HUKUM SHUFRAH & KUDRAH
By: Arfah Ummu Faynan
- PART 1 -
Pada sebagian wanita, kadang-kadang dari kemaluannya keluar cairan yang berasal dari rahim, cairan tersebut kadang berwarna kekuning-kuningan seperti warna nanah dan berbau, inilah yang disebut dengan SHUFRAH.
Kadang cairan tersebut bercampur warna merah, tetapi bukan haidh, yang ini dinamakan dengan KUDRAH.
Bagaimana hukum shufrah & kudrah? Apakah shufrah & kudrah membatalkan wudhu? Apakah shufrah & kudrah termasuk haidh yang menghalangi wanita dari shalat & puasa?
Mengingat pentingnya masalah ini, karena berkaitan dengan thaharah wanita, yang mana thaharah merupakan syarat sahnya shalat, maka dengan Taufiq dari Allah Ta'ala saya mencoba menukil pembahasan para Ulama dalam hal ini.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال:قال رسول الله عليه وسلم:((لا يقبل الله صلاة أحدكم إذا أحدث حتى يتوضأ)) متفق عليه.
Dari Abu Hurairah-semoga Allah meridhainya- berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Allah tidak menerima shalat salah seorang diantara kalian apabila berhadats sehingga dia berwudhu" HR. Bukhari & Muslim.
Masalah pertama:
Apakah Shufrah dan Kudrah membatalkan wudhu?
Jawabannya:
Tidak diragukan lagi, bahwa shufrah & kudrah merupakan salah satu pembatal wudhu.
Namun apabila cairan yang keluar hanya merupakan keputihan biasa/ringan, tidak berbau, dan tidak seperti shufrah atau kudrah, maka tidak membatalkan wudhu.
*****
HUKUM SHUFRAH & KUDRAH
By: Arfah Ummu Faynan
- PART 2 -
Masalah kedua:
Apakah shufrah & kudrah termasuk haidh?
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum shufrah & kudrah, berikut ini beberapa pendapat tentang hukum Shufrah & Kudrah:
Pendapat Pertama:
Shufrah & Kudrah tidak termasuk Haidh, dalilnya:
عن أم عطية رضي الله عنهما قالت: (( كنا لا نعد الكدرة والصفرة شيئا )) رواه البخاري
Dari Umm 'Athiyyah –semga Allah meridhainya- berkata: "Kami tidak menganggap apa-apa kudrah dan shufrah." (tidak menganggapnya sebagai haidh -pen) HR.Bukhari
Pendapat Kedua:
Shufrah & Kudrah termasuk Haidh, karena berasal dari rahim dan berbau, maka hukumnya sama seperti haidh.
Pendapat ketiga:
Hukum Shufrah & Kudrah tergantung waktu keluarnya.
Dan inilah pendapat yang paling kuat,
Dalilnya:
a. Hadits Umm 'Athiyyah:
عن أم عطية رضي الله عنهما قالت: (( كنا لا نعد الكدرة والصفرة بعد الطهر شيئا )) رواه أبو داود
Dari Umm 'Athiyyah –semga Allah meridhainya- berkata: "Kami tidak menganggap apa-apa kudrah dan shufrah setelah suci." HR.Abu Dawud.
Ini berarti shufrah & Kudrah sebelum waktu suci merupakan haidh.
b. Jika shufrah & kudrah keluar sebelum suci dari haidh maka termasuk haidh, sesuai dengan Qa'idah Fiqhiyyah:
(( أنه يثبت تبعا ما لا يثبت استقلالا ))
Maksudnya: Shufrah & kudrah termasuk haidh apabila mengikuti haidh, adapun jika shufrah & kudrah keluar setelah suci dari haidh, tidak bersambung dengan haidh, maka tidak termasuk haidh, dan tidak termasuk firman Allah:
(( هو أذى ))
"Haidh) itu adalah (kotoran) yang mengganggu"
Maka Shufrah & Kudrah ini seperti cairan lain yang keluar dari kemaluan wanita selain haidh.
*****
Republished by 🌐 channel telegram @BundaRusni
Http://bit.ly/1QmvcE9