Selasa, 08 Desember 2015

Dzikir Pagi

BATAS "TIDAK MAMPU" KITA TERLALU RENDAH

Kita sering sekali mendengar orang mengatakan MASTATHO'TUM (Semampumu)

Maka banyak di antara kita yang mengatan 'INI YANG BISA SAYA LAKUKAN' entah itu di dalam hati atau terlahir dari lisan kita

Dalam Al Qur'an, kata Masthatho'tum terdapat dalam surat At-Taghabun ayat 16 di korelasikan dengan kata taqwa.

Maksudnya ialah "Maka Bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu (semampunya)"

Mastatho'tum berarti sesuai kesanggupan atau semampunya, atau bisa di artikan  bahwa kita diperintahkan oleh Allah Ta'ala untuk berTaqwa berdasarkan kesanggupan kita atau
semampunya.

Namun sering sekali kita membuat standar 'target' kita begitu lemah

❎ Saya biasanya cuma bisa baca Quran 2hlm sehari
❎ Saya mampunya cuma ngajar aja
❎ Saya mampunya cuma.....

Kita membuat standar yang menjadi batas diri yang ternyata sudah banyak orang yang melampauinya

“Jika kau telah berada di jalan Allah, melesatlah dengan kencang. Jika sulit, maka tetaplah berlari meski kecil langkahmu. Bila engkau lelah, berjalanlah menghela lapang. Dan bila semua itu tak mampu kau lakukan, tetaplah maju meski terus merangkak, dan jangan pernah sekalipun berbalik ke belakang.” (Asy Syafi’i)

Abdullah Al Azzam, seorang syekh teladan. Dihormati lg disegani, oleh para muridnya.

Pd suatu saat beliau ditanya oleh muridnya,
“Ya syekh, apa yg dimaksud dengan mastatho’tum”?
Sang Syekh-pun membawa muridnya ke sebuah lapangan. Meminta semuanya muridnya berlari sekuat tenaga, mengelilingi lapangan.
Setelah semua muridnya menyerah, dan menepi ke pinggir lapangan.

Sang Syekh-pun tak mau kalah. Beliau berlari mengelilingi lapangan hingga membuat semua muridnya keheranan...hg akhirnya beliau jatuh pingsan, tak sadarkan diri.

Setelah beliau siuman dan terbangun, muridnya bertanya,
“Syekh, apa yang hendak engkau ajarkan kepada kami?”.
“Muridku, Inilah yang dinamakan titik mastatho’tum! Titik di mana saat kita berusaha semaksimal tenaga sampai Allah sendiri yang menghentikan perjuangan kita (bukan, bukan kita yang berhenti)”, Jawab Sang Syekh dengan mantab !

Mari berlindung kepada ALLOH dari malas dan lemah azzam,

Mari menjemput limpahan karunia rahmatNYA dengan MASTATHO'TUM !!!


Republished by ๐ŸŒ channel telegram @BundaRusni
Http://bit.ly/1QmvcE9

-----

ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฅِู†ِّูŠْ ุฃَุณْุฃَู„ُูƒَ ุนِู„ْู…ًุง ู†َุงูِุนًุง، ูˆَุฑِุฒْู‚ًุง ุทَูŠِّุจًุง، ูˆَุนَู…َู„ุงً ู…ُุชَู‚َุจَّู„ุงً

Allaahumma innii as-aluka 'ilman naafi'an, wa rizqon thoyyiban, wa 'amalan mutaqobbalan.

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima.

HR. Ibnu As-Sunni dalam 'Amalul Yaum wal Lailah, no. 54 dan Ibnu Majah 925. Isnadnya hasan menurut Abdul Qadir dan Syu'aib Al-Arna'uth dalam tahqiq Zad Al-Ma’ad 2/375.
Keterangan:
Dari Ummu Salamah radliallahu 'anha, beliau mengatakan: "Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam setelah salam shalat subuh, beliau membaca: (dzikir di atas). (HR. Ahmad 6/322, Ibnu Majah 925, dan dishahihkan al-Albani).

Waktu subuh merupakan permulaan hari bagi seorang muslim. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengawali pagi hari beliau dengan memohon kepada Tuhannya tiga hal: ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima.

Mengapa tiga hal ini? Karena tigal hal ini merupakan kunci kebutuhan hidup manusia.

Ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat adalah semua ilmu yang menjadi panduan seseorang untuk melaksanakan amal wajib atau anjuran, baik terkait dengan aqidah, ibadah, maupun muamalah. Demikian penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 1/141. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengawali doa di atas dengan meminta ilmu yang bermanfaat, karena dengan bekal ilmu, seseorang bisa membedakan antara yang halal dan yang haram. Dengan ilmu orang bisa membedakan mana amal shaleh dan mana amal yang kelihatannya shaleh.
Rizki yang halal. Dengan rizki yang halal, manusia bisa menjalani kehidupan dunianya dengan baik. Karena manusia hidup butuh nutrisi. Agar nutrisi ini tidak menjadi bahan pertanyaan di hari kiamat, nutrisinya harus berupa makanan yang halal. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam meminta rizki yang halal sebelum amal yang diterima. Karena syarat doa seseorang bisa diterima adalah rizkinya halal.
Amal yang diterima. Syarat amal diterima ada tiga:
Pelakunya mukmin. Karena amal orang kafir tidak diterima.
Dilakukan dengan ikhlas. Amal yang dilakukan untuk tendensi dunia atau pujian orang lain tidak akan diterima.
Sesuai petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Tanpa ini, amal seseorang tidak akan dinilai.

Sumber: Hisnul Muslim dan http://www.facebook.com/doa.dzikir.shahih.harian/posts/168763686557031



Republished by ๐ŸŒ channel telegram @BundaRusni
Http://bit.ly/1QmvcE9