tanganku gemetar, ingin segera menarik dan beranjak dari tempat ini. Terlebih sosok yang masih berdiri itu menatap tajam dan menaut alis dengan apa yang terjadi.
Gemetar, takut, bingung, aku kesulitan menarik ujung bajuku. Bulir mulai mengantung, baju ini masih baru dan sudah kurusak.
"Ck!"
Gus Izzam mencebik, ia membuka laci dan mengambil gunting. Tanpa pikir panjang, ujung baju itu langsung dipangkasnya.
"Cengeng!"
Kalimat itu terlontar, ia meletakkan kasar gunting itu di atas meja. Lalu membuka laci lainnya, terlihat ponsel yang dirogohnya.
"Saya cuma mau ambil HP."
Aku diam, masih kuremas ujung baju yang diguntingnya. Masih menahan gemuruh setelah air mata ini benar-benar merembes dan menetes dengan sendirinya.
"Mandi sana! Ganti baju, Bajumu robek." Gus Izzam langsung melangkah meninggalkan meja, kembali menghempas diri, merebah kembali di sofa. Dan kini ia fokus dengan layar ponsel, sesekali ia menggeser naik turun benda itu.
Kuhela napas panjang mengusir sesak yang sempat menjalar. Pakaian yang masih terlipat di atas nakas itu pun kusambar, segera melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Siraman air dari shower yang mengguyur, menerpa pori-pori terasa sedikit mengurangi lelah setelah seharian mengikuti prosesi pernikahan. Selesai ritual membersihkan tubuh, aku pun segera mengganti pakaian, lalu memasang hijab square yang bermotif bunga.
Pintu berbahan kaca tapi tak tembus pandang ini kubuka. Tak kudapati sosok Gus Izzam di sana, sofa kosong. Entah kemana dia, pintu pun terlihat terbuka, itu artinya dia keluar dari kamar ini.
Hanya mengulas senyum simpul. Aku menikah dengan lelaki yang mencintai perempuan lain. Perempuan yang menyandang kasta seorang Ning, yang tentu saja sejajar dengan dirinya yang seorang Gus. Dan aku, aku bukan Ning, aku juga bukan siapa-siapa.
Lanjut Mak Huren Nahla
-----
#Jodoh_Pilihan_Kiyai
#Kolab_Sivanni_Huren
[Istrinya cantik, Gus]
Muncul sebuah pesan singkat beserta foto gadis yang baru saja kunikahi terlampir dari kontak yang berbintang. Mazaya.
[Tetap njenengan yang tercantik] kukirim pesan balasan.
[Tapi aku bukan istrimu] sebuah emot sedih disisipkan.
[Segera. Aku menunggumu, Ning Mazaya Muntaha, sampai kapanpun]
Tak ada balasan. Kuletakan benda pipih di meja kembali.
Aku menghela napas panjang, seraya bersandar pada punggung sofa, menjadikan kedua tangan sebagai bantalan. Satu jam lagi waktu Asar, masih ada waktu untuk istirahat setelah acara pernikahan tadi. Ingatan kembali berputar saat obrolan dengan Abah tiga hari setelah kepulanganku.
"Sebab Ning Maza belum mau kamu ikat, nikahi saja Sabrina. Dia gadis baik-baik, cantik, dan insyaallah taat. Dia teman Abah dulu di pesantren."
"Bah, ini bukan lagi jaman Siti Nurbaya. Kenapa harus ada perjodohan seperti ini. Aku bisa membujuk Maza untuk menikah tahun ini." Pandangku tertuju pada pria yang kutakzimi. Rambutnya sudah sempurna memutih, ditutup kopiah berwarna senada.
"Sampai kapan, Le ... ini sudah tahun keempat sejak kamu memintanya dulu. Ning Maza masih asik dengan studinya. Dia belum ser kamu jadikan istri. Sedangkan kamu? Umur sudah kepala tiga punjul, masih mau membujang?" Kini Umi yang berkata. Wajahnya memberengut tampaknya ia kecewa. "Lagian, lama-lama kenalan malah jadi fitnah, Zam ...." imbuhnya.
"Mi kami gak pacaran, kok. Kami masih menjaga. Dan aku sabar menunggunya."
"Umi sama Abah yang enggak. Kami sudah pengen nimang cucu. Umur tidak ada yang tahu, Le ... mempercepat pernikahan itu baik. Jangan sampek nanti kamu belum menikah umi sudah--"
"Umi ... jangan seperti itu." Aku meraih tangannya yang lembut.
"Makanya, to, Zam ... Umi ngerti perasaanmu, Ning Maza memang cantik, solehah, juga punya segudang prestasi. Tapi meskipun Sabrina bukan turunan Kiyai, bukan lulusan luar negeri, Umi yakin, dia bisa jadi istri yang baik untuk kamu," ujar Umi lirih. Membalas genggaman tanganku erat.
Aku mengusah wajah. Menarik napas panjang. Mungkin ini adalah keputusan yang terbaik. "Iya, Izzam bersedia. Tapi ada syaratnya."
"Alhamdulillah." Mereka bertahmid hampir bersamaan.
Abah dan Umi saling berpandangan berbalas senyum. Guratan kebahagiaan tergambar di wajah mereka.
Mana bisa aku menolak jika Umi telah berkata demikian. Rasa cinta dan sayang ini begitu besar pada wanita tegar di mana letak surgaku ada di kakinya. Tidak mungkin aku membuatnya kecewa dengan penolak permintaannya.
"Kamu minta syarat apa?" Ucap Abah.
Aku berdeham. Membasahi tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering. Mengumpulkan keberanian untuk berucap. "Pertama, pernikahan akan diadakan secara sederhana."
"Gak masalah. Toh menikah yang penting sah. Iya, kan, Umi?" Abah menatap Umi minta persetujuan. Umi hanya mengangguk dengan senyum mengembang.
"Kedua, layaknya Abah yang punya empat istri. Izinkan Izzam berpoligami nantinya."
Abah mengerutkan kening, dan Umi seketika menatapku tajam. Air mukanya seketika berubah sedih. "Zam!" pekiknya.
"Itu urusan gampang!" tukas Abah.
"Bah!" Umi membulat mata melihat ke arah suaminya.
Abah hanya terkekeh seraya meninggalkan ruang keluarga diikuti Umi yang masih berargumentasi.
Abah memiliki empat istri. Pertama, Umi yang melahirkan aku dan Ibu Kulsum, yang tinggal beda Desa tak jauh dari pesantren. Dua istri yang lainnya, yang lebih pantas aku panggil Mbah dan Bude karena memang umurnya sudah sepuh. Abah sangat pemurah. Rasa empatinya begitu tinggi sampai menikahi para wanita-wanita itu. Entah, apa alasan Abah menikahi Ibu Kulsum. Selain beliau lebih muda dan cantik dari Umi, juga dari keluarga berada. Mungkin Abah benar-benar mencintainya.
Tidak masalah bagiku menggugurkan tanggungjawab dengan menikahi gadis yang sama sekali belum pernah kulihat. Namun, tak mungkin aku hidup tanpa Mazaya Muntaha, seraut wajah itu memenuhi pikiran. Segera aku beristighfar sebelum setan menjarah hati dan menungganginya.
Aku terhenyak saat ponsel berdering. Sebuah panggilan dari Kang Rozak, supir Abah rupanya. Segera kusentuh tombol hijau menerima panggilan.
"Assalamualaikum, Gus. Maaf mengganggu." Suara Rozak di ujung telepon.
"Wa'alaikumsalam, enggak, kok, Kang. Ada apa?"
"Ini ada paket kitab-kitab kiriman dari Turki, mau ditarok di mana?"
"Ow, ya, sebentar. Njenengan di mana?" Aku bangkit dari duduk dan menyambar baju yang menggantung. Tak lupa kopiah berwarna putih sebagai penutup kepala.
"Kulo masih di halaman ndalem, Gus."
"Yo wes, aku ke sana sekarang."
"Baik, Gus."
Segera aku melangkah menuju halaman setelah menutup panggilan.
***
Saat memasuki kamar, setelah berbincang dengan Abah selepas salat Isya tadi. Gadis itu sudah terlelap di ranjang, masih lengkap dengan kerudung menempel di kepala. Segera kuraih handuk dan menuju kamar mandi.
Setelah membersihkan diri, badan terasa lebih segar. Membuka lemari gantung untuk mengambil pakaian, mataku menangkap kebaya yang tadi robek sebagian.
Gadis ceroboh.
Segera kuganti pakaian. Menuju sofa dan mengenyakkan tubuh di sana. Meraih kitab Nasaaihul 'Ibad, karangan ulama Jawa, yang tersusun rapi di meja dan mulai membacanya.
Seminggu sekali pesantren mengadakan kajian kitab kuning yang ringan dan mudah dipahami oleh para jama'ah, yaitu para warga kampung sekitar pesantren di masjid. Sedangkan, besok siang, jadwalku mengisi materi kajian. Pernikahan bukan alasan untuk meliburkan kajian. Bagaimanapun aku harus menyiapkannya meski badan terasa letih.
Sebuah sentuhan di lengan membuatku tersadar. Ah, rupanya aku tertidur.
"Gus, bangun. Sudah mau jam empat." Suara seorang gadis yang pertama kali kudengar.
Sayup bunyi murotal dari masjid terbetik di telinga. Aku memejamkan mata erat setelah menyadari kenyataan bahwa kini aku adalah seorang suami dari seorang gadis yang bahkan namanya baru sekali kusebut saat ijab qabul tadi.
"Ya." Suaraku terdengar serak di telinga.
"Sudah saya siapkan semuanya kalau Gus mau mandi sekarang. Masih ada sepuluh menit lagi untuk solat malam. Atau ... mau mandi nanti setelah solat subuh?"
Rentetan pertanyaan memberondong dari mulut gadis yang telah memakai mukena itu. Aku menatapnya saat mulutnya mulai terbuka. Mungkin ingin berkata lagi.
"Kamu urus saja keperluanmu. Aku bisa melakukannya sendirian."
Wajah gadis itu tampak berubah."Ba-baik, Gus.
Belum sampai kaki ini di kamar mandi, ia sudah berkata lagi. "Tadi, handuknya sudah saya tarok di kamar mandi," ucapnya lagi.
Aku menghentikan langkah dan menghadap ke arahnya.
Gadis itu masih berdiri di tempat semula dan sepertinya terkejut dengan gerakanku yang tiba-tiba menatapnya.
"Kamu berangkat saja ke masjid."
Samar, terdengar ia menjawab, "Injeh, Gus."
Aku masih menatapnya saat ia mengangguk dan menghilang di balik pintu.
***
Setelah mengisi kajian kitab bada subuh di masjid, aku tidak langsung kembali ke rumah. Berkeliling asrama putra sekedar mengontrol santri atau berbincang dengan pengurus. Beberapa kang santri yang berpapasan mengangguk dan mengucapkan salam. Tampak mereka saling berbisik-bisik setelah melangkah jauh.
"Assalamualaikum, Gus." Sebuah suara yang sangat akrab terdengar di telinga. Rayyan. Putra dari Ibu Kulsum. Dia termasuk dalam dewan asatiz yang tak diragukan kemampuan di pesantren.
"Wa'alaikumsalam, Yan. Apa kabar?" Dia meraih tanganku dan akan menciumnya. Namun aku menolak. Menariknya dalam pelukan.
"Alhamdulillah, baik, Gus. Ada perlu apa?"
"Enggak, mau keliling asrama saja. Sudah lama gak patroli."
"Mari saya temani."
"Boleh."
Kami pun berjalan beriringan. Berbincang-bincang saling bertukar kabar.
"Selamat atas pernikahannya, Gus. Maaf tidak bisa hadir karena kemarin ada kepentingan di luar pesantren."
"Tidak apa-apa. Kewajiban lebih penting, Yan. Ow, ya, bagaimana kabar Ibu Kulsum. Aku belum sowan ke rumahnya sejak pulang."
"Ibu alhamdulillah baik, Gus. Silahkan berkunjung kapan ada waktu."
"Iya, ya. Tapi Rayyan?" Aku menghentikan langkah. Begitu pula lelaki berparas tampan itu.
"Injeh, Gus."
"Jangan panggil aku gus. Panggil saja Mas atau Kang."
Pria bersarung hitam itu tersenyum tipis. "Mana bisa, Gus. Saya tidak biasa."
"Bagaimanapun kamu juga adikku. Belajarlah mulai sekarang." Rayyan lebih muda lima tahun dariku. Entah kapan tepatnya Abah menikahi ibunya. Saat itu aku masih anak-anak dan tidak mengerti apa itu poligami. Yang aku tahu, aku bahagia karena memiliki seorang adik lelaki.
"Injeh, Gus, eh, Mas."
Kami berbalas senyum dan kembali berjalan hingga tak terasa sampai di gerbang pembatas asrama putri, di mana ndalem berada.
"Sering-seringlah berkunjung ke ndalem. Jangan ketika ada perlu saja," pintaku pada Rayyan sambil menepuk lengannya.
"Injeh, Mas. Terima kasih.
***
Sampai di rumah aku langsung ke kamar. Menganti pakaian lalu menuju dapur untuk sarapan. Di sana sudah ada Abah, Umi dan ... gadis itu.
Aku menghela napas panjang tiap kali menyadari bahwa kini statusku adalah seorang suami dari sebuah pernikahan yang mendadak dan tak kukehendaki. Rob, ampuni hamba yang belum bisa ikhlas menerima perjodohan ini.
"Ayo, Zam sarapan. Dari tadi Binna sudah sibuk menyiapkan sarapan buat kamu." Umi yang tengah membawa semangkuk sayur berucap. "Nih, sayur kesukaan kamu, yang masak Binna, lo. Tadi Umi udah nyicip, rasa uwenak."
Abah yang tengah menikmati sarapan terkekeh. "Umimu kadang berlebihan."
"Tapi memang enak, to." Umi duduk di kursi samping Abah. "Sini Binna, duduk samping Izzam," pint Umi pada gadis yang masih berdiri.
Gadis itu tersenyum, menarik kursi lalu duduk di sebelahku. Ia menuangkan air ke dalam gelas dan meletakkannya tepat di samping piringku. "Ini minumnya, Gus."
Abah dan Umi sontak menatap ke arah kami dengan menahan senyum.
Aku segera meraihnya dan menyesap cairan bening itu. "Terima kasih."
Gadis itu pun mengekor saat aku menyelesaikan sarapan, padahal ia masih mencuci piring bersama Umi.
"Biar saya siapkan air hangat dan pakaian dulu, Gus, kalau mau mandi," ucapnya saat kami sudah ada di kamar.
"Gak usah, aku mandi nanti saja." Aku duduk di sofa dengan kitab Nasaaihul 'Ibad yang semalam belum tuntas terbaca. Setengah jam lagi kajian di mulai.
"Atau mau saya buatkan wedang jahe dan madu? Kata Umi, njenengan biasa minum itu di pagi hari."
"Terima kasih. Tapi aku masih kenyang." Netra awas mencari-cari halaman terakhir yang kubaca. Ah, aku lupa memberi tanda pembatas semalam.
"Oh, gitu." Dia bergumam. "Atau--"
"Cukup. Aku bisa melakukannya sendiri. Kalau kamu punya kesibukan, kerjakan saja. Jangan sungkan," ucapku tanpa mengalihkan mata dari kitab di tangan dan mulai larut dalam bacaan.
"Ba-baik, Gus." Gadis itu tergagap. Mungkin terkejut karena aku menyela ucapannya.
Hening, gadis itu masih berdiri dan tampak dari ekor dia menyusut mata. Apa dia menangis sebab tersinggung dengan ucapanku? Apa salahku?
Memang benar bukan kedatangan ke sini untuk menyelesaikan sekolah madrasahnya. Aku hanya tidak mau mengganggu waktu belajarnya dengan terbebani mengurus keperluan yang aku sendiri biasa melakukannya. Lalu di mana letak permasalahannya.
"Satu lagi." Kali ini kuletakan kitab karangan Syekh Nawawi bin Umar Al-Jawi di pangkuan saat gadis itu mulai beringsut.
"Iya, Gus."
"Bukahkah kamu pindah ke pondok ini untuk mengaji, bukan untuk menikah?"
"Injeh, Gus," jawab gadis itu tertunduk seperti menyembunyikan wajahnya.
"Jadi, jangan repot-repot mengurusku. Ikuti saja kegiatan pesantren, fokus pada sekolahmu. Jangan terbebani karena menikah denganku." Aku kembali larut pada bacaanku hingga terdengar pintu tertutup.
#Kolab_Sivanni_Huren
[Istrinya cantik, Gus]
Muncul sebuah pesan singkat beserta foto gadis yang baru saja kunikahi terlampir dari kontak yang berbintang. Mazaya.
[Tetap njenengan yang tercantik] kukirim pesan balasan.
[Tapi aku bukan istrimu] sebuah emot sedih disisipkan.
[Segera. Aku menunggumu, Ning Mazaya Muntaha, sampai kapanpun]
Tak ada balasan. Kuletakan benda pipih di meja kembali.
Aku menghela napas panjang, seraya bersandar pada punggung sofa, menjadikan kedua tangan sebagai bantalan. Satu jam lagi waktu Asar, masih ada waktu untuk istirahat setelah acara pernikahan tadi. Ingatan kembali berputar saat obrolan dengan Abah tiga hari setelah kepulanganku.
"Sebab Ning Maza belum mau kamu ikat, nikahi saja Sabrina. Dia gadis baik-baik, cantik, dan insyaallah taat. Dia teman Abah dulu di pesantren."
"Bah, ini bukan lagi jaman Siti Nurbaya. Kenapa harus ada perjodohan seperti ini. Aku bisa membujuk Maza untuk menikah tahun ini." Pandangku tertuju pada pria yang kutakzimi. Rambutnya sudah sempurna memutih, ditutup kopiah berwarna senada.
"Sampai kapan, Le ... ini sudah tahun keempat sejak kamu memintanya dulu. Ning Maza masih asik dengan studinya. Dia belum ser kamu jadikan istri. Sedangkan kamu? Umur sudah kepala tiga punjul, masih mau membujang?" Kini Umi yang berkata. Wajahnya memberengut tampaknya ia kecewa. "Lagian, lama-lama kenalan malah jadi fitnah, Zam ...." imbuhnya.
"Mi kami gak pacaran, kok. Kami masih menjaga. Dan aku sabar menunggunya."
"Umi sama Abah yang enggak. Kami sudah pengen nimang cucu. Umur tidak ada yang tahu, Le ... mempercepat pernikahan itu baik. Jangan sampek nanti kamu belum menikah umi sudah--"
"Umi ... jangan seperti itu." Aku meraih tangannya yang lembut.
"Makanya, to, Zam ... Umi ngerti perasaanmu, Ning Maza memang cantik, solehah, juga punya segudang prestasi. Tapi meskipun Sabrina bukan turunan Kiyai, bukan lulusan luar negeri, Umi yakin, dia bisa jadi istri yang baik untuk kamu," ujar Umi lirih. Membalas genggaman tanganku erat.
Aku mengusah wajah. Menarik napas panjang. Mungkin ini adalah keputusan yang terbaik. "Iya, Izzam bersedia. Tapi ada syaratnya."
"Alhamdulillah." Mereka bertahmid hampir bersamaan.
Abah dan Umi saling berpandangan berbalas senyum. Guratan kebahagiaan tergambar di wajah mereka.
Mana bisa aku menolak jika Umi telah berkata demikian. Rasa cinta dan sayang ini begitu besar pada wanita tegar di mana letak surgaku ada di kakinya. Tidak mungkin aku membuatnya kecewa dengan penolak permintaannya.
"Kamu minta syarat apa?" Ucap Abah.
Aku berdeham. Membasahi tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering. Mengumpulkan keberanian untuk berucap. "Pertama, pernikahan akan diadakan secara sederhana."
"Gak masalah. Toh menikah yang penting sah. Iya, kan, Umi?" Abah menatap Umi minta persetujuan. Umi hanya mengangguk dengan senyum mengembang.
"Kedua, layaknya Abah yang punya empat istri. Izinkan Izzam berpoligami nantinya."
Abah mengerutkan kening, dan Umi seketika menatapku tajam. Air mukanya seketika berubah sedih. "Zam!" pekiknya.
"Itu urusan gampang!" tukas Abah.
"Bah!" Umi membulat mata melihat ke arah suaminya.
Abah hanya terkekeh seraya meninggalkan ruang keluarga diikuti Umi yang masih berargumentasi.
Abah memiliki empat istri. Pertama, Umi yang melahirkan aku dan Ibu Kulsum, yang tinggal beda Desa tak jauh dari pesantren. Dua istri yang lainnya, yang lebih pantas aku panggil Mbah dan Bude karena memang umurnya sudah sepuh. Abah sangat pemurah. Rasa empatinya begitu tinggi sampai menikahi para wanita-wanita itu. Entah, apa alasan Abah menikahi Ibu Kulsum. Selain beliau lebih muda dan cantik dari Umi, juga dari keluarga berada. Mungkin Abah benar-benar mencintainya.
Tidak masalah bagiku menggugurkan tanggungjawab dengan menikahi gadis yang sama sekali belum pernah kulihat. Namun, tak mungkin aku hidup tanpa Mazaya Muntaha, seraut wajah itu memenuhi pikiran. Segera aku beristighfar sebelum setan menjarah hati dan menungganginya.
Aku terhenyak saat ponsel berdering. Sebuah panggilan dari Kang Rozak, supir Abah rupanya. Segera kusentuh tombol hijau menerima panggilan.
"Assalamualaikum, Gus. Maaf mengganggu." Suara Rozak di ujung telepon.
"Wa'alaikumsalam, enggak, kok, Kang. Ada apa?"
"Ini ada paket kitab-kitab kiriman dari Turki, mau ditarok di mana?"
"Ow, ya, sebentar. Njenengan di mana?" Aku bangkit dari duduk dan menyambar baju yang menggantung. Tak lupa kopiah berwarna putih sebagai penutup kepala.
"Kulo masih di halaman ndalem, Gus."
"Yo wes, aku ke sana sekarang."
"Baik, Gus."
Segera aku melangkah menuju halaman setelah menutup panggilan.
***
Saat memasuki kamar, setelah berbincang dengan Abah selepas salat Isya tadi. Gadis itu sudah terlelap di ranjang, masih lengkap dengan kerudung menempel di kepala. Segera kuraih handuk dan menuju kamar mandi.
Setelah membersihkan diri, badan terasa lebih segar. Membuka lemari gantung untuk mengambil pakaian, mataku menangkap kebaya yang tadi robek sebagian.
Gadis ceroboh.
Segera kuganti pakaian. Menuju sofa dan mengenyakkan tubuh di sana. Meraih kitab Nasaaihul 'Ibad, karangan ulama Jawa, yang tersusun rapi di meja dan mulai membacanya.
Seminggu sekali pesantren mengadakan kajian kitab kuning yang ringan dan mudah dipahami oleh para jama'ah, yaitu para warga kampung sekitar pesantren di masjid. Sedangkan, besok siang, jadwalku mengisi materi kajian. Pernikahan bukan alasan untuk meliburkan kajian. Bagaimanapun aku harus menyiapkannya meski badan terasa letih.
Sebuah sentuhan di lengan membuatku tersadar. Ah, rupanya aku tertidur.
"Gus, bangun. Sudah mau jam empat." Suara seorang gadis yang pertama kali kudengar.
Sayup bunyi murotal dari masjid terbetik di telinga. Aku memejamkan mata erat setelah menyadari kenyataan bahwa kini aku adalah seorang suami dari seorang gadis yang bahkan namanya baru sekali kusebut saat ijab qabul tadi.
"Ya." Suaraku terdengar serak di telinga.
"Sudah saya siapkan semuanya kalau Gus mau mandi sekarang. Masih ada sepuluh menit lagi untuk solat malam. Atau ... mau mandi nanti setelah solat subuh?"
Rentetan pertanyaan memberondong dari mulut gadis yang telah memakai mukena itu. Aku menatapnya saat mulutnya mulai terbuka. Mungkin ingin berkata lagi.
"Kamu urus saja keperluanmu. Aku bisa melakukannya sendirian."
Wajah gadis itu tampak berubah."Ba-baik, Gus.
Belum sampai kaki ini di kamar mandi, ia sudah berkata lagi. "Tadi, handuknya sudah saya tarok di kamar mandi," ucapnya lagi.
Aku menghentikan langkah dan menghadap ke arahnya.
Gadis itu masih berdiri di tempat semula dan sepertinya terkejut dengan gerakanku yang tiba-tiba menatapnya.
"Kamu berangkat saja ke masjid."
Samar, terdengar ia menjawab, "Injeh, Gus."
Aku masih menatapnya saat ia mengangguk dan menghilang di balik pintu.
***
Setelah mengisi kajian kitab bada subuh di masjid, aku tidak langsung kembali ke rumah. Berkeliling asrama putra sekedar mengontrol santri atau berbincang dengan pengurus. Beberapa kang santri yang berpapasan mengangguk dan mengucapkan salam. Tampak mereka saling berbisik-bisik setelah melangkah jauh.
"Assalamualaikum, Gus." Sebuah suara yang sangat akrab terdengar di telinga. Rayyan. Putra dari Ibu Kulsum. Dia termasuk dalam dewan asatiz yang tak diragukan kemampuan di pesantren.
"Wa'alaikumsalam, Yan. Apa kabar?" Dia meraih tanganku dan akan menciumnya. Namun aku menolak. Menariknya dalam pelukan.
"Alhamdulillah, baik, Gus. Ada perlu apa?"
"Enggak, mau keliling asrama saja. Sudah lama gak patroli."
"Mari saya temani."
"Boleh."
Kami pun berjalan beriringan. Berbincang-bincang saling bertukar kabar.
"Selamat atas pernikahannya, Gus. Maaf tidak bisa hadir karena kemarin ada kepentingan di luar pesantren."
"Tidak apa-apa. Kewajiban lebih penting, Yan. Ow, ya, bagaimana kabar Ibu Kulsum. Aku belum sowan ke rumahnya sejak pulang."
"Ibu alhamdulillah baik, Gus. Silahkan berkunjung kapan ada waktu."
"Iya, ya. Tapi Rayyan?" Aku menghentikan langkah. Begitu pula lelaki berparas tampan itu.
"Injeh, Gus."
"Jangan panggil aku gus. Panggil saja Mas atau Kang."
Pria bersarung hitam itu tersenyum tipis. "Mana bisa, Gus. Saya tidak biasa."
"Bagaimanapun kamu juga adikku. Belajarlah mulai sekarang." Rayyan lebih muda lima tahun dariku. Entah kapan tepatnya Abah menikahi ibunya. Saat itu aku masih anak-anak dan tidak mengerti apa itu poligami. Yang aku tahu, aku bahagia karena memiliki seorang adik lelaki.
"Injeh, Gus, eh, Mas."
Kami berbalas senyum dan kembali berjalan hingga tak terasa sampai di gerbang pembatas asrama putri, di mana ndalem berada.
"Sering-seringlah berkunjung ke ndalem. Jangan ketika ada perlu saja," pintaku pada Rayyan sambil menepuk lengannya.
"Injeh, Mas. Terima kasih.
***
Sampai di rumah aku langsung ke kamar. Menganti pakaian lalu menuju dapur untuk sarapan. Di sana sudah ada Abah, Umi dan ... gadis itu.
Aku menghela napas panjang tiap kali menyadari bahwa kini statusku adalah seorang suami dari sebuah pernikahan yang mendadak dan tak kukehendaki. Rob, ampuni hamba yang belum bisa ikhlas menerima perjodohan ini.
"Ayo, Zam sarapan. Dari tadi Binna sudah sibuk menyiapkan sarapan buat kamu." Umi yang tengah membawa semangkuk sayur berucap. "Nih, sayur kesukaan kamu, yang masak Binna, lo. Tadi Umi udah nyicip, rasa uwenak."
Abah yang tengah menikmati sarapan terkekeh. "Umimu kadang berlebihan."
"Tapi memang enak, to." Umi duduk di kursi samping Abah. "Sini Binna, duduk samping Izzam," pint Umi pada gadis yang masih berdiri.
Gadis itu tersenyum, menarik kursi lalu duduk di sebelahku. Ia menuangkan air ke dalam gelas dan meletakkannya tepat di samping piringku. "Ini minumnya, Gus."
Abah dan Umi sontak menatap ke arah kami dengan menahan senyum.
Aku segera meraihnya dan menyesap cairan bening itu. "Terima kasih."
Gadis itu pun mengekor saat aku menyelesaikan sarapan, padahal ia masih mencuci piring bersama Umi.
"Biar saya siapkan air hangat dan pakaian dulu, Gus, kalau mau mandi," ucapnya saat kami sudah ada di kamar.
"Gak usah, aku mandi nanti saja." Aku duduk di sofa dengan kitab Nasaaihul 'Ibad yang semalam belum tuntas terbaca. Setengah jam lagi kajian di mulai.
"Atau mau saya buatkan wedang jahe dan madu? Kata Umi, njenengan biasa minum itu di pagi hari."
"Terima kasih. Tapi aku masih kenyang." Netra awas mencari-cari halaman terakhir yang kubaca. Ah, aku lupa memberi tanda pembatas semalam.
"Oh, gitu." Dia bergumam. "Atau--"
"Cukup. Aku bisa melakukannya sendiri. Kalau kamu punya kesibukan, kerjakan saja. Jangan sungkan," ucapku tanpa mengalihkan mata dari kitab di tangan dan mulai larut dalam bacaan.
"Ba-baik, Gus." Gadis itu tergagap. Mungkin terkejut karena aku menyela ucapannya.
Hening, gadis itu masih berdiri dan tampak dari ekor dia menyusut mata. Apa dia menangis sebab tersinggung dengan ucapanku? Apa salahku?
Memang benar bukan kedatangan ke sini untuk menyelesaikan sekolah madrasahnya. Aku hanya tidak mau mengganggu waktu belajarnya dengan terbebani mengurus keperluan yang aku sendiri biasa melakukannya. Lalu di mana letak permasalahannya.
"Satu lagi." Kali ini kuletakan kitab karangan Syekh Nawawi bin Umar Al-Jawi di pangkuan saat gadis itu mulai beringsut.
"Iya, Gus."
"Bukahkah kamu pindah ke pondok ini untuk mengaji, bukan untuk menikah?"
"Injeh, Gus," jawab gadis itu tertunduk seperti menyembunyikan wajahnya.
"Jadi, jangan repot-repot mengurusku. Ikuti saja kegiatan pesantren, fokus pada sekolahmu. Jangan terbebani karena menikah denganku." Aku kembali larut pada bacaanku hingga terdengar pintu tertutup.
-----
#Jodoh_Pilihan_Kiyai
#Part_03
#Kolab_Silvanni_Huren
Selesai mengajar TPQ di madrasah, aku tak langsung kembali ke ndalem. Memilih mampir ke asrama sebentar, bertemu teman-teman sekamar untuk sekedar mengobrol. Sambutan hangat kudapat ketika sampai di ambang pintu.
"Awas, awas, nganten anyar mau duduk." Ulfi yang langsung beranjak menuntunku untuk segera masuk mendapat tawa dari beberapa santri di dalam. Santriwati berhijab orange ini memang selalu ada saja tingkahnya.
"Nggak usah berlebihan, Ulfi," tegurku.
"Gimana?"
"Apanya?"
"Sama Gus Izzam semalem, gimana? Penasaran aku, nggak kebayang deh, kamu sama-."
"Bahas yang lain, aja," potongku. Tentu, membuat santri yang menjabat Mbak Ndalem ini memberengut. Rasa keponya kandas begitu saja.
Lama kami bercengkerama. Membahas obrolan ngalor ngidul, lalu membahas tentang ujian akhir semester yang sebentar lagi akan dijalani.
"Aku balik dulu, ya." Setelah cukup lama mengobrol, aku pun harus kembali ke ndalem, mengingat waktu sudah terlalu sore.
"Padahal lagi seru ini."
"Besok, sambung lagi." Aku pun segera beranjak dan melangkah meninggalkan asrama.
Langkah ringan, setidaknya ada hiburan saat bersama teman santri lainnya. Menghilangkan sejenak bayangan Gus Izzam yang masih dingin padaku.
"Assalamualaikum."
Suara sapaan yang tak asing lagi terdengar. Aku yang baru saja keluar dari pagar asrama putri menoleh. Sosok lelaki berbaju koko menyembul dan mengimbangi langkahku.
"Waalaikum salam, Kang Rayyan."
Senyum kuulas untuk menyapanya.
"Dari mana, Ning?"
"Jangan panggil, Ning. Aku bukan Ning," sanggahku, hanya dibalas kekehan oleh laki-laki berpostur tinggi ini.
"Bukannya sudah menikah dengan Gus Izzam? Kenapa jangan dipanggil, Ning?" Kang Rayyan menoleh, sambil menyilang tangan dibalik punggung, ia masih mengimbangi langkahku menuju ndalem.
"Kenapa Kang Rayyan juga jangan dipanggil, Gus, atau Ustadz?" Aku pun berbalik tanya. Lelaki itu mengernyit, sesaat kemudian tawa kecilnya terdengar. Kang Rayyan adalah Ustadz yang mengajar di kelas Alfiyah. Tepatnya mengajar Ushul Fiqih di kelasku saat ini. Dan dia juga merupakan putra Kiyai Basyari dari istri keduanya. Ibu kulsum.
"Kamu ini, kebiasaan, ditanya, malah nanya."
Aku hanya tersenyum. Sosok yang tengah berjalan berjarak denganku ini dikenal sangat ramah, baik, dan cara mengajarnya pun gampang dipahami. Tidak sedikit Mbak-Mbak yang kagum padanya.
"Sekolahmu gimana, Bin?" tanyanya.
"Masih, Kang. Tanggung, sebentar lagi kan lulusan."
Kang Rayyan menoleh dan tersenyum. "Alhamdulillah, aku pikir, setelah menikah sama Gus Izzam. Kamu berhenti."
Aku hanya menggeleng, bukankah tujuanku memang untuk menamatkan pendidikan agama disini? Tidak mungkin meninggalkan sekolah yang tinggal sedikit lagi.
"Belajar yang rajin, Bin. Bentar lagi ujian akhir, pastikan rangking pertama masih menjadi milikmu."
Nasehat dari Kang Rayyan, langsung kutanggapi anggukan. "Insya Allah, Kang."
***
Ba'da maghrib, aku kembali ke kamar, mengambil kitab yang akan menjadi mata pelajaran malam ini, sambil duduk di sisi ranjang. Kubaca tiap baris tulisan arab itu, sesekali berpindah pada buku tulis di pangkuan. Menelaah kembali pelajaran minggu lalu.
Cukup lama, aku menekur kitab 'Faroidul bahiyyah'. Kitab tentang kaidah fiqih ini, akan menjadi mata pelajaran pertama nanti yang dipimpin Kang Rayyan sebagai asatidznya.
Konsentrasiku pecah, ketika mendengar deham dari Gus Izzam. Aku yang masih berbalut mukena pun menoleh, terlihat dia tengah menyandar di sofa. Sesegera aku menghampirinya.
"Gus, tidak apa-apa?" tanyaku saat tiba di sebelahnya.
Gus Izzam menoleh sekilas, setelah itu kembali membuang tatapan. "Tidak apa-apa." Jawaban datar pun diberikan.
Aku menghela napas, mungkin dia berdeham bukan memanggilku. Tapi terlihat di meja tak ada minuman apapun, aku pun segera keluar menuju dapur.
Segelas air putih kubawa dan menaruhnya di atas meja. Barangkali memang Gus Izzam butuh minum tapi sungkan untuk memintanya.
"Silahkan, Gus."
"Terima kasih."
Aku hanya mengangguk, lalu kembali melanjutkan membaca kitab yang kuletakkan di atas ranjang. Sekilas kulirik posisinya yang masih duduk menyandar, air di gelas beling itu masih belum dijamahnya.
Sudah tidak fokus lagi, melihat Gus Izzam yang masih seperti ini, aku kembali berpikir, akankah nanti kata-kata Bapak akan menjadi kenyataan?
"Kiyai Basyari itu orang baik. Pasti, mendidik putranya pun dengan baik."
Semoga, dapat kutemukan kebaikan itu. Jika hari ini suamiku masih tidak ingin mengenalku, mungkin nanti seiring waktu, kami bisa saling menerima satu sama lain.
"Sudah adzan. Kamu nggak ke masjid?" Gus Izzam yang beranjak dari sofa bertanya, aku sedikit gelagapan untuk menjawabnya.
"I-iya, Gus."
Aku pun mengekor langkahnya. Masih dengan langkah lebar yang tidak bisa kusejajari, aku tertinggal di belakangnya. Hingga akhirnya memilih berhenti, hanya menatap punggung lelaki yang semakin jauh dari jarakku berdiri.
Langkah pun kulanjutkan pelan sambil menyingsing bawahan mukena. Aku tak bisa mengimbangi langkah Gus Izzam, dan mungkin tak akan bisa mengimbangi. Sama, seperti kastaku dan dirinya. Tak terasa bulir ini meluruh begitu saja, merasa tidak ada arti apa-apa.
Kuembuskan pelan napas ini, mengusir sesak yang membongkah di dalam dada. Bukan karena aku ingin disetarakan dengan sosok Gus Izzam. Tapi setidaknya, aku dihargai, tidak dipandang rendah.
***
Aku duduk di meja rias, baru saja selesai memasang hijab square. Kusematkan bross bentuk bunga mawar di bahu kiri. Beberapa buku yang sudah siap,segera kuambil. Sebentar lagi, kelas madrasah diniyah akan dimulai.
Tidak ada Gus Izzam di kamar ini, selepas isya' dia belum juga kembali dari masjid. Aku pun segera melangkah keluar dan menutup pintu sebelum kutinggalkan.
Langkahku terhenti ketika mendapati Gus Izzam tengah duduk di ruang tengah bersama Abah, dan juga Umi. Tatapan mereka mengarah padaku.
"Mau berangkat, Nduk?" tanya Umi yang duduk sejajar dengan Abah, sedang Gus Izzam duduk di sofa sebelah, tengah meletakkan ponsel ke atas meja.
"Injeh, Mi."
Aku menghampiri, menyalimi Abah dan juga Umi, tak lupa, kepada seseorang yang menatap sekilas. Kucium punggung tangannya, lalu berpamit untuk segera ke madrasah.
Abah dan Umi nampak tersenyum ketika aku membungkuk menyalimi Gus Izzam, mereka saling pandang.
***
Pintu kamar perlahan kubuka. Selesai mengikuti kegiatan madrasah, aku pun bergegas kembali. Gus Izzam tengah berada di kamar mandi, terlihat dari pintu kaca yang tertutup, juga suara kran yang menyala. Aku pun meletakkan buku di dalam nakas.
Pandanganku tertuju sofa. Pakaian dan sarung yang tergeletak begitu saja membuatku berniat merapikan. Baju koko yang berada di kursi panjang itu kusambar. "Astagfirullahal adzim." Netraku membulat penuh, sesuatu terlempar dari balik baju dan menghantam lemari kayu.
"Hp?"
Aku bergegas memungut benda yang kini berada di lantai. Hatiku berdebar tak karuan, handphone yang retak parah di bagian layar itu kugenggam erat. Langkah mondar-mandir, bingung, takut, tidak tahu apa yang akan terjadi jika Gus Izzam tahu.
Pakaian kusampirkan di bahu. Ujung jari yang kugigit demi menekan rasa takut. Tenang Sabrina ... kamu nggak sengaja.
Napas yang kuambil dalam-dalam, lalu membuang perlahan, mencoba menekan tombol on/off, berharap ponsel ini bisa menyala. Berkali-kali tombol itu kupaksakan, tapi tak kunjung menghidupkan layar. Mata yang mengembun ini, akhirnya tak mampu membendung genangan yang meluncur begitu saja.
Ketakutan yang menjalar, bagaimana reaksi Gus Izzam jika tahu aku merusak barang pribadinya. Jika baju kebaya yang kurusak itu diguntingnya, bagaimana dengan kerusakan pada Handphone ini?
Suara pintu dibuka, dengan cepat benda pipih ini kusembunyikan di balik punggung. Gemetar rasanya ketika pria yang keluar dari kamar mandi menatap tajam ke arahku. Derap langkahnya, seolah menekan ketakutan yang semakin mencapai ubun-ubun.
"Ngapain di sini?"
Pertanyaan datar itu tak bisa kujawab. Hanya bisa menggeleng, dan aku tahu, pasti dia curiga dengan keberadaanku di dekat lemari kayunya. "Ma-af, Gus."
Tatapan lelaki berkaus oblong abu itu mengarah pada tangan yang kusembunyikan. Ia mulai melangkah ke arahku. Dadaku bergemuruh, detak jantung bekerja berkali-kali lipat. Aku memundurkan langkah, terus mundur ketika langkahnya semakin mendekat, sampai punggung pun terbentur lemari besar ini.
"Apa yang kamu sembunyikan?"
Aku hanya menggeleng.
"Apa?"
Aku kembali menggeleng.
"Jawab!"
"Maaf, Gus."
Aku semakin gemetar, belulangku seolah runtuh ketika tangan Gus Izzam mengarah padaku. Pakaian di bahu disambarnya, tangis pun akhirnya berderai.
"Apa yang kamu sembunyikan, Sabrina!"
Aku yang menunduk pun mendongak, Gus Izzam menyebut namaku. Tarikan napas yang tercekat, juga senggukan yang semakin sering, aku beranikan menatap mata dingin dan menusuk itu.
"Hand-phone-nya, ru-sak." Terbata kujelaskan tentang ponsel yang terlempar itu, seolah terasa kelu. Dan benar saja, netra Gus Izzam membulat seketika. Pakaian yang digenggamnya dilempar begitu saja.
"Mana handphone-nya?" Dia mengulur tangan, meminta menyerahkan ponsel yang semakin erat kugenggam. Aku menggeleng menolak.
"Mana?"
"Jangan, Gus. Biar saya benarkan dulu."
"Mana!"
Tangan Gus Izzam berusaha merampas handphone ini, dan aku pun masih mempertahankan. Akan bertanggung jawab dengan kerusakan yang kubuat.
"Sini Hp-nya, Binna."
"Saya janji, akan bertanggung jawab, akan saya benarkan HPnya, Gus."
Aku sudah merengek, tidak peduli bagaimana rautku saat ini, hanya mengharap maaf darinya, tidak ingin Gus Izzam memarahiku habis-habisan. Akhirnya lelaki berhidung mancung itu menyerah. Menjauh dan duduk di sofa.
"Ini bukan salahmu, aku yang seharusnya mengeluarkannya dari kantong baju."
Tangisku tertahan seketika, pernyatan yang terlontar itu membuat aku semakin bersalah. Tak berpikir lama, aku segera mengusap air mata yang sudah membanjiri pipi sedari tadi.
"Sebentar, Gus." Kupertegas langkah meninggalkan kamar, tak menghiraukan tatapan bingung lelaki itu. Pikiranku melayang pada celengan ayam yang masih ada di kamar asrama.
Sesampainya, aku mengetuk pintu kamar, tak lama Ulfi membukakan pintu, dan bergegas segera kucari celengan itu di kolong tempat tidur, tak ada benda itu di sana. "Di mana?" gumamku dalam kepanikan. Benda pipih ini masih kugenggam erat, masih bersikukuh tak kukembalikan.
"Ngapain to, Bin?" Ulfi menatapku heran. Beberapa santri di kamar ini pun bereaksi sama.
"Lihat celenganku, nggak?"
"Astagfirullah, Binna. Kamu buru-buru cuma cari celengan?" Ulfi yang terkekeh hanya menggeleng.
"Mana, Fi?" Aku sudah panik, mataku masih awas mencari keberadaan celengan bentuk ayam berbahan tanah liat.
"Dilemari, sengaja aku simpan, biar kamu gampang nyarinya."
Penjelasan Ulfi, segera kubuka lemari, dan akhirnya aku bisa bernapas lega, benda itu ada. Segera kuraih dan membawanya kembali ke ndalem. "Makasih, ya."
"Ini, Gus. Saya cuma punya tabungan. Cukup atau tidak, nanti kurangnya saya nyicil buat benerin Hp-nya." Kuserahkan ponsel juga celengan ayam kepada Gus Izzam yang tengah duduk di sofa.
Gus yang tengah meneguk air bening ini menoleh, tatapannya menghujamku.
"Simpan saja tabungannya. Kamu itu istriku, jadi tidak perlu berlebihan seperti itu."
-------
#Part_03
#Kolab_Silvanni_Huren
Selesai mengajar TPQ di madrasah, aku tak langsung kembali ke ndalem. Memilih mampir ke asrama sebentar, bertemu teman-teman sekamar untuk sekedar mengobrol. Sambutan hangat kudapat ketika sampai di ambang pintu.
"Awas, awas, nganten anyar mau duduk." Ulfi yang langsung beranjak menuntunku untuk segera masuk mendapat tawa dari beberapa santri di dalam. Santriwati berhijab orange ini memang selalu ada saja tingkahnya.
"Nggak usah berlebihan, Ulfi," tegurku.
"Gimana?"
"Apanya?"
"Sama Gus Izzam semalem, gimana? Penasaran aku, nggak kebayang deh, kamu sama-."
"Bahas yang lain, aja," potongku. Tentu, membuat santri yang menjabat Mbak Ndalem ini memberengut. Rasa keponya kandas begitu saja.
Lama kami bercengkerama. Membahas obrolan ngalor ngidul, lalu membahas tentang ujian akhir semester yang sebentar lagi akan dijalani.
"Aku balik dulu, ya." Setelah cukup lama mengobrol, aku pun harus kembali ke ndalem, mengingat waktu sudah terlalu sore.
"Padahal lagi seru ini."
"Besok, sambung lagi." Aku pun segera beranjak dan melangkah meninggalkan asrama.
Langkah ringan, setidaknya ada hiburan saat bersama teman santri lainnya. Menghilangkan sejenak bayangan Gus Izzam yang masih dingin padaku.
"Assalamualaikum."
Suara sapaan yang tak asing lagi terdengar. Aku yang baru saja keluar dari pagar asrama putri menoleh. Sosok lelaki berbaju koko menyembul dan mengimbangi langkahku.
"Waalaikum salam, Kang Rayyan."
Senyum kuulas untuk menyapanya.
"Dari mana, Ning?"
"Jangan panggil, Ning. Aku bukan Ning," sanggahku, hanya dibalas kekehan oleh laki-laki berpostur tinggi ini.
"Bukannya sudah menikah dengan Gus Izzam? Kenapa jangan dipanggil, Ning?" Kang Rayyan menoleh, sambil menyilang tangan dibalik punggung, ia masih mengimbangi langkahku menuju ndalem.
"Kenapa Kang Rayyan juga jangan dipanggil, Gus, atau Ustadz?" Aku pun berbalik tanya. Lelaki itu mengernyit, sesaat kemudian tawa kecilnya terdengar. Kang Rayyan adalah Ustadz yang mengajar di kelas Alfiyah. Tepatnya mengajar Ushul Fiqih di kelasku saat ini. Dan dia juga merupakan putra Kiyai Basyari dari istri keduanya. Ibu kulsum.
"Kamu ini, kebiasaan, ditanya, malah nanya."
Aku hanya tersenyum. Sosok yang tengah berjalan berjarak denganku ini dikenal sangat ramah, baik, dan cara mengajarnya pun gampang dipahami. Tidak sedikit Mbak-Mbak yang kagum padanya.
"Sekolahmu gimana, Bin?" tanyanya.
"Masih, Kang. Tanggung, sebentar lagi kan lulusan."
Kang Rayyan menoleh dan tersenyum. "Alhamdulillah, aku pikir, setelah menikah sama Gus Izzam. Kamu berhenti."
Aku hanya menggeleng, bukankah tujuanku memang untuk menamatkan pendidikan agama disini? Tidak mungkin meninggalkan sekolah yang tinggal sedikit lagi.
"Belajar yang rajin, Bin. Bentar lagi ujian akhir, pastikan rangking pertama masih menjadi milikmu."
Nasehat dari Kang Rayyan, langsung kutanggapi anggukan. "Insya Allah, Kang."
***
Ba'da maghrib, aku kembali ke kamar, mengambil kitab yang akan menjadi mata pelajaran malam ini, sambil duduk di sisi ranjang. Kubaca tiap baris tulisan arab itu, sesekali berpindah pada buku tulis di pangkuan. Menelaah kembali pelajaran minggu lalu.
Cukup lama, aku menekur kitab 'Faroidul bahiyyah'. Kitab tentang kaidah fiqih ini, akan menjadi mata pelajaran pertama nanti yang dipimpin Kang Rayyan sebagai asatidznya.
Konsentrasiku pecah, ketika mendengar deham dari Gus Izzam. Aku yang masih berbalut mukena pun menoleh, terlihat dia tengah menyandar di sofa. Sesegera aku menghampirinya.
"Gus, tidak apa-apa?" tanyaku saat tiba di sebelahnya.
Gus Izzam menoleh sekilas, setelah itu kembali membuang tatapan. "Tidak apa-apa." Jawaban datar pun diberikan.
Aku menghela napas, mungkin dia berdeham bukan memanggilku. Tapi terlihat di meja tak ada minuman apapun, aku pun segera keluar menuju dapur.
Segelas air putih kubawa dan menaruhnya di atas meja. Barangkali memang Gus Izzam butuh minum tapi sungkan untuk memintanya.
"Silahkan, Gus."
"Terima kasih."
Aku hanya mengangguk, lalu kembali melanjutkan membaca kitab yang kuletakkan di atas ranjang. Sekilas kulirik posisinya yang masih duduk menyandar, air di gelas beling itu masih belum dijamahnya.
Sudah tidak fokus lagi, melihat Gus Izzam yang masih seperti ini, aku kembali berpikir, akankah nanti kata-kata Bapak akan menjadi kenyataan?
"Kiyai Basyari itu orang baik. Pasti, mendidik putranya pun dengan baik."
Semoga, dapat kutemukan kebaikan itu. Jika hari ini suamiku masih tidak ingin mengenalku, mungkin nanti seiring waktu, kami bisa saling menerima satu sama lain.
"Sudah adzan. Kamu nggak ke masjid?" Gus Izzam yang beranjak dari sofa bertanya, aku sedikit gelagapan untuk menjawabnya.
"I-iya, Gus."
Aku pun mengekor langkahnya. Masih dengan langkah lebar yang tidak bisa kusejajari, aku tertinggal di belakangnya. Hingga akhirnya memilih berhenti, hanya menatap punggung lelaki yang semakin jauh dari jarakku berdiri.
Langkah pun kulanjutkan pelan sambil menyingsing bawahan mukena. Aku tak bisa mengimbangi langkah Gus Izzam, dan mungkin tak akan bisa mengimbangi. Sama, seperti kastaku dan dirinya. Tak terasa bulir ini meluruh begitu saja, merasa tidak ada arti apa-apa.
Kuembuskan pelan napas ini, mengusir sesak yang membongkah di dalam dada. Bukan karena aku ingin disetarakan dengan sosok Gus Izzam. Tapi setidaknya, aku dihargai, tidak dipandang rendah.
***
Aku duduk di meja rias, baru saja selesai memasang hijab square. Kusematkan bross bentuk bunga mawar di bahu kiri. Beberapa buku yang sudah siap,segera kuambil. Sebentar lagi, kelas madrasah diniyah akan dimulai.
Tidak ada Gus Izzam di kamar ini, selepas isya' dia belum juga kembali dari masjid. Aku pun segera melangkah keluar dan menutup pintu sebelum kutinggalkan.
Langkahku terhenti ketika mendapati Gus Izzam tengah duduk di ruang tengah bersama Abah, dan juga Umi. Tatapan mereka mengarah padaku.
"Mau berangkat, Nduk?" tanya Umi yang duduk sejajar dengan Abah, sedang Gus Izzam duduk di sofa sebelah, tengah meletakkan ponsel ke atas meja.
"Injeh, Mi."
Aku menghampiri, menyalimi Abah dan juga Umi, tak lupa, kepada seseorang yang menatap sekilas. Kucium punggung tangannya, lalu berpamit untuk segera ke madrasah.
Abah dan Umi nampak tersenyum ketika aku membungkuk menyalimi Gus Izzam, mereka saling pandang.
***
Pintu kamar perlahan kubuka. Selesai mengikuti kegiatan madrasah, aku pun bergegas kembali. Gus Izzam tengah berada di kamar mandi, terlihat dari pintu kaca yang tertutup, juga suara kran yang menyala. Aku pun meletakkan buku di dalam nakas.
Pandanganku tertuju sofa. Pakaian dan sarung yang tergeletak begitu saja membuatku berniat merapikan. Baju koko yang berada di kursi panjang itu kusambar. "Astagfirullahal adzim." Netraku membulat penuh, sesuatu terlempar dari balik baju dan menghantam lemari kayu.
"Hp?"
Aku bergegas memungut benda yang kini berada di lantai. Hatiku berdebar tak karuan, handphone yang retak parah di bagian layar itu kugenggam erat. Langkah mondar-mandir, bingung, takut, tidak tahu apa yang akan terjadi jika Gus Izzam tahu.
Pakaian kusampirkan di bahu. Ujung jari yang kugigit demi menekan rasa takut. Tenang Sabrina ... kamu nggak sengaja.
Napas yang kuambil dalam-dalam, lalu membuang perlahan, mencoba menekan tombol on/off, berharap ponsel ini bisa menyala. Berkali-kali tombol itu kupaksakan, tapi tak kunjung menghidupkan layar. Mata yang mengembun ini, akhirnya tak mampu membendung genangan yang meluncur begitu saja.
Ketakutan yang menjalar, bagaimana reaksi Gus Izzam jika tahu aku merusak barang pribadinya. Jika baju kebaya yang kurusak itu diguntingnya, bagaimana dengan kerusakan pada Handphone ini?
Suara pintu dibuka, dengan cepat benda pipih ini kusembunyikan di balik punggung. Gemetar rasanya ketika pria yang keluar dari kamar mandi menatap tajam ke arahku. Derap langkahnya, seolah menekan ketakutan yang semakin mencapai ubun-ubun.
"Ngapain di sini?"
Pertanyaan datar itu tak bisa kujawab. Hanya bisa menggeleng, dan aku tahu, pasti dia curiga dengan keberadaanku di dekat lemari kayunya. "Ma-af, Gus."
Tatapan lelaki berkaus oblong abu itu mengarah pada tangan yang kusembunyikan. Ia mulai melangkah ke arahku. Dadaku bergemuruh, detak jantung bekerja berkali-kali lipat. Aku memundurkan langkah, terus mundur ketika langkahnya semakin mendekat, sampai punggung pun terbentur lemari besar ini.
"Apa yang kamu sembunyikan?"
Aku hanya menggeleng.
"Apa?"
Aku kembali menggeleng.
"Jawab!"
"Maaf, Gus."
Aku semakin gemetar, belulangku seolah runtuh ketika tangan Gus Izzam mengarah padaku. Pakaian di bahu disambarnya, tangis pun akhirnya berderai.
"Apa yang kamu sembunyikan, Sabrina!"
Aku yang menunduk pun mendongak, Gus Izzam menyebut namaku. Tarikan napas yang tercekat, juga senggukan yang semakin sering, aku beranikan menatap mata dingin dan menusuk itu.
"Hand-phone-nya, ru-sak." Terbata kujelaskan tentang ponsel yang terlempar itu, seolah terasa kelu. Dan benar saja, netra Gus Izzam membulat seketika. Pakaian yang digenggamnya dilempar begitu saja.
"Mana handphone-nya?" Dia mengulur tangan, meminta menyerahkan ponsel yang semakin erat kugenggam. Aku menggeleng menolak.
"Mana?"
"Jangan, Gus. Biar saya benarkan dulu."
"Mana!"
Tangan Gus Izzam berusaha merampas handphone ini, dan aku pun masih mempertahankan. Akan bertanggung jawab dengan kerusakan yang kubuat.
"Sini Hp-nya, Binna."
"Saya janji, akan bertanggung jawab, akan saya benarkan HPnya, Gus."
Aku sudah merengek, tidak peduli bagaimana rautku saat ini, hanya mengharap maaf darinya, tidak ingin Gus Izzam memarahiku habis-habisan. Akhirnya lelaki berhidung mancung itu menyerah. Menjauh dan duduk di sofa.
"Ini bukan salahmu, aku yang seharusnya mengeluarkannya dari kantong baju."
Tangisku tertahan seketika, pernyatan yang terlontar itu membuat aku semakin bersalah. Tak berpikir lama, aku segera mengusap air mata yang sudah membanjiri pipi sedari tadi.
"Sebentar, Gus." Kupertegas langkah meninggalkan kamar, tak menghiraukan tatapan bingung lelaki itu. Pikiranku melayang pada celengan ayam yang masih ada di kamar asrama.
Sesampainya, aku mengetuk pintu kamar, tak lama Ulfi membukakan pintu, dan bergegas segera kucari celengan itu di kolong tempat tidur, tak ada benda itu di sana. "Di mana?" gumamku dalam kepanikan. Benda pipih ini masih kugenggam erat, masih bersikukuh tak kukembalikan.
"Ngapain to, Bin?" Ulfi menatapku heran. Beberapa santri di kamar ini pun bereaksi sama.
"Lihat celenganku, nggak?"
"Astagfirullah, Binna. Kamu buru-buru cuma cari celengan?" Ulfi yang terkekeh hanya menggeleng.
"Mana, Fi?" Aku sudah panik, mataku masih awas mencari keberadaan celengan bentuk ayam berbahan tanah liat.
"Dilemari, sengaja aku simpan, biar kamu gampang nyarinya."
Penjelasan Ulfi, segera kubuka lemari, dan akhirnya aku bisa bernapas lega, benda itu ada. Segera kuraih dan membawanya kembali ke ndalem. "Makasih, ya."
"Ini, Gus. Saya cuma punya tabungan. Cukup atau tidak, nanti kurangnya saya nyicil buat benerin Hp-nya." Kuserahkan ponsel juga celengan ayam kepada Gus Izzam yang tengah duduk di sofa.
Gus yang tengah meneguk air bening ini menoleh, tatapannya menghujamku.
"Simpan saja tabungannya. Kamu itu istriku, jadi tidak perlu berlebihan seperti itu."
-------
JODOH PILIHAN KIYAI
#Kolab_Silvanni_Huren
#Part 04
Sebelum:
Aku masih duduk di teras menikmati mendung di sore hari, sambil menimang-nimang ponsel yang pecah pada bagian layarnya. Sangat menyayangkan benda pipih ini harus rusak. Selain ada beberapa file dan kontak penting di dalamnya juga ada beberapa foto saat aku di Turki yang belum sempat aku pindah ke laptop.
Mungkin Sabrina tidak sengaja melakukannya, tapi kecerobohannya itu sungguh tabiat buruk yang perlu diubah. Sebelumnya kebaya, sekarang ponsel, besok apa lagi?
Sebenarnya aku kasihan saat Sabrina ketakutan sampai menangis gara-gara HP, tapi lucu juga saat dia datang membawa celengan ayamnya. Sabrina ... Sabrina, polos sekali kamu. Berapa umurnya, ya?
"Ehem!"
Sebuah dehaman mengalihkan atensiku. Ternyata Kang Rozak yang tampak membawa sebuah map.
"Ngapuntes, Gus. Senyum-senyum sendiri, sepertinya masih berbunga-bunga." Kang Rozak yang tak kutahu kapan datangnya tiba-tiba sudah di beranda ndalem dengan menahan senyum.
"Ah, perasaan Kang Rozak saja. Ini, lo, HPku rusak. Kira-kira masih bisa diperbaiki gak, ya?" Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Cobi kulo tingali." Lelaki bersarung itu mengapit map yang tadi dibawanya dengan lengan.
Aku menyerahkan ponsel pada kang ndalem yang sudah mengabdi pada pesantren selama 5 tahun itu. Tampak ia mencoba menekan tombol power tapi layar ponsel masih tetap tak menyala.
Selain piawai dalam mengurus ndalem, kang Rozak juga terkenal mahir dalam memperbaiki benda-benda elektronik. Mesin cuci, kulkas, pompa air, ampli pesantren semua dia yang tangani.
"Kok gak iso, yo?" Ia bergumam. "Kalau boleh tahu bagaimana bisa kok sampai rusak begini, Gus?" tanyanya.
"Gak tahu, mungkin kebanting Sabrina saat beberes. Aku juga yang salah si, lupa ngambil dari saku."
"O, kebanting Mbak Sabrina," jawabnya dengan mengangguk dan tersenyum tipis. "Mbak Sabrina berani juga, ya." Lanjutnya lagi.
"Sebenarnya gak apa-apa kalau gak ada file penting di dalamnya. Toh, namanya juga barang, pasti ada kalanya rusak atau hilang. Gak kekal. Ya, to?"
"Injeh, Gus. Nanti coba saya bawa ke kamar, siapa tahu masih bisa dibenerin."
"Boleh, asal tidak merepotkan Kang Rozak saja."
"Njeh, mboten, to, Gus ... saya malah seneng bisa membantu njenengan. Sebuah kehormatan bagi saya bisa pegang HPnya Gus Izzam," jawabnya seraya memasukkan ponsel ke saku kemeja.
"Halah, berlebihan kamu ini, Kang. Oh, ya? Ada perlu dengan Abah?"
"Ow, mboten. Ini saya mau menyerahkan laporan hasil penjualan sapi bulan ini. Kata Abah mulai sekarang yang ngurus njenengan lagi."
"Ow, iya, iya." Aku meraih map berwarna abu-abu.
Setelah kang Rozak berpamitan, aku pun bergegas untuk bersiap solat Maghrib.
***
"Zam ... Umi mau tanya soal ... niatanmu ta'adud, apa kamu serius?" Umi menatapku lembut. "Kebanyakan perempuan itu gak mau, lo, Le ... diwayuh." Lanjutnya lagi.
Matahari sepenuhnya tenggelam. Kami masih duduk di pendopo, menikmati langit yang menumpahkan air. Sudah seminggu, musim penghujan telah tiba.
Aku tahu kegelisahan yang dialami Umi. Memiliki madu lebih dari satu pasti tidak mudah baginya. Namun, wanita tegar ini tak pernah menunjukkan kesedihannya pada suaminya, Abah.
"Mi ... kalau Sabrina seperti yang Umi katakan, Izzam yakin, dia juga akan tegar dan ikhlas kalau aku menikah dengan Mazaya."
"Tapi, Zam ...."
"Umi ... percayalah. Aku akan berusaha seadil mungkin. Izzam akan mencoba bersikap seperti Abah."
Terdengar desahan panjang. Mungkin Umi sudah menyerah membujuk. Wanita dengan gamis biru muda itu beranjak dan meninggal pendopo.
Tak lama tampak seorang gadis berlari menghindari hujan yang deras. Tangannya terlihat mendekap kitab di dada agar tak terkena air. Sabrina?
Ia berhenti di teras, tubuhnya yang kecil basah kuyup. Bibirnya tampak pucat, sepertinya ia kedinginan.
"Kenapa hujan-hujanan?"
"Maaf, Gus, anu ... gak ada payung. Tadi lupa bawa." Gadis itu masih berdiri. Air yang membasahi seluruh tubuhnya menetes di lantai.
"Cepat masuk dan ganti. Nanti kamu masuk angin."
"Injeh, Gus, permisi." Sedikit membungkuk ia berlari kecil menuju kamar.
Azan Maghrib setengah jam lagi. Untuk mengisi waktu, aku memilih membuka map yang diberikan Kang Rozak kemarin. Juga menyalakan laptop untuk menyalinnya. Memeriksa dengan teliti hasil penjualan sapi yang baru saja dikirim ke Jakarta dua hari lalu.
Sudah tujuh tahun lebih usaha penggemukan sapi ini berjalan. Tepatnya saat aku kuliah di semester empat. Melihat potensi daerah yang mayoritas petani dan harga daging yang terus meningkat, aku memutuskan untuk berwirausaha di peternakan sapi. Mulai dari menjadi blantik sapi kecil-kecilan, sampai Abah memberi kepercayaan dengan memberikan modal untuk mengembangkannya dengan syarat, separuh hasil penjualan digunakan untuk kepentingan pesantren. Abah sendiri memiliki pabrik penggilingan padi yang cukup maju. Tak sulit baginya untuk meminjamkan modal usaha.
Sebelum berangkat ke Turki tiga tahun lalu, aku menyerahkannya pada Rayyan. Dibantu Kang Rozak, setiap bulan ia melaporan hasil penjualannya ke Abah.
Pembelian pakan dan pembersih kandang dilakukan Minggu ini, sedangan pengisian akan berjalan setelah kandang bersih dan pakan tersedia. Harusnya pada belantik sudah mulai menghubungiku. Aku berdecak, mengingat ponsel yang belum selesai diperbaiki. Bagaimana bisa menghubungi para penjual kalau ponsel mati karena semua kontak ada di sana. Semoga saja Kang Rozak bisa memperbaikinya segera.
Aku tercengang saat memeriksa deretan angka. Ada selisih penjualan sebesar 150 juta dibanding bulan lalu. Aku tidak bisa langsung menuduh Rayyan. Sebaiknya nanti aku tanyakan dulu kemana uang itu.
Akhirnya, aku menutup benda berukuran 10 inci dan meletakkannya di meja. Memijit kepala yang terasa berat. Tenggorokan juga rasanya kering, tapi gelas yang biasa berisi air kosong.
Di mana Sabrina? Bukannya tadi dia masuk kamar untuk mengganti pakaian yang basah. Kamar mandi sepi, seperti tak ada tanda ada orang. Apa dia masih di dalam sana, karena sebelum ke kamar tadi, tak ada seorangpun di dapur.
Aku beranjak mendekati pintu kamar mandi, memastikan gadis itu masih berada di dalam atau tidak. Kuketuk pintu berbahan kaca itu. "Sabrina?"
"Dalem, Gus."
Lo? Gadis itu masih ada di dalam? Apa yang ia lakukan sejak tadi. "Kamu masih di dalam?"
"Injeh, Gus."
"Maksudku, kenapa kamu masih di sana? Kenapa tidak keluar? Apa kamu gak kedinginan lama-lama di dalam?"
"Emmmm, anu, Gus ...."
"Ya?"
"Nyuwun sewu, Gus, saya lupa bawa handuk."
Astaghfirullahal'azim ... lupa bawa handuk? Bagaimana bisa--, gadis ceroboh ini.
"Memangnya di mana handukmu?"
"Masih di jemuran belakang, Gus."
Segera kusambar handuk cadangan yang ada di lemari. Mengetuk pintu untuk menyerahkannya pada Sabrina. Sejenak aku tertegun saat sebuah tangan yang sedikit basah terulur. Putih dan halus. Ada yang berkedut di sini.
"Gus?"
"Oh, i-iya, ini." Segera kuarahkan dan kembali duduk di sofa. Namun, Sabrina belum juga keluar dari kamar mandi.
"Kamu kenapa gak keluar juga?"
"Anu, Gus, nuwun sewuuu sanget, tolong ambilkan ...."
Aku mendengkus. Ada apa lagi gadis itu. "Iya, apa lagi?" Aku berdiri lagi mendekati kamar mandi.
"Tapi, beneran ini, Gus, saya nuwun sewu sanget, pokoknya minta maaaaf sekali, bukan maksud saya menyu--"
"Iya, iya, Sabrina ... apa lagi?"
"Tolong juga ambilkan daleman, baju juga kerung di lemari."
Ya Rohman, ya Rohiim .... kenapa dia tidak keluar saja dengan memakai handuk, si?
"Ya, di mana?" Aku mulai membuka lemari.
"Daleman di kotak paling bawah, sepaket, njeh, bawahan dan atasan. Kalau gamisnya di lemari susun nomer dua dari atas, lipatan ke tiga, yang warna merah muda, dan kerudungnya yang kaos saja, dihanger di lemari gantung, yang warna hitam motif bunga warna merah muda."
Kepalaku mendadak tambah sakit mendengar instruksi sepanjang itu. Tangan sigap mencari benda-benda yang disebutkan. Setelah kiranya lengkap aku segera menyerahkannya ke Sabrina. Kembali ada yang berkedut saat tak sengaja tangan putih Sabrina menyentuh jemariku.
Setelah beberapa menit, Sabrina keluar dari kamar mandi dengan tertunduk. Aku juga beranjak untuk masuk ke kamar mandi.
"Terima kasih, Gus," ujar gadis yang bibirnya kebiru-biruan. Dia benar-benar kedinganan rupanya.
"Kamu kedinganan, cepat minum teh hangat atau buat wedang jahe sebelum masuk angin."
"Injeh, Gus."
***
Selepas solat isya, aku sempatkan untuk datang ke kamar Kang Rozak yang terletak di asrama putra, untuk menanyakan kabar ponsel. Kang ndalem itu sudah tak tampak di masjid tadi, menurut santri yang kutayai, ia sudah kembali ke kamarnya.
Setelah mengucapkan salam, aku mendapat sambutan yang hangat. Beberapa santri yang sekamar dengan Kang Rozak menyalamiku bergantian.
"Ampun repot-repot ke kamar, Gus, nanti rencana setelah kajian kitab saya mau ke ndalem." Kang Rozak tampak kikuk karena kehadiranku.
"Tidak apa-apa, apa salahnya kalau saya yang ke sini. Toh, ini juga kepentingan saya."
"Tapi maaf, Gus, sepertinya HPnya tidak bisa diperbaiki. Atau mau dibawa ke counter saja besok."
"Ya sudah, gak apa-apa. Biar saya sendiri saja yang bawa, sekalian besok ada kepentingan di luar."
"Baik, Gus," jawab Kang Rozak seraya menyerah ponsel.
"Oh, iya, Kang? Selama saya di Turki Rayyan to yang memegang keuangan sapi?"
"Injeh, Gus. Kang Rayyan juga yang menyerahkan bagian pesantren ke Abah. Enten nopo njeh, Gus?"
"Ah, ndak apa-apa. Terima kasih sudah membantunya."
"Injeh, Gus."
Sebenarnya aku berniat untuk menanyakan selisih angka penjualan sapi, tapi aku pikir-pikir lebih baik aku tanyakan langsung ke Rayyan.
Setelah undur diri aku kembali ke ndalem. Mengambil kitab yang tertinggal untuk kajian bada isya.
Saat memasuki kamar, Sabrina berdiri di depan lemari yang terbuka. Dari raut wajahnya sepertinya ia terkejut.
"Kenapa? Ada yang hilang?" ucapku sambil memilah-milah buku yang tersusun rapi di rak.
Sabrina memberengut menatap saat aku telah berdiri menghadapnya dengan kitab quratal 'uyun di tangan.
"Kenapa mukamu seperti itu?"
"Njenengan itu bagaimana, to, ngambil baju satu saja bisa selemari berantakan semua."
"Siapa suruh aku yang ambil."
Raut muka Sabrina berubah, yang tadi tampak kesal kini menjadi cemas. "Ya ... ya ... saya sendiri. Tapi, kan ...."
"Apa?" Aku mendekati gadis berhidung bangir yang terlihat tegang.
"Karena saya belum pakai baju," ucapnya lirih.
"Terus, kenapa gak keluar saja dengan handuk terus ambil sendiri bajunya," tukasku yang sukses membuat pipi putih itu berubah memerah.
Segera aku berbalik meninggalkan gadis bergigi gingsul itu saat merasakan ada yang berkedut lagi di sini.
Bersambung di Mbk Silvanni Lim Mey
Jangan lupa untuk like, komen, dan share, ya. Biar tambah semangat ini ngetiknya.
-------
#Kolab_Silvanni_Huren
#Part 04
Sebelum:
Aku masih duduk di teras menikmati mendung di sore hari, sambil menimang-nimang ponsel yang pecah pada bagian layarnya. Sangat menyayangkan benda pipih ini harus rusak. Selain ada beberapa file dan kontak penting di dalamnya juga ada beberapa foto saat aku di Turki yang belum sempat aku pindah ke laptop.
Mungkin Sabrina tidak sengaja melakukannya, tapi kecerobohannya itu sungguh tabiat buruk yang perlu diubah. Sebelumnya kebaya, sekarang ponsel, besok apa lagi?
Sebenarnya aku kasihan saat Sabrina ketakutan sampai menangis gara-gara HP, tapi lucu juga saat dia datang membawa celengan ayamnya. Sabrina ... Sabrina, polos sekali kamu. Berapa umurnya, ya?
"Ehem!"
Sebuah dehaman mengalihkan atensiku. Ternyata Kang Rozak yang tampak membawa sebuah map.
"Ngapuntes, Gus. Senyum-senyum sendiri, sepertinya masih berbunga-bunga." Kang Rozak yang tak kutahu kapan datangnya tiba-tiba sudah di beranda ndalem dengan menahan senyum.
"Ah, perasaan Kang Rozak saja. Ini, lo, HPku rusak. Kira-kira masih bisa diperbaiki gak, ya?" Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Cobi kulo tingali." Lelaki bersarung itu mengapit map yang tadi dibawanya dengan lengan.
Aku menyerahkan ponsel pada kang ndalem yang sudah mengabdi pada pesantren selama 5 tahun itu. Tampak ia mencoba menekan tombol power tapi layar ponsel masih tetap tak menyala.
Selain piawai dalam mengurus ndalem, kang Rozak juga terkenal mahir dalam memperbaiki benda-benda elektronik. Mesin cuci, kulkas, pompa air, ampli pesantren semua dia yang tangani.
"Kok gak iso, yo?" Ia bergumam. "Kalau boleh tahu bagaimana bisa kok sampai rusak begini, Gus?" tanyanya.
"Gak tahu, mungkin kebanting Sabrina saat beberes. Aku juga yang salah si, lupa ngambil dari saku."
"O, kebanting Mbak Sabrina," jawabnya dengan mengangguk dan tersenyum tipis. "Mbak Sabrina berani juga, ya." Lanjutnya lagi.
"Sebenarnya gak apa-apa kalau gak ada file penting di dalamnya. Toh, namanya juga barang, pasti ada kalanya rusak atau hilang. Gak kekal. Ya, to?"
"Injeh, Gus. Nanti coba saya bawa ke kamar, siapa tahu masih bisa dibenerin."
"Boleh, asal tidak merepotkan Kang Rozak saja."
"Njeh, mboten, to, Gus ... saya malah seneng bisa membantu njenengan. Sebuah kehormatan bagi saya bisa pegang HPnya Gus Izzam," jawabnya seraya memasukkan ponsel ke saku kemeja.
"Halah, berlebihan kamu ini, Kang. Oh, ya? Ada perlu dengan Abah?"
"Ow, mboten. Ini saya mau menyerahkan laporan hasil penjualan sapi bulan ini. Kata Abah mulai sekarang yang ngurus njenengan lagi."
"Ow, iya, iya." Aku meraih map berwarna abu-abu.
Setelah kang Rozak berpamitan, aku pun bergegas untuk bersiap solat Maghrib.
***
"Zam ... Umi mau tanya soal ... niatanmu ta'adud, apa kamu serius?" Umi menatapku lembut. "Kebanyakan perempuan itu gak mau, lo, Le ... diwayuh." Lanjutnya lagi.
Matahari sepenuhnya tenggelam. Kami masih duduk di pendopo, menikmati langit yang menumpahkan air. Sudah seminggu, musim penghujan telah tiba.
Aku tahu kegelisahan yang dialami Umi. Memiliki madu lebih dari satu pasti tidak mudah baginya. Namun, wanita tegar ini tak pernah menunjukkan kesedihannya pada suaminya, Abah.
"Mi ... kalau Sabrina seperti yang Umi katakan, Izzam yakin, dia juga akan tegar dan ikhlas kalau aku menikah dengan Mazaya."
"Tapi, Zam ...."
"Umi ... percayalah. Aku akan berusaha seadil mungkin. Izzam akan mencoba bersikap seperti Abah."
Terdengar desahan panjang. Mungkin Umi sudah menyerah membujuk. Wanita dengan gamis biru muda itu beranjak dan meninggal pendopo.
Tak lama tampak seorang gadis berlari menghindari hujan yang deras. Tangannya terlihat mendekap kitab di dada agar tak terkena air. Sabrina?
Ia berhenti di teras, tubuhnya yang kecil basah kuyup. Bibirnya tampak pucat, sepertinya ia kedinginan.
"Kenapa hujan-hujanan?"
"Maaf, Gus, anu ... gak ada payung. Tadi lupa bawa." Gadis itu masih berdiri. Air yang membasahi seluruh tubuhnya menetes di lantai.
"Cepat masuk dan ganti. Nanti kamu masuk angin."
"Injeh, Gus, permisi." Sedikit membungkuk ia berlari kecil menuju kamar.
Azan Maghrib setengah jam lagi. Untuk mengisi waktu, aku memilih membuka map yang diberikan Kang Rozak kemarin. Juga menyalakan laptop untuk menyalinnya. Memeriksa dengan teliti hasil penjualan sapi yang baru saja dikirim ke Jakarta dua hari lalu.
Sudah tujuh tahun lebih usaha penggemukan sapi ini berjalan. Tepatnya saat aku kuliah di semester empat. Melihat potensi daerah yang mayoritas petani dan harga daging yang terus meningkat, aku memutuskan untuk berwirausaha di peternakan sapi. Mulai dari menjadi blantik sapi kecil-kecilan, sampai Abah memberi kepercayaan dengan memberikan modal untuk mengembangkannya dengan syarat, separuh hasil penjualan digunakan untuk kepentingan pesantren. Abah sendiri memiliki pabrik penggilingan padi yang cukup maju. Tak sulit baginya untuk meminjamkan modal usaha.
Sebelum berangkat ke Turki tiga tahun lalu, aku menyerahkannya pada Rayyan. Dibantu Kang Rozak, setiap bulan ia melaporan hasil penjualannya ke Abah.
Pembelian pakan dan pembersih kandang dilakukan Minggu ini, sedangan pengisian akan berjalan setelah kandang bersih dan pakan tersedia. Harusnya pada belantik sudah mulai menghubungiku. Aku berdecak, mengingat ponsel yang belum selesai diperbaiki. Bagaimana bisa menghubungi para penjual kalau ponsel mati karena semua kontak ada di sana. Semoga saja Kang Rozak bisa memperbaikinya segera.
Aku tercengang saat memeriksa deretan angka. Ada selisih penjualan sebesar 150 juta dibanding bulan lalu. Aku tidak bisa langsung menuduh Rayyan. Sebaiknya nanti aku tanyakan dulu kemana uang itu.
Akhirnya, aku menutup benda berukuran 10 inci dan meletakkannya di meja. Memijit kepala yang terasa berat. Tenggorokan juga rasanya kering, tapi gelas yang biasa berisi air kosong.
Di mana Sabrina? Bukannya tadi dia masuk kamar untuk mengganti pakaian yang basah. Kamar mandi sepi, seperti tak ada tanda ada orang. Apa dia masih di dalam sana, karena sebelum ke kamar tadi, tak ada seorangpun di dapur.
Aku beranjak mendekati pintu kamar mandi, memastikan gadis itu masih berada di dalam atau tidak. Kuketuk pintu berbahan kaca itu. "Sabrina?"
"Dalem, Gus."
Lo? Gadis itu masih ada di dalam? Apa yang ia lakukan sejak tadi. "Kamu masih di dalam?"
"Injeh, Gus."
"Maksudku, kenapa kamu masih di sana? Kenapa tidak keluar? Apa kamu gak kedinginan lama-lama di dalam?"
"Emmmm, anu, Gus ...."
"Ya?"
"Nyuwun sewu, Gus, saya lupa bawa handuk."
Astaghfirullahal'azim ... lupa bawa handuk? Bagaimana bisa--, gadis ceroboh ini.
"Memangnya di mana handukmu?"
"Masih di jemuran belakang, Gus."
Segera kusambar handuk cadangan yang ada di lemari. Mengetuk pintu untuk menyerahkannya pada Sabrina. Sejenak aku tertegun saat sebuah tangan yang sedikit basah terulur. Putih dan halus. Ada yang berkedut di sini.
"Gus?"
"Oh, i-iya, ini." Segera kuarahkan dan kembali duduk di sofa. Namun, Sabrina belum juga keluar dari kamar mandi.
"Kamu kenapa gak keluar juga?"
"Anu, Gus, nuwun sewuuu sanget, tolong ambilkan ...."
Aku mendengkus. Ada apa lagi gadis itu. "Iya, apa lagi?" Aku berdiri lagi mendekati kamar mandi.
"Tapi, beneran ini, Gus, saya nuwun sewu sanget, pokoknya minta maaaaf sekali, bukan maksud saya menyu--"
"Iya, iya, Sabrina ... apa lagi?"
"Tolong juga ambilkan daleman, baju juga kerung di lemari."
Ya Rohman, ya Rohiim .... kenapa dia tidak keluar saja dengan memakai handuk, si?
"Ya, di mana?" Aku mulai membuka lemari.
"Daleman di kotak paling bawah, sepaket, njeh, bawahan dan atasan. Kalau gamisnya di lemari susun nomer dua dari atas, lipatan ke tiga, yang warna merah muda, dan kerudungnya yang kaos saja, dihanger di lemari gantung, yang warna hitam motif bunga warna merah muda."
Kepalaku mendadak tambah sakit mendengar instruksi sepanjang itu. Tangan sigap mencari benda-benda yang disebutkan. Setelah kiranya lengkap aku segera menyerahkannya ke Sabrina. Kembali ada yang berkedut saat tak sengaja tangan putih Sabrina menyentuh jemariku.
Setelah beberapa menit, Sabrina keluar dari kamar mandi dengan tertunduk. Aku juga beranjak untuk masuk ke kamar mandi.
"Terima kasih, Gus," ujar gadis yang bibirnya kebiru-biruan. Dia benar-benar kedinganan rupanya.
"Kamu kedinganan, cepat minum teh hangat atau buat wedang jahe sebelum masuk angin."
"Injeh, Gus."
***
Selepas solat isya, aku sempatkan untuk datang ke kamar Kang Rozak yang terletak di asrama putra, untuk menanyakan kabar ponsel. Kang ndalem itu sudah tak tampak di masjid tadi, menurut santri yang kutayai, ia sudah kembali ke kamarnya.
Setelah mengucapkan salam, aku mendapat sambutan yang hangat. Beberapa santri yang sekamar dengan Kang Rozak menyalamiku bergantian.
"Ampun repot-repot ke kamar, Gus, nanti rencana setelah kajian kitab saya mau ke ndalem." Kang Rozak tampak kikuk karena kehadiranku.
"Tidak apa-apa, apa salahnya kalau saya yang ke sini. Toh, ini juga kepentingan saya."
"Tapi maaf, Gus, sepertinya HPnya tidak bisa diperbaiki. Atau mau dibawa ke counter saja besok."
"Ya sudah, gak apa-apa. Biar saya sendiri saja yang bawa, sekalian besok ada kepentingan di luar."
"Baik, Gus," jawab Kang Rozak seraya menyerah ponsel.
"Oh, iya, Kang? Selama saya di Turki Rayyan to yang memegang keuangan sapi?"
"Injeh, Gus. Kang Rayyan juga yang menyerahkan bagian pesantren ke Abah. Enten nopo njeh, Gus?"
"Ah, ndak apa-apa. Terima kasih sudah membantunya."
"Injeh, Gus."
Sebenarnya aku berniat untuk menanyakan selisih angka penjualan sapi, tapi aku pikir-pikir lebih baik aku tanyakan langsung ke Rayyan.
Setelah undur diri aku kembali ke ndalem. Mengambil kitab yang tertinggal untuk kajian bada isya.
Saat memasuki kamar, Sabrina berdiri di depan lemari yang terbuka. Dari raut wajahnya sepertinya ia terkejut.
"Kenapa? Ada yang hilang?" ucapku sambil memilah-milah buku yang tersusun rapi di rak.
Sabrina memberengut menatap saat aku telah berdiri menghadapnya dengan kitab quratal 'uyun di tangan.
"Kenapa mukamu seperti itu?"
"Njenengan itu bagaimana, to, ngambil baju satu saja bisa selemari berantakan semua."
"Siapa suruh aku yang ambil."
Raut muka Sabrina berubah, yang tadi tampak kesal kini menjadi cemas. "Ya ... ya ... saya sendiri. Tapi, kan ...."
"Apa?" Aku mendekati gadis berhidung bangir yang terlihat tegang.
"Karena saya belum pakai baju," ucapnya lirih.
"Terus, kenapa gak keluar saja dengan handuk terus ambil sendiri bajunya," tukasku yang sukses membuat pipi putih itu berubah memerah.
Segera aku berbalik meninggalkan gadis bergigi gingsul itu saat merasakan ada yang berkedut lagi di sini.
Bersambung di Mbk Silvanni Lim Mey
Jangan lupa untuk like, komen, dan share, ya. Biar tambah semangat ini ngetiknya.
-------
#Jodoh_Pilihan_Kiyai
#Part_05
#Kolab_Silva_Huren
Pov Sabrina
"Kamu nggak ikut kajian di masjid?"
Aku yang masih merapikan pakaian selepas madrasah menoleh. Almari yang berantakan sejak tadi sebelum isya baru sempat kurapikan. Gus Izzam sudah siap dengan kitab yang dipegangnya. Malam ini, ada kajian kitab Qurrotul 'uyun yang diadakan setiap malam kamis, dan acara ini dilaksanakan seusai kelas madrasah.
"Oh. Injeh, Gus." Aku hanya bisa mengulas senyum. Terlalu fokus melipat baju sampai lupa sudah waktunya mengaji kitab. Pakaian yang sudah terlipat pun kumasukkan secepatnya ke dalam lemari.
"Sebentar, Gus."
Sesegera kitab milikku pun kuambil di atas nakas. Aku mengikuti langkah lelaki berpakaian koko maroon ini. Wangi tubuhnya yang tercium seolah tertinggal dan menerpa hidung. Kembali membuatku tersenyum sendiri mengingat hal yang tak terduga saat lupa tentang pakaian.
Tiba di teras ndalem. Rupanya gerimis di luar, aku pun segera berbalik dan mengambil payung yang berada di pojok tak jauh dari tempatku berdiri.
"Mari, Gus." Aku segera memayungi Gus Izzam yang masih berdiri di ujung teras. Sepertinya dia terkejut dengan niatku ini. Terbukti dia langsung menoleh.
Senyum kuulas. Posisiku berada si sebelah Gus Izzam. Sedikit meninggikan payung untuk mengimbangi postur tinggi lelaki yang mengernyit menatapku.
"Biar aku saja yang pegang payungnya." Gus Izzam meraih gagang payung yang kupegang. Tak sengaja tangan ini pun bersentuhan. Seketika ada detakan di dalam sana. Tidak tahu mengapa, tapi tatapan itu benar-benar menyulitkanku untuk bernapas.
Lama kami bersitatap, sampai akhirnya aku tersadar dan segera menarik tanganku yang digenggamnya. "Ngapunten, Gus." Aku menunduk menahan degupan di dada.
"Ayo."
Aku mendongak, menatap lelaki di hadapanku dengan menaut alis. "Maksudnya?"
Desahan kudengar dari Gus Izzam. "Kamu mau menerobos hujan lagi seperti tadi sore?" tanyanya. Aku hanya menggeleng.
"Yo wes. Ayo, ini sudah mulai lebat."
Meski ragu, aku pun mengikuti langkah Gus Izzam. Namun kali ini, berbeda. Jika biasanya aku tertinggal dengan langkah lebarnya, kali ini laki-laki yang menaungiku dengan payung mengimbangi langkah ini.
"Jangan jauh-jauh. Basah nanti."
Aku mengangguk dan menoleh. Melihat Gus Izzam yang juga menoleh meski sekilas. Tapi malam ini, rasanya aku dipedulikan olehnya. Apakah dia sudah mulai menerimaku? Senyumku mengembang dengan sendirinya.
Melangkah bersama Gus Izzam, berada dalam satu payung, bahkan sesekali aku merasa tubuh kami beradu. Hingga tiba kami di pelataran masjid. Kajian kitab ini akan diadakan di dalam masjid.
Tatapan seluruh santri yang ada di serambi tertuju pada kami, tidak sedikit yang tersenyum, tapi tidak sedikit pula yang terlihat tengah bisik-bisik melihat ini.
Aku segera melepas sendal sesampainya di teras, bergabung dengan teman-teman santri putri yang masih ada beberapa berdiri di sana.
"Cie ... sepayung berdua." Lagi, mulut luwes Ulfi menggoda, aku pun hanya tersenyum menanggapi lalu menoleh lelaki yang menangkupkan payung dan meletakkan di pojok serambi.
Kajian dimulai. Meski diluar sana hujan semakin deras, tapi kajian kitab tentang rumah tangga dan tata cara berhubungan suami istri ini berjalan dengan baik.
"Siapa yang dianugerahi istri shalihah, sungguh ia telah dibantu dalam separuh urusan agama, maka bertakwalah (kepada Allah) atas separuh yang lain. Hadis riwayat Ibn Al jawzi."
"Seorang wanita dinikahi karena empat faktor. Yaitu, karena harta, kehormatannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka kamu hendaklah menikah dengan wanita yang kuat agamanya agar kamu beruntung."
Salah satu pembahasan kajian dari Gus Izzam malam ini, sesekali aku menangkap pandangannya sekilas mengarah padaku. Pembahasannya Cukup mudah dipahami oleh kami sebagai muridnya.
Ya, sosok Gus Izzam memang terlihat sangat berwibawa, dewasa, dan pintar. Kadang aku merasa beruntung menjadi istrinya, tapi jika mengingat dia yang belum bisa menerima pernikahan ini, apalah artiku di matanya.
Kajian sudah selesai, tapi hujan masih mencurah deras. Sebagian santri memilih berdiam dulu di masjid. Begitupun santri putra yang berada di sebelah dengan penghalang penyekat berupa kelambu panjang. Beberapa ada yang berlari menerobos hujan.
"Hujannya deres banget, Bin. Gimana ini?" Ulfi menolehku di sampingnya. Kami berdiri di teras bersama santri putri lainnya menunggu hujan reda meski entah kapan.
"Binna."
Aku menoleh ketika seseorang memanggil, dia Kang Rayyan, baru saja juga mengikuti kajian ini, tengah memegang payung yang masih ditelangkupkan.
"Kang?" sapaku.
"Mau pulang ke ndalem?"
"Iya, Kang."
"Oh. Ini ada payung, kebetulan yang tadi sore ketinggalan, jadi ada dua. Kamu bisa pake dulu." Kang Rayyan menyodorkan payungnya untukku.
"Nggak usah, Kang," tolakku.
"Buat aku aja, Kang." Ulfi menyela, membuat Kang Rayyan mengerut kening. Tapi akhirnya payung itu diberikan kepada santriwati yang berdiri di sebelahku.
"Alhamdulillah, makasih, Kang." Ulfi mengambil payung dari tangan Kang Rayyan. "Ayo, Bin. Aku anter ke ndalem dulu," ajaknya.
"Sabrina, ayo pulang."
Aku yang hendak kembali dengan Ulfi menoleh asal suara itu, begitupun Kang Rayyan yang masih berdiri di tempatnya dan santri lain. Terlihat Gus Izzam yang sudah memegang payung menatapku. Aku mengangguk.
"Saya duluan, Kang. Ul."
Kang Rayyan mengangguk, dan mengulas senyum sebelum aku melangkah pergi.
"Rayyan, Mas, duluan." Gus Izzam sempat menoleh dan mengulas senyum kepada adiknya sebelum melangkah pergi bersamaku.
Lebatnya hujan, juga semilir angin malam sedikit membuat dingin yang menembus kulit. Aku pun mendekap erat kitabku agar sedikit mengusir dingin itu.
"Kenapa?" Gus Izzam yang masih berjalan di sampingku memegang payung menoleh.
"Nggak apa-apa, Gus."
Kami sampai di teras. Meski berlindung dibalik payung, tapi hujan yang deras juga angin membuat basah bajuku di bagian bahu dan ujungnya, begitupun Gus Izzam. Dia yang sudah meletakkan payungnya langsung mengajak masuk.
"Saya buatkan wedang jahe, Gus?" tawarku sesampai di kamar. Terlihat Gus Izzam yang langsung meletakkan kitabnya di rak. Lalu berjalan menuju lemari mengambil baju ganti.
"Boleh." Dia hanya menoleh sekilas.
Aku pun bergegas ke dapur. Menyiapkan minuman hangat untuknya, tak lupa, jahenya dibakar. Umi sempat mengatakan jika sebelum diseduh, jahenya harus digeprek dan dibakar terlebih dahulu.
Tak menunggu lama, minuman itu siap di atas nampan. Aku pun segera membawanya menuju kamar.
Langkahku tertahan seketika. Cangkir porselen di atas nampan yang kupegang meluncur ke lantai dan membasahi lengan baju koko Gus Izzam yang tak sengaja kutabrak saat masuk ke kamar, terlihat dia meringis menahan panas sambil mengibaskan lengannya.
"Maaf, Gus," ucapku lirih.
Gus Izzam yang nampak dari rak buku menoleh. Kembali tatapan tajam itu menghujam, aku pun memilih menunduk sambil menggenggam erat sisi nampan.
"Kalau jalan itu hati-hati, Sabrina," tegurnya.
"Maaf, saya nggak lihat, Gus, di situ."
Hanya desahan yang kudengar. Gus Izzam kemudian melangkah menuju sofa. Aku hanya diam mengamati saat dia membuka pakaian dan meletakkannya pada punggung kursi. Lalu terlihat dia yang memakai kaus lengan pendek mengecek lengan yang memerah akibat tumpahan wedang jahe.
"Sa-ya ganti wedangnya, Gus," ucapku kemudian. Lelaki yang kini memilih duduk di sofa dan mengambil beberapa kertas di meja hanya menoleh sekilas.
"Nggak usah, lah. Nggak apa-apa."
"Saya buatkan lagi, Gus."
Cangkir yang pecah di lantai segera kuambil dan bergegas menuju dapur untuk membuatkan minuman kembali.
"Nduk, ngapain di sini?"
"Umi?" Aku mengangguk memberi hormat, wanita yang berada di ambang pintu dapur menghampiri.
"Buat wedang jahe, Mi," jawabku sambil mengaduk minuman yang baru saja selesai kuseduh.
"Buat Mas-mu?"
"Injeh."
Wanita itu tersenyum seraya mengelus bahuku. "Tidak salah, Umi jadikan kamu mantu, semoga Izzam pun merasa seperti itu."
"Maksud, Umi?" Aku mengernyit. Apa Umi tahu jika putranya masih belum bisa menerima pernikahan ini?
"Tidak ada maksud apa-apa, Nduk. Ya sudah, kamu sekalian buatkan kopi buat Abah. Ow ya, Nduk. Apa Mas-mu sudah bilang, kalau besok kalian akan berkunjung ke rumah Ibu kulsum?"
"Belum sempat bilang mungkin, Mi," jawabku mengulas senyum.
***
"Pasti Ibu seneng, Mas. Kalau Mas Izzam main ke rumah, berapa tahun sampean gak ke sana." Kang Rayyan yang menyetir mobil menoleh sekilas ke belakang, pandangannya tertuju pada sosok yang duduk sejajar di jok belakang denganku. Gus Izzam.
"Iya, Yan. Terakhir ke sana sebelum aku berangkat ke Turki, ya?" Gus Izzam menanggapi obrolan Kang Rayyan. Sedang aku memilih diam tak menyambung, menunduk dan sesekali melayangkan pandangan ke luar kaca mobil.
Setahuku, sopir pribadi ndalem adalah Kang Rozak. Tapi kata Umi sebelum berangkat tadi pagi, Kang Rayyan sengaja mengantar kami ke rumah Ibunya sekalian pulang untuk mengambil barang yang ada dirumahnya.
"Oh ya, Yan. Bisa mampir ke konter dulu, nggak? Mas, mau ganti HP?" Aku yang menunduk langsung menoleh ke arah Gus Izzam ketika mengungkit masalah handphone-nya. Rasa bersalah itu muncul kembali.
"Oh. Mau beli HP baru, Mas?"
"Iya."
"Bisa, Mas. Kan masih jam sembilan pagi, bisalah ke konter dulu."
"Nggak apa-apa tapi, kan? Mampir dulu?"
"Nggak kok, Mas. Pasti Ibu bisa nunggu, apalagi Mas Izzam ke sana sama Sabrina. Ibu malah seneng."
Kang Rayyan menoleh sekilas ke arahku, aku hanya menanggapi dengan senyum padanya.
"Oh? Ibu kenal sama Sabrina?" tanya Gus Izzam menoleh ke arahku. Terlihat alisnya menaut ketika mempertanyakan hal itu.
"Iya. Ibunya Binna itu, kerja di salah satu cabang kateringnya Ibu, Mas."
Penjelasan dari Kang Rayyan membuat Gus Izzam mengangguk pelan, kemudian menoleh kembali arahku.
"Sudah sampai, Mas. Aku nggak ikut masuk ke konter, mau ke toilet sebentar." Kang Rayyan yang sudah memarkirkan mobil segera keluar setelah Gus Izzam mengangguk padanya. Kembali, pandangan Gus bermata tajam itu mengarah padaku. Berdua dengannya dalam satu mobil, tentu membuat ada hal aneh yang tiba-tiba muncul.
"Ibumu kerja?" Lelaki berbaju koko putih itu bertanya, aku pun mengangguk menanggapi sambil terus memilin ujung jilbabku.
Aku dan Gus Izzam tiba di sebuah gerai ponsel, tempat yang berada di pusat pertokoan besar ini menyuguhkan banyak model dan tipe ponsel keluaran terbaru. Seorang pegawai menyambut dengan ramah, menawarkan beberapa model ponsel terbaru.
"Pilih mana, Mas?" tanya pegawai gerai tersebut. Senyum ramah pun tersungging kepada kami.
Beberapa menit memilah model, terlihat Gus Izzam membeli dua ponsel sekaligus. Setelah transaksi, Gus Izzam pun mengajakku kembali ke mobil.
"Buat kamu." Gus Izzam yang sudah duduk di jok belakang bersamaku menyodorkan dusbok ponsel. Tentu, aku langsung membulat mata, bukankah aku tak meminta dibelikan benda itu?
"Mboten usah, Gus." Aku menolaknya.
"Pakai saja, aku sengaja membelikanmu."
"Nggak usah, Gus."
"Nggak ada salahnya kan, aku membelikan istri sendiri?"
Aku terdiam ketika kembali bibir berkumis tipis itu mengucap kata 'Istri', ada letupan aneh di dalam dada ini. Aku pun menerima kotak berisi ponsel itu dan berucap terima kasih padanya.
Tak lama, Kang Rayyan yang berpamit ke toilet itu kembali dan langsung duduk di balik kemudi. "Maaf, lama. Antri di toilet," jelasnya.
Mobil pun kembali melaju untuk menuju rumah Ibu Kulsum. Sekitar 10 menit kemudian, mobil yang kami tumpangi mulai pelan saat memasuki pelataran lebar sebuah rumah mewah.
"Mari." Kang Rayyan pun mengajak untuk segera turun. Tak lupa parcel buah titipan Umi kubawa. Meski tak bergandeng tangan, tapi aku berjalan sejajar dengan Gus Izzam, cukup menunjukkan bahwa kami pasangan suami istri.
Sambutan hangat dari seorang wanita cantik saat tiba di ruang tamu. Ibu Kulsum, wanita itu terlihat awet muda, pasti sangat pandai merawat diri.
"Izzam. Apa kabar kamu, Le?" Wanita itu langsung memberikan pelukan hangat pada Gus Izzam, seolah tengah memeluk anak kandungnya sendiri.
"Baik, Bu. Ibu sendiri bagaimana?"
"Alhamdulilah, baik."
Pelukan pun berganti padaku, bahkan aku tak menyangka akan mendapat sambutan seperti ini. Bukan pertama kali bertemu dengan wanita cantik dengan berbagai perhiasan di pergelangan tangan dan jemarinya, sudah berapa kali pernah mengobrol saat berkunjung ke ndalem. Tapi untuk sowan, ini adalah pertama kalinya.
Buah parcel kuberikan. Dan kami pun berbincang cukup lama di ruang tamu. Aku yang duduk di sebelah Gus Izzam lebih banyak mendengar Ibu Kulsum bercerita.
"Makan siang di sini, ya? Ibu masakin makanan yang enak," ajak Ibu Kang Rayyan sambil terus mengembang senyum.
"Nggak usah repot-repot, Bu'." Gus Izzam menanggapi ajakan itu.
"Ah, enggak. Kapan lagi kamu mampir? Apalagi sama istrimu. Oh ya, Binna. Ayo bantu Ibu masak."
Aku mengangguk, lalu mengikuti langkah Ibu Kulsum menuju dapur. Beberapa menu disiapkan, dan beliau sangat pandai memasak. Terlebih bisnis kateringnya yang sudah beberapa cabang, dan Ibuku, merupakan salah satu karyawannya.
-------
#Part_05
#Kolab_Silva_Huren
Pov Sabrina
"Kamu nggak ikut kajian di masjid?"
Aku yang masih merapikan pakaian selepas madrasah menoleh. Almari yang berantakan sejak tadi sebelum isya baru sempat kurapikan. Gus Izzam sudah siap dengan kitab yang dipegangnya. Malam ini, ada kajian kitab Qurrotul 'uyun yang diadakan setiap malam kamis, dan acara ini dilaksanakan seusai kelas madrasah.
"Oh. Injeh, Gus." Aku hanya bisa mengulas senyum. Terlalu fokus melipat baju sampai lupa sudah waktunya mengaji kitab. Pakaian yang sudah terlipat pun kumasukkan secepatnya ke dalam lemari.
"Sebentar, Gus."
Sesegera kitab milikku pun kuambil di atas nakas. Aku mengikuti langkah lelaki berpakaian koko maroon ini. Wangi tubuhnya yang tercium seolah tertinggal dan menerpa hidung. Kembali membuatku tersenyum sendiri mengingat hal yang tak terduga saat lupa tentang pakaian.
Tiba di teras ndalem. Rupanya gerimis di luar, aku pun segera berbalik dan mengambil payung yang berada di pojok tak jauh dari tempatku berdiri.
"Mari, Gus." Aku segera memayungi Gus Izzam yang masih berdiri di ujung teras. Sepertinya dia terkejut dengan niatku ini. Terbukti dia langsung menoleh.
Senyum kuulas. Posisiku berada si sebelah Gus Izzam. Sedikit meninggikan payung untuk mengimbangi postur tinggi lelaki yang mengernyit menatapku.
"Biar aku saja yang pegang payungnya." Gus Izzam meraih gagang payung yang kupegang. Tak sengaja tangan ini pun bersentuhan. Seketika ada detakan di dalam sana. Tidak tahu mengapa, tapi tatapan itu benar-benar menyulitkanku untuk bernapas.
Lama kami bersitatap, sampai akhirnya aku tersadar dan segera menarik tanganku yang digenggamnya. "Ngapunten, Gus." Aku menunduk menahan degupan di dada.
"Ayo."
Aku mendongak, menatap lelaki di hadapanku dengan menaut alis. "Maksudnya?"
Desahan kudengar dari Gus Izzam. "Kamu mau menerobos hujan lagi seperti tadi sore?" tanyanya. Aku hanya menggeleng.
"Yo wes. Ayo, ini sudah mulai lebat."
Meski ragu, aku pun mengikuti langkah Gus Izzam. Namun kali ini, berbeda. Jika biasanya aku tertinggal dengan langkah lebarnya, kali ini laki-laki yang menaungiku dengan payung mengimbangi langkah ini.
"Jangan jauh-jauh. Basah nanti."
Aku mengangguk dan menoleh. Melihat Gus Izzam yang juga menoleh meski sekilas. Tapi malam ini, rasanya aku dipedulikan olehnya. Apakah dia sudah mulai menerimaku? Senyumku mengembang dengan sendirinya.
Melangkah bersama Gus Izzam, berada dalam satu payung, bahkan sesekali aku merasa tubuh kami beradu. Hingga tiba kami di pelataran masjid. Kajian kitab ini akan diadakan di dalam masjid.
Tatapan seluruh santri yang ada di serambi tertuju pada kami, tidak sedikit yang tersenyum, tapi tidak sedikit pula yang terlihat tengah bisik-bisik melihat ini.
Aku segera melepas sendal sesampainya di teras, bergabung dengan teman-teman santri putri yang masih ada beberapa berdiri di sana.
"Cie ... sepayung berdua." Lagi, mulut luwes Ulfi menggoda, aku pun hanya tersenyum menanggapi lalu menoleh lelaki yang menangkupkan payung dan meletakkan di pojok serambi.
Kajian dimulai. Meski diluar sana hujan semakin deras, tapi kajian kitab tentang rumah tangga dan tata cara berhubungan suami istri ini berjalan dengan baik.
"Siapa yang dianugerahi istri shalihah, sungguh ia telah dibantu dalam separuh urusan agama, maka bertakwalah (kepada Allah) atas separuh yang lain. Hadis riwayat Ibn Al jawzi."
"Seorang wanita dinikahi karena empat faktor. Yaitu, karena harta, kehormatannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka kamu hendaklah menikah dengan wanita yang kuat agamanya agar kamu beruntung."
Salah satu pembahasan kajian dari Gus Izzam malam ini, sesekali aku menangkap pandangannya sekilas mengarah padaku. Pembahasannya Cukup mudah dipahami oleh kami sebagai muridnya.
Ya, sosok Gus Izzam memang terlihat sangat berwibawa, dewasa, dan pintar. Kadang aku merasa beruntung menjadi istrinya, tapi jika mengingat dia yang belum bisa menerima pernikahan ini, apalah artiku di matanya.
Kajian sudah selesai, tapi hujan masih mencurah deras. Sebagian santri memilih berdiam dulu di masjid. Begitupun santri putra yang berada di sebelah dengan penghalang penyekat berupa kelambu panjang. Beberapa ada yang berlari menerobos hujan.
"Hujannya deres banget, Bin. Gimana ini?" Ulfi menolehku di sampingnya. Kami berdiri di teras bersama santri putri lainnya menunggu hujan reda meski entah kapan.
"Binna."
Aku menoleh ketika seseorang memanggil, dia Kang Rayyan, baru saja juga mengikuti kajian ini, tengah memegang payung yang masih ditelangkupkan.
"Kang?" sapaku.
"Mau pulang ke ndalem?"
"Iya, Kang."
"Oh. Ini ada payung, kebetulan yang tadi sore ketinggalan, jadi ada dua. Kamu bisa pake dulu." Kang Rayyan menyodorkan payungnya untukku.
"Nggak usah, Kang," tolakku.
"Buat aku aja, Kang." Ulfi menyela, membuat Kang Rayyan mengerut kening. Tapi akhirnya payung itu diberikan kepada santriwati yang berdiri di sebelahku.
"Alhamdulillah, makasih, Kang." Ulfi mengambil payung dari tangan Kang Rayyan. "Ayo, Bin. Aku anter ke ndalem dulu," ajaknya.
"Sabrina, ayo pulang."
Aku yang hendak kembali dengan Ulfi menoleh asal suara itu, begitupun Kang Rayyan yang masih berdiri di tempatnya dan santri lain. Terlihat Gus Izzam yang sudah memegang payung menatapku. Aku mengangguk.
"Saya duluan, Kang. Ul."
Kang Rayyan mengangguk, dan mengulas senyum sebelum aku melangkah pergi.
"Rayyan, Mas, duluan." Gus Izzam sempat menoleh dan mengulas senyum kepada adiknya sebelum melangkah pergi bersamaku.
Lebatnya hujan, juga semilir angin malam sedikit membuat dingin yang menembus kulit. Aku pun mendekap erat kitabku agar sedikit mengusir dingin itu.
"Kenapa?" Gus Izzam yang masih berjalan di sampingku memegang payung menoleh.
"Nggak apa-apa, Gus."
Kami sampai di teras. Meski berlindung dibalik payung, tapi hujan yang deras juga angin membuat basah bajuku di bagian bahu dan ujungnya, begitupun Gus Izzam. Dia yang sudah meletakkan payungnya langsung mengajak masuk.
"Saya buatkan wedang jahe, Gus?" tawarku sesampai di kamar. Terlihat Gus Izzam yang langsung meletakkan kitabnya di rak. Lalu berjalan menuju lemari mengambil baju ganti.
"Boleh." Dia hanya menoleh sekilas.
Aku pun bergegas ke dapur. Menyiapkan minuman hangat untuknya, tak lupa, jahenya dibakar. Umi sempat mengatakan jika sebelum diseduh, jahenya harus digeprek dan dibakar terlebih dahulu.
Tak menunggu lama, minuman itu siap di atas nampan. Aku pun segera membawanya menuju kamar.
Langkahku tertahan seketika. Cangkir porselen di atas nampan yang kupegang meluncur ke lantai dan membasahi lengan baju koko Gus Izzam yang tak sengaja kutabrak saat masuk ke kamar, terlihat dia meringis menahan panas sambil mengibaskan lengannya.
"Maaf, Gus," ucapku lirih.
Gus Izzam yang nampak dari rak buku menoleh. Kembali tatapan tajam itu menghujam, aku pun memilih menunduk sambil menggenggam erat sisi nampan.
"Kalau jalan itu hati-hati, Sabrina," tegurnya.
"Maaf, saya nggak lihat, Gus, di situ."
Hanya desahan yang kudengar. Gus Izzam kemudian melangkah menuju sofa. Aku hanya diam mengamati saat dia membuka pakaian dan meletakkannya pada punggung kursi. Lalu terlihat dia yang memakai kaus lengan pendek mengecek lengan yang memerah akibat tumpahan wedang jahe.
"Sa-ya ganti wedangnya, Gus," ucapku kemudian. Lelaki yang kini memilih duduk di sofa dan mengambil beberapa kertas di meja hanya menoleh sekilas.
"Nggak usah, lah. Nggak apa-apa."
"Saya buatkan lagi, Gus."
Cangkir yang pecah di lantai segera kuambil dan bergegas menuju dapur untuk membuatkan minuman kembali.
"Nduk, ngapain di sini?"
"Umi?" Aku mengangguk memberi hormat, wanita yang berada di ambang pintu dapur menghampiri.
"Buat wedang jahe, Mi," jawabku sambil mengaduk minuman yang baru saja selesai kuseduh.
"Buat Mas-mu?"
"Injeh."
Wanita itu tersenyum seraya mengelus bahuku. "Tidak salah, Umi jadikan kamu mantu, semoga Izzam pun merasa seperti itu."
"Maksud, Umi?" Aku mengernyit. Apa Umi tahu jika putranya masih belum bisa menerima pernikahan ini?
"Tidak ada maksud apa-apa, Nduk. Ya sudah, kamu sekalian buatkan kopi buat Abah. Ow ya, Nduk. Apa Mas-mu sudah bilang, kalau besok kalian akan berkunjung ke rumah Ibu kulsum?"
"Belum sempat bilang mungkin, Mi," jawabku mengulas senyum.
***
"Pasti Ibu seneng, Mas. Kalau Mas Izzam main ke rumah, berapa tahun sampean gak ke sana." Kang Rayyan yang menyetir mobil menoleh sekilas ke belakang, pandangannya tertuju pada sosok yang duduk sejajar di jok belakang denganku. Gus Izzam.
"Iya, Yan. Terakhir ke sana sebelum aku berangkat ke Turki, ya?" Gus Izzam menanggapi obrolan Kang Rayyan. Sedang aku memilih diam tak menyambung, menunduk dan sesekali melayangkan pandangan ke luar kaca mobil.
Setahuku, sopir pribadi ndalem adalah Kang Rozak. Tapi kata Umi sebelum berangkat tadi pagi, Kang Rayyan sengaja mengantar kami ke rumah Ibunya sekalian pulang untuk mengambil barang yang ada dirumahnya.
"Oh ya, Yan. Bisa mampir ke konter dulu, nggak? Mas, mau ganti HP?" Aku yang menunduk langsung menoleh ke arah Gus Izzam ketika mengungkit masalah handphone-nya. Rasa bersalah itu muncul kembali.
"Oh. Mau beli HP baru, Mas?"
"Iya."
"Bisa, Mas. Kan masih jam sembilan pagi, bisalah ke konter dulu."
"Nggak apa-apa tapi, kan? Mampir dulu?"
"Nggak kok, Mas. Pasti Ibu bisa nunggu, apalagi Mas Izzam ke sana sama Sabrina. Ibu malah seneng."
Kang Rayyan menoleh sekilas ke arahku, aku hanya menanggapi dengan senyum padanya.
"Oh? Ibu kenal sama Sabrina?" tanya Gus Izzam menoleh ke arahku. Terlihat alisnya menaut ketika mempertanyakan hal itu.
"Iya. Ibunya Binna itu, kerja di salah satu cabang kateringnya Ibu, Mas."
Penjelasan dari Kang Rayyan membuat Gus Izzam mengangguk pelan, kemudian menoleh kembali arahku.
"Sudah sampai, Mas. Aku nggak ikut masuk ke konter, mau ke toilet sebentar." Kang Rayyan yang sudah memarkirkan mobil segera keluar setelah Gus Izzam mengangguk padanya. Kembali, pandangan Gus bermata tajam itu mengarah padaku. Berdua dengannya dalam satu mobil, tentu membuat ada hal aneh yang tiba-tiba muncul.
"Ibumu kerja?" Lelaki berbaju koko putih itu bertanya, aku pun mengangguk menanggapi sambil terus memilin ujung jilbabku.
Aku dan Gus Izzam tiba di sebuah gerai ponsel, tempat yang berada di pusat pertokoan besar ini menyuguhkan banyak model dan tipe ponsel keluaran terbaru. Seorang pegawai menyambut dengan ramah, menawarkan beberapa model ponsel terbaru.
"Pilih mana, Mas?" tanya pegawai gerai tersebut. Senyum ramah pun tersungging kepada kami.
Beberapa menit memilah model, terlihat Gus Izzam membeli dua ponsel sekaligus. Setelah transaksi, Gus Izzam pun mengajakku kembali ke mobil.
"Buat kamu." Gus Izzam yang sudah duduk di jok belakang bersamaku menyodorkan dusbok ponsel. Tentu, aku langsung membulat mata, bukankah aku tak meminta dibelikan benda itu?
"Mboten usah, Gus." Aku menolaknya.
"Pakai saja, aku sengaja membelikanmu."
"Nggak usah, Gus."
"Nggak ada salahnya kan, aku membelikan istri sendiri?"
Aku terdiam ketika kembali bibir berkumis tipis itu mengucap kata 'Istri', ada letupan aneh di dalam dada ini. Aku pun menerima kotak berisi ponsel itu dan berucap terima kasih padanya.
Tak lama, Kang Rayyan yang berpamit ke toilet itu kembali dan langsung duduk di balik kemudi. "Maaf, lama. Antri di toilet," jelasnya.
Mobil pun kembali melaju untuk menuju rumah Ibu Kulsum. Sekitar 10 menit kemudian, mobil yang kami tumpangi mulai pelan saat memasuki pelataran lebar sebuah rumah mewah.
"Mari." Kang Rayyan pun mengajak untuk segera turun. Tak lupa parcel buah titipan Umi kubawa. Meski tak bergandeng tangan, tapi aku berjalan sejajar dengan Gus Izzam, cukup menunjukkan bahwa kami pasangan suami istri.
Sambutan hangat dari seorang wanita cantik saat tiba di ruang tamu. Ibu Kulsum, wanita itu terlihat awet muda, pasti sangat pandai merawat diri.
"Izzam. Apa kabar kamu, Le?" Wanita itu langsung memberikan pelukan hangat pada Gus Izzam, seolah tengah memeluk anak kandungnya sendiri.
"Baik, Bu. Ibu sendiri bagaimana?"
"Alhamdulilah, baik."
Pelukan pun berganti padaku, bahkan aku tak menyangka akan mendapat sambutan seperti ini. Bukan pertama kali bertemu dengan wanita cantik dengan berbagai perhiasan di pergelangan tangan dan jemarinya, sudah berapa kali pernah mengobrol saat berkunjung ke ndalem. Tapi untuk sowan, ini adalah pertama kalinya.
Buah parcel kuberikan. Dan kami pun berbincang cukup lama di ruang tamu. Aku yang duduk di sebelah Gus Izzam lebih banyak mendengar Ibu Kulsum bercerita.
"Makan siang di sini, ya? Ibu masakin makanan yang enak," ajak Ibu Kang Rayyan sambil terus mengembang senyum.
"Nggak usah repot-repot, Bu'." Gus Izzam menanggapi ajakan itu.
"Ah, enggak. Kapan lagi kamu mampir? Apalagi sama istrimu. Oh ya, Binna. Ayo bantu Ibu masak."
Aku mengangguk, lalu mengikuti langkah Ibu Kulsum menuju dapur. Beberapa menu disiapkan, dan beliau sangat pandai memasak. Terlebih bisnis kateringnya yang sudah beberapa cabang, dan Ibuku, merupakan salah satu karyawannya.
-------
bersambung